Selasa, 21 Desember 2021

Proses Kreatif | Honor Penulis, Oh, Honor Penulis!

 Oleh Encep Abdullah




Kasus penyair IJ yang mengomentari pertanyaan Iin Farliani terkait honor mendadak mencuat dan bikin gempar jagat media sosial seharian ini. Sebelum info ini beredar luas, dalam kepala saya juga pengin menulis ini sebenarnya. Kok bisa kebetulan begini.


Saya tak habis pikir bila pertanyaan Iin itu akan ditanggapi jawaban macam begitu oleh IJ. Tak perlu saya tulis juga jawaban-jawaban itu. Anda bisa cari sendiri. Jawaban IJ begitu sinis, merendahkan, tidak tampak etika wibawa seorang penulis, akademisi, redaktur media sastra, dll. Yang lebih parahnya pertanyaan Iin itu di-screenshoot pula oleh IJ dan diposting di Instagram dengan mengatakan bahwa Iin penyair karbitan--saya menduga kalau IJ tidak mengikuti perkembangan dunia sastra khususnya koran dan media sastra digital masa kini, terutama sekadar mengamati penulis-penulis muda yang sedang menjamur. Kala saya diperlakukan macam begitu, pasti dada saya juga remuk, sakit, kecewa, baper, dan segala macam rasa yang tak mengenakkan. Yang dilontarkan Iin kepada IJ itu baru pertanyaan loh, bukan tagihan. Wong nagih honor aja perlu kok, kalau medianya gendek kagak transfer-transfer.


Terkait masalah honor, saya juga punya sedikit pengalaman. Baik honor hasil menulis, moderator, maupun narasumber. Zaman kuliah, saya pernah menulis puisi di koran lokal Banten. Honornya 10 rb. Saya ambil langsung ke kantor redaksinya. Saya tak habis pikir, uang 10 ribu itu dimasukkan ke dalam sebuah amplop agak lebar. Amplop itu berkepala surat redaksi koran tersebut. Bagi saya, zaman itu, 10 ribu lumayan buat beli ketoprak 4 ribu, sisanya buat beli pulsa agar bisa teleponan sama si doi. Kadang honor puisi tidak langsung saya ambil. Saya tumpuk dulu. Saat 3 tulisan dimuat, saya ambil, total 30 ribu. Uang itu buat pesta di bazar buku sastra 5 ribuan dan traktir bensin seorang kawan. 


Di media lokal Banten yang lain, ada yang honornya lumayan, sekali nulis artikel, 100 ribu. Saat itu, saya datang ke kantor redaksi meminta hak saya. Saya tunjukkan bukti korannya. Si Mbak itu bilang “Cuma satu doang?” Perasaan saya kok nadanya mirip-mirip ngeledek begitu. Uang 100 ribu itu saya terima dengan bugil. Tanpa diberikan amplop atau apa. Saya lirik-kiri kanan, takut ada orang. Saya khawatir ria dilihat orang, “Wah, ada penulis yang nagih honor!”. Untung tidak ada. Uang itu langsung saya selipkan ke dalam tas.


Pertanyaan “Cuma satu doang” si Mbak CS itu terngiang di kepala saya. Tulisan saya pun dimuat lagi. Mau saya ambil malu, nanti pertanyaan itu muncul lagi. Akhirnya saya tumpuk. Pas tulisan keempat yang dimuat, saya sudah tidak tahan. Dompet saya benar-benar bolong. Mau sampai kapan saya harus menumpuk pundi-pundi lelah saya. Akhirnya saya datang dengan membawa empat bukti koran sekaligus. Si Mbak bertanya “Berapa tulisan?”. Lalu saya jawab, “Empat”. Mendadak si Mbak itu kelabakan sambil bergumam “Empat ya? Duh, banyak amat.” Saya bingung, kemarin bilang “Cuma satu doang”, sekarang dibawa empat malah bingung. Ia bilang kalau tidak ada uang 400 ribu di lacinya. Akhirnya ia mencari-cari ke temannya, dan ada. Lalu, ia bilang lagi “Wah, banyak amat Kang ngambilnya, empat.” Saya hanya bersenyum simpul. Saya masih bersyukur media ini masih berhonor, memberi saya uang jajan, meskipun secara etika kurang layak. Padahal media ini honornya lebih besar ketimbang media yang memberi honor saya 10 ribu itu. Kenapa yang 10 rb ini malah lebih berkesan.


Sebagai moderator seminar nasional di sebuah kampus, saya pernah merasa tersakiti. Saya ditunjuk menggantikan seorang sastrawan untuk memoderatori penulis artis “Kang Abik”. Tentu saya sangat bangga. Bahkan saya mengajak 7 murid saya dan membayar pendaftaran 350 ribu (per orang 50 ribu). Saya tidak dianggap ada di situ karena sejak pagi tidak ada panitia yang menghubungi saya, bahkan tidak ada yang menyambut atau menyapa saya di kampus. Saya hubungi penanggungjawabnya, katanya lagi sibuk. Baik, saya masuk saja dan bilang bahwa saya moderator acara. Saya sangat pede dan merasa wah sekali bisa berada di atas panggung itu walau sekadar moderator. Yang hadir dalam acara itu ada ratusan peserta. Bila per peserta dikalikan uang pendaftaran 50 ribu, tentu sangat banyak. Di akhir acara saya diberikan sebuah amplop, saya buka di rumah, tampak satu lembar warna merah. Saya bolak-balik. Ternyata cuma satu. Kok, mendadak hati saya sakit. Padahal tidak saya niatkan kekecewaan ini. Yang awalnya ikhlas, mendadak menggerutu. Honor saya dengan uang pendaftaran anak murid saya saja lebih besar uang pendaftarannya. Di sini, saya tahu bukan siapa-siapa, jauh sekali dengan rekan di atas panggung saya yang sudah sekondang itu. Tapi, yo, apakah nominal itu sudah dipertimbangkan dengan matang untuk diberikan kepada saya? Wallahu ‘alam. Kalau dibilang kesal, ya kesal. Tapi, lagi-lagi untuk apa saya terus menggerutu. Ya, sudah, biarkan itu menjadi perenungan dalam hidup saya. Kadang penulis model saya perlu berlatih bersabar, tidak cukup hanya berlatih menulis.


Sebagai pembicara, tentu honor beragam. Mulai dari 50 ribu, 100 ribu, 500 ribu, 1 juta, 2 juta, hingga pernah 5 juta. Dan 5 juta itu capaian tertinggi yang pernah saya dapat tanpa keringat bercucuran (tentu ini proses bukan instan). Bahkan, sebelumnya saya menolak menjadi narasumber. Bukan karena apa-apa, saat itu saat sedang gabut untuk keluar kota karena harus meninggalkan sejenak anak-istri yang saat itu saya lagi santuy ingin di rumah saja. Namun, berkali-kali panitia menelepon saya. Akhirnya, istri saya turun mulut, ia memberikan petuah, “rezeki jangan ditolak, berangkat saja, nggak apa-apa aku dan anak-anak ditinggal”. Jawaban itu membuat dada saya lunak dan mendadak bergairah untuk berangkat. Saat saya tanda tangan di akhir acara, saya diberikan amplop yang begitu tebal. Saya kaget. Saya lihat di kamar hotel, mata saya berkaca-kaca, Allahu Akbar, masyaallah. Gede sekali. Padahal jujur saja, saya tak begitu banyak mengeluarkan tenaga dan pikiran menjadi narasumber di situ. Saya yakin, sepertinya uang ini bukan buat saya semata. Saya langsung teringat istri. Beberapa minggu terakhir, ia selalu merengek minta beli HP baru karena memang HP-nya sudah rusak parah. Dan saya teringat nasihat istri saya malam itu, ia yang menguatkan saya untuk berangkat. Saya menyadari, ini rezekinya. Saya hanya perantara mengambil rezeki itu. Sebelum pulang ke rumah, saya beli HP buat istri saya, seharga setengah dari honor itu. Istri saya kaget. Uang dari mana katanya. Saya jawab saja “Ini rezekimu dari Allah yang dititipkan melalui suamimu dari acara kemarin.” Tentu saja malam itu saya dapat bonus dari istri. Anda tak perlu tahu bonus apa. 


Bila kembali kepada persoalan Iin di atas, saya sih menduga, juga sembari berdoa, bisa jadi ini rencana baik Tuhan buat Iin di masa mendatang. Semoga pintu rezeki terbuka lebar buat Iin--meski tak harus selalu berupa materi. Dikuatkan agar terus konsisten berkarya. Honor memang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya butuh honor. Buahaha. Itu kata-kata yang pernah saya dengar dari seorang kawan pejuang recehan. Boleh diamini boleh juga tidak.


Oh, iya. Semoga media sastra NGEWIYAK ini juga bisa berkontribusi memberikan honor ya. Doakan semoga kami kaya. Saat ini, kami (pengurus) masih swadaya menabung tiap bulan, dan mencari sampingan tambahan untuk menambah tabungan itu biar buncit. Kalau sudah buncit, semoga kabar baik dapat segera kami sampaikan.


Salam!


Pipitan, 21 Des 2021




____

Penulis

Encep Abdullah, penulis yang maksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Tak menutup kemungkinan, ia juga menerima curhatan penulis yang batinnya tersiksa untuk dimuat di kolom ini.








Kirim naskahmu ke

redaksingewiyak@gmail.com