Jumat, 25 November 2022

Cerpen Eki Saputra | Hantu Bertangan Merah

Cerpen Eki Saputra



"Jangan pernah mendekati rel kalau hampir masuk magrib," kata Frangki setengah berbisik padaku. Ia memelankan suaranya di balik buku tulis bergambar artis yang ia tutupkan ke muka, padahal tanpa perlu berbisik suaranya tak pernah sejelas itu di telinga siapa pun, kecuali, mungkin, hanya di telingaku. Itu bukan sesuatu yang luar biasa. Jika aku mampu menerjemahkan yang dia katakan, semata-mata karena aku sudah tiga setengah tahun duduk sebangku dengannya. Aku hafal gerak-gerik bibir sumbingnya dan suara sengaunya. Kupikir ia sama saja dengan orang-orang normal yang kukenal. Namun, ia punya bakat bercerita meyakinkan yang lihai. Salah satu kemampuannya yang mungkin cuma aku yang menyadarinya. 


"Memangnya kenapa?" tanyaku seolah-olah tidak mengerti. Aku sudah paham sekali yang ingin ia katakan. Pasti tentang kereta hantu tengah malam, penculik menyamar jadi pemulung, masinis jadi-jadian, kuntilanak di atas palang, atau pocong di WC dekat stasiun. Setahuku Frangki selalu punya stok cerita seram. Entah dari mana ia mendapat segala kisah mengerikan itu, entah benar atau tidak cerita itu, tapi aku sejujurnya selalu tertarik mendengarkan ceritanya dibandingkan memahami ocehan guru sekolahku yang membuat mulutku tak henti-hentinya menguap. Atau omong kosong teman-temanku yang lain. Mereka pembual besar dan tidak konsisten. Frangki, walau sama-sama pembual, setidaknya ia lebih konsisten. 


"Pokoknya jangan! Itu berbahaya," matanya yang hitam memelotot dengan mimik muka yang tegang. "Katanya suka ada hantu bertangan merah di atas gerbong. Hantu itu ...." 


"Yang duduk di belakang. Berhenti mengobrol!" bentak guru kami tiba-tiba. Kami tak sadar sudah diperhatikan wanita bengis itu sedari tadi. Kami langsung merunduk dan berpura-pura menyimak buku yang wanita itu bacakan. 


Hari itu kebetulan kelas Bu Lina, guru mata pelajaran PPKn. Ia pemegang rekor sebagai guru paling membosankan di SD kami. Ia lebih cocok disebut robot daripada guru. Kerjanya cuma membaca, membaca, dan membaca isi buku cetak. Kalau ia malas mengajar, ia akan memanggil Anita, kawan kami yang sudah dua tahun tidak naik kelas. Kemudian meminta siswi malang itu mengerok leher gajahnya sampai jari muridnya itu bengkak. Satu hal yang pasti, Bu Anita selama di kelas tidak pernah barang sedetik pun meninggalkan kursinya. Kurasa ia punya bokong besi sehingga kalau sudah menempel di kursi, ia tak akan bisa berdiri sampai bel tanda mata pelajaran selesai berbunyi. 


Pokoknya, seingatku, wanita itu terkenal bengis. Kacamata kuda selalu menempel di mukanya. Dan, dari balik kacamata itu, ia bakal mengawasi murid yang dianggapnya berisik, lalu menghukum mereka dengan sadis. Tentu saja saat menghukum murid, ia tak pernah meninggalkan kursinya. Wanita bermuka lonjong dan bertahi lalat sebesar biji kacang tanah di dagu itu akan meminta pelaku keributan maju ke depan kelas. Kemudian ditepuknya bokong murid-murid itu sebanyak jumlah hari dalam seminggu. Untungnya, aku dulu tidak pernah mengalami hal itu. Bukan karena aku bintang di kelas, melainkan Bu Lina adalah istri dari pamanku. Kami masih kerabat dekat. Kalau Bu Lina berani menghukumku, aku tak segan mengadukannya ke Mama, lalu Mama bicara ke Nenek, lalu Nenek pun menegur Paman, dan Paman bertengkar dengan Bu Lina. Demikianlah kemenanganku. Tapi tidak dengan nasib Frangki. Ia rutin dihukum. Hari itu bukan lagi dengan sebatan bokong, melainkan ditepak kuku dengan penggaris kayu sebanyak jumlah murid di kelas kami: tiga puluh tiga orang. 


Aku masih ingat. Hari itu, sewaktu kelas kami berakhir, aku tidak langsung pulang ke rumahku, tetapi justru ikut ke rumah Frangki. Rumahnya memang tidak begitu jauh dari sekolah. Hanya sekitar tiga puluh meter dari gedung sekolah kami kalau melewati jalan aspal. Namun, sangat dekat seandainya meniti jalan pintas. Kira-kira hanya melewati tiga deret bangunan, maka kami sudah menemukan gubuk berdinding papan yang berdiri membelakangi kolam besar. 


Jadi, di situlah habitat Frangki. Bangunan kecil tak berteras dan beratap rumbia. Satu-satunya rumah yang terhindar dari kabel menjuntai. Pekarangannya kering dan tandus, tetapi tampak semarak berkat pola ragam tahi unggas yang mengotori tanah. Meskipun demikian, tempat itu terlihat asri pada bagian belakang. Terdapat rumpun pandan, ketela pohon menjulang, dan rumpun serai yang tumbuh subur di sana. Dan di atas kolam besar itu, sekawanan angsa asyik berenang beriringan dengan sepasang bebek. Mereka melewati teratai bermekaran seperti piringan hijau yang dihiasi bola lampu menyala. Kolam biru pirus itu memantulkan cahaya matahari pukul sebelas siang pada hari Jumat yang damai. 


"Mereka cantik sekali," gumamku, takjub. Aku menunjuk sekawanan angsa dan bebek berenang. 


"Biasa saja," balas Frangki tak bersemangat. Sekilas ia memandangiku seperti kasihan. "Bukan mau sombong, tapi aku melihat mereka setiap hari. Apanya yang cantik coba?" 


"Menurutku ini cantik. Aku jarang melihat yang begini. Ini seperti anime." 


Keningnya mengerut. "Apa itu anime?" 


"Hmm, mama menyebutnya kartun. Tapi abangku bilang itu beda dengan kartun. Intinya animasi, tapi mirip betulan." 


Kerut di keningnya makin banyak. "Aku tidak mengerti. Dari dulu kami tidak punya televisi."

 

Aku tergelak. "Mungkin kamu sesekali perlu ikut aku nonton di rumah." 


"Ogah! Aku lebih suka main daripada melihat kotak sempit itu." 


Dua bebek yang kulihat berenang tadi ternyata sudah naik ke tebing. Mereka terbang pendek. Saling kejar-mengejar. Gara-gara itu debu berkeliaran di udara. Menerbangkan daun-daun kering dari sebatang pohon belimbing di sekitar danau. Membuatku sontak jadi terbatuk-batuk. 


"Andai bisa, aku ingin menyembelih salah satu dari mereka," ujar Frangki, kejam. Mukanya makin merengut lantaran kesal menemukan tahi bebek berlumuran di sebelah sandal jepitnya yang tergeletak di samping pot bunga. Ia buru-buru mengambil serenteng kunci dari bawah pot bunga plastik di dekat sandal itu. 


Ia membuka pintu. Saat akan masuk, ia berhenti sejenak seolah ia tengah berpikir tentang sesuatu. Tak lama kemudian ia menoleh padaku dengan seraut wajah gembira, seakan sudah melupakan tentang tahi bebek di sandalnya tadi dan berkata, "Bagaimana kalau kita main kartu gambaran? Lagi pula Mbak Lusi tidak akan pulang sampai sore. Kita bebas!" 


"Ayo! Siapa takut!" 


*** 


Rumah sederhana itu milik saudarinya. Wanita setinggi gagang sapu yang suka mengomel, begitu julukan Frangki. Ia bilang sangat benci kakaknya. Wanita itu terlampau pelit. Setiap hari cuma memasak nasi dan sambal terasi. Kadang kalau ada uang, ia memasak semur jengkol atau sambal ikan teri. Saat pergi sekolah Frangki tak pernah diberi uang jajan. Abang iparnya pun sebelas dua belas dengan kakaknya: mereka berjodoh karena sama-sama kedekut. 


Sebetulnya aku senasib dengan Frangki. Kami sama-sama tak diberikan uang jajan. Mama rutin menyiapkan bekal nasi goreng dengan lauk telur mata sapi dan sosis. Setiap hari. Itu-itu saja. Mama bahkan menyediakan air mineral baru untuk kuminum. Semua yang masuk ke mulut harus diperhatikan dengan cermat, begitu pesan mama. Apalagi jajan di luar, sudah pasti banyak penyakitnya. Ia mengoceh kalimat itu setiap kali aku minta uang jajan. 


"Kau tidak makan?" tanya Frangki, bingung. Ia melihat isi kotak nasiku seperti belum berkurang sesuap pun. Padahal, sebagian nasi dan lauknya telah kuoper padanya. 


"Aku kenyang. Ambil saja semuanya buatmu." 


"Yang benar? Aku memang sedang lapar nih. Di ketel tinggal kerak saja," ucapnya dengan mulut masih yang terisi penuh. 


"Ambillah kalau begitu. Aku nanti makan sepulang dari sini." 


"Ya, ya, aku tahu, pasti di rumahmu sudah ada makanan yang lebih enak," tukasnya, kemudian minum. 


"Besok-besok ajaklah lagi aku main ke rumahmu. Aku mau ikut makan di sana. Mamamu baik, makanan kalian juga enak-enak," kata Frangki selepas minum. 


Aku mengangguk ragu-ragu, bingung ingin mengiyakan atau tidak. Sebetulnya Mama tak suka kalau aku berteman dengan Frangki. Mama bahkan melarangku mengajak anak itu main lagi ke rumah. Kata Mama, Frangki itu anak kurang baik, kurang adab, kurang sopan, kurang tata krama, kurang segala-galanya. Aku pun tak mengerti, mengapa semua itu jadi penting buat Mama? Mengapa ia repot memikirkan semua itu? Frangki cuma temanku. Ia bukan anak Mama. Ia tak perlu menjadi anak yang seperti Mama inginkan. Ia tak akan betul-betul merugikan mama dengan semua kekurangannya itu. 


"Makannya seperti anjing," kata Mama dengan ekspresi jijik. Padahal, yang kulihat selama ini cuma anak lapar yang makan dengan lahap. Entah kenapa di mata Mama, Frangki terlihat tidak normal. Kata Mama, ia mengambil lauk-pauk macam kuli proyek, ia jorok karena tidak mencuci tangan sebelum makan meskipun pakai sendok, ditambah kukunya pun hitam-hitam dan panjang, ditambah lagi serdawanya yang keras terdengar menjijikkan. Intinya, ia buruk di mata mamaku. 


"Terutama baunya itu sangat mengganggu. Bau pesing," keluh Mama. Ia mengucapkan itu dengan ekspresi bergidik selepas Frangki meninggalkan rumah kami pada hari itu. Mama sembari mengomel lantas mengguyur tangannya dengan air dari keran wastafel, lalu menyemprot sabun antiseptik berkali-kali. Itu karena temanku sempat menyalaminya sebelum pergi. 


"Mamamu sangat baik," ujar Frangki polos. "Beda dengan ibunya Deni, Indri, dan Riki. Ia sangat ramah." 


Frangki tidak tahu. Mama selalu saja pintar menyembunyikan ketidaksukaannya pada siapa pun. Di depan Frangki sebelumnya, Mama justru tidak sekalipun membahas segala kekurangan temanku itu. Ia bersikap ramah dan memperlakukannya sangat baik, begitu keibuan. Tetapi setelah temanku itu pergi, sikapnya berubah drastis. Mama mendadak seperti dua orang yang berbeda. 


"Lain kali tidak usah terlalu akrab dengan anak itu. Dia bukan orang baik," ucap Mama sembari mengeringkan tangannya dengan kain lap. Sejenak kemudian dilemparkannya kain lap bermotif kotak-kotak itu ke lantai, lalu ditekannya dengan kaki, dilapkan ke bekas air yang memercik dari ujung jari-jarinya tadi. 


"Namanya Frangki," sahutku tidak suka. 


"Ya, siapa pun namanya Mama tidak mau peduli. Aku kenal keluarganya. Dia anaknya warga pendatang itu, kan?" 


"Bukan, Frangki tinggal dengan kakaknya. Ibunya sudah meninggal dan bapaknya menikah lagi," kataku mencoba meluruskan. Mama tidak tahu apa-apa tentang temanku. 


"Anak malang. Pantas saja tidak terurus," selorohnya. Selanjutnya ia berkata lagi seraya menepuk kedua bahuku, "Tapi An, anak begitu biasanya punya pengaruh jelek. Pasti kurang dididik. Jangan terlalu akrab dengan dia." 


Ini menyedihkan. Saat Mama diam-diam mengejeknya, sementara Frangki terang-terangan memuji Mama di hadapanku. Ia bilang terkesan kebaikan mamaku. Ia bilang Mama begitu mirip dengan almarhumah emaknya di kampung asalnya. Ia bilang sungguh aku ini beruntung karena punya rumah yang bagus, Mama yang baik, dan makanan yang lezat. Lama-kelamaan aku jadi bingung, sebenarnya yang buruk itu Frangki atau Mama? 


***


"Sore ini kamu mau menemaniku ke rel kereta?" ajaknya di tengah permainan kartu gambaran. Kami bermain adu jagoan. Kartu gambaran siapa yang tertelungkup (bagian gambarnya terbalik), maka dialah yang kalah. 


"Buat apa?" 


"Melihat hantu bertangan merah. Yang aku bilang saat di kelas tadi." 


"Bukannya kamu bilang tadi berbahaya?" 


"Itu kan baru sekadar cerita. Aku pikir kita perlu membuktikannya." 


"Aku tidak bisa. Mama pasti marah kalau aku pulang sore-sore. Ini saja dia pasti sedang mencariku." 


"Ya sudah. Kalau begitu aku pergi sendirian saja nanti." 


"Memangnya kamu berani?" 


"Agak takut, tapi kudengar kalau menengok hantu tangan merah di gerbong keempat, dan dia melambai, terus kita melemparinya dengan batu dilumuri air garam, kita nanti akan dilemparinya balik dengan uang seratus ribuan. Aku tidak percaya, tapi tidak ada salahnya dicoba. Urusan lempar-melempar itu mudah. Kebetulan garam di toples dapur masih banyak." 


"Gila kamu!" balasku. Kami bertos, mengadu kartu gambaran. Kartu Franki jatuh terbalik dan punyaku tidak. Ia kalah. Aku langsung mengambil kartunya. 


"Bagaimana kalau itu bohong?" tanyaku setelah memungut kartu milik Frangki yang kalah. Aturan dalam permainan kami, siapa kalah main "setepuk", maka kartunya jadi milik pemenang. 


"Tidak masalah. Aku cuma rugi garam. Mau lanjut main lagi?" Ia mengangkat alis. Telapak tangannya sudah siap dengan kartu baru tertempel. Kartu bergambar karakter mirip iblis. 


"Is, dasar nekat! Ayo main lagi!" 


"Dengar, aku janji, kalau aku dapat uang itu, kamu akan kutraktir makan siomay sepuasnya." 


"Kuharap begitu. Walaupun aku tak makan siomay soalnya aku alergi kacang tanah." 


"Halah! Dasar lemah! Kenapa orang kaya banyak pantangannya? Aku dari dulu makan apa saja bisa. Andai kursi dan meja bisa dimakan tentu sudah habis kumakan." 


"Asal jangan tahi yang dimakan." 


"Tempoyak itu kupikir mirip tahi. Jadi anggaplah aku sudah pernah makan tahi." 


"Sudah! Ayo main sekali lagi sebelum aku pulang." 


"Ya! Satu tepukan terakhir." 


***


Aku sama sekali tidak menyangka jika hari itu akan menjadi ingatan paling berharga tentang Frangki. Aku tidak menyangka permainan kami selamanya berakhir sejak hari itu. Aku menyesal tidak melarangnya berangkat sendirian ke sana. Ingatan tentang petang mengerikan itu hingga detik ini masih menghantuiku setiap malam. Meski sudah dua puluh tahun lalu berlalu. Masih terbayang bagaimana detik-detik saat bunyi beduk panjang itu ditabuh bertalu-talu dari masjid. Kemudian sang marbut menyebut-nyebut nama Frangki. 


"Kasihan sekali," ucap Bu Lina sore itu. Bu Lina kebetulan sedang lewat di depan rumah kami. Mama hanya ikut-ikutan mengulangi ucapan Bu Lina. Tidak tampak ia turut berduka mendengar kabar itu. 


Bu Lina mengatakan sahabatku yang malang itu meninggal karena tersenggol kereta. Beberapa orang di tempat kejadian bahkan menyaksikan sendiri saat ia mengejar salah satu gerbong kereta yang tengah melintas. Tangannya seakan mau menggapai-gapai sesuatu. Sebab itulah ia jatuh terjerembab dan kepalanya menghantam roda kereta hingga mati tergilas di tempat. 


"Lin, itu muridmu juga, kan? Masih sekelas dengan Andi?" 


"Iya, Mbak. Makanya aku tidak heran kalau meninggalnya sampai begitu. Dia ini memang bebal kalau di sekolah." 


Mama spontan langsung menoleh ke arahku yang masih belum percaya mendengar kabar buruk itu. "Apa kata Mama, kan? Anak itu tidak baik. Dia memang nakal. Untung kamu sudah Mama peringatkan!" 


Aku menahan tangis. Tangis kehilangan; tangis kebencian pada Mama dan semua orang dewasa. Orang dewasa tidak pernah tahu apa-apa. 

 

________

Penulis

Eki Saputra (1997) lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Emerging Writer di Ubud Writers & Readers Festival 2021. Aktivis lingkungan dan penulis lepas. Seorang penikmat karya sastra dan film pendek. Baru-baru ini ia menerbitkan novel berjudul Kepada Siapa Ilalang Bercerita (2022). 


Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com