Saturday, November 29, 2025

Resensi Kabut | Puisi dan Gizi

Oleh Kabut




Pada suatu hari, kita berharap pemerintah membuat sayembara menulis cerita pendek, puisi, atau pengalaman. Murid-murid di seantero Indonesia berhak mengikuti sayembara. Yang ikut adalah murid-murid SD, SMP, dan SMA. Mereka yang sudah menikmati kebijakan makanan bergizi gratis dari pemerintah dianjurkan ikut sayembara, tidak perlu memikirkan menang atau kalah.


Mengapa diperlukan sayembara? Kita mengetahui selama 2025, kebijakan itu penuh kejutan. Artinya, beragam masalah muncul tanpa jawaban. Yang paling sering menjadi berita adalah keracunan. Di pelbagai sekolah, murid-murid merasa senang mendapat makanan setiap hari. Tersajinya makanan di atas meja membuat lapar bisa terjawab, belum tentu masalah selera. Ada yang ribut dan bingung untuk penetapan gizi. Pokoknya, kebijakan itu mencipta jutaan opini yang membuat presiden bangga. Ada pihak-pihak yang menyesal dan marah meski kebijakan pemerintah tidak mungkin dihentikan. Yang terjadi di Yogyakarta dan pelbagai kota, seruan dari kaum ibu yang menuntut program makanan bergizi gratis dihentikan gara-gara menimbulkan banyak masalah ketimbang manfaat.


Kita belum ingin lelah dengan masalah-masalah mutakhir. Yang kita harapkan adalah anak-anak mau belajar tentang makanan saat pemerintah memaksakan kebijakan. Anak-anak belajar makanan bukan sekadar menyesuaikan kemauan pemerintah, tapi membekali dirinya saat bertumbuh menjadi dewasa. Pengetahuan pangan terlalu penting berkaitan identitas, kesehatan, iman, adat, dan lain-lain. Gagasan besar dan beragam atas makanan mustahil semua tercakup dalam kebijakan pemerintah, yang malah memicu persaingan bisnis dalam meraih untung yang sebesar-besarnya.


Pada masa Orde Baru, pengajaran pangan dilakukan melalui beragam mata pelajaran. Yang disampaikan adalah hal-hal penting, belum tentu mudah dipahami murid-murid. Pelajaran yang berurusan gizi kadang tidak menarik. Akibatnya, anak-anak enggan untuk paham, tidak bergairah untuk mengamalkannya.


Maka, pengajaran pangan memerlukan cara-cara yang istimewa. Pada masa Orde Baru, pengajaran itu menggunakan puisi. Kita beruntung mendapatkan buku yang pernah menjadi koleksi di perpustakaan SD Kristen Widya Wacana, Surakarta. Buku yang cukup sering dipinjam oleh murid. Apakah buku yang menarik? Biasanya, anak-anak suka novel atau kumpulan cerita pendek. Buku berisi puisi-puisi jarang digemari anak-anak. Pengecualian bila ada tugas dari guru. 


Buku itu berjudul Empat Sehat Lima Sempurna, yang berisi puisi-puisi gubahan Jajak MD. Anehnya, sampul buku tidak memuat gambar makanan dan minuman. Yang ditampilkan adalah dua anak yang wajahnya ceria. Artinya, mereka sehat dan cerdas. Buku diterbitkan oleh Urasco Nusantara, 1984. Mengapa judulnya seperti propaganda pemerintah? Pada masa Orde Baru, seruan 4 sehat 5 sempurna dilakukan di sekolah, posyandu, puskesmas, dan lain-lain. Yang penting ada kerja keaksaraan untuk mengajak anak-anak belajar makanan yang bergizi. Buku itu terbit jauh sebelum rezim Prabowo-Gibran mengadakan makan bergizi gratis. Jadi, suatu hari, pemerintah harus mengadakan sayembara penulisan puisi agar anak dan remaja yang menikmatinya dapat mengungkapkan dengan kata-kata berbumbu imajinasi. Kita tunggu puisi-puisi mereka penuh pujian atau berani menyampaikan kritik sekaligus kekecewaan.


Jajak MD ingin membuktikan keampuhannya. Halaman pengantar saja menggunakan bentuk puisi: Sehat kuat tidak selalu/ dari nasi, gandum, atau ubi/ Makanan harus bervariasi/ termasuk buah dan sayur-sayuran/ lemak, daging, telur, dan ikan// Empat sehat lima sempurna/ itulah semboyan kita/ Semuanya itu tidak selalu harus mahal/ bisa hanya sederhana/ Tergantung sama kita/ cara memilihnya/ cara memasaknya/ dan variasinya/ atau kombinasinya. Dua bait yang benar-benar penyuluhan. Bagaimana murid-murid mau tergoda dengan puisi dan pelajaran pangan bila nadanya penyuluhan? Seharusnya, buku dibacakan di kumpulan PKK atau Dharma Wanita saja. 


Apakah pengantar berbentuk puisi ini boleh dikutip dalam kesuksesan program pemerintah yang masih saja diributkan? Kita usul para pengusaha dan kaum politik yang sibuk meraup untung dalam program makanan bergizi gratis membaca bait yang terakhir: Dan tidak usah khawatir/ negeri ini adalah negeri yang makmur/ yang boleh dikata apa saja tersedia/ Tak usah khawatir/ vitamin, mineral/ terdapat di mana-mana/ hampir semua dalam makanan kita.


Kita pernah dibingungkan oleh pernyataan orang di pemerintahan dan DPR bertema ahli gizi. Omongan mereka disambar publik untuk pesta kritik dan ejekan. Indonesia membutuhkan ahli gizi atau puisi? Pertanyaan yang kita jawab sembarangan saat membuka halaman-halaman buku berjudul Empat Sehat Lima Sempurna.


Jajak MD itu pengarang, bukan ahli gizi. Namun, puisi-puisinya seperti menunjukkan paham gizi atau pangan. Apakah selama menggarap puisi, Jajak MD berdiskusi dengan ahli gizi atau membaca buku-buku bertema makanan? Kita pasti sudah pusing duluan, sebelum membaca puisi-puisi.


Kita mencuplik dari puisi berjudul “Vitamin dan Mineral”. Anak-anak yang membaca berusaha tidak menuduhnya adalah salinan dari materi yang terdapat dalam buku pelajaran: Tubuh kita memerlukan vitamin/ juga yang disebut mineral/ Tanpa keduanya/ kita akan fatal// Keduanya diperlukan/ dalam kadar dan takaran/ yang memadai/ Harap diketahui, tubuh kita/ amat menghendaki// Di manakah kita memperolehnya?/ Keduanya dapat kita ambil/ dari tanaman-tanaman/ terutama sayur-sayuran. Di hadapan puisi, anak-anak berpikir atau membuat catatan? Pilihan kata yang tidak terlalu sulit tapi murid-murid yang sudah lelah dengan beberapa pelajaran di kelas akan merengut mendapat penyuluhan. 


Puisi yang berjudul “Kalsium” tidak ingin bersaing dengan iklan-iklan yang dimuat dalam majalah wanita dan keluarga. Kalsium adalah diksi yang biasa digunakan dalam iklan-iklan selain rubrik kesehatan. Bagaimana kenikmatan Jajak MD menulis puisi berjudul “Kalsium”? Puisi yang harus memenuhi kaidah ilmiah, tidak boleh asal imajinatif. Buku-buku apa saja yang dibacanya? Hasilnya: Kalsium disebut juga zat kapur/ merupakan mineral yang paling/ banyak dalam tubuh/ Kekurangan kalsium akan rapuh/ Kalsium terdapat dalam tulang-tulang/ Sebagian kecil terkandung dalam darah/ fungsinya antara lain/ mencegah pendarahan// Namun penting pula bagi otot-otot/ dan saraf/ Bila kadar kalsium menurun/ urat saraf jadi peka/ dan otot-otot jadi kejang/ lalu timbul kesemutan/ atau geringgingan. 


Bagi yang ahli sastra atau penikmat serius sastra, yang ditulis Jajak MD sulit disebut puisi. Yang jelas ia menulisnya untuk dibaca anak dan remaja. Para guru boleh membacanya bila menganggap penting dalam menyokong mata pelajaran. Seharusnya buku itu dipelajari ibu-ibu PKK dan Dharma Wanita yang punya tugas mulia di masyarakat. Puisi membekali dalam penyulusan makanan dan kesehatan.


Di program makanan bergizi gratis, murid-murid kadang mendapatkan pisang atau jeruk. Ada yang suka buah-buahan meski tidak mengerti banyak kandungan-kandungannya. Jajak MD tampil menjelaskan bila buku masih dibaca murid-murid pada masa sekarang.


Puisi yang tidak indah tapi dapat dinikmati di kelas: Siapakah yang belum tahu pisang?/ Banyak pisang dapat direbus/ digoreng dan dibakar/ Banyak juga yang langsung/ dapat dimakan// Pisang yang diselai/ menjadi manis rasanya/ Kadar gulanya meninggi/ bisa langsung disantap/ atau digoreng dulu/ dengan adonan telur dan terigu// Pisang amat banyak jenisnya/ ada ambon, koja, raja/ susu, kapok, tanduk, byar/ dan sebagainya. Orang yang mau mengubah susunan atau bentuk tulisan Jajak MD bisa menghasilkan tulisan seperti paragraf dalam pelajaran sekolah. Puisi yang sebenarnya bisa dianggap tidak puisi. Namun, kita membayangkan usaha yang sungguh-sungguh saat pengajaran makanan dilakukan di sekolah. Jajak MD adalah pengarang, yang memaksakan bentuk puisi dalam penyuluhan. Yakinlah, puisi-puisi itu sulit digemari anak-anak. Apakah ada anak-anak yang berhasil mengingatnya, menjadikan puisi sebagai sumber hikmah? 


Kita tidak mengusulkan buku itu dicetak ulang. Pemerintah mendingan membuat sayembara agar murid-murid berani mengirimkan tulisan bertema makanan bergizi gratis. Maksudnya, tulisan-tulisan mereka menjadi tanggapan dan pengalaman, yang nanti membuat pemerintah melakukan evaluasi atau publik makin kencang dalam debat sepanjang 100 kilometer.


_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com