Resensi Kabut
Beberapa orang mengaku susah menulis cerita anak. Beberapa orang mudah membaca cerita anak. Kita tidak bermaksud membuat perbandingan sembrono mengenai peran pengarang dan pembaca. Yang kita urusi adalah cerita anak, terutama di Indonesia.
Apa-apa yang menjadi masalah dalam penulisan cerita anak? Yang paling menyulitkan adalah menghindari masalah sekolah. Para tokoh yang diceritakan sering masih murid di SD atau SMP. Bagaimana caranya agar tokoh yang dihadirkan dalam cerita “terpisah” dari sekolah? Susah. Pengarang yang membuat dongeng berlatar masa kerajaan masih bisa mengelak. Pengarang yang menaruh para tokoh dalam zaman modern mengenali (lembaga) pendidikan pasti kerepotan jika mengabsenkan sekolah.
Bercerita anak-anak yang belajar di sekolah itu membosankan! Anak-anak yang berseragam. Mereka yang membuka buku pelajaran. Guru yang mengajar di depan kelas. Pokoknya, cerita yang mengandung sekolah itu sudah bikin bosan yang sulit ditanggulangi. Kita sangat paham lakon menjadi murid. Kita menyadari peran sekolah, pengaruh guru, dan wajib belajar. Cerita anak yang masih berkaitan sekolah terus saja ditulis di Indonesia, menghasilkan ratusan atau ribuan judul.
Yang menulis cerita anak, yang tokohnya murid dan latarnya sekolah masih berlaku sampai sekarang. Kita sulit menolak. Buku-buku baru yang diterbitkan masih “mementingkan” sekolah. Pengecualian hanya beberapa cerita saja yang berani menjauh atau “mengharamkan” sekolah. Apakah itu terjadi dalam penulisan cerita anak-anak di pelbagai negara? Benar. Ratusan novel anak yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia membawa sekolah. Ada beberapa yang berusaha mengurangi kadar sekolah atau memilih latar masa silam yang “terlalu” khayal. Yang main-main fantasi masih memungkinkan abai sekolah.
Pengarang menjelaskan: “Anak-anak Indonesia dewasa ini telah semakin pandai. Mereka cerdas dan banyak akalnya. Saya kira, anak-anak pembaca buku ini juga demikian. Si Oton dan kawan-kawannya yang diceritakan dalam buku ini adalah anak-anak masa kini. Mereka rajin bersekolah dan senang bergaul dengan sesamanya.”
Yang kita baca adalah keterangan yang diberikan E Siswoyo dalam buku berjudul Si Oton 2: Warisan. Buku cerita anak yang diterbitkan Gramedia, 1985. Pengarang gamblang mementingkan anak yang belajar di sekolah. Ia berani menyatakan anak-anak Indonesia pandai. Apakah itu dampak dari kebijakan-kebijakan rezim Orde Baru yang mengaku ingin “mencerdaskan” anak-anak di seantero Indonesia?
Sejak mula, pengarang sudah menginginkan ceritanya dibaca oleh anak-anak. Artinya, cocok dibaca agar anak-anak mendapat hikmah. Misi yang terbesar adalah buku masuk sekolah, menjadi koleksi di perpustakaan. Buku yang bakal direstui kepala sekolah dan guru gara-gara isinya memberi hal-hal penting dalam perkembangan anak.
Yang menulis cerita mengaku tetap berurusan sekolah. Ia bisa mengelak sejenak dengan pengisahan selama liburan. Sekolah tetap penting. Maka, sejak awal, ia memberi pujian kepada anak-anak yang rajin belajar dan sadar makna pendidikan. Pada babak akhir, pengarang makin mementingkan sekolah, yang membuktikan anak-anak belajar secara sungguh-sungguh setelah menikmati liburan.
Kita tunda sebentar masalah cerita anak, belajar di sekolah, dan liburan. Yang istimewa dari buku berjudul Si Oton: Warisan adalah peran E Siswoyo. Kita mencatat ia adalah pengarang sekaligus pembuat gambar di sampul, disempurnakan dengan membuat ilustrasi di beberapa halaman. Di industri buku, ia memiliki tiga peran. Artinya, ia sangat paham kepustakaan anak. Jadi, pertimbangan isi cerita mendapat keselarasan di sampul dan ilustrasi saat pembaca membuka halaman demi halaman. Anggaplah itu capaian besar dalam biografi E Siswoyo.
Apa yang diceritakan? Ia mengisahkan anak-anak yang berlibur. Mereka sering berkumpul setiap hari, pergi menyusuri sungai. Di sana, mereka melihat para pemancing. Anak-anak penasaran dengan kenikmatan pemancing, tertarik dengan ikan-ikan. Ingatlah, yang diceritakan adalah hari-hari tanpa pelajaran di sekolah. Pergi ke sungai dirasakan anak-anak sebagai tamasya. Pengarang mengimbuhinya sebagai cara memuliakan alam.
Pengalaman yang indah bagi Oton dan teman-teman: “Kami sering mandi di belik yang airnya sejuk dan jernih di tepian sungai. Sering pula kami hanya menyusuri tepian hingga jauh ke hulu, dan melihat orang yang sedang menjala ataupun memancing ikan.” Peristiwa yang sederhana tapi membahagiakan anak-anak yang terlalu lama diwajibkan belajar di sekolah.
Sosok penting dalam cerita adalah pemancing. Anak-anak berada dalam alam dan keinginan mengetahui lakon pemancing. Maka, mereka mendekat dan mengajak bicara. Pemancing itu disebut Pak Tua. Sebutan berdasarkan umur dan tampilan. Anak-anak cepat akrab dengan Pak Tua. Namun, ada keanehan gara-gara Agung meminta ikan milik pemancing. Oton mencoba memberi tahu cara yang sopan untuk meminta. Agung belum paham. Pokoknya, ia minta ikan dan berharap mendapatkan.
Pembaca mulai dikenalkan dengan Agung. Ia adalah anak dari pengusaha, yang terbiasa segala keinginannya terpenuhi. Sifat itu terbawa saat bersama orang lain. Oton tidak membencinya, berusaha memberi nasihat dan penyadaran. Anak-anak yang membaca buku cerita gubahan E Siswoyo perlahan mendapat pengajaran sopan santun atau tata krama. Pelajaran yang penting dalam pergaulan sosial, tidak kalah dengan beberapa mata pelajaran di sekolah. Oton menjadi panutan bagi teman-temannya dalam tata krama, yang semestinya dimiliki anak saat berada di rumah, sekolah, dan masyarakat. Artinya, novel tipis itu mengandung misi besar sesuai yang dikehendaki oleh kurikulum dan pengukuhan kepribadian Indonesia.
Perkataan Oton kepada Agung, yang sebenarnya nasihat kepada para pembaca: “Saya kira engkau bertindak kurang tepat, Agung. Siapa tahu ikan itu sangat bernilai bagi Pak Tua. Ia tukang memancing. Hidupnya mungkin tergantung dari hasil memancingnya. Tiba-tiba hasilnya kau ambil. Engkau yang enak, orang yang rugi.” Oton, sosok anak yang dibuat oleh pengarang memiliki banyak pengetahuan dan sadar segala perbuatan yang berpatokan kesopanan. Cara mengingatkan itu baik, tidak mutlak menyalahkan tapi memberi petunjuk sesuai pedoman dalam masyarakat.
Di rumah, Agung pun terlibat debat mengenai tata krama. Ikan yang dibawanya dari sungai, yang dimintanya dari pemancing, disantap di rumah. Ibunya menanyakan asal ikan, lalu berkata: “Jadi, Agung sudah menjadi peminta-minta ya?” Agung lugas menjawab: “Pak Tua itu sangat baik hati, Bu. Ia dengan rela memberikan ikan yang saya minta, kemarin maupun tadi.” Agung tetap belum mengetahui kesalahannya. Masalah inilah yang semestinya diperhatikan anak-anak selaku pembaca. Mereka diajak belajar melalui kata-kata dan perbuatan.
Bapaknya sebagai pengusaha ikut urun omongan: “Agung, tidak seharusnya kau begitu. Kamu tahu Pak Tua itu hidupnya miskin sehingga ia bekerja sebagai pemancing. Ikan hasil pancingannya itu mungkin sangat berguna bagi keluarganya. Jika tidak kauambil mungkin ikan itu dapat ia jual untuk membeli beras.” Kita bisa membedakan perkataan Oton sebagai teman dan perkataan bapak-ibu dalam posisi kaya. Pendapat bapak dan ibu Agung “berlebihan” seolah kasihan dengan nasib pemancing yang diduganya miskin. Padahal, pemancing itu pensiunan mantri guru.
Di kesusastraan anak Indonesia, novel buatan E Siswoyo sangat patut menjadi contoh novel bergelimang ajaran moral. Percakapan dan debat yang bermunculan memasalahkan kesopanan atau tata krama. Yang dihadirkan adalah tokoh anak-anak dan tokoh yang sudah tua. Perbedaan umur dan status sosial mengajarkan perkara-perkara yang penting direnungkan para pembaca. Novel yang selaras hasrat Soeharto mencipta “masyarakat sopan” atau “masyarakat patuh”.
Yang agak menggelikan adalah usaha bapak Agung dalam membalas budi kebaikan Pak Tua. Ia menitip kepada Agung berupa korek api dan kotak tembakau yang apik agar diberikan kepada Pak Tua. Di situ, anak-anak mengerti bahwa pemancing yang sabar dalam waktu yang lama niscaya merokok. Yang dipelajari anak-anak adalah memancing, bukan merokok. Pak Tua itu mengajari anak-anak memancing meski diselingi merokok. Jadi, merokok bukan pesan yang terpenting dalam novel.
_______
Penulis
Kabut, penulis lepas.
redaksingewiyak@gmail.com
