Sabtu, 25 September 2021

Resensi Ma'rifat Bayhaki | Membicarakan Realitas dalam Kumcer Nadran dan Cerita Orang-Orang Kalah Lainnya



Resensi Ma'rifat Bayhaki



Judul: Nadran dan Cerita Orang-Orang Kalah Lainnya

Penulis: Sul Ikhsan

Penerbit: #Komentar

Tahun Terbit: Juli 2020

Tebal: 230 hlm.

ISBN: 978-623-7630-41-8


***


Nalar yang baik selalu membentuk argumen-argumen dengan koherensi yang tepat. Hadirnya filsafat di Yunani membawa pertanyaan-pertanyaan besar mengenai keyakinan yang telah mengakar dan membudaya sebelumnya, baik itu metode berpikir menangkap realitas, maupun dalam memahami dunia metafisik. Para filsuf Yunani, mencoba membongkar keyakinan-keyakinan itu, dan berusaha mengontruksi dengan metode atau rumus berpikir yang ideal—matematis yang tidak bermuara ada felesis dan/atau paradoks. 


Membaca buku cerita pendek Nadran dan Orang-Orang Kalah Lainnya mengingatkan saya pada buku Roti Semiotik yang Memadai karya Arip Senjaya. Roti atau karya sastra yang memadai akan lepas dari si tukang roti atau penulis. Pembaca bebas dan lepas untuk menyebut karya itu bagus atau buruk tanpa sibuk mencari tahu bagaimana si tukang roti itu membuatnya dan apa saja bumbu di dalamnya. Singkatnya, karya sastra yang komposisi dan tingkat kematangannya memadai tetap akan dinikmati bahkan menjadi favorit pembaca tanpa pengaruh dari si tukang roti. 


Tentu, dalam hal ini karya sastra harus berdiri sendiri, medium mandiri, seperti yang dipercayai para filsuf materialisme bahwa sesuatu benda berdiri secara mandiri dan memiliki sifat dan masanya masing-masing dan merdeka sebagai subjek. Interpretasi mengenai benda-benda itu kemudian menjadi fenomena. 


Saat membaca cerpen "Nadran" yang kemudian diambil sebagai judul besar oleh penulisnya ini, saya menemukan bagian realitas yang asing dari pengamatan indra saya di dalam kehidupan saya pribadi.  Konflik kepercayaan dan kebudayaan yang pelik dan biasa saya tanggapi secara moralis, disajikan secara alternatif dalam cerpen tersebut. "Nadran" seolah berupaya mengontruksi keyakinan saya. Bagaimana di satu sisi ritual nadran atau sedekah laut dipandang sebagai kegiatan yang syirik, sedangkan di lain sisi nadran menjadi kebudayaan bangsa yang penting untuk dilestarikan dan dipertahankan kesakralannya. Menariknya, di akhir cerita ini, penulis memberikan gambaran terkait peran pemerintah yang berupaya mengadakan kembali nadran yang didukung pemuka desa yang pada dasarnya hanya medium untuk mentransformasikan makna nadran sebagai acara seremonial untuk menggebrak program percepatan pariwisata.

 

Jika membaca keseluruhan buku ini, barangkali Anda akan terenyuh melihat realitas yang jauh dari apa yang ada dalam bayangan: pemerintah gencar meningkatkan sumber daya manusia dan mendorong generasi mudanya untuk gemar membaca dan menyongsong kemajuan bangsa dalam persaingan global yang semakin tinggi, kurikulum direvisi agar lebih efisien dan merata di seluruh negeri, anggaran pendidikan dinaikkan, fasilitas penunjang kegiatan belajar terus dipenuhi, dan pendidikan berkarakter yang diharapkan menghasilkan peserta didik yang unggul, berdaya saing, dan memiliki karakter bangsa. Namun, dalam cerita "Laki-Laki yang Dipenjara karena Membaca Buku" berupaya mempertanyakan kontruksi pemikiran pembaca tentang realitas tersebut. Jika membaca adalah jendela dunia dan pemerintah mencoba mengembangkan itu, lantas mengapa buku-buku yang dibaca harus dibatasi? Bukankah, hal itu mencederai metode berpikir yang koheren. 


Pada cerpen "Tidak Ada Buku Malam Ini", saya semakin mempertanyakan kebenaran  dan pemahaman yang saya pegang mati-matian. Barangkali saya sama seperti orang-orang kampung yang diceritakan dalam "Tidak Ada Buku Malam Ini", yang menganggap pendidikan sebagai jembatan mencapai kesuksesan--kekayaan dan kedudukan yang meningkatkan mobilitas sosial saya. 


“Sebab nanti apa kata tetangga dan apa kata teman-teman? Apa kata mereka? Seorang sarjana menikah dengan pesta yang tidak Instagramable."


Penggalan percakapan yang dikemas dengan bahasa ironi, membuat hati saya tercabik-cabik. Ilmu pengetahuan sebagai manifestasi dari pendidikan tersingkirkan dengan akibat laten-latennya sendiri. 


“Sebab engkau sudah putus asa dan mulai berpikir bahwa Tuhan menciptakan istri dan mertua di muka bumi ini hanya menyukai pegawai negeri sipil bukan penulis”. 


Penggalan di akhir cerita "Tidak Ada Buku Malam Ini" mencoba menekankan dampak dari kegagalan berpikir yang membudaya. Konsekuensinya tegas mengubah pola pikir, pola perilaku, bahkan makna hidup manusia itu sendiri. 


Dalam buku ini terdapat lima belas judul cerita. Semuanya memiliki keterikatan kuat dan napas yang selaras. Konsistensi dalam mengontruksi fenomena-fenomena dari sudut pandang alternatif yang disajikan laiknya terus dibudayakan. Waktu yang terus berputar, kehidupan yang semakin berkembang tentu harus dibarengi dengan kesanggupan bernalar.

 

Secara keseluruhan, buku ini cocok untuk kaum milenial yang tengah dicemplungkan ke dalam arena pertarungan, kebimbangan, persaingan yang bebas. Tidak hanya tutur yang sederhana dan mudah dicerna, tetapi juga ada alternatif pandangan yang coba ditawarkan dalam setiap paragraf ceritanya. 


Tabik. 





***


Biodata Penulis 

Ma’rifat Bayhaki, pengurus Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa (#Komentar).