Kamis, 23 September 2021

Dakwah | Adab Bermasyarakat

 Oleh Fathullah Wajdi




Kehidupan bermasyarakat yang berdasarkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. tentunya akan menghadirkan kehidupan yang saling menenteramkan, menyamankan, dan membahagiakan. Intensitas pertemuan yang baik dalam hubungan yang harmonis akan terjalin indah. Sesama anggota masyarakat saling memahami karakter satu sama lain, saling mengerti kelemahan dan kelebihan, selanjutnya saling menguatkan dalam tatanan Islam.



Kehidupan yang baik tidak selamanya berjalan dengan baik. Terkadang ujian datang dan menimpa atas keajegan orang-orang yang hidup dalam tatanan masyarakat Islam itu. Yang saat ini sedang dialami adalah perubahan kehidupan masyarakat yang begitu cepat dan drastis setelah pandemi mengacaubalaukan aktivitas sosial masyarakat yang sudah teratur sedemikian rupa. 


Pertemuan yang biasa terjadi dipisahkan dengan jaga jarak. Silaturahim menjadi momok yang menakutkan, takut kepada wabah, takut kepada petugas keamanan. Belum lagi, rasa curiga yang semakin menjadi akibat gencarnya provokasi dan berita-berita hoaks. Sedemikian mudah tatanan kehidupan bermasyarakat yang dibentuk beratus tahun berubah sedemikian rupa.


Dalam menyikapi pandemi yang terjadi dalam lingkungan masyarakat, seorang Muslim harus cerdas iman dan pikirnya. Seorang muslim harus memahami betul pola yang terjadi dan mengembalikan semuanya pada ketentuan Allah Swt. sambil terus berikhtiar dengan hidup sehat jasmani, rohani, dan sosial. Seorang muslim harus benar-benar memahami adab-adab kehidupan bermasyarakat dalam situasi yang “panas” saat ini. 


Di dalam Al-Qur’an, banyak ayat yang menguraikan tentang adab kehidupan bermasyarakat. Dalam artikel ini akan dibahas sebagian di antaranya.


Adab pertama, menolak kejahatan dengan cara yang baik. Tuntunan adab ini tertuang dalam Al-Qur’an surat Fussilat ayat 34.



وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ



"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia."


Dalam Tafsir Mukhtasyar, diuraikan penjelasan ayat ini. 


Tidak sama melakukan berbagai kebaikan dan ketaatan yang diridai oleh Allah dengan melakukan berbagai keburukan dan kemaksiatan yang dimurkai-Nya. Balaslah tindakan buruk orang-orang yang berlaku buruk kepadamu dengan cara yang lebih baik, maka orang yang sebelumnya memiliki permusuhan denganmu, jika kamu menolak tindakan buruknya dengan kebaikan, menjadi seolah-olah teman yang dekat.


Inti dari tuntunan adab bermasyarakat dalam ayat ini yaitu membalas kejahatan dengan kebaikan. Adab ini tentu sangat berat bagi sebagain besar orang yang tidak memahami maksud dari tuntunan ini. Adab ini setidaknya mengajarkan beberapa hal di antaranya sikap sabar dan meneguhkan perasaan serta menjauhkan dendam. 


Rasulullah Saw. telah mengajarkan adab ini dengan contoh dan teladan yang sangat mulia. Kemuliaan adab ini meluluhkan hati banyak musuh yang dengan kedengkiannya bermaksud berbuat kejahatan dan permusuhan. Adab yang dicontohkan Rasulullah ini memiliki nilai luhur dan tujuan jangka panjang yang sempat tidak terpikirkan banyak orang, yakni tujuan mengajak meninggalkan kekufuran dan beralih pada keimanan.


Adab kedua adalah membalas penghormatan. Tuntunan adab ini termaktub dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 86 sebagai berikut.



وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا۟ بِأَحْسَنَ مِنْهَآ أَوْ رُدُّوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَسِيبًا



"Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu."


Kata tahiyyah ‘menghormati atau penghormatan’. Tahiyyah terbentuk dari kata hayya. Dan akar kata hayya adalah hayat yang artinya ‘kehidupan’. Orang Arab sebelum Islam menyapa temannya hayyakallah, artinya ‘mudah-mudahan Allah memberimu keselamatan’. Kata ini mengandung doa sehingga setiap penghormatan dianggap doa, karena tahiyyah bisa menjadi sebab kehidupan baik di dunia dan akhirat.


Alangkah indahnya kehidupan jika satu manusia dengan manusia lainnya dapat saling menghormati dan mendoakan satu sama lain. Doa atas kehidupan yang sedang dijalani dengan hati yang tulus senantiasa diartikan sebagai sebuah penghormatan. Adab yang diajarkan dalam ayat ini tidak hanya sekadar saling mendoakan dan memberikan penghormatan, tetapi juga membalas penghormatan dengan penghormatan dan doa yang lebih baik.


Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, apabila seorang Muslim mengucapkan salam kepadamu, jawablah dengan balasan yang lebih baik atau balasan yang sepadan. Balasan salam yang lebih disunnahkan, sedangkan balasan yang sepadan diwajibkan.


Begitu kuat Islam menuntun adab kehidupan bermasyarakat sampai pada hal-hal yang sangat detail. Bias dibayangkan jika satu Muslim dengan Muslim lainnya tetap mempertahankan adab mengucapkan atau menyampaikan salam dan doa ketika bertemu dengan muslim lainnya, sudah dikenal maupun belum dikenal. Muslim akan dikenal sebagai manusia penuh kedamaian seperti yang diajarkan dalam Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah.


Salam dan doa kesehatan dan keselamatan sangat dibutuhkan untuk menguatkan satu sama lain dalam masa pandemi ini. Penyakit atau sakit yang terkadang datangnya tidak diprediksi datangnya, membuat manusia semakin waspada. Bentuk kewaspadaan secara ruhiyah adalah saling menenteramkan dengan salam dan doa.


Adab yang ketiga adalah tidak berlaku sombong. Tuntunan adab ini dijelaskan dalam kalamullah surat Al-Furqon ayat 63 berikut.



وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا



"Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan."


Dalam tafsir Thabari dijelaskan maksud ayat ini, “Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati,” yakni berjalan dengan lemah lembut, tenang, tidak sombong, tidak berbuat kerusakan dan berbuat maksiat. Menurut Ibnu Abbas, berjalan tawaddu’ dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “salam”, yakni apabila ia bertemu dengan orang-orang bodoh terhadap Allah dan mereka mengucapkan kata-kata yang tidak disukai, mereka menjawab dengan kata-kata yang baik.


“Berjalan” dalam ayat ini dapat diartikan sebagai dalam ‘menjalankan aktivitas selama hidup di muka bumi. Aktivitas manusia di muka bumi sejatinya harus mengikuti ketentuan Allah Yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur. Ketika manusia melalaikan ketentuan ini dengan berbuat segala sesuatu dengan mengikuti hawa nafsunya, berbuat dusta, berbuat kerusakan, dan berbuat kemaksiatan, manusia ini dikatakan sombong kepada Allah. Manusia seperti ini telah melupakan Allah yang telah menciptakannya. Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan seperti ini menunjukkan perilaku yang buruk dan tidak beradab.


Selanjutnya, seorang muslim yang beradab akan menjawab sapaan orang-orang bodoh (yang menyapa dengan menghina) dengan lemah lembut dan salam. Adab ini dilakukan dengan harapan dapat meruntuhkan kesombongan dan kebodohan mereka. Hati yang tersentuh dengan contoh dan teladan atas hidayah dan kehendak Allah akan berubah menjadi jiwa-jiwa yang diridoi.


Adab yang keempat adalah larangan mengolok-olok, mencela, berprasangka. Adab ini terdapat dalam Al-Quran surat Al-Hujurat ayat 11-12.



يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ



Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.



يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ



Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.


Rasulullah saw. besabda:


“Dari Abu Jubair Adl-Dlahhak, bahwa seorang laki-laki mempunyai dua atau tiga nama. Orang itu sering dipanggil dengan nama tertentu yang tidak ia senangi. Ayat ini (ayat 11) turun sebagai larangan menggelari orang dengan nama-nama yang tidak menyenangkan." (HR Abu Dawud).


Dalam Tafsir Ibnu Katsir diuraikan maksud surat ke-12, yaitu “Allah telah menagaskan tentang larangan terhadap hamba-hamba-Nya untuk berburuk sangka. Yaitu memberikan tuduhan-tuduhan yang tidak benar kepada saudara ataupun orang lain, dan perbuatan ini dosa hukumnya. Maka hendaknya kita menghindarinya sebagai tindakan antisipasi dan penjagaan dan kami telah meriwayatkan dari Amirul mukminin Umar bin Khattab Ra. bahwasanya beliau telah berkata: janganlah kamu berprasangka buruk terhadap ucapan yang keluar dari mulut saudara seagamamu, apalagi ucapan yang keluar itu baik.”


Empat adab dari ayat Al-Qur'an dalam artikel ini hanyalah sebagian dari begitu banyak ajaran adab yang Allah bimbingkan kepada umat manusia. Semoga akan ada lagi pembahasan-pembahasan tentang adab yang lain. Jika adab-adab ini dilaksanakan dan dipatuhi dengan penuh keimanan, niscaya kehidupan Muslim dan seluruh manusia akan damai, nyaman, dan tentram. 


Wallahu a’lam.




___

Penulis

Fathullah Wajdi, Dir. Pendidikan Ponpes Darussalam Pipitan.