Friday, December 24, 2021

Puisi Alda Merini | Hadirnya Orpheus | Sunyikah Aku | Hanya Tangan Malaikat | Maria si Mesir | Damai

Puisi Alda Merini (Terjemahan Eka Ugi Sutikno)





Hadirnya Orpheus

untuk Giorgio Manganelli


Aku tidak akan menyiapkan pernyataanku padamu

dalam ikatan tak berjarak,

tapi andai tanganmu, menyentuhku,

mungkin akan mengalamatkan pada kenangan,

aku akan berbaring, melebur

bersama ketiadaan bentuk, luluh dalam kegelapan,

sejauh yang aku bisa, sekresi penuh energi,

menjadi kacau kembali...


Orpheus, sahabat anyar dari keberadaan,

jauh dari kecapimu, tapi kali ini kau akan menada

rupa fajarku.

di ambang pintu, kau akan melembut, menenung

rahasia keheningan,

tidak sadar akan batasanku dari masa lalu,

kau akan melompat pada kebahagiaan, menggenggam esensi sunyi.


Lalu, menguatkan diri dahulu 

isyarat keberadaan,

aku akan menjadi bentangan bunga persetujuan

lalu, mencari titik hubungan,

aku akan membiarkan nurani pemalu

dari kehidupan binatang

dan aku akan berkata pada diri bahwa aku tidak akan mencoba

selama kau membentukku,

yang tak bisa ditentukan dan kearifan hakiki,

sampai kepada permainan harmoni yang tak terduga

segala cara mengacu kepada kesimpulan yang genit.

Gadis: apakah ini intinya?

Bukankah aku pernah menggapainya,

lalu bukankah aku yang menghancurkannya,

kecewa, dilukai oleh keinginan diri?

Apa yang dimaksudkan oleh si gadis

berlainan dengan penanggulangan dari kesadaran?

Tepatnya adalah apa yang tidak aku inginkan bagi diriku sendiri:

menuntunku, mengabaikan segala rupaku,

pada klimaks ketakabadian...

Tapi kehadiran dari setiap penampilanku

betapa kegentingan tumbuh menyeru,

betapa lekasnya tawaran

dan solusi bergegas pada rahasia!


Lalu ketika, dari sentuhanku yang sama,

bentuk menyelat ke dalam waktu yang berbeda

yang tak sesering mungkin dan akhir yang tak biasa,

ketika, seluruh gelora “perasaan”-ku,

hanya sebuah pelengkap pada sisa derita,

lalu, ketika aku lebih suka akan kematian,

terpaku bahwa milik berada di diriku.


Tapi seseorang dapat melanjutkan kehidupan

tangan yang menggenggam dan mengemban suluh

dan seseorang dapat dengan bebas memberi

pada ketenangan yang terlupa sangat

ketika berbagai komplotan dari kami

melarut dan kembali meretrif,

ketika sumpah imanen

melingkupi kita bersama kehadiran absolut.


Kemudian, dalam wujud kedua lenganmu

aku menuang diri, kecil dan besar sekali,

memberi ketenteraman, memberi keresahan,

berkembang laju pada ketidakberakhiran.



Sunyikah Aku?


Ketika, dalam diri, gelora keintiman terbangun

yang bersumber dari segala badai ini

dan aku kokoh, luput, hidup,

lalu akankah aku sepi?


Dan mungkin aku akan tercerabut dari akar

harapan penangguhanku untuk cinta,

aku akan ingat bahwa buah dari setiap

tepi manusia adalah memori ketiadaan,

yang menerjunkanku pada kehadiran...


Tapi aku sampai menggigil dari sentuhan

tanganmu, sedari pembayatanku sehari yang lalu,

setiap tanda kehidupan yang menekanku

keadaan tanpa bentuk dalam ukuran pastimu.



Hanya Tangan Malaikat


Hanya tangan malaikat

yang tak tercela dengan sendiri, pada cintanya dengan sendiri,

mampu

menawariku pada lekukan dari telapaknya

membalikkan getirku padanya.

Tangan dari makhluk hidup

sangatlah kusut dalam benang hari ini maupun hari-hari lalu,

disesaki kehidupan dan plasma kehidupan yang bernyawa!

Tangan seseorang tidak akan bersih dengan sendiri

bagi saudaranya yang mereda pekik

kemudian, hanya tangan malaikat

yang jauh dari akar, yang mengandung kekekalan dan ketakterhinggan

dengan tenang mengayak pengakuan seseorang

tanpa menggetarkan telapak tanda kerasnya penolakan.



Maria si Mesir 

(Tintoretto)


Pada ketaatan paras beningnya

mengilapkan ritmik fajar

persepsi liar,

malam berduka

hutan kesunyian

dilingkupi kuasa

gaduhnya waktu adalah kehati-hatian

digigilkan cahaya yang lekas tiba

adalah takdir dari raut resah.


Takjubnya bahasa yang berlari

dari jernihnya air menuju gegar

daya dari bengisnya nubuat!


.........


Kini dalam telapak si pertapa yang terbuka

diliputi cercah yang berkerumun

dari embun di atas tangkai-tangkai yang bersinar

mengesankan perpisahan, menggerak selamat tinggal.



Damai


Sejak maut mengambil alih kita

yang tak terjamah menit seperti roti

bahwa pencinta tidak tersengat olehnya begitu juga perempuan

pada tawaran puncak.

Di mana kehidupan, meluap dengan sendirinya,

memisahkan kita dari tubuh antara kawanan Gembala

yang terbuat dari cahaya,

maut terlahir karenamu. Mengempaskan segala derita

masa penghabisan dan hanya terlahir

bahwa mungkin saja sempat beralih dari rahim...

Meski begitu, jauhlah kita dari hasrat

yang meluap seketika

datang berjuang ke dalam hari-hari gelita

meski jika ia tercelup ke dalam kesempurnaan

dari esensi sejati

segeralah kita akan tumbang, dihancurkan oleh cahaya.

Pohon bukanlah pohon dan bunga

tidak memutuskan dirinya untuk menjadi cantik

ketika jiwa iblis mengharap kuasa.

Tapi hari kematian

ketika pencinta, pengendara kereta tempur yang suram,

membiarkan tali kekang,

ya, babak suci

akan terhampar dengan sendirinya dalam kuasa kerajaan.

Dan makna akan tersingkap,

dan segalanya berada pembaringan,

ketika semua yang tumbang akan bernapas waktu,

napas sempurna.

Kini hanya hasrat cabul

yang dapat mengambil segalanya, tapi esok

ketika maut masih gagah...



____

Penulis

Alda Merini (1931-2009) dikenal sebagai penulis dan penyair perempuan Itali yang pernah dinominasi mendapatkan penghargaan hadiah nobel selama dua kali. Puisi di atas dialihbahasakan dari bahasa Itali ke bahasa Inggris oleh Susan Stewart dari buku Love Lesson: Selected Poems of Alda Merini (2009).


Penerjemah (Inggris-Indonesia)

Eka Ugi Sutikno yang giat di Kubah Budaya dan mengajar di Universitas Muhammadiyah Tangerang. Selain itu ia menyibukkan diri di Kabe Gulbleg.





Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com