Kamis, 23 Desember 2021

Esai Ma'rifat Bayhaki | Tersesat Menjadi Penulis

 Esai Ma'rifat Bayhaki



John Locke dengan teori Tabula Rasa-nya berupaya memberi tahu kita—pembaca, jika manusia terlahir tanpa isi mental atau kosong, serupa kertas putih yang apabila dicoret huruf A maka jadilah A, atau jika digambar burung maka jadilah burung, adapun pengisi kekosongan atau yang mencorat-coret kehidupan manusia ialah pengalaman tubuh yang diproses menjadi data-data di pikiran, kemudian menjadi paradigma berpikir.


Lantas, apakah penjelajahan hidup saya selama ini sudah benar dan memadai? Atau barangkali saya tersesat, yang seharusnya sedang bertani, berdagang di pasar, atau jadi tukang pangkas rambut. Entahlah. Akhir-akhir ini saya mengira-ngira jika jalur penjelajahan hidup saya ini tertukar dengan orang lain, entah itu pemuda suku terasing, bajak laut, penjaga empang, juru parkir, atau pemulung yang saban sore diburu untuk diberi nasi kotak kemudian diabadikan di medsos si pemberi.


Tersesatkah saya bergabung dengan #Komentar (Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa) yang dikawal oleh Encep Abdullah. Kehidupan saya pasca-bergabung dengan #Komentar sibuk berkutat membaca buku, berpikir, berimajinasi, dan menulis dalam bentuk puisi, cerpen, esai, yang saya sendiri belum tahu pasti manfaat untuk hidup saya apa di masa kini maupun di masa yang akan datang. Saban minggu, setiap kali saya ke markas #Komentar. Encep Abdullah coba untuk menawarkan ruang kehidupan sebagai penulis. Ia mengiming-imingi ini dan itu, karya-karya kami bisa mejeng di media massa ini dan itu. Entahlah, yang pasti perjumpaan itu mengaktifkan harapan-harapan yang berakibat pada cucian yang menggunung, motor telat ganti oli, tertidur saat kuliah, dan “kekacauan” lainnya. Jika hidup saya ini benar-benar tersesat, Kang Miftaf adalah orang yang harus bertanggung jawab. Sebab, ia yang mengarahkan saya untuk bergabung ke #Komentar. Namun, jika sebaliknya saya ucapkan banyak terima kasih.


“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” (Pramoedya Ananta Toer).


Encep Abdullah sering mengutip perkataan Pram saat mengajari kami, anggota #Komentar, saat mendiskusikan karya. Perlahan saya termotivasi untuk pergi menuju keabadian, dikenang seperti Chairil Anwar, Sutan Takdir Alisjahbana, dan penulis besar lainnya. Tapi, menjadi penulis tidak semudah menyodok upil dari lubang hidung. Butuh perjuangan berdarah-darah dan merampas banyak waktu. Berapa lama bagi saya untuk menyelesaikan membaca satu buku. Belum ditambah waktu untuk memahami betul-betul makna dari rangkaian kata yang tersaji. Itu baru satu buku, sedangkan modal menjadi penulis tidak cukup membaca satu buku. Belum lagi waktu untuk berpikir dan menuangkannya ke dalam tulisan. Semuanya membutuhkan modal waktu, tenaga, pikiran bahkan materi yang menguras kering. Syukur sambil sujud kalau tulisan saya banyak yang baca, suka, dan berpengaruh. Lah, kalau dinilai sebatas curhatan murahan yang baru dibaca baris pertama sudah ditutup. Aduduh, rugi kreativitas masa muda saya kalau begitu, terperosok ke tempat yang sesat. Apakah Encep Abdullah akan bertanggung jawab, saya rasa ia hanya akan tertawa sambil nyeruput es Jasjus rasa anggur. Sedangkan saya, kecerdasan tidak diperoleh, mau terkenang di masyarakat dan sejarah juga bagaimana, wong saban hari nyumpel baca dan nulis di kamar. Apalagi menuju keabadian, kosong melongpong.


Dua tahun lalu saya bersua dengan salah satu rekan yang sempat sekelas saat masih di bangku SMA, sebut saja Bandos. Ia menyesal tidak mengindahkan pesan guru BK, untuk rajin ke sekolah dan menghentikan kebiasaanya membolos. Ia merasa salah memilih jalan hidup lantaran terbawa suasana remaja untuk tangkrang-tongkrong di warung—membolos yang mengakibatkan tidak naik kelas dan berujung pada kelulusan prematur/berhenti. Penyesalan itu baru terlontar saat teman-teman seangkatannya lulus dan banyak di antaranya yang melanjutkan menjadi mahasiswa berpenampilan kekinian, pegawai pabrik berupah besar, tentara, dan polisi. Sedangkan ia tak lebih dari pedagang ayam goreng di pasar malam.


Kemarin malam tidak disengaja saya bertemu Bandos di mini market. Saya perhatikan penampilannya begitu nyentrik. Belanjaanya cukup banyak. Kami pun berbincang sejenak. Ia bertutur kalau ia tidak menyesal berhenti sekolah. Malah ia menyesal telah bersekolah.


“Seandainya sejak awal saya tidak sekolah, mungkin saya akan sukses lebih cepat,” tuturnya.


Ternyata si Bandos sejak dua tahun tidak bersua, ia merintis usaha ayam gorengnya sampai besar dan memiliki banyak pelanggan. Sepertinya saya menemukan representasi dari perkataan Heraclitus: “Tidak ada yang luput dari perubahan kecuali perubahan itu sendiri, tidak ada yang tetap, diam, semuanya bergerak mengalir dan berubah atau mati”.


Perubahan ternyata bukan sekadar tentang perubahan fisik, melainkan lebih dari itu, pemikiran atau bahkan perasaan. Buktinya hari ini saya ragu dengan pekerjaan kepenulisan yang saya tekuni adalah jalan yang "lurus".


Peran harapan sangat sentral bagi manusia amatiran seperti saya ini. Harapan seakan menjadi juru taktik setiap tindak-tanduk kehidupan. Harapan pula yang memunculkan anggapan benar dan salah di kepala saya tentang keidealan hidup. Dulu saya berharap menjadi sarjana agar bisa bekerja di kantor berseragam rapi dan berangkat kerja mengendarai mobil. Saya pun sibuk tiap pagi berangkat ke sekolah, mengerjakan soal LKS, ikut upacara, pramuka, dan lomba-lomba. Kemudian, saat bergabung di #Komentar harapan saya bergeser ingin jadi sastrawan besar yang diundang pada seminar-seminar komunitas, kampus, maupun lembaga negara, yang isi amplopnya lumayan buat beli bubur kacang hijau.


Ajakan dan iming-iming serupa mata parang yang menabas-tebas batang tujuan kehidupan yang telah ditanam. Ajakan dan iming-iming kemudian menanam kembali tujuan hidup yang baru. Sampai kapan tujuan hidup saya ini tertebas saat sedang tumbuh, dan mengulangi menanam sedari biji. Hingga waktu saya habis di bumi, mungkin.


Seperti yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer: “Saya sudah belajar mematikan harapan, tidak mengharapkan apa pun. Kalau mengharap, ingin menyaksikan akhirnya semuanya”. Barangkali harapan bisa menjadi napas dalam kesesakan hidup. Tetapi bisa pula menjadi racun yang mematikan napas itu sendiri. Sepertinya harapan penting untuk dikelola dan diukur kesesuaiannya dengan diri kita. Jangan-jangan apa yang kita harapkan, ternyata bertolak belakang dengan potensi di dalam diri, hingga akhirnya terperosok pada keruntuhan.


Saya ingat saat saya masih menjadi mahasiswa baru, ajakan masuk organisasi begitu masif dengan iming-iming relasi, ilmu, dan lain sebagainnya. Sempat saya hampir masuk, tanpa menimbang keterkaitannya dengan potensi dan jalan hidup yang sedang saya tempuh. Meski hidup berubah-ubah kiranya penting untuk menilai dan mengetahui ke mana muara jalur penjelajahan yang kita jalani.


Max Havelaar tenar sebagai tokoh humanisme di Indonesia lantaran tindak-tanduk dan tulisannya yang monumental “Andai aku seorang Belanda”. Humanisme, secara sederhana diartikan memanusiakan manusia, memandang manusia sebagai makhluk yang beradab, bermartabat.


Saya jadi teringat guru ngaji saya di kampung. Beliau tidak mengiming-imingi apa pun agar saya mau serius dan rajin mengeja ayat-ayat suci. Beliau tidak pernah memberi harapan kalau bisa ngaji bisa jadi ustaz, kiai, masuk surga, dan sebagainya. Ia hanya fokus mengajarkan cara membaca huruf yang baik dan benar sesuai tajwid, kemudian mengajak ke tempat yasinan, pengajian. Seperti yang dituturkan Ernest Hemingway: “Show, don’t tell”. Pengajaran secara showing yang dilakukan guru ngaji saya telah memberikan Pengalaman dan kesadaran untuk saya menentukan pilihan hidup saya ideal.

Tabik.


____

Penulis

Ma’rifat Bayhaki, penulis yang doyan makan intip goreng.







Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com