Senin, 28 November 2022

Karya Siswa | Bintang dari Angkasa | Cerpen Kezia Talita Kanne

Cerpen Kezia Talita Kanne



Aku membuka mata, menyambut datangnya hari baru. Hari ini sangat tenang. Atau bisa dibilang sunyi. Sesunyi perasaanku yang kini sudah bukan aku. Aku merasa diri ini bukanlah aku lagi. Kini aku adalah Sultan dari Kesultanan Angkasa.


Atau dikenal rakyat sebagai Sultan Lingkaran. Mereka menganggapku sebagai orang yang sempurna dan ideal tanpa noda. Walau jauh dalam diriku, aku hanyalah seorang manusia biasa. Namun biarlah mereka beranggapan demikian.


Cahaya matahari menyeludup masuk melalui celah jendela kamarku. Cahayanya hangat dan lembut seperti pelukan ibu. Perasaan yang timbul setiap aku merasakan hangatnya matahari, membuatku menangis dalam hati layaknya bocah cengeng yang lemah. Aku membencimu, Bu.


Namun, di antara semua itu aku lebih mementingkan ekspresi wajahku di hadapan rakyat dan orang-orang di sekitarku. Aku harus terlihat sangat dan berkuasa. Tak boleh banyak berekspresi pokoknya! Jujur aku tak tahan jika harus terus begini. Rasanya alis cokelat indahku tertarik, saraf mata biruku menegang, dan ini membuatku tampak lebih tua. Tapi inilah aku, aku Sultan Salendro Angkasa.


***


“Walau aku benci cahaya matahari pagi, tapi aku tidak pernah menolak berendam di air hangat. Walau sama-sama hangat, kehangatan keduanya berbeda bagiku. Entah mengapa, tampaknya aku lebih menyukai hal bersifat sementara ketimbang hal tahan lama,” dalam benakku sembari menikmati hangatnya aliran air bak mandi.


Suasana pagiku hari ini sangat tenang. Setenang dan sesempurna suara pohon di hutan yang tertiup angin. Setidaknya begitulah yang kukira sampai kloninganku yang ceria merusak ketenangan batin ini.


“Kang Mas,” seru adik kembarku sembari berlari merangkul leherku.


“Ada apa Adipati?” ucapku sembari melepaskan rangkulannya yang menurutku lebih mirip cekikan.


“Aku hanya tidak sabar untuk kunjungan dari R.A. dan Sultan Pangestu.” 


“Kau hanya membuat kepalaku kelebihan muatan.”


“Ayolah Kang Mas, santai saja. Ini akan mudah, semuanya sudah kuatur.” 


“Kau memang adik terbaik di seluruh semesta, Adipati Ethes Angkasa.”


“Tentu. Selain adikmu, aku juga akan selalu mengabdi padamu selaku Adipati.” 


Kami berdua tersenyum satu sama lain.


***


“Kang Mas, bagaimana kalau kita mengenakan batik motif sama?” usul Ethes kepadaku.


“Boleh juga, sekali-sekali kita tampak seperti kembar sungguhan. Motif apa yang memanggilmu, Ethes?”


“Motif yang banyak lingkaran itu lucu juga, lumayan berwarna namun tak begitu mencolok.”


“Maaf, Adipati. Apakah motif yang Anda maksud adalah motif sarimanganti?” 


“Iya, yang di pinggirnya terdapat bentuk setengah lingkaran.”


“Baiklah Adipati, mari saya bantu kenakan.”


***


Jam menunjukan pukul 10.45. Seharusnya kereta mereka akan sampai sebentar lagi. Benar saja, suara tapak kaki kuda semakin lama, semakin terdengar jelas. Dari sana turunlah seorang pria paruh baya bertubuh gemuk dan berjanggut mengenakan pakaian mewah. Ya, dia adalah Sultan Pangestu. Dari pintu sebelahnya keluarlah seorang wanita cantik berambut panjang berwarna brunette, mata yang sangat indah bagai biji bunga matahari, dan kulit putih pucat seperti tengkorak.


“Selamat datang Sultan Pangestu dan Raden Ajeng Nilla Pangestu!” sambutku. 


“Terima kasih sudah menyambut kami di sini, Yang Mulia dan Adipati,” ucapnya sembari mengulurkan tangan.


“Suatu kehormatan pula bagi kami atas perkenanan Anda untuk datang kemari,” ucapku sembari menjabat tangannya.


“Mari saya antar kalian berkeliling di taman kami,” ucap Ethes sembari menuntun jalan.


***


“Tanaman kalian sangat terawat dengan baik ya,” ucap Sultan Pangestu tiba-tiba. 


“Terima kasih atas apresiasinya, Yang Mulia. Para pekerja kami sangat telaten dalam merawat tanaman di sini. Sepertinya tahun ini mereka akan naik gaji sebagai apresiasi atas kerja keras mereka ”


“Maaf, Yang Mulia, apakah boleh saya menanyakan rahasia tanaman Anda pada petugas kebun?” tanya Nilla tiba-tiba.


“Tentu, Raden. Kami dengan senang hati akan memberikan bahan yang biasa kami gunakan.”


“Terima kasih, Tuan.”


“Padinya juga tumbuh dengan baik.”


“Bagaimana tanaman kalian dapat tumbuh dengan baik? Di Jepang, tanaman yang tumbuh tidak sesubur ini.”


"Itu karena kondisi alam yang berbeda. Indonesia terletak di garis khatulistiwa. Membuat Indonesia memiiki iklim tropis dan disebut sebagai negara ‘agraris’. Juga dikenal dengan nama ‘zambrut khatulistiwa’," jawab Ethes.


“Omong-omong, kenapa tidak ada orang lain selain kita di sini?”


"Mereka, khususnya umat Muslim, Hindu, dan Khatolik sedang bersiap untuk ibadah jam dua belas siang nanti."


“Aku baru tahu kalau ada agama lain selain Shinto dan Buddha.”


“Itu juga merupakan dampak dari letak Indonesia yang strategis. Dulu saat zama nenek moyang, banyak sekali pedagang luar negeri yang singgah dan menetap di Hindia Belanda. Beberapa di antaranya ada yang mengajarkan ajaran lain di luar Kejawen dan Hindu. Semenjak itu Indonesia memiliki enam agama yang diakui.


“Yang Mulia dan Adipati sangat kaya akan pengetahuan, saya kagum.”


“Kami ikut senang dapat membantu Anda untuk mengenal ‘Ibu Pertiwi’ lebih dalam lagi.”


“Terima kasih, Yang Mulia.”


“Sepertinya, kalian sudah akrab, bagaimana jika salah itu dari kalian saya jodohkan dengan Nilla? Kau mau kan Nak?”


“Kehendak Ayah, hamba terima.”


“Bagaimana Tuan-Tuan? Apakah kalian berkenan?”


“Saya perkenankan Ethes untuk menikah dengan Raden,” ucapku tiba-tiba. 


"Tapi Kak ..."


“Baiklah, mari kita bicarakan ini saat makan malam. Untuk sekarang Ethes akan mengantar kalian ke kamar tamu.”


“Kami permisi, Tuan.”


***


Aku terdiam membiarkan pikiranku bergerak dengan bebas. Kini pikiranku daripada benang. Aku memikirkan jawaban yang akan kulontarkan pada Adipati. Aku tahu dia pasti akan bertanya kenapa aku menyuruhnya. Dari dalam paviliun, aku menatap ‘ibuku’ yang perlahan meredup.


“Bu, bagaimana caraku menyampaikan pada ‘bayanganku’mengenai penyakitku? Aku hanya ingin membuatnya risau. Aku hanya ingin dia bahagia,” ucapku sembari menitikkan air mata sembari melihat ke arah ‘ibu’. 


Pikiranku semakin liar seliar harimau di hutan. Hingga aku tersesat dalam hutan pikiranku sendiri. Benar saja, beberapa waktu kemudian Ethes datang dengan raut kesal. Alisnya naik diiringi dengan dahinya yang mengerut.

 

“Kang Mas, kenapa kau menjodohkanku dengannya? Aku ini adipatimu yang harus selalu di sisimu. Aku ini bayanganmu Kang Mas!” ucapnya dengan nada meninggi.


“Justru itu aku menjodohkan kamu dengannya. Aku perintahkan kau Adipati Ethes Angkasa untuk menjaga dan mencintai Raden Nilla sama seperti pengabdianmu pada kerajaan ini.”


“Baik, Kang Mas. Hamba akan menyanggupinya.”


“Juga, berjanjikah kau akan memajukan kerajaan ini jika tiba saatnya aku tenggelam.”


“Apa maksud dari perkataan Kang Mas?” 


“Nanti kau akan tahu. Berjanjilah padaku.” 


“Baiklah Kang Mas, saya berjanji.”


Matahari tenggelam, bulan bergulir. Tak terasa hari pernikahan Ethes dan Nilla semakin dekat. Dengan waktu yang tersisa, kami menghabiskan tawa dan air mata bersama. Terkadang dalam sela pembicaraan, aku memberikan wejangan sebagai penuntun pikirannya.


“Ingatlah selalu wejanganku, Ethes.” 


"Nggih Kang Mas, saya berjanji."


***


Dari dalam tempat peristirahatanku, aku menatap cahaya bulan yang terpantul di cermin. Di tengah ramainya kota, bulan tetap bersinar dengan sunyi nan tenang. Sembari bersandar di jendela, aku kembali tenggelam dalam lautan pikiranku.


“Bisakah aku tetap hidup sampai bibit baru kerajaan ini lahir?” 


“Aku ingin melihatnya bahagia.”


“Besok, aku harus melepasnya di altar. Semoga aku masih dapat menikmati kengahatan ‘ibu’ agar dapat melihat senyumannya,” ungkapku pada sang rembulan.


***


‘Ibu’ datang lagi. Dengan cahayanya yang seakan lebih terang dan hangat. Hari ini kerajaan lebih terasa hidup. Namun dengan ketenangan yang sama, semua orang tersenyum menyaksikan pernikahan Ethes dan Nilla. Cincin ditukar, janji diucap. Pernikahan mereka berjalan lancar. Kini Raden Ajeng Nilla Pangestu telah resmi menjadi Raden Ayu Nilla Pangestu Angkasa. Aku tersenyum melihat ‘bayanganku’ tersenyum. Mereka semua tersenyum. Kini kerajaan ini sudah membaik. Aku bersyukur dapat membawa cahaya kembali di kesultanan ini. Inikah saat yang tepat untuk menyerahkan kesultanan ini pada Ethes?


“Kang Mas, mari makan,” ucap Ethes, membuyarkan lamunanku. “Kang Mas, kemarilah. Aku sudah membuatkan Rebeg kesukaanmu.”

 

“Iya, aku ke sana.”


“Bagaimana rasanya, Kang Mas?”


“Rasa gurih kuahnya alami walau tanpa santan. Lezat sekali! Perpaduan kuah dan rempahnya terserap sampai ke seluk beluk daging sapi ini.”


“Terima kasih atas pujiannya, Kang Mas.”


Kami semua tertawa sembari menikmati prasmanan. Aku sungguh bahagia hari ini.


***


Petang menjelang. Kini suasana kembali sepi. Hanya pikiranku yang ramai. Hari ini sebenarnya melelahkan, namun menyenangkan. Di hari bahagia ini, aku ingin tenggelam dengan matahari. Aku tak kuat jika harus selalu terbit. Perlahan raga ini melayu, pandangan ini mulai meredup. Begitu tenang dan sunyi. Aku tenggelam dengan matahari dan menerbitkan Ethes sebagai matahari baru bagi Kesultanan Angkasa. Setiap pagi aku selalu tersenyum padanya di depan cermin. Menjaganya dalam bayangan dan menyinari tidur lelapnya setiap malam.


“Kuserahkan kesultanan ini padamu, Ethes Angkasa. Bawalah kesultanan ini setinggi angkasa,” ucapku yang kini tinggal bersama ibu dan ayah di angkasa baru. Akulah bintang dari Angkasa.


________


Penulis


Kezia Talita Kanne, lahir di Serang, 27 September 2008. Siswa SMP Mardi Yuana Serang. Ia tinggal di TCP Blok M7/51.


Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com