Tuesday, December 27, 2022

Proses Kreatif | Tiga Tahun Terakhir Penulis (?)

Oleh Encep Abdullah



Sejak November 2022 saya sibuk mengakrabi sebuah kegiatan program pendidikan profesi. Di sana saya wajib mengikuti berbagai aktivitas Vcon dan segala tugasnya. Di akhir program itu, nanti wajib menyertakan beberapa lampiran portofolio. Salah satunya adalah karya tulis. Portofolio yang berlaku untuk dilampirkan adalah karya tiga tahun terakhir. 


Saya tidak kaget. Aturan semacam itu sering menjadi syarat beberapa program kementerian, salah satunya yang pernah saya ikuti penghargaan sastra dari Kantor/Balai Bahasa dan Badan Bahasa. Di Kantor Bahasa Banten, saya pernah mengikuti itu, dan saya dikalahkan oleh Nana Sastrawan, eh atau Rahmat Heldy ya, saya lupa. Tidak lama dari itu, ada sastrawan, kurator sastra, meminta saya untuk mengirimkan karya yang pernah saya tulis tiga tahun terakhir, saya kirim buku cerpen saya yang berjudul Nyamnyong. Di kelas provinsi saja saya kalah, apalagi kelas nasional. Haha ....


Dalam program pendidikan profesi ini, tentu saya tidak terlalu pusing karena ada beberapa stok karya tulis atau artikel yang pernah dimuat di media, juga yang dibukukan ber-ISBN. Nah, salah satu hal yang "membagongkan" dalam aturan ini adalah ISBN.  Di tengah kesulitan mendapatkan ISBN saat ini, masihkah ISBN menjadi tolok ukur poin sebuah buku. Buku yang ber-ISBN, khususnya karya seni kompleks seperti karya sastra mendapat 4 poin (untuk 2 novel, atau 10 cerpen, atau 40 puisi)--aturan lainnya bisa Anda cari dan baca sendiri. Saya baru ngeh dengan urusan ISBN ini, terutama bagi mereka yang ngotot sekali bukunya pengin ber-ISBN. Ini toh biangnya. 


Saat ini, dan ke depan, sepertinya para pemburu sertifikasi ini akan merasa kesulitan untuk mendapatkan ISBN. Maksud saya, untuk menerbitkan sebuah buku karya sastra ber-ISBN, terutama penerbit yang "unyu-unyu", sangat berat. Jangankan buku antologi, buku tunggal saja perlu kesabaran untuk mendapatkannya. Lain halnya mereka, para penerbit besar/mayor atau penerbit tertentu yang bisa menarget oplah cetak yang besar, akan mudah mendapatkan itu. Pertanyaan saya, apakah buku sastra tanpa ISBN, misal kita gunakan yang sedang ramai saat ini, QRCBN, akan sama poinnya dengan ISBN? Saya kira itu persoalan yang belum dibahas karena tergolong persoalan baru. 


Kembali kepada persoalan tiga tahun terakhir itu. Tiga tahun terakhir saya, kalau dihitung dari program yang saya lalui, terhitung per November: 2019—2020, 2020—2021, 2021—2022. Sebagiannya adalah tahun Korona yang saat itu saya sibuk nge-YouTube ketimbang menulis. Saya lihat karya-karya saya yang dimuat di media, tipis sekali, bahkan tidak produktif. Namun, saya kembali produktif saat saya menulis untuk kolom NGEWIYAK pada Agustus 2021 s.d. sekarang, bahkan sudah siap buku ke-2 yang terlahir dari kolom mingguan itu. Tapi, bagi saya itu bukan capaian seperti yang dulu saya lakukan, menulis di media kompetitif, bukan media yang dipimpin oleh komunitas saya. Mungkin bagi Anda itu sebuah pencapaian, tapi bagi saya bukan. Itu bukan sebuah "perjuangan", melainkan ya sebagai ruang hiburan dan ngecaprak saya, seperti yang Anda baca saat ini. Nah, apakah karya-karya macam ini, di web komunitas sendiri, bisa termasuk portofolio? Saya tidak tahu. Saya tidak berharap banyak dari tulisan-tulisan di NGEWIYAK ini. Namun, meskipun selama Korona itu saya tidak terlalu aktif menulis, saya produktif bikin video, tapi bukan video pembelajaran ala-ala orang yang ngasih teori di YouTube layaknya guru-guru. Saya lebih ke arah memindahkan ide kreatif dari karya yang sudah saya tulis ke dalam bentuk video, juga konten-konten aneh lainnya--saya tidak mau menonjolkan diri sebagai guru, entah kenapa.


Setelah saya melihat salah satu syarat portofolio itu, ternyata boleh juga menyertakan beberapa video berupa karya lagu yang sudah direkam secara profesional atau yang sudah dipublikasikan. Juga video film dsb. Sayangnya saya tidak punya rekaman lagu karya saya yang saya rekam secara profesional. Juga video film pendek, tapi durasinya kurang panjang. Ah, memang kerja kebudayaan yang nanggung. Entah apakah bisa saya sertakan video-video aneh itu. 


Oh, iya, saya kembali ke masalah publikasi ke koran lagi. Dulu, saya pernah mendengar perkataan dari seorang kawan di tempat bimbel bahwa karya-karya saya yang dimuat di media sangat berguna buat saya kelak di masa mendatang untuk portofolio kesejehteraan hidup. Kata-kata itu muncul sekitar 8-9 tahun lalu. Dulu, saya tak tahu dan tak pernah peduli dengan urusan macam sekarang yang sedang saya geluti ini. Kalau posisi saat ini ada pada saya tahun-tahun itu, mungkin itu masa keemasan saya dalam berkarya. Saat ini, saat semuanya terjadi, ya saya sudah menjadi "manusia bijak", tentu hanya melampirkan apa adanya. Tidak mau dibuat-buat. Mungkin untuk beberapa hal mendesak bisa diakali.


Sejauh ini, saya menulis memang bukan untuk itu. Artinya menulis ya menulis saja sebagai bentuk bahwa saya ini manusia, bukan binatang. Untuk masalah lampiran portofolio macam itu, anggap saja bahwa apa yang saya kerjakan adalah sesuatu yang memang kerjaan saya. Menulis bagi saya bukan perkara yang sia-sia. Beberapa kali saya merasa apa yang saya tulis itu berguna, minimal buat diri saya. Salah satunya kemarin, buku saya yang saya cetak dan tidak diniatkan untuk laku, diminta oleh pihak Perpusda Banten untuk dibedah di sana. Tentu saja dapat duit dong. Tanpa saya jual pun, tanpa saya niatkan untuk mendapatkan uang pun, uang datang sendiri. Karyalah yang mengantarkan saya ke situ, tentu saja yang utama adalah berkah dari Allah Swt. Tanpa-Nya apalah daya saya.


Segala peristiwa yang terkait dengan karya—dalam hal ini bukan cuma karya tulis, bisa dalam bentuk lukisan, foto, video, pertunjukan, atau apa saja berupa bukti kreativitas dan berguna bagi umat manusia lainnya—tidak akan pernah sia-sia Anda hadirkan dalam dunia ini. Dari aturan-aturan ”tiga tahun terakhir” itu, saya kembali merenung apa yang saya lakukan tiga tahun mendatang, terus begitu dan begitu. Artinya setiap hari saya harus berbuat apa saja, menghasilkan apa saja, berbagi apa saja yang bisa saya lakukan untuk peradaban hidup ini. Ini tidak ada kaitannya dengan program sertifikasi dsb. itu. Hanya, dari situlah saya merasa bahwa dalam hidup ini, kita memang harus terus bergerak. Pelan atau cepat. Apa saja. Bahkan salah satu portofolio yang disertakan di sana—walau tidak wajib—adalah pengabdian diri di masyarakat. Kita sudah melakukan apa di masyarakat, berbuat apa, sebagai apa, kontribusinya apa. Saran saya, dalam setiap kesempatan, bila ada dokumen baik surat, sertifikat, foto, maupun video, simpanlah dengan baik. Siapa tahu di masa mendatang artefak itu dibutuhkan sebagai bukti/portofolio perjalanan hidup. Anda tidak bisa merasa sudah membuat buku tanpa ada bukunya. Orang lain mungkin tahu Anda pintar, tapi bukti kepintaran Anda bisa dibuktikan dengan apa? Tidak mungkin Anda bilang bahwa Anda sudah bikin buku dalam pikiran Anda, bukan? Sedangkan dalam segi administratif membutuhkan dokumen/bukti yang mendukungnya.


Beberapa dokumentasi karya tulis, sertifikat, undangan pelatihan, dsb. saya arsipkan. Tapi tidak semua ada, kadang tercecer entah di mana, atau panitia hanya mengundang via lisan, atau hanya menyiapkan pamflet di media sosial, tidak ada berkas undangan atau sertifikat.


Penyimpanan segala rekam jejak hidup Anda itu penting. Dalam hal apa pun. Jangan biarkan apa yang Anda kerjakan itu lewat begitu saja. Orang-orang zaman dulu dikenal dan dikenang hingga sekarang karena karya dan pemikiran mereka. Suatu hari, saya pernah bertanya kepada diri saya, ”Bagaimana dengan mereka yang hidupnya tidak ngapa-ngapain? Jangankan pintar, bodoh saja tidak punya (mengutip judul sebuah buku)”.


Semoga kita terhindar dari makhluk ”tidak ngapa-ngapain itu”. Selamat ngapa-ngapain! Oh, iya, jangan lupa salat lima waktu!


Pontang, 27 Des 2022


________

Penulis 


Encep Abdullah, penulis yang maksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi NGEWIYAK, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Buku kolom proses kreatifnya yang sudah terbit Buku Tanpa Endors dan Kata Pengantar (#Komentar, April 2022.