Jumat, 20 Januari 2023

Cerpen Ade Ubaidil | Tidak Ada Gereja di Kota Ini

Cerpen Ade Ubaidil



Di hari pertamanya bekerja, Cecilia merasa biasa saja. Begitu pun di hari kedua. Barulah di hari ketiganya bekerja ia merasa mendapatkan beban besar. Ia seperti dipaksa untuk mengambil keputusan tersulitnya dalam waktu singkat.


Pukul 01.30 tengah malam, tak seperti biasanya, Pak Gun, pengelola bar Bintang Laut datang. “Ia selalu membawa seseorang,” bisik Widi seolah hal semacam ini bukan pertama kalinya. Mereka melihat Pak Gun dengan seorang pria muda berjalan mendekat ke pintu bar setelah sebelumnya keluar dari gedung hotel. 


“Cil, nanti kamu temani Kang Imam ke kamarnya, ya,” ucap pria tambun  berperawakan tinggi besar itu. Berewok di pipinya tampak kepanjangan dan mesti segera dicukur, pikir Cecilia.  Ia menunjuk pria muda yang sedang merokok di luar bar. Pria muda itu mengenakan celana jeans belel dan hoodie hitam. Kepalanya ia tutupi dengan kupluknya. Cecilia sempat tertegun sesaat dengan kata “temani” alih-alih “antarkan” di kalimat yang baru saja diucapkan atasannya itu. Namun ini baru hari ketiganya ia bekerja, tak mungkin baginya untuk menolak, kecuali ia sudah siap dirumahkan.


“Baik, Pak,” Cecilia mengangguk. Tidak ada barang bawaan seperti tas atau koper yang mesti diantarkan ke kamarnya. Usai Pak Gun berbicara sebentar di luar, Cecilia dipanggil dan diperkenalkan. Lalu, ia berjalan ke hotel diikuti oleh Imam.


“Kamu pegawai baru, ya? Baru ini aku melihat kamu,” tanya Imam usai Cecilia menge-tap kartu ke gagang pintu kamarnya. Pintu terbuka. Perempuan itu mengangguk. Bukan ini yang aku inginkan, bisiknya dalam hati.


“Umur berapa?” tanyanya lagi sembari melepaskan hoodie dan celana panjangnya. Cecilia kini melihat wajahnya dengan jelas. Ia bisa mengira bahwa usia Imam hanya dua tahun di atasnya. Tentu saja bagi Cecilia ini bukanlah hal baru. Ia justru sudah muak hidup dalam lingkungan yang seperti ini. Ia ingin lepas dari bayang-bayang masa lalunya.


“35 tahun, Kang,” jawabnya singkat. Ia tak ingin ada lagi pertanyaan. Mari kita segera selesaikan ini semua.


“Sepertinya kamu bakal lebih sering bertemu denganku,” katanya agresif memeluk Cecilia. Ia menggeliat disertai napasnya yang memburu. Bibirnya yang bau rokok menjelajahi tengkuk Cecilia yang kurus dan wangi.


***


Cecilia tak bisa tidur setelah meladeni pria busuk yang mengorok di sampingnya itu. Ia menyelinap keluar kamar dan berkata kepada Widi tidak enak badan. Ia izin pulang lebih awal. Sepanjang jalan ke indekos, langkah kakinya diiringi suara lantunan azan subuh yang saling bersahutan dari surau ke surau.


Ia tak bisa membayangkan kalau harus bekerja membawa Dante. Beruntungnya, Bu Hajjah, pemilik indekos, mengizinkan ia menitipkan Dante sejak hari pertamanya bekerja.


Ibam pastine seneng duwe batur baru. Kebetulan seminggu kien Ibam bakal nginep ning kene,” katanya ramah sewaktu menyebutkan nama cucunya. Ibam langsung membawakan mainan miliknya begitu ia melihat Dante.


Cecilia biasa menjemputnya ketika anaknya akan bersiap ke sekolah. Hal pertama yang dilakukannya ketika tiba di Kota C adalah mencarikan Dante sekolah. Ia tak ingin masa depan anaknya segelap dirinya. Namun hari ini ia pulang lebih awal. Dante pasti masih tidur.


Uwes balik, Mbak Cecil?” tiba-tiba ia melihat Bu Hajjah di depan garasi rumahnya. Padahal ia berniat tak ingin mengusiknya, ia berencana diam-diam menaiki tangga dan masuk ke kamar kosnya di lantai dua.


“Iya, Bu Hajjah, pulang cepat.” Ia merapatkan sweater merahnya dan menarik rok pendeknya agak ke bawah. Ia tak ingin membuat Bu Hajjah tak nyaman.


Dantene masih turu. Paling mengko jam 6, ye. Ibu arep ning masjid dimin,” katanya fasih dengan logat dan bahasa daerahnya yang kental. Cecilia berusaha keras memahaminya. Sepertinya ia harus mulai terbiasa.


“Iya, Bu. Jam 6 nanti aku jemput Dante. Nuhun, Bu.”


Bu Hajjah berjalan ke masjid dan sudah mengenakan mukena sejak keluar dari rumahnya tadi. Cecilia berjalan lemas menaiki anak tangga. Setibanya di kamar ia segera membersikan dirinya dalam keadaan setengah mengantuk. Setelah itu ia segera meluruskan badannya di kasur tepleknya. Ia begitu cepat terlelap saking capainya.


***


Di sinilah Cecilia sekarang. Di sebuah kota industri yang kecil namun begitu hidup. Rupanya, saat SD dulu, kurang lebih selama 2 tahun ia pernah tinggal di Kota C ketika mengikuti ayahnya bekerja. Ia tak pernah menyangka bakal kembali lagi dan bekerja di tempat hiburan malam. Ia harus siap melakukan apa pun demi menghidupi keluarga kecilnya.


Cecilia memilih pindah ke kota C setelah rumah tangganya kandas di tengah jalan. Ketika Dante harus sekolah di usianya yang akan menginjak 8 tahun, Willy, mantan suaminya tak tahan lagi. Ia tak sanggup bila harus menghidupi dua orang di rumahnya dengan pengeluaran yang menguras kantongnya sebagai sopir di sebuah perusahaan. Ia menceraikan Cecilia dan mengusirnya dari rumah dan menyuruh mantan istrinya membawa semua barang-barang miliknya, termasuk Dante.


“Sejak dulu, saya ragu bocah sialan itu anak kandung saya!” Sebaris kalimat yang berhasil membuat Cecilia nekat mengambil keputusan untuk berpisah darinya. Sebelumnya, ia hanyalah seorang pekerja serabutan; ia pernah bekerja sebagai kasir, pelayan di kafe, menyanyi dari bar ke bar, hingga Asisten Rumah Tangga untuk seorang pastor muda. Cecilia terpaksa mengundurkan diri sebagai ART lantaran ia tak ingin dibayang-bayangi wajah suaminya. Ia harus pindah kota. Walaupun sebenarnya Dante begitu murung. Bocah itu sudah cukup dekat dengan sang pastor muda.


“Kuharap, kamu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Jangan sungkan bila butuh bantuanku,” ucap pastor muda itu, memeluk Dante. Ia tahu alasan sebenarnya kenapa Cecilia memutuskan pindah kota. 


“Di saat kita dilukai oleh orang lain dengan rasa sakit hati yang kita alami, di saat itu kita harus sadar bahwa Tuhan Yesus mau kita belajar apa arti dari mengampuni,” ia menasihati. Cecilia hafal betul dengan kalimat yang didengarnya barusan, lantaran setiap rangkaian kata per katanya sama persis dengan apa yang biasa ia temui di dinding gereja. 


Setiap hari Minggu ia rajin menemani Dante beribadah. Kalau bukan karena anak kesayangannya itu, ia tak punya alasan yang cukup kuat untuk melangkahkan kaki ke gereja─bahkan untuk melanjutkan hidup.


Dante begitu senang setiap kali pastor muda itu mengajaknya pergi ke gereja. Bangunannya yang megah membuat ia terkagum-kagum sampai ingin tinggal di sana.


“Kapan Dante bisa punya rumah sebesar ini, Ma?” tanya bocah 7 tahun kala itu. Mamanya tak menanggapi. Saat Dante bertanya begitu, ia hanya akan mendaratkan kecupan kasih ke wajah dan rambut halusnya.


***


Waktu seperti kain murah yang sering dicuci. Menyusut perlahan-lahan tanpa banyak orang yang menyadarinya. Namun Cecilia merasakan hal itu. Tubuhnya tahu-tahu sudah ada di bar lagi untuk bekerja. Padahal lelah tubuhnya kemarin malam belum juga hilang.


“Cil, coba, geh, kamu cek lantai dua, ya. Sekalian rapikan meja dan kursinya sebelum kita buka,” pinta Widi sambil merapikan botol-botol dan gelas di bufet dan meja bar. Cecilia berjalan menaiki anak tangga. Ia tampak tak kesulitan berjalan dengan rok pendek dan sepatu haknya. 


Sementara itu, dari luar terdengar suara teriakan. Ia mempercepat langkahnya dan penasaran dari mana suara itu berasal. Cecilia segera keluar ruangan dan berdiri di balkon lantai dua. Ia melemparkan pandangannya ke bawah.


Dari atas sana terlihat rombongan ormas tengah berteriak-teriak sembari mengepalkan tangan ke atas dan membawa spanduk penolakan. Mereka longmarch dari alun-alun kota. Cecilia mengira mereka bakal berhenti di depan bar, beruntungnya tidak. Gerombolan warga yang sekira 50-an orang itu terus berjalan ke arah timur, menuju ke sebuah tanah lapang di depan gedung wali kota. Jalan raya seketika dibuat macet total. 


Sepintas, di antara suara takbir yang diserukan berulang-ulang, Cecilia sempat membaca tulisan yang tertera di spanduk besar yang dibawa oleh mereka: “Tolak Pendirian Gereja!”


Ane ape?” tanya Widi yang baru tiba di balkon. Sudah hampir 5 tahun dia bekerja di sana. Cecilia tak menggubris. Ia berusaha memahami pertanyaan Widi, tetapi tak kunjung mengerti.


“Ada apa?” tanya Widi mengulangi pertanyaannya. Ia sering kali lupa kalau Cecilia bukan berasal dari kampungnya.


“Demo penolakan gereja,” jawab Cecilia heran.


 “Kenapa harus ditolak, ya?” 


“Biar nggak ada kristenisasi. Di kota ini, kan, sekarang banyak pekerja asing, tuh, dari luar negeri...,” jawab Widi menggantung dan sekenanya. Ia tampak ragu dengan apa yang barusan diucapkannya. “Udahlah, ayo beres-beres, bentar lagi kita buka,” ajaknya kemudian, meninggalkan pertanyaan besar di kepala Cecilia.


***


Belum ada sebulan Cecilia tinggal di sana, sudah banyak sekali hal ajaib yang ia temukan. Ingatannya menarik dirinya ke awal ia tiba di kota C dan bekerja di bar Bintang Laut. Boleh dikatakan, ia sedang beruntung saat itu.


Suatu malam ketika ia datang dan mencari pekerjaan, dua pegawai tetap di sana harus dirumahkan lantaran positif Covid-19. Tiga orang polisi yang biasa berpatroli, diminta untuk tutup mulut. Mereka menyanggupi selama permintaannya dituruti. Pak Gun setuju. Ada masanya orang yang terdampak Corona sama dengan borok yang harus ditutupi. Akhirnya, Cecilia diterima tanpa perlu menunjukkan ijazah pendidikan terakhirnya.


Sejak pertama kali berdiri, bar Bintang Laut sering mendapatkan ancaman dari ormas setempat. Namun karena izin bangunannya yang jelas, wali kota di masa itu menyetujui Bintang Laut mendirikan bangunan di sana atas nama hotel. Memang, barnya sendiri muncul belakangan setelah hotelnya. Saban malam, kamu akan melihat para perempuan berdandan menor berdiri di sudut-sudut trotoar dan halte bus untuk menarik perhatian─pemandangan tersebut kini dianggap wajar belaka.


Cecilia sering berpikir tentang bagaimana bila tidak ada Dante dalam hidupnya. Mungkin ia tak akan bekerja di tempat seperti itu lagi. Dan bisa jadi, ia sudah ditemukan tewas bunuh diri. Trauma masa lalu yang diberikan oleh ayahnya masih begitu membekas. Tergambar jelas di benaknya bagaimana sang ayah memperlakukan tubuhnya.


Saat masih bersama Willy, ia sering dipergoki tengah melakukan percobaan bunuh diri. Baru setelah Dante lahir, ia bisa melihat harapan baru di kedua matanya untuk hidup.


“Ma, ayo kita ke gereja!” tiba-tiba saja suara bocah itu membuyarkan lamunannya.


“Memang sekarang hari apa?”


“Hari Minggu, Ma. Masa Mama lupa. Ayo mandiii!” Dante selalu bungah setiap kali Hari Minggu tiba. Ia bergegas melepaskan baju dan celananya. Cecilia bangkit dari tidurnya yang pulas.


Pukul 07.23 pagi, ibu dan anak itu sudah berpakaian rapi dan wangi. Mereka bersiap melaksanakan ibadah Hari Minggu. Di lantai bawah, Bu Hajjah bersama Ibam dan orang tuanya sedang bermain-main di ayunan. Mereka memiliki halaman rumah yang cukup luas.


“Pagi, Bu Hajjah,” sapa Cecilia sembari memegangi tangan Dante.


“Pagi, Mbak,” balas Bu Hajjah tulus.


“Bu, aku mau tanya. Di sini, gerejanya di daerah mana, ya?” tanya Cecilia kebingungan. Sesaat Bu Hajjah dan anak mantunya saling bertukar tatap.


Lake gereje ning kampung kite, mah, Mbak,” jawabanya persis dugaan Cecilia. Ia bahkan melihat sendiri kemarin orang berdemo untuk apa. “Lamun pengen ning gereje, paling kudu manek angkot biru ning Kota S. Parek Marayana,” sambungnya mengarahkan.


Bagi umat Kristiani di provinsi ini, setiap kali hendak beribadah selalu pergi berduyun-duyun ke Kota S. Di sana biasa orang dari Kota C dan Kota P bertemu. Ingatan ia tentang masa SD sewaktu tinggal di kota itu nyaris buram. Yang ia ingat hanya kenyataan bahwa ayahnya gila bekerja sampai sering kali menelantarkan istri dan anaknya. Itu pula salah satu alasan yang ia tahu kenapa ibunya memutuskan meninggalkan mereka.


Dante begitu ceria sampai tak mau diam saat menunggu angkot biru tiba. Ini akan menjadi pengalaman pertamanya beribadah di tempat yang baru. Ia pasti bakal senang kalau menemukan gereja yang megah seperti di tempat pastor muda.


Angkot biru berhenti di sisi trotoar jalan. Beruntungnya pagi itu tak begitu banyak penumpang. Dante memilih duduk di depan, sebelah sopir. Cecilia membolehkan asal ia mau dipangku dan tak sembarangan menekan tombol-tombol di dashboard angkotnya. 


Ketika angkot biru itu sudah berjalan, lima menit setelahnya jalanan macet total. Terlihat dari kaca depan angkot rombongan ormas tengah berteriak-teriak sembari mengepalkan tangan ke atas dan membawa spanduk penolakan lagi. Mereka longmarch dari alun-alun kota ke arah timur menuju ke sebuah tanah lapang di depan gedung wali kota lagi. Apa mereka melakukan hal ini setiap hari?


Sepintas, di antara suara takbir yang diserukan berulang-ulang, Cecilia dibuat terkejut dengan pria bersurban yang berdiri di baris paling depan. Mata mereka sempat sekilas tak sengaja saling tatap. Cecilia tak menyangka pertemuan kedua dengannya bakal secepat ini.


Cilegon, 12 November 2022


_____________

Penulis


Ade Ubaidil, pengarang asal Cilegon. Ia relawan di Komunitas Rumah Dunia. Pemimpin Redaksi media sastra dan literasi Kurungbuka.com. Pernah terpilih menjadi salah satu penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2017 dan Peserta terpilih Majelis Sastera Asia Tenggara 2018 kategori cerpen. Buku terbarunya sebuah novel adaptasi berjudul, YUNI (GPU, 2022) dan kumpulan cerpen Sahut Kabut (Indonesia Tera, 2022) telah terbit. Arsip tulisan lainnya bisa dilihat di: www.quadraterz.com. Kini ia aktif mengelola Rumah Baca Garuda dan aktif bermedia sosial di FB dan IG @adeubaidil.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com