Jumat, 20 Januari 2023

Puisi-Puisi Daviatul Umam

Puisi Daviatul Umam




Jamurdipa


landai bumi Jawa, lepai pepohonan

batu-batu hampir menggelongsor

hewan dan manusia hampir terguling-guling

tertuding kuku-kuku karang

kau pun tak mau kelebu, bukan?


maka repas jisimmu

bakal kami usung ke paksina

walau harus menguruk Rama dan Pamadi

yang lebih iba pada keris-kerisnya

ketimbang nyawanya


apakah (setiap) kebijakan

memang membutuhkan tumbal, Dewata?


sewaktu-waktu bumi juga bisa lapar

ia akan menyulih benih kebajikan

hanya jika lambungnya

kosong dari lolong kekosongan


lihat saja nanti

seusai awak terpacak di jenggala

yang Batara Guru kehendaki

sulur tanur yang kelak kekal di jeluk pusarmu

akan memuntahkan gelegak kasam dua empu

yang sejak mula menjadi kekasihnya itu


Yogyakarta, 2022



Lara Kadita


kinjalah ke saung jantungku, Putri!

menunggallah dengan keheninganku


kau terkesiap dari sari pati lelap

di ceruk kelopak Karang Hawu

kau terjuni ulu sungkawa ibunda

yang dipilih ratu-ratu ikan

sebagai liang tapa panjang


kulit berkudis laut basuh

bintik-bintik lara luruh

kerling bibirmu disegani mutiara

menaklukkan pasukan koral


laut pun mengawinimu

selanggeng biru takdir

selestari asmara garam kepada air


naiklah ke singgasanaku, Putri!

babut sewarna kesuburan kesabaranmu


Yogyakarta, 2022



Bandung Bondowoso


telah kukerkah habis janjimu

tetapi kelat kekecewaanlah

melembungkan paru-paruku

berabad-abad, sepanjang babad


sudah berlarat-larat waktu

mencambukku sebagai pendosa

sedang hunjaman linggis air mata

yang terus menggali-gali lukaku

takkan putus asa untuk jadi penebus


memang sebaiknya kukira

pendusta mengekal jadi arca

yang dengan bangkar sesalnya

dapat mencerap—betapa nista

kepercayaan dibekukan tipu-daya


namun sebagai korban

lidahku terlampau lincir

memungkang kutukan

yang akhirnya juga menyambar

kesendirianku, cinta iblisku


Yogyakarta, 2022



Gajah Wong


selepas dusun terapung-apung

memapas kedamaian liyan

duka cuma bisa menerka-nerka

apa maksud kali tengik ini

sehingga mempergagah diri


pun di usus arus bandang

yang melarung atmamu

ke kuala ranap paling gadang

lumut cukup membalut batu-batu

tiada sedia menebak riak otak bupala


roh pawang menikahi sungai

memuncratkan serdadu ikan

mencucup remah patera kering

yang rontok dari batok asing

seperti mencicip langkas bangsai

nasib sendiri


Yogyakarta, 2022


_________

Penulis


Daviatul Umam, lahir dan tinggal di Kota Keris, Madura. Buku puisinya yang telah terbit bertajuk Kampung Kekasih (2019). Bisa disapa di Instagramnya: @daviatul.umam



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com