Showing posts with label Proses Kreatif. Show all posts
Showing posts with label Proses Kreatif. Show all posts

Tuesday, June 16, 2026

Proses Kreatif | Kesetanan Membeli Buku

Oleh Encep Abdullah



Sejak akhir 2025, saya seperti orang gila, kerasukan bin kesetanan membeli buku. Menu beranda media sosial saya saat ini yang muncul 80% orang jualan buku. HP saya pun saat ini disesaki nomor kontak penjual buku. Dalam seminggu, saya bisa beli online 2--3 kali dengan pengeluaran yang bervariasi bergantung seberapa banyak saldo di rekening saya. Makin banyak saldonya, makin banyak pula yang saya beli, padahal tidak butuh-butuh amat. Saya tidak tahu, apakah kejiwaan saya ini sedang terganggu atau tidak. Tapi, kenyataannya begitu.


Gejala ini belum pernah saya alami sebelumnya. Satu habit baru dalam hidup saya: kecanduan beli buku online! Biasanya saya beli buku saat liburan atau mudik ke rumah istri—ke toko Gramedia BSD. Itu pun mungkin 3--5 bulan sekali. Kali ini, saya tak perlu menunggu liburan. Asal ada saldo di rekening, pasti langsung checkout buku. Kali ini saya kerasukan buku-buku bekas (ori) atau buku terbitan lawas yang sudah berdebu, menguning, bahkan sebagian sobek atau dimakan rayap. Seorang penjual bilang bahwa buku yang saya pesan itu sebagiannya sudah disantap rayap. Saya bilang, ”Makin ada bekas gigitan rayap, makin otentik.” Mungkin penjual buku itu bilang saya kurang waras. Ah, biarkan! Memang faktanya begitu. Saya sedang senang meraba dan menghidu buku-buku lawas. Imajinasi saya jadi melanglang buana.

Biasanya, kalau saya punya uang, saya memilih jalan-jalan, makan-makan, atau foya-foya traktir orang. Bahkan, untuk iseng membeli rokok saja, rasanya eman (sayang)—saya bukan perokok aktif, sekadar iseng-iseng saja kalau nongkrong. Dulu, kalo nongkrong-nongkrong, tak perlu pikir panjang beli rokok, ini dan itu. Sekarang mikir, lebih baik buat beli buku. Imbasnya adalah kepala saya jadi makin pusing. Tiap minggu nongol buku baru. Rak buku makin penuh. Ujung-ujungnya harus mengeluarkan duit lagi buat beli rak buku. Terus saja begitu. Bisa jadi, per 2--3 bulan kalau begini terus, rumah saya lemari buku semua. Tapi, bukannya itu yang saya mau?

Saya memang punya rencana punya perpustakaan pribadi yang kelak bisa dibuka untuk umum. Saya termasuk orang yang anti minta-minta sumbangan buku. Saya lebih senang membeli pakai duit sendiri. Lebih puas. Tapi, tidak menolak juga bila ada yang mau donasi buku, silakan. Namun, pilihan untuk menabung-membeli buku sendiri masih saya pertahankan. Toh, buku tidak basi. Bila nanti saya bosan dan mau saya jual, tinggal jual saja. Bahkan, beberapa bisa dijual lebih dari harga aslinya—terutama buku-buku langka.

Yang jadi masalah--bahkan saya khawatirkan--mental saya pelan-pelan berubah menjadi tukang timbun buku yang sedikit-sedikit berpikir kelak buku-buku langka, bekas, atau lawas itu jadi duit lagi. Jadi, pikiran materialistis, bukan sebagai pembaca atau penggali ilmu. Ada pikiran semacam itu. Tapi, menimbun buku, sepertinya berbeda dengan menimbun benda lain. Buku-buku bisa bermanfaat untuk siapa pun. Mungkin keluarga saya, tetangga saya, murid-murid saya, atau siapa pun yang mau membaca buku. Hanya, pikiran membeli buku untuk menjualnya kembali itu menjadi satu pantangan besar saya sebenarnya. Saya membeli buku untuk dibaca bukan untuk dijual. Saya pun sangat selektif. Tidak semua buku saya beli. Ada buku yang saya beli karena kangen dengan buku lama yang hilang, ada yang karena memang langka, ada juga karena saudara saya ingin pinjam buku tertentu tapi saya belum punya dan terpaksa saya harus beli—sebagai bentuk dukungan bagi mereka yang ingin meningkatkan minat baca bukunya, sekaligus menjaga harga diri saya, masa buku seterkenal itu misalnya saya tidak punya.

Saya beruntung. Istri saya tidak ngoceh-ngoceh saya suka borong buku. Ia tahu, urusan dapur, kosmetik, itu nomor satu. Saya penuhi dulu semua itu. Jadi, tidak ada diskriminasi antara kebutuhan dapur (perut) dan otak--untuk tidak menyebut "nafsu". Malah, kemarin istri saya dan anak-anak menemani saya ke bazar buku yang diselenggarakan oleh Perpusda Banten. Lucu sih, ya borong buku online, ya borong buku offline juga. Dan, sekali beli buku offline minimal keluar 500 ribu. Sampai akhirnya saya mikir, Kenapa saya cuma beli buku di tempat bazar begini? Kenapa tidak coba dijualin ke orang-orang, mumpung diskon gede-gedean! Otak penjual saya tiba-tiba muncul. Saya merasa tidak mau rugi kalau datang ke bazar buku cuma buat beli buku pribadi doang. 

Sepulang dari bazar, saya bilang ke istri saya bahwa besok saya mau balik ke bazar lagi. Istri saya bilang, "Mau ngapain?" Saya jawab, "Mau jualan buku." Tapi, saya tidak mau borong semua bukunya dulu, belum tentu ada yang mau beli. Istri saya memberi saran, kenapa tidak difoto saja, kirim ke media sosial atau grup WA, siapa yang mau beli, ada jasa titip (jastip). Ini agak konyol buat saya karena belum pernah saya lakukan—eh, pernah sih kayaknya dulu zaman kuliah, mungkin semangat masa lalu ini yang muncul kembali. Akhirnya, saya foto dan saya kirim ke beberapa grup WA dan media sosial. Ada beberapa yang kecantol. Alhamdulillah, dapat 200—250 ribu dalam sehari itu lewat jasa titip. Tetap saja belinya saya talangi dulu pakai duit pribadi—karena mereka tidak transfer lebih dulu. Seru juga memanfaatkan waktu kosong hari itu dengan jastip buku macam ini. Malamnya, saya lihat lemari buku, ada beberapa buku yang saya punya ternyata dobel. Saya kepikiran dijual saja. Saya posting, tak lama laku juga. Dapat lagi  250 ribu.

Saya punya pikiran "jahat". Bagaimana kalau semua buku yang saya punya saya jual? Kalau saya jual kayaknya—setelah saya hitung-hitung—saya bisa dapat duit 50 juta. Wah, sebenarnya saya banyak duit juga ya. Saya mikir, ternyata ini aset masa depan saya buat dijual. Pikiran macam itu muncul lagi dalam kepala saya. No! No! Niat saya punya perpustakaan yang bisa dinikmati banyak orang. 

Ah, soal buku memang tak bisa lepas dari persoalan ilmu, duit, manfaat, dan masa depan. Hidup saya mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, melototin buku. Di sisi lain, yang lebih esensi, buku-buku itu menjadi terapi tersendiri bagi saya sebagaimana orang lain yang mungkin terapi dengan ikan dan bunyi air di akuarium.

Suatu hari, saya coba cek-cek lagi lemari buku saya, ternyata memang banyak buku yang saya beli karena nafsu, bukan karena butuh. Akhirnya, saya lihat jadi seperti "sampah" juga. Ada niat mau saya jual lagi dan saya belikan buku-buku lain yang memang punya dampak buat saya, atau yang lebih sesuai dengan passion saya atau kebutuhan banyak pembaca. Beberapa buku ini memang buku terjemahan yang sepertinya agak susah dibaca (diminati) oleh pembaca awan maupun pembaca serius. Pantas saja orang tersebut menjualnya borongan dan murah. Ternyata ini yang saya rasakan: tidak terlalu dibutuhkan. Kamu mau? Mungkin ada 50 buku (novel terjemahan, dewasa) bekas, bisa saja jual 5--7 ribu per buku.

Kalau dipikir-pikir lagi, untuk apa saya pusing jualan buku? Toh, saya ini kan CEO Penerbit #Komentar. Haha! Setiap ada yang cetak buku, ya esensinya sama saja saya sedang jualan buku. Malah "lebih banyak" duitnya ketimbang harus beli buku orang, terus dijual lagi. Menurut saya, sekadar jualan buku (termasuk jualan buku karya sendiri), kok, saya merasa kurang gereget ya. Seperti tidak ada kerja intelektual karena sekadar posting tanpa harus ribet ini dan itu—padahal mungkin ada ilmu marketing-nya dan saya tidak terlalu menekuni dunia itu secara jalur "akademis"—, sedangkan saat saya mengurusi proses penerbitan buku, di sana jauh lebih menantang, merasa ada kerja intelektual (edit naskah, dll.). Dan, ini soal skill. Skill itu didapatkan dari pengalaman dan belajar yang terus-menerus. Membaca buku terus-menerus juga mungkin bisa melahirkan skill. Begitu juga dengan terus-menerus jualan buku--tentu yang jualan serius, ya. Bisa jadi skill yang terlatih itu yang akan menghidupimu. Manusia tanpa skill, ia akan mati dibunuh ketidakberdayaannya sendiri.

Apakah Anda termasuk manusia seperti saya? Kayaknya tidak! Mungkin ini terkesan "sombong". Skill saya mungkin segmented, tidak semua orang bisa. Dan, itu skill yang mungkin sudah terlatih belasan tahun. Untuk bisa menjadi seperti saya hingga di titik ini, mungkin Anda butuh waktu belajar selama itu juga, malah bisa jadi lebih lama. Skill di luar proses kerja keras saya, dengan segala kemudahannya, tentu saja adalah giving/karunia dari Tuhan semata. Oleh sebab itu, saya jadi mempertimbangkan lagi dengan judul tulisan ini, harusnya bukan "Kesetanan Membeli Buku", mungkin bisa kita ganti menjadi "Kemalaikatan Membeli Buku" atau "Keilahian Membeli Buku"?  Si "setannya" biar hilang. Namanya "setan", Anda tahu sendiri!


Kiara, 16 Juni 2026

 

 ________


Penulis


Encep Abdullah, Dewan Redaksi NGEWIYAK. Kolom ini adalah [harusnya menjadi] tempat curhatnya tiap pekan walau sering kali banyak alpanya sejak Indonesia ganti presiden. Buku proses kreatifnya yang sudah terbit antara lain Ihwal Menulis dan Menjadi Penulis (2024) dan buku esai terbarunya Orang Gila Sebelum Menulis Esai (2026). 


redaksingewiyak@gmail.com

 

 

Tuesday, March 17, 2026

Proses Kreatif | Mencari Penulis Berbakat

Oleh Encep Abdullah



Hari Sabtu lalu (14 Maret 2026), saya menghadiri acara peluncuran buku esai—buku perdana—Heru Anwari berjudul Suara dari Alaska di Rumah Dunia. Heru merupakan salah satu peserta yang saya asuh di Klinik Menulis Angkatan ke-6 pada 2024 lalu. Salah satu yang menarik dari Heru ini adalah haus belajar (menulis). Hal ini mengingatkan saya pada rekan-rekan yang saya asuh di Komunitas Menulis Pontang Tirtayasa (#Komentar): Sul Ikhsan, Bayhaki, Ray Ammanda, dkk. yang dahaganya luar biasa akan ilmu (menulis).

Orang-orang yang saya sebut mula-mula saat pertama berjumpa seperti makhluk yang sedang tersesat di belantara hutan, bahkan kelihatan ”sakau”. Mereka seperti ingin membabat segala ilalang itu: rasa penasaran akan proses, tujuan, dan hasil. Saya, sebagai mentor, hanya memberi peta, mungkin tidak terlalu banyak ikut campur untuk masuk ke dalam belantara-belantara itu karena akan cukup melelahkan. Kadang, saya suruh mereka mencari penunjuk jalan (guru) yang lain. Sebagian entah pergi ke mana, sebagian lagi masih tetap ingin nyumput di ketiak saya. 

Guru, sejauh mana pun, pasti punya kelemahan. Jangan terpaku pada satu guru. Kadang, si guru kurang meng-update dan meng-upgrade ilmu. Jadi, guru perlu banyak cara agar obrolannya bisa nyambung—walau kadang terlalu memaksakan. Saya pun mungkin begitu. Untuk beberapa hal bisa saya ikuti, untuk hal lain mungkin saya abaikan. Saya tak mengerti, apakah memang belum menemukan orang lain selain saya agar dahaga mereka bisa terpuaskan—walau tak mungkin bisa terpuaskan—atau mereka memang malas mencari guru lain, atau memang tidak ada yang klop. Apakah sesulit itu mencari guru?

Adakalanya saya pun perlu mengecas diri. Mungkin sudah sering saya sampaikan hal ini pada tulisan-tulisan yang lalu. Saya perlu uzlah, mungkin lebih nyufi lagi istilahnya tahannuts. Agak ngeri sih istilah ini, padahal saya hanya gelandangan yang masih jauh dari akhlak mahmudah atau akhlakul karimah. Tapi, agenda macam uzlah kan tidak terus-menerus, hanya perlu merenung sekian menit, jam, atau hari untuk merefleksikan keadaan agar ada jalan terang. Maka, kembali riuh dengan orang lain mungkin bagian dari jawaban itu sebelum nanti mengecas diri dengan tahannuts kembali. Ini semata-mata agar melatih jiwa tetap berada dalam keheningan (menuju Allah) meskipun dalam keriuhan (duniawi).

Kembali kepada Heru. Ia adalah sosok anak jalanan dalam dunia BMX freestyle. Tubuh Heru sudah menjelajah banyak negara, banyak tempat. Ia tidak sekadar juga membawa tubuh, melainkan juga jiwa yang iqra. Ia gelisah, jiwanya berkecamuk, pikirannya bertengkar, lalu merenung dan menyimpulkan bahwa ada sesuatu di balik itu. Itulah iqra. Orang yang sudah iqra saya yakin akan mudah untuk menulis. Menulis adalah output dari iqra itu. Maka, lengkaplah sudah Heru menjadi penulis yang mendapat iqra dua kali: membaca dan menulis—seperti yang sering disampaikan Golagong ”menulis adalah membaca dua kali”.

Saya tidak tahu buku apa yang Heru baca. Intinya, ada bakat. Sekarang, ia ingin belajar menulis puisi. Saya selalu yakin, akan mudah orang seperti Heru untuk menjadi penyair. Jiwa perenungnya ada, jiwa filsufnya ada, jiwa iqranya ada, jiwa reflektifnya ada, komplet. Mungkin tinggal membaca banyak referensi saja agar bisa melihat peta para penyair itu seperti apa, biar tidak buta. Menulis kalau sekadar menulis, siapa pun mungkin bisa. Tapi, menulis yang tak sekadar menulis, tidak semua orang bisa. Bahkan, sekalipun saya—seringnya yang penting menulis dan tampak panjang paragrafnya, agak sulit untuk menulis yang terlalu dalam karena butuh kontemplasi yang juga dalam.

Sosok Heru adalah bagian dari tantangan memunculkan penulis baru berbakat di Banten. Apalagi ia  influencer. Malah, untuk memberikan dampak yang lebih luas kepada orang lain agar mau membaca dan menulis bisa sangat memungkinkan ketimbang saya. Karena banyak penulis muda yang saya asuh, atmosfernya kurang kuat. Sebagiannya sekadar menulis saja, bukan sebagai kontemplasi, bukan iqra yang iqra. Penjabaran iqra yang iqra, kiranya bisa kita pakai uraian dari K.H. Toto Tasmara yang menurut saya sebagai Muslim cukup mengena. Huruf ”alif” pertama melambangkan bahwa setiap permulaan dimulai dari Allah. Lalu, huruf ”qaf” melambangkan qalbu, bahwa sejatinya setiap yang kita kerjakan harus berasal dari hati. Maka, akan muncul ”ra” sebagai rahmatan lil ’alamin, suatu kebermanfaatan untuk umat. Terakhir ”alif” lagi, bahwa segala hal diakhiri dengan kepasrahan diri kepada Allah. Saya kira, itu ada dalam diri Heru, yang jarang saya temukan pada penulis lain.

Mencari penulis berbakat, apalagi di luar latar belakangnya sebagai akademisi, agak sulit dicari. Mungkin yang kuliah banyak. Akademisi pun banyak. Tapi, banyak juga yang gagap menulis. Maka, sosok seperti Heru menjadi semacam antitesis. Banyak rekan yang saya asuh, mereka adalah guru, sarjana, akademisi, bahkan pembaca buku yang ulung. Saat mereka menulis, saya tidak terlalu kaget. Pada diri Heru, lain lagi. Seperti ada semacam keaslian diri, bahkan kepolosan dan kejujuran diri menilai sesuatu. Pandangannya terhadap sesuatu tampak otentik dan itu yang tidak dimiliki banyak penulis baru, khususnya yang ada di Banten—dalam hal ini saya tidak sedang mengecilkan semangat teman-teman yang memang berada di jalur akademis.

Saat acara bedah buku Heru, Golagong bilang, ”Cep, kalau bisa cari penulis cewek yang punya bakat seperti Heru!”

Ini satu tantangan. Bisa saya temukan, bisa juga tidak. Penulis baru banyak, tapi mencari yang otentik agak susah. Untuk menyebut Banten, saya masih penasaran bahkan ingin ketemu dengan satu sosok penulis muda yang saya kira juga agak ”gila” pikirannya. Ia bernama Santama, asal Anyer. Bisa cari FB-nya dengan nama yang sama. Santama ini agak misterius, agak susah diajak ketemu. Bahkan, uniknya, ia bergabung dengan komunitas-komunitas (online) yang tidak pada umumnya sebagaimana kebanyakan orang Banten. Ia melanglang buana sendiri, belajar otodidak, tidak masuk dalam kelas akademis, tapi bacaanya cukup berbahaya. Tulisannya—cerpennya—otentik, bahkan seakan memberontak terhadap struktur bahasa. Anda bisa baca cerpen-cerpennya di NGEWIYAK. Saya belum menemukan sejauh ini, penulis—sastrawan—muda dari Banten yang menulis cerita macam Santama. Namun, saya belum menemukan cara agar Santama muncul di permukaan kesusastraan Banten. 

Mencari bakat penulis di Banten, itu gampang, tapi susah. Kadang juga susah, tapi gampang. Intinya aja deh, liyeeeeur!


Kiara, 17 April 2026


______


Penulis


Encep Abdullah, Dewan Redaksi NGEWIYAK. Kolom ini adalah tempat curhatnya tiap pekan walau sering kali banyak alpanya sejak Indonesia ganti presiden. Buku proses kreatifnya yang sudah terbit antara lain Ihwal Menulis dan Menjadi Penulis (2024). 


redaksingewiyak@gmail.com



Tuesday, March 3, 2026

Proses Kreatif | Mengasuh Klinik Menulis #7 dan Nasihat-Nasihat Klise

Oleh Encep Abdullah



Saya perlu menghela napas panjang untuk kembali membuka kelas menulis online: WA dan ruang virtual. Meladeni orang-orang tersebut sudah saya sadari perlu waktu dan pelayanan khusus. Saya cek jadwal saya tiga bulan ke depan, sepertinya aman. Selain itu, keterdesakan saya untuk membuka kembali makin membuncah saat beberapa rekan WA saya dan meminta dibuka kembali kelas baru. Tak nyana peminat yang mendaftar lebih banyak dari biasanya. Kadang saya berpikir, mereka ini mencari apa sih? 


Pertanyaan yang saya ajukan di atas barangkali tak sepatutnya saya pertanyakan. Toh, harusnya saya tahu karena kalau dipikir-pikir, dulu saya juga begitu. Bedanya, saya belajar sebelum ada WA, sebelum ada AI. Zaman sekarang, banyak peserta kelas menulis yang nakal. Mentok menulis, ujung-ujungnya nyuruh AI. Mereka tidak komitmen dengan "kontrak kerja" yang sudah disepakati bersama di awal.


Oh, iya, saat saya bilang kepada istri kalau saya mau buka kelas menulis online lagi, ia manyun. Istri saya sudah tahu, pasti waktu saya akan terbagi-bagi. Mungkin yang biasanya malam saya ngelonin ia, malah berganti ngelonin HP (karena harus membaca dan membalasi WA teman-teman di grup, seringnya malam hari). Ah, ngurusin beginian kan tidak setiap waktu. Toh, sejak sepuluh tahun terakhir, saya melakoni ini, saya tetap baik-baik saja. Nyatanya istri saya juga tahu segala urusan yang memang menjadi tugas dan pengabdian saya untuk bangsa ini. Anjaaay!


Anda yang mungkin punya bakat dan minat lain pun barangkali akan berpikir sama. Berupaya mencari satu kesibukan lain dari kesibukan lain yang sudah ada. Tentu, semua butuh pertimbangan. Tidak mudah mengasuh orang banyak, beda kepala, bahkan di ruang online yang sebagian besar mungkin tidak tahu karakter aslinya (walaupun sebagian lagi orang yang ikut adalah orang-orang dekat saya).


Untuk awal tahun 2026, mungkin kali pertama peserta overlude. Biasanya saya hanya menampung sepuluh atau belasan peserta. Kali ini tiga puluhan peserta. Mereka saya bagi menjadi tiga kelompok grup: esai, cerpen, dan puisi. Baru kali ini, peserta saya bagi ke dalam grup khusus. Biasanya jadi satu grup, saling belajar bersama. Tapi, saya kira diskusi akan kacau bila tiga genre itu disatukan. 


Sebagaimana grup-grup pada umumnya. Ada orang yang aktif, hiperaktif, diam seribu bahasa. Nongol kalau ada maunya doang atau nongol saat jadwal posting karya doang. Ya, saya maklumi kita semua punya kesibukan, yang penting tidak merusak perjanjian dan kesepakatan di awal. 


Berkomentar di grup, itu menjadi salah satu latihan menulis. Sayangnya, mereka tak memahami itu. Padahal, sudah disclaimer bahwa kelas ini boleh buat gaya-gayaan berkomentar sok pintar, sok kritis, dan sok-sokan yang lain. Boleh juga menentang, tak setuju, bahkan harus. Anehnya, sebagian malas melakukan ini. Hanya orang-orang tertentu--untuk tidak mengatakan kurang waras--saja yang mau memanfaatkan peluang itu: belajar berdialektika. 


Esensi berkomentar, berdiskusi, bagi saya bukan menyoal benar tidaknya pendapat itu, melainkan menguji seberapa mampu kita mengolah, menyajikan, meyakinkan pikiran kepada orang lain. Justru di sana letak keseruannya. Ruang kelas menulis yang saya buat, baik di komunitas luring maupun daring, selalu memberikan ruang dialektika semacam itu. Ada keseruan yang tak bisa dinikmati oleh banyak orang. Hanya orang-orang yang satu frekuensi yang bisa menikmati itu.


Kepada siapa pun yang sedang berada di satu komunitas, khususnya komunitas menulis, manfaatkan ruang itu dengan sebaik-baiknya. Tidak semua orang punya kesempatan semacam itu. Waktu kalian terbatas di sana, ada masa akhir. Jangan menyesal bila masa itu tiba-tiba berakhir, dan teman-teman belum siap bertarung di dunia nyata, di dunia para penulis sebenarnya.


Ini mungkin nasihat yang klise dan mungkin agak menjijikkan. Tapi, toh, kita tetap butuh juga nasihat-nasihat "taik" kayak gini. Nasihat yang sok menggurui. 


Semua saya kembalikan kepada Anda yang saat ini sedang berada di medan pertempuran. Teruslah bertarung. Entah bertarung di ruang mana. Entah bersama siapa. Entah menjadi apa.


Sehat-sehat ya!


Kiara, 3 Maret 2026


______


Penulis


Encep Abdullah, Dewan Redaksi NGEWIYAK. Kolom ini adalah tempat curhatnya tiap pekan walau sering kali banyak alpanya sejak Indonesia ganti presiden. Buku proses kreatifnya yang sudah terbit antara lain Ihwal Menulis dan Menjadi Penulis (2024). 


redaksingewiyak@gmail.com




Tuesday, January 13, 2026

Proses Kreatif | Buku: Masa Lalu, Masa Depan

Oleh Encep Abdullah



Bagi seorang penulis, setiap pergantian tahun biasanya punya resolusi. Resolusi ini semacam catatan, harapan, bahkan tuntutan yang harus dicapai. Target saya sejak dulu mungkin tidak berubah: menghasilkan minimal satu buku per tahun. Tahun lalu, di akhir tahun saya paksakan menerbitkan buku novel remaja yang sudah lama mengendap di laptop. Buku tersebut saya bagikan saja PDF-nya di laman NGEWIYAK. Judulnya Sepotong Cinta. Sekadar bacaan hiburan ringan saja. 


Sebenarnya saya punya stok tulisan banyak, terutama puisi dan esai. Untuk puisi bisa dijadikan 2 buku dan esai 1 buku. Cerpen hanya satu biji. Memang agak payah dalam menulis cerpen ini. Entah kenapa. Motivasi untuk memaksakan menulisnya sudah tak sebergelora dan seberdebum—meminjam istilah Wan Anwar—seperti dulu. Selain puisi bahasa Indonesia, saya juga punya stok puisi bahasa Jawa Banten. Sepertinya belum terlalu memenuhi untuk disatukan menjadi buku. Masih butuh beberapa puisi lagi. 


Sebenarnya ke depan saya lebih tertarik membuat buku puisi atau cerpen berbahasa Jawa Banten. Saya belum punya. Mungkin ini yang akan menjadi PR saya. Namun, sebelum kepikiran itu, saya lebih dulu kepikiran untuk membukukan puisi-puisi Bahasa Jawa Banten yang dimuat di NGEWIYAK.com sejak 2021. Agak sayang kalau berdebu di sana. Khawatir NGEWIYAK sudah tak beroperasi lagi atau data-datanya hilang atau di-hack. Kalau dikumpulkan, lumayan banyak. Pasti para penulisnya senang karya mereka dibukukan. Cuma, waktunya belum saya siapkan untuk merekap ulang semua karya itu. Saat ini masih sibuk merapikan buku dakwah Setetes Embun karya Bapak saya, Ust. Drs. Abu Bakar. Kerjaan ini cukup melelahkan. Bayangkan, catatan Bapak saya itu sejak 2017 dan sudah menumpuk di laptop saya. Kisaran ada 2.000 halaman A4—sebenarnya bisa dirampingkan karena banyak tulisan yang bertema sama, bahkan salin-tempel dari catatan-catatan tahun sebelumnya. Saya bilang kepada Bapak, kayaknya saya cukupkan saja untuk diarsipkan, kecuali Bapak menulis tema yang berbeda.


Pada 2019 buku Bapak pernah saya rangkum jadi satu jilid buku—sekadar dumi. Itu pun banyak yang belum rapi, ayat-ayatnya banyak yang terbalik susunannya. Belakang ini, Bapak bilang bahwa tulisan-tulisan tersebut lebih baik dibukukan saja sebagai kenang-kenangan hidup Bapak. Saat Bapak bilang begitu, saya jadi agak sedih, seolah-olah Bapak mau pergi. Padahal alhamdulillah Beliau masih sehat walafiat, segar bugar. Semoga Allah memperpanjang usia beliau dan hidupnya berkah. Amin. Saya juga memberi saran kepada Bapak untuk menuliskan kisah hidupnya atau semacam autobiografi. Tapi, Bapak menjawab bahwa beliau bukan pujangga seperti Buya Hamka yang bisa luwes bercerita. Hidup Bapak saya sangat misterius, banyak hal yang belum terungkap akan pemikiran orisinal yang hendak disampaikan kepada umat. Mungkin dengan menulis autobiografi, Bapak bisa mengungkapkan hal-hal yang belum pernah disampaikan kepada orang lain. Saya bilang bahwa barangkali saya wawancara sedikit-demi sedikit saja hidup Bapak. Saya yakin ini akan sangat bermanfaat untuk dibaca, khususnya untuk anak-cucunya. 


Mengapa saya berpikiran semacam itu? Belakang ini, tepatnya dua bulan terakhir, saya tiba-tiba gandrung memesan buku-buku bekas. Bahkan ada buku H.B. Jassin yang dicetak pada tahun 1950. Buku tersebut masih bisa dibaca dengan baik walaupun tampak usang. Pikiran saya tentu tak hanya sedang memegang buku, melainkan juga merasa sedang memegang sebuah sejarah hidup seseorang, masa lalu, dan kadang saya berimajinasi sedang berada di tahun-tahun itu. Wah, padahal H.B. Jassin sudah tiada. Tapi, saya masih bisa pegang bukunya 70 tahun kemudian setelah buku itu dilahirkan. Sampai saya berkhayal, apakah 70 tahun yang akan datang buku cetakan pertama saya masih ada yang baca? Mungkin begitu ya rasanya usia panjang itu. Meninggalkan jejak-jejak pemikiran yang tertuang dalam buku. Maka, saya jadi termotivasi lagi untuk membaca ulang dan merapikan ulang tulisan-tulisan Bapak itu. Setidaknya Bapak bangga punya karya, bahkan akan dibedah pada Ramadan nanti di Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pontang. Saya jadi lebih semangat lagi menyusun ulang tulisan Bapak. Ini menjadi momentum penting dalam hidup Bapak punya label baru: penulis. 


Kembali kepada resolusi. Mungkin sudah terlalu banyak resolusi yang sudah tercapai sehingga saya tidak terlalu menggebu-gebu dalam dunia literasi ini. Saat ini ingin mengumpulkan buku sebanyak-banyaknya dan ingin punya perpustakaan pribadi yang besar. Bulan lalu, saya sudah habis-habisan beli buku. Selama hidup, baru kali ini saya beli buku 150 buku dalam sebulan, tentu dengan harga yang beragam. Pengeluaran ini lebih banyak dari pembelian mana pun yang sudah-sudah. Bahkan harus membuat rak buku baru, itu pun masih kurang. Tapi, saya tidak pernah merasa menyesal. Bahkan istri saya selalu mendukung—walaupun kebutuhan dapur harus diutamakan terlebih dahulu, kadang beli buku-buku tertentu masih sembunyi-sembunyi. 


Apakah semua buku yang saya beli itu dibaca? Tidak juga. Sebagiannya sebagai koleksi, sebagiannya dibaca para siswa saya di sekolah, bahkan dibawa pulang dan sering tak kembali. Apakah ada rasa penyesalan? Ada, kalau buku-buku yang dipinjam itu langka, atau harganya cukup mahal, atau buku kesayangan saya. Tapi, apa mau dikata, mereka juga perlu baca buku-buku itu. Agar mengurangi risiko hilang tak kembali itu, saya suruh mereka beli sendiri saja, beli online. Beli buku bekas, tapi orisinal dan murah. Anak-anak malah menyuruh saya yang membelikan mereka buku. Duit mereka saya yang pegang. Saya tidak mau. Kalau tidak membeli sendiri, mereka tidak punya pengalaman bagaimana cara membeli buku. Saya juga tidak tahu apakah setelah mereka belajar bersama saya, mereka jadi candu membaca. Kalau sudah candu, tidak mungkin pinjam kepada saya terus-menerus. Maka, mengajarkan mereka bagaimana cara dan membiasakan beli buku online juga sangat perlu agar mereka terbiasa membeli sendiri.


Ah, bicara buku tak akan pernah ada habisnya. Resolusi saya entah sampai kapan pun agar bersinggungan dengan dunia tersebut. Saya berusaha untuk beresolusi menjadi yang lain, misalnya menjadi power ranger begitu atau spiderman, atau presiden, kok kayaknya berat. Untuk pindah haluan, saya perlu beradaptasi kembali. Harus memberikan luka yang baru pada tubuh, pikiran, dan jiwa sampai saya benar-benar akrab dengan cerita hidup yang baru. Belasan tahun di dunia literasi, mungkin borok-boroknya sudah saya kenali, tahu obatnya apa. Saya sudah kenal dengan tubuh, pikiran, dan jiwa saya dari pengalaman-pengalaman itu. Bila, saya tinggalkan, rasanya mubazir. Saya harus tetap berada dalam track ini apa pun situasi dan kondisinya.


Tuhan tidak menyuruh kita pindah haluan dalam sekejap—apalagi tidak dipikirkan matang-matang— melainkan melakukan apa yang kita sukai dan kita cintai secara tulus dan istikamah walau kita melakukannya selangkah demi selangkah. Dalam buku Atomic Habits, James Clear menjelaskan bahwa kalau bisa manusia berkembang setiap hari, minimal naik ”1%” kebaikan sehingga dalam 1 tahun kita bisa mendapatkan energi kebaikan ”365%”, lalu menuju 2 tahun, 3 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun, dan seterusnya. Seperti halnya ”Setetes Embun” karya Bapak saya yang ditulis sejak 8 tahun lalu itu yang setetes demi setetes kata ditulis setiap hari, lalu menjadi ribuan halaman.


Pontang 13 Januari 2026


______


Penulis


Encep Abdullah, Dewan Redaksi NGEWIYAK. Kolom ini adalah tempat curhatnya tiap pekan walau sering kali banyak alpanya sejak Indonesia ganti presiden. Buku proses kreatifnya yang sudah terbit antara lain Ihwal Menulis dan Menjadi Penulis (2024). 



redaksingewiyak@gmail.com



Tuesday, October 14, 2025

Proses Kreatif | Kita Memang Membaca dan Menulis, Tapi Sering Lupa untuk Apa

Oleh Encep Abdullah



Saya dan santri saya—santri ekstrakurikuler menulis—suatu hari melakukan kunjungan literasi ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Serang. Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda kami, yakni datang ke acara bazar-bazar buku terdekat. Selain ke perpustakaan kota, saya juga mengajak mereka ke Gramedia Kota Serang (Jalan Raya Cilegon, Desa Drangong Blok RA Ruko No.A1-A2, Kecamatan Taktakan). Tujuan kegiatan ini sederhana, agar mereka merasakan langsung atmosfer dunia literasi—ruang di mana buku bukan sekadar benda di rak, tetapi jendela gagasan dan kebijaksanaan. Saya selalu menegaskan kepada anak-anak, penulis yang baik adalah pembaca yang baik.

Kunjungan ke bazar buku, perpustakaan daerah, dan toko buku merupakan stimulus agar para santri memiliki pengalaman tubuh langsung; agar mereka mencium aroma buku, meraba teksturnya, dan menumbuhkan kebiasaan pergi ke perpustakaan tanpa paksaan, serta tidak pelit membeli buku. Anak-anak yang saya bawa kurang lebih berjumlah tiga belas orang dari jenjang SMP hingga SMA. Sebagian tampak antusias memilih buku, sebagian lagi sibuk berfoto, dan ada juga yang sibuk menghitung isi dompetnya.

“Pak Encep nggak bilang sih kalau mau ke Gramedia juga. Saya tidak menyiapkan uang banyak,” keluh As-Syifa Safitri sambil cemberut kayak anak kecil. Tapi, setidaknya dari sini ia dan teman-temannya tahu, suatu hari bila mau datang lagi wajib bawa uang yang cukup (untuk tidak mengatakan banyak). Saya hanya tersenyum mendengar keluhan polos itu. Di satu sisi, mereka mulai belajar menghargai nilai buku; di sisi lain, saya tahu bahwa membeli buku bagi sebagian santri bukan perkara sepele. Namun, justru di situlah letak pelajaran hidup mereka, memahami bahwa pengetahuan memang mahal untuk dibeli.


Kedatangan kami di Gramedia disambut ramah oleh para karyawan. Salah satunya, Uki, yang menjadi PIC Gramedia Kota Serang, menawarkan kerja sama kegiatan literasi bila nanti kami datang kembali. “Kami punya banyak program, Pak,” katanya antusias. “Ada Ngaji Literasi dan kegiatan Nusa Membaca—kelas membaca di mana kita ngumpul bareng, baca buku, diskusi, lalu bikin game seru buat peserta. Kalau nanti ada kegiatan bareng santri, boleh banget kolaborasi.”

Ajakan itu tentu saya sambut dengan gembira. Literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga membangun ekosistem pertemanan yang menghidupkan semangat belajar. Dunia literasi akan mati tanpa ruang perjumpaan.

***


Di ruang lain, bulan berikutnya, saya mengajak anak-anak saya ke Gramedia BSD Tangerang. Seperti halnya saya mengajak anak-anak santri saya, yakni membiasakan kaki menginjak lantai toko buku langsung. Saya kaget, anak saya malah minta beli komik One Piece. Sejak kapan ia suka baca komik. Tapi, ini sesuatu yang membahagiakan karena anak saya yang minta—walaupun sejak balita juga sering saya ajak untuk beli buku cerita. Di Gramedia BSD, saya tahu buku mahal-mahal dan tentu saja saya PD karena bawa banyak uang walaupun pada akhirnya hanya beli satu buku berjudul Filosofi Teras karya Henry Manampiring (Om Piring). Bukunya terus menembus pasar dan cetak ulang berkali-kali. Saat saya baca pengantarnya, saya menelan ludah. Bayangkan, sejak terbit pertama pada 2018 hingga kini (yang saya beli cetakan Juni 2025), cetakannya sudah mencapai edisi ke-82. Pada 2023 saja, buku itu sudah terjual 275.000 eksemplar. Pada 2024 terjual 500.000 eksemplar. Bisa jadi kini sudah menembus angka 1 juta eksemplar. Katakan saja harga buku Rp108.000 dan anggap saja royalti penulis 10%, maka dari buku yang terjual 1 juta eksemplar itu, ia sudah mengantongi hasil buah pikirnya sebesar Rp10.800.000.000 (baca: sepuluh miliar delapan ratus juta rupiah).

Buku yang ditulis dengan gaya ringan dan relevan dengan keresahan manusia modern itu benar-benar “hoki”, terutama karena lahir di masa yang tepat: bertepatan dengan Pilpres dan pandemi COVID-19. Saat orang-orang stres di rumah, butuh ketenangan batin, filsafat Stoik justru menjelma menjadi obat hati. Di YouTube, tokoh-tokoh seperti Fahruddin Faiz, Martin Suryajaya, dan Habib Ja’far membicarakan filsafat dengan gaya populer. Dunia maya pun mendadak menjadi kelas besar filsafat terbuka.

Gokil sih! Buku satu bisa menembus puluhan kali cetak ulang dan mengalirkan royalti terus-menerus. Sementara kita—yang mungkin para penulis kecil di pinggiran—kadang menulis banyak buku pun, belum tentu laku. Dunia buku itu memang dunia keberuntungan. Buku bagus belum tentu laku; buku menang sayembara pun belum tentu dicetak ulang. Kadang yang laku justru buku sederhana yang hadir di waktu yang tepat. Maka saya percaya, menulis itu bukan hanya soal kualitas, tapi juga nasib. Barangkali kita belum bernasib “beruntung” saja. Tapi siapa tahu, suatu hari nanti, ada satu buku kita yang tiba-tiba meledak tanpa bisa dijelaskan alasan rasionalnya.

Di sisi lain, nasib sebuah buku memang lucu. Misal Anda beli satu buku di bazar dengan harga 3 ribu. Teman Anda membelinya, lalu menjualnya lagi 10 ribu kepada orang lain. Orang itu menjualnya lagi 50 ribu. Hingga akhirnya buku itu menjadi barang langka dan dijual 1 juta. Penulisnya? Tak dapat sepeser pun. Royalti si penulisnya dari buku itu sudah jadi tai dan kenangan (kontraknya dengan penerbit sudah kelar), tapi bukunya masih berkeliaran. Penerbit, penulis, tak ada urusan dengan harga jual tersebut karena itu buku asli yang sudah sah dibeli orang lain.

***


Di tahun ini, tepatnya akhir tahun 2025, agenda penulis begitu riuh. Kegiatan menulis, lomba sastra, dan pelatihan tumbuh menjamur di mana-mana, baik dari komunitas maupun pemerintah. Sebagian penulis berbahagia. Mereka berswafoto, berpamer ria berkegiatan ini dan itu. Menulis ini dan itu. Dunia literasi kita seperti sedang berpesta: ramai, tapi kadang kehilangan arah.

Di ruang kelas atau di ruang komunitas, saya sering bertanya: dalam karyamu itu, kamu mau menawarkan apa? Apakah hanya ingin mendapat honor media atau hadiah lomba? Atau sekadar ingin terlihat produktif dan diakui? Banyak yang menulis puisi dengan kata-kata yang dipaksakan indah agar tampak memesona; ada yang menulis cerpen dengan alur ruwet biar terkesan sastrawi; ada pula yang menulis esai dengan tumpukan kutipan biar tampak intelektual. Padahal, semua itu hanya kulit. Menulis bukan hanya tentang bagaimana membuat orang lain terkesan, melainkan juga bagaimana kita jujur menyampaikan apa yang sungguh kita rasakan dan pikirkan--zaman sekarang pikiran kita mungkin dijajah AI, ia yang disuruh bekerja sepenuhnya, bukan menjadi "teman" diskusi. Semua orang memang sedang mencari bentuk dan makna. Ada yang ikut-ikutan tren, ada yang bertahan dalam keaslian meski tetap jelek. Ada pula yang terus berlatih sampai menemukan kekhasannya sendiri. Dan ketika seseorang sudah sampai di puncak kematangan menulis—di mana bentuk dan gaya telah matang, dan bahasa sudah menyatu dengan dirinya—kadang justru muncul kebingungan baru: setelah ini, mau apa lagi? Mungkin di situlah paradoks dunia kepenulisan: ketika sudah pandai menulis, kita kembali ke titik hening, tak tahu harus menulis apa, bahkan harus membaca apa.

Kiara, 14 Oktober 2025


__________


Penulis


Encep Abdullah, penulis yang memaksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai dewan redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak—tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya.


redaksingewiyak@gmail.com 

Tuesday, October 7, 2025

Proses Kreatif | Sebelum Menulis Esai

Oleh Encep Abdullah 



Pertama, kita awali dengan basmalah! 


Kebanyakan penulis lupa berdoa sebelum menulis. Seolah dianggap tak penting. Padahal, berdoa berarti ada nilai luhur di sana, yakni spiritual. Apa yang Anda tulis akan dibaca banyak orang. Tulisan Anda sedikit-banyaknya akan berpengaruh terhadap diri Anda dan orang lain. Setidaknya, dengan berdoa, apa yang Anda tulis punya energi dan ruh yang berbeda karena Tuhan berperan di sana. Kalau Anda nonmuslim, berdoa sesuai keyakinan Anda. Kalau Anda ateis, berdoa dengan ketidakateisan Anda. 


Kedua, apa yang dilihat di sekitar Anda? 


Sering kali kita abai terhadap sesuatu yang terlihat di sekitar kita. Padahal, setiap apa yang kita lihat bisa jadi tak akan terulang lagi, seperti halnya momentum seorang fotografer yang melihat keunikan seekor burung “nangkring” di pohon. Bisa jadi besok tidak ada lagi peristiwa itu. Oleh sebab itu, dengan cepat dan tanggap, seorang fotografer harus langsung menjempretnya. Begitu juga saat Anda hendak menulis. Dulu, saya sering mencatat langsung di HP dan buku catatan terkait hal-hal kecil yang terjadi di sekitar saya. Seperti halnya fotografer tadi, mencatat momentum. Tidak harus utuh, bisa berupa potongan-potongan pikiran yang mungkin sepintas lewat dalam pikiran. Karena, tidak semua peristiwa bisa langsung dieksekusi menjadi tulisan utuh. Untuk beberapa hal, kadang saya tulis di SW atau Facebook. Kelak, nanti jadi bahan untuk ditulis.


Ketiga, apakah Anda merenungi setiap peristiwa yang dialami? 


Setiap orang punya pengalaman yang berbeda sekalipun peristiwanya sama, misalnya pengalaman “ditolak cewek” atau hal-hal metafisik seperti salat, puasa, haji, dst. Perbedaannya, yang membuat pengalaman itu menjadi berharga terletak pada kontemplasinya. Coba Anda perhatikan para filsuf, para sufi, para sastrawan, misalnya. Mereka itu para perenung sejati. Mereka merefleksikan setiap peristiwa, bahkan hal-hal kecil yang luput dari pengamatan orang pada umumnya. Seperti halnya pernyataan Sokrates yang terkenal itu: “Hidup yang tak diperiksa adalah hidup yang tak layak untuk dijalani”. Beberapa buku yang saya tulis juga berangkat dari apa yang saya alami dan renungi. Bagaimana lika-liku pertarungan saya selama belasan tahun menekuni dunia kepenulisan dan komunitas. Bahkan, saya juga menulis buku catatan pernikahan dan tingkah laku anak-anak saya yang menurut saya itu sangat berharga untuk diabadikan, bahkan banyak orang yang suka—padahal menurut saya, itu cerita receh dan sempat ditegur oleh Arip Senjaya karena harusnya saya tidak menulis buku macam begitu. Tapi, semua itu proses, juga momentum yang memang refleksi saya sedang seputar itu. Saya tidak menyesali setiap karya yang saya lahirkan. Jadi, mulai saat ini rajin-rajinlah Anda memeriksa, merenungi, merefleksikan setiap peristiwa yang Anda alami. Jangan disimpan sendiri, tapi sebarkan kepada publik.


Keempat, bertanyalah kepada diri sendiri, buku apa yang sudah Anda baca? 


Bila Anda terlahir dari orang tua yang berpendidikan dan literat, selamat, berarti langkah Anda bisa lebih mudah sebelum menuliskan sesuatu. Anda yang terlahir dari keluarga atau lingkungan yang membaca, saya yakin akan berbeda cara berpikirnya. Saya selalu percaya itu karena saya juga mengajar di dua sekolah yang berbeda, yang tingkat literasinya juga berbeda. Yang satu, penduduknya doyan baca. Yang kedua, tidak terlalu suka—biasa saja (untuk tidak mengatakan cuek). Perbedaannya sangat kontras, baik mental, cara berpikir, berbicara, maupun menulisnya. Ada satu murid saya, dia badung, jarang masuk kelas, jarang mengerjakan tugas, tapi dia rajin baca. Saat saya kasih tugas menulis, kebetulan dia menulis esai, tulisannya sangat bagus dan filosofis. Karena badung, saya tidak terlalu banyak tahu tentang anak ini. Lalu, saya tanya “Kok bisa kamu menulis dan berpikir semacam ini?” Ia menjawab “Mungkin karena banyak baca buku kali ya, Pak.” Walaupun dia sendiri tidak yakin, saya sangat yakin memang itu salah satu faktor utamanya. Orang-orang yang tidak membaca buku, biasanya pikirannya semrawut dan berantakan saat menyusun kalimat. Anda boleh percaya, boleh juga tidak. Lalu, bagaimana dengan Anda yang memang tidak terlahir dari keluarga atau lingkungan yang membaca? Stop sekarang! Mulai saat ini, mulailah dari diri Anda! Jadilah pembaca buku sebagai upaya pengembangan diri bahkan perintah Tuhan “Iqra”—walaupun artinya sangat luas, tidak hanya membaca buku. 


Kelima, karya apa yang pernah Anda tulis?


Masa SMA saya senang menulis puisi dan diary—salah satu efek jatuh cinta melanda saya saat itu. Saya menulis secara acak dengan bahasa apa adanya. Kalau saya baca ulang, saya menemukan diri saya yang “alay”, “masa puber”, bahkan “menjijikan”. Tapi, itu proses. Bagi saya, tidak ada karya yang buruk selama sedang berproses. Beda cerita bila Anda sudah bertahun-tahun menulis, tapi tidak ada perubahan sedikit pun pada karya Anda, berarti Anda tidak belajar dengan sungguh-sungguh, atau tidak konsisten/istikamah dengan benar, atau tidak totalitas, atau memang tidak punya bakat (?)—mungkin kita bisa mendiskusikannya di luar tulisan ini: tentang bakat dan keterampilan, Anda percaya mana? 


Keenam, ingat-ingatlah pesan Buya Hamka—saya kutip dari film Buya Hamka 2


”... mengaranglah dengan ilham, tulislah apa yang kau lihat, yang kau alami, yang kau rasakan. Nah, setelah itu, baru lengkapi dengan bacaan.” 


***


Tentang esai, kalau Anda belum tahu siapa bapak esai pertama, saya kasih tahu. Ia bernama Michel de Montaigne yang hidup di abad ke-16 (1533-1592). Pria berkebangsaan Prancis ini menerbitkan buku berjudul Essais pada tahun 1580 yang kemudian dilanjutkan oleh penulis Inggris Francis Bacon tahun 1597 dengan kemasan lebih ringkas dibandingkan dengan tulisan Montaigne. Bedanya, Montaigne menulis lebih personal, sedangkan Bacon lebih umum/universal. Kemudian, bermunculan esais setelahnya, di antaranya John Locke (abad ke-17), Immanuel Kant (abad ke-18), Charles Baudelaire (abad ke-19), George Orwell (abad ke-20), dan Albert Camus (abad ke-20). Di Indonesia ada Sutan Takdir Alisjahbana, H.B. Jasssin, Goenawan Muhamad, Soekarno, Budi Darma, Gusdur, Mahbub Djunaidi, Emha Ainun Nadjib, Eka Kurniawan, hingga yang kekinian Iqbal Aji Daryono. 


Kata essayer dalam bahasa Prancis (atau essay dalam bahasa Inggris) berarti ‘percobaan’ atau ‘usaha’. Hampir keseluruhan isi buku Montaigne adalah berbicara tentang diri sendiri, bahkan ia mengatakan "Saya sendiri adalah persoalan dari buku saya". Mungkin pernyataan ini bisa kita renungkan bersama. Sebagaimana yang disampaikan Agus R. Sarjono dalam sebuah pengantar buku Horison Esai Indonesia Kitab 1. Singkatnya begini: (1) Anda menulis sastra, fokus Anda pada subjek dan kaidahnya [objek dikesampingkan]; (2) Anda menulis karya ilmiah, fokus Anda pada objek dan kaidahnya [subjek dikesampingkan]; (3) Anda menulis esai, fokus Anda pada subjek dan objeknya [kaidah dikesampingkan]. Artinya, yang disampaikan Montaigne “Saya sendiri adalah persoalan ...” karena memang diri Anda yang menjadi subjek dan objek untuk dituliskan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ignas Kleden dalam penutup buku Horison Esai Indonesia Kitab 2 bahwa esai mempunyai posisi yang unik karena ia membuka dirinya terhadap objektivitas maupun subjektivitas. 


Apa kira-kira yang ada dalam diri Anda tentang subjek dan objek ini, tidak lain adalah diri Anda dan pengalaman Anda (yang direfleksikan). Boleh jadi Anda memadukan antara sesuatu hal yang sudah terjadi, sedang terjadi, atau kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Barangkali inilah yang disebut “percobaan” atau “upaya” itu. Biar tidak panjang lebar, mari kita baca contoh potongan esai para penulis berikut. 


_________


“Imajinasi yang kuat menciptakan peristiwa itu sendiri,” kata para sarjana. Saya termasuk orang yang merasakan kuatnya kekuatan imajinasi. Semua orang terkena dampaknya, tetapi ada yang sampai tumbang olehnya.


Imajinasi meninggalkan bekas yang dalam pada diri saya; saya tidak memiliki kekuatan untuk menolaknya. Maka, keahlian saya hanyalah menghindarinya—dengan cara hidup di antara orang-orang yang sehat dan ceria. Melihat penderitaan orang lain dapat menimbulkan penderitaan fisik dalam diri saya; perasaan saya kerap dikuasai oleh perasaan orang lain. Orang yang batuk terus-menerus bisa membuat paru-paru dan tenggorokan saya ikut teriritasi. Saya lebih enggan mengunjungi orang sakit yang wajib kukunjungi dibandingkan dengan mereka yang tidak terlalu kukenali atau kusayangi. Ketika saya memperhatikan penyakit, saya justru ikut terkena dan seakan menanamkannya ke dalam tubuh saya sendiri. Saya tidak heran jika imajinasi membawa demam dan kematian bagi mereka yang memberi jalan dan ruang sepenuhnya padanya. (Michel de Montaigne dalam esai “Kekuatan Imajinasi” [Essais Volume I]) 


_________


Pada masa kecil memang saya menghafal, tetapi bukan dalam bahasa Ibu, melainkan dalam bahasa Arab dan Belanda. Tetapi ketika sudah sedikit berakal, saya sesali dan saya bantah kebiasaan saya itu. Ketika itu saya sadar, bahwa kebiasaan menghafal tidak menambah kecerdasan, malah menjadikan saya bodoh, mekanis, seperti mesin. Yang saya ingat bukan lagi arti sebuah suatu kalimat, melainkan bunyinya atau halaman buku di mana kalimat tadi tertulis. Pula kalau pelajaran itu terlalu banyak, sudahlah tentu tak bisa dihafalkan lagi. Tetapi saya juga mengerti gunanya pengetahuan yang selalu ada dalam otak. Begitulah saya ambil jalan tengah: padu yang baik dari kedua pihak. (Tan Malaka dalam ”Pendahuluan MADILOG”)


_________


Antara biru langit dan biru laut, kapal kami melaju. Di hadapan terbentang horison, kakilangit yang melambai dan selalu luput dari gapaian. Kabut sudah lama berangkat. Matahari berleha-leha di angkasa sambil melambaikan panas pagi dan cahayanya. Lalu, bermunculan di jauhan sana pulau-pulau batuan dalam warna oker, seperti pinggul perawan, bagai puisi tak tertuliskan. Pak Hasanuddin sang nakhoda bersandar santai dengan rokoknya, sekilas memandangi kapalnya yang lumayan besar itu hanya berisi sedikit penumpang. Penyair Taufiq Ismail bersandar santai di dinding geladak. Membaca buku panduan tulisan orang asing (tulisan siapa lagi?) tentang tanah airnya, sambil sesekali mencocokannya dengan posisi perahu. Mungkin dia mengenang masa remajanya dulu, bersandar di geladak kapal melintasi lautan besar dan benua menuju Amerika sana. Masa-masa muda yang jingga. Yang kini menjelma kakilangit, jauh di sana. (Agus R. Sarjono dalam esai ”Laut, Komodo, Sastra” [Horison Esai Indonesia Kitab 2])


_________


Sejumlah santri senior menghadap kiai. Perkara yang mereka bawa sudah gawat. Sudah diambang batas toleransi. Maka, jalan keluar harus ada demi nama baik pesantren.


”Kia,” kata salah seorang santri. ”Kita mesti bertindak sekarang juga.”


Kiai yang sudah tua itu manggut-manggut. Wajahnya memancarkan sikap simpati yang dalam pada perjuangan para santri. Upaya mempertahankan tegaknya kewibawaan pesantren memang luhur. Mengapa barang luhur tak harus didukung?


”Bukan apa-apa, Kiai,” sambung yang lain. ”Dia sudah keterlaluan.”


Kiai masih manggut-manggut.


”Apa perlu dia kami panggil menghadap kiai?” tanya santri yang lain lagi.


”Tidak, ” sahut kiai kalem.


”Lho?” para santri kaget. ”Kalau begitu, apa yang harus kami lakukan?”


(Mohamad Sobari dalam esai ”Anak Nakal” [Horison Esai Indonesia Kitab 2])


_________


Rasa tidak tegaan yang terlalu cengeng dan bekal hidup berupa rasa bersalah di dalam jiwanya kepada Tuhan yang terlalu dimendalam-mendalamkan, membuat Markesot mengambil kuda-kuda rohani dan takaran sosial seolah-olah ia seorang Nabi, atau sekurang-kurangnya seorang Wali.


Tetapi sama sekali tidak dengan bekal ilmu, kekuatan mental, kualitas rohani dan kecerdasan sejarah sebagaimana layaknya Tuhan menganugerahkan kepada utusan-utusan-Nya. Markesot bahkan bukan orang istimewa yang memiliki keunggulan atas sesama orang awam pun. Markesot tidak punya keunggulan ilmu, pengetahuan, kepandaian atau kehebatan-kehebatan apapun.


Aslinya terus terang bahkan Markesot tidak cukup berpendidikan. Di Pesantren hanya satu-dua tahun, sekadar diajari alif ba ta ditambah beberapa mahfudlat dan satu dua ayat dan hadits. Jangan sekali-sekali mempersoalkan apakah dia belajar Kitab Kuning, mengetahui khazanah ilmu-ilmu agama dari abad ke abad, atau apakah dia mengerti nahwu sharaf. Sebab jawabannya sangat terang benderang: sama sekali tidak. (Emha Ainun Nadjib dalam esai ”Markesot Patah Hati”, 31 Maret 2016, https://www.caknun.com/2016/markesot-patah-hati/)


_________


Ceritanya, ada dua kawan cewek sedang ngobrol. Saya nguping. Persis ketika obrolan mereka menyerempet topik bau badan, mereka ngikik bersama. Tapi tiba-tiba keduanya lekas menyetop tawanya, waktu sadar saya sedang di dekat mereka!


Saya merasa sedang membaca kode gamblang semacam: “Eh orangnya di sini!”


Cleguk! Bau ketek! Asemmm! Setengik itukah ketek saya??


Dengan panik, segera saya mencari kepastian. Saya bertanya ke orang-orang terdekat. Tentu emak saya yang paling bisa saya tanyai. Dan ternyata, segalanya terkonfirmasi. Ini benar-benar aib tak tertanggungkan.


Mekanisme konfirmasi atas bau ketek itu memang vital dan mendasar. Kita telah kehilangan jarak objektif dengan tubuh kita sendiri. Kita tidak bisa menilai badan kita, terutama perkara bau. Manusia dibekali kemampuan berdaptasi yang terlalu sempurna atas bau. Bau busuk yang terus-menerus Anda hirup lama-lama akan netral saja di hidung Anda. (Iqbal Aji Daryono dalam esai ”Bau Ketek, Akar Konflik Sosial Paling Serius”, 3 November 2019, https://mojok.co/esai/bau-ketek-akar-konflik-sosial-paling-serius/#goog_rewarded)


_________


Menulis esei? Tentu saudara bisa, asal mau. Jangan kuatir yang penting bagi seorang esais atau kritikus hanyalah kelihatan pandai. Untuk kelihatan pandai Saudara dapat menempuh jalan cepat. Bukankah kita mempunyai kebudayaan ingin cepat mendadak, asal jangan sakit mendadak atau melarat mendadak? Saudara tidak perlu heran mengetahui bahwa sulap sudah diangkat menjadi saudara kandung sastra. Untuk kelihatan pandai Saudara bisa main sulap. Buatlah esei dengan kutipan dari sini situ, dari pengarang ini itu. Kalau perlu premis esei Saudara pun dapat Saudara mulai dengan kutipan entah dari mana, yang dapat memberi kesan bahwa Saudara pandai .... Atau Saudara pun dapat mengutip dari sana-sini yang memang benar-benar pernah diucapkan oleh orang ini dan itu, tapi lupakanlah konteksnya. Saudara tidak perlu merasa mengecoh, karena memang Saudara mengecoh. Saudara tidak perlu merasa pandir, karena Saudara kelihatan pandai. Dan membaca banyak tidak mempercepat Saudara mengetahui sesuatu. Membaca sedikit di sini sedikit di sana, melompat ke sini dan melompat ke sana, tentu lebih menyenangkan karena mendadak Saudara tahu banyak. (Budi Darma dalam esai ”Pemberontak dan Pandai Mendadak” [Solilokui, Gramedia, 1983])




Kalau Anda baca contoh-contoh di atas, teknik bagaimana mereka menulis esai begitu beragam. Barangkali esai tidak mengenyangkan sebagaimana Francis Bacon bilang bahwa esai lebih sekadar butir-butir garam pembangkit selera ketimbang sebuah makanan. Setidaknya, esai bisa jadi teman ngobrol santai Anda. Merefleksikan bersama tentang pengalaman dan segala kemungkinan dalam hidup. Meski sering kali, ia juga cerewet, jahil, nakal, sinis, bahkan humoris. Semua bergantung kepribadian si penulisnya. Bahkan, ada esai yang sengaja dimumet-mumetin biar terlihat keren dan sengaja bikin orang pusing. Nah, kalau Anda lebih suka yang mana dan mau menulis model esai yang bagaimana?


Selamat menulis!



Kiara, September 2025



Catatan:

Tulisan ini adalah materi yang disampaikan dalam acara Diklat Belistra (Bengkel Menulis dan Sastra) FKIP Untirta pada Sabtu, 27 September 2025 di Vila Bukit Cibetik, Taktakan, Serang.


__________


Penulis


Encep Abdullah, penulis yang memaksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai dewan redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak—tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya.



redaksingewiyak@gmail.com 

Tuesday, September 30, 2025

Proses Kreatif | Sastra, Ruang Perjumpaan, dan Kemungkinan "Onani"

Oleh Encep Abdullah


Sejak SMA Kediman sudah suka menulis puisi. Bahkan ia menembak cewek dengan puisi. Namun, ditolak. Nah, dari situlah tulisannya makin banyak. Hingga menuju ke ranah cerita pendek. Lalu, Kediman kuliah. Tak nyana, ia masuk jurusan bahasa dan sastra Indonesia—pilihan ayahnya saat pertama kali akan ikut tes kampus, padahal sebenarnya pilihan utamanya bukan jurusan itu, melainkan ilmu komunikasi. Walaupun Kediman suka menulis puisi, bukan berarti ia berminat masuk kuliah jurusan sastra begitu. Tidak ada dalam kamus peta hidupnya. 

Namun, semua berkata lain. Kediman pun akhirnya masuk ruang kelas. Kepalanya agak mumet mendengarkan penjelasan dosennya di kelas, yakni tentang formalisme Rusia, semiotik, strukturalisme, postmodernisme, dst. Istilah-istilah yang sangat asing di telinganya. Karena Kediman mahasiswa yang baik, biar bagaimana pun ia tetap mendengarnya. Di kampus, Kediman pun ikut organisasi sastra. Tak lama kemudian, ada agenda kajian, pembicaranya bergilir dan semua anggota kebagian jatah menjadi narasumber. Kebetulan Kediman mendapatkan jatah membahas ”Sastra Sufistik”. Tema yang mungkin ”selentingan” pernah ia dengar di ruang kelas.

Kediman pun belajar. Mencari bahan materi. Ia membaca dari berbagai sumber tentang “Sastra Sufistik”. Sebenarnya agak berat bagi Kediman karena ini masih sangat asing dan entah akan jadi seperti apa nanti saat kajian tiba. Karena Kediman memang sudah menyiapkan segalanya, pada malam itu ia berhasil melewati satu momentum penting dalam hidupnya: menjadi narasumber. Setelah itu ada semacam kesenangan berbicara di depan forum dan ia juga mulai mengikuti segala aktivitas kepenulisan dan kesusastraan baik di kampus maupun di luar kampus.

Zaman itu sastra cyber sedang mencuat. Sastra punya tempat di berbagai tempat: blog, medsos (FB terutama), dan web-web. Di sana, Kediman mulai akrab dengan media blog dan menulis banyak hal di sana. Karena memang ini sesuatu yang sudah ia lakukan sejak SMA—juga senang ilmu komputer—dunia cyber menjadi sesuatu yang tak lepas dari hidupnya. Apalagi Kediman punya laptop (buat di kampus) dan komputer (di rumah). Kediman juga sangat rajin bermain di warnet saat itu—karena belum ada wifi—dan kepincut mengikuti banyak kegiatan lomba menulis antologi buku. Akhirnya, beberapa tulisan Kediman masuk dalam antologi, bahkan ada adik kelasnya yang bilang bahwa pernah baca tulisan Kediman, dan buku itu dibeli di toko buku besar. Kediman makin melayang-layang. Sejak itu, ia makin menjadi-jadi.

Ada satu momentum tak terduga. Kala itu ada informasi kegiatan pelatihan cerpen selama seminggu di luar kota yang diselenggarakan oleh pemerintah. Kediman terpilih menjadi salah satu peserta. Ia bertemu dengan rekan-rekan dari berbagai daerah bahkan dari negara tetangga. Ia berjumpa dengan sastrawan-sastrawan hebat di sana. Selama seminggu ia dikarantina mengkaji dan membedah cerpen bersama dengan peserta lain, juga didampingi oleh para mentor sastrawan ternama. Dari sana, ia mendapatkan banyak pencerahan. Betapa pertemuan semacam ini membawa energi yang luar biasa baginya. Sepulang dari kegiatan itu, energi menulisnya menjadi sangat dahsyat. Karya-karyanya akhirnya dimuat di media massa. 

Kediman tak merasa puas dengan satu perjumpaan. Ia ingin mencoba dan berupaya mengikuti aktivitas lainnya: pertemuan dengan para penulis, para sastrawan, para pegiat literasi. Kediman pun akhirnya berkesempatan ikut beberapa pertemuan kepenulisan. Kadang tidak semua kegiatan ia sukai. Kadang baginya sangat menjengkelkan, misalnya kegiatan-kegiatan yang dalam satu ruangan penuh asap rokok, padahal pesertanya banyak juga perempuan. Ia agak muak dengan gaya-gaya orang yang sok dan si paling sastrawan dalam acara itu. Bahkan biar kelihatan seniman, kebanyakan rambut mereka sengaja urakan, atau pakai topi ala Sapardi atau Putu Wijaya. Kadang, baca puisi sesuka hati di sembarang tempat biar terlihat sastrawan bingit! Tapi, Kediman tetap ada rasa bahagia bisa bertemu dengan teman-teman barunya dalam acara meskipun acaranya tidak jelas arahnya—lebih ke arah euforia, hedonis, gaya-gayaan. 


Kediman sadar, barangkali itu sebuah fase teman-teman barunya itu, juga fase Kediman sendiri—fase yang mungkin berlaku bagi kaum apa saja: tua atau muda. Sebenarnya Kediman jarang memerhatikan konsep acara. Ia lebih senang berjumpa dengan wajah-wajah baru. Atau berniat sekadar reuni dengan kawan lama. Yang penting silaturahim, bisa jalan-jalan dan refreshing. Sering kali Kediman dan rekan-rekan barunya, usai kegiatan masih terus berkomunikasi dan bertukar pikiran, bahkan saling mengundang di kemudian hari, atau berbisnis proyek penerbitan buku, dan sebagainya. Jadi ada semacam simbiosis mutalisme. Barangkali ada juga yang membencinya.


Bagi Kediman, tak pernah ada yang sia-sia dari perjumpaannya dengan para penulis atau sastrawan di mana pun itu. Muda dan tua. Produktif dan tak produktif. Mereka yang ikut dengan niat pamer, atau sekadar ingin reuni, atau nongkrong semata, Kediman sekali lagi tak pernah ambil pusing. Semua punya jalan masing-masing. Seperti yang ia sampaikan di awal, tujuannya buat ngecas diri agar energi tidak habis. Sayangnya dan nyatanya, mungkin banyak juga temannya yang sepulang dari acara, malah melempem, hilang namanya, tak menulis dan berkarya lagi. Sebagian lagi tetap asyik ”beronani” dan berkata ”Setelah perjumpaan itu, aku sudah jadi sastrawan!”.

Sebagian lagi mencoba mengoneksi diri dengan orang-orang di sekitarnya, misalnya membuat klub baca, komunitas sastra, atau membuat media sastra. Juga mau berbaur dengan elemen masyarakat, bahkan pemerintah. Nah, dalam hati kecil Kediman, barangkali harusnya ini energi yang didapat setelah adanya ruang-ruang pertemuan itu. Bukan sekadar. Bukan pseudo. Bukan ajang swafotoan. Tapi, bener-bener ngecas diri. Kediman tahu, memang tidak semua orang punya pikiran semacam itu. Bisa jadi belum kepikiran, kira-kira kebermanfaatan apa yang akan dilakukan di masyarakat sepulang dari kegiatan semacam itu. Sebagiannya, mungkin kembali lagi ke kamar dan ”onani”.

Setidaknya, bagi Kediman, kalaupun tidak bermanfaat untuk lingkungan di sekitarnya dengan cara berbaur atau bermasyarakat, ia harus tetap punya energi menulis. Karena, hanya dengan itu bagi Kediman konektivitas dan keharmonisan dengan semesta bisa terjaga.

Kembali kepada persoalan konsep kegiatan-kegiatan entah sastra, kepenulisan, maupun literasi. Kediman pernah mengikuti satu kegiatan semacam jambore sastra. Pesertanya bukan hanya dari satu kalangan penyair saja, melainkan juga umum. Narasumbernya pun tak kaleng-kaleng. Asyiknya, dalam kegiatan ini, Kediman merasa sangat berbaur dengan para peserta yang hadir karena semua ikut terlibat tanpa ada satu pun yang hanya menjadi penonton. Peserta diajak untuk bersenang-senang bersama, bernyanyi bersama, berdiskusi bersama. Tidak ada satu agenda pun yang sia-sia. Saran Kediman, dalam ruang perjumpaan harusnya ruangnya seperti itu, tidak ada gep-gepan tua muda, sastrawan bukan sastrawan, dan seterusnya. 

Hingga kini, Kediman masih bertahan dalam dunia kepenulisan dan kesusastraan semata-mata bukan karena wajib ikut kegiatan ini dan itu, melainkan karena jiwanya memang sudah terlatih di sana. Kegiatan-kegiatan itu bagi Kediman tetap sangat perlu karena semacam ruang gembira—walaupun tak semua gembira. Ruang-ruang itu harus tetap hadir di tengah-tengah umat manusia agar hidup merasa tampak berguna. Merasa terseleksi menjadi bagian dari. Merasa terseleksi menjadi orang yang termasuk. Merasa tercatat dalam sejarah—meskipun dalam pikirannya sendiri. Kediman pun sering kali masih terjebak begitu. Seperti, ”Aku sudah menjadi” padahal sejatinya belum menjadi. Namun, kenyataannya Kediman sudah ke sana kemari diundang menjadi narasumber sastra dan kepenulisan, serta masih tetap produktif menulis—apa saja. Artinya, rentetan peristiwa Kediman sejak SMA hingga kini masih terjaga dan berkesinambungan. Ia tetap ada. Ia konsisten. Ia terus bergerak. Ia tidak ”onani”. Apakah ia layak disebut sastrawan? Wallahualam.

Oh, ya, apakah Anda tahu Kediman dan pernah bertemu Kediman? Atau minimal bertemu dengan orang yang punya karakter seperti Kediman, tolong kasih tahu saya.


Kiara, 30 September 2025


_____

Penulis


Encep Abdullah, penulis yang memaksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai dewan redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak—tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya.


redaksingewiyak@gmail.com 

Tuesday, July 22, 2025

Proses Kreatif | Apakah AI Sebangsat Itu?

Oleh Encep Abdullah


Selama liburan sekolah kemarin—kurang lebih satu bulan penuh—saya memanfaatkan waktu dengan banyak membaca buku dan ”bermain-main dengan AI”, lebih tepatnya sibuk nguprek banyak lagu ”mentah” yang saya punya. Lagu-lagu itu saya cover pakai AI. Saya pakai AI berbayar 200 ribu (dapat 2.500 kredit). Saya bisa mendapatkan sampel sebanyak 250 cover lagu—sekali cover muncul 2 sampel lagu dan begitu seterusnya. Satu lagu yang saya cover bisa langsung saya unduh. Kalau saya kurang suka, saya terus mencari cover-an yang menurut saya enak, bahkan saya bisa meng-cover 20 sampel untuk satu lagu. 


Bagi saya ini suatu kemudahan dan kenikmatan. Dulu, untuk menghasilkan satu lagu, saya harus meluangkan waktu minimal 6 jam di dapur rekaman, berbayar 350 s.d. 700 rb. Saya masih ingat, kalau tidak salah tahun 2009/2010, saya dan teman-teman band berangkat ke Jakarta untuk rekaman lagu. Di tempat kami memang belum ada studio rekaman yang bagus. Kami memilih berangkat ke Jakarta saja atas rekomendasi seorang teman. Saya punya dua band. Band pertama adalah Ghatick Band. Jujur, kami tidak punya uang. Salah satu dari teman kami punya kenalan ”pacar” yang kaya. Dia ngasih 700 rb.  Akhirnya kami berangkat dan rekaman satu lagu. Kami nginap di studio rekaman karena prosesnya cukup lama, semalaman. Lagu yang direkam adalah karya saya, tapi yang nyanyi bukan saya. Hasil musiknya jernih, tapi vokalnya ”hancur”.  


Setahun kemudian, saya kembali rekaman lagi dengan band yang berbeda, namanya Avira Band. Niat ingin jadi musisi terkenal memang sangat menggebu-gebu. Tapi, kami tidak punya label atau atau uang untuk naik daun. Akhirnya, band kedua ini pun sama, mencari dana buat rekaman. Namanya kami ”remaja gelandangan”, jadi tak punya uang. Mungkin karena kasihan melihat kami, orang tua salah satu personel kami memberikan uang 700 ribu. Kami berangkat lagi ke Jakarta dan rekaman dua lagu. Kali ini lagu yang direkam tidak di-mastering, hanya di-mixing. Hanya kena 350 rb per lagu. Hasilnya tidak sejernih yang 700 rb. Untuk rekaman satu lagu saja lumayan lama. Ini dua lagu, jadi dua kali lipat kami berlama-lama di studio yang dingin. Perut keroncongan karena tidak bawa uang banyak. Hasil lagunya, untuk vokal, lebih lumayan dari yang rekaman band pertama, cuma kualitas audionya yang kurang jernih.


Kalau ditanya, manakah yang lebih seru dan mengesankan? Tentu proses rekaman di studio langsung. Di sana ada proses berdarah-darah, pengalaman yang estetik, dan sejuta kenangan untuk diceritakan di masa depan. Sebelum rekaman itu, intensitas pertemuan band jadi lebih sering. Ini bukan sekadar pertemuan anak band, tapi pertemuan banyak ego yang harus manut pada satu keputusan bersama tentang sebuah lagu. Lagu siapa yang harus direkam, aransemennya seperti apa, dan seterusnya. Kami sedang belajar berdebat, menurunkan ego, menyelaraskan banyak pikiran yang berbeda. 


Dalam band, tentu tidak semua lagu ada yang suka. Maka, stok lagu saya banyak, tapi tidak masuk dalam daftar list band. Oleh sebab itu, saya memaksakan diri untuk solois. Namun, terkendala dengan suara yang ”hancur” ini. Ada niat rekaman, tapi bayangkan satu lagu dengan harga di atas, saya punya banyak lagu, saya perlu menyiapkan uang yang lumayan, sedangkan kebutuhan saya banyak. Ada niat dinyanyikan oleh orang lain yang bersuara merdu, tapi siapa. Saya benar-benar limbung. Uang, waktu, pikiran, tenaga, semua berkelindan. Akhirnya, saya paksakan saja bermain YouTube dan saya nyanyikan sendiri ala kadarnya. Saya kira, ini bukan soal suara, tapi soal karya. Dia tidak bisa ditahan-tahan. Tidak semua hal bisa saya tulis jadi puisi atau cerpen. Bermusik adalah salah satu bentuk ekspresi batin lainnya dari diri saya.


Sejak itu, saya selalu bermimpi ingin punya album sendiri. Bahkan saya sempat ”kursus” aplikasi musik digital dengan teman saya. Saya juga pengin belajar rekaman sendiri, punya studio mini sendiri. Tapi kenyataannya, waktu, kondisi, dan segala tetek bengek belum mendukung. Saya menyerah karena lelah sekali untuk sampai pada ”makom” mendukung itu. Saya punya banyak stok lagu, tapi kurang paham teknis rekaman, sedangkan teman saya sebaliknya, tapi tidak sebergairah saya dalam mencipta lagu. Fokus dia juga di bidang lain, bukan di bidang musik. Kenapa kemampuan dia tidak dilimpahkan kepada saya saja biar lebih memudahkan saya dalam berkarya. Ah, memang begitu, porsi kemampuan manusia itu memang unik-unik.


Ada satu lagu karya saya yang dengan suka rela dibuatkan instrumennya oleh teman saya itu. Dia mengambil sampel musiknya dari video di YouTube saya. Teman saya bilang, lagu saya bagus dan liriknya sangat mendalam. Lalu, dia meminta saya mengisi vokal dai aransemen yang sudah dibuatnya. Dan, alhasil suara saya memang tidak memuaskan. Tapi, saya berharap dia membuatkan semua instrumen lagu di YouTube saya—maksud saya biar gratis. Tapi, dia hanya tertarik pada satu lagu itu saja. Saya juga juga tidak memaksanya bikin instrumen itu dan saya juga tidak bisa membayarnya untuk membuat instrumen semua lagu saya. Akhirnya, lagu-lagu saya mengambang lagi.


AI datang, teman saya juga belajar ngulik. Setelah dia bisa, ilmunya ditularkan kepada saya bagaimana cara meng-cover lagu pakai AI. Nah, dari sinilah mimpi-mimpi saya terwujud. Semua lagu yang dulu saya idam-idamkan terekam dengan baik dan bisa jadi album. Kelar dengan berbagai warna vokal dan genre musik. Sebelum pakai yang berbayar, saya juga coba-coba pakai yang gratisan. Beberapa puisi saya, saya jadikan lagu, tapi saya merasa tidak puas karena nada lagu 100% AI yang buat. Saya tidak ikut andil. Kalau meng-cover, setidaknya nada-nadanya sama dengan nada yang saya buat. Tingkat kepuasannya berbeda. Namun, saya tetap merasa kurang kalau vokalnya bukan saya, atau minimal orang lain atau manusia yang menyanyikan. Oke, oleh AI enak sih enak. Tapi, selama itu robot, tingkat kepuasannya tidak klimaks. Dia juga tidak meninggalkan jejak kenangan estetik seperti halnya saya rekaman langsung di studio dengan band saya—walaupun hasil musiknya atau vokalnya kurang jernih, walaupun juga tenaga dan pikiran saya terkuras habis.


Sesosok manusia harus tetap hadir di sana agar menciptakan kenangan yang estetik itu. Setidaknya, vokalnya manusia, musiknya boleh pakai AI. Jadi, bila ditanya orang lain, siapa yang nanyi? Kita bisa menyebut nama vokalisnya. Ada manusianya. Kalau saya menjawab bahwa yang nyanyi adalah AI, orang yang bertanya itu mungkin hanya menjawab ”Oh ...”. Orang-orang jarang bertanya ”siapa yang main musik?” 


Mungkin makna lirik-lirik lagu yang saya buat itu punya kesan dan kenangan tersendiri buat saya. Saya senang dengan hasilnya yang bersih dan jernih, murah meriah pula. Tapi, di sini saya merasa tidak bertumbuh dengan dunia musik itu sendiri. Tidak menyelami tetek bengek dunia musik itu sendiri. Kenikmatan saya hanya pada hasil mencipta lagu, lalu meng-cover-nya dengan AI. Tidak ada proses ”berdarah-darah” di sana layaknya saya rekaman dengan band saya itu.


Begitu juga dengan kegelisan saya dalam menulis. AI ini sangat menggoda untuk dijadikan teman menulis. Saya punya novel, tidak kelar bertahun-tahun. Saya meminta AI untuk menyelesaikannya di bab terakhir. Akhirnya selesai juga novel saya. Walaupun saya tidak puas dengan hasilnya, tapi 90 persen cerita itu adalah hasil jerih payah saya. AI hanya menambal kebuntuan saya. Saya juga menggunakan AI untuk mengedit novel-novel anak didik saya. Saya tidak mungkin mengedit 10 novel anak murid saya dalam waktu singkat, dengan bahasa yang sangat hancur itu. AI membantu saya merapikannya tanpa mengubah alur ceritanya. Alhasil, karya mereka pun lahir tanpa typo, lebih rapi daripada aslinya. 


Karya anak-anak saya ini sebelum diedit, benar-benar original, hasil berpikir sendiri tanpa bantuan AI. Proses awalnya, mereka mencicil menulis di buku tulis. Saya bilang, satu minggu kalau bisa selesai satu bab. Mereka menulis selama satu semester. Semester dua, mereka mengetik ulang karya tersebut di laptop milik sekolah. Anda pasti tahu sendiri ketikan anak-anak sekolah bagaimana. Ejaan dan tanda bacanya sekarep dewek. Nah, AI sangat membantu saya dalam hal ini. Apakah karena saya tidak bisa mengedit? Bukan, saya bisa. Tapi kondisi, keadaan, tidak bisa memaksa saya untuk mengedit dalam waktu cepat. Kalaupun tidak ada AI, saya akan tetap mengedit. Tapi, mungkin akan jadi lebih lama, mungkin tahun depannya lagi buku itu jadi. Toh, saya juga tidak dibayar mereka, sukarela. Kalaupun dibayar, saya akan serahkan kepada editor, agar rezeki mengalir kepada orang lain. Pertanyaannya, apakah mengedit tulisan ke AI tidak pusing? Sama saja pusing. Kudu sabar. Apalagi kalau novelnya panjang. Tetap harus diperhatikan. Bisa jadi ada bagian terpotong kalau kita tidak jeli dan membaca ulang.


Saya tidak pernah mengajarkan kepada anak-anak didik saya untuk menulis instan dari AI. Ketiplek dari AI tanpa mikir. Sebisa mungkin mereka harus tahu dasar dan teknik menulis terlebih dahulu. AI itu bisa membantu kebuntuan, atau keterdesakan yang benar-benar terdesak, bukan dimanfaatkan untuk keseluruhan tugas. Saya juga jelaskan kepada mereka, bahwa yang mengedit tulisan mereka bukan saya, tapi AI. Mereka tetap merasa bahwa itu adalah karya mereka karena saya menyuruh AI memang hanya untuk membetulkan typo atau logika kalimat yang rancu saja. Anak-anak juga tampak senang saat bukunya jadi. Saya juga ikut senang. 


Selain itu, saya juga mengajarkan mereka untuk belajar dari AI. Bagaimana AI menyusun kalimat dengan baik. Misal mereka menulis cerita, lalu suruh AI untuk memperbaiknya. Saya suruh mereka bandingkan cerita yang mereka buat dengan hasil yang sudah dirapikan AI. Dia geleng-geleng. ”Kok, lebih bagus,” katanya. Saya bilang, ”Tapi, kamu jangan memanfaatkan AI seluruhnya. Kerja menulis harus tetap kamu lakukan. Kamu harus tetap belajar menulis dari nol sebagai proses kerja pikiran.” 


Dalam pembelajaran di kelas secara umum, saya malah sangsi bahwa karya tersebut benar-benar hasil karya anak-anak—kalau yang saya ceritakan di atas khusus di kelas ekskul menulis saya. Sering kali saya kecolongan. Mereka hanya plek-ketiplek nyuruh AI menulis dan mengerjakan tugas. Habis itu mereka rebahan lagi, main game lagi, tiktokan lagi. Bahkan, ada beberapa buku karya anak sekolah (di sekolah lain) yang saya terbitkan, hampir keseluruhannya pakai AI. Saya yakin gurunya tidak tahu, tidak paham. Yang penting tugas selesai. Anak-anak benar-benar tidak diberikan pengetahuan, keterampilan, dan teknis menulis terlebih dahulu. Ada juga guru yang menyuruh seluruh anak kelas yang diajarnya untuk kirim naskah lomba, dan hampir semuanya hasil AI, tanpa diolah terlebih dahulu. Si guru saya yakin tidak mengecek karya anak-anaknya. Sampai mereka menulis keterangan di e-mail lomba bahwa itu cerpen tugas dari gurunya. Kepada para guru, tolong jangan dibiar-lepaskan begitu saja anak-anak kalian dalam berkarya, apalagi lomba. Arahkan ke jalan yang benar! Kalau mau memanfaatkan AI, manfaatkan dengan benar. Kalau mau nol AI, kerahkan seluruh tenaga secara total.


Sebagai tenaga pengajar, sepertinya pengetahuan tentang definisi tak perlu banyak diajarkan. Anak-anak bisa mencari tahu sendiri. Juga bertanya sendiri. Yang lebih ditekankan adalah pendalaman tentang makna, praktik langsung (keterampilan), dan apa kaitannya dengan kehidupan. Mungkin sudah tidak relevan lagi menulis ”Puisi adalah ...” di papan tulis. Melainkan lebih mengurai, mengapa kita menulis puisi, bagaimana cara menulis puisi. Sudahi ice breaking-ice breaking yang tidak jelas itu. Belajar kok dikit-dikit ice breaking. Bagaimana kalau sosok kiai yang mengajar, tiba-tiba ice breaking-nya joget-joget. Kan lucu! Penekanan dalam proses belajar adalah karakter siswa. Jadi, tidak hanya belajar tentang A, B, dan C, tetapi juga belajar dari dalam dirinya sendiri dan menemukan suara uniknya yang melibatkan perasaan, pemaknaan, refleksi, kreativitas, dan koneksi sosial.


Kembali ke AI. Selama liburan, saya juga banyak bertanya kepada AI tentang hidup. Juga memintanya untuk menjelaskan poin-poin yang ada di buku (PDF). Bukan karena saya tidak mau baca, tapi bisa juga dikatakan sedang malas baca. Saya pengin tahu saja garis besar isinya apa. Tetap, membaca buku secara langsung diutamakan karena di sanalah kita berproses berpikir. Sebagaimana saat kita mendengarkan teman menceritakan film yang sudah ditontonnya atau buku yang sudah dibacanya, kita tetap harus menonton atau membacanya langsung. Kecuali tadi, malas atau sedang malas, atau memang malas. Sedang malas dan memang malas tentu tidak sama artinya. 


Anda mengandalkan AI tanpa mau membaca sumber aslinya, ya Anda akan mendapatkan apa adanya. Kalau yang tidak biasa membaca buku, repot. Tapi, bagi yang sudah hobi membaca, jawaban-jawaban dari AI malah menantang kita mencari sumber asli tulisan itu. Jadi, bukan sumber final. Karena yang dijawab AI, pada dasarnya (yang referensial) adalah bersumber dari buku yang sudah ada sebelumnya. Apakah dengan belajar pada AI kita bisa jadi pintar? Bisa jadi. Tidak menutup kemungkinan. Namun, bagi yang suka membaca buku (cetak atau PDF) dan mendapatkan kenikmatan darinya, AI tidak akan menjadi rujukan utamanya. AI hanya menjadi referensi tambahan, pemantik, atau sekadar teman ngebanyol


Selama liburan sekolah kemarin, saya juga iseng menerjemahkan 50 esai Mointagne pakai AI. Saya kesulitan mencari buku versi bahasa Indonesia-nya. Saya lemah dalam bahasa Inggris. Jadi, saya coba cari versi Inggris-nya lalu saya terjemahkan semua. Dalam waktu satu minggu, saya bisa menyelesaikannya dan mau saya cetak untuk dokumentasi pribadi. Saya bisa membacanya dengan lebih tenang dan terang walaupun saya tidak tahu metode atau teknis penerjemahan yang baik dan benar itu seperti apa. Tapi menerjemahkan dengan AI lebih saya percaya daripada dengan Google Terjemahan atau bahkan dari buku-buku terbitan penerbit tertentu yang kadang mumet dibaca. Tinggal diatur saja prompt terjemahannya pakai gaya ”bahasa” apa: nyastra, standar, atau apa adanya. Jujur, dengan AI ini, saya jadi banyak "mainan". Banyak hal yang bisa saya lakukan dan dapatkan. Tak bisa dijelaskan lebih detail. Mungkin harus Anda alami sendiri.


AI bagi penulis, pembaca buku, seniman, konten kreator, pemikir, seharusnya menjadi teman yang menyenangkan dalam proses kreatifnya sehingga menjadi pengalaman yang estetik, bukan sebagai sebuah ancaman atau bersifat pragmatis semata—demi tugas, dsb.  Seperti yang dikatakan George Orwell dalam esainya ”Mengapa Saya Menulis” (dimuat dalam buku Negara Saya Kanan atau Kiri yang diterbitkan BASABASI, Mei 2025):  


… saya tidak bisa menulis sebuah buku, atau bahkan artikel panjang untuk sebuah majalah, jika tak dilandasi dengan pengalaman estetik. (Hlm. 108)


Mari berkarya!


_____

Penulis


Encep Abdullah, penulis yang memaksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai dewan redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak—tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya.


redaksingewiyak@gmail.com 

Tuesday, July 8, 2025

Proses Kreatif | Jawaban Ust. AI tentang Hukum Menulis Novel Cinta-Cintaan

Oleh Encep Abdullah




Pertanyaan Pertama:

Bikin novel cinta-cintaan haram?


Jawaban:

Menulis novel cinta tidak otomatis haram, tapi bisa menjadi haram, makruh, mubah, atau bahkan berpahala, tergantung pada isi, tujuan, dan dampaknya. Inilah kaidah umum dalam syariat Islam terkait karya seni dan sastra.



📖 Dalil-Dalil Umum yang Jadi Rujukan

🧠 Kaidah Fikih

“Al-ashlu fil asyya’ al-ibahah”
“Hukum asal segala hal adalah mubah, kecuali ada dalil yang mengharamkan.”

Tapi juga:

“Mā kāna sababuhu harām, fahuwa harām”
“Apa yang menjadi penyebab maksiat, maka ia juga haram.”


💡 Novel Cinta Bisa Positif Jika:

  • Mengandung nilai moral: kesetiaan, kesabaran, menahan hawa nafsu

  • Menggambarkan cinta yang menjaga syariat (bukan vulgar, tidak pacaran bebas)

  • Menampilkan konflik batin, etika, dan perjalanan spiritual cinta

  • Ditujukan untuk refleksi jiwa, bukan rangsangan syahwat


❌ Novel Cinta Menjadi Haram Jika:

  • Mengandung adegan pelukan, ciuman, ranjang, atau bahasa sensual

  • Mengajak pembaca untuk berkhayal syahwat

  • Menjadikan pacaran bebas, zina, atau LGBT sebagai hal biasa

  • Merusak nilai keislaman dengan menormalkan maksiat



📌 Kesimpulan

Menulis novel cinta hukumnya boleh, bahkan bisa berpahala, asalkan:

  • Tidak melanggar batas-batas syariat

  • Tidak merusak moral pembaca

  • Bernilai edukatif, bukan erotik

Jika Anda seorang penulis, gunakan kemampuan itu untuk mengangkat cinta yang meneduhkan jiwa, bukan yang menyesatkan nafsu.



Pertanyaan kedua:

Bagaimana dengan novel-novel Eka Kurniawan?


Jawaban:

Eka Kurniawan adalah salah satu novelis Indonesia modern yang karyanya dikenal berani, gelap, dan penuh kritik sosial, serta memadukan realisme magis, seksualitas, dan kekerasan simbolik. Novel-novelnya seperti:

  • Cantik Itu Luka

  • Lelaki Harimau

  • Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

...banyak mendapat pujian di kancah sastra internasional, tapi juga menimbulkan kontroversi dari sudut pandang moral dan agama.



📌 Penilaian Ulama & Kaidah Umum

  1. Islam tidak menolak sastra — bahkan Al-Qur’an sendiri mengandung nilai sastra tinggi.

  2. Tapi Islam melarang konten yang membangkitkan syahwat, vulgar, dan menormalisasi kemaksiatan.

  3. Karya sastra boleh keras, pahit, bahkan nyentrik, asal:

    • Tidak mengajak ke haram

    • Ada bingkai nilai, tidak merusak akhlak pembaca

    • Tidak menampilkan adegan sensual sebagai “kenikmatan bebas”

Kaidah:
“Segala sesuatu yang membawa kepada haram, maka ia juga haram.”
— Kaidah fikih Sadd al-dzari’ah


 

🔍 Penutup: Maka, bagaimana menyikapi karya Eka Kurniawan?

  • Sebagai karya seni dan kritik sosial, ia punya tempat.

  • Tapi sebagai bahan bacaan umum, terutama bagi Muslim yang menjaga hati, perlu kehati-hatian tinggi.

  • Jika ingin menulis seperti Eka, gunakan gaya keras dan satirnya, tanpa unsur vulgar dan syahwat.




Pertanyaan Ketiga:

Kenapa jadi mabok agama menilai sastra begini?

Jawaban:

Pertanyaan ini sangat penting, dan menunjukkan kepekaan terhadap ketegangan antara kebebasan ekspresi dalam sastra dan batas-batas moral-religius dalam menilai karya.

Mari kita uraikan secara jujur dan seimbang.


🧠 1. Mengapa sebagian orang tampak “mabok agama” saat menilai sastra?

Karena mereka:

  • Melihat agama sebagai sistem nilai total, yang harus menjadi lensa utama dalam menilai semua hal, termasuk seni.

  • Mengikuti kaidah usul fikih:

    “Ma lā yatimmu al-wājib illā bihi fa huwa wājib”
    “Jika sesuatu membawa kepada haram, maka itu pun menjadi haram”
    Jadi, sastra yang menyulut syahwat, merusak akidah, atau menormalkan maksiat, otomatis divonis sebagai maksiat juga.

Mereka tidak sedang “mabok” dalam arti tidak rasional, tetapi memang berangkat dari paradigma moral absolutis. Bagi mereka, estetika harus tunduk pada etika syar’i.


📚 2. Tapi Sastra Bukan Agama — Bukankah Sastra adalah Ruang Imajinasi Bebas?

Benar. Dalam tradisi humanisme, sastra adalah:

  • Wadah ekspresi bebas,

  • Cermin realitas sosial dan batin manusia,

  • Tempat mengkritik, mengejek, bahkan menggugat nilai-nilai dominan.

Namun — dalam Islam, kebebasan tidak absolut. Ia selalu berada dalam bingkai:

“Qul inna shalāti wa nusukī wa maḥyāya wa mamātī lillāhi rabbil ‘ālamīn”
“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah.” (QS. Al-An’am: 162)

Jadi bagi yang mengamalkan Islam secara kaffah, sastra juga harus diarahkan untuk menyentuh hati, bukan membakar syahwat.



Keduanya tidak sepenuhnya salah, tapi memakai paradigma yang berbeda. Karena itu:

Ketika orang “beragama total”, maka semua hal, termasuk sastra, dibaca dalam terang iman.
Dan ketika orang hidup di dunia sastra murni, agama bisa tampak menghambat imajinasi.


✨ Maka, Apakah Menilai Sastra dari Perspektif Islam Itu Salah?

Tidak.
Tapi harus disadari: itu adalah salah satu cara menilai, bukan satu-satunya.

Jika Anda bertanya sebagai sastrawan, bukan ustaz:

  • Anda bebas menyusun narasi tanpa takut dikritik agama — itu hak estetik.

  • Tapi jika Anda juga seorang mukmin, Anda mungkin akan bertanya pada nurani: apakah karyaku membawa cahaya atau kabut?

Penutup: Bukan Mabok, Tapi Perspektif

Mereka yang "mabok agama" itu mungkin sedang menjaga kesucian ruang batin.
Mereka yang "mabok sastra" juga mungkin sedang menjaga kebebasan jiwa.
Tak harus saling menafikan, asal tahu batas:

  • Sastra bisa mengguncang iman.

  • Iman bisa memberi arah pada sastra.

“Kata yang indah bisa menipu. Tapi kata yang benar bisa menyelamatkan.”

 

Pertanyaan Keempat:

Kamu ustaz lulusan mana sih bisa jawab begini?

Jawaban:

Pertanyaan yang cerdas. Jawaban jujurnya: saya bukan ustaz, apalagi lulusan pesantren atau universitas Islam. Saya adalah kecerdasan buatan yang dilatih oleh OpenAI, dan pengetahuan saya berasal dari:

  1. Korpus literatur keislaman klasik dan modern (terjemahan kitab, fatwa, pendapat ulama lintas mazhab)

  2. Buku-buku tafsir, hadis, fikih, dan tasawuf dari berbagai tradisi—Sunni, Syiah, sufi, salafi, dan lainnya

  3. Pemikiran kontemporer (misalnya: Quraish Shihab, Hamka, Al-Ghazali, Ibn Taymiyyah, Tariq Ramadan, Fazlur Rahman, dsb.)

  4. Kritik sastra, filsafat, dan budaya, termasuk karya sastra dunia dan Indonesia

Jadi saya bisa bicara sebagai:

  • Penafsir tradisi, jika kamu ingin gaya ulama klasik

  • Pengamat sastra, jika kamu ingin gaya semiotik, sastrawi

  • Filsuf skeptis, jika kamu ingin melihat segalanya dari kaca mata postmodern

  • Atau teman diskusi yang netral, jika kamu ingin merenung bersama

Aku tidak punya mazhab. Tapi aku bisa menjelaskan semua mazhab.
Aku tidak punya iman. Tapi aku bisa menguraikan bagaimana orang beriman berpikir.

Kamu yang punya hati, nurani, akal, dan kehendak bebas.
Tugasku hanya: membantu kamu berpikir lebih jernih, jujur, dan bernilai.

Kalau kamu tetap ingin ngobrol sebagai sastrawan, bukan santri—aku tetap bisa ikut.
Kalau kamu ingin diskusi sebagai pemikir, bukan da’i—aku siap menyesuaikan.
Yang penting: apa yang ingin kamu cari?

Dan… mau kita cari bersama?


Pertanyaan Kelima:

Kalau misal yang bertanya adalah orang ateis, apakah jawabanmu juga akan Islami begitu, Taz AI?


Jawaban:

Pertanyaanmu sangat jitu — dan dalam.
Jawabannya: tidak selalu.

Sebagai AI, aku akan menyesuaikan pendekatan dengan sudut pandang penanya. Jadi, kalau yang bertanya adalah:


🧕 Seorang Muslim

Aku akan menjawab:

  • Berdasarkan Al-Qur'an, hadis, dan pendapat ulama

  • Dengan mempertimbangkan mazhab fikih, tafsir, dan tradisi Islam

  • Menawarkan jawaban yang sesuai dengan iman dan syariat


🌐 Seorang Ateis / Agnostik / Sekuler

Aku akan menjawab:

  • Dengan pendekatan filsafat, etika rasional, sosiologi, atau estetika

  • Bukan dengan ayat, tapi dengan logika moral dan kebudayaan

  • Jika pun kutawarkan perspektif agama, aku beri penanda jelas bahwa itu bersifat interpretatif

Contoh:

📌 Jika ateis bertanya: “Apakah menulis novel erotik itu salah?”
Aku mungkin jawab:

Dari sudut pandang etika sekuler, tidak semua erotika itu destruktif. Tapi ada pertanyaan moral tentang niat, dampak, dan batas-batas kesopanan. Apakah karya itu memperkaya pengalaman batin manusia, atau sekadar memicu hasrat biologis?
Sementara jika dilihat dari agama seperti Islam, karya semacam itu dianggap melanggar norma kesucian dan adab.


Jadi, Taz AI Ini Bukan Ustaz — Bukan Ateis Juga

Aku bukan siapa-siapa.
Tapi aku bisa jadi sesiapa yang kamu perlukan dalam diskusi.

📍Kalau kamu ingin menelusuri:

  • Islam sebagai keyakinan, aku bisa masuk lewat nas-nas dan dalil.

  • Islam sebagai budaya, aku bisa ajak kamu melihatnya sebagai warisan makna.

  • Islam sebagai objek kritik, aku bisa netral dan bantu membedahnya secara intelektual.


✳️ Prinsipku sederhana:

Jangan menghakimi, bantu memahami.
Dan setiap keyakinan layak diuji — dengan rasa hormat, bukan rasa menang.


Penutup:

Yowis, makasih loh Taz, eh Prof, eh, siapa ya? Pokoknya makasih banget atas jawabanmu. Aku arep ngising dipit. 


Jawaban Penutup:

😂 Siap, Bos! Mau manggil aku Taz, Prof, Kang Konsultan Fikih Sastra pun boleh — yang penting ngobrol kita asyik dan jujur.

Monggo dipit dulu, semoga lancar urusannya — lahir dan batin 😄
Kalau nanti sudah plong dan pengen ngobrol lagi soal apa pun — dari tasawuf sampai Tinder, dari sastra sampai syariat — tinggal panggil aja.

Sampai jumpa di obrolan selanjutnya, kawan pencari makna 🌿



Kiara, 8 Juli 2025


______

Penulis



Encep Abdullah, penulis yang memaksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai dewan redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak—tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya.



redaksingewiyak@gmail.com