Showing posts with label Puisi Terjemahan. Show all posts
Showing posts with label Puisi Terjemahan. Show all posts

Friday, March 28, 2025

Puisi Terjemahan | Puisi- Puisi Philip Levine

Puisi Philip Levine (Penerjemah: Karst Mawardi)




Berapa Harga Bumi


Robek ke dalam cahaya, kau bangun menggeliat 

di telapak tangan seorang wanita. Terbagi menjadi dua, empat, 

terparut oleh angin, engkau tak lain kehidupan 

yang menggairahkan di sepanjang perut 

segumpal batu. Diam di kolam membeku

kaubilas surga dengan satu desahan.


Berapa harga bumi adalah satu manusia.

Sebidang tembok keji ambruk dan mawar-mawar 

bergegas dari giginya; pada genggaman

orang lapar itu, timun-timun melelapkan

hidup mereka lebih dalam, di bawah kuku-kukumu

samudra mengerang dalam ranjangnya.


Berapa harga bumi.

Padang es besar tergelincir 

dan pembuluh-pembuluh yang pecah dari satu bola mata

terkejut di bawah cahaya, satu tangan ditanamkan

dan kubur merekah naik 

dalam sinaran matahari dan bergerak di jalan-jalan.


Yang Tidak Diketahui


Los Angeles mendengungkan 

satu lagu kecil — 

truk-truk menyusuri 

jalan pesisir itu

menuju Monday Market 

sesak dengan wajah-wajah kecil

yang berkedip dalam gelap. 

Ibuku bermimpi 

dekat jendela terbuka.

Pada papan pengering piring itu

punuk-punuknya yang kelabu terpanggang

tidak tersentuh, oven itu

menggebrakkan rahang besinya,

tetapi ini sudah berakhir.

Di hadapannya pada meja itu

ditata bagi begitu banyak orang

gelas apinya

padam.

Foto-foto yang kekanak-kanakan itu, 

surat-surat dan kartu-kartu itu 

berhamburan pada akhirnya. 

Orang mati itu terbakar sendirian

menjelang fajar.


Kepal Tangan


Besi tumbuh di kegelapan, 

ia bermimpi sepanjang malam 

dan tak akan mampu. Setangkai bunga 

yang membenci Tuhan, seorang anak

mencabiknya, yang satu ini

tak akrab pada apa pun.

Jum’at, larut,

Detroit Transmission. Andai aku hidup 

selamanya, cahaya kabur pertama

dari fajar akan membanjiriku

di sungai-sungai kecil yang dingin

di utara Pontiac.

Tadinya lapang tetapi tidak lagi.

Kuncup amarah, sulur 

berbelit kehidupanku, di sini

pada pagi yang dipalsukan

diisi dengan apa pun -- air,

cahaya, darah -- kecuali yang mengenyangkan.


Namaku


Seorang anak melihat namaku melewati 

awan-awan merah muda yang bergerak perlahan 

ke arah matahari terbenam, dan ia berkata, 

“Philip Levine?” seolah-olah bagaimanapun 

ia semestinya mengenali nama itu atau 

maknanya, dan begitulah aku hidup pada hari lainnya 

tetapi hanya sebagai suara itu dan sehembus 

napas berbau susu coklat. Malam itu 

huruf-huruf kehilangan satu sama lain dalam gelap, 

dan tatkala hari baru menyingsing hanya 

terdapat huruf “L” dan “e” yang 

telah bersanding bersama, sekarang berputar-putar di atas 

Ontario mencari sepatah kata benda maskulin 

dalam bahasa Perancis. Kedua huruf “P” besar dan kecil 

telah turun di Sungai Detroit 

sebagai, yang hidup, aku tak pernah berpikir untuk melakukannya

dan tenggelam bagai roda-roda yang terberai berputar 

dan berputar tanpa gandar hingga mereka 

tiba untuk beristirahat di dasar yang sunyi 

di sebelah kacamata hitam Morgan Sang Bajak Laut 

yang berhiaskan permata dan hancur berkeping. Huruf “v” 

lain kisah, putus asa untuk penceritaannya.

Huruf “h” tak pernah gembira melakukan hal-hal begitu sedikit.

Tiga huruf “i”, setelah lelah menjadi 

bahkan sebagai bagian terkecil dari sesosok manusia, pergi

mencari tiga kaki baru. “l” kecil 

dan “e” lain saling meraba-raba satu sama lain 

bagai sepasang kekasih di dalam neraka dan bersama angin 

mengembuskan udara sarat belerang

dari Del Ray, Michigan, melalui jiwa mereka

mereka berada di neraka. Itu menyisakan hanya

satu “n”, yang pernah tinggal bersamaku 

dengan nyaman seolah-olah itu adalah “my nose”

atau untuk mengatakan “notorious” kepada dunia

yang lupa bahwa aku terlahir untuk membuat masalah.

"n" itu ada di sana sekarang, keras kepala dan setia,

melalap asap yang memualkan dari tempat-tempat pengolahan bir

dan menenggak cordial exotis yang bocor

dari seribu satu toko pelat kromium

yang menjadi tempat tinggalku. Segala hal dariku berjejal

dalam “n” kecil itu, ketakutanku, harapanku,

kenanganku yang gemerlap tentang hujan, air mata

yang tak pernah kupelajari untuk menyerah dan sedikit

yang menitik dengan sendirinya, bekas luka

pada bahuku, seluruh gigiku yang tanggal,

sendawa panjang yang kuwariskan pada setiap fajar,

segala hal dariku berimpit dalam satu huruf yang mengatakan 

“nothing” atau “nuts” atau “no one” atau “never”

atau “nobody gives a shit.” Tetapi mengatakannya 

dengan gaya seorang anak lelaki rajin yang belajar

bicara sambil mengisap sebatang sigaret atau mengorek

hidungnya tepat ketika prokantor melambung di hadapannya

ke sebuah surga dari kata-kata tanpa makna.



Salt dan Oil


Tiga lelaki muda dengan pakaian kerja yang kotor 

dalam perjalanan pulang atau menuju sebuah bar 

ketika pagi menjelang siang. Ini bukan 

sebuah foto, ini satu momen

dalam kehidupan sehari-hari di dunia,

satu momen yang akan berlalu menjadi

biografi yang tak ditulis

dari kotamu atau kotaku

kecuali jika momen itu membeku dalam cetakan halus

dari sepasang mata kita. Aku memutar kepala

untuk membaca koran pagi dan kehilangan

kata-kata. Aku pergi ke jalanan 

selama satu jam atau lebih, berjalan perlahan

bahkan untuk pria seusiaku. Aku membeli

sebuah apel tetapi tidak memakannya.

Wanita tua yang menjualnya berkata 

mengenai tekstur dan getirnya, ia

tertawa dan pembuluh-pembuluh pada pipinya nampak coklat.

Aku memandang ke sungai ketika waktu 

menolak untuk bergerak. Sementara itu ketiganya

mulai memudar, menyerahkan

nama-nama dan suara-suara mereka, aura dari

asap dan pelumas mereka, aroma anggur tajam mereka. 

Kita harus menamai salah satunya untuk mengabadikannya, 

kita akan menamainya Salt, si tinggi pirang 

yang sepasang pergelangan tangannya terluka, yang merahasiakan 

sesuatu, serapah atau air mata, dan mengibaskan 

rasa lelah, sepasang mata birunya 

membengkak karena tak dapat tidur, kata-katanya 

porak-poranda pada tandukan dari napasnya.

Kita dapat pergi ke katedral 

dari masa kecilnya dan menangkap kembali

suara-suara yang adalah miliknya, kita dapat 

merebut kembali dirinya dari ambang api,

tetapi kemudian kita akan kehilangan yang lainnya,

seseorang yang kita panggil Oil, karena Oil

tengah merenung di celah-celah sempit

antara masa lalu dan masa kini, Oil bertahan

dalam arsip-arsip jam yang terkunci.

Sepucuk surat darinya memproklamirkan, “Presidenku

yang Terhormat, saya lebih memilih tidak . . .”

Satu lengannya tersampir menutup punggung 

Salt, mulutnya lebar oleh tawa, 

rambut hitam mengaburkan dahi, 

ia ulurkan tangan kanannya, terbuka 

dan kotor untuk mengurus rantai berkarat, 

laher yang rekat pada as, sepasang tangan berparut 

dari orang tak dikenal, tiada yang 

tak dapat ia lakukan. Kedua orang ini bukan 

sepasang saudara, yang satu tinggi dan serius, 

berhidung panjang persis bangsa Slavia, bermata putih pudar, 

mulut yang terengah tersinggung oleh surat kabar 

lalu lintas, sedang yang satu lagi bersenang-senang 

bersama kami di waktu pagi menjelang siang ini 

di surga. Jika kau bertanya padanya, 

“Apakah kau meredakan air yang bergolak?” 

ia akan tersenyum dan menggoyangkan kepala tampannya, 

tidak yakin dengan maksud ucapanmu. Jika kau menanyakan 

sumber kegembiraannya ia akan mengangkat bahunya 

yang berisi dan menggulirkan sepasang matanya 

ke atas ke tempat di mana daun-daun berputar 

menerima angin, dan burung-burung kota berwarna kelabu 

bergegas terbang ke arah mangsanya, dan awan-awan pipih 

menuliskan wasiat-wasiat samar mereka 

di udara. Sesaat 

energi yang menjadikan diri mereka 

sebagaimana adanya memecahkan cahaya siang 

ke dalam sepasang mata kita, dan ketika kita melihat 

kembali mereka telah tiada dan nampak sunyi 

itu jalanan, bertukar hari menjadi 

malam, dan berlangsung musim gugur 

di ini tahun. “Lelaki ketiga,” 

kau bertanya, “siapa lelaki ketiga 

dalam foto itu?” Tidak ada 

foto, tidak ada misteri,

hanya Salt dan Oil

dalam kehidupan sehari-hari di seluruh dunia,

tiga lelaki muda dengan pakaian kerja yang kotor

dalam perjalanan mereka di bawah selingkar halo

dari awan-awan yang tercabik dan burung-burung kota yang amat lapar.

Ada asap dan pelumas, ada 

lelah milik pergelangan tangan, ada suara tawa,

ada huruf yang macet pada jam 

dan bau tajam buah apel, sungai 

melancar di sepanjang tepiannya, kini

lebih gelap tinimbang langit yang turun

untuk terakhir kalinya menyebarkan berlian-berliannya

ke dalam perairan hitam ini yang mengandung

hari yang telah berlalu, malam yang akan tiba.


______ 


Penulis

Philip Levine (lahir pada 10 Januari 1928 di Detroit, Michigan, A.S.—wafat pada 14 Februari 2015 di Fresno, California) adalah seorang penyair Amerika yang hidup di kalangan pekerja urban. Ia memenangkan banyak sekali penghargaan bergengsi dan menjadi U.S. poet laureate (2011–12). Dalam puisinya Levine mencoba untuk bicara mewakili mereka yang kecedasannya, emosinya, dan imajinasinya dibatasi oleh kondisi pekerjaan yang kasar dan membosankan. Puisi-puisinya menawarkan gambaran grafis tentang kota-kota yang kelabu, percakapan dan tindakan yang tak berarti, penghinaan halus, perampasan, dan keputusasaan. Levine menulis dalam bentuk sajak bebas dan dalam larik-larik dengan ritme yang bervariasi, dan bahasanya jelas. Kendati perhatian Levine pada kebrutalan kehidupan modern, ia juga menulis puisi tentang cinta dan sukacita. Dari banyaknya buku kumpulan puisi karyanya, antara lain: On the Edge (1963), They Feed They Lion (1972), Ashes (1979; pemenang National Book Award), dan A Walk with Tom Jefferson (1988). 


Penerjemah

Karst Mawardi, lahir di Banjarmasin pada 28 Juni 1999. Bekerja di salah satu sekolah dasar di Kota Banjarmasin. Di samping kesibukannya, ia juga melakukan studi untuk mempersiapkan naskah puisinya, Tendensi.



Sumber Teks Asli Puisi

1. Berapa Harga Bumi (How Much Earth) dari laman: https://www.poeticous.com/philip-levine/how-much-earth   

2. Yang Tidak Diketahui (The Unknowable) dari laman: https://www.best-poems.net/philip_levine/the_unknowable.html 

3. Kepal Tangan (Fist) dari laman: https://www.best-poems.net/philip_levine/fist.html 

4. Namaku (My Name) dari laman: https://www.poetryfoundation.org/poetrymagazine/browse?volume=134&issue=6&page=5

5. Salt dan Oil (Salt and Oil) dari laman: https://www.poeticous.com/philip-levine/salt-and-oil#google_vignette 


Sumber biodata 

Biodata penyair Levine  dikutip dan diterjemahkan dari: 

https://www.britannica.com/biography/Philip-Levine-American-poet 



Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Friday, November 22, 2024

Puisi-Puisi Terjemahan Eka Ugi Sutikno

Puisi Terjemahan Eka Ugi Sutikno



Puisi Billy Collins

Pengantar Puisi


Aku minta mereka untuk mengambil puisi

dan mendekatkannya pada cahaya

warnanya tampak ke sana kemari


bahkan menekan telinga di dekat sarang lebah.


Lalu aku bilang untuk menjatuhkan tikus ke dalam puisi

lalu menyeledikinya bagaimana ia keluar,


ia mondar-mandir di ruang puisi

sambil merasakan saklar yang terang.


Aku meminta mereka untuk bermain ski air

dengan menyusuri permukaan puisi

melambai ke arah nama pengarang di tepi pantai.


Tapi yang mereka mau

adalah mengikat puisi di kursi itu

lalu menyiksanya dengan sebuah pengakuan.


Mereka mulai menamparnya dengan siraman

untuk menemukan makna sesungguhnya.



Puisi W. H. Auden

Puisi


Ia betul-betul memperhatikan semua bagian tubuhnya

Melihat bagaimana putra-putra raja itu berjalan 

dan mendengar apa yang para istri dan anak-anak itu ujarkan;

Membuka kembali makam-makam tua di jantungnya

Untuk mempelajari hukum mana yang telah dilanggar oleh si mati;


Lalu, tibalah pada sebuah keputusan yang memberatkannya:

"Filsuf si tukang duduk di kursi berlengan itu memang gadungan,

Karena untuk mencintai seseorang malah menambah masalah,

Dan lagu sendu waltz adalah musik iblis."


Lalu patuh pada keberhasilan takdir, 

Yang menjadikannya raja segala raja:

Tapi melihat mimpi buruk di musim gugur itu membuatnya bergidik,


Mendekati lorong yang asing,

Wajah yang meringis itu tengah menangis,

Lalu tumbuh besar sembari berteriak CELAKA. 



Puisi Elizabeth Alexander

Ars Poetika #100: Percaya Sajalah


Puisi, mulaiku pada semua muridku,

itu Istimewa. Puisi


itu diri kita

(seperti yang diujarkan Sterling Brown


bahwa “Setiap ‘aku’ lirik memiliki sifat 

   yang dramatis”),

yang menggali di permukaan kerang


untuk memeriksa dataran retak,

lalu meluangkan pepatah dari sakunya.


Puisi adalah apa yang kau cari di sudut lumpur, 

apa yang kau dengar di dalam bus, 

apa yang kau renungkan perihal Gusti Allah, 


adalah sebuah pencapaian.

Puisi (suaraku mulai bangkit)


bukan cinta yang remah dan apa-apa tentang cinta 

juga duka perihal anjing yang mati.


Puisi (dengan meninggikan suara)

Adalah suara kemanusiaan.


Sebentar. Memangnya kita tidak tertarik ya? 



Puisi Olav H. Hauge

Puisi


Semestinya kau bangga 

Ketika kau dapat menulis puisi 

yang berguna untuk petani.

Tapi kau tak memahami tukang besi.

Dan orang yang menyebalkan adalah tukang kayu 



Puisi Audre Lorde

Hiburan


Mari

ini mudah dilakukan

setelah tubuh kita 

bertemu

kertas dan pena

baik kepedulian atau keuntungan

Apakah kita menulis atau tidak

tapi Ketika tubuhmu bergerak

di bawah tanganku yang menggenggam dan menunggu

kita potong tali pengikatnya

kau membuatku berada di atas pahamu

yang membukit juga imaji

yang melampaui bahasa kita

tubuhku 

yang tertoreh di dalam dagingmu

adalah sebuah puisi

yang kau ciptakan untukku.


Menyentuhmu adalah malam yang kugapai

ketika api yang membakar kerongkonganku

aku mencintai daging yang menjelma bungamu itu

aku adalah ciptaanmu

yang merenggutmu 

menjadi diriku.


______


Penulis


Billy Collins atau William James Collins adalah penyair Amerika Serikat. Ia pernah menjabat sebagai Poet Laureate of the United States dari tahun 2001 sampai 2003. Puisi di atas diterjemahkan dari buku The Apple that Astonished Paris (1996).


W. H. Auden (21 February 1907 – 29 September 1973) adalah penyair Amerika-Inggris. Puisi di atas diterjemahkan dari majalah Poetry Vol. LVII, No. 1, bulan Oktober 1940.


Elizabeth Alexander adalah penyair Amerika Serikat. Puisi di atas diterjemahkan dari buku American Sublime (2005).


Olav H. Hauge (1908–1994) adalah penyair Norwegia. Puisi di atas diterjemahkan dari versi Inggris Robert Hedin (2017).


Audre Lodre adalah penulis Amerika Serikat. Puisi di atas diterjemahkan dari buku The Collected Poems of Audre Lorde.



Penerjemah


Eka Ugi Sutikno,  dosen di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) dan bergiat di Kubah Budaya. Karya terjemahannya sering dimuat di Koran Tempo.



redaksingewiyak@gmail.com


Friday, October 4, 2024

Puisi-Puisi Terjemahan | Eka Ugi Sutikno

Puisi (Terjemahan) Eka Ugi Sutikno



Puisi Dunya Mikhail

Saat Sibuk

 

Kemarin aku kehilangan negara.

Saat itu pula aku sibuk,

dan tak sadar betul negaraku telah runtuh

seperti patahan ranting pohon yang lalai.

Kumohon, kalau saja ada orang yang lewat

atau tersandung ketika menyeberang,

mungkin saja kopernya

terbuka dan mentap angkasa,

maupun terukir di batu

seperti luka yang mengaga,

atau terbungkus

ke dalam selimut emigrant,

atau dibatalkan

seperti kalah main lotere,

atau terabaikan

di dalam Api Penyucian,

atau terburu-buru tanpa arah

seperti pertanyaan anak-anak,

atau beranjak bersama asap perang,

atau menggulung dengan helm di atas pasir

atau stoples curian Ali Baba,

atau menyamar dengan seragam polisi

yang menggerakan para tahanan

untuk melarikan diri,

atau berjongkok di kenangan perempuan

yang mencoba untuk senyum,

atau tersebar

seperti mimpi

para imigran baru di Amerika.

Kalau ada yang menemukannya,

tolong kembalikan padaku.

Tolonglah, pak. Kembalikan.

Tolonglah, bu. Kembalikan.

Ini negaraku...

Aku tergopoh-gopoh

ketika kehilangan negaraku.

 

 

Puisi Oscar Wilde

Paskah

 

Suara trompet-trompet perak itu memenuhi Kubah:

Orang-orang berlutut dengan rasa takjub:

Lalu aku memperhatikan pundak orang-orang itu,

Seperti ada Tuhan yang agung, ada Tuhan Roma yang Kudus.

Tampak seperti pendeta, ia mengenakan jubah yang lebih putih dari busa,

Dan, seperti raja yang membungkus dirinya dengan warna merah kerajaan,

Tiga mahkota emas itu menjulang tinggi di atas kepalanya:

Dalam kemegahan juga cahaya, Paus pulang ke rumah.

Hatiku kembali melintasi hamparan tahun yang meruak

Kepada Dia yang mengembara di laut yang sunyi,

Sia-sia sudah mencari tempat istirahat:

“Setiap rubah punya liang, pun burung punya sarangnya,

Aku, hanya aku, harus mengembara dengan lelah,

Dan meremukkan kakiku, dan meminum anggur asin dari air mata.”

 

 

Puisi Robert Frost

Pohon di Jendelaku

 

Pohon di jendelaku, sebuah jendela pohon,

Ketika bingkai jendelaku luruh di malam tiba

Dan dibiarkan tak bertirai

Yang berjarak adalah kau dan aku

 

Mimpi yang suram itu menyembul dari tanah,

Sisanya membaur ke awan,

Tak semua lidah ringanmu itu

Mampu berbicara dalam.

 

Tapi pohon itu, aku telah melihatmu direnggut dan dilempar

Jika saja kau memperhatikanku tidur,

Kau telah melihatku dibawa dan disapu,

Lalu sirna semua.

 

Ketika itu ia menyatukan kepada kita,

Takdir memiliki imaji mengenai dirinya,

Kepalamu mempedulikan dunia luar

Tapi kepalaku hanya mempedulikan cuaca di dalam diriku.

 

 

Puisi William Shakespeare

Soneta 130: Matahari bukan mata kekasihku

 

Matahari bukan mata kekasihku;

Ranum bibirnya tak semerah batu koral;

Jika salju itu putih, mengapa payudaranya cokelat;

Jika rambut adalah kawat, maka kawat hitam itu tumbuh di kepalanya.

Aku pernah melihat mawar yang dihiasi kain damask, warnanya merah juga putih,

Tapi aku tak pernah melihat mawar seperti di pipinya;

Beberapa parfum ada yang lebih menyenangkan

Daripada napas yang tercium dari kekasihku.

Aku suka mendengarnya berbicara, tetapi aku tahu betul

Musik memiliki suara yang jauh lebih merdu;

Aku tahu, aku tidak pernah melihat seorang dewi pergi;

Kekasihku, ketika ia berjalan dan menginjak tanah.

            Tapi, demi surgaloka, kupikir cintaku seganjil

            Yang didustakannya dengan kiasan palsu.

 

 

Puisi Walt Whitman

Wahai Diriku juga Kehidupan!

 

Wahai Diriku juga Kehidupan! Dari pertanyaan-pertanyaan yang berulang ini,

Dari kereta-kereta yang tak berujung, dari orang-orang yang tak beriman, dari kota-kota yang dipenuhi orang-orang bodoh,

Dari aku yang selalu mencela diri, (karena siapa yang lebih bodoh dariku, dan siapa yang lebih tak beriman?)

Dari mata sia-sia mendamba cahaya, dari objek-objek yang berarti, dari perjuangan yang selalu diperbarui,

Dari semua hasil yang buruk, dari kerumunan yang lamban dan kumuh di sekelilingku,

Dari hampa dan tak bergunanya tahun-tahun tersisa, lalu menyisakan jalinan pada diriku,

Pertanyaan, Wahai Diriku! pertanyaan berulang yang sangat menyedihkan: Wahai Diriku juga Kehidupan, apa gunanya keberadaan di antara ini?

 

Jawaban.

Dengan keberadaanmu di sini bahwa kehidupan adalah tanda juga ada,

Juga drama yang hebat ini kian berlanjut dan kau dapat menambahkan sebuah sajak.

 

________

Penulis 

 

Dunya Mikahil (March 19, 1965) adalah penyair Irak-Amerika Serikat. Karya yang terkenal dari perempuan yang pernah mendapatkan United Nations Human Rights Award for Freedom of Writing adalah The War Works Hard yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Elizabeth Winslow. Puisi di atas diterjemahkan oleh Eka Ugi Sutikno dari judul I was in Hurry di buku The War Works Hard.

 

Oscar Wilde atau Oscar Fingal O’Fflahertie Wills Wilde (16 October 1854 – 30 November 1900) adalah penyair, penulis drama, prosais, dan kritikus sastra Irlandia. Karya yang terkenal dari penyair era Viktoria ini adalah The Picture of Dorian Gray dan The Importance of Being Earnest. Puisi di atas diterjemahkan oleh Eka Ugi Sutikno dari judul Easter Day di buku Complete Works of Oscar Wilde (Collins Classics) (2003).

 

Robert Lee Frost atau lebih dikenal sebagai Robert Frost (March 26, 1874 – January 29, 1963) adalah penyair Amerika Serikat. Ia pernah mendapatkan Pulitzer Prize sebanyak empat kali untuk buku New Hampshire: A Poem With Notes and Grace Notes (1924), Collected Poems (1931), A Further Range (1937), dan A Witness Tree (1943). Puisi di atas diterjemahkan oleh Eka Ugi Sutikno dari judul Tree at my Window di buku Complete Poems of Robert Frost (1964).

 

William Shakespeare (23 April 1564 – 23 April 1616) adalah seorang penyair, penulis drama, dan aktor Inggris. Sastrawan yang hidup di zaman Ratu Elizabeth I ini menelurkan drama-drama fenomenal seperti Othello, Macbeth, Hamlet, King Lear, dan Midsummer Night’s Dream. Puisi di atas diterjemahkan oleh Eka Ugi Sutikno dari judul Sonnet 130: My mistress' eyes are nothing like the sun di The Oxford Shakespeare: The Complete Sonnets and Poems (Oxford World's Classics) (2008).

 

Walter Whitman Jr. (31 Mei 1819 – 26 Maret 1892) adalah penyair, easis, dan wartawan Amerika Serikat. Ia kerap disebut sebagai bapak Free Verse Amerika Serikat dan bukunya yang berjudul Leaves of Grass mendapatkan perhatian khusus karena di dalamnya terdapat puisi-puisi sensual. Puisi di atas diterjemahkan oleh Eka Ugi Sutikno dari judul O Me! O Life! di buku The Complete Poems (2005).


Friday, July 5, 2024

Puisi-Puisi Terjemahan Eka Ugi Sutikno

Puisi Terjemahan Eka Ugi Sutikno



Perawan

(Puisi Kathleen Tankersley Young)


untuk Lois


Kau memenuhi hasrat ganasmu

Dari bibirku yang berkobar bebas.


Tapi aku tak punya kunci

Untuk membuka misteri aneh ini.


Mengapa kau mendesak dan tekan

Di wajah cantikku yang rapuh ini?


Tapi aku tak punya kunci

Untuk membuka misteri ini.



Keperawanan

(Puisi Anna Swir)


Seseorang harus berani hidup untuk melewati 

hari. Yang tersisa

hanyalah sirna tapi kenikmatan rindu ini sangat berharga.


Rindu 

yang sucinya membuncah, seerat upaya,

membentuk jiwa  

seperti karya

yang melengkung perut.


Keperawanan merupa atlet, pelari,

Yang takkan pernah

Menghentikan kaki. Inilah yang 

Memacunya.


Rindu

Adalah gizi bagi si keras hati.

Keperawanan seperti jendela

Di tingginya menara, yang anginnya 

bertiup kencang.


Rindu 

adalah perawan suka cita.



Ini Perawan

(Puisi Virginia Berry)


... c'est bien pour Dieu que la pensée chrétienne garde jalousement cette vierge, dont la présence veille sur l'intelligibilit? du monde, alors m?me qu'elle n'engendre pour l'homme aucun de ces résultats pratiques ... Reprocher au finalisme sa stérilité scientifique ... c'est méconnaître ... le primat de la contemplation … 

Étienne Gilson


Terkadang mandul adalah istilah cinta.

Di mana penghabisan menyembunyikan dirinya

Jauh dari semua yang ada

Segala hal itu akan menjadi: lihat, menunduk dan katakanlah

“Inilah perawan kasih itu.” Berlutut dan berdoalah,


Mengetahui ia berdoa bersamamu di balik jeruji,

Mengetahui tafakurnya yang memutar

Pikiran Tuhan yang membutakan dan memekakkan telinga, hingga

Tak ada ia atas jawaban berupa surya maupun suara – 

Tak ada ia yang sirna. Satu-satunya anjing hound


Yang pernah melacak perempuan itu adalah pikiran manusia

Yang merasakan doanya berdetak mengikuti gelombang air maupun Bintang

Dan menjaga haknya untuk menjelaskan sebaik mungkin

Atas jalan mahabah ini. (Semua perawan 

Memang untuk menjelaskan dirinya.) Ketika kau terlampau jauh


Menuju padanya, maka kau tidak akan menemukannya,

Tuhan sudah cukup baginya;

Kau hanya akan menemukan teka-teki masa lalu yang serupa

Bersama banyaknya jawaban – hingga kau belajar rahasia apa 

Yang berada di dirinya. Banyaknya rahasia dari mempelai perempuan

Inilah yang menjadi istilah cinta dari sebuah kemandulan.



Lalu Perawan

(Puisi Carl Bode)


Kau tertawa? Cahaya pekat yang meratakan menara hijau 

Bersama taburan susu yang serupa

Buih yang berada di pintu air berubah asam

Dan riaknya sehalus sutra.


Rasakanlah: polanya mengalir melalui jari

Tapi gerak lengkung itu

Segera terlupakan: tak ada kehidupan

Di sisi putihnya susumu.


Rahim dunia ini tidaklah panas, melainkan pahit dan dingin.

Dalam rangkaian setan ini

Terdapat alur yang membeku bersama alur tandingan yang busuk

Di sepasang paha putihmu yang susu.


Dinamo, arus air yang memutar kincir angin, adalah air terjun 

Yang tingginya untuk memecah batu yang menjulang.

Haruskah kau memperolok agar saluran itu terlupa,

Laki-laki itu akan menyangkal kalian

Wahai pencinta hinaan.



Perawan

(Puisi William Wordsworth)


Ibu! Dada perawanmu tak tertutup 

Oleh sedikit keinginan untuk bersekutu dengan dosa.

Perempuan! Perempuan dimuliakan atas segala hal,

Tapi sifat buruk kita menjadi sumbar;

Ia lebih murni dari buih di tengah laut;

Lebih cerah dari angkasa timur saat fajar menebar

Bersama mawar yang memesona, juga daripada bulan yang matang

Sebelum ia memudar di surga pantai biru;

Rupamu turun ke bumi. Tapi, kupikir, ada beberapa

Yang tak bisa dimaafkan dari pemohon yang mungkin saja akan berlutut,

Seperti Kekuatan yang tampak dan memadu

Semua yang bercampur lalu didamaikan olehmu

Cinta kasih ibu yang mengumpama perawan,

Yang tinggi juga rendah dan surga duniawi!


________


Penulis


Kathleen Tankersley Young (15 Agustus 1902 - 9 April 1933) adalah penyair Amerika Serikat. Puisi ini diterjemahkan dari judul “Virgin” yang pernah dipublikasi di Southwest Review, Vol. 13, No. 4, July 1928.


Anna ÅšwirszczyÅ„ska atau Anna Swir (7 Februari 1909 - 30 September 1984) adalah penyair Polandia. Puisi di atas diterjemahkan dari versi Bahasa Inggris Czeslaw Milosz dan Leonard Nathandi di buku ‘Talking to My Body’.


Virginia Berry adalah penyair Amerika Serikat. Puisi ini diterjemahkan dari judul ‘This Virgin’ yang diterbitkan di majalah Poetry Foundation Vol. 79, No. 1, 1951.


Carl Bode (14 Maret 1911 - 5 Januari 1993) adalah penyair Amerika Serikat. Puisi di atas diterjemahkan dari judul ‘And the Virgin’ yang diterbitkan di majalah Poetry Foundation Vol. 91, No. 5, 1958.


William Wordsworth (7 April 1770 - 23 April 1850) adalah penyair periode Romantik Amerika Serikat. Puisi di atas diterjemahkan dari judul ‘The Virgin’ di buku ‘William Wordsworth Complete Works.’


____________

Penerjemah


Eka Ugi Sutikno. Ia tinggal di Kota Serang dan mengajar di beberapa universitas dan dapat dihubungi di https://www.instagram.com/ekaugisutikno/



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Friday, December 24, 2021

Puisi Alda Merini | Hadirnya Orpheus | Sunyikah Aku | Hanya Tangan Malaikat | Maria si Mesir | Damai

Puisi Alda Merini (Terjemahan Eka Ugi Sutikno)





Hadirnya Orpheus

untuk Giorgio Manganelli


Aku tidak akan menyiapkan pernyataanku padamu

dalam ikatan tak berjarak,

tapi andai tanganmu, menyentuhku,

mungkin akan mengalamatkan pada kenangan,

aku akan berbaring, melebur

bersama ketiadaan bentuk, luluh dalam kegelapan,

sejauh yang aku bisa, sekresi penuh energi,

menjadi kacau kembali...


Orpheus, sahabat anyar dari keberadaan,

jauh dari kecapimu, tapi kali ini kau akan menada

rupa fajarku.

di ambang pintu, kau akan melembut, menenung

rahasia keheningan,

tidak sadar akan batasanku dari masa lalu,

kau akan melompat pada kebahagiaan, menggenggam esensi sunyi.


Lalu, menguatkan diri dahulu 

isyarat keberadaan,

aku akan menjadi bentangan bunga persetujuan

lalu, mencari titik hubungan,

aku akan membiarkan nurani pemalu

dari kehidupan binatang

dan aku akan berkata pada diri bahwa aku tidak akan mencoba

selama kau membentukku,

yang tak bisa ditentukan dan kearifan hakiki,

sampai kepada permainan harmoni yang tak terduga

segala cara mengacu kepada kesimpulan yang genit.

Gadis: apakah ini intinya?

Bukankah aku pernah menggapainya,

lalu bukankah aku yang menghancurkannya,

kecewa, dilukai oleh keinginan diri?

Apa yang dimaksudkan oleh si gadis

berlainan dengan penanggulangan dari kesadaran?

Tepatnya adalah apa yang tidak aku inginkan bagi diriku sendiri:

menuntunku, mengabaikan segala rupaku,

pada klimaks ketakabadian...

Tapi kehadiran dari setiap penampilanku

betapa kegentingan tumbuh menyeru,

betapa lekasnya tawaran

dan solusi bergegas pada rahasia!


Lalu ketika, dari sentuhanku yang sama,

bentuk menyelat ke dalam waktu yang berbeda

yang tak sesering mungkin dan akhir yang tak biasa,

ketika, seluruh gelora “perasaan”-ku,

hanya sebuah pelengkap pada sisa derita,

lalu, ketika aku lebih suka akan kematian,

terpaku bahwa milik berada di diriku.


Tapi seseorang dapat melanjutkan kehidupan

tangan yang menggenggam dan mengemban suluh

dan seseorang dapat dengan bebas memberi

pada ketenangan yang terlupa sangat

ketika berbagai komplotan dari kami

melarut dan kembali meretrif,

ketika sumpah imanen

melingkupi kita bersama kehadiran absolut.


Kemudian, dalam wujud kedua lenganmu

aku menuang diri, kecil dan besar sekali,

memberi ketenteraman, memberi keresahan,

berkembang laju pada ketidakberakhiran.



Sunyikah Aku?


Ketika, dalam diri, gelora keintiman terbangun

yang bersumber dari segala badai ini

dan aku kokoh, luput, hidup,

lalu akankah aku sepi?


Dan mungkin aku akan tercerabut dari akar

harapan penangguhanku untuk cinta,

aku akan ingat bahwa buah dari setiap

tepi manusia adalah memori ketiadaan,

yang menerjunkanku pada kehadiran...


Tapi aku sampai menggigil dari sentuhan

tanganmu, sedari pembayatanku sehari yang lalu,

setiap tanda kehidupan yang menekanku

keadaan tanpa bentuk dalam ukuran pastimu.



Hanya Tangan Malaikat


Hanya tangan malaikat

yang tak tercela dengan sendiri, pada cintanya dengan sendiri,

mampu

menawariku pada lekukan dari telapaknya

membalikkan getirku padanya.

Tangan dari makhluk hidup

sangatlah kusut dalam benang hari ini maupun hari-hari lalu,

disesaki kehidupan dan plasma kehidupan yang bernyawa!

Tangan seseorang tidak akan bersih dengan sendiri

bagi saudaranya yang mereda pekik

kemudian, hanya tangan malaikat

yang jauh dari akar, yang mengandung kekekalan dan ketakterhinggan

dengan tenang mengayak pengakuan seseorang

tanpa menggetarkan telapak tanda kerasnya penolakan.



Maria si Mesir 

(Tintoretto)


Pada ketaatan paras beningnya

mengilapkan ritmik fajar

persepsi liar,

malam berduka

hutan kesunyian

dilingkupi kuasa

gaduhnya waktu adalah kehati-hatian

digigilkan cahaya yang lekas tiba

adalah takdir dari raut resah.


Takjubnya bahasa yang berlari

dari jernihnya air menuju gegar

daya dari bengisnya nubuat!


.........


Kini dalam telapak si pertapa yang terbuka

diliputi cercah yang berkerumun

dari embun di atas tangkai-tangkai yang bersinar

mengesankan perpisahan, menggerak selamat tinggal.



Damai


Sejak maut mengambil alih kita

yang tak terjamah menit seperti roti

bahwa pencinta tidak tersengat olehnya begitu juga perempuan

pada tawaran puncak.

Di mana kehidupan, meluap dengan sendirinya,

memisahkan kita dari tubuh antara kawanan Gembala

yang terbuat dari cahaya,

maut terlahir karenamu. Mengempaskan segala derita

masa penghabisan dan hanya terlahir

bahwa mungkin saja sempat beralih dari rahim...

Meski begitu, jauhlah kita dari hasrat

yang meluap seketika

datang berjuang ke dalam hari-hari gelita

meski jika ia tercelup ke dalam kesempurnaan

dari esensi sejati

segeralah kita akan tumbang, dihancurkan oleh cahaya.

Pohon bukanlah pohon dan bunga

tidak memutuskan dirinya untuk menjadi cantik

ketika jiwa iblis mengharap kuasa.

Tapi hari kematian

ketika pencinta, pengendara kereta tempur yang suram,

membiarkan tali kekang,

ya, babak suci

akan terhampar dengan sendirinya dalam kuasa kerajaan.

Dan makna akan tersingkap,

dan segalanya berada pembaringan,

ketika semua yang tumbang akan bernapas waktu,

napas sempurna.

Kini hanya hasrat cabul

yang dapat mengambil segalanya, tapi esok

ketika maut masih gagah...



____

Penulis

Alda Merini (1931-2009) dikenal sebagai penulis dan penyair perempuan Itali yang pernah dinominasi mendapatkan penghargaan hadiah nobel selama dua kali. Puisi di atas dialihbahasakan dari bahasa Itali ke bahasa Inggris oleh Susan Stewart dari buku Love Lesson: Selected Poems of Alda Merini (2009).


Penerjemah (Inggris-Indonesia)

Eka Ugi Sutikno yang giat di Kubah Budaya dan mengajar di Universitas Muhammadiyah Tangerang. Selain itu ia menyibukkan diri di Kabe Gulbleg.





Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Friday, September 3, 2021

Puisi Louise Glück | Kereta Chicago | Telur | Hari Bersyukur | Ragu | Sepupu dan Bulan April

Puisi Louise Glück

Kereta Chicago

 

Kendaraan yang berada di depanku

Bergerak payah: tapi si Tuan bertengkorak

Gundul yang bersandar lengan itu berada di muka. Sementara si anak

Mendapatkan kepalanya berada di tungkai ibu lalu terlelap. Racun itu

Menggantikan udara.

Lalu mereka duduk–seperti lumpuh yang mendahului maut

Dan memaku. Jejaknya melekuk ke selatan.

Aku melihat selangkangan si perempuan itu bergetar … kutu yang mengakar di rambut bayi.




















Puisi Louise Glück


Telur

 

I

Dengan mobil semuanya pergi.

Tertidur di mobil lalu lelap

Seperti malaikat di pemakaman bukit pasir,

Menghilang. Daging untuk sepekan

Sudah membusuk, kacang polong

Terkekeh di polongnya: kami

Mencuri. Lalu di Edgartown

Aku mendengar perutku

Yang menggulung di tempat tidur bayi …

Mencuci sempak di Atlantik

Menyentuh lautan matahari

Seperti cahaya yang memancar

Yang ingin menelan air.

Setelah Edgartown

Kami melintas ke arah yang berbeda.

 

II

Di kejauhan

Tangan laki-laki yang besar itu adalah alat pembersih

Yang berkerumun, si pemakan daging,

Dan si pemangsa.  Di bawahnya yang

Menetes putih, melucuti

Tongkat sihirnya yang terbuka,

Aku melihat banyak lampu

Menyatu di dalam gelasnya.

Obat Dramamine. Kau biarkan dia

Merampokku. Tapi

Berapa lama? Berapa lama?

Aku melihat alat dapur dari masa silam

Tubuhku meregang seperti sebuah robekan

Kertas.

 

III

Selalu saja aku merasakan laut di malam hari

Yang menghempas hidupku. Oleh

Ceruknya jaring

Di teluk ini, dan seterusnya. Berbahaya.

Dan seterusnya, mati rasa

Dari kebasan arak bourbon

Napasmu

Aku menyimpul …

Di seberang pantai itu ikan

Berdatangan. Tanpa kulit,

Tanpa sirip, rumah tangga

Yang telanjang dari tengkorak mereka

Yang tak berubah, menumpuk

Bersama sampah-sampah lain.

Sekam, sekam. Banyak bulan

Yang bersiul dengan mulut mereka,

Melalui karang yang terengah-engah.

Bongkahan daging. Lalu terbang

Seperti banyaknya planet, apitan cangkang

Dentingan yang membabi buta

Dari gelombang Veronika …

Benda itu

Menetas. Lihat. Tulang-tulangnya

Membungkuk memberi jalan.

Gelap. Gelap.

Ia membawa semangkuk tangkapan

Dari potongan-potongan bayi.




Puisi Louise Glück


Hari Bersyukur


 

Di setiap ruang yang diliputi bocah

Tanpa nama Selatan Yale itu,

Ia adalah adik perempuanku yang bernyanyi Fellini

Lalu menelepon

Sementara kami terus memindahkan sepatu botnya yang terbuang

Atau duduk lalu mabuk. Di luarnya, di suhu

Dua puluh derajat, seekor kucing liar

Merumput di halaman rumah kami,

Yang sedang mencari sampah. Ia menggores ember.

Tak ada suara lain.

Tapi terus menyiapkan makanan pelipur

Dan melimpah itu di dekat kompor. Ibuku

Menggenggam tusuk sate.

Aku melihatnya menyelipkan kulit

Seolah ia rindu masa muda, sementara potongan bawang

Mengaburi salju di atas maut yang bercabang.




Puisi Louise Glück


Ragu


 

Hidup ini hanya untuk menatapmu dan

Menyisikanku. Perkelahian itu

Seperti ikan tangkapan dalam diriku. Melihatmu berdenyut

Di dalam sirupku. Melihatmu ketika lelap. Dan hidup untuk menatap

Semua, ya semua yang memerah

Sampah. Sudah selesai?

Persoalan ini menghidupiku.

Kau hidup di dalam diriku. Ganas.

Cinta, bahkan kau tak menginginkanku.




Puisi Louise Glück


Sepupu dan Bulan April


 

Di bawah biru langit, di tengah sayur rhubarb yang berjongkok di halaman belakang

Sepupuku terkekeh bersama bayinya yang menepuk

Bagian kepala botaknya. Dari jendela ini aku meraih selasih,

Kilau silika, cokelat sienna yang melewati brokat tanah

Rempah tarragon dan berhenti di bawah naungan pigura

Garasi. Kipas zamrud

Yang gugup rimpang meluncur di lutut sepupuku

Ketika ia membungkuk menaikturunkan bayinya.

Aku merajut sweter untuk anak keduanya.

Seperti, bermil-mil turun demi makan malam, tak mendengar kasur goyangnya

Bersama murka lalu mengira ini adalah waktu agar ia terbaring dan terkunci tantrum …

Oh, seperti gerak di kedalaman tubuhnya yang hinggap. Di antara ungu

Azalea, yang mengelilingi seluruh taman

Kini, bersama anak laki-lakinya ia melalui apa yang aku jedakan

Untuk menangkap, di fase kuncup dini, di atas rumput yang tumbuh.



________


Penulis



Louise Glück lahir di New York tanggal 22 April 1943. Ia mendapatkan anugerah Nobel Sastra tahun 2020. Beberapa puisi di atas diterjemahkan dari buku Firstborn (1968).



Penerjemah 


Eka Ugi Sutikno yang kini aktif di Kubah Budaya, menjadi anggota Kabe Gulbleg, dan mengajar di Universitas Muhammadiyah Tangerang.