Senin, 27 Desember 2021

Karya Guru | Cerpen Zaki Fafrizal | Tahi Kerbau Mbah Mamad

 Cerpen Zaki Fahrizal



Sudah dua pekan ini Mbah Mamad duduk dan terlihat murung di teras rumahnya. Kondisinya begitu menyedihkan lagi memprihatinkan. Tinggal sebatang kara tanpa sanak saudara. Di rumah semipermanen yang mulai juga ikut menua. 


Di rumah semipermanen itu sebenarnya Mbah Mamad tidak benar-benar sebatang kara. Ada kerbau kesayangan yang dua pekan ini juga ikut beristirahat atau lebih tepatnya diistirahatkan pemiliknya. Ya, Mbah Mamad dan kerbaunya memang benar-benar diistirahatkan. Tetapi mengapa? 


Kejadiannya hari Sabtu dua pekan yang lalu, sepulang dari sawah miliknya yang tak jauh dari rumahnya, Mbah Mamad didatangi oleh Pak Lurah dan warga Karundang Village –sebuah perumahan tetangga kampung si Mbah. Warga beserta Pak Lurah yang sangat dihormatinya sengaja mendatangi rumah si Mbah lantaran ingin memprotes atas kepemilikan sah kerbau dan sawah. 


***


Mbah Mamad sudah mendiami rumah di kampung Karundang hampir semasa hidupnya. Bahkan rumah yang sekarang ia tempati merupakan warisan dari orang tuanya. Kini kampungnya sudah ramai. Toko makanan cepat saji, minimarket, dan toko dua tiga lantai lain berjejer. Banyak tanah kosong diakuisisi oleh para pengembang pabrik dan perumahan. Tak tertinggal, sawah milik Mbah yang tidak jauh dari rumahnya pun sempat ditawar untuk dibeli pengembang perumahan tersebut. Namun, berkat kegigihan iman dan tidak tergiur dengan uang ratusan juta, si Mbah tidak gelap mata melepas sawahnya. 


Kegiatan sehari-hari si Mbah yakni sebagai petani. Mbah Mamad petani yang masih menggunakan peralatan tradisional, salah satu alat bajaknya yakni kerbau. Kerbau yang ia miliki sangat disayangi seperti anaknya sendiri. 


Kerbau itu selalu membantu sekali dalam membajak sawah miiknya. Apa jadinya jika tidak ada kerbau? Kerbau dan sawah sudah seperti kepingan logam mulia yang paling berharga bagi diri si Mbah.


Namun tiba-tiba warga datang mengetuk pintu di hari Sabtu menjelang surya tenggelam.


“Assalamualaikum, punten Mbah.”


“Assalamualaikum, Mbah Mamad.”


Suara salam dan ketukan pintu mengiringi dilema yang dihadapi si Mbah.


“Waalaikumsalam,” jawab si Mbah dengan suara sedikit parau.


Kreek...


Terkejut si Mbah Mamad ketika membuka pintu melihat warga ramai di depan rumahnya.


“Punten Mbah, sore-sore kami kemari.”


“Ada yang bisa saya bantu, Pak Lurah?” 


“Sebelumnya bolehkah saya duduk,” tanya Pak Lurah.


“Silakan,” jawab si Mbah.


Hening sejenak. Pak Lurah masih memikirkan bagaimana cara mengomunikasikan aspirasi para warga Karundang Village tersebut tanpa menyinggung hati si Mbah ini.


Seketika timbul tanya dari si Mbah Mamad.


“Pak Lurah sebenarnya ada hajat apa datang bersama warga kemari?” 


“Adakah yang perlu dibahas, Pak?”


“Begini sebelumnya Mbah Mamad. Punten sangat. Saya datang kemari bersama warga kompleks, ada maksud yang ingin dibicarakan.”


“Apa itu Pak Lurah?”


“Anu Mbah, mmm... Kerbau.”


“Ooh, kerbau.”


“Ada apa dengan kerbau saya?”


“Kami paham, setiap hari Mbah harus pergi ke sawah untuk bekerja. Apalagi saat sawah Mbah sudah mulai siap ditanami benih padi. Sawah tersebut perlu dibajak. Nah, alat bajaknya kerbau Mbah itu, bukan? Saat Mbah pergi ke sawah bersama kerbau, melewati kompleks ternyata kerbau Mbah itu buang kotoran. Nah, itu yang jadi keluhan para warga,” ujar Pak Lurah dengan takzim. 


“Jadi begitu,” jawab Mbah dengan datar.


“Mohon maaf Mbah sebelumnya. Saya sebagai kepala kelurahan hanya menampung aspirasi dan menyampaikannya kepada Mbah agar sama sama enak,” jelas Pak Lurah dengan nada iba.


“Hhh... Sebelumnya saya memohon maaf kepada Pak Lurah dan para warga kompleks. Saya ternyata tidak sadar kerbau saya membuang kotoran. Jadi apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya tidak pergi ke sawah untuk bekerja? Sedangkan bersawah adalah mata pencahariaan saya satu-satunya. Apa kata orang kalau saya haru berhenti bekerja? Padahal saya sebagai laki laki yang tugas utamanya ya bekerja. Harga diri seorang laki-laki adalah bekerja meski sudah tua renta, bukan?”


“Benar sekali, Mbah,” jawab Pak Lurah.


“Nah bagaimana jadinya?” si Mbah meminta saran.


“Bisa tidak Mbah ke sawah tanpa membawa kerbau?” tanya seorang warga.


“Bagaimana bisa saya tidak membawa kerbau ke sawah. Bukankah kerbau perlu makan sama seperti manusia? Sawah perlu dibajak juga, bukan? Kalau ada jalan lain ke sawah tanpa melewati kompleks kalian, saya siap memutar arah perjalanan. Pertanyaan saya, ada tidak jalan itu?”


Semua warga terdiam menyimak kata demi kata Mbah Mamad. Pak Lurah pun mulai gusar dan tak nyaman lebih tepatnya ingin mengakhiri diskusi itu. Mbah terlihat murung dan pasrah.


Suara bedug disusul azan terdengar. Tak lama kemudian Pak Lurah dan para warga kompleks berdiri dan izin pamit. Pergilah para warga dan Pak Lurah. Hanya si Mbah yang masih termenung di teras rumah dengan persoalan baru yang menghinggapinya.


"Baiklah, mulai besok saya akan berhenti ke sawah!"



_____

Penulis

Zaki Fahrizal, lahir di Lingkungan Karundang Klektor, Kota Serang. Guru MTs. Negeri 4 Kab. Tangerang. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Beberapa karyanya dimuat dalam majalah dan surat kabar: Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Provinsi Banten, Majalah Dinamika UNY, Koran Seputar Indonesia (Sindo), Harian Sultra, Tangsel Pos, Banten Raya, Banten Pos, Kabar Banten, Radar Banten, Harian Haluan Sumatera Barat, Bangka Pos, Minggu Pagi, Harian Pagi Padang Ekspres, Magelang Ekspres, Harian Sultra, Koran Denpost, Pikiran Rakyat, dan Harian Umum Riau Pos. Ada enam buku yang sudah diterbitkan yakni Dari Kolom ke Kolom, Sudut Pandang, Quo Vadis Pendidikan Indonesia?, Primadona Jaran Goyang, Sungai yang Mati, dan buku nonfiksinya berjudul Narasi dan Eksposisi. Pernah mendapat juara lomba guru berprestasi SMA Inklusi tingkat Provinsi Banten dan menjadi finalis lomba guru berprestasi SMA Inklusi tingkat nasional, serta pernah mendapat peringkat kedua pada Lomba Menulis Artikel Memperingati Hari Aksara Internasional tingkat Kota Serang 2017.






Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com