Sabtu, 08 Januari 2022

Resensi Buku Khairul Anwar | Suluh Literasi dalam Diri Ray Ammanda

 Resensi Khairul Anwar



Judul Buku: Suluh Literasi

Penulis: Ray Ammanda

Penerbit: #Komentar

Tahun Terbit: Januari 2022

Tebal: 107 halaman

 

Tempo lalu, tepatnya pada Jumat 24 Desember 2021, akhirnya saya dapat meminang buku Suluh Literasi, kumpulan esai karya Ray Ammanda—yang merupakan salah satu rekan SMA dulu. Pria yang merupakan kader PMII ini—menurut saya—termasuk penulis produktif di era digitalisasi kini. Meski terbilang pemula, namun tulisan-tulisannya sudah beredar di pelbagai media lokal maupun nasional. Ia yang saya kenal sangat cepat merespons berbagai isu yang sedang berkembang dengan perspektifnya. Pemahaman khazanah dan referensinya yang luas membuat tulisan-tulisannya selalu bernas dan menyegarkan intelektualitas.

 

Terus terang, kesan pertama setelah membaca buku ini, menggelitik. Sangat memancing saya untuk berkaca dengan kondisi real yang ada di sekitar kita. Bahkan, saya hanya butuh waktu semalam untuk melahap bukunya. 

 

Secara substansi, buku ini terdiri dari sepuluh esai dengan tema yang sangat beragam. Di antaranya tentang edukasi atau pendidikan, kebudayaan, lingkungan, globalisasi, serta penulis menjabarkan pelajaran-pelajaran soal menulis dan membaca. Tentu dikemas secara kritis, menggelitik dan satire. Sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari karena di beberapa bagian saya memperoleh banyak hal untuk direnungi, dipelajari.

 

Seperti yang disampaikan Musahwi (Dosen Sosiologi IAIN Syekh Nurjati Cirebon) dalam pengantar buku ini, bahwa kumpulan esai ini merupakan bagian kecil dari usaha untuk menguatkan literasi generasi muda. Karena menurut data yang ada—yang kita sering lihat—bahwa tingkat literasi atau minat baca kita berada pada urutan 62 dari 70 negara. Maka melalui buku ini, kata Mushali—Ray ingin berkontribusi menjadi subjek perubahan bagi generasi muda melalui pengetahuan literasi, dipahami dalam ruang lingkup yang luas—mengajak untuk menulis dan berpengetahuan literer.

 

Bagian pertama: "Mengeja Abjad dan Membaca Kebudayaan"Pada bagian ini, Ray menjelaskan bahwa seiring laju perubahan, kemudahan untuk mendapatkan informasi sudah sedemikian mudah kita peroleh melalui genggaman tangan. Namun ironisnya, cepatnya persebaran informasi sendiri malah menjadi gelegar petir kekhawatiran. 

 

Hujan deras kata—hoaks, kebencian, dan permusuhan secara terang-terangan tersebar dibalik layar. Karenanya, kita perlu memastikan media sosial senantiasa digunakan ke arah manfaat dan bukannya kemudaratan. (Hlm. 2)

 

Saya menangkap maksud tulisan pada bagian ini, bahwa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, namun telah bertransformasi menjadi gaya hidup yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Singkatnya, kita harus menggunakan media sosial secara bijak. 

 

Pada bagian tertentu, Ray juga mengulas pengalaman tentang bagaimana pentingnya mengakrabi dunia membaca. Karena sewaktu masa-masa sekolah dulu, ia cenderung antipati terhadap membaca. Dunia membaca dianggap sebagai sesuatu yang membosankan, bahkan tidak penting. Melalui kegelisahan itu pula, ia keluar dari zona nyaman dan memutuskan untuk mau berkencan dan jatuh cinta dengan dengan buku.

 

Puji syukur setelah lulus SMA saya langsung berkesempatan merasakan gegap gempita dunia kampus. Beragam persentuhan lintas pergaulan, pemikiran, dan keorganisasian di kampus akhirnya mempengaruhi perkembangan belajar saya. Saya merasa dibentuk menjadi pribadi yang terbuka, tidak gampang puas terhadap suatu pencapaian, dan tidak gampang menyerah menghadapi suatu persoalan. Semangat dalam belajar tidak boleh padam dan harus senantiasa ditumbuhkan. (halaman. 8)

 

Dalam bab "Menumbuhkembangkan Spirit Menulis", Ray menyebut bahwa tidak sedikit penulis pemula yang terjebak. Semacam dihadapkan kebingungan bagaimana menentukan kepantasan dan sistematika dalam menulis.

 

Dalam bab ini, pembaca bakal memperoleh tips dan trik untuk menjawab persoalan di atas. Tapi, Ray tak tampak seperti menggurui atau orang tua yang merasa setiap perkataannya mesti dipatuhi. Sebagaimana seorang penunjuk, ia cuma memberikan petunjuk-petunjuk (memberikan Suluh literasi). Urusan mengamalkan atau tidak berada di tangan pembaca. Karena pada dasarnya, penulis hebat juga manusia biasa seperti kita. Mereka menulis bagus bukan tersebab wangsit atau mukjizat. Yang membedakan hanya ketekunan dan kerja keras dalam belajar.

 

Sebelum seseorang mengenal Medan juang dunia literasi, dia harus diprasyarati warak keteguhan melawan malas. Sebisa mungkin meluangkan waktunya, maksimal merenung dan menjernihkan pandangannya. Yang paling elementer adalah dia bisa menjatuhkan kemesraan dan cintanya. (Hlm. 16)

 

Kemudian, jika ditanya satu esai favorit dalam buku ini saya sematkan pada bagian bab "Suluh Literasi dari Serang Utara". Pada bagian ini, Ray mengekspresikan stigma buruk yang masih melekat tentang daerah Pontang yang dijuluki daerah "kali asin" dan "toilet ngapung" yang berjejer di pinggir kali.

 

Padahal, kata Ray—dalam buku ini—Pontang yang tak jauh dari Tirtayasa yang merupakan tempat Syekh Nawawi al-Bantani belajar menulis. Maka dengan segala upaya atau sebuah tawaran ide dari penulis—yang merupakan penduduk asli Pontang—untuk menjawab stereotipe persoalan daerahnya yang dianggap skeptis oleh masyarakat kota.

 

Dengan wadah yang bernama #Komentar (Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa) yang dinakhodai oleh Encep Abdullah, Ray beserta koleganya bersemboyan untuk membangun paradigma secara optimis bahwa benih-benih yang ditanam melalui literasi dengan semangat pembaharuan. Artinya sederhana bahwa dengan kehadiran #Komentar mampu berkontribusi terhadap tantangan zaman.

 

Perlu diketahui, pada esai bagian ini juga pernah ia perlombakan dan mendapat juara 3 dalam perlombaan esai yang diadakan oleh Perpustakaan Daerah dan Kearsipan (DPK) Banten. Tak heran jika tulisan ini sangat bagus dengan nuansa menggelitik yang penuh dengan formulasi yang bermakna.

 

Dalam buku ini, Ray juga memberi penghormatan pada Encep Abdullah, sosok penulis, mentor, sekaligus pendiri #Komentar—yang telah memberi banyak pengaruh pada karyanya. Bermodal iman terhadap ucapan Encep "membaca itu tak harus berkomunitas dan tak harus disuruh, idealnya ia ada di lubuk hati setiap manusia", Ray mengajak dirinya sendiri dan pembaca untuk terus mempelajari, memahami, kemudian menekuni keterampilan budaya literasi.

 

Kemudian, masih banyak bab-bab esai lain yang tak kalah menariknya untuk kalian baca dari buku ini. Saya menggambarkan bahwa Ray tengah menumpahkan kegelisahan hatinya, Suluh Literasi ini seolah menjadi sebuah narasi zaman yang dapat kekal disaksikan.

 

Sedikit cela soal buku ini adalah susunannya yang berdasar waktu sehingga membuat tema tulisan seperti loncat-loncat. Memang itu bisa dipahami karena buku ini hanyalah kumpulan esai, bukan buku utuh yang membahas satu tema khusus. Pembaca yang mengharapkan keruntunan pembahasan barangkali akan sedikit terganggu.

 

Overall, buku ini benar-benar sebuah bacaan yang sangat saya rekomendasikan untuk kamu yang mencari bacaan ringan tentang kondisi sosial masyarakat. Tiap tulisan mempunyai pesan tersirat dan tersurat. Selain harganya pas di kantong pembaca, buku ini juga sangat cocok khususnya bagi kalian yang gemar membaca. Sehingga tidak salah jika kita ikut andil dalam jihad di dunia global ini. Tentu bukan untuk berperang melainkan untuk memperkaya dengan khazanah keilmuan dan melek teknologi.

 

Selamat menikmati buku karya Ray Ammanda dengan penuh kegembiraan dan keceriaan. Bila perlu sambil seruput kopi jahe dan hidangan pisang goreng supaya lebih paripurna. 

 

O, iya, jika ingin meminang karyanya, silakan hubungi penulis atau penerbit dengan mahar 40k.

 


______

Penulis


Khairul Anwar, penulis dan mahasiswa Universitas Serang Raya (Unsera).






Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com