Jumat, 08 Juli 2022

Cerpen Arianto Adipurwanto | Hampir Membuatnya Tersungkur Jatuh

 Cerpen Arianto Adipurwanto



Seorang laki-laki bertubuh kekar dan berpakaian bagus baru saja tiba. Ia meletakkan sebungkus besar bawang merah di atas lasah dengan keras seolah ingin mengatakan kepada pemilik rumah bahwa ia membawa sesuatu yang paling banyak daripada siapa pun yang mungkin pernah datang ke rumah itu. Senyum kebanggaan mekar di wajahnya. Senyum itu Semakin lebar ketika Naq Kerinying muncul dari belakang rumah, menenteng panci berselimut jelaga. Air menetes-tetes, menjadi jejak di tanah.   

       

Naq Kerinying terkejut melihat ada orang di berugak dan setelah melihat siapa yang datang, keterkejutan langsung hilang dari wajahnya.    


“Baru sampai?” sapanya ramah.  


“Ada bawang ini, sedikit. Nanti kalau panen lagi saya bawa sekarung,” kata laki-laki itu. 


Naq Kerinying bertemu dengan laki-laki itu di jalan dua hari lalu saat ia dan anaknya, Kerinying, berjalan pulang dari Sungai Keditan. Mereka bertegur sapa sebentar sebagaimana orang-orang biasanya dan Naq Kerinying menawari laki-laki itu mampir, juga sebagaimana basa-basi biasanya.     


Hari ini laki-laki itu sungguhan datang dan bertingkah seolah telah lama mengenal pemilik rumah. Naq Kerinying menggantung panci di dinding rumah. Sodoq, nama laki-laki itu, duduk di tepian berugak, mengayun-ayunkan kaki. Seekor anjing yang bulunya ditempeli remukan daun-daun kering berlari masuk jebak dan langsung menyalak ganas.      

Naq Kerinying membentak anjingnya. Anjing itu mundur, mencakar-cakar tanah, tetapi tetap menyalak keras. Potongan gagang parang dilemparkan tangan tua Naq Kerinying dan jatuh persis di depan hidung anjing itu. Anjing itu hanya mundur ke luar jebak, tetapi tetap menyalak, membuat anjing-anjing dari rumah-rumah lain ikut bersuara. Keriuhan itu sampai di telinga Kerinying yang sedang berjalan pulang dari Sungai Keditan, membawa ember berisi penuh air di atas kepalanya. Ia menduga-duga siapa gerangan yang datang ke rumahnya dan membuat anjing miliknya menyalak. Ia melambatkan langkah. Di dekat pohon dadap besar, ia berhenti, mengumpulkan tenaga, masih memikirkan siapa yang telah datang ke rumahnya.  

  

“Penagih utang lagi pasti,” katanya. Pikiran itu mendorongnya untuk berhenti saja dan pulang nanti-nanti. Namun, ia sedikit malas untuk menurunkan air di atas kepalanya juga tidak tahan berdiri lama-lama. Nyamuk-nyamuk mulai berkerumun dan menyerang lengan dan betisnya. Ia melanjutkan langkah, pelan-pelan, tetapi serbuan aneka dugaan yang menguasai kepalanya membuat ia tidak melihat jalan dengan baik. Seutas akar yang melintang di tengah-tengah jalan hampir membuatnya tersungkur jatuh. Air dari ember sedikit tumpah, dan sedikit tanah yang terkena oleh tumpahan air itu terangkat, jatuh persis di punggung kakinya.   

Mendekati rumahnya, ia berhenti. Suara ibunya berbicara sampai di telinganya. Naq Kerinying tengah duduk di ujung berugak dan bercerita tentang kesusahan-kesusahannya. “Kain aja ini yang saya pakai ini paling bagus, sisanya robek-robek,” katanya. “Mau beli kain gimana, yang penting buat makan dulu.”


Suara seorang laki-laki, besar, asing, membalas, “Nanti saya bawakan kain. Di rumah sampai bolong-bolong dimakan tikus, jarang dipakai.”     


Seolah ingin melapor, anjing milik mereka yang telah tenang dan tengah berada di kebun sebelah utara rumah itu langsung menyalak kembali. Naq Kerinying dan Sodoq langsung melihat ke jebak dan terlihat oleh mereka ujung ember, lalu pelan-pelan, Kerinying muncul. Kain basah menutup badannya, dari dada hingga sedikit di atas lutut. Salah satu tangannya terangkat, memegang tepian ember, dan tangan satunya lagi menenteng gayung. Aroma sabun menguar ke udara.   


Sodoq bergeser sedikit. Senyumnya mengembang. Air tumpah lagi dari ember Kerinying, membentuk bulatan seperti sehelai daun di halaman. Kerinying membawa seember air itu ke dalam rumah. Sempat terhenti sebentar, pembicaraan di berugak kembali berlanjut. Kali ini, bukan tentang kain, tetapi tentang diri Kerinying.  


“Dia aja ambil air, saya mana kuat,” ucap Naq Kerinying.  


“Ndak ada jeriken besar, biar saya ambilin. Kasian epe,” balas Sodoq dengan semangat.   

“Ndak usah. Besok Kerinying aja. Dulu ada jeriken tapi sudah pecah. Di sini ndak ada apa-apa bisa lama.”  


“Masak ndak ada jeriken di sini?”  


“Ndak ada. Ember yang tadi itu satu sama ada di dalam besar satu.” 


“Untung kita ketemu kemarin,” ucap Sodoq. 


Ia lalu bercerita tentang dirinya. Kata-katanya lancar, kedua sudut mulutnya tertarik dan sebentar-sebentar kepalanya mengangguk-angguk. Ia menyampaikan tujuan perjalanannya dua hari lalu sampai akhirnya bertemu Naq Kerinying, dan ia hendak bicara panjang lebar tetapi Naq Kerinying memotong cepat. 


 “Di mana epe beli kebun?” tanyanya. 


“Kampung di sana itu. Di atas,” Sodoq menunjuk selatan, ke arah hutan.  


“O, dapat?” 


“Belum. Kalau cocok harga saya beli, daripada simpan uang, nanti bisa-bisa dimakan rayap,” ucap Sodoq dengan cepat. Ia mengayun-ayunkan kakinya dengan sangat santai. Naq Kerinying mengangguk-angguk, menggaruk-garuk betisnya yang diserang nyamuk, dan tersenyum. Tersenyum sampai gigi-giginya kelihatan. Ia tampak sangat puas dengan apa yang baru saja ia dengar.  


“Kerinying kamu ngapain di dalam? Buat kopi!” teriaknya kemudian. 


Di dalam rumah, Kerinying tengah membongkar pakaian yang ia tumpuk di dalam bakul besar. Nyamuk dan agas berhamburan. Di dasar bakul, Kerinying menemukan kain yang ia cari. Beralih dari bakul itu, ia meraih kutang yang tergantung di dekat dipan, dan terakhir ia mengambil baju kaus yang tersampir di sepotong tali yang melintang dari satu tiang ke tiang lain rumah itu. Selesai berpakaian, bukannya memenuhi atau menjawab panggilan ibunya, ia justru duduk di dipan dan mengabaikan teriakan yang memanggilnya.  


“Luh,” panggil Naq Kerinying. Ia memandang dinding bambu rumahnya seolah bisa melihat anaknya bulat-bulat. “Mati kamu?” teriaknya setelah cukup lama tidak mendengar ada tanda-tanda anaknya akan keluar. 


Kerinying membatu di atas dipan. Seekor semut menjalari kakinya dan ia tidak bergerak. Tidak tahan, Naq Kerinying bangkit, mendorong pintu dengan keras. 


“Buat kopi!” katanya setengah berbisik. 


“Lelah, sakit punggung!” 


“Kemarin-kemarin kuat ngapa-ngapain kamu.” 


“Saya hampir jatuh tadi makanya sakit ini.” 


Naq Kerinying kembali ke berugak. Kerinying bangkit dan menutup pintu yang dibiarkan terbuka oleh ibunya. Sekilas Sodoq melihatnya dan senyum mekar di wajah laki-laki itu. Sodoq mulai bicara lagi, tetapi bukan tentang tanah, melainkan tentang Kerinying. Ia melontarkan sejumlah pertanyaan. 


 “Dia sakit pinggang,” Naq Kerinying menjelaskan. “Dia sering sakit kalau pulang bawa air, dia aja yang kerja soalnya, saya ndak kuat! Dulu masih hidup ayahnya enak, ada yang angkut air angkut segala,” Naq Kerinying berkata seolah meminta permakluman dari laki-laki di depannya karena anaknya tidak keluar menemuinya.  


“Jauh soalnya. Besok-besok saya yang bantu ambil air,” Sodoq berjanji. Seolah baru ingat, ia memegang sebungkus besar bawang yang ia bawa. “Taruh bawang ini, cuma ini yang saya bawa. Besok kalau ada saya bawa sama cabe juga.”  Kemudian ia melayangkan pandangan ke sekeliling seolah mencari tahu apa saja yang kurang di rumah itu dan bisa ia penuhi pada kedatangan berikutnya.

 

“Begini dah rupanya. Untung epe bawa, sudah berapa hari ini ndak ada apa-apa di sini. Dagang juga ndak ada. Kalau masak lauk cukup garam aja. Susah tinggal di hutan,” Naq Kerinying mengerut-erut betis. 

 

Kerinying mematung. Tetapi di dadanya ada yang mendidih. Ia merasa sangat geram mendengar kata-kata itu. Ia tidak sabar menunggu tamunya pulang dan di kepalanya sudah terangkai banyak hal yang akan ia tumpahkan. Ia bangkit dan mengintip dari lubang dinding. Ibunya yang duduk sambil mengurut-urut betis tampak sangat menyedihkan baginya. Ia ingin berteriak dan mengusir laki-laki itu.  


Seolah mendengar suara hati Kerinying, Sodoq turun dari berugak, dan dengan sangat sopan menyampaikan niatnya untuk pamit. 


“Saya mau lihat kebun itu lagi,” katanya.  


“Nanti dulu, ngopi dulu.” Naq Kerinying berpura-pura melihat dinding rumahnya dan bertingkah seolah akan memanggil anaknya lagi. Namun, ia tidak mengucapkan kata-kata apa pun dan lebih dulu Sodoq yang bicara. 


“Besok saya ke sini lagi. Sekalian bawa jeriken.”


“Ya, saya mau seduhin kopi tadi tapi ndak ada gula,” Naq Kerinying berkata pelan. 


 “Itu bawang itu,” kata Sodoq sebelum benar-benar pergi. 


Kerinying mengumpat ketika mendengar laki-laki itu berjanji akan membawa gula. Begitu memastikan laki-laki itu telah keluar jebak dan menjauh, membangkitkan anjing yang tengah meringkuk di kebun sebelah utara, Kerinying langsung keluar dan melontarkan serangan. 


“Epe ndak punya malu,” teriaknya. 


“Kamu ndak tahu diuntung. Kalau yang ini kamu tolak juga benar-benar dah kamu.” Naq Kerinying balas berteriak.  


“Epe kira saya anjing!” Kerinying geram. 


Naq Kerinying mengungkit puluhan penolakan bodoh yang dilakukan anaknya. Laki-laki yang punya banyak sapi, laki-laki baik hati yang selalu datang membawakan aneka lauk-pauk untuknya. Kali ini yang paling menjanjikan baginya.  


“Kalau kamu sama dia ndak usah kamu susah-susah lagi, ndak kamu mati pejo!” 


“Epe dah nikah sama dia!” Kerinying membentak. Ia masuk ke rumah dan menutup pintu dengan keras. Umpatan-umpatan keras ia layangkan. Seolah tidak puas, ia meludah-ludah ke tanah dan ketika telah sangat geram, ia mengancam akan memukul ibunya dengan kayu bakar.  


“Kamu kira ini buat saya, buat kamu semua ini. Saya apa, sudah tua sudah batu tanah!” Naq Kerinying turun dari berugak. 


“Kalau saya ndak mikirin kamu saya biarkan kamu ndak menikah ndak melakukan apa-apa, saya malah senang kamu tetap di sini!” lanjutnya. Nadanya sedih. 


Naq Kerinying mengambil bakul yang tergantung di dinding, menuju berugak, dan menumpahkan bawang yang baru saja laki-laki itu bawa. Biji-biji bawang menggelontor keluar dan memenuhi bakul. Satu dua jatuh ke lasah, dan tangan-tangan keriputnya memungut biji-biji bawang itu.  


“Segar-segarnya,” katanya sangat girang. Ia berteriak memanggil anaknya. “Lihat dia bawa ini!” katanya.

 

Kerinying tidak menjawab. Ia telah tidur menghadap dinding. Namun, suara ibunya tidak bisa diabaikan. Suara Naq Kerinying seolah menjelma ribuan jarum dan langsung menusuk-nusuk ulu hatinya. Dia ingin berteriak, lama-lama dia benar-benar berteriak, tidak tahan, “Telan semuanya! Telan sendirian sampai kamu mati!”


12 Mei 2020



Catatan Kaki


Lasah : Lantai

Epe : Kamu (sopan)

Luh : Panggilan kepada anak perempuan

Jebak : Gerbang


_____________


Penulis


Arianto Adipurwanto lahir di Selebung, Lombok Utara, 1 November 1993. Kumpulan cerpennya berjudul Bugiali (Pustaka Jaya, 2018) masuk 5 besar prosa Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2019. Bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, NTB. 



Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com