Selasa, 12 Juli 2022

Proses Kreatif | Kediman Menjadi Penulis Lagi

 Oleh Encep Abdullah



Suatu hari Kediman lesu tak bergairah. Dia mengeluh, katanya capek jadi penulis. Setiap hari kerjanya hanya menulis, tapi penghasilan tak ada. Tulisannya dikirim ke media-media lokal dan nasional, tak ada yang dimuat. Ikut lomba berbayar dan gratis, tak ada hasil yang memuaskan.


Kediman jenuh bekerja di pabrik. Lalu dia memutuskan berhenti dari tempat kerjanya itu. Padahal penghasilannya lumayan. Tapi, karena hatinya tidak di situ, meskipun punya banyak uang, dia tidak bahagia. Baginya, hanya pekerjaan menulislah yang membuat dirinya ada. Dia banting stir dan ngotot tidak mau bekerja apa pun selain jadi penulis.


Quotes-quotes di FB-nya memang banyak yang baca, bahkan dibagikan banyak orang. Anehnya, tulisannya tak ada satu pun yang dimuat di media cetak atau online. Akhirnya, dia memutuskan untuk menjadi penulis quotes saja. Lalu, dia memutuskan untuk membukukan tulisan quotes-nya itu. Dia yakin pasti bakal banyak yang beli dan akan mengubah hidupnya menjadi orang kaya.


Dia promo mati-matian. Tapi, warganet tidak ada yang tertarik membeli. Bahkan, tidak ada satu pun yang berkomentar di media sosialnya, di snap WA-nya. Saat dia jualan, semua terasa hening.


"Anjing!" 


Kediman sangat kesal dengan semua ini. Setelah melihat beberapa rekannya yang sukses jadi penulis karena rajin menulis di koran dengan honor fantastis dan juga memenangi lomba-lomba, Kediman meninggalkan dunia quotes dan kembali mati-matian agar karyanya tembus media nasional.


Dia pun belajar teknik para penulis koran. Sebulan kemudian, cerpennya nongol di koran nasional. Lalu, dia banyak yang ngetag dan mengucapkan selamat. Kediman merasa terhormat. Dia seolah sudah menjadi sastrawan besar. Dan tak lupa honornya pun lumayan untuk memenuhi kehidupannya beberapa hari. Kalau sudah punya uang, dia mendadak "brutal" membeli buku. 


Beberapa tulisannya setelah itu bermuculan di banyak media. Tapi, tidak semua berhonor. Masih terhitung media mana yang bisa menghidupi dia. Selebihnya dia kembali kelaparan. Tak sebanding dengan kerja otaknya yang seperti mesin itu.


Kediman memutar otak. Dia perlu uang tambahan. Beberapa karyanya yang ditolak media itu dikirim ke lomba-lomba. Satu-dua kali Kediman menang, menikmati uang hasil lombanya. Setelah itu, dia kelaparan lagi. Lomba tak selamanya menguntungkan. Namun, namanya sudah cukup masyhur di negeri ini.


Kediman pun kembali ke dunia perbukuan. Karyanya yang dimuat di media-media dilirik penerbit. Ya, walaupun bukan penerbit besar. Setidaknya bisa sedikit menambah uang jajannya. Oh, iya Kediman ini masih jomlo, belum menikah, apalagi punya anak.


Beberapa penerbit membeli karyanya alias putus kontrak. Naskahnya dibeli dua juta. Ya, namanya butuh duit buat makan, nabung buat si doi, ngasih buat emaknya, lumayan buat tambahan.


Uang itu habis dalam sekejap. Padahal ya tulisannya itu dia kerjakan bertahun-tahun. Akhirnya, dia tidak percaya lagi kepada para penerbit bedebah semacam itu. Dia pun menerbitkan bukunya sendiri dengan biaya sendiri. Dulu dia gagal menerbitkan tulisan quotes-nya, sekarang namanya sudah dikenal luar, semoga dengan begitu keuntungan dapat dirasakannya lebih banyak. Kediman hutang 5 juta kepada kawannya untuk proses cetak buku. Banyak yang pesan hampir 3.000 orang. Namun, saat detik-detik buku mau didistribusikan, ternyata penerbit yang mengelola bukunya mendadak hilang. Orang-orangnya membawa kabur uang-uang PO buku itu.


"Ya, nasib! Ya, nasib! Gini amat jadi penulis!" ujar Kediman.


Kediman stres bukan kepalang. Padahal dunia menulis adalah pesiyen. Dunia menulis adalah jalan hidupnya. Dia sebenarnya pengin bahagia di dunia kepenulisan ini dengan atau tanpa uang. Tapi, lama-lama menulis tanpa ada pendapatan, hidup terasa naif juga. Kalau dikejar-kejar uangnya, menulis juga jadi semacam tekanan. Menulis tanpa penghasilan, perutnya makin keroncongan. Rumit sekali isi kepala Kediman ini.


Bulan depannya, dia mencoba kembali lagi ke pabrik, dia butuh duit bulanan yang pasti. Karena umur makin menua, agak susah untuk diterima kerja lagi. 


Suatu hari Kediman mendapatkan panggilan mengisi pelatihan menulis. Nah, dari situlah namanya mulai dikenal sebagai mentor pelatihan menulis. Dia sangat bangga dengan "pengakuan" barunya itu. Kediman pun jarang menulis lagi. Uangnya cukup untuk biaya sehari-hari, bahkan selama jadi pelatih menulis itu dia bisa menikah.


Saat itu Pandemi Covid datang, Kediman tak ada job pelatihan menulis. Undangan sih ada, tapi dia tidak bisa mengoperasikan perangkat digital, maka banyak undangan via Zoom atau Gmeet semua dibatalkan. Kediman gaptek kalau soal ini. Dan, dia pusing sendiri walaupun berkali-kali mencoba belajar. 


Pandemi berakhir. Namanya sudah redup di dalam jagat kepenulisan. Kediman kembali mencari kerja. Tapi, susah rasanya. Untung ada temannya yang membantunya bisa kembali ke tempat pabriknya. Namun, lama-lama dia jenuh kembali. Dia berhenti lagi.


"Saya harus kembali menjadi penulis. Dengan menulis aku ada," ujar Kediman.


Kiara, 12 Juli 2022


______

Penulis


Encep Abdullah, penulis yang maksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi NGEWIYAK, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Buku kolom proses kreatifnya yang sudah terbit Buku Tanpa Endors dan Kata Pengantar (#Komentar, April 2022).