Selasa, 06 September 2022

Proses Kreatif | Saya Benar-Benar Kebablasan Tidak Menulis

 Oleh Encep Abdullah



Pada tulisan saya yang lalu (19 Juli 2022) berjudul "Kebablasan Rihat Menulis", dalam paragraf penutup, saya mengutip tulisan Andrias Harefa:


"Adakalanya Anda harus berhenti sejenak, mengambil jeda, saat di mana kita memang tidak mungkin meracik kata-kata, saat di mana menata kalimat menjadi terasa sulit; bukan karena kesulitan teknis, tetapi itu karena Anda tidak bisa menulis dalam suasana hati yang tak kondusif! Jadi, rihatlah sejenak".


Paragraf ini semacam doa yang kemudian dikabulkan oleh Tuhan. Sejak menulis itu, saya benar-benar rihat menulis beberapa minggu, tepatnya pada 26 Juli dan 2, 9, 16, 23, 30 Agustus 2022. Bagi saya, selama menjalani ritual menulis mingguan sejak setahun lalu, istirahat ini paling lama. Sebelumnya pernah, tapi hanya berselang satu minggu saja, pekan berikutnya saya menulis lagi.


Dalam buku-buku motivasi dijelaskan bahwa pembiasaan manusia bisa diuji sekitar 20-an hari. Setelah itu, aktivitas yang dilakukan seperti menjadi sebuah kewajiban. Bila tidak dilakukan, seseorang akan merasa kehilangan.


Di sini, saya bukan melakukan rutinitas harian, melainkan mingguan. Katakan saja saya sudah melewati 40 pekan menjalani ritual menulis mingguan ini. Sebulan terakhir ini perasaan saya memang agak aneh. Saya mencari-cari apa, ternyata ini salah satu penyebabnya. Tidak punya duit, eh, tidak menulis. Mungkin pikiran saya agak enteng. Padahal ritual ini seminggu sekali, bukan setiap hari. Dulu, saya hampir setiap hari menulis. Bila kelewat sehari saja tidak melakukan aktivitas berpikir macam ini, ada sesuatu yang hilang. Mungkin Saudara bosan membaca atau mendengar pernyataan ini. Namun, inilah kenyataan yang saya alami.


Jujur, saya gatal sebenarnya ingin menulis pada minggu-minggu lalu. Menulis tentang Bonge, Jeje, Roy, dan Citayam atau menulis tentang keriuhan Pesulap Merah. Akan tetapi, saya tidak mampu menemukan benang merah apa yang mau saya tulis tentang itu. Mau saya paksakan, tapi tak kunjung jua saya menulis. Tidak saya tulis, ide itu terus berkelindan dalam otak. Karena seperti yang pernah Seno Gumira Ajidarma sampaikan dalam sebuah pertemuan di Bandung, menurutnya tidak semua yang terjadi itu bisa ditulis menjadi cerita [karena dia cerpenis]. Kesimpulannya dalam tulisan saya, karena posisi saya sedang gandrung menulis catatan ringan macam ini, tidak semua hal bisa saya tulis dalam kolom ini. Si "dia" [ide] ada dalam kepala, tapi "tidak bisa ditampilkan dalam kata-kata". 


Kondisi saya sedang santai-santai saja sebenarnya, sedang dalam keadaan kondusif.  Namun, saya benar-benar sedang tidak mood, tidak mau memaksakan diri untuk meluangkan waktu berkata-kata, tidak seperti yang sudah-sudah. 


Sebenarnya contohnya sangat terlihat kalau Saudara jeli membaca beberapa tulisan saya yang lalu. Di sini, saya tidak bisa menjelaskan kenapa saya bisa rihat selama itu. Padahal tidak ada sesuatu yang mendesak atau kesibukan yang benar-benar menyita waktu. Bagi saya, istirahat ya istirahat saja. Begitu pikiran saya.


Hal ini pun sepertinya sangat relevan dengan kawan-kawan di komunitas saya. Sul Ikhsan, Bayhaki, Ray, apalagi Naimin. Mereka sudah lama tidak menulis. Barangkali inilah sebabnya. Asyik beristirah diri. Padahal setiap bertemu, saya selalu tagih, "Mana karya terbaru?". Mereka tak menggubris itu. Ternyata istirahat mereka jauh lebih panjang ketimbang saya. Saya tahu, mereka sebenarnya rindu, tapi mereka bingung rindunya harus memulai dengan apa dan harus bagaimana. 


Mereka (juga Saudara yang sedang baca tulisan ini) sepertinya perlu penyegaran. Saya suguhkan sepenggal bait puisi cantik Moh. Syarif Hidayat yang dipopulerkan oleh Panji Sakti.


rindu adalah perjalanan mengurai waktu

menjelma pertemuan demi pertemuan

catatannya tertulis di langit malam

di telaga dan di ujung daun itu

rindu mengekal menyebut nama-Mu

berulang-ulang


(Kepada Noor)


Selamat merindu! Selamat menulis!


Kiara, 6 September 2022


____

Penulis


Encep Abdullah, penulis yang maksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi NGEWIYAK, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Buku kolom proses kreatifnya yang sudah terbit Buku Tanpa Endors dan Kata Pengantar (#Komentar, April 2022).