Friday, September 2, 2022

Cerpen Firman Fadilah | Perempuan yang Menyulam Wajah Lelakinya dengan Air Mata

 Cerpen Firman Fadilah



Muna tak pernah meninggalkan kamarnya setelah ia merasa bahwa hatinya telah membatu dan tak akan pernah bisa merasakan cinta lagi. Ia berdiam diri di dalam kamarnya yang tertutup. Jendelanya tak pernah terbuka. Tidak ada cahaya. Ia sibukkan hari-harinya dengan menyulam kain. 


Seraut wajah lelaki disulamnya dalam kain yang dibentangkan begitu saja dengan telapak tangannya. Satu-dua tusukan berbaris rapi membentuk garis-garis tegas yang anggun. Meskipun matanya tertutup, Muna tak pernah salah menyulam seraut wajah lelaki dalam kain itu. Di sela bulu matanya, air garam mengalir, membelah pipi keriputnya hingga jatuh di atas kain yang membuat Muna tampak seperti sedang menyulam dengan air mata.


Sebelumnya, Muna dan kakaknya, Dullah, memiliki sebuah kedai kopi yang juga menjual gorengan dan nasi uduk. Mereka mengelolanya bersama-sama. Dullah seorang duda yang tidak memiliki anak, sementara Muna seorang perawan tua. 


Dari kedai itu, mereka menggantungkan hidup. Rumah kecil warisan orang tua bisa direnovasi. Bagian depannya dipugar untuk dibangun warung kecil-kecilan. Pelanggan warung itu tak pernah surut sebab Dullah dan Muna memang pandai memasak. Aneka kopi beragam jenis dan rasa tersedia. Namun, keahlian Muna dalam memasak tak mengantarkannya dalam indahnya mahligai rumah tangga.


Hingga suatu saat, datang lelaki dari kota yang mengaku sebagai teman lama Dullah. Namanya Mamat. Dulu, ia tinggal di kampung bersama kedua orang tuanya. Ketika ayahnya meninggal, ia pindah ke kota bersama ibu dan ayah barunya. Kini, ia kembali lagi ke kampung untuk melihat rumah tua yang tak dihuni siapa pun kecuali rimbun ilalang dan sarang laba-laba.


"Oi, Mat! Makin tua kau. Ha-ha-ha," Dullah meledek. 


Mereka berdua bersalaman, melepas rindu dan menjahit perca kenangan yang sempat terlerai.


"Tau-tau sudah duda kau, Dul."


"Istrimu. Mana istrimu?" 


"Aku belum menikah, Dul."


"Buset! Bujangan tua kau, Mat. Ha-ha-ha."


Mereka mengobrol dengan percakapan basa-basi seperti biasanya ketika waktu belum mengubah mereka menjadi lelaki dewasa. Mereka tenggelam dalam gelak tawa yang ramai seolah pertemuan itu ialah awal mula bagi kebahagiaan baru yang telah mengepak-ngepak pergi di antara mereka. 


Mamat menatap penuh kagum pada wajah kampung yang telah banyak berubah. Dulu, di jalan depan rumah Dul, ada dua pohon mangga yang menjulang tinggi. Sekarang, pohon itu telah tiada akibat proyek pelebaran jalan. Surau kecil telah berubah menjadi masjid besar. Dulu, segala yang dilihat tampak besar, sekarang tampak kecil dan asing. 


Persawahan luas tempat Mamat dan Dul memancing ikan betok dan belut sebagian telah rata. Di atasnya, berdiri madrasah ibtidaiyah dan lapangan bola. Suara burung pipit dan burung gereja jarang terdengar. Malahan, suara deru kendaraan bermotor rapat bergema. Yang paling membuatnya terkesiap ialah kedai di depan rumah Dul. 


"Ayolah, kita ngopi dulu!" ajak Dul.


Mamat duduk di bangku kayu, sementara Dul menjerang air. 


"Sejak kapan kau buka usaha ini, Dul?"


"Sejak istriku meninggal dan adikku, si Muna pindah ke sini. Oh, tentu kau belum tahu Muna, kan? Dari kecil dia tinggal sama nenek."


Sejurus kemudian, secangkir kopi terhidang lengkap dengan gorengannya. Uap kopi panas meliuk-liuk, membubung tinggi di udara yang menciptakan lukisan mozaik seorang perempuan berambut panjang. Mamat mengamati uap itu seperti tampak nyata, seorang perempuan tengah memandanginya. Tak lama Mamat sadar, ia memang sedang bertatapan dengan Muna yang berdiri di bibir pintu. 


Mereka berdua sama-sama terkesima. Muna berpakaian sederhana. Tidak ada riasan di wajahnya. Rambut panjang tergerai. Pipi kuning langsat khas perempuan kampung. Mereka tertegun sekian detik sebelum pada akhirnya sebuah mobil pick up membuyarkan pandangan mereka. Mobil yang mengangkut barang-barang Mamat dari kota berhenti di depan rumah Dul. 


"Muna, tolong bereskan ini. Aku mau bantu Mamat sebentar," ucap Dul. Muna mengangguk. 


Lemari kaca, kasur, dan rak sepatu diturunkan. Mobil tidak bisa langsung masuk sebab rumah Mamat ada di ujung gang yang tak cukup dilalui badan mobil. Sementara di sisi lain, Muna masih mencuri sempat untuk melihat Mamat yang berpeluh dari kejauhan. Tak heran ia terkesima sebab Mamat memiliki tampang yang rupawan. Para gadis mesti terpaku melihat seorang lelaki dewasa yang mapan untuk berbagi kasih. Tak terkecuali Muna. 


Barangkali, rasa itu disebut sebagai cinta pada pandangan pertama. Cinta yang tumbuh tanpa adanya alasan. Muna merasakan itu, suatu getaran di dadanya sebab jantung memompa darah dua kali lebih cepat dari biasanya. Setiap kali bertemu dengan Mamat, wajah Muna memerah. Ia merasakan kebahagiaan yang tak pernah dirasakannya sebelumnya. 


Mamat seketika itu menjadi pelanggan tetap di kedai Dul. Setiap pagi sebelum berangkat kerja, ia sempatkan menyesap secangkir kopi dan sepiring nasi uduk buatan Muna. Seketika itu pula, Muna berani bercakap-cakap seperti sekadar menanyakan kabar atau basa-basi perihal pekerjaan Mamat sebagai tenaga pengajar di madrasah ibtidaiyah. 


Dul diam-diam memerhatikan tingkah adiknya itu dan menyimpulkan bahwa Muna sedang kasmaran. Namun, timbul satu pertanyaan. Apakah orang yang Muna sukai itu merasakan hal yang sama? Mamat ialah lelaki yang rupawan pula berpendidikan tinggi, pastilah seleranya juga tinggi, sedangkan Muna hanya seorang perempuan kampung lulusan sekolah dasar yang hampir berkepala empat. Wajahnya tidak cantik juga tidak jelek. Ia hanya standar wanita biasa. Terlebih, Muna memiliki sedikit kekurangan di kakinya. Ia cacat. Kakinya pendek sebelah. Jalannya pincang. Dari kecil, ia selalu diperlakukan berbeda. Namun, bukankah setiap orang berhak untuk merasakan cinta? 


Tidak hanya itu, Muna juga dijuluki sebagai perawan tua oleh tetangga yang membuatnya berkecil hati dan cenderung menjahui orang-orang. Muna sering minder dan tidak percaya diri. Dullah merasa pesimis jika cinta sang adik terhadap Mamat bisa tersampaikan. Namun, toh, cinta punya banyak cara yang tak bisa dipahami oleh nalar manusia. 


Untuk pertama kalinya, pagi itu, Dul melihat Muna memakai lipstik. Bedak tipis juga menyelimuti pipinya yang mulai berkerut. 


"Cantik benar kau pagi ini," ujar Dul meledek. Muna hanya menyunggingkan selekuk senyum yang sangat hangat seperti matahari, seperti seorang lelaki yang ditunggunya. Pipinya merona.


Beberapa saat kemudian, Mamat datang. Seolah paham apa yang dipesan, Muna segera mengangsurkan sepiring nasi uduk, gorengan, dan secangkir kopi. 


"Selamat menikmati, Mas," ucap Muna mempersilakan. 


"Eh, tapi hari ini aku mau pesan dua piring."


Kening Muna seketika bergaris seolah menyimpan tanda tanya yang besar. Untuk siapa? Tidak biasanya ia makan dua piring. Akan tetapi, tanpa bertanya macam-macam, Muna segera mengangsurkan sepiring nasi uduk lagi untuk pelanggan setianya itu. 


Sejurus kemudian, sesosok perempuan jelita bertubuh jenjang muncul. Namanya Lingling. Ia juga seorang guru di madrasah ibtidaiyah tempat Mamat mengajar. 


"Ini kedai nasi uduk langgananku yang kukatakan tempo lalu. Rasanya enak."


Mereka berdua menikmati hidangan itu dengan lahap. Sementara Muna melihat dua orang itu dengan perasaan yang tak karuan. Ia cemburu. 


"Siapa guru cantik tadi, Mat? Pacarmu?" tanya Dullah.


"Insyaallah bulan ini lamaran."


"Alhamdulillah. Akhirnya kau laku juga. Ha-ha-ha."


Muna yang tak sengaja mendengar percakapan itu lantas berlari ke kamarnya, kemudian menguncinya rapat-rapat agar Dul tak tahu bahwa ia sedang menangis. Muna tak pernah keluar dari kamarnya kecuali untuk makan dan buang hajat. Ia tak punya selera untuk melanjutkan aktivitas hidupnya ketika ia mengetahui bahwa Mamat telah menikah dengan Lingling. Cinta pertamanya pupus. Di kamarnya, Muna tak henti-henti meneteskan air mata.


Pada pagi hari yang ke sekian kalinya, Mamat dan Lingling merasa kehilangan sebab Dul sudah menutup kedainya. Ia tak mampu mengelola kedai seorang diri. Muna tak pernah lagi menampakkan diri. Ia menghabiskan waktunya dengan menyulam kain.


"Kenapa Muna tak mau memasak nasi uduk lagi, Dul? Padahal, masakannya sangat enak," tanya Mamat. 


Dul mendengkus. Ia melirik pintu kamar Muna dan Mamat mengikuti. 


"Duduk, Mat. Aku akan cerita." 


Mamat bingung. Perasaannya canggung. 


"Sebenarnya, Muna suka sama kamu, Mat. Kamulah cinta pertama Muna. Tapi, ya, takdir tak seindah angan-angan manusia. Dari kecil Muna selalu sendirian dan ketika melihat kamu, ia jadi bersemangat."


Dada Mamat bergemuruh. Jantungnya memukul-mukul. Napasnya tersengal. Ia merasa sangat bersalah. Lingling yang duduk di sampingnya menyimak dengan saksama. Kening Mamat tiba-tiba berembun.


"Tentu ini bukan salahmu, Mat. Siapa yang bisa disalahkan kalau cinta telah jatuh? Ini rahasia Allah. Ada cinta yang jadi nyata, ada pula yang cuma jadi angan-angan belaka."


Mendadak Dul berdiri. Ia melangkah menuju kamar Muna dan membuka pintunya. 


"Lihatlah, Mat!"


Terlihat Muna sedang duduk di kasurnya. Badannya ringkih dan rapuh umpama menggambarkan guratan-guratan pedih di sekujur tubuh. Matanya terpejam, tetapi tangannya mahir menyulam kain tanpa melukai jari-jarinya. Air matanya menganak sungai di pipi hingga jatuh di atas kain yang membuatnya seolah sedang menyulam dengan air mata.


"Agaknya, Muna memang amat cinta kepadamu, Mat. Cinta yang sangat tulus, sampai-sampai ia mengabadikan wajahmu dalam kain yang disulamnya," ucap Dullah.


Mamat termangu.


Tanggamus, 23 September 2021


________


Penulis


Firman Fadilah, tinggal di Lampung. Karya-karyanya termuat di Radar Kediri, Radar Madiun, Radar Malang, Minggu Pagi, Bhirawa, Lampung News, langgampustaka.com, sukusastra.com, Majalah Elipsis, Tanjung Pinang Pos, Suara Banyumas, Harian BFox, Magrib.id, Kawaca.com, dan berbagai buku antologi. Buku cerpen pertamanya First Kiss (Guepedia, 2021).


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com