Thursday, September 7, 2023

Esai Nurhadi | Menjenguk Kembali "Manusia Indonesia" Mochtar Lubis

Oleh Nurhadi



Seandainya tidak ada kajian setiap minggu di #Komentar (Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa), saya mungkin tidak akan mengetahui isi buku yang kontroversial itu—melainkan sebatas kutipan-kutipannya. Buku itu berjudul Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis. Saya membacanya dengan perlahan. Bagi saya, setiap fenomena dalam tulisannya seperti tanda tanya yang harus "siap" secara mental. Bumbunya cukup sulit ditebak. Tapi, hal itu yang membuat saya semakin penasaran. Kemudian mencoba terbiasa dengan gejolak emosi dari ceramahnya itu.


Mochtar Lubis bagi saya adalah pujangga yang membawa napas ke-Indonesiaan menjadi diskursus sampai hari ini. Dan bisa kita lihat pada kata pengantarnya—oleh Jakob Oetomo—yang telah memantik, bahkan kontroversial, di sebagian orang. Ia adalah Margono Djojohadikusumo, ayah dari Prof. Soemitro Djojohadikusumo. Dikatakan Pak Margono ini sampai datang ke kantor Jakob bekerja hanya untuk menyampaikan protes terhadap ceramah Mochtar Lubis itu. Ia menghubungkan aristrokrasi dan feodalisme. Menurutnya aristokrasi jangan saja dilihat dari sisi negatifnya, tapi juga menunjuk ke sikap dan budi mulia.


Warisan Mochtar Lubis ini sebenarnya telah ada pendahulunya. Pembahasan "Manusia Indonesia" telah dibicarakan pada 1984 di Palembang saat diadakan Seminar Nasional Ilmu-Ilmu Sosial dengan tema “Kualitas Manusia dalam Pembangunan”—itulah yang tercatat dalam penelitian Joko Wicoyo. Masih pada sumber yang sama, hal itu juga pernah diungkap dalam pidatonya Presiden Soeharto. 


Presiden Soeharto mempertanyakan dalam membentuk manusia berkualitas itu apa saja yang diperlukan, mana saja yang bakal dijadikan prioritas, apa yang diperhatikan dalam mengembangkannya, bagaimana kebijaksaan dan dampaknya, dan bagaimana tolok-ukur keberhasilannya itu. Tentu pertanyaan itu tidaklah mudah bagi kita, mengingat Indonesia bukanlah satu individu, ras, budaya, keyakinan, dan golongan. Banyak sekali perbedaan yang ada pada Indonesia. Dan perbedaan itulah yang coba dikemas oleh Lubis sebagai watak manusia Indonesia.


Meski pertanyaan Soeharto itu kurang atau tidak sama sekali relevan jika disodorkan oleh pandangan Mochtar. Namun, kesederhanaannya daripada Soeharto yang formal-objektif membuat kita seakan melihat lebih dekat terkait watak manusia Indonesia, yakni (1) munafik atau hipokrit, yang di antaranya menampilkan dan menyuburkan sikap "asal Bapak senang" atau ABS, (2) enggan dan segan bertanggung jawab atas perbuatannya, (3) bersikap dan berperilaku feodal, (4) percaya takhayul, (5) artistik, berbakat dalam seni, dan (6) lemah watak atau karakternya.


Manusia Mochtar Lubis


Mengutip buku Jurnalisme dan Politik di Indonesia karya David T. Hill bahwa, Mochtar Lubis bukanlah seorang politisi partai, makelar kekuasaan, atau ideolog. Bukan juga seorang akademisi atau sarjana. Akan tetapi, sebagai perantara budaya yang fasih, pengarang pemenang penghargaan, dan wartawan terkenal secara internasional—seorang "budayawan" dalam arti luas—ia adalah salah satu juru bicara paling berpengaruh di negerinya dan memerintahkan ketenaran publik, demikian sepanjang hampir selama masa hidup dewasanya.


Mochtar Lubis lahir di Padang kota pelabuhan gudang di Sumatra Utara pada 7 Maret 1922. Beliau anak keenam dari pasangan Husein Lubis dan istrinya Siti Madinah Nasution. Ayahnya Mochtar Lubis merupakan seorang bangsawan dengan gelar ningrat Raja Pandapotan dan Anggota Majelis Pengadilan atau Namora-Natoras (Para Bangsawan atau Tetua). 


Pendidikan Mochtar Lubis muda berawal dari minatnya menjadi dokter, kemudian pada 1935, ia justru mendaftar Sekolah Ekonomi yang didirikan oleh S.M. Latif di Kayutanam. Di sana Lubis bergabung dalam Indonesia Muda, suatu gerakan nasionalis. Ketika lulus dari Kayutanam pada 1939, ia telah menjadi seorang yang nasionalis tulen. Lubis telah diselimuti gagasan nasionalis seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Soekarno. 


Mengutip Kompas, Lubis telah melewati beberapa lika-liku zaman dan barangkali telah kenyang menelan asam-garam kehidupannya sebagai wartawan. Ia bergabung dengan media Antara yang didirikan oleh Adam Malik dan ditugaskan sebagai penghubung antara koresponden asing yang masuk ke Jawa. Kemudian pada 1949 Mochtar bersama Hasjim membentuk surat kabar, yaitu Harian Indonesia Raya. Sejak itu, ia dikenal sebagai koresponden perang. Akibatnya, pada 1961 Mochtar Lubis dibui oleh rezim Orde Baru. 


Setelah bebas dari penjara pada 1966, Mochtar Lubis kembali menerbitkan media rintisannya itu pada 1968. Ia menginvestigasi kasus korupsi di Pertamina yang saat itu memiliki utang luar negeri 2,3 miliar dollar Amerika Serikat. Letjen Ibnu Sutowo selaku pimpinan Pertamina kemudian diberhentikan oleh Presiden Soeharto. 


Kemudian peristiwa lainnya di tahun 1974 telah pecah saat pagebluk malari, kemudian datangnya Perdana Menteri Jepang, Tanaka. Saat itu, banyak media yang meliput terkait kerusuhan yang terjadi, seperti terbakarnya Pasar Senen. Soeharto kemudian menginstruksikan untuk menutup sejumlah surat kabar, salah satunya yaitu Harian Indonesia Raya yang dipimpin oleh Mochtar Lubis.


Kiritik Sinkretisme


Seperti yang sudah disinggung di atas, Mochtar Lubis mendikotomi enam watak atau sifat manusia Indonesia. Di antaranya, setidaknya menurut saya, itu sering tampak di permukaan, yakni hipokrit atau munafik. Sebab, menurut saya itulah puncak dari sebuah masalah, uniknya terjadi sinkretisme, menggabungkan dua unsur di dalam perilakunya sebagai manusia. Dan itu dilakukan secara ekstrem atau bertolak belakang atas nilai dan idealismenya. 


"Kemaksiatan" tadi memberikan kesan bahwa manusia Indonesia itu tidak bisa dipercaya tanpa syarat. Itulah yang digambarkan oleh Mochtar Lubis. Agar lebih jelasnya, begini, ada seorang calon presiden yang dikenal puritan, mulutnya selalu keluar ayat-ayat Tuhan, di sisi yang lain justru ia melipat identitasnya itu dengan identitas yang sama sekali kontra. Ia datang ke dukun-dukun, meminta kepada laut dan pohon agar bisa tujuannya tercapai. Mochtar Lubis sendiri mengatakan itu “ngeri”. Sinismenya itu apakah diterima dalam menjelaskan manusia Indonesia tersebut?


Jelas tidak semuanya diterima. Demikian itu telah mereaksi dari beberapa pihak. Seperti, jika kita masih mengingat sosok Pak Margono yang berada di muka tulisan ini. 


Selanjutnya dalam buku Manusia Indonesia, karya Mochtar Lubis, Wirawan menyampaikan bahwa pernyataan-pernyataan Lubis hanyalah didasarkan pada pengamatan pribadi, dan tidak didasarkan pada suatu studi atau penelitian yang khusus dilakukan untuk itu sehingga dikhawatirkan dapat mengundang salah persepsi dari mereka yang tidak memahami secara dalam pemikiran Lubis. 


Lebih lanjut Wirawan menilai Lubis tidak konsisten dalam berargumentasi terkait kepribadian manusia Indonesia. Kontradiksinya sebagai manusia Indonesia yang bermalas-malasan berlawan dengan terampil pada tangan dan jarinya; ingin cepat sukses dan kaya berlawan dengan sabar.


Memang dalam ceramahnya itu, Lubis menyampaikan beberapa sifat-sifat positif manusia Indonesia. Seperti lemah lembut, sopan, penuh kasih sayang, artistik atau terampil, dan murah senyum. Masih dari sumber yang sama, Hanifah dalam komentarnya menempatkan Lubis sebagai “Dokter Masyarakat” yang telah berhasil melakukan diagnosis terhadap penyakit-penyakit yang diidap manusia Indonesia. 


Masalahnya tinggal pada mencari obat bagi penyakit-penyakit tersebut, dan obat harus dicari dari dalam tubuh manusia Indonesia sendiri, tidak harus mencari resep-resep dari luar. Hal ini terutama mengingat kala itu sudah terindikasikan bahwa pada masa mendatang jejaring interaksi yang bernuansa global akan menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan adanya.


Manusia Pancasila


Terdapat segmen yang menurut saya menarik untuk dibicarakan dan melihatnya itu sebagai refleksi. Manakala Lubis bertanya kepada auidens tentang siapa manusia Indonesia itu. Bagaimana tampanganya, rupanya, dan seterusnya. Sampai pada titik bahwa manusia Indonesia dapat dilihat dari tingkah lakunya yang berdasarkan dengan lima sila Pancasila: ketuhanan, kemanusiaan, keadilan sosial, kerakyatan, persatuan Indonesia.


Pernah sewaktu ketika saya mengikuti kuliah Pancasila, materi yang disampaikan itu tentang Sejarah dan Kesaktian Pancasila. Dosen itu bilang bahwa Pancasila adalah rumus tahapan bagi kehidupan bangsa Indonesia. Artinya, untuk mencapai nirwana atau Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, harus melewati sila-sila sebelumnya yang diawali dengan Ketuhanan Yang Maha Esa.


Setelah dipikir-pikir justru saya kurang puas dengan argumen seperti itu. Justru demikian adalah paradoks, bagaimana dengan sila pertama Pancasila yang mengatakan Ketuhanan Yang Maha Esa, siapa yang benar-benar akan menjamin orang meyakini sila pertama. Menurut saya, Panacasila adalah penegasan dan tawaran kepada dunia untuk menggambarkan identitas Indonesia itu sendiri. 


Dengan kata lain terciptanya Pancasila merupakan jaminan dari negara dalam urusan agama dan menjalankannya; memiliki hak untuk berserikat atau bersatu dengan kesamaan minat, pikiran, dan ideologi; dan memiliki status yang sama dihadapan publik—terutama di hadapan hukum sebagaimana asas equality before of the law.  


Ambisi dari Pancasila itu rupanya melahirkan manusia Pancasila, yang mencakup dari segala rupa ajaran agama dan aliran kebatinan, cita-cita emansipasi manusia oleh berbagai bentuk ideologi. Namun apakah manusia Pancasila itu benar-benar ada? Bagaimana dengan data statistik yang mengatakan kepada kita tentang kualitas hidup masyarakat di Indonesia yang masih jauh dari kata layak? 


Kemudian bagaimana banyaknya penyakit rasuah di setiap instansi? Pemangku jabatan dan penegak hukum yang ugal-ugalan? Penyakit sosial seperti narkoba, pergaulan bebas, dan kekerasan dalam rumah tangga? Juga bagaimana dengan kualitas pendidikan kita saat ini. Terdidik tapi sulit mencari pekerjaan. Pengajar honorer yang kurang sejahtera. Kurikulum pendidikan yang kerap digonta-ganti?


Ditambah lagi dengan konsekuensi modernisasi, keterhubungan, dan kertegantungan terhadap dunia luar telah menjangkiti manusia Indonesia. Baik yang berada di kota maupun di pelosok, semua berpotensi menjadi modern. Dan itu memiliki dampaknya sendiri, misalnya mencium tangan dianggap problematik dan kuno, tapi ciuman lambe di tempat umum dianggap romantis. Pakaian compang-camping alias telanjang berdalih kebebasan dan kesetaraan gender. Pintar tapi bermental teknis, pikiran dan jiwanya seolah hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar dan industri. 


Apakah itu tujuan dari modernisasi? Apakah itu yang diajarkan oleh Pancasila? Persoalan ini Saya serahkan kepada saudara-saudara. 


________

Penulis

Nurhadi atau biasa dipanggil Albert. Sekarang lagi pura-pura belajar di #Komentar. Karyanya pernah dimuat di koran harian Kabar Banten dan Majalah Sastra Kandaga Provinsi Banten. Selebihnya insyallah.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com