Tuesday, March 5, 2024

Proses Kreatif | Mengapa Guru Bahasa Indonesia Gagap Menulis?

Oleh Encep Abdullah



Guru-guru mapel Bahasa Indonesia—di sekitar saya sebagian besar tidak baca pedoman EYD. Mereka tidak paham pungtuasi. Saat saya baca cerpen mereka, saya mengelus dada berkali-kali. Ngerinya, sebagian besar, mereka itu guru bersertifikasi (guru profesional) di bidangnya. Bagaimana nasib murid-murid di kelas?


Itulah celoteh yang saya tulis di WA dan Facebook. Pernyataan ini memang agak temperamental. Saya akui itu. Respons pembaca sangat beragam. Ada yang menyalahkan saya. Ada juga yang membenarkan pernyataan saya. Keresahan ini bermula—sebenarnya sudah lama, entah mengapa baru kali ini gendeknya bukan main—ketika saya mengerjakan sebuah proyek buku antologi puisi dan cerpen guru-guru Bahasa Indonesia. Saat saya baca, begitulah.


Saya tidak kaget kalau ini karya siswa atau mahasiswa yang notabene masih belajar atau ia yang bukan guru pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Saya bilang kepada koordinator naskah antologi tersebut bahwa naskah wajib diedit karena banyak saltik juga penggunaan tanda baca yang keliru. Ini belum menyoal logika kalimat dan sebagainya. Saya serahkan kepada koordinatornya.


Saya harus jujur dalam hal ini bahwa guru-guru tersebut—yang ada dalam proyek buku antologi—memang kacau dalam menulis, khususnya cerpen. Saya tidak membicarakan hal lain di luar ini. Rekan saya, Ibrohim, membalas status WA saya: Beuhhh.. betul kita sebgai guru ada kekurangannya. Tapi siapa tahu kelebihan atau kebaikan mereka bisa lebih luas. Misal mengajari anak didik membaca, bisa menyukai puisi atau karya-karya yang lainnya. Jangan langsung ketok palu Bos😁😁 tanamkan alternatif pikiran-pikiran yang lain. Jadi lebih luas melihat sesuatu. 


Mungkin dalam status yang saya buat, pernyataan ”Bagaimana nasib murid-murid di kelas?” itu seolah untuk keseluruhan aspek pembelajaran. Bukan, tenang saja. Saya yakin setiap guru punya sisi kelebihannya masing-masing dalam membina siswa agar mereka menjadi siswa cerdas dan berakhlak mulia. 


Selain Ibrohim, ada juga kawan Facebook, Yanwi Mudrikah, berkomentar begini: Kehidupan itu saling melengkapi. Bukan menyalahkan satu dgn yg lainnya.


Yang menyalahkan siapa? Saya sedang menyatakan fakta di lapangan. Saya bilang bahwa saya juga guru Bahasa Indonesia dan penulis. Di kolom komentar, saya juga menjawab pernyataan Yanwi Mudrikah bahwa saya akan buktikan tulisan-tulisan mereka. 


Saya buka dulu laptop saya. Berikut tulisan yang dimaksud. Tulisan guru ini merupakan karya yang akan diterbitkan jadi antologi buku. Karya-karya di bawah ini (selain guru) adalah karya dalam buku terpisah. Ini merupakan tulisan asli penulis. Silakan dibaca dengan saksama. Di sini sengaja saya tidak menyertakan nama penulisnya.



Cerpen guru


Suatu hari aku kedatangan anak-anak kelas 9b. Mereka datang untuk mengucapkan terima kasih. Aku membuka pembicaraan,” Kalian mau melanjutkan ke mana?”  Zelita menjawab, “ Saya mau melanjukan ke SMAN di Kabubaten.” Aku bertanya kepada, Zeni yang meraih peringkat pertama,” Kalau kamu mau ke mana?” Zeni menjawabi, “ Saya akan mencoba ujian ke SPGN Kabupaten. “ Saya tidak tega bertanya kepada Tono karena ketika bersekolah di SMP saja sudah kesulitan. Aku hanya bisa berkata, “Tono juga sebaiknya mencoba melanjutkan sekolah, ya.”  Tono menjawab, “Iya, Bu, saya akan mencoba mendaftar ke  SPGN kotamadya.”


Cerpen guru


“Hai …Dek..?” aku ngomong kok di diemin mo ngobrol ma siapa nih?” Kak Fani sewot.

“Ya kak, maaf..” sahutku…

“Bunda gmna?” sehatkan?”

“Alhamdulillah kak, Bunda sehat. Paling bunda kepengajian bareng ma ibu-ibu komplek.”

“Syukurlah kalo sehat” mana bunda dek, kakak kangen ma bunda pengen  ngobrol.”

“Ya, kak dipanggil dulu ya bundanya.”

Aku balik ke kamar ketika kak Fani sudah mulai ngobrol dengan bunda, kelihatannya seneng banget, entah apa yang mereka bicarakan, aku jadi takut kalo-kalo bunda cerita kejadianku di sekolah…, semoga bunda ga cerita, pasti kak Fani ngomel, semua nama samaranku biasanya disebut, kalo kak fani lagi sewot.


Cerpen mahasiswa


Disaat bel sekolah berbunyi menandakan pulang sekolah, Dari kejauhan Lian melihat sinta dengan pacarnya tengah bertengkar di depan gerbang sekolah. Entah apa masalahnya, lelaki itu langsung membanting helm sinta ke jalan dan meninggalkannya sendirian. Lian langsung membawa motornya dan menghampiri sinta. Tapi sebenarnya ia malu, namun inilah langkah awal ia untuk menyampaikan niatnya. 

‘’k-kamu kenapa s-sinta?.’’ tanya Lian gugup. 

Ada perasaan menyesal dalam dirinya. ‘penting apa aku bertanya seperti itu kepadanya, aku bukan siapa-siapa’.  pikirnya. 

‘’aku gapapa kok, Lian.’’ jawab sinta sambil me-nahan tangis.

 ‘’m-mau a-aku antar p-pulang?.’’ rasa gugup menyelimuti Lian.

 ‘’makasih Lian, aku udah pesen ojek online kok.’’. Jawab Sinta.


Cerpen siswa


Sesampainya di kamar yang akan ditempati Fara “ternyata asramanya sangat luas ya bu” kata Bu Hafi takjub melihat luasnya kamar asrama yang akan ditempati anaknya ini.

“Tentu saja bu, agar anak-anak merasa tidak terkurung dan bebas dan juga di satu kamar akan di isi lima orang jadi anak-anak tidak akan kesepian.” jelas  Ibu kepala Bu Hafi mengangguk-anggukkan kepalanya

“Yasudah saya tinggal ya, nanti akan ada orang yang datang membawakan barang-barang anak ibu. Oh iya, dan satu lagi di asrama ini dilarang adanya gadget ya bu, agar anak tidak terganggu soal pembelajaran.” Jelas Ibu kepala lagi sebelum pergi meninggalkan ibu dan anak ini.



Tulisan guru, mahasiswa, dan siswa di atas memiliki kesamaan: sama-sama kacau. Misal karya guru tersebut dibukukan dengan kualitas semacam itu, apakah pantas dijadikan teladan oleh para siswa yang nanti baca? Kalau gurunya kencing berdiri, muridnya tentu akan kencing berlari.


Guru-guru bersertifikasi, khususnya guru Bahasa Indonesia, apakah sudah baca "kitab" yang benar saat dulu kuliah di kampus? Juga saat kuliah Pendidikan Profesi Guru (PPG)? Dalam hal menulis, saya yakin mereka tidak akan keliru bila diawali dengan gemar membaca—buku apa saja. Dengan banyak membaca—khususnya buku-buku yang sudah dikualifikasi dan dieditori—sebenarnya secara tidak langsung mereka sedang belajar EYD walaupun setiap buku dan penerbit punya gaya bahasa selingkung. Intinya, guru harus banyak membaca buku.


Seorang kawan, Dewi Setiawati, berkomentar di Facebook bahwa setiap guru punya cerita dan latar belakangnya sendiri. Bisa jadi guru-guru tersebut secara keilmuan kurang, tapi perhatian, kepedulian, dan kasih sayang kepada siswa sangat tinggi. Bisa jadi sang guru harus menjadi tulang punggung keluarga. Menurut Devi, lebih aman menyalahkan sistemnya.


Balik lagi kepada komentar saya terhadap pernyataan Ibrohim. Setelah saya baca karya para guru itu, saya harus mengungkapkan kenyataan bahwa sebagian besar guru Bahasa Indonesia (di salah satu kota di Banten) gagap menulis, tidak menguasai tanda baca. Selebihnya, saya tahu setiap guru punya kelebihan masing-masing. Kalau sistem terus yang disalahkan, kapan guru berkembangnya? Guru, dalam hal ini, juga perlu sadar diri. Kalau memang tidak mengerti menulis, tanda baca, ya, belajar. Kasus yang mau saya ungkapkan memang mengerucut kepada menulis cerpen. Guru-guru itu kalau bikin buku—seperti yang saya sampaikan di atas—misal, buku itu tidak diedit, dibiarkan begitu saja dengan tata bahasa yang amburadul, apakah nanti tidak malu kalau siswanya baca? Guru Bahasa Indonesia, loh, bukan guru yang lain. Kalau nanti anak-anak menulis cerita, siapa yang bakal meluruskan kalau salah. Begitu maksud saya. Kalau pernyataan saya ini memang menyindir atau memukul isi kepala para guru Bahasa Indonesia, saya bersyukur. Berarti, mereka mengakui kekurangannya di bidang ini. Tapi, kalau mencari alasan ini dan itu tanpa mau menggali dan belajar lagi, ya, itu namanya sombong. Kasihan anak-anak. Mereka menunggu karya terbaik Anda sebagai guru, sebagai contoh dan teladan mereka—dalam hal ini menulis cerita. 


Simpulan saya, kalau guru lemah dalam memberikan contoh, berikan saja contoh apa yang ada di dalam buku. Suruhlah anak-anak untuk membaca banyak buku, terutama bacaan sastra. Tulislah sesuai dengan apa yang mereka baca. Masalahnya, bagaimana kalau gurunya juga malas baca buku dan tidak memberikan akses bacaan yang baik kepada para murid? 


Kalau para guru kesulitan mengajari anak-anak terkait EYD dan sulit mencari bukunya, coba cek laman https://ejaan.kemdikbud.go.id/! Di sini lengkap membahas tentang penggunaan huruf, penulisan kata, penggunaaan tanda baca, dan penulisan unsur serapan.


Saya kembali lagi pada proyek buku antologi para guru itu. Saya bertanya kepada koordinatornya, apakah mau tetap lanjut dan buku tersebut dicetak? Selain itu, saya bertanya mengapa ia mau melakukan semua ini? Faktor apa yang memberikan inspirasi untuk membukukan karya para guru yang isinya, maaf, hancur itu?


Teman saya menjawab bahwa ada seorang guru senior yang berbisik kepadanya, ”Neng, saya belum pernah, loh, punya karya dibukukan.” —maksudnya baru kali ini, buku yang dimaksud guru senior ini adalah buku proyek sebelumnya, tentang praktik baik mengajar. Teman saya merasa tersentuh dengan pernyataan ini. Teman saya ini merasa ikut bahagia saat melihat guru senior itu bahagia karena punya karya. Akhirnya, teman saya membuka kembali laptopnya, mengecek kembali naskah-naskah di sana. Ternyata di sana ada naskah guru-guru MGMP saat zaman Covid-19 melanda. Dulu, para guru sempat mengagendakan proyek penerbitan buku. Karena teman saya ini teringat senyum bahagia guru senior itu, ia juga ingin memberikan senyuman kepada guru lain dengan cara menerbitkan buku kembali, yang mungkin bagi sebagian guru adalah pengalaman pertama karya mereka diterbitkan dalam bentuk buku. 


Bagi saya, ini adalah sebuah pintu yang terbuka bagi para guru tersebut. Semoga pintu kebahagiaan ini dapat membuka pintu kebahagiaan yang lain. Dengan begini, setidaknya para guru (Bahasa Indonesia) diberikan stimulus dan semangat lagi untuk belajar menulis, belajar menyusun kalimat, belajar EYD. Lantas, apakah kelak mereka bisa menghasilkan karya yang lebih bagus dari  sebelumnya? Wallahualam.


Kiara, 5 Maret 2024


________


Penulis


Encep Abdullah, penulis yang memaksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Buku proses kreatifnya yang sudah terbit berjudul Diet Membaca, Ketiban Inspirasi (Maret 2023).