Showing posts with label Karya Guru. Show all posts
Showing posts with label Karya Guru. Show all posts

Monday, March 30, 2026

Karya Guru | Kapan Bapak Jualan? | Cerpen Syabaharza

Cerpen Cerpen Syabaharza 



Sepeda ontel dan keranjang dagangan masih terparkir dengan rapi di halaman rumah. Ampas kelapa yang sudah mulai membusuk berserakan di sekitar sepeda. Sabut kelapa juga tidak kalah semerawut, menambah kesan tidak teratur halaman rumah itu. Tulisan “besok bayar, hari ini gratis” tampak jelas di keranjang. Susunan aksara yang kesannya biasa tetapi terkadang menjebak bagi yang tidak memahaminya. Beberapa butir kelapa tua yang belum dikupas bergelantungan di sebuah kayu yang sengaja diciptakan. Toples dengan bentuk dan rupa yang sama masih tersusun rapi dalam keranjang. Toples itu berisi air dengan warna random. Seolah seperti sahabat karib, keranjang dan toples itu selalu bersama.


Pak Darsim dan anaknya semenjak tadi memandang ke arah sepeda dan keranjang itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Tatapan mencari jawaban dari sebuah permasalahan yang tidak diketahui kapan akan terjawab. Sepasang mata keduanya tidak berkedip memperhatikan segala pernak-pernik di sekitar sepeda dan keranjang itu. Dua pasang mata itu mewakili beberapa orang miskin yang tidak mampu berbuat banyak ketika diterjang oleh kesewenang-wenangan. Ketidakadilan seolah akrab dengan mereka. Sepeda dan keranjang itu turut menjadi saksi ketika fitnah itu dengan telak menghantam mata pencahariannya. Fitnah yang diluncurkan oleh segelintir orang berseragam. Fitnah begitu tajam bagai anak panah yang diluncurkan dengan kekuatan penuh.


Sudah hampir satu pekan sepeda ontel dan keranjang itu terparkir di halaman. Belum bisa dipastikan kapan sepeda itu beroperasi lagi. Traumatik psikis yang membuat Pak Darsim belum berani untuk berdagang kembali. Rasa sakitnya mengalahkan seperti ditusuk benda tajam yang sangat tajam. Pukulan dan tendangan yang dirasakan Pak Darsim waktu itu memang sakit, namun pukulan kepada psikisnya jauh lebih membekas. Bekas lebam yang masih terlihat di pipi dan tubuhnya masih bisa ditahan, tapi luka di hatinya terasa sangat perih. Walau demikian Pak Darsim tetap berusaha tegar di hadapan anak semata wayangnya. Hanya ia bingung harus kemana mengadu dan mencari nafkah untuk buah hatinya itu.


***


“Kapan Bapak jualan?”


Entah sudah berapa kali anaknya melontarkan pertanyaan seperti itu. Mungkin karena Pak Darsim tak kunjung memberikan jawaban.


Pak Darsim belum bisa menjawab. Ia hanya mengelus kepala anaknya itu dengan penuh cinta dan sayang. Dibelai rambut anaknya yang sudah memanjang sampai bahu itu. Kesedihan kembali menyeruak dari hati Pak Darsim.


“Bapak tidak apa-apa kan?”


Merasa pertanyaan pertama tidak digubris, sang anak melontarkan pertanyaan lagi. Kali ini pertanyaan yang mewakili kekhawatiran seorang anak terhadap keadaan orang tuanya.


“Tidak Nak, Bapak baik-baik saja.”


Seperti biasa Pak Darsim mampu menjawab pertanyaan selain “kapan bapak jualan?”. 


“Kalau begitu, kapan Bapak jualan lagi?”


Dan untuk kesekian kalinya Pak Darsim tidak bersuara ketika pertanyaan itu dilontarkan sang anak.


Fenomena diamnya Pak Darsim ketika diajukan pertanyaan tertentu membuat sang anak merasa bingung dan penasaran. Sang anak terus bertanya-tanya dalam hati, mengapa bapaknya selalu ada jawaban untuk pertanyaan lain, tetapi membisu seribu kata jika pertanyaan “kapan jualan” disampaikan.


Sang anak terus mencoba menebak terkait perilaku sang bapak. Sang anak berasumsi bapaknya mengalami amnesia khusus untuk pertanyaan itu saja. Tapi apakah ada penyakit seperti itu. Selama ia sekolah belum pernah mendengar adanya penyakit amnesia sebagian, sepengetahuannya jika orang amnesia maka akan lupa segalanya.


“Bapak mau makan?”


Sang anak mencoba mengubah pertanyaannya kembali. Pertanyaan yang sengaja ia bedakan dengan pertanyaan sebelumnya. Sang anak ingin tahu apakah pertanyaan versi terbaru ini akan dijawab bapaknya.


“Bapak belum lapar.”


Keheranan sang anak bertambah membuncah. Keheranannya sekarang sudah bercampur dengan amarah yang siap menyembur bagai lahar gunung berapi. 


Sang anak heran dengan bapaknya yang hanya bisa menjawab pertanyaan selain “kapan jualan.” Sang anak marah terhadap dirinya yang tidak mampu memahami apa yang menimpa bapaknya.


Sang anak diam tanpa bisa berbuat apa-apa lagi. Ia menatap sang bapak yang masih terlihat seperti orang linglung. Rasa sedih menjelma dalam dirinya. Ia tidak pernah membayangkan bapaknya jadi seperti sekarang ini. Ia sudah hampir putus asa menunggu jawaban pertanyaan “kapan bapak jualan”.


***


Keadaan Pak Darsim yang tidak bisa menjawab pertanyaan “kapan bapak jualan” dengan cepat menyebar ke pelosok kampung. Sebagian besar penduduk menyangka bahwa Pak Darsim masih trauma dengan kejadian beberapa pekan yang lalu. Kejadian ketika Pak Darsim diperlakukan seperti pesakitan yang sangat berdosa. Dagangannya habis dilempar dan dihancurkan. Waktu itu Pak Darsim tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyaksikan dengan matanya sendiri sumber penghidupannya diporak-porandakan.


Menurut cerita, waktu itu ada yang membeli dagangan Pak Darsim. Seperti biasa Pak Darsim melayani dengan ramah dan senyum. Sebagai pedagang tentu ia girang dagangannya dibeli. Satu per satu pembeli itu dilayani. Dan dalam sekejap dagangan es kelapanya hampir ludes. Kebahagian Pak Darsim semakin menjadi karena selain uang sudah terkumpul dan dagangannya habis. Ia juga bisa pulang cepat ke rumah. Pak Darsim pun duduk santai sambil merapikan uang yang sudah didapatnya.


Awal mula masalah mengampiri Pak Darsim ketika ada dua orang laki-laki berbadan besar mendatanginya. Tanpa bertanya dan tanpa berbicara kedua lelaki itu menendang keranjang es Pak Darsim sambil mengeluarkan kata-kata kasar.


“Kamu coba menipu ya?”


Lelaki berseragam cokelat dengan pangkat di bahunya melontarkan pertanyaan kepada Pak Darsim. Namun belum sempat Pak Darsim menjawab ia sudah menjulurkan tangan ke dalam keranjang dagangan Pak Darsim dan mengambil sebuah es kelapa yang masih dibungkus.


“Sekarang kamu yang makan!” lelaki itu menyodorkan es kelapa itu ke mulut Pak Darsim. 


Mendapat perlakuan seperti itu, Pak Darsim kaget. “Ada apa ini Pak?”


“Jangan banyak tanya, makan saja itu!” lelaki satunya yang memakai baju kaos oblong membentak Pak Darsim.


Karena ketakutan yang sangat luar biasa dan juga demi menjaga keselamatannya, dengan terpaksa Pak Darsim memakan es kelapa yang merupakan dagangannya itu.


Kedua lelaki itu memperhatikan dengan saksama ketika Pak Darsim memakan es kelapa itu. Mereka menunggu reaksi yang akan terjadi terhadap Pak Darsim. Namun sampai es kelapa itu habis, Pak Darsim tetap seperti biasa.


Kedua lelaki itu saling pandang. Mereka heran kenapa Pak Darsim tidak apa-apa. Padahal tadi ada laporan bahwa es kelapa Pak Darsim berbahaya karena diduga terbuat dari kelapa busuk. 


“Kami minta maaf ya, Pak,” dengan rasa malu dan bersalah kedua lelaki itu mengatupkan kedua tangan di dada menghadap Pak Darsim.


“Kami sudah sembrono.”


Pak Darsim bertambah bingung. Ia tidak bisa menjawab apa-apa. Tubuhnya masih gemetar. Tangannya tidak bisa bergerak. Peristiwa beberapa saat tadi sangat membuatnya terpukul. 


“Tolong jangan dilaporkan ya, Pak!” lelaki berseragam itu kembali memohon kepada Pak Darsim.


Pak Darsim masih diam. Wajahnya masih tampak pucat. Kerutan hitam di wajahnya bertambah jelas.


***


Sore itu Pak Darsim dan anaknya kembali duduk di teras. Mereka kembali memperhatikan sepeda ontel dan keranjang dagangan yang masih di posisinya.


“Kapan bapak jualan?”


Kembali sang anak bertanya kepada Pak Darsim. Tapi Pak Darsim tetap konsisten dengan kebisuannya ketika ada pertanyaan itu.


_______


Penulis


Syabaharza
adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang tinggal di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di syamsulpemulutan81@gmail.com.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Monday, February 23, 2026

Karya Guru | Pulang Siang | Esai Restu Andika Purnama Indah

Esai Restu Andika Purnama Indah



Dulu, saya kira hanya pelajaran Matematika yang dianggap rumit. Ternyata, setelah menjadi dewasa, hidup tidak sesederhana “saya suka kamu, dan kamu suka saya”. Selesai. Mungkin apa yang dikatakan Chairil Anwar dalam kutipan puisinya yang berjudul Karawang–Bekasi terasa lebih tepat: “Kerja belum selesai, belum apa-apa.”

Menjadi anak-anak memang identik dengan bermain, selain makan dan membuat keributan. Terlebih ketika duduk di bangku SD (Sekolah Dasar). Siang hari, tepatnya pukul dua belas teng, sudah pulang sekolah. Sesegera mungkin kembali ke rumah dan melakukan aktivitas lainnya: bermain (lagi, dan lagi). Menjelang magrib, mengaji di rumah guru ngaji yang juga tetangga di tempat tinggal saya.


Lalu, kapan tidurnya? Kemungkinan besar itu pertanyaan yang muncul dari orang tua. Jawabannya ada dua: tidur siang (setelah pulang sekolah) dan tidur malam (pukul 21.00 sebagai batas maksimal waktu istirahat). Konon, tidur siang sudah menjadi ritual krusial bagi sebagian besar orang tua dahulu, yang diperuntukkan dan diwajibkan bagi anak-anak mereka. Barangkali kebiasaan itu masih berlaku hingga saat ini, begitu pula dengan saya.


Waktu kecil, saya selalu disuruh tidur siang oleh orang tua. Tidak ada kata “tidak”, tidak ada penolakan, apalagi negosiasi. Bagi orang tua saya, tidur siang adalah ritual yang harus dilakukan. Anak ditemani—lebih tepatnya dijaga—hingga terlelap. Jika tidak, akan ada akibatnya: pernah mencoba kabur demi main bersama teman-teman, tapi tidak lama saya terjatuh dan kedua kaki (lutut) saya terluka. Namun, dari situlah saya baru ngeuh ketika beranjak dewasa, tepatnya saat duduk di bangku SMA (Sekolah Menengah Atas): ternyata tidur siang itu mahal.


Sejak SMA, tidur siang menjadi sesuatu yang langka. Dari pagi hingga sore harus belajar tanpa henti. Kalaupun ada jeda, itu hanya saat sekolah mengadakan kegiatan tertentu, barulah terasa angin segarnya. Berbeda ketika di universitas. Jam pembelajaran tidak selalu berurutan. Kadang pagi, siang, atau sore. Ada yang siang hingga sore. Tidak selalu konsisten dari pagi sampai sore seperti masa SD hingga SMA.


Pendidikan di Indonesia mengenal sistem pulang sore hari. Saat ini dikenal dengan istilah full day school, meskipun tidak diterapkan di semua jenjang. Sistem ini lebih banyak diberlakukan di jenjang SMA, meski kini mulai marak pula di SMP. Hampir setara dengan pekerja yang berangkat pagi dan pulang sore, bedanya, siswa tidak digaji. Barangkali sejak awal pendidikan kita memang disetel untuk mencetak karyawan, bukan pemimpin, terlebih pemilik usaha yang mereka bangun sendiri.


Padahal, semua itu bisa saja diwujudkan jika siswa diberi waktu lebih, misalnya pulang siang. Seusai menunaikan ibadah salat Zuhur (bagi umat Islam), mereka bisa menikmati tidur siang. Sore harinya, mereka dapat kembali beraktivitas. Bercengkerama bersama keluarga atau sekadar mager (malas gerak) di rumah pun tidak menjadi persoalan. Itu hak mereka.


Bahkan, ada pula yang memanfaatkan waktu luang dengan berjualan sebagai bentuk usaha untuk belajar berdiri di atas kaki sendiri. Sebagai calon pengusaha yang kelak mampu membuka lapangan pekerjaan tanpa basa-basi. Karena itu, biarkanlah mereka berekspresi sesuai dengan waktu luang yang mereka miliki.


Jika mengingat padatnya waktu pembelajaran di sekolah, sebentar lagi kita akan menyambut bulan Ramadan. Hanya di bulan Ramadan, waktu pembelajaran terasa lebih efektif (bagi saya). Bagaimana tidak, siswa yang biasanya belajar hingga sore hari, kini hanya setengah hari, sampai siang saja. Setidaknya mereka bisa bernapas lega, meski sementara, setelah ditempa tugas, ulangan, dan berbagai tuntutan lain.


Perlu diingat, fokus siswa di sekolah rata-rata hanya mampu bertahan sekitar dua puluh menit. Selebihnya? Pikiran mereka mulai bergentayangan: “Nanti istirahat makan apa, ya?” Barangkali itu salah satu isi kepala mereka.


Bukankah sekolah adalah rumah kedua bagi siswa? Rasa senang dan bahagia seharusnya menjadi sesuatu yang diidam-idamkan dalam pembelajaran. Belajar karena ingin tahu, ingin bisa. Bukan untuk ajang pamer, bukan pula untuk perlombaan menentukan siapa pemenang. Mereka tidak sedang berlomba. Kalaupun ada perlombaan, itu dengan diri sendiri: apakah hari ini lebih baik dari kemarin, atau justru sebaliknya?


Jika ilmu mampu membuat mereka merenung, maka tahap berikutnya adalah penerapan. Melalui proses itulah, barangkali pembelajaran yang bermakna akan benar-benar terasa.


Belajar dari sistem pendidikan luar negeri tentu boleh. Namun, di lapangan perlu dilihat pula bagaimana penerapan yang cocok bagi siswa di Indonesia. Jangan sampai sistem dari luar negeri di-copy paste mentah-mentah ke negeri ini.


Berkaca pada Jepang dan Korea, misalnya. Kedua negara ini dikenal sangat tekun dalam belajar. Saking tekunnya, jam pulang ke rumah bisa hingga larut malam karena adanya jam tambahan les atau bimbel (bimbingan belajar). Namun, tidak sedikit pula kasus hara kiri di Jepang dan bundir (bunuh diri) di Korea. Mungkin mereka lelah karena tekanan persaingan yang begitu berat, atau karena tidak pernah merasakan kebahagiaan dalam prosesnya.


Mengapa kita tidak belajar dari Finlandia, yang dinobatkan sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia? Waktu belajar di sana fleksibel, hanya sekitar 4–5 jam per hari, dengan waktu istirahat yang cukup panjang di setiap pelajaran. Anak-anak diberi ruang untuk istirahat dan menekuni hobi. Pekerjaan rumah pun sangat minim. Fokus pendidikan lebih ditekankan pada kreativitas, berpikir kritis, dan keseimbangan emosional, bukan semata kemampuan akademik.


Dari sana, pada akhirnya tumbuh rasa bahagia dalam diri anak, terutama dalam proses belajar. Tanpa kekangan, tanpa perundungan, dan tanpa tekanan untuk menjadi peringkat pertama. Barangkali, hal-hal semacam inilah yang sesungguhnya dibutuhkan siswa: belajar karena memang ingin bisa, tanpa tekanan dari siapa pun dan dari mana pun.

______

Penulis

Restu Andika Purnama Indah, lahir di Bandung, 4 Februari 1991. Ia adalah guru di SMAN 3 Kota Serang.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Karya Guru | Kejamnya Sistem atau Memang Gurunya yang Tertinggal? | Esai Mega Andini Putri

Esai Mega Andini Putri



Apa yang terbesit di benak kita ketika mendengar atau melihat kata “guru”? Orang pintar? Orang hebat? Sosok yang disegani? Figur yang harus serba bisa? Pribadi yang selalu mengutamakan orang lain? Atau justru seseorang dengan gaji yang imut? Tidak sepenuhnya salah jika penilaian-penilaian itu langsung muncul. Setiap orang memiliki definisinya masing-masing.

Sedikit berbagi pandangan, saya pribadi cukup tertarik pada penafsiran sebuah kata atau konsep yang kerap hadir dalam kehidupan sehari-hari—termasuk kata “guru”—yang kemudian ditinjau dari konteks lain, misalnya dalam konteks agama. Saya ambil contoh dari agama Hindu. Dalam ajaran Hindu, guru “…merupakan simbol bagi suatu tempat suci yang berisi ilmu (vidya) dan juga pembagi ilmu. Seorang guru adalah pemandu spiritual atau kejiwaan bagi murid-muridnya.”

Contoh lain datang dari agama Buddha. Dalam pandangan Buddha, guru “…adalah orang yang memandu muridnya di jalan menuju kebenaran. Murid seorang guru memandang gurunya sebagai jelmaan Buddha atau Bodhisattva.”

Jika ditilik dari definisi-definisi tersebut, guru tampak sebagai sosok yang luar biasa, bahkan disebut sebagai “jelmaan Buddha”. Kata jelmaan di sini, menurut pandangan pribadi saya, dapat dimaknai sebagai seseorang yang seolah diutus secara murni oleh Tuhan, benar-benar memiliki ilmu yang besar, serius, dan bertanggung jawab untuk menyebarluaskan serta mengimplementasikan ilmunya agar berdampak nyata bagi murid-muridnya. Intinya, guru bukanlah orang biasa.

Kilas balik ke masa ketika saya duduk di bangku kelas satu sekolah dasar. Saat itu, profesi guru kerap menjadi dambaan atau cita-cita sebagian anak-anak di generasi saya. Alasannya mungkin terdengar klasik: melihat guru yang mengajar di kelas, atau karena orang tua maupun anggota keluarga berprofesi sebagai guru.

Lalu, apa alasan saya sendiri ingin menjadi guru kala itu? Sejujurnya, saya tidak memiliki referensi dan motivasi yang kuat. Kemungkinan besar alasannya tidak jauh berbeda dari alasan-alasan klasik tersebut: guru dipandang sebagai sosok yang dihormati, disegani, bahkan ditakuti oleh murid-muridnya; guru terlihat sangat pintar—“kok bisa, ya, ngajarin Matematika yang, ya Allah, susah banget!”; iming-iming diangkat menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) karena orang tua kebetulan guru PNS; atau alasan eksternal lain yang membentuk pola pikir, “Udah jadi guru aja, kamu kan perempuan. Cocoknya jadi guru. Pulangnya siang, nggak sampai sore. Nanti kalau sudah berkeluarga masih bisa ngurus anak.”

Namun, kita semua tahu bahwa menjadi guru tidak semudah menjentikkan jari. Tidak ada proses instan seperti, “Wah, sudah dewasa nih, langsung bisa jadi guru.” Standar minimal yang saya ketahui, seseorang yang ingin menekuni profesi guru di Indonesia wajib menempuh pendidikan formal Strata 1 (S1) selama kurang lebih empat tahun, mempelajari berbagai disiplin ilmu dan SKS yang berfokus pada pendidikan, anak, serta jurusan yang dipilih.

Bahkan kini terdapat standar tambahan: seorang guru wajib memiliki sertifikat pendidik melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang ditempuh selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Hal ini ditegaskan melalui regulasi pemerintah, yakni berdasarkan UU No. 14 Tahun 2005 dan Permendikbudristek No. 19 Tahun 2024, yang menyatakan bahwa guru wajib memiliki sertifikat pendidik sebagai bukti profesionalisme.

Walaupun saat ini saya belum berada pada standar tersebut, mungkin nanti. Kembali pada pembahasan standar minimal menjadi guru, itulah proses yang saya jalani sejak kuliah pendidikan pada tahun 2019 hingga kini mengajar di sekolah dasar, sembari berupaya terus meningkatkan dan memperbarui ilmu pengetahuan yang berkembang dari waktu ke waktu.

Saya sendiri belum lama menyandang status sebagai “guru”. Namun sebelumnya, saya memiliki pengalaman terjun langsung mengajar di beberapa sekolah dasar saat masih kuliah, tepatnya ketika mengikuti PPLSP (Pengenalan Pendidikan Lapangan Satuan Pendidikan) yang diutus oleh kampus, serta magang bersertifikat di bawah naungan Kemendikbudristek. Dengan kata lain, saya tidak sepenuhnya “buta” terhadap hiruk pikuk dunia pendidikan dan sekolah.

Menariknya, sejak awal perjalanan saya menuju profesi guru—bahkan ketika sudah duduk di bangku kuliah keguruan—saya tidak memiliki motivasi yang benar-benar ngena. Apakah karena alasan klasik masa kecil, dorongan eksternal, atau justru karena tidak ada alasan sama sekali. Hingga akhirnya saya lulus dan memperoleh gelar S.Pd (Sarjana Pendidikan). Saya merasa bangga, karena untuk meraih gelar ini banyak hal yang harus dilalui: sakit fisik dan mental, kehabisan uang, kehabisan waktu, kebingungan menghadapi skripsi, dan problem lain yang tidak mungkin saya jabarkan satu per satu.

Saat itu, pikiran saya sederhana: yang penting lulus, lalu melamar menjadi guru. Saya belum benar-benar memikirkan apakah saya sudah layak mengajar, bagaimana masa depan saya, tantangan dan beban profesi guru, atau bagaimana sistem dan kebijakan negara memperlakukan profesi ini, mulai dari upah minimum hingga profesionalisme.

Dengan dorongan dan sedikit paksaan dari orang tua, saya memberanikan diri melamar pekerjaan. Motivasi saya masih setengah-setengah, penuh keraguan, dan belum sepenuhnya yakin.

Saya pun menyusun CV (Curriculum Vitae) sebaik mungkin, memuat riwayat pendidikan, pengalaman, serta keterampilan yang bisa “dijual”. Tidak butuh waktu lama, saya mendapat panggilan dari salah satu sekolah dasar swasta yang cukup terkenal dan bereputasi baik untuk mengikuti tes microteaching dan tes pengetahuan.

Tes microteaching merupakan metode latihan untuk meningkatkan keterampilan dasar calon guru, dengan sasaran penguasaan empat kompetensi utama: pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Prosesnya menyerupai pembelajaran nyata, hanya saja dilakukan dalam waktu dan jumlah siswa yang terbatas. Tujuannya agar calon guru lebih siap menghadapi pembelajaran sesungguhnya.

Sayangnya, keberuntungan belum berpihak pada saya. Entah karena persiapan yang kurang matang atau kemampuan yang belum memadai, saya dinyatakan tidak lolos. Saya sempat sedih dan bertanya-tanya, mengingat saya telah mencantumkan berbagai keterampilan dan sertifikat pendukung. Namun, saya memilih melanjutkan langkah.

Beberapa minggu kemudian, saya kembali mendapat panggilan dari sekolah lain. Kali ini saya mempersiapkan diri dengan lebih serius: memahami materi, menyiapkan media dan modul ajar, melengkapi berkas, serta—yang terpenting—mempersiapkan mental dan komitmen. Singkat cerita, saya diterima sebagai asisten guru di kelas rendah.

Waktu berjalan. Saya belajar banyak hal: karakter murid, dinamika rekan kerja, sistem sekolah, hingga lingkungan kerja. Pada tahun ajaran baru, saya dipercaya menjadi guru kelas tinggi sekaligus menjabat sebagai humas sekolah. Awalnya saya senang, merasa dipercaya meskipun masih fresh graduate. Saya berpikir jabatan ini akan menjadi ruang belajar dan pengembangan diri, terlebih karena saya memiliki keterampilan yang memadai.

Dalam menjalankan peran sebagai guru kelas dan jabatan fungsional ini, saya termasuk orang yang idealis dan totalitas. Prinsip saya sederhana: jika sudah memegang amanah profesi, maka harus dijalani dengan sungguh-sungguh.

Namun, di titik tertentu, kejenuhan muncul. Saya merasa telah bekerja maksimal, tetapi tidak mendapatkan apresiasi yang sepadan. Bayangkan, sebagai pemegang jabatan ini, saya hanya menerima honor puluhan ribu rupiah per bulan. Bagi saya, ini bukan sekadar tidak layak, tetapi juga bentuk eksploitasi.

Ketika saya mencoba menuntut hak secara wajar, respons yang saya terima justru manipulatif. Saya dicap tidak bersyukur, rakus, dan hanya mengejar uang. Dalih yang digunakan selalu sama: ikhlas, amal jariyah, balasan Tuhan. Padahal ini dunia profesional, input dan output seharusnya seimbang.

Sebagai guru kelas, problem lain pun bermunculan: konflik dengan orang tua murid, dinamika tidak sehat dengan rekan kerja, hingga rasa iri terhadap kerja profesional yang saya lakukan. Saya mulai bertanya-tanya, mengapa justru mereka yang bekerja biasa-biasa saja, tidak disiplin, bahkan minim dedikasi, kariernya tampak lancar tanpa masalah?

Puncaknya terjadi ketika program PPG tahun 2025 bergulir. Saya menyaksikan rekan-rekan yang secara praktik di lapangan minim kompetensi justru terpanggil PPG. Masuk kelas tidak tuntas, metode mengajar seadanya, anak-anak kelas tinggi belum bisa membaca, kasus bullying dan pelecehan seksual yang luput dari perhatian, semua itu nyata. Namun mereka tetap diakui sebagai calon guru profesional.

Lebih ironis lagi, mereka yang bukan berlatar pendidikan keguruan bisa mengajar, mengikuti PPG, bahkan menyetarakan ijazah hanya dalam satu tahun. Sementara saya, lulusan murni PGSD yang menempuh pendidikan empat tahun, justru masih merasa kurang dan terus belajar.

Di titik inilah saya muak, bukan pada profesi guru, melainkan pada sistem. Sistem yang longgar, tidak adil, dan plin-plan. Sistem yang lebih mementingkan administrasi dibanding kualitas.

Saya sangat mendukung jika ke depan kompetensi guru diperketat dan kesejahteraan ditingkatkan. Gaji layak harus sejalan dengan standar profesional yang tinggi. Jangan menuntut bayaran mahal tanpa nilai yang pantas dibayar.

Harapan saya sederhana: ciptakan sistem yang tegas, adil, dan konsisten. Jika saya pun dinilai belum layak menjadi guru, saya siap mundur. Biarlah profesi ini diisi oleh mereka yang benar-benar kompeten, profesional, dan layak mendidik generasi bangsa.

Kabupaten Serang, 17 Februari 2026

______

Penulis

Mega Andini Putri, akrab disapa Mega, lahir di Serang pada 18 Mei 2001. Saat ini ia aktif mengajar sebagai guru di sekolah dasar swasta dan juga menekuni dunia content creator.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Monday, October 13, 2025

Karya Guru | Puisi-Puisi Irwan Sofwan

Puisi Irwan Sofwan




Kau dan Aku


kesedihanku

tak dapat menemukan henti

sebelum menemukanmu 

oh, sekali kini

aku tertahan di jalan sebagai ketakutan

dan hanya merenungkan wajahmu

tanpa ruang

tanpa waktu

wajahmu menjerat kakiku

melalui masa depan jadi masa lalu

sebelum hilang

kau dan aku


Serang, 2023



Aku Ingin Membacanya


ada yang melebihi malam

dan sebuah kalimat terhuyung keluar dari dalamnya

aku ingin membacanya


lepas dari puisi dan segala kemungkinan yang ada

lepas dari dunia dan segala peristiwa yang menutupinya

lepas dari ada dan segala yang menyertainya


ada yang melebihi malam

dan sebuah kalimat terhuyung keluar dari dalamnya

aku  ingin membacanya 


lepas bersamanya


Serang, 2024



Ya, Tuhan


aku berjalan tidak sempurna

hari menebal seperti kehilangan musim

yang mengenal 

suaraku


suara tanpa suara

bergerak di setiap sudut

siapa yang akan kupanggil?


seketika angin mendorong masuk

ke dalam aliran darahku yang lambat


Serang, 2025



Yang Akan Tiba


titik-titik hujan di kaca

pintu setengah terbuka. Aku bertanya

apakah hidup benar-benar dimulai dari sana?


hujan masih ada

aku melihat ke dalam kaca

menunggu titik baru yang mungkin akan tiba


Serang, 2025


_______

Penulis


Irwan Sofwan, lahir dan tinggal di Serang – Banten. Sehari-hari aktif berkegiatan di Komunitas untuk Perubahan Budaya (Kubah Budaya) dan bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 10 Kota Serang – Banten.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Monday, September 29, 2025

Karya Guru | Naga | Cerpen Siti Maria Ulfah

Cerpen Siti Maria Ulfah



Semburat api memuncrat ke seluruh badan-badan pejalan kaki.

Mang Karo menebang pring bambu di kebun belakang, dekat dengan Tempat Pemakaman Umum. Suara riuh terdengar tak henti di telinganya, angin berhembus beriringan melambai-lambaikan bambu. Mang Karo menggenggam golok tajam, menebas buas satu per satu bambu hingga berjatuhan ke segala arah.

Darda, anaknya, menyaksikan kegagahan ayahnya dari jauh sambil memainkan tembakan yang dibuatkan ayahnya dari bambu. Ia meremas-remas kertas yang direndamnya di air untuk memastikan kertas itu melemas. Kertas itu menjadi peluru yang siap membidik serangga dan binatang kecil yang ditujunya. Matanya tajam memburu binatang incarannya. Laba-laba, kadal, kupu-kupu, capung, hingga beberapa semut kerangrang mati tertepar di depannya.

“Darda, ayo mulih,” ucap Ayah Karo.

Tembakan Darda meleset. Ia kesal, padahal sedang memburu burung pipit, tapi sial, ulah ayahnya membuat ia tidak bisa membawa burung pipit ke rumah.

Door! Tembakan itu tepat mengenai pipi ayahnya. Ayahnya terjatuh melunglai di atas pring bambu yang sudah dikumpulkannya. Darda tidak menyangka tembakannya itu bisa melumpuhkan ayahnya yang kuat itu. Ia justru bangga bisa lebih kuat dari ayahnya. Melompat girang, berlari memutari pring bambu.

“Aku hebat, aku kuat! Tidak ada yang bisa mengalahkanku!” teriak Darda. Ayahnya terkekeh, lalu terbangun dan menangkap badan mungil anaknya. Mang Karo dan Darda berjalan pulang.


Mang Karo melanjutkan pekerjaannya. Ia membelah bambu-bambu menjadi beberapa bagian hingga pagi hari. Hasil kreativitasnya berdiri kokoh: lebar satu meter, panjang dua meter, dan tinggi satu setengah meter. Senyum lebar terlukis di wajah Mang Karo. Pesanan kampung Cimanuk selesai sesuai waktu pemesanan, sebelum besoknya dipajang mengelilingi beberapa desa.

“Mang Karo, kenapa jadinya naga?” ujar Mang RT.

Para pemuda dan masyarakat sudah mufakat untuk membuat panjang bergambar burung, sesuai dengan nama desanya: Cimanuk. Mang RT kembali mengingatkan Mang Karo untuk membuat kembali panjang sesuai pesanan masyarakat. Namun Mang Karo tetap kokoh dengan pendiriannya. Ia enggan menjelaskan apa pun kepada Mang RT.

“Aku akan tetap mempersembahkan naga ini untuk pawai dan festival maulid besok,” jawab Mang Karo.

Mang Karo tidak mengerti apa yang dipikirkan Mang RT tentang naga yang dibuatnya itu. Padahal ia sudah membuat dengan sepenuh hati, bahkan tidak dibayarpun tidak mengapa. Anyaman bambu yang indah, dengan kepakan sayap yang membentang lebar serta kepala naga yang bisa menyemburkan api.

“Apa maksud Mang Karo ini?” hentak Mang RT.

Masyarakat juga sudah tahu bagaimana kelakuan naga itu. Bahkan hampir seluruh masyarakat geram dengan kelakuan naga yang selama ini meneror desa Cimanuk dan beberapa desa lainnya: mengambil persawahan, empang, tanah kosong, sampai tanah pemakaman umum, dirampasnya dengan iming-iming yang tidak seberapa. Seenaknya Mang Karo ingin memajang naganya itu dengan aneka makanan, minuman, sarung, baju, celana, daster yang bergelantungan menutupi seluruhnya.

“Diamlah, Mang.”

Warga Cimanuk berjalan menyusuri perkampungan menuju lapangan festival. Digotongnya naga di pundak-pundak para pemuda. Semua mata tertuju pada keindahan dan semburat api di mulut naga. Sorak masyarakat tak henti-hentinya sampai di lapangan. Langkah-langkah kaki semakin ramai mengikuti arah naga hingga lapangan penuh dengan masyarakat.

Festival kembali memanas dengan amukan masyarakat yang merampas semua pajangan di ekor, badan, sayap, hingga kepala naga. Semburat api naga tidak menggetarkan semangat masyarakat.

“Akhirnya,” ujar Mang Karo.

Serang, 6 September 2025


_________


Penulis


Siti Maria Ulfah lahir di Serang 20 Juni 1999. Kesibukan kesehariannya belajar bersama anak-anak usia dini di SDIT Ibadurrahman Ciruas yang insyaallah saleh dan salihah, membaca karakter anak-anak dan guru-guru yang random serta unique untuk diambil pelajarannya. Kesibukan terakhirnya menulis ke-random-an yang terjadi hari ini. Buku cerpen pertamanya berjudul Kopi Pelayaran (#Komentar, Maret 2025).


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Monday, January 13, 2025

Karya Guru | Cinta di Utara | Cerpen Siti Maria Ulfah

Cerpen Siti Maria Ulfah



Hujan turun, aku berdiri di dekat jendela, mengamati derasnya air hujan. Terendus khas aroma tanah kemarau. Aromanya menenangkan. Hidupku didikte usia hingga hujan tak lagi menjadi teman. Hujan membawaku pada perjalanan menyusuri lorong-lorong kenangan. Tiba-tiba bunyi ponselku menjerit tak karuan. Biarkan saja, kehadirannya sudah merenggut sebagian kedamaian hidupku. Anehnya tanganku lebih reflek dibandingkan otak dan sumsum tulang belakangku hingga kututup segala kenangan dan meninggalkan hujanku sendirian. Dengan berat hati kurapatkan jendela karena angin semakin besar membawa hujan masuk ke ruangan. 


“Aya, kamu mau yah besok mewakili aspirasi masyarakat menolak PIK dua,” ujar Aji. 


Aku terkejut dengan tawarannya lewat lubang-lubang kecil ponselku ini. Kalau tawarannya tahu bulat, langsung saja aku ambil, apalagi hujan begini. Aji memang memilih menjadi "budak" desa, sedangkan aku penikmat desa.


“Halo Gemini, apa dampak positif dan negatif pembangungan PIK Dua di Banten?” Tak sungkan-sungkan pertanyaan ini aku lontarkan pada AI Gemini. Sudah tiga bulan ini aku angkat menjadi sekretaris pribadiku, yang bisa kapan saja aku ganggu waktunya dan menjawab setiap pertanyaan dengan informasi yang cukup detail. Aku rebahkan badan beserta kaki-kakinya di atas ranjang. Kornea mata memandang atap-atap kamar dengan hangat yang menyajikan rumah pohon tempatku berkeluh kesah, dengan air selokan yang mengalir di bawahnya. Kadang pandanganku beralih pada aktivitas Ibu dan Bapak yang asyik berdua menanam padi dengan gaya mundurnya. Terkadang berhenti sejenak untuk mengusap keringat akibat terik matahari yang menyengat tajam menembus pertahanan topi rokok mereka. Dengan tegukan air mineral sedikit menyegarkan badan mereka untuk tetap berstamina. Mereka memang pasangan terpopuler bergengsi pada masanya.


“Astaga kompor belum aku matikan,” segera kuhentikan bayang-bayang kenangan. Berlari menuju dapur yang sedikit jauh dari kamarku. Air di teko mengering dan hampir membakar tuannya. Kepalaku berbelok ke kanan dan ke kiri, ternyata ada Bapak yang sedang asyik dengan kopi hitam dan cerutu yang hampir membakar tangan kanannya. Syukurlah aku bisa menyedu cokelat hangat yang hampir diserbu rombongan semut di atas cangkir bening pemberian Ibu. Aku aduk-aduk cokelat dengan sembilan adukan. Pikiranku masih terbelenggu tawaran Aji. Selama ini di usiaku yang setengah muda dan setengah dewasa belum ada kontribusi untuk desaku apalagi seluas Banten ini. Entahlah nyaliku tak sebesar "budak" desa itu.


Sebentar lagi akan ada panen raya. Panen raya selalu menjadi momen terindah para petani terkhususnya aku yang masih seatap dengan petani. Dulu masa kecilku hanya dihabiskan untuk bermain setelah pulang sekolah tentunya. Membuat rumah-rumahan kecil dari jerami, perang jerami bersama teman-teman kecilku, mencari jamur ditumpukan jerami yang sudah dibakar sebelum musim hujan datang untuk kemudian diolah kembali dan ditanam mundur. Pesta layangan dan goangan pascapanen raya, menjadi tontonan yang menyenangkan untuk anak-anak, ibu-ibu, dan semua usia kala itu. 


Hujan berhenti setelah membasahi tanah yang hampir dehidrasi.


Bladide kuuuy Noooook, bladiiid!” teriakan Mang Sarmin memang terdengar khas ditelingaku.


“Mang masih jualan bladid aja,” ujarku sambil mengorek-orek bladid Mang Sarmin di keronjong biru.  


“Kalo bukan Mang Sarmin, Nok gak bisa orek-orek bladid sampe berantakan begini,” aku terkeukeuh malu karena misiku bukan untuk membeli bladid, melainkan mencari klomang di kerumunan bladid


“Tapi kan Ibu membeli bladid, Mang,” sahutku yang tak mau kalah dengan serangan Mang Sarmin. Bukan Aya kalo gak bisa serang balik, hahaha. 


Mang Sarmin terlihat berbeda hari ini. Mukanya sedikit terlipat kaku. Biasanya langsung geguyon setelah seranganku yang mematikan lawan. Aku teringat ajakan Aji kepadaku, mungkin ini salah satu dampak rencana pembangunan PIK dua di Banten, membuat kecemasan para nelayan dan pedagang bladid seperti Mang Sarmin.  Ah ini tidak bisa dibiarkan, masyarakat harus berani menyuarakan keresahan dan kekhawatirannya. Dan aku harus berani menyuarakan aspirasi masyarakat kecil.


Tengah malam, aku masih bersama AI untuk berdiskusi mengenai dampak postif dan negatif dari PIK. PIK pertama menjadi kaca perbandinganku malam ini. Bagaimana kehidupan warga di sekitar PIK sebelum adanya PIK dan setelah adanya PIK di Jakarta. Jakarta memang terlihat kaya, apalagi para investor pemilik saham terbesar dan para pendatang yang memiliki banyak uang. Kesenjangan di Jakarta antara rakyat penghasilan menengah ke bawah dengan rakyat penghasilan menengah ke atas menjadi fokus utamaku malam ini. AI saja kesulitan menemukan persentase yang tepat mengenai kesenjangan penghasilan antara keduanya dengan berbagai alasan yang dipaparkannya. Tapi setidaknya ada beberapa studi dan laporan menunjukkan bahwa kesenjangan sosial di kawasan PIK merupakan masalah yang serius karena perbedaan yang mencolok antara kawasan elite di PIK dengan pemukiman warga di sekitarnya. Langsung saja aku berlari ke penelitian akademis, LSM, BPS, dan media massa.


Jarum jam sudah berlari di angka tiga, mata sepertinya sudah meminta haknya. Video YouTube yang mempertontonkan kawasan elite dan permukiman warga sekitar berhasil melobi mataku sekarang. Perumahan elite, bangunan menjulang tinggi, adanya jembatan penyeberangan yang menghubungkan dua sisi PIK 2, menengok ke  kawasan perdesaan yang sebagian jalan masih terperangkap genangan air karena saluran mampat, berlubang dan lain sebagainya. Padahal jalan itu penghubung antardesa dan jalan utama warga Salembaran Jati ke Muara di Kabupaten Tangerang (YouTube Harian Kompas). Aku lanjutkan pada berita Kompas oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dany yang memotret fenomena dua dunia dalam satu kawasan antara PIK 2 dengan warga Kampung Melayu Timur, Teluknaga, dan Desa Salembran, Kosambi di Tangerang. PIK dua dengan segala kemewahan, sedangkan warga sekitar mengeluhkan kondisinya yang terusir dari rumah sendiri sehingga kehilangan pekerjaannya (13/11/2024). 


Niatku semakin kuat dengan data dan informasi yang sudah aku dapat. Di gedung kecamatan, semua pihak berdatangan. Warga sepertinya antusias dan bergerak berdampingan. Namun, sangat mengejutkan gerbang dikunci rapat, padahal undangan sudah lebih dulu merapat dan dijamu dengan senyum para pejabat. Hari ini warga dikejutkan dengan kebisuan kantor pengaduan. Kekuatan petani dan nelayan tidak bisa diragukan, kekecewaan menguasai pikiran. Gerbang tinggi menjulang dengan mudah digulingkan. Semua warga masuk menerobos tak sudi membiarkan aspirasi terus terbungkam dan dipaksa diam. 


“Kau kira kami bodoh dan lemah. Keluar kau penghianat,” teriakanku semakin liar. Diikuti oleh semua warga. Ngiung ngiung ngiung, suara di balik mobil yang berderet memasuki lapangan. Dengan seragam hitam dan tameng di tangan. Berdiri seakan siap menerkam. Mengeluarkan gas air hingga kabur segala pandang. Pandanganku hilang, napasku mulai sesak, dada terasa berat, hingga badan bersandar pada rerumputan. Cahaya terang membuat mataku terbelalak. Wajah wanita tua tersenyum menutupi cahayanya. 


“Astaga, ini jam berapa?” 


Kaki beranjak dari tempat tidur dan bersiap-siap untuk menghadiri undangan itu. Ibuku bilang Aji sudah berangkat duluan, karena dia pikir aku memang sengaja ingin menghabiskan hari libur seperti biasanya, rebahan sampai matahari tepat di tengah-tengah. Aku lupa memberitahu Aji semalam karena sibuk mencari informasi ditambah lagi mimpi buruk menyerang lebih awal. 


Aku segera mengeluarkan kuda besiku dari kandang, berlari kencang tanpa hambatan. Akhirnya gedung putih dan pagar besi hitam sudah di depan mata. Tapi aneh, tidak kutemui siapa-siapa kecuali satpam. Mungkin acara sudah berlangsung di dalam. Sapaku pada Pak Satpam. Pandanganku beralih pada jarum jam yang masih berjalan tenang. Sepertinya saya datang terlalu siang, acaranya selesai. Aku enggan masuk ke dalam. Dan benar saja acaranya benar-benar sudah selesai satu jam yang lalu. Pak Satpam yang memberitahuku dengan menahan giginya yang hampir terpampang lebar. Dia memberiku secarik kertas, katanya tergeletak begitu saja digedung pertemuan. 


Tentangmu

Tentang kita

Tentang apa-apa yang tak lagi kita perdengarkan 


Tentangku

Tentangmu

Tentang jarit usang penuh lusuh

Penuh rebut jari tuk basuh keluh


Tentangmu 

Tentang kita

Tentang apa-apa dalam utara

Cinta kita tak terima paksa

Cinta kita bukan dongeng Juliet penuh romansa


Cinta di utara

Cintanya para petani pada sebiji padi

Cinta di utara

Cintanya para nelayan pada seutas jala

Hening rindunya adalah perang dan teriak perlawanan

Cinta di utara adalah tindak

Cinta di utara tidaklah cinta yang melulu diutarakan

Cinta kita penuh diam

Lalu belaiannya penghambatan


Kali ini cinta benar-benar tidak ditawar

Kami tawan segala obral


(Puisi Oki Khaeri Rojab, Singarajan 14 Desember 2024)



_________


Penulis


Siti Maria Ulfah lahir di Serang 20 Juni 1999. Kesibukan kesehariannya belajar bersama anak-anak usia dini di SDIT Ibadurrahman Ciruas yang insyaallah saleh dan salihah, membaca karakter anak-anak dan guru-guru yang random serta unique untuk diambil pelajarannya. Kesibukan terakhirnya menulis ke-random-an yang terjadi hari ini.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Monday, November 25, 2024

Karya Guru | Guru: Sebuah Panggilan atau Dipanggil? | Esai Yunita Ainur Rizkiah

Esai Yunita Ainur Rizkiah



Siang ini ada sebuah pesan di Instagram masuk. Pesan itu dari salah seorang siswa saya 10 tahun lalu. “Selamat hari guru, Ibu”, sambil diselipkan gambar seikat bunga serta beberapa kata. Begitu kira-kira isi pesannya. Semua berita, media sosial dan status semua orang mengangkat tema tersebut. Bahagia dan terharu melihat rekan-rekan seperjuangan mendapatkan apresiasi, baik kata-kata maupun tanda mata. Setelah beberapa pekan lalu banyak kasus yang mengkriminalisasi guru. Belum lagi video-video yang menunjukkan siswa tidak menghargai guru ketika mengajar. Perayaan Hari Guru ini seperti menjadi obat atas polemik yang terjadi belakangan. Barangkali tidak menyembuhkan secara keseluruhan, tapi cukup mengurangi kesakitan pada profesi ini.


“Guru Hebat, Indonesia Kuat”, begitu bunyi jargon hari guru tahun ini. Jargon yang cukup berbobot, berat untuk dilaksanakan. Tentunya, tugas dan tanggung jawab atas jargon itu diserahkan sepenuhnya kepada guru. Guru-guru negara Indonesia. Guru-guru yang berhadapan dengan generasi alfa, bersaing dengan influencer dan teknologi AI. Dari jargon tersebut, mengisyaratkan bahwa para guru harus terus belajar untuk menjadi hebat. Hebat dalam arti bisa mengatasi semua permasalahan anak-anak dan remaja negeri ini sehingga negara menjadi kuat dengan sumber daya manusia yang cerdas iptak-nya (ilmu pengetahuan, teknologi, dan ketakwaan), kreatif serta kuat mentalnya.


Berharap guru-guru menjadi hebat merupakan harapan dan doa semua orang. Masalahnya, bagaimana guru menjadi hebat, sementara para guru hampir tidak kuat menjalani profesinya. Sudah banyak beredar bahwa hanya di negeri ini ada kasta dalam profesi guru. Hanya di negeri ini pula profesi guru masuk dalam ekonomi lemah. Hal ini berdampak pada penyimpangan birokrasi tata kelola sekolah. Selain itu, juga memengaruhi loyalitas dalam mengajar. Di negeri ini pula, guru lemah menghadapi hukum, kekuasaan, dan strata sosial. Untuk menjadi guru hebat, ada banyak hal yang harus dikuatkan. Terutama kesejahteraan gurunya.


Awal 2020, saya pindah ke Samarinda, tepatnya di pinggiran kota. Kepindahan ini membuat saya harus keluar dari sekolah dan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Saya kira, saya tidak akan menghadapi kasus anak-anak lagi. Namun ternyata, saya mendapati kasus baru. Posisinya saat ini bukan sebagai guru dan siswa, tapi sebagai tetangga.


Setiap kali mendengar para tetangga membicarakan si anak, rasanya saya geram. Alih-alih menolong, malah membicarakan dan menertawakan. Jika melihat kondisi anaknya, wajar saja banyak orang melabeli “bodoh” karena si anak sudah kelas 6. Ia belum bisa membaca dan berhitung. Lantas mengapa dia tidak bisa membaca? Siapa yang salah? Di mana letak kesalahannya? 


Kondisi si anak sudah naik ke kelas 6. Setiap hendak kenaikan kelas, si ibu selalu mendatangi ke rumah wali kelas. Memohon untuk menaikkan anaknya dengan banyak derai air mata. Sebagai wali kelas, tentunya guru lemah menghadapi orang tua yang demikian. Belum lagi aturan baru yang melarang tidak naik kelas. Tidak tega melihat orang tua berurai air mata, jadilah guru tetap menaikkan kelas si anak sampai kelas 6. Selain itu, setiap tugas/ PR, yang mengerjakan adalah kakak atau ibunya, atau tempat les. Nah, anak ini dianggap sangat “bodoh” karena sudah dileskan ke mana-mana tetap tidak ada yang bisa membantunya untuk bisa membaca dan berhitung. Guru sekolah dan guru lesnya sudah angkat tangan.


Dalam ilmu pedagogik tidak ada istilah siswa yang “bodoh”, hanya ada siswa yang belum bertemu dengan “guru yang tepat”. Hal yang perlu dipahami, tantangan para guru saat ini cukup banyak. Selain memahami kondisi siswa, guru juga harus memahami kondisi keluarga (latar belakang orang tua), dan lingkungan. Belum lagi guru juga bersaing dengan teknologi; game, media sosial, dan AI. Sebagai contoh kasus yang saya tangani ini, permasalahannya bukan hanya pada si anak, tapi juga pada orang tuanya dan lingkungan.


Si ibu beranggapan anaknya memiliki IQ yang rendah. Hal itu karena kondisi ekonomi keluarga sangat lemah sehingga tidak mampu membeli susu formula. Mendengar cerita si ibu, saya membayangkan sebuah iklan susu dengan animasi yang keren. Efek iklan di televisi memang luar biasa. Iklan mampu mengubah mindset masyarakat tentang kecerdasan. Padahal tidak ada kaitannya antara kecerdasan dengan susu. Sejatinya membentuk kecerdasan tidak bisa dilihat dari satu faktor. Ada banyak faktor yang dapat membentuk dan memengaruhi kecerdasan anak-anak.


Belum lagi para tetangga yang membanggakan kepintaran dan tumbuh kembang anak-anaknya karena ketika kecil diberi susu formula merek A, B, C dll. Dengan cerita para tetangga makin membuat si ibu merasa bersalah, dan membuat anaknya tidak mandiri. Bertukar cerita dengan para tetangga malah menjadikan si ibu makin tertekan, dan si anak semakin menganggap dirinya “bodoh”. Maka untuk menolong si anak, dimulai dari ibunya.


Sebelumnya saya meyakinkan ibunya lebih dulu. Untuk meyakinkannya pun tidak mudah. Jurus terakhir yang saya lakukan adalah memperkenalkan diri saya, menjelaskan latar belakang pendidikan, pekerjaan saya sebelumnya dan pengalaman saya. Barulah si ibu percaya dan mengizinkan anaknya untuk belajar ke rumah saya. Tapi sebelumnya, saya membuat kesepekatan di atas kertas. Pertama, isinya si ibu dan keluarga harus berhenti memanggil istilah “bodoh”, “goblok”, dan kata-kata yang jelek kepada si anak. Kedua, tidak memberikan HP kecuali hari Sabtu dan Minggu.


Hal pertama dilakukan pada si anak adalah membuka blockingan di kepalanya bahwa dia “tidak bodoh”. Dia normal dan punya kemampuan yang sama dengan anak-anak lainnya. Kedua, proses belajar tidak lebih dari 30 menit. Gaya belajarnya pun kembali seperti mengajar anak TK, dari teks bergambar sampai pada teks cerita umum dan buku teks pelajaran. Ketiga, setiap pencapaian yang dia lakukan, selalu diberi apresiasi. Bisa berupa pujian dan hadiah kecil seperti jajanan. Singkat cerita, kurang lebih 9 bulan, si anak akhirnya bisa membaca, menulis, dan berhitung. Terutama menghafal perkalian. Jika dilihat dari prosesnya, anak ini normal, yang menjadi masalah adalah keluarga dan lingkungannya.


Dari peristiwa itu saya menyadari bahwa hidup saya tidak bisa lepas dari dunia pendidikan. Meski saya sudah melepas status profesi guru, tapi saya masih melakukan peran itu. Bahkan menggunakan status guru sebagai privilege untuk beberapa situasi. Kondisi di masyarakat, untuk beberapa hal jika ingin berkontribusi, saya harus menggunakan privilege itu. Hal ini, agar lebih meyakinkan dan didengar dalam memberikan solusi untuk beberapa permasalahan yang ada.


Misalnya, pada kasus lain. Masih tentang tetangga saya. Selain si anak yang dilabeli “bodoh”, ada anak lain yang jadi buah bibir di kalangan para tetangga. Anak ini tidak sekolah, usianya sudah hampir 9 tahun. Usut punya usut, si anak mau sekolah. Namun, orang tua belum mampu menyekolahkan. Kendala utama bukan hanya soal biaya masuk sekolah, tetapi juga berkas kependudukan. Si ibu adalah perantau dari Sulawesi, dengan KTP status menikah. Namun, sudah cerai dengan suami pertama. Hanya saja tidak diurus surat perceraiannya. Sedangkan si bapak, perantau dari Jawa dengan KTP status belum kawin. Orang tua si anak menikah siri, tidak ada surat keterangan apa pun. Karena dari latar belakang pendidikan dan ekonomi keduanya memang dari kalangan terbatas. Jadi, mereka sendiri kesulitan ekonomi dan tidak memahami birokrasi untuk mengurus surat kependudukan. Jika adapun yang mengurus dengan biaya yang cukup mahal.


Dengan kondisi demikian, rasanya tidak adil jika keterbelakangan ekonomi serta pendidikan harus diwariskan kembali pada si anak. Saya semakin kesal dengan para tetangga yang hanya bisa berkomentar tapi tidak menelusuri kebenarannya, tidak juga membantu. Melihat usia si anak yang hampir 9 tahun, jika sudah genap usia 9 tahun, si anak tidak bisa diterima di sekolah negeri maka harus masuk sekolah paket. Selain itu, psikologisnya sebagai anak-anak juga terdampak.


Sebagai orang berlatar belakang pendidikan, melihat hal seperti ini tentunya membuat saya gelisah. Bagaimana pertanggungjawaban atas gelar dan pengetahuan yang saya dapatkan. Jelas di depan mata, ternyata masih ada orang-orang yang melihat pendidikan itu sulit untuk didapat. Jangkauannya cukup rumit untuk beberapa kalangan. Belum lagi perkara zonasi, biaya seragam dan buku yang harus dibeli. Ya, di beberapa wilayah baju dan buku harus dibayar. Dan beberapa kondisi masyarakat tidak mampu membayar, terlebih bagi kalangan buruh harian di perantauan.


Akhirnya, saya bawa si ibu dan anaknya untuk mendaftar ke sekolah dasar terdekat. Sebelumnya, si anak ini sudah sering main ke rumah dan belajar bersama saya. Jadi, ia sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung. Urusan administrasi dan keuangan masih urusan belakangan. Yang terpenting bahwa orang tua si anak sepakat untuk menyekolahkan anaknya.


Proses pendaftaran sekolah sebenarnya sudah ditutup saat itu dan mendaftar harus melalui website. Si anak sempat menangis, ia khawatir tidak bisa sekolah. Sebenarnya bisa saja masuk swasta, namun tidak ada swasta gratis yang terdekat disni. Jarak juga menjadi pertimbangan untuk mereka. Saya coba untuk menghadap kepala sekolah. Benar saja, si ibu tidak berani bicara, ia tidak fasih menggunakan Bahasa Indonesia. Maka, saya yang bernegosiasi dengan kepala sekolah agar si anak bisa diterima di sekolah itu. Seperti pada kasus sebelumnya, dalam negosiasi ini saya harus menggunakan pengalaman saya menjadi guru sebagai privilege, untuk meyakinkan kepala sekolah. Saya jadi penjamin dan penanggung jawab untuk si anak. Yang terpenting anak ini bisa diterima sekolah dulu, untuk berkas kependudukannya menyusul. Setelah satu bulan, si anak punya kartu keluarga (KK) dan akta kelahiran, tapi tanpa ada nama si ibu. Nomor KK inilah yang dibutuhkan si anak untuk mendaftar sekolah dan mengajukan beasiswa agar ia bisa melanjutkan pendidikan sampai menengah. Upaya untuk memutus rantai kemiskinan dan keterbelakangan pendidikan orang tua.


Kembali pada pembahasan guru, “Guru Hebat, Indonesia Kuat”. Memahami jargon itu, saya merefleksi pengalaman 5 tahun ini. Terlepas dari dunia persekolahan dan status guru, saya banyak belajar. Pengalaman ini merupakan pembelajaran yang tidak saya dapatkan di perkuliahan dan ketika menjadi guru di sekolah. Ketika di sekolah, guru fokus pada pembelajaran dan administrasi di lingkup sekolah. Tapi dengan posisi saya di luar sekolah, saya belajar dinamika upaya untuk bisa masuk sekolah.


Guru yang hebat, tentunya bukan hanya memahami siswa. Bukan hanya sekadar mampu mengajar dengan teknologi yang canggih. Bukan pula yang harus jago buat konten media sosial. Melainkan, mampu membangun komunikasi dengan orang tua, memecahkan permasalahan siswa dan memberi kontribusi di masyarakat. Tentunya, hanya melalui pendidikan cara memutus rantai kebodohan dan kemiskinan. Semoga para guru semakin kuat, Indonesia menjadi hebat.


Selamat Hari Guru!


_________


Penulis


Yunita Ainur Rizkiah, mencintai profesi sebagai guru Bahasa Indonesia. Namun, saat sedang fokus menjadi peran ibu rumah tangga. Beberapa karya baru sebatas puisi yang dikoleksi sendiri. Beberapa pernah tergabung dalam antologi Kata Siapa (puisi, 2010) dan Kenduri Air Mata (puisi, 2013).


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Karya Guru | Puisi-Puisi Muh. Husen Arifin

Puisi Muh. Husen Arifin



Meramal 2045


peramal itu kenal dengan tahun 2045 

dari sejuknya pagi di atas dipan tua 

‘tahun 2045 adalah keniscayaan 

bagi engkau, engkau adalah tahun kemuraman’ 


peramal datang ke mimpi orang kota

ia membicarakan tahun 2045 

‘ketahui, di balik dunia ini kerisauanmu 

berlipat-lipat di meja kantormu 

tetapi percayalah senjata masa depan 

adalah engkau yang membunuh harapan

orang desa yang terlampau kaku 

menganggap hari-hari bagai ketakutan

dan orang desa telah menjual sawah terakhir 

bagi penghidupannya’


peramal lalu memeluk orang kota 

‘jagalah bumi ini, sebelum 2045

benar-benar muram menghantui ratapanmu’ 


di sini peramal melambai sebelum orang kota 

terbangun, jam menunjuk angka lima


Bandung, 2024

 

Kartu Suara


sorak sorai pencarian pemimpin baru 

seperti penantian panjang setelah hujan itu 


kampanye di gawai lebih ramai 

dari pasar atau jalan-jalan 


‘pilih aku, jurus bangau penakluk 

koruptor telah kusiapkan, jurus kuda 

dan jurus lainnya, ayo pilih aku’


upaya meraih simpati bagai menabur

gula di toples makanan


‘ayo pilihlah aku, kumakmurkan

dan semuanya lebih baik dari tahun lalu’


pada akhirnya, ia tak terpilih 

ia adalah kartu suara tercabik-cabik

oleh angin, bersama waktu 

ia ditelan oleh ketaksadaran 


Bandung, 2024


Guruku


pada setiap langkahmu, aku berdoa 

engkau adalah keabadian, tak termakan 

oleh zaman, tak tergerus oleh kemunafikan

padamu ilmu pengetahuan tersebar

bersama cita-cita yang menjulang 

bagai mercusuar dan padamu harapan

kebesaran atas masa depan 

terpatri menjadi mutiara kehidupan 


meski badik tertancap di pundakmu 

engkau terus melangkah 

menabur bunga kesucian di kelas

dan mendoakan anak-anak bangsa

sementara engkau tuk sekadar 

mencukupi perut pun harus bersabar


sungguh engkau adalah bunga matahariku

kelak generasi emas lahir karenamu 


Bandung, 2024


Kereta Kesunyian 


di jendela aku masih menatap subuh

bersama matahari di timur yang teduh 

aku menggumam jika di kepalaku

ramai oleh protes orang-orang tentang

korupsi yang tidak pernah henti

mengapa hukuman koruptor laksana

obral baju bekas, tidak ada jera 


juga di kepalaku ramai oleh 

nyanyian kemurungan karena hakim

tidak adil pada orang miskin 

hakim tidak adil pada orang desa

hakim hanya mengadili ketidakbenaran


semurka itu kepalaku 

mendesak pertanyaan yang tak terjawab

bersama kereta yang meluncur dengan tegap


Bandung, 2024 


Seusia Seperempat Abad Hati Ini Seusai Menulis Puisi 


dan aku masih tertatih 

mengutarakan kata yang lirih 

berdamai tanpa tangis perih 

semata karena hidup dalam tarikh


memandangi ruang tetapi mencoba

menggapai langit, terkenang pada nuansa

hujan beriringan tawa namun terlilit duka


di kesempitan cerita, aku masih menata

di seperempat abad hati ini mendaki cita

hingga pada tikungan kata, nyaris cinta

adalah buah dari perjalanan, kupetik tiga

ranum semuanya, begitulah kiranya


seusai menulis puisi ini 

izinkan aku bersujud tanpa tapi 


Bandung, 2024 


______

Penulis

Muh. Husen Arifin, aktif sebagai Tenaga Pengajar di Kota Bandung, Buku puisinya, Kolam Koalisi (2024), Pangandaran Kopi Perjalanan (2023). 


Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Monday, November 18, 2024

Karya Guru | Hujan | Cerpen Siti Fatimah

Cerpen Siti Fatimah



Pagi itu, suara gemericik air hujan membuat Sofi terperanjat dari tempat tidurnya, berlari mendekat ke jendela. Tangan mungilnya menengadah ke luar jendela. 


“Wah… senangnya.”


Suasana dingin pagi itu membuat Sofi melebarkan senyum dari bibir tipisnya. Tak henti ia bersyukur karena turun hujan. Ya.. hujan, Sofi sangat suka hujan. 


Tiba-tiba terdengar suara wanita separuh baya dengan baju daster yang selalu melekat di tubuhnya itu mengetuk pintu kamar Sofi. Wanita yang menjadi role model Sofi. 


“Sofi, sudah siang, bangun dan sarapan sebelum ke sekolah.” 


Wanita yang selalu menenteramkan hati Sofi dengan kelembutannya. Sofi pun bergegas untuk siap-siap berangkat ke sekolah. 


Hujan semakin deras, Sofi pun semakin senang. Seperti biasa, ayah selalu mengantar Sofi berangkat ke sekolah. Sofi selalu merasa bahagia karena memiliki orang tua yang sangat sayang dan selalu ada untuknya. Sofi adalah anak tunggal dari pasangan ayah-ibu yang harmonis. Sungguh beruntungnya Sofi memiliki keluarga yang bahagia. Selama ini, Sofi selalu menjadi kebanggaan orang tuanya. Selain pintar, Sofi juga memiliki bakat menulis cerita. Ibunya selalu menceritakan dongeng sebelum tidur dan memiliki koleksi buku cerita di ruang kerja ayahnya. 


Sofi memasuki gerbang sekolah dengan payung berwarna pink yang selalu dibawa. Rok biru, baju putih, dan kerudung putih yang membuat wajahnya semakin mungil. Seolah sengaja terkena air hujan kepalanya, sesekali payungnya ditutup-buka. Walaupun kerudungnya sedikit basah, tapi Sofi senang. Buat Sofi, hujan selalu menenteramkan hatinya. Di kelas, Sofi adalah siswa yang pintar dan selalu mendapat rangking 1. Namun, ia tak luput dari cemoohan temannya karena Sofi termasuk anak yang speech delay. Ketika Sofi berbicara terkadang kurang jelas dan cadel. Hal ini membuat teman-temannya sering mengatakan hal-hal yang menyakiti hati Sofi. Tapi hujan selalu meneduhkan hatinya di saat kecewa dengan orang-orang sekitar. 


Sofi selalu menganggap keadaannya adalah anugerah dari Allah yang akan membuatnya sukses nanti. Karena orang tuanya selalu mengajarkan hal-hal yang baik dan berpikir positif. Di balik kekurangan, pasti terdapat kelebihan yang harus disyukuri. Speech delay bukan ah penghambat Sofi untuk meraih mimpi-mimpinya. Bersama hujan, Sofi selalu menitipkan sebuah pesan. 


“Hujan akan menutupi semua kesedihanku. Selalu tutupi air mataku, ya.”


Tanpa disadari, seorang anak laki-laki selalu memerhatikan Sofi yang sedang berdiri di teras kelas. Paras tampannya menjadi idola diantara siswa perempuan di sekolah, tinggi tegak semakin membuatnya tampak gagah seperti pemain drama Korea. 


Wahyu, itulah nama anak laki-laki yang diam-diam memperhatikan Sofi. Ia adalah ketua OSIS yang menjadi kebanggaan sekolah. Seorang kakak kelas yang tidak pernah Sofi duga kemunculannya. 


“Maaf, nama kamu Sofi, bukan? Perkenalkan, saya Wahyu, siswa kelas 8A.”


Sofi pun terkejut ada yang menyapanya, lebih terkejut lagi ketika melihat siapa yang menyapanya. Bibir tipisnya seolah berat untuk mengatakan sebuah kata. Mata bulat itu tak berhenti memandang paras ganteng Wahyu. 


“Oh Iya, saya Sofi. Ada apa ya, Kak?”


Sofi sebetulnya sudah lama mengidolakan sang ketua OSIS itu. Namun, Sofi sadar diri karena banyak teman-temannya yang berlomba untuk mendekati laki-laki berpostur tinggi itu. 


Kesedihan itu seolah hilang karena hujan dan Wahyu. 


“Aku lihat kamu selalu duduk di teras kelas ketika hujan. Ada apa dengan hujan?”


“Hujan selalu menenangkan hatiku. Bahkan setelah hujan akan muncul pelangi. Indah kan, Kak?” Sambil tersenyum hangat, Sofi berbicara sesekali memandang wajah Wahyu.


Mendengar Sofi berbicara tentang hujan, Wahyu semakin menyukai Sofi. Mereka pun berbincang akrab di teras kelas bersama hujan. Mereka berdua satu frekuensi dalam obrolan. Seperti sudah lama sekali mereka berteman dan becanda.


Wahyu adalah siswa pindahan dari luar kota. Karena ia adalah siswa pintar dan sangat aktif dalam organisasi, maka terpilih menjadi ketua OSIS. Wahyu selalu berpindah sekolah karena mengikuti kedua orang tuanya. Bapaknya seorang polisi yang siap ditugaskan di mana saja. Kini, ia kembali ke kota kelahirannya, Malang. Kota yang memiliki banyak cerita dan kenangan di masa kecil.


Ketika melihat Sofi yang menyukai hujan, ia pun teringat teman masa kecilnya. Teman satu kompleks yang sangat cengeng dan selalu mendekati hujan ketika menangis. Sambil senyum melihat Sofi, Wahyu pun tak menceritakan kisahnya. 


“Kak Wahyu, kok bengong sih? Ayo sedang memikirkan apa?”


Wahyu terperanjat dari lamunannya. 


“Oh iya, kamu nanti pulang sekolah dijemput orang tua?”


“Iya Kak, aku selalu dijemput. Tapi hari ini Ayah sedang sibuk. Jadi, aku pulang sendiri.”


Mata Wahyu langsung menunjukkan kegembiraan karena kesempatan emas untuk lebih dekat dengan Sofi. 


“Yes, yes, yes… asyik… yuhuuuuu…!” hati meluap penuh harap.


“Sofi, bagaimana kalau kita pulang bersama. Mau?”


Sambil tersenyum malu, Sofi mengangguk dan memberikan tanda dari kedua mata indahnya bahwa ia menyetujui. 


Alangkah terkejutnya Wahyu melihat rumah Sofi. Jalan itu, kompleks itu, dan rumah itu. Semua adalah kenangan yang ia simpan dan tak akan dilupakan. Cinta pertama yang membuat Wahyu tak ingin melihat perempuan lain. Sahabat dan teman kecil yang selalu menjadi cerita indah untuk Wahyu. Lebih terkejut lagi ketika Wahyu bertanya nama panggilan ketika kecil.


“Sofi, nama panggilan ketika kecil kamu siapa?” Rasa penasaran itu semakin bergejolak di hati Wahyu.


“Kok, tiba-tiba bertanya nama kecil? Wah, ada yang aneh nih. Memang kenapa, Kak?”


“Aneh ya, maaf ya bukan maksud apa-apa, kok.”


“Oke, waktu kecil aku biasa dipanggil Nifa. Karena nama lengkapku adalah Hanifa Sofi Fahimah.” 


Nama yang selalu Wahyu sematkan di hati, pertemanan singkat yang sangat berkesan, pertemuan yang menjadikan akrab karena satu kompleks. Ya, Nifa, nama perempuan yang menjadi cinta pertama Wahyu. Waktu itu mereka masih kecil sehingga Wahyu dan Sofi ketika bertemu kembali tidak mengingat wajah masing-masing. Komunikasi antarmereka pun putus semenjak Wahyu meninggalkan kota Malang untuk ikut kedua orang tuanya ke Kalimantan. Tak sabar Wahyu ingin mengungkapkan bahwa ia adalah teman kecil Sofi. Namun, niat itu ia urungkan karena khawatir Sofi memiliki pacar. 


Wahyu hanya mengantar Sofi sampai depan kompleks. Ia pun pulang dengan perasaan senang campur gelisah. 


“Aduh… kenapa tadi aku tidak minta nomor HP Sofi, ya. Ah, bodohnya aku,” ujar Wahyu.


Seminggu berlalu. Karena kesibukan Wahyu sebagai ketua OSIS, mereka pun tidak bertemu. Rasa kangen itu timbul dan melihat kesempatan untuk mengatakan kepada Sofi jika ia adalah teman kecil. 


Hari itu hujan deras di sekolah. Wahyu mencari Sofi, seperti biasa Sofi berada di teras kelas dengan memandang hujan. 


“Sofi… bisa bicara sebentar?”


“Kak Wahyu. Wah kebetulan sekali, Kak. Aku sebenarnya sedang menunggu Kakak. Tapi Kak Wahyu seminggu ini sepertinya sedang sibuk.”


Sofi sebetulnya mengetahui jika Wahyu adalah teman kecilnya. Sofi pernah melihat foto kecil Wahyu di ruang OSIS. Ketika itu Sofi sedang mengantar temannya yang ingin membaca info di mading sekolah. Mading tersebut tidak jauh dari ruang OSIS, Sofi pun mampir ke ruang OSIS karena penasaran ingin melihat ketua OSIS yang baru. Betapa terkejutnya Sofi ketika melihat di profil ketua OSIS ada foto masa kecil Wahyu. Wajah anak laki-laki yang menolongnya ketika jatuh dari sepeda. 


“Sofi, apakah kamu waktu kecil punya teman? Seorang anak laki-laki yang menolongmu ketika jatuh dari sepeda, lalu berteman, setiap libur bermain di taman kompleks?”


Sofi tersenyum dan tertawa. Namun, Wahyu semakin bingung dengan respons Sofi. 


“Hai, Wahyu Anugerah Saptawijaya atau Yuyu. Huftt… lama sekali Kakak tidak memberikan kabar kepadaku.” 


Mereka pun akhirnya saling bertukar cerita selama 8 tahun terpisah. Hujan menjadi cerita indah untuk mereka berdua. 


_______


Penulis


Siti Fatimah, biasa dipanggil Ifat. Seorang pengajar di SMP Negeri 1 Kosambi, Kab. Tangerang, lahir di Kota Serang.  Namun, sekarang tinggal di Kab. Tangerang untuk menggapai asa dan cita. Karya pertamanya cerpen dalam bahasa daerah (Jawa Banten) yang diunggah di NGEWIYAK.com.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Monday, July 1, 2024

Karya Guru | Puisi-Puisi Muh. Husen Arifin

Puisi Muh. Husen Arifin 



Negeri Air


apabila engkau bangun dari tidurmu 

tak menemukan air untuk memandikan tubuhmu

lalu engkau menggali tanah di kamarmu 

sampai air matamu menggenangi seisinya 


tersadar bahwa kamarmu berisi kesedihan 

panjang dari perjalanan hidup di negeri pemerasan 

bola matamu membengkak bagai bulan tak bercahaya 


tanganmu sudah berupaya, memanjang

walau bukan seperti koruptor memenggal uang

rakyat cuma-cuma, engkau tak 

menjelma laiknya mereka yang bergerak 


membakar impian anak-anak 

negeri yang berulang-ulang mencari air tak 

sampai-sampai, tak ada yang membantu sejak 

dahulu sebelum pemilihan sampai ke pemilihan 


Bandung, 2024



Negeri Api


pohon-pohon tersisa kenangan 

tak selembar daunan berkelindan 

tiada yang terselematkan 

pada setiap tangisan-tangisan 

mereka yang menunggu kesia-siaan

seperti kehidupan yang terbakar 

oleh isu-isu negeri tanpa kabar 

tiba-tiba memungut iuran 

berbaju pekerjaan 


Bandung, 2024



Aku Berlindung  


aku berlindung lagi

setelah datang erupsi 

menghantam rumah ini 


aku berlindung lagi 

setelah berita korupsi 

tersiar di televisi 


aku berlindung lagi 

setelah nasib rakyat 

terombang-ambing 

antara ukt, bpjs, dan tapera


ke mana lagi aku berlindung

jika di negeri ini harga sembako 

selalu diputar-putar bagai lagu koplo

dan perutku terbalut sarung 


Bandung, 2024



Sebatas Luka di Negeri Culas 


cita-cita kami kandas

gaji pekerja terus terkuras

program baru negeri tiba-tiba

mengikat leher dan kami tak berdaya


andai kami turun ke jalan 

menyuarakan hak hidup 

terngiang nasib marsinah di pikiran

lantas kami menghirup 

kesakitan yang tak berujung 


kami tak mampu melenggang

ke ruang ramai dengan tegak 

kami memasuki lorong kehampaan 

pengap dan petaka


di bawah hujan sia-sia umpatan 

sebab kami lelah berlindung 

di ketiak demokrasi nan murung 


Bandung, 2024 



Negeri Sehat 


Sebab kami dilarang sakit 

Kami dilarang kuliah tinggi 

Kami dilarang membeli rumah sendiri 

Kami dilarang membeli emas asli

Kami dilarang kaya di negeri sendiri


Bandung, 2024



Skandal Getir


Di antara menonton televisi 

Dan membaca berita di gawai 

Aku menghabiskan segelas kopi 

Di dalam renungan diri 


Korupsi mantan menteri berkali-kali 

Tak ada jera dan sungguh-sungguh ngeri 

Muncul 300 triliun karena timah

Muncul 109 ton emas palsu 

Muncul tafsiran-tafsiran baru

Mereka nakal karena menyatu dalam aturan

berselimut nepotisme dengan matang 


ternyata mereka punya celah 

bersiasat pura-pura dan berbohong

lalu sakit perut dan muntah-muntah

duh, ternyata gelasku sudah kosong 


esok akan muncul kegetiran apalagi

aku ingin menyeduh kopi 

sebelum berlama-lama mandi 

di hari menjelang terbenam matahari 


Bandung, 2024 



_______


Penulis


Muh. Husen Arifin, aktif sebagai tenaga pengajar di Kota Bandung. Buku puisinya Pangandaran Kopi Perjalanan (2023).



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Monday, May 20, 2024

Karya Guru | Puisi-Puisi Titi Haryati Abbas

Puisi Titi Haryati Abbas




Menghitung Lembar-Lembar Waktu

 

Lembar-lembar  waktu bergegas meninggalkan

menyongsong masa yang kian tak tergapai lagi

memantulkan jejak-jejak tapak yang telah terlewatkan

seperti cerita diri yang terhenyak bisu

O, sudah berapa kurun telah aku sudahi?

 

Telah kutelusuri rona semburat bahagia

dan terbangkanku di bilik pelangi

penuh warna-warni

 

Dan aku pun pernah menyeduh sembilu

mengalirkan sakit lewati lorong luka

tertatih menjemput mimpi di ujung senja

 

Penggalan-penggalan yang tertoreh tinggalkan kenangan

terselip butir-butir hikmah yang diajarkan langit

tak banyak jatah kesempatan untuk tiap-tiap diri

dekaplah tiap detik yang kita punyai

agar keping demi keping yang terpakai

buahkan manfaat bagi diri

 

 

Sang Pendiri Sejarah

 

Sang saka merah putih kini telah leluasa berkibar

setelah tangan-tangan perkasamu robohkan sang penjajah

setelah kaki-kaki kokohmu terjang sang durjana

 

Engkaulah sang pendiri sejarah

atas keping-keping tanah yang kau perjuangkan

atas kerat-kerat mimpi yang kau coba bangun

 

Telah kau ranumkan asamu yang berpendar di dada lapangmu

dengan tangan-tangan yang pernah bersimbah darah

di medan tempur saat hadapi nafsu angkara pendurjana

yang coba rebut damai negeri ini dari jiwa-jiwa bersahaja

 

Ajarkan kami tentang senyum

yang senantiasa menari dibalik tetes letihmu

ajarkan kami tentang semangat ksatria

yang kerap gulirkan noktah perih di balik sesak inginmu

ajarkan kami tentang gempita teriakmu

yang senantiasa kau kobarkan di balik geliat masygulmu

 

 

Sepenggal Cerita Juangmu

 

Memerdekakan tanah ini

jengkal demi jengkal

telah membuat sepenggal ceritera bersejarah

tentang sosokmu yang tangguh  dan pantang bersurut

 

Zamanku dan zamanmu tak ubahnya cermin

Pantulkan kisah perjuanganmu yang berani

lalu getarkan nadi yang tertegun

menahan buncah batin yang beriak

 

Aku pun luluh dan bersandar di selasar kagumku

ketika pergumulanmu dengan lembar-lembar prahara

tak pernah goreskan amarah di putih senyummu

Tak pernah lebatkan dendammu di biru ikhlasmu

tak pernah lekangkan sabarmu di  merah saga semangatmu

 

_____

Penulis

 

Titi Haryati Abbas adalah seorang guru di SMAN 2 Sinjai, Sulawesi Selatan. Hobi menulis. Beberapa antologinya: Fabel Binatang Unik dalam Al-Qur’an (LovRinz Publishing, 2021), 78 Legenda Ternama Indonesia (Elex Media Komputindo, 2022). Untuk lebih dekat, penulis bisa disapa melalui IG; @titiharyatiabbas dan FB Titi Haryati Abbas.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com