Senin, 06 Desember 2021

Karya Guru | Pembelajaran Tatap Muka Terbatas dalam Perspektif Filsafat Ilmu | Esai Marti Marganingsih, S.Pd.

 Esai Marti Marganingsih, S.Pd.



Berita gembira datang saat memasuki September 2021. Masa pandemi Covid-19 yang sudah melanda Indonesia sekitar 1,5 tahun sudah sangat meresahkan siswa khususnya dan orang tua umumnya. Pembelajaran tatap muka sudah sangat diharapkan dan ditunggu realisasinya. Mereka sudah merasa terbebani dengan pembelajaran jarak jauh yang berlangsung cukup lama. Pepatah yang bisa sedikit menenangkan hati mereka adalah "badai pasti berlalu" yang artinya setiap kesulitan atau penderitaan hidup pasti ada akhirnya. Hal inilah yang memberikan semangat bagi mereka untuk bersikap optimis dan berpikir positif dalam menjalani kehidupan setelah masa pandemi. Masa new normal akan segera berubah menjadi normal sehingga roda kehidupan akan berjalan seperti semula. 

                  

Kabar yang menggembirakan datang juga pada jenjang SMA/SMK. Diadakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas mulai 1 September 2021 yang secara resmi disampaikan oleh Gubernur Banten, Wahidin Halim. Hal ini segera ditindaklanjuti oleh sekolah-sekolah di bawah naungan Dinas Pendidikan Provinsi Banten tingkat SMA/SMK sederajat. Sekolah-sekolah segera melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas dengan dibagi shift pagi dan siang dan disesuaikan dengan kondisi siswa dan sekolah. Di sekolah saya, Pembelajaran Tatap Muka Terbatas dibagi 2 shift, yaitu shift pagi pukul 08.00 s.d. 12.00 dan shift siang pukul 13.00 s.d. 16.00. Untuk per jenjang kelasnya masuk 3 hari dalam seminggu. Kegiatan dilaksanakan tetap dengan memperhatikan protokol kesehatan,yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. 

               

Para siswa terlihat antusias dengan dimulainya Pembelajaran Tatap Muka Terbatas. Kerinduan yang selama ini tertahan sudah terlepaskan. Mereka sangat gembira bisa bertemu dengan teman-teman dan guru-guru. Dengan langkah tegap mereka berjalan memasuki gerbang sekolah untuk dapat meinmba ilmu lebih maksimal. Mereka akan lebih bisa menyerap materi dengan mudah dan bisa mengaktualisasikan diri melalui kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang juga sudah mulai diaktifkan kembali. Guru-guru pun mulai merasa lega bisa menyampaikan materi dengan leluasa tanpa terkendala oleh sinyal maupun kuota siswa. Korelasi antara guru dan siswa mulai terjalin lagi untuk mencapai hasil belajar yang memuaskan. Orang tua pun memberikan apresiasi positif terhadap Pelaksanaan Pembelajaran Terbatas yang dimulai bulan September 2021.

               

Bagi kaum progresif, tidak ada realitas yang absolut. Kenyataan adalah pengalaman transaksional yang selalu berubah (progresif). Dunia selalu berubah dan dinamis sehingga dapat disimpulkan bahwa hukum-hukum ilmiah hanya bersifat probabilitas dan tidak absolut. Dikaitkan dengan jenis filsafat ini, situasi pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung 1,5 tahun lebih ini menunjukkan kenyataan yang selalu berubah. Masyarakat tidak pernah menyangka virus covid-19 yang melanda Indonesia mengubah situasi dan kondisi pendidikan menjadi sorotan tajam karena sangat berdampak negatif terhadap kehidupan mereka. Ada juga masyarakat yang harus kehilangan pekerjaan sehingga mempengaruhi pendapatan dan biaya untuk pendidikan anak-anak mereka.

                

Di bidang pendidikan, sebelum pandemi Covid-19, anak-anak yang bersekolah bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan baik. Mereka menerima pelajaran dari bapak/ibu guru sesuai dengan materi yang sudah disiapkan dengan matang di awal tahun pelajaran. Para guru juga dengan leluasa menyampaikan pelajaran, baik secara teori maupun praktik agar siswa mampu mencapai hasil yang memuaskan. Selain itu, kegiatan ekstrakurikuler yang menunjang anak untuk bisa mengembangkan bakat atau kemampuannya berjalan normal. Melalui kegiatan ekstrakurikuler, anak-anak dilatih kemandirian, kedisiplinan, dan tanggung jawab yang akan menunjang terwujudnya cita-cita mereka.

                

Permasalahan belajar yang muncul di sekolah saya pada masa pandemi Covid-19 dialami oleh peserta didik, guru, dan orang tua. Awal masa pandemi antara siswa dan guru terpaksa berkomunikasi melalui handphone. Ada yang terkendala kuota maupun sinyal sehingga komunikasi tidak berjalan lancar. Masalah yang terjadi pada guru di antaranya materi yang kurang tersampaikan dengan baik, metode belajar yang terbatas, tidak terjadi hubungan dan sentuhan emosional dengan anak pada pembelajaran jarak jauh sehingga memengaruhi pengenalan/evaluasi kemampuan siswa. Sementara itu orang tua mengeluhkan tugas anak yang berat, tidak mampu mendisiplinkan anak, dan merasa kesulitan memantau anak karena mereka bekerja. Sedangkan permasalahan bagi anak adalah merasa sulit belajar di rumah, waktunya terkekang oleh orang tua, hubungan sosial yang terbatasi, tidak bisa mengembangkan bakat yang dimilikinya. Permasalahan yang dirasakan oleh orang tua maupun siswa memang memengaruhi berlangsungnya kegiatan pembelajaran secara online sehingga hasil yang dicapai pun tidak maksimal mulai dari tahap perencanaan, proses pembelajaran, dan evaluasi.

                 

Aliran ini menaruh perhatian yang besar pada hubungan antara kurikulum sekolah dan perkembangan politik, sosial, dan ekonomi suatu masyarakat. Rekonstruksionisme menganggap bahwa dunia dan moral manusia mengalami degradasi di sana-sini sehingga perlu adanya rekonstruksi tatanan sosial menuju kehidupan yang demokratis, emansipatoris, dan seimbang. Keadaan yang timpang dan hanya menguntungkan salah satu belahan dunia harus diatasi dengan merekonstruksi pendidikan untuk memajukan peradaban. Aliran ini berkaitan dengan situasi masa pandemi Covid-19 yang sangat memengaruhi perkembangan bidang politik, sosial, dan ekonomi. Sekolah pun harus memerhatikan kurikulum untuk disesuaikan dengan situasi pandemi Covid-19 untuk tetap dapat mencapai target pencapaian hasil belajar siswa.

                  

Peran orang tua sangat besar dalam mendukung saat pembelajaran jarak jauh. Orang tua memantau dan mengingatkan kepada anaknya ketika pembelajaran online berlangsung. Namun kenyataannya, ada juga beberapa orang tua yang mengeluh sehingga mereka tidak bisa mendukung pembelajaran anaknya. Pertama, mereka kurang paham (dalam hal teknologi), kurang memiliki pengetahuan mata pelajaran, kurang bisa mengarahkan sumber belajar anaknya sehingga pembelajaran bisa terhambat. Penggunaan smartphone tentunya membutuhkan kuota dan dana lebih untuk membelinya, sedangkan ekonomi orang tua terbatas terdampak Covid-19. Peran orang tua untuk bisa mendukung, tidak hanya dari fasilitas, mereka juga harus selalu mengingatkan anaknya ketika waktunya belajar supaya anak tidak terlena. Orang tua harus bisa mengingatkan anaknya untuk belajar daring dengan baik supaya kuota yang ia miliki juga tidak cepat habis. Jika penggunaannya tidak tepat, itu merupakan salah satu bentuk pemborosan.


Maraknya berita hoaks juga menambah tantangan kepada pemerintah tantangan dalam pengendalian penyebaran Covid-19 di tanah air. Hal ini berpotensi menimbulkan krisis politik, terutama soal kepercayaan publik kepada pemerintah. Melihat perkembangan upaya penanganan pandemi oleh pemerintah dan respon publik terhadap hal tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa transformasi pandemi Covid-19 menjadi krisis sosial-kemasyarakatan yang lebih luas mungkin untuk terjadi serta memiliki dampak lanjutan pada jangka menengah dan panjang. Upaya mengisolasi pandemi Covid-19 dan mencegah terjadinya krisis keamanan serta politik merupakan tugas bersama pemerintah dan masyarakat. 



____

Penulis


Marti Marganingsih, S.Pd., guru di SMKN 8 Kab. Tangerang, mahasiswa pascasarjana Untirta.







Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com