Selasa, 28 Desember 2021

Proses Kreatif | Penulis Eufemisme

 Oleh Encep Abdullah




Kemarin saya kirim sebuah esai Ray Ammanda ke sebuah grup WA yang sebagian besar isinya penulis, tapi kebanyakan bukan pegiat sastra. Tulisan tim redaksi NGEWIYAK ini berilustrasi bin bergaya memegang sebuah rokok. Memegang ya, bukan mengisap, itu juga saya tidak ngeh kalau Ray sedang memegang rokok. Saya kira sedang memegang buntelan sobekan kertas. Dan, rokoknya itu pun sangat tidak kentara, tidak jelas. Sebagai Dewan Redaksi yang baik, tentu setiap tulisan yang dimuat saya kirim ke beberapa grup yang ada di gadget saya. Salah satunya di grup WA di atas, tidak perlu disebutkan namanya. Di sana, ada seorang rekan berkomentar,


Gaya penulisnya dengan tangan memegang *r*k*k* sepertinya kurang elok untuk pendidikan generasi muda. Mengingatkan, ternyata di televisi sekarang sudah mulai menutup (mem-blur-kan) adegan orang yang memegang atau menghisap barang tsb. Sebelumnya hanya adegan asusila atau tindak kekerasan.


Kok, komentarnya begini amat ya. Dikira saya dan rekan-rekan NGEWIYAK bocah ingusan kali. Mereka sudah tumbuh bulu di kemaluan mereka.  Komentar ini tampak bermoral, tapi kok menurut saya kurang etis. 


Begini. Kita sering kali fokus pada kover, pada ilustrasi. Dan, saya yakin sebagian dari mereka itu tidak membuka isi di balik sampul atau ilustrasi itu (baca: tulisan). Rekan saya itu menyuruh saya dan kawan-kawan penulis muda di komunitas untuk berdiskusi kembali mengenai kekurangelokan Ray dalam foto itu. Diskusi tentang moralitas rokok dalam ilustrasi sebuah tulisan di media digital. Saya bilang kepadanya "buat apa?". Apa yang perlu didiskusikan. Saking jengkelnya, saya kirim sebuah ilustrasi Chairil Anwar sedang merokok (bukan dalam kover buku). Saya yakin pasti ia tidak tahu sosok yang saya kirim itu. Saya bilang, mungkin Ray terinspirasi dari penulis ini.


Ia pun menjawab,


Ya, melakukannya menurut salah satu stasiun televisi tsb. mungkin sah-sah saja. Namun memerlihatkannya itu yang kurang elok. 


Saya kurang paham komentar ini. Ia pun berkomentar lagi,


Narasi yang ini [paling atas] yang berharap menjadi bahan diskusi. Barangkali pandangan saya melenceng dan perlu diluruskan.


Untuk apa saya luruskan. Pikirannya sudah lurus kok. Lalu ia bilang lagi, "bukan perlu, tapi harapan." Ya, sama saja. Saya pun berharap kepadanya bahwa lebih penting lagi mengomentari isi tulisan Ray karena saya yakin ia belum baca. Tidak lama kemudian, barulah ia balas dengan men-screenshoot tulisan Ray sembari berkomentar,


Keren tulisannya. Semoga kelak menjadi penerus sang guru-nya, Kang Encep.


Komentar yang tidak saya harapkan. Jujur, bukan itu yang saya inginkan. Bukan pujian. Pujian itu bagi saya tidak membangun energi apa-apa. Kami sudah terlalu sering dipuji. Dan, di tempat saya, saya tidak pernah mengajari anak didik menulis saya haus akan pujian. Malah, perlu dicaci-maki. Biar mereka terbiasa dengan makian.


Permasalahan di sini adalah terkait ilustrasi sebuah tulisan yang dipandangnya harus "bermoral". Ia menyamakan konsep "blur" pertelevisian dengan dunia ilustrasi sebuah media online (saya anggap kover buku juga). Akhirnya, saya kirim lagi kover buku puisi Chairil Anwar yang sedang merokok. Rekan saya itu menjawab bahwa itu kover lama, kalau kover sekarang mungkin diblur. Ini pendapat dari mana sih? Saya pun minta data tentang larangan itu. Tidak ada bukti. Ternyata pendapatnya hanya dugaan "mungkin".


Buku Chairil yang sedang berpose merokok itu terbitan Gramedia, 2018. Dan saya yakin akan terus dicetak ulang. Saya juga punya buku sejarah hidup Chairil Anwar terbitan KPG (Seri Buku Tempo), di sana, ilustrasi Chairil memang tidak merokok, tetapi sedang menyalakan (korek) api. Itu filosofis. Tidak ada kaitan dengan pelarangan perlunya diblur.


Saya kembali pada kaitan ilustrasi media online atau kover buku dengan moralitas penulisnya. Kalau pikirannya dangkal semacam itu, bahaya juga. Saya yakin dia tidak pernah melihat kover buku seksi Eka Kurniawan, Cantik Itu Luka, atau kover buku Oka Rusmini, Entrok, atau kover buku puisi Acep Zamzam Noor, Menjadi Penyair Lagi, atau baca judul buku cerita Gunawan Tri Atmojo, Pelisaurus.


Apa jadinya bila buku Chairil dicap seperti apa yang ia sampaikan itu. Seolah sebuah kover sama dengan representasi perilaku si penulis, watak si penulis. Tidak semua buku juga berkover wajah penulisnya, kecuali buku-buku biografi.


Saya sodorkan juga buku saya ke grup itu. Buku saya berjudul Susu Bikini. Saya sambil bercanda bahwa jangan-jangan buku saya ini juga merusak moral generasi muda, generasi bangsa. Bahkan, di FB ada juga yang mengatakan dan menuduh bahwa saya "mendiskreditkan perempuan" hanya karena mengambil judul itu. Padahal ia belum baca isinya. Saya yakin kalau ia sudah baca, ia bakal berkata "O".


Pernyataan yang mengusik pikiran saya itu sebenarnya ada pada bagian awal: "Gaya penulisnya [Ray] dengan tangan memegang rokok sepertinya kurang elok untuk pendidikan generasi muda". 


Maaf, sekali lagi saya bilang, kami bukan anak kecil. Saya tahu komentar Anda baik, tapi Anda salah kamar.


Saat saya kirim kover buku Susu Bikini itu kira-kira apa ya yang ada di dalam kepalanya? Moralitas penulisnya? Plis, tolong baca buku saya dulu. Kalau sudah selesai, Anda boleh berkomentar.


Lalu ia pun menjawab: 


Padahal saya menanggapinya menggunakan bahasa "sepertinya",  "kurang" ... 


Oh, baiklah. Terima kasih.



Serang-Tangerang, 28 Desember 2021





____

Penulis

Encep Abdullah, penulis yang maksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Tak menutup kemungkinan, ia juga menerima curhatan penulis yang batinnya tersiksa untuk dimuat di NGEWIYAK. 






Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com