Sabtu, 11 Desember 2021

Resensi Fathorrozi | Membaca Nyamnyong Bibir Sekonyong-konyong Jadi Monyong

 Resensi Fathorrozi



Judul Buku : Nyamnyong

Penulis : Encep Abdullah

Penerbit : #Komentar

Tahun : Februari 2021

Tebal : xx + 120 halaman

ISBN : 978-623-7630-60-9


Bermula dari ekor cecak yang digerak-gerakkan secara berulang di kamar mandi saat mengintip saya sedang buang air dari lubang depan, saya bergidik sembari mengangkat bahu. Melihat sikap saya, gerakan ekor cecak semakin kencang bagai mengikuti alunan musik rancak. Geleng-geleng dan sesekali angguk-angguk. Dikala tuntas air tersebut menyemprot, sebelum menyiram bau pesing itu saya teringat di bibir rak buku terdapat buku kumcer yang sempat bertahta dalam imajinasi. Judulnya Lelaki Ompol karya Encep Abdullah.


Ada banyak cerita bergizi yang disajikan, saking tingginya saya tak sanggup menggapai. Jika maksa, maka harus bersanding kamus untuk mencerna ramuan kata-katanya. Secara global, saya suka sekali dengan beberapa gaya cerita yang dipilihnya. Persis dengan wasiat guru saya "jika ingin dikenal, berbedalah!" Jadi anak rajin, atau nakal sekalian! Sebab jika nanggung, susah guru mengenalnya. Barangkali berbekal inilah Encep kemudian berpenampilan beda. Keluar dari kebiasaan.


Nah, selesai menghatamkan sepuluh cerita Lelaki Ompol tersebut, saya benar-benar ketagihan. Sakau dengan gaya cerita ala Encep Abdullah. Lalu saya menjelajah di dunia maya, mencari lagi buku terbarunya. Ada ternyata. Saya bersyukur. Buku terbarunya itu berjudul Nyamnyong. Penasaran saya semakin membuncah. Ingin segera memiliki dan melumat habis isinya. Saya telusuri ke toko online, tak tersedia. Cari ke toko sebelah, nihil. Saya pasrahkan saja nasib di tangan penulisnya. Secepat kedipan kilat, saya hubungi penulisnya. Singkat cerita, bukunya masih tersisa. Harganya 40 ribu, belum ongkir. Penulis minta alamat lengkap saya, sekali embusan napas, saya sudah mengirimnya via Whatsapp dan langsung bercentang biru.


Beberapa hari kemudian, buku dengan cover warna kuning kombinasi hitam-putih sampai pula ke gubuk saya dengan selamat sentosa tanpa kekurangan suatu apa pun lembarannya. Dengan sigap saya buka bungkus plastik, lalu memotret dan mengirimkannya. Saya kabari Encep kalau barang sudah saya terima–dengan lapang dada dan seulas senyum yang saya titipkan kepada Pak Kurir. Basa-basi saya tanya jumlah harga plus ongkir–sebelumnya tercengang, buku sudah dikirim padahal saya belum transfer. Penulis jawab, katanya tak perlu bayar. Itu gratis. Katanya bersyukur jika ada orang yang sedia baca karyanya. Lebih-lebih jika ada yang meresensi bukunya. Saya yang kegirangan saat itu, langsung lompat-lompat di atas kasur sambil guling-guling.


Dan pada saat yang berbahagia ini, saya akan memulai meresensinya dengan segenap ketulusan dan sedikit kekhilafan. Baiklah, saya mulai. 




Kumcer Nyamnyong diawali dengan cerita berjudul "Solilokui Strukturalisme Cerita Pendek dan Kematiannya di Tangan Cerpenis". Cerpen ini berisi tentang komposisi penting dalam cerita. Cerita tidak akan sah distempel sebagai cerita apabila tidak memuat tema, judul, tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa dan amanat. Unsur-unsur cerita tersebut menjelaskan secara deskriptif siapa diri dan seberapa dibutuhkan dalam tubuh cerita. 


Amanat

Aku kadang suka marah. Padahal apa pun ceritanya, tentang apa saja, tentu ada hikmahnya. Makanya, budayakan membaca sampai selesai, jangan setengah-setengah. Kayak IA yang dulu suka mencari-cari amanat sebelum memulai menulis. Padahal aku dihidupkan dan didapatkan dari keseluruhan rangkaian alur. Aku boleh dicari sesuka hati, tapi tolong jangan paksakan pembaca dan penulis untuk mencari-cariku sebelum selesai membaca. (hlm. 10)


Penggalan di atas adalah sebagian unsur yang menerangkan profil diri dan kiprahnya dalam keutuhan cerita. Patut diketahui, cerpen ini meraih juara 1 Lomba Cerpen Nasional yang diselenggakan oleh Tulis.me 2019. Memang sungguh pantas. Bahasanya sederhana, namun bahasannya dalam dan detail. 


Cerpen kedua berjudul "Nyamnyong" yang kemudian dipilih menjadi Ketua Perwakilan Judul Cerita untuk mejeng di cover. Cerpen yang masuk 6 besar dalam Lomba Cerpen Tulis.me 2019 ini mengangkat persoalan persaingan antarpenulis cerita pendek. Nyamnyong merupakan cerpenis kelima puluh yang dibunuh dengan peluru pistol di jidatnya. Sehingga isi kepalanya berhamburan dan darahnya muncrat. Sebelum menewaskan Nyamnyong, si tokoh aku membunuh cerpenis tua yang sempat jaya di zamannya.


Mereka itu ngapain sih, sudah tua masih saja nulis cerpen. Kurang tidur mereka. Nanti cepat mati. Ditunggu-tunggu malah tidak koit-koit juga. Ya sudah, aku buru saja mereka satu per satu. Aku ikuti pergerakan mereka pergi. (hlm. 18)


Sejak dia membunuh cerpenis tua tersebut, dia makin ketagihan membunuh cerpenis lainnya. Setidaknya dengan terbunuhnya mereka, bisa meminimalisasi jumlah penulis cerpen koran tiap minggunya. Dia muak dengan para cerpenis yang cerpennya dimuat di koran saban Minggu, bahkan dia menunggu ajal dirinya sendiri. Saat cerpennya dimuat di koran mingguan, dia akan membunuh dirinya dengan cara meledakkan tembak kepalanya.


Buku kumcer ini ditutup dengan cerpen berjudul "Surga di Bawah Telapak Kaki Siapa?" Cerpen ini mengusung percekcokan dalam biduk rumah tangga yang diawali dan diakhiri dengan kata “Bangsat!”.


Cerita ini lebih pas adalah sebuah keluh-kesah atau curahan hati seorang suami yang tiap waktu dicecar dan diomeli istri. Simak baik-baik sebagian omelan ini!


“Kontrakan ini tak layak buat kita. Menyeramkan. Aku tak mau bercinta di tempat ini.”


“Jadi suami kok cuma bisa nimbun baju kotor doang. Cuma bisa ngacak-ngacak baju di lemari doang.”


“Jadi suami kok tidak peka. Nggak punya telinga apa, diomongin diam saja.”


“Kok masih bau sabun sih? Nyuci baju kok asal. Lelaki memang nggak becus!”


“Puih, kok rasanya begini? Nggak dikasih garam ya?”  (hlm. 94--97).


Akhirnya, perut istrinya "meledak" dan dia menjadi seorang ayah yang bahagia. Entah, kebahagiaannya sebagai ekpresi telah mempunyai anak, atau istrinya telah insaf mengomel pascalahiran. Entahlah!  


Sebagaimana Lelaki Ompol, buku Nyamnyong ini juga memuat sepuluh cerita yang tentu dengan berbagai gaya dan teknik. Gaya dan teknik yang disuguhkan sangat memukau pembaca, disebabkan teknik yang dipilih tidak taklid buta kepada penulis lain. Maka kerapkali dengan tanpa sadar bibir tiba-tiba memonyong takjub pada estetik penuturannya. Encep memang beda. Dia unggul lantaran berani beda.




___

Penulis


Fathorrozi, alumnus Pascasarjana UIN KHAS Jember, pengelola YPI Qarnul Islam Ledokombo Jember.







Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com