Selasa, 01 Maret 2022

Proses Kreatif | Menulis Pembuka Cerpen

 Oleh Encep Abdullah



Sebelum memulai, saya rincikan terlebih dahulu walaupun terkesan bertele-tele. Pertama, apa itu menulis? Menulis dalam KBBI berarti 1 membuat huruf (angka dan sebagainya) dengan pena (pensil, kapur, dan sebagainya); 2 melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan; 3 menggambar; melukis. Anda bisa pilih sendiri masuk kategori mana. Kedua, siapa itu penulis? Penulis adalah 1 orang yang menulis; 2 pengarang; 3 panitera; sekretaris; setia usaha; 4 pelukis; penggambar. Ini juga Anda bisa tentukan sendiri, Anda termasuk yang mana. Ketiga, apa itu cerpen? 1 cerpen akronim cerita pendek; 2 cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk  (Edgar Allan Poe); 3 cerita rekaan yang masalahnya singkat, jelas dan padat dan terkonsentrasi pada suatu  peristiwa/kejadian (Tarigan).


Cerita pendek yang saya tahu memiliki struktur: abstrak (ringkasan atau gambaran awal dari kisah yang akan diceritakan), orientasi (berkenalan dengan waktu, tempat, dan suasana), komplikasi (urutan kejadian yang terdapat dalam cerpen), evaluasi (menemukan konflik hingga menuju ke klimaks), resolusi (penyelesaian dari permasalahan yang terdapat dalam cerpen), koda (berisi nilai moral atau pelajaran yang terkandung dalam cerpen). Kalau versi simpelnya menurut saya cukup orientasi (dibuka dengan sesuatu yang menarik) --> komplikasi (dibangun dengan masalah yang kompleks) --> resolusi (ditutup dengan mengejutkan dan mengesankan). Struktur-struktur itu tentu dibangun melalui tema, tokoh dan penokohan, latar, alur, gaya bahasa, dan amanat.


Untuk memulainya, sering sekali muncul masalah klasik dalam menulis, “Bingung mau memulai dari mana?”. Tulislah apa yang sedang Anda rasakan saat ini dan jangan memikirkan ejaan yang harus begini dan begitu. Tulis saja, paksakan satu kata atau satu kalimat atau satu paragraf pertama dulu (ini bagi yang benar-benar pemula). Masalah kalsik selanjutnya, “Tidak punya ide”. Bohong, ide itu ada di mana-mana. Ide hadir saat kau jalan-jalan, melamun, boker, nonton film, melihat peristiwa, atau teringat pengalaman masa lalu. Coba, renungi lagi, hal apa yang sedang Anda pikirkan saat ini. Itu juga ide. Nah, tinggal bagaimana Anda mengeksekusi.


Baik, bagi Anda yang siap menulis cerita pendek, di sini saya tidak akan menjabarkan panjang lebar. Saya hanya memberikan tips dan contoh menulis pembuka cerita pendek. Pembuka cerita pendek ini sangat berpengaruh besar terhadap pembaca, terutama juri lomba dan redaktur media sastra. Kalau pembukanya saja kurang menarik, bagaimana pembaca/juri/redaktur mau melanjutkan baca.


Baik, sudah siap? Langsung saja saya berikan contoh. 



Cerpen Encep Abdullah “Sup Jempol Kaki Ustaz”


Setiap malam orang-orang berbondong-bondong mendatangi “Kedai Sup Jempol Kaki Ustaz” yang ada di samping rumah Pemuda. Bapak Pemuda tersenyum melihat anaknya yang sedang melayani pelanggan. Sesekali ia melihat kedua jempol kakinya yang sudah lenyap. (Lampung Post, 21 Juli 2014)



Cerpen Faisal Oddang “Siapa Suruh Sekolah di Hari Minggu?”


Nama saya Rahing, usia delapan tahun lebih. Saya baru saja membunuh kakak saya. Lehernya saya potong pakai parang milik gerombolan. Saya ditangkap tentara. Tentara banyak sekali pertanyaannya, saya jadi pusing. Saya bilang mau pulang. Tentara bilang tidak boleh. Saya jadi sedih dan takut. Besok hari Minggu, Guru Semmang akan cubit saya kalau tidak masuk sekolah. Sekolah kami sekarang, pindah ke dalam hutan. Saya bilang, saya mau cerita tetapi sesudah itu, saya pulang. Tentara setuju. Saya bilang lagi, saya mau cerita tetapi jangan bilang sama Guru Semmang. Dan jangan kasih tahu ayah kalau saya di sini, tentara janji. Saya takut Guru Semmang cubit saya. Saya takut Ayah lihat saya, dia mau bunuh saya. (Kompas, 30 Juli 2017)



Cerpen Yanusa Nugroho “Garis Cahaya Bulan"


Sorga itu ada di sini. Kalau kau tak percaya, sesekali datanglah ke mari. Kau akan melihat dan merasakannya sendiri. Aku yakin, kau akan mengatakannya sebagaimana aku mengatakannya padamu. (Kompas, 8 Januari 2006)



Cerpen Seno Gumira Ajidarma “Karangan Bunga dari Menteri”


Belum pernah Siti begitu empet seperti hari ini.

“Pokoknya gue empet ngerti nggak? Empeeeeeete banget!”

“Kenapa emang?” tanya Ira, sohibnya.

“Empeeeeeeeeeettt banget!!”

“Ah elu! Empat-empet-empat-empet aje dari tadi! Empet kenape Sit?”

Di tengah pesta nikah putrinya, di gedung pertemuan termewah di Jakarta, Siti merasa perutnya mual. Tadi pun belum-belum ia sudah tampak seperti mau muntah di wastafel. (Kompas, 9 Oktober 2011)



Cerpen Seno Gumira Ajidarma “Sepotong Senja untuk Pacarku”


Alina tercinta,


Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?


Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu per satu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan. (Kompas, Minggu, 9 Februari 1991). 



Cerpen Yanusa Nugroho "Salawat Dedaunan"


Masjid itu hanyalah sebuah bangunan kecil saja. Namun, jika kau memperhatikan, kau akan segera tahu usia bangunan itu sudah sangat tua. Temboknya tebal, jendelanya tak berdaun—hanya lubang segi empat dengan lengkungan di bagian atasnya. Begitu juga pintunya, tak berdaun pintu. Lantainya menggunakan keramik putih—kuduga itu baru kemudian dipasang, karena modelnya masih bisa dijumpai di toko-toko material. (Kompas, 2 Okt 2011) 



Cerpen Wan Anwar “Sepasang Maut”


Aku tahu kau telah bersungguh-sungguh mencintai laut. Setiap kau bicara tentang laut, pengalamanmu bersentuhan dengan laut, kerinduanmu kepada laut, aku melihat laut bergemuruh di matamu. Sekali waktu, ketika kau mengungkapkan pergulatanmu dengan laut, bahkan pernah kulihat laut membentang di bening bola matamu. Dan kalau kau bicara tentang kekasihmu, masalah kantormu, masa lalumu, adik-adik dan orang tuamu, nyaris tak pernah sekalipun tanpa diawali, diselipi, atau diakhiri kata-katamu tentang laut. Malah, bukan hanya di permukaan dan kedalaman matamu kutemukan laut, tetapi di seluruh lekuk tubuhmu. Sayangnya, penghayatanku terhadap laut tidak sebergelora, sebergemuruh, seberdebum, atau sehening, setakzim kecintaanmu kepada laut. Aku memang tidak pernah bersungguh-sungguh menghayati laut, juga ketika kau khusyuk menafsirkan berbagai sudut dan lekuk laut. (Kompas, 26 September 2004)



Beberapa pembuka cerita di atas dibangun dengan narasi (bercerita), deskripsi (penggambaran), dan dialog. Pada pembuka cerita, para penulis tidak basa-basi, mereka langsung menyodorkan entakan, teror, misteri, dan rasa penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Membuat kalimat atau paragraf cerpen perlu kejelian dan kehati-hatian. 


Hindari pembuka cerpen macam begini:



Matahari terbit. Burung-burung berkicau riang. Angin sepoi-sepoi begitu sejuk di badan. Langit begitu luas dipandang. (Bertele-tele, ini bukan novel Bray!) 



Aku bangun pagi. Setelah itu aku ganti baju. Setelah ganti baju, aku makan dengan sehelai roti.  Sebelum berangkat sekolah, aku cium tangan Ibu. Aku bilang “assalamualaikum”. Ibu menjawab “waalaikumsalam”. (Tidak dibangun dengan entakan peristiwa)



“Assalamualaikum,” ujarku.

“Waalaikumsalam,” jawab Fulan.

“Kamu sedang apa?” tanyaku.

“Tidak sedang apa-apa,” jawabnya.

“Oh, begitu, ya sudah, assalamualaikum,” ujarku.

“Waalaikumsalam,” jawab Fulan.


(Beberapa penulis cerpen pemula sering terjebak percakapan seperti ini!)



Cobalah belajar menulis cerpen dengan baik, salah satunya terus berlatih menulis pembuka cerita yang menarik. Jangan merasa Anda paling letoy. Saya selalu teringat dengan kata-kata saya sendiri.


Bila kau merasa paling lemah dalam menulis, berkacalah kepada para penulis ini:


Golagong, penulis yang hanya punya lima jari, tapi bukunya ratusan. Putu Wijaya, di usianya yang senja jari-jarinya tidak bisa begerak karena stroke, kecuali jari telunjuk, ia menulis hanya menulis dengan satu jari. Aveus Har, penjual mi ayam yang menulis buku di HP dan menjuarai even menulis nasional. Eko Ramaditya Adikara, penulis tunanetra yang menulis banyak buku. Ratna Indraswari, penulis yang hanya duduk di kursi roda sejak kanak-kanak karena penyakit radang tulang, ia membuat buku dengan cara bercerita kepada asisten pribadinya dan langsung ditulis di layar komputer.


Barangkali Anda punya pancaindra dan bagian tubuh yang masih lengkap. Lalu, masihkan kita beralasan tidak bisa menulis?


Jika kau mencintai [menulis] lalu tersakiti, mencintailah [menulislah] dengan lebih. Jika kau terus mencintai [menulis] dan terus tersakiti, bertahanlah dan teruslah mencintai [menulis] dengan lebih lagi. Jika kau telah bertahan dan terus mencintai [menulis] namun tetap tersakiti, teruslah bertahan mencintai [menulis] hingga rasa sakit itu hilang. (William Shakespeare, penulis Romeo and Juliet)


Selamat Menulis!


Kiara, 1 Maret 2022



_____

Penulis


Encep Abdullah, penulis yang maksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya.