Jumat, 20 Mei 2022

Cerpen Fahrul Rozi | Di Bibir Pantai

 Cerpen Fahrul Rozi



Sore itu aku melihat dari kejauhan, ombak membawa sampah yang begitu besar, berwarna kelabu. Aku sudah sering melihatnya jika air pasang atau ombak besar datang—dan sudah menjadi tanggung jawabku sebagai tukang pungut sampah untuk membawanya pulang ke rumah. Dalam kepalaku terpikir bahwa sampah tersebut adalah sebuah puing kapal yang karam atau peti harta karun. Tapi, yang terakhir ini sangat mustahil. Dan yang pertama lebih juga tidak mungkin, itu sama saja aku berharap seperti Robinson dalam Kehidupan Liar. Toh aku tidak berharap akan adanya keajaiban dari laut, membawa sekantong emas, toh aku hidup berkecukupan walau kadang bertengkar dengan Bapak di rumah. 


Sampah itu makin mendekat dan botol plastik mengambang di sekitarnya menutupi sebagian sampah besar kelabu. Sampah plastik itu tidak seberapa nilainya jika ditukar, tapi sampah mungkin bisa menambal mulut bapakku yang pemarah. Aku ingat betul bagaimana satu hari aku hanya membawa sampah plastik, dan bapakku marah besar. Dia terus-menerus mengomel sambil mengacungkan telunjuknya. 


"Sampah plastik tidak membuat kita tambah kaya!" 


Namun, ketika sampah besar itu mendarat di bibir pantai, aku melihat ada yang aneh. Ada yang bergerak-gerak, berkerisik, sehingga botol plastik jatuh dari atas sampah besar kelabu itu. Lalu, tersingkaplah ekor ikan besar dan moncong runcing dengan deretan gigi tajam. Aku terlonjak, jatuh ke atas pasir ketika hendak menyentuhnya. Ikan itu masih bergerak-gerak seperti cacing kepanasan. Sampah di atasnya berjatuhan semua sehingga aku tahu pasti bahwa ia ikan berbahaya: hiu sang predator.


Aku mundur menyeret tubuhku yang berat. Hiu itu masih bergerak-gerak—dan moncongnya yang bergigi tajam berubah jadi kepala manusia, lamat-lamat tubuh dan ekornya mengikuti jadi tubuh manusia seutuhnya. Melihat itu aku lebih terperangah lagi. Aku hampir-hampir menjadi batu. Tapi, pikiran keras menolak untuk percaya, bahwa yang baru saja kulihat hanya halusinasi semata.


Sore itu di pantai tak ada orang, karena memang pantai sudah tutup dua hari yang lalu. Tak ada orang yang bisa aku minta tolong. Aku sendiri tidak bisa berlari seperti kebanyakan manusia lakukan ketika melihat bahaya. Aku diam, mematung di atas pasir. 


Manusia, maksudku hiu yang berubah manusia itu berwajah cerah. Ujung bibirnya tertarik ke atas sehingga membuatku teringat pada senyum kawanku dulu.


***


Dia bernama Sukri. Tubuhnya lebih kecil dariku dan rambutnya kecokelatan halus. Dia pernah berkata jika dirinya ingin menangkap hiu di laut. Dan dengan senyum liciknya, dia berjanji suatu saat akan membawakan sirip hiu yang mahal itu padaku. Begitulah. Senyuman hiu yang berubah manusia persis dengan Sukri. Apa Sukri mengajarkan hiu-hiu di laut tersenyum?


Tiba-tiba terdengar dari belakang, Bapak memanggilku begitu keras dan penuh perasaan. Aku lihat hiu yang berubah manusia itu masih berada di bibir pantai, melihatku dengan keheranan, seakan rahasinya telah terbongkar oleh pemuda sepertiku. Aku mendengar lagi Bapak memanggilku. Tapi, kali ini lebih parau, dan aku paksa berbalik untuk melihatnya.


“Cepat pergi dari situ!” 


Aku tidak bergerak ke asal suara. Aku hanya mendengarkan.


“Kau akan dibawa hiu itu pergi, cepat, lari ….” 


Aku menoleh ke hiu yang berubah jadi manusia itu. Tetap ada. Kemudian aku menjawab perkataan Bapak.


“Jika aku takut pada sesama makhluk ciptaan-Nya, lalu apa guna aku hidup jika tidak berdamai dengan sesama makhluk?” 


Angin bertiup membawa kabur perkataanku dan terdengar lagi Bapak memanggilku.


 “Cepat, lari!”


Tiba-tiba aku berlari ke asal suara, dan aku tidak lagi melihat wajah hiu itu. Aku jadi ragu, bahwa Bapak tidak memanggilku untuk pulang, tapi dia akan merebut hiu itu dariku dan membawanya ke pasar untuk dijual.


*** 


Aku tersentak dari tidur. Sesadarnya aku tahu bahwa perkara hiu yang berubah manusia adalah mimpi belaka. Nyatanya aku masih ada di bawah pohon palem dengan anjingku. Mungkin karena sudah lama tidak bertemu Sukri di sekolah, pikiranku jadi terjurus padanya. Di mana dia sekarang? Aku tidak tahu. Mungkin sedang di rumahnya atau di rumah neneknya. Aku tidak tahu. Soal hiu, beberapa kali aku memang bermimpi hiu. Tapi tidak seperti barusan. Hiu-hiu di mimpi sebelumnya hanya berenang di dekat sampanku, tidak sampai menyerang atau mengincar ikan tangkapanku, bahkan aku memberinya makanan dengan cuma-cuma.


Dan dua hari ini ketika pantai tutup, banyak ikan terdampar kehabisan tenaga dan mati di atas pasir cokelat. Begitu pula nasib sampah laut. Mungkin di tengah laut sana sedang ada badai, tapi toh tak ada angin ribut atau guntur di pantai.


Siang ini aku tertidur di bawah pohon palem karena habis membersihkan pantai dari sampah plastik sejak subuh. Bapakku pergi ke kota untuk untuk menukar satu pik-up sampah plastik dengan uang, sedang ibuku memasak di rumah yang tidak jauh dari pantai.


Aku ingat-ingat lagi mimpi yang baru kualami. Apakah ini ada hubungannya dengan Sukri? Jika benar, apakah Sukri telah tewas dimakan hiu saat menangkapnya di laut lepas sendirian?


Panas matahari membuat kerongkonganku kering. Angin pantai hanya membawa hawa hangat ke kulit. Aku bangkit dan menghindari sinar matahari, berjalan ke arah pondok kecil yang tidak jauh dari pantai. Di sana, di atas kerikil berdiri pondok yang biasa aku tempati. Di sana pula aku menyimpan sampah plastik—aku ambil botol air minum di dalam, terasa segar ketika air mengalir ke kerongkong. Aku tatap jendela tanpa pintu, segulungan ombak besar membawa beberapa sampah plastik ke bibir pantai, tersangkut di bebatuan karang.


Aku merasa jengkel dengan pemandangan ini, aku mengalihkan mata dan melihat riak air di tengah-tengah karang besar, suara kelepak air yang terus-menerus menjadi perhatianku kali ini. Mungkin ada ikan besar yang terbawa ombak besar tadi.


Setelah menyimpan botol air, aku keluar dari pondok menuju batu karang besar yang tingginya tiga meter lebih dengan lebar satu meter setengah, dengan batu karang yang tajam, tidak rata, dan berlubang. Batu karang itu berkelompok sehingga membentuk sebuah kolam yang dalam, jika ombak besar melanda, kolam itu akan penuh dengan air sedalam tiga meter.


Tanpa alas kaki aku terasa berjalan di atas ratusan kulit landak. Beberapa kali aku berhenti sembari mengangkat satu kaki, cukup lama, untuk menghilangkan sakit, dan persiapan mendaki lagi. Memang perlu usaha untuk sampai di atas karang karena dengan batu karang yang licin dan tajam membuatku terpincang-pincang sampai di sana.


Bunyi kelepak air terdengar lagi dan kali ini lebih jelas dan riang. Dari atas batu karang ini, aku dapat melihat seisi pantai. Sampah laut yang baru saja datang, pondok kecilku di sana, pohon palem dan pohon kelapa. Tiba-tiba bunyi kelepak itu berhenti. Aku mencoba melihat ke kedalaman air. Air yang biru. Aku lihat ada yang bergerak-gerak di dalam sana, seperti ikan, tapi cukup besar—sebesar manusia dewasa. Aku celupkan tanganku dan menggerakkannya di dalam untuk memancing ikan itu keluar, tapi ikan itu tetap tidak keluar. Aku tarik tanganku yang sudah kedinginan. Lalu, sebuah moncong runcing segera melompat ke langit, aku lihat ikan itu seukuran manusia dewasa dan memiliki kulit tebal dan memar di perutnya. Ketika ikan itu mendarat lagi ke air, aku baru tersadar bahwa ikan itu adalah hiu.


 “Hiuuuuuu!” jeritku tak tertekendali.


Aku segera turun. Hiu bukanlah jenis ikan yang manis. Ia pemberang seperti bapakku dan petarung terganas di lautan. Aku bisa saja jadi menu makan siangnya bila terus di sini, pikirku. Aku turun dari batu karang dan kurasakan napasku sesak.


Aku jadi teringat mimpiku tadi, bagaimana kalau hiu itu berubah jadi manusia? Apa ia akan tetap mamangsaku?


Aku duduk pada batu karang kecil. Bayang-bayang hiu  tetap mengusikku. Aku lemparkan pasir ke langit, dan alasan untuk menolak bayang-bayang itu terkabul. Aku tinggalkan hiu itu, berjalan seperti biasa. 


Sesampainya di pondok, aku teringat akan mimpiku. Aku segera berlari ke arah batu karang. Aku naik lagi ke atas, dan menengok ke dalam kolam karang. Hiu itu masih ada. Aku mendengus. Mencemplungkan tanganku ke dalam berkali-kali. Hiu mendekat, mengambang di permukaan dan aku dengar ia berkata sesuatu. 


“Hiu yang malang,” kataku dalam hati.


Jakasampurna, 20-09-2020


______

Penulis

Fahrul Rozi, lahir di Bekasi. Tukang cuci piring di PPM Hasyim Asya’ari.




Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com