Jumat, 11 November 2022

Cerpen M.Z. Billal | Sudut Pandang Kasih Sayang

Cerpen M.Z. Billal 




Sudut Pandang Satu:


Sama seperti hari sebelumnya, sepuluh detik sebelum memasuki pintu utama, dia akan mematut pakaian dan tas punggungnya yang sebetulnya masih rapi. Kemudian lima detik berikutnya untuk menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Selalu begitu. Sampai dia merasa sudah yakin barulah dia mengetuk, memutar pegangan pintu dan menyapa seseorang yang berada di dalam.


“Aku pulang, Bu. Bagaimana kabar Ibu hari ini?” Dialog tersebut selalu khas membuka percakapan ketika dia baru pulang kerja, melihat ibunya melakukan hal yang juga sama seperti biasanya. Duduk di kursi lengan mendengarkan lagu-lagu jadul yang diputar di radio lokal.


“Syukurlah kamu sudah pulang,” jawab ibunya. “Segera mandi dan jangan lupa makan. Ibu memasak sup bayam kesukaanmu malam ini.”


Dia mengangguk lalu mencium punggung tangan ibunya, namun memutuskan untuk duduk di kursi yang lain. Perbuatan yang juga sama seperti malam-malam sebelumnya. Mereka berdua akan bertukar senyuman tanpa harus berkata bahwa mereka saling menyayangi sejak ayahnya meninggal lima belas tahun yang silam.


“Aku ingin mengatakan sesuatu. Apa Ibu mau mendengarnya?” katanya sembari mengeluarkan sekotak kue hangat dari dalam tas yang kerap dibelinya di jalan pulang sebagai hadiah untuk ibunya yang selalu menunggu kepulangannya.


“Sejak kecil Ibu adalah pendengar setiamu,” jawab wanita itu sambil menerima kotak kue. “Kamu mau cerita apa?”


Dia tidak langsung menjawab pertanyaan ibunya. Dia ingin membiarkan ibunya mencicipi kue hangat itu lebih dulu dan mendengar wanita itu memuji rasa kue sembari bertanya di mana dia membelinya. Ya, pertanyaan umum seorang ibu. Lalu untuk membuat ibunya lebih senang, dia pun berjanji akan membawa kue enak yang lain pada malam berikutnya. Baginya senyum manis yang tergambar pada bibir ibunya adalah keindahan yang tiada tandingannya.


“Bu,” ucapnya lirih seraya tersenyum memulai cerita. 


“Ya.” Ibunya menyahut.


“Apakah sebuah masalah besar bila aku memutuskan untuk berhenti bekerja?”


Ibunya diam. Mengerutkan kening dan menaruh kotak kue di meja. 


“Apakah ada sesuatu yang terjadi di kantormu, Nak?” ibunya malah balik bertanya. Membuat matanya hangat dan secepat itu pula menitik sebutir air mata ke pipinya. 


Dia menggeleng sambil menepis air mata. Namun ibunya sadar gelengan kepala itu tidak biasa. Wanita itu kenal tabiat putra semata wayangnya. Bila sebutir air mata telah jatuh di pipinya itu bukti bahwa sesuatu tak lagi bisa ditahan.


“Air mata itu tidak bisa berbohong. Ceritakan pada Ibu apa yang sudah membuatmu menangis, Shahab.”


Tak lagi mampu berkata-kata dia langsung memeluk tubuh ibunya. Air matanya pun kembali jatuh. Dalam pelukan itu dia hanya membisikkan permintaan maaf kepada ibunya dan berjanji akan mencari pekerjaan yang lain. Namun dia tak mau ibunya tahu bahwa sesuatu telah terjadi pada dirinya. Jadi dia beralasan saja kalau dia hanya takut ibunya marah bila dirinya menjadi pengangguran.


“Ibu tidak memaksamu bekerja mati-matian bila kamu tidak menyukai pekerjaan itu, Nak. Jangan sedihkan itu. Ibu selalu berdoa kamu mendapatkan pekerjaan yang membuatmu lebih bahagia. Tentunya agar kita berdua juga bahagia. Sudah, jangan menangis, sekarang bersihkan tubuhmu. Segeralah makan. Nanti sup bayamnya keburu dingin.”


Dia mengangguk lagi dan beranjak. Tetapi alih-alih sudah merasa lebih baik, dia justru menangis tanpa suara di kamarnya. Sesenggukkan. Membuang citra tegas bahwa laki-laki dilarang menangis. Bagaimana tidak, hatinya semakin hancur ketika mengeluarkan seragam kerjanya yang asli dari dalam tas yang selama ini dia jaga ketat agar ibunya tak pernah membuka tas itu dan mengetahui segalanya.


Pakaian yang menjadi bukti nyata bahwa selama dua tahun pengakuannya telah bekerja di perusahaan jasa transportasi adalah kebohongan belaka. Karena sesungguhnya dia tidak pernah bekerja di kantor manapun di kota itu. Kemeja putih dan tanda pengenal yang dia kenakan setiap pergi dan pulang adalah cara terbaiknya untuk sembunyi dari kenyataan pasti bahwa dia sebenarnya adalah seorang perias yang bekerja di salon wadam, yang mesti pula bertingkah gemulai, nakal dan manja untuk menarik minat dan perhatian pelanggan salon.


Bahkan lebih dramatisnya lagi adalah saat dia memberanikan diri untuk mengambil jam tambahan sebagai penyanyi jalanan yang menuntut dirinya tampil meriah. Berpakaian wanita dan riasan menor hingga jelang magrib. 


Sungguh, menyusuri jalanan kota setiap hari sebagai pengamen waria sangat melelahkan. Ditambah lagi dia harus kuat menghadapi orang-orang yang bersikap buruk padanya. Itu betul-betul menguras kesabaran. Terlebih ketika dia harus buru-buru bersalin pakaian sebelum sampai di rumah dan menyiapkan sejumlah cerita bohong yang akan dia bagi pada ibunya. Rasanya dia semakin terbebani. Kesehatan mentalnya juga menurun.


Sebab setelah ratusan kali dia berpikir dan bertanya pada diri sendiri, berbohong agar bisa selamat dari kerasnya hidup di kota adalah kejahatan luar biasa kepada ibunya. Perempuan yang tidak pernah mendidiknya untuk berbohong itu. Sekarang dia malah telah merobohkan impian ibunya sendiri.


Itulah sebab dia betul-betul tak kuasa lagi menahan tangis. Masa bodoh soal citra laki-laki tak boleh cengeng. Dadanya telah menjelma ladang ranjau yang sudah meledak dengan satu pijakan. Membuatnya hancur berkeping-keping.


Namun kini, dalam tangisnya dia membulatkan tekad, seraya bergegas memungut seluruh pakaian wanita dan alat-alat untuk merias. Dia tidak akan melukai perasaan ibunya dengan kebohongan lagi, meskipun pekerjaan sebagai perias wajah di salon waria dan pengamen bersuara pas-pasan bukanlah pekerjaan hina. Sungguh, dia hanya ingin membuat ibunya bahagia. Itu saja.


***


Sudut Pandang Dua:


Perempuan paruh baya itu berteriak dari dapur. 


“Ibu mau ke warung Bu Hanifah dulu! Sarapannya sudah siap. Kalau mau berangkat kerja, langsung saja ya, tidak usah cari Ibu!”


“Ya, Bu!” sahut seseorang di dalam kamar.


Lalu dia pergi ke luar. Menuju ke warung yang dituju dan kembali lagi setelah 30 menit. 


Sesampainya di rumah dia merasa senang ketika melihat sarapan yang telah dia buat dengan rasa sayang habis tak tersisa di meja makan oleh putra semata wayangnya. Dia tahu betul menu sarapan pagi kesukaan anak laki-lakinya itu adalah nasi goreng bertabur bawang goreng dan telur dadar kecap. Itu berlangsung sejak putranya masuk sekolah dasar, tepat ketika suaminya meninggalkan dia untuk selamanya, lima belas tahun yang silam. Tanpa pernah mengeluh di hadapan putranya, dia berusaha keras bertahan hidup seorang diri membesarkan anak lelaki kesayangannya itu.


Kemudian sembari teringat kenangan masa lampau, dia mulai berberes rumah. Rumah yang sebetulnya sudah rapi. Rumah yang perkakasnya tidak pernah lagi banyak bergeser sejak anak lelakinya tumbuh remaja dan sibuk menghabiskan waktu di luar rumah bersama lebih banyak orang baru. Apa lagi kini putranya itu sudah bekerja, maka kemungkinan rumah berantakan itu sudah tidak ada lagi. Kecuali suatu hari nanti anak laki-lakinya itu menikah, lalu punya banyak anak dan menetap di rumah bersamanya. Sudah pasti dia akan sibuk berberes bersama menantunya, meneriaki cucu-cucunya untuk tidak terlalu kencang berlari di dalam rumah.


Kadang membayangkan itu dia suka senyum-senyum sendiri disaksikan seluruh perkakas rumah yang jelas tak mungkin membalasnya.  Bahkan dia sering bertanya-tanya dalam hati apakah putranya itu sudah mempunyai calon pasangan hidup atau masih dalam masa pencarian. Sebab dia tak sabar memiliki anggota baru di keluarga kecil ini. Dia butuh teman berbagi cerita perihal kenangan indah saat dulu dia melewati masa-masa menjadi perempuan muda dan bertemu pria baik hati yang kemudian bersamanya hingga akhir hayat. Pasti membahagiakan sekali, pikirnya. Namun meski begitu dia tak pernah bertanya langsung. Dia tidak ingin menciptakan beban dengan harapannya. 


Barangkali anak lelakinya itu memang sedang fokus berkarier, merawat orang tua, meraih impian dan masih banyak lagi. Demikian dia selalu berpikir baik tentang putranya. Sebab itulah dia lebih sering menghabiskan waktu dengan berberes rumah, menanam bunga-bunga, berbincang dengan tetangga, membaca buku dan mendengarkan siaran radio sampai putranya pulang pada malam hari. Aktivitas yang sungguh membuatnya tak merasa kesepian.


Akan tetapi, dia pernah benar-benar merasa sangat kesepian. Pada suatu pagi yang hening, ketika putranya buru-buru berangkat kerja sementara sarapan yang sudah dia hidangkan tidak tersentuh sama sekali.


Pada hari itu dia merasa sedih. Dia membayangkan lagi bagaimana jika anak lelakinya pergi merantau dan tidak pulang bertahun-tahun. Sementara dia terus melewati hari-hari seorang diri. Tidak terbendung lagi air matanya membayangkan hal tersebut.  Maka untuk melepas kesedihannya pada saat itu, dia masuk ke kamar anaknya. Melihat perubahan drastis tatanan kamar putranya yang tak lagi semeriah dulu. Kini, dinding itu polos. Meja hanya dipenuhi tumpukan buku cerita, lampu tidur dan sebingkai foto mereka. Selebihnya hanya kalender bergambar pemandangan alam. 


Putranya telah dewasa, gumamnya sambil tersenyum. Sampai pada akhirnya ketika dia membuka laci meja, dia mendapati sebuah foto yang tidak biasa. Dahinya langsung berkerut mengamati foto itu. 


Bagaimana tidak, di dalam foto itu ada empat orang pria berdandan seperti wanita. Hanya Shahab, putranya, satu-satunya pria yang mengenakan pakaian normal seorang pria. Dia berpikir mungkin itu teman-teman Shahab. Sebab mereka yang berada dalam foto tampak gembira saling memeluk satu dengan lainnya. Dan ketika dia membalik foto tersebut di sana tertera sebaris tulisan berbunyi, “ini hari pertama, mereka semua baik. aku akan mencoba dari sini, tempat ini”.


Dia tidak paham maksud tulisan itu dan memutuskan mengembalikan foto tersebut ke dalam laci lagi. Akan tetapi pikirannya dipenuhi sejumlah pertanyaan monolog. Salah satunya adalah pertanyaan apakah putranya baik-baik saja? 


Hmmm… Ya, tentu baik-baik saja. Dia mencoba menjawab sendiri pertanyaannya sebagai bentuk keyakinan bahwa tidak ada yang salah pada foto itu. 


____________


Penulis


M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Karyanya termaktub dalam banyak antologi puisi bersama dan telah tersiar di berbagai media seperti Pikiran Rakyat, Haluan Padang, Riau Pos, Fajar Makassar, Kedaulatan Rakyat, kompas.id, ide.ide.id, bacapetra.co, magrib.id, dll. Cara Kerja Perasaan (2022, Penerbit Epigraf) adalah kumpulan puisi pertamanya. Bergabung dengan  komunitas menulis Kelas Puisi Alit (Kepul) dan Genitri.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com