Selasa, 10 Januari 2023

Proses Kreatif | Penulis Sombong (?)

 Oleh Encep Abdullah



Suatu hari ada teman yang meminta saya untuk mengisi pelatihan menulis, tepatnya menulis novel. Tak butuh banyak waktu dan berpikir panjang, dengan segala hormat saya menolak. Dalam hal ini, saya tahu teorinya, tapi saya belum mempraktikannya. Saya merekomendasikan kepada kawan saya itu salah satu penulis yang kapasitas keilmuannya di bidang menulis novel sangat mumpuni.


Dalam urusan proses kreatif menulis, ia yang lebih berpengalaman menulis novel, tentu lebih utama ketimbang saya yang belum menghasilkan satu novel pun. Kalau saya mengisi pelatihan itu, saya hanya menyampaikan sebatas bacot, sedangkan ia—penulis novel—akan menyampaikan sesuatu dengan jiwanya. 


Tentu, setiap penulis punya pengalaman yang berbeda dalam berproses kreatif. Saya tidak bisa mengatakan bahwa proses kreatif seseorang itu salah, harusnya begini dan begitu. Kalau Pram menyebutnya dengan ”Pulau Mistikum”, setiap penulis punya ruangnya masing-masing menuju Dia. Barangkali itulah cara penulis bekerja sama atau bahkan "bersengketa" dengan gejolak jiwanya sehingga menghasilkan tulisan.


Di sini, saya kurang tahu, apakah teman saya itu memang tidak tahu kalau saya tidak punya novel, atau sebenarnya sedang menyindir saya? Walaupun ia memang tidak bermaksud menyindir, saya tetap merasa tersindir. 


Kalau saya boleh sedikit beralasan, bukannya saya tidak bisa menulis novel. Saya tidak meniatkan diri untuk menghabiskan waktu di sana. Setolol-tololnya novel, tentu butuh kerangka. Tidak bisa hadir semena-mena dan begitu saja, apalagi untuk menulis novel yang panjang, serius, berbobot, menawarkan kebaruan, menyuguhkan eksperimen, dan sebagainya. Semua itu butuh banyak waktu, tenaga, riset, dan kematangan konsep.


Banyak novel yang sudah saya baca. Tapi, saya tidak bisa menuliskannya walau saya bisa meniru tekniknya. Maka, apa yang pernah dikatakan seorang ulama itu benar bahwa ilmu itu apa yang dilakukan, bukan apa yang diketahui. Sekadar tahu, tidak cukup untuk membuat saya yakin menyampaikan sesuatu kepada orang lain, walaupun saya menyampaikannya, tidak bergetar hati saya. Sedikit tahu, tapi dari yang sedikit itu mampu menggetarkan dada saya, ada dalam gejolak jiwa saya, saya bisa menyampaikannya dengan berapi-api, meyakinkan, bahkan bisa jadi menangis.


Sekalipun jam terbang saya menjadi pembicara dalam forum pelatihan menulis ya bisa dikatakan nggak oon-oon amat, saya sering menolak kalau ia keluar dari jiwa saya, bahkan saya pernah diajak untuk menulis sebuah proyek buku, yang kalau melihat nominal uangnya cukup buat beli cilok satu kelurahan. Saya merasa kemampuan saya belum sampai ke tahap itu. Mungkin rekan saya kecewa atau melihat saya seperti orang sombong, padahal saya ingin menyelamatkan diri dari kesombongan dan "azab" Tuhan bahwa saya tidak mau memaksakan diri dari sesuatu yang masih meragukan saya.


Dari peristiwa ini, malah saya jadi tertantang untuk terus belajar dan menggali diri. Saya harus membaca buku lagi. Saya harus "kuliah" lagi. Setelah saya merasa sudah mampu dan ada pada level yang pas, saya akan menerima pelatihan menulis novel itu dengan senang hati. Saya akan menyampaikannya dari pengalaman saya, pergulatan saya, proses kreatif saya. Dan, menurut saya itulah ilmu yang sebenarnya.


Dalam hal lain, orang yang punya modal bacot seperti saya ini bisa saja turun tangan bila para penulis novel itu tidak punya keterampilan berbicara di depan publik. Karena, tidak semua penulis novel mampu menyampaikan pengalamannya kepada auidens dengan cara tampil di hadapan publik. Ia hanya cukup duduk, menulis, dan menyampaikannya lewat buku. Kalau sudah begini, saya tak akan menolak rezeki. Apalagi duitnya uhuy! Haha.


Sering kali saya juga meminta beberapa rekan penulis untuk menjadi pembicara di komunitas saya. Sebagiannya pasti menjawab ”Kang, mungkin saya tidak bisa berbagi teori. Tapi, saya bisa berbagi pengalaman.”


Yups!


Pontang-Pipitan, 10 Januari 2023


_______

Penulis


Encep Abdullah, penulis yang maksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi NGEWIYAK, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Buku kolom proses kreatifnya yang sudah terbit Buku Tanpa Endors dan Kata Pengantar (#Komentar, April 2022).