Jumat, 04 Maret 2022

Dakwah | Jangan Abaikan Bulan Sya’ban

 Oleh Izzatullah Abduh, M.Pd.



Jumlah bilangan bulan sudah ditetapkan oleh Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana yang telah difirmankan olehNya,


إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ


“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi.” (QS At-Taubah : 36)


Dua belas bulan tersebut adalan bulan-bulan Hijriyah, yaitu Muharram, Shafar, Rabi’ul Awwal, Rabiuts Tsani, Jumadil Ula, Jumadits Tsaniyah, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawwal, Dzul Qo’dah, Dzulhijjah. Adapun bulan yang akan kami bahas di dalam tulisan ini adalah bulan Sya’ban, yang mana sekarang kita berada di dalamnya. 


Sebagai seorang Muslim tentu kita selalu berusaha untuk bisa meneladani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam setiap sendi kehidupannya. Termasuk apa yang beliau lakukan ketika menjumpai bulan Sya’ban. Di sinilah kita belajar dari para sahabat radiyallahu ‘anhum, bagaimana mereka selalu men-stalking dan kepo terhadap kehidupan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam ibadahnya, kehidupan sosialnya, dan yang lainnya. Tidak lain tidak bukan, itu karena mereka sangat ingin meneladani Beliau. Sebab pada diri beliau terkumpul segala nilai keteladanan yang terbaik.


لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا


“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21)


Seorang sahabat Usamah Bin Zaid radiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai kebiasaan Beliau banyak melakukan puasa sunnah di bulan Sya’ban, lalu Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,


ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَاصَائِمٌ


“Itulah bulan yang manusia lalai darinya; -ia berada- di antara bulan Rajab dan Ramadhan.” (HR An-Nasa’i, dengan derajat hasan menurut Al Albani)


Imam Ibnu Rajab al Hanbali rahimahullah memberikan penjelasan terkait hadits di atas,


“Bulan Sya’ban terhimpit di antara dua bulan, yaitu Rajab dan Ramadhan, banyak manusia yang lebih perhatian kepada keduanya, sehingga Sya’ban menjadi terabaikan.”


Padahal perhatikan bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan teladan kepada kita. Beliau melalui bulan Sya’ban dengan banyak berpuasa sunnah di dalamnya. Hal ini ditegaskan oleh istri Beliau yaitu ‘Aisyah radiyallahu ‘anha,


مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ


“Tidaklah aku melihat Rasulullah melakukan puasa sebulan penuh selain daripada bulan Ramadhan, dan tidaklah aku melihat Beliau banyak berpuasa (sunnah) selain daripada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari-Muslim)


Sebagian ulama mengatakan bahwa bulan Rajab adalah bulan menanam bibit, bulan Sya’ban adalah bulan menyiram, dan bulan Ramadhan adalan bulan memanen. Seseorang yang telah melakukan persiapan untuk kedatangan Ramadhan, maka niscaya ia akan mendapat taufiq (kemudahan) di dalam beramal shalih di bulan Ramadhan. 


Persiapan itu di antaranya adalah dengan banyak berpuasa sunnah di bulan Sya’ban sebagaimana yang telah diteladankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sudah lumrah diketahui bahwa segala sesuatu itu butuh persiapan dan pemanasan. Seperti contohnya adalah olahraga. Olahraga bidang apa pun pasti butuh persiapan atau pemanasan sebelum langsung terjun beraksi. Supaya otot-otot dan tulang-tulang tidak tegang dan terkilir. Demikian halnya untuk menyambut kedatangan Ramadhan, maka diperlukan persiapan dan pemanasan. Maka memasuki bulan Sya’ban ini, hendaknya kita sudah mulai fokus untuk membiasakan diri dengan amal-amal shalih, seperti khususnya banyak berpuasa sunnah, dan ibadah lainnya seperti membaca Al Qur’an, bersedekah, shalat malam, dsb. supaya ketika memasuki Ramadhan kita tidak kaget dengan agenda-agenda amal ibadah yang begitu banyak, karena sebelumnya kita telah melakukan persiapan dan pemanasan. Sehingga di bulan Ramadhan kita akan benar-benar bisa merasakan manis dan lezatnya beribadah.


Anas Bin Malik radiyallahu ‘anhu menceritakan keadaan para sahabat ketika menjumpai bulan Sya’ban,


“Para sahabat Nabi, apabila telah memasuki bulan Sya’ban, maka mereka mulai memfokuskan diri membaca Al-Qur’an, dan mereka mengeluarkan zakat mereka supaya orang-orang miskin dan lemah punya kekuatan untuk berpuasa di bulan Ramadhan.”


Dan seorang shalih terdahulu yang bernama Amr Bin Qais al Mula’i, beliau menutup tokonya dan mulai memfokuskan diri membaca Al-Qur’an.


Masyaallaah. Demikianlah potret orang-orang mulia ketika menjumpai bulan Sya’ban, maka mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dan meneladani mereka. Aamiin.


Barakallahu fikum.


___

Penulis

Ust. Izzatullah Abduh, M.Pd., Imam Masjid Andara, Cinere dan Pengisi Kajian Kitab Tauhid Muhammad At Tamimi dan Kumpulan Hadits Qudsi Muhammad al Madani.