Jumat, 10 Juni 2022

Cerpen Bamby Cahyadi | Bayi dan Kucing Bisa Melihat Hantu, tetapi Mereka Tidak Bisa Melakukan Percakapan dengan Hantu

Cerpen Bamby Cahyadi 



Dia betul-betul tak ingat bagaimana proses dia mati dan menjadi hantu seperti saat ini. Memang, hal yang paling mengerikan bagi dirinya dalam hidup ini ketika dia menyadari bahwa dirinya telah menjadi hantu.


Sebagai hantu, rupanya dia hanya bisa menembus sesuatu yang berada di bidang horizontal seperti dinding dalam satu bidang atau selevel dengan dirinya. Dia tidak bisa menembus bidang vertikal seperti lantai di bawah di mana dia berpijak ataupun langit-langit ruangan di atas di mana dia tengadah. Ini sudah hukum alam hantu rupanya. 


Dia pun tak bisa melakukan teleportasi, berpindah tempat sesuka hatinya dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa melewati jarak antara kedua tempat itu. Hal itu tidak bisa dilakukannya. Kelak dia akan tahu yang bisa menembus dinding dan lantai secara horizontal serta vertikal, dan juga berteleportasi hanyalah dari kalangan malaikat.


Setelah menerima kenyataan, meski agak terpaksa, bahwa dia telah menjadi hantu, maka dibuatlah suatu keputusan penting; dia akan menjalani kehidupan hantu sebagaimana layaknya dia masih hidup sebagai manusia.


Hari ini adalah hari Kamis. Tidak ada jadwal perkuliahan yang harus diikutinya di kampus. Jam digital di meja riasnya menunjukkan pukul 09.25. 


“Jam segini waktu yang paling baik untuk nongkrong di kafe sambil menunggu siang tiba,” batinnya.


Dia bermaksud mengunjungi kafe yang biasa dia datangi untuk sekadar duduk-duduk. Dulu dia lebih sering menjadikan kafe sebagai tempat mengerjakan tugas-tugas perkuliahan alih-alih meja belajar di unit apartemennya.


Dengan berjalan gontai dia menembus pintu apartemennya lantas menuju arah unit lift. Dia menunggu lift berhenti di lantai 18. Total ada 6 unit lift di tower ini. Tiga unit lift di sisi kirinya dan tiga unit lift lagi di sisi kanannya dari arah koridor unit apartemennya. 


Beruntung ada dua orang petugas kebersihan di lantai 18 ini yang akan turun ke lantai dasar. Dan, merekalah yang menekan tombol turun. Setelah lift di sebelah kirinya berhenti dan terbuka, dia ikut masuk ke dalam lift yang terletak di bagian paling kanan atau unit lift ketiga di sisi kirinya mengikuti kedua orang petugas kebersihan itu ke lantai dasar.


Kedua petugas kebersihan itu mendorong troli berisi dua tong sampah besar, begitulah kegiatan mereka setiap hari rupanya di setiap pagi di antara pukul 09.00 sampai 09.30. Selalu ada petugas kebersihan menyapu lantai, mengepel seluruh lantai koridor, dan mengangkut dua tong sampah besar yang berisikan pelbagai macam sampah dari penghuni tower di lantai ini untuk dibuang di tempat pembuangan akhir sampah di kawasan apartemen.


Kedua petugas kebersihan buru-buru keluar dari lift ketika lift telah sampai di lantai dasar serta pintu lift terbuka secara otomatis. Kedua petugas kebersihan langsung bergegas mempercepat langkah mereka sambil mendorong troli berisi tong sampah yang terguncang-guncang. Dia mengikuti mereka dari belakang, mereka tidak berani menoleh ke belakang. Mereka seperti baru saja melihat hantu, mereka lari terbirit-birit sembari mendorong troli ke arah lobi apartemen tower ini.


“Oh, begitu ternyata ketika aku hadir di tengah-tengah manusia,” ujarnya dalam hati. “Pengalaman pertama bertemu dengan manusia seperti itu rupanya,” desahnya.

 

Sesungguh dia tidak begitu kaget atau terkejut oleh tingkah dua orang petugas kebersihan tadi. Hal itu ialah reaksi yang wajar ketika manusia marasakan kehadiran hantu. Tapi kali ini memang pengalaman pertamanya bertemu manusia dan ternyata mereka sangat merasakan aura kehadirannya. Dia tahu beberapa orang memiliki sensitivitas tinggi terhadap makhluk tak kasat mata seperti dirinya. Kedua petugas kebersihan itu rupanya memiliki sensitivitas yang cukup tinggi terhadap energi lain dari sesosok hantu. Pantas mereka begitu ketakutan ketika berada bersamanya di dalam lift tadi.


Dia lantas dengan santai melenggang ke sebuah kafe.


Dia duduk di sofa yang terletak di pojok kafe yang kebetulan kosong. Dulu pojok ini adalah tempat favoritnya saat nongkrong dan ngopi di kafe ini. Selain kopinya enak, menu makanannya pun lezat-lezat. Betapa beruntungnya menjadi warga atau penghuni apartemen di sini, bisa menikmati beragam kuliner yang enak-enak.


Dia mengedar pandangan melihat suasana kafe yang cukup meriah pagi ini. Beberapa pengunjung kafe tampak bercakap-cakap, ada yang berbisik-bisik, tertawa-tawa bahagia dan tentu saja ada yang berdiam saja, seperti dirinya.


Barista dan kasir yang bertugas sesekali mencuri pandang ke arah pengunjung kafe. Dia pun mengikuti arah pandangan barista dan kasir itu. Aha! Mereka sedang melihat ke arah seorang lelaki yang minum kopi dan makan sendirian sambil membaca novel di meja dekat pintu masuk kafe. 


Di atas meja lelaki itu tergeletak tas ransel dan sebuah kamera DSLR. Wajah lelaki itu tampak serius membaca novel, lelaki itu memakai kaca mata minus yang modis, meski demikian wajahnya terlihat tampan, dan lakik banget! Lelaki itu memakai pakaian bergaya modern dipadu dengan jaket yang modis pula, mengenakan Jins biru pudar, dan memakai sandal gunung yang terlihat masih baru.


Lelaki itu menyeruput kopi dari cangkir yang dipegangnya dengan tangan kanan sambil masih membaca novel yang dipegangnya di tangan kiri. Dia menduga lelaki itu sedang menikmati kopi hitam panas atau black coffee. Lelaki itu menyeruput lagi kopinya.


Tiba-tiba lelaki itu menengadah dan menoleh lama ke arahnya. Dia terkesiap!


“Duh, apakah lelaki itu mengetahui keberadaanku atau memang dia hanya memandang kosong belaka ke arah pojok kafe ini?”


Lelaki itu tampak membaca novelnya lagi dengan tekun, novel yang cukup tebal. Beberapa saat kemudian lelaki itu meletakkan novelnya di meja, lantas dia memegang kamera DSLR-nya, membidik-bidik ke arah luar kafe, lalu ke arah konter kasir dan bar di mana kasir dan barista perempuan di kafe ini sedang bekerja, kemudian mengarahkan lensa kameranya pada dirinya. Deg!


Kelakuan lelaki itu membangkitkan rasa penasaran yang berkecamuk di benaknya. “Apakah dia bisa melihatku?”


Dia melihat lelaki itu membereskan mejanya, novel tebal, dan kamera lalu dimasukkan ke dalam ransel, ponselnya digenggamnya. Ranselnya kini tergantung di bahu kanan. Kemudian lelaki itu beranjak dari tempat duduknya di dekat pintu masuk kafe ini. 


“Hah? Lelaki itu berjalan mendekatiku!” pekiknya panik.


“Oh Tuhan, dia benar-benar melihatku!”


Saat lelaki itu berjalan mendekatinya, terdengar suara gemerincing dari kaki lelaki itu di setiap langkahnya. Suara gemerincing gelang-gelang kaki lelaki itu membuat dia terpesona.


Akibat lelaki tampan itu terlalu fokus melihatnya dan berjalan tergesa-gesa ke arahnya, ujung ransel lelaki itu menyenggol sebuah vas bunga hiasan di atas meja pajang. Vas bunga itu tentu saja terjatuh dari atas meja. Vas bunga itu terempas ke lantai dan pecah! Pengunjung kafe yang sedang menikmati kopi dan makanan ringan tampak terkejut, kepala mereka menoleh ke arah sumber suara. Mata mereka berusaha menangkap siapa gerangan yang menjatuhkan vas bunga di kafe ini.


Itulah waktu yang tepat bagi dia untuk kabur. Dia buru-buru pergi menerabas kaca jendela belakang kafe. Sejujurnya dia belum siap sebagai hantu bertemu dengan manusia di hari menjelang siang ini. Apalagi manusia itu lelaki berwajah tampan.


Kelakuan lelaki tampan berkacamata minus di kafe tadi benar-benar membuat dadanya berdebar. Dia tak menyangka secepat itu dirinya bertemu dengan seseorang yang bisa melihat sesosok hantu seperti dirinya. Dia benar-benar terkejut dan memutuskan untuk kabur dari kafe menerabas jendela begitu saja lalu menembus teriknya matahari siang.


Beruntung, tadi lelaki itu menyenggol sebuah vas bunga hingga jatuh dan pecah sehingga dia punya kesempatan untuk hengkang dari kafe. Sambil tersenyum dia membayangkan mimik gusar lelaki itu ketika vas bunga pecah dan menimbulkan suara berisik sehingga mengusik perhatian pengunjung kafe yang lain. Bagi lelaki itu tentu kejadian tadi, merupakan bentuk kesialan yang tak terduga dan memalukan.


“Duh, untung banget aku hari ini. Nggak kebayang, kalau laki-laki itu bisa menemuiku. Hiii… Betapa mengerikan,” batinnya bergidik. Terus terang dia belum siap berkomunikasi dengan orang yang bisa melihat hantu.


“Tapi… apakah dia benar-benar dapat melihatku?” tanyanya pada dirinya, penasaran.


Matahari siang mulai tinggi. Dia berjalan cepat kembali ke tower Tulip untuk menenangkan gemuruh di dadanya. Dia pikir adalah pilihan yang tepat dan terbaik baginya saat ini melanjutkan duduk-duduk. Ya, duduk-duduk di bangku taman di pelataran kolam renang apartemen pasti menyenangkan.


Suasana pelataran kolam renang tidak begitu ramai. Mungkin karena hari sudah siang. Suasana kolam renang ini sangat kontras apabila datang di waktu pagi dan sore hari. Pun saat ini hanya ada beberapa orang yang berenang di siang bolong dan terik begini.


Kolam renang apartemen ini berbentuk persegi panjang. Didominasi warna biru tua dan biru muda, serta warna putih dan abu-abu sebagai ornamennya. Kolam renang ini terhampar dari sisi utara ke selatan dengan kedalaman mulai dari 1 hingga 2 meter sesuai standar internasional kolam renang. Lantai dan dinding kolam terbuat dari bahan keramik khusus berwarna biru muda dan terdapat mozaik keramik berwarna biru tua, di bagian ujung sisi selatan sebelah kiri terdapat bagian kolam yang berbentuk lingkaran besar di mana kedalaman airnya dangkal, mungkin 50 sentimeter hingga 90 sentimeter.


Bagian kolam berbentuk lingkaran dan tidak terlalu dalam itu tentu diperuntukkan bagi anak-anak, remaja, atau orang-orang yang sekadar ingin bersenang-senang berendam di air kolam renang ini. Bagian lingkaran ini masing-masing menyambung dengan kolam renang utama yang berbentuk persegi panjang. Dari ujung sisi selatan sebelah kanan yang berbentuk lingkaran itu dibuatlah saluran besar semacam kanal dengan bentuk berliku-liku ke arah kiri sehingga membuatnya sebagai arena bermain air dengan papan seluncuran menjadikannya semacam water boom mini.


Di bagian luar lantai pelataran kolam renang dikelilingi oleh lintasan olahraga bagi warga yang ingin sekadar berjalan kaki atau berlari mencari keringat. Di sini terdapat taman yang asri yang melingkari keseluruhan areal kolam renang dengan aneka pepohonan hijau yang rindang, tanaman rambat yang elok, dan pot-pot bunga besar untuk menempatkan tanaman hias dan bunga-bunga berwarna-warni itu. Di taman ini juga terdapat beberapa gazebo untuk berteduh dan playland tempat bermain anak-anak.


Untuk bisa masuk ke areal kolam renang ini dibutuhkan kunci berupa kartu akses. Kartu akses yang sama yang dipergunakan untuk naik lift ke lantai unit masing-masing. Sehingga sudah dipastikan orang-orang yang berada di areal kolam renang adalah warga, penghuni, tamu dari penghuni, atau orang yang sengaja menyewa unit-unit apartemen untuk jangka waktu tertentu.


Dia memilih duduk di salah satu bangku taman dekat sebuah pohon yang rindang. Dia mengempaskan pantatnya ke bangku taman sambil mendesah.


“Huft…! Begini ya rasanya jadi hantu di siang bolong, berasa gerah juga, tapi aku nggak merasakan rasa lapar dan haus,” katanya dengan suara keras.


Dia tak menyadari, ternyata di samping kanannya, di dekat bangku taman yang lain sekitar 2 meter dari arah dia duduk, seorang bayi sedang memerhatikannya dengan saksama dari atas kereta dorong khusus untuk bayi.


Bayi itu sangat lucu, usia bayi itu mungkin belum genap 1 tahun. Bayi itu melambai-lambaikan tangannya yang mungil ke arahnya.  Baby sitter duduk di bangku taman dekat kereta dorong bayi sambil asyik memainkan ponselnya. Orang tua bayi itu pasti salah satu dari segelintir orang yang sedang berenang di kolam renang di siang bolong ini.


Bayi montok itu melempar senyum kepadanya dan tangan si bayi membuat gerakan seolah-olah memanggil-manggil. Betapa gemas dia melihat bayi itu.


“Ah, bayi itu bisa melihatku juga rupanya,” batinnya. Tapi karena itu bayi, dia santai saja, dia tahu bayi bisa melihat makhluk tak kasat mata seperti dirinya, tetapi bayi tak akan bisa bercerita kepada orang lain.


Dia jadi teringat sebuah kisah fiksi dari cerita pendek yang pernah dia baca di sebuah koran beberapa waktu yang lalu.


Dikisahkan ada seorang nenek yang bisa berbicara dengan bayi. Nenek yang diceritakan dalam cerpen itu tidak menikah hingga nenek itu menua. Dia kerap datang ke panti asuhan di kotanya dan pusat-pusat keramaian seperti mal hanya untuk bisa melihat bayi dan berbicara dengan para bayi. Nenek itu berharap dia bertemu dengan bayi yang bisa diajaknya bicara dan berdiskusi.


Kemampuan si Nenek bisa berbicara dengan bayi dan mengerti bahasa bayi sebenarnya dikuasainya secara tidak dia sadari sejak dia masih belia, masih remaja. Ketika itu si Nenek yang masih remaja sedang mengasuh sang keponakan. Keponakannya yang masih bayi tiba-tiba menangis. Rupanya bayi yang menangis membuat si Nenek yang masih remaja itu panik dan kebingungan. Karena dia tidak tahu harus berbuat apa apabila ada bayi yang menangis. Dia pun belum pernah diajari oleh ibunya atau kakaknya bagaimana cara mengganti popok bayi, atau sekadar menggendong bayi untuk menenangkannya.


Si Nenek yang masih remaja itu hanya bisa bergeming memandang bayi yang juga keponakannya itu dalam kebingungan. Yang terdengar oleh kupingnya hanya suara khas bayi yang sedang menangis: “Oowee... oowee... oowee…!” berulang-ulang. Lalu dikuti semacam gerutuan khas bayi: “Mmmmha… paaaawww… heeheeeo... oowee... oowee... ooweeee...!”


Irama tangis dan suara bayi itu lama-lama menjadi suatu harmoni di kupingnya lantas diolah oleh otaknya dan akhirnya suara itu menjelma bahasa yang dia mengerti. Suara yang dikeluarkan dari mulut mungil sang bayi menjadi rangkaian kata-kata yang bisa dimengerti olehnya. Saat itu sebuah anugerah baru saja diberikan Penguasa Alam ini kepadanya.


Nenek yang masih remaja itu mendengar keponakannya yang masih bayi itu berkata, “Bibi, ada semut menggigit punggungku.” Betapa terkejut dan takjub dia mendengar bayi itu bisa bicara dan ternyata mengatakan ada semut yang menggigit punggungnya. Karena bibinya tetap bergeming dan masih bengong si bayi berkata lagi dengan suara lebih keras, “Bibi, tolong singkirkan semut yang ada di punggungku!”


Antara percaya dan ragu-ragu atas pendengarannya, dia balikkan badan si bayi, dan memang benar dia menemukan seekor semut merah sedang berada di punggung sang bayi dan sedang menggigit kulit punggung keponakannya itu hingga memerah. Nenek yang masih remaja itu mengambil semut itu dari punggung bayi dan memencetnya hingga tak bergerak.


“Lihat, semutnya sudah Bibi pencet,” katanya masygul.


Si bayi tampak gembira. Ada perasaan lega yang tersirat dari mimik bayi. Rupanya bayi itu sangat tersiksa digigit semut, pantas saja si bayi menangis dan menggerutu.


“Terima kasih, Bibi,” kata si bayi. Si Nenek yang masih remaja itu terkejut lagi dan memastikan dia tidak salah dengar.


“Kamu bisa bicara dengan, Bibi?” tanyanya kepada si bayi.


“Iya, Bibi, dari tadi aku nangis dan teriak-teriak minta tolong, eh, Bibi malah kayak orang bingung gitu,” ucap si bayi.


“Mana Bibi tahu kamu nangis karena digigit semut, dan Bibi juga masih nggak percaya kamu bisa berbicara dengan Bibi,” balasnya.


Nenek yang masih remaja itu masih tak percaya dia bisa bicara dengan bayi. Dia cubit pipinya sendiri dan berasa sakit. Artinya dia sedang tidak bermimpi. Dia bisa mengerti dan berbicara dengan bayi adalah kenyataan. Sejak saat itu si bayi keponakannya selalu minta diasuh oleh bibinya si Nenek yang masih remaja dan mereka selalu terlibat dalam pembicaraan yang seru.


Anehnya ketika keponakannya sudah bisa berbicara sebagai seorang balita dan mulai mengenal beberapa kosakata sederhana di sekitar usia 3 tahun, keponakannya itu tidak pernah ingat bahwa semasa bayi dia pernah berbicara dan berkomunikasi dengan bibinya si Nenek yang masih remaja itu. Namun si Nenek tentu masih bisa berbicara dengan bayi-bayi lain yang berusia di bawah 3 tahun. Si Nenek akhirnya menyadari dia bisa berbicara dengan bayi, bukan dengan anak kecil yang sudah mulai bisa berbicara.


Banyak kisah pilu yang si Nenek dengar dari para bayi, khususnya yang berada di panti asuhan. Si Nenek mendengar langsung sebuah kisah pilu dari salah satu bayi di panti asuhan tersebut. Bayi itu bernama Luna. Bayi Luna adalah bayi yang dibuang oleh orang tuanya, kemudian bayi Luna ditolong dan diselamatkan oleh seekor anjing. Anjing yang menolong bayi Luna itu menyeretnya ke halaman sebuah panti asuhan. Bayi Luna sangat tidak mengerti kenapa orang tuanya tega membuang dirinya di tempat sampah, justru pada saat bayi Luna sedang kehausan membutuhkan air susu ibu dan kasih sayang.


“Aku kira anjing itu akan memakanku, ternyata ia membawaku ke tempat ini,”  kata bayi Luna sambil berbaring dengan riang gembira di tempat tidurnya.


Kemampuan berbicara dengan bayi oleh si Nenek tidak pernah diceritakan kepada siapa pun. Dia memegang teguh rahasia dirinya sendiri hingga dia menjadi tua, dan sendirian. Si Nenek tidak pernah menikah. Si Nenek membayangkan, betapa mengerikan ketika dia menikah dan memiliki anak bayi yang bisa berbicara dengan dirinya sebagai ibu sang bayi.


Tapi serapat-rapat si Nenek menyimpan rahasia tentang kemampuannya berbicara dengan bayi, akhirnya ketika si Nenek berusia 40, seorang pemuda yang datang tiba-tiba di rumahnya mengetahui si Nenek bisa berbicara dengan bayi.


Dulu ada seorang bayi bernama Danu. Bayi Danu adalah tetangga si Nenek ketika masih remaja. Kala si Nenek yang masih remaja itu berkenalan dengan bayi Danu, Danu berusia 6 bulan. Bayi Danu sangat hening, Semua tindakannya atau keinginannya disampaikan melalui gerakan tangan, gerakan kaki, mimik muka, dan kerling bola mata. Seperti memberikan isyarat.


Ya, ternyata bayi Danu adalah bayi penyandang disabilitas, bisu dan tuli. Si Nenek yang masih remaja itu hampir menangis ketika jari jemari bayi Danu yang mungil memberitahu bahwa dia adalah bayi yang tidak bisa bicara dan mendengar. Rupanya gerakan tangan bayi Danu adalah bahasa isyarat. Sayang sekali saat berusia 2 tahun, bayi Danu berpisah dengan si Nenek yang masih remaja karena bayi Danu mengikuti orang tuanya yang pindah rumah dan kota.


Di suatu hari, saat si Nenek berusia 40 tahun. Dia kedatangan tamu seorang pemuda. Ketika pemuda itu bertemu dengannya, pemuda itu langsung memeluknya dengan takzim dengan perasaan gembira bercampur haru. Pemuda itu lantas melepas pelukannya kepada si Nenek yang ketika itu berusia 40 dan memberikan sebuah senyum. Senyum yang sangat akrab bagi si Nenek.


Dengan menggunakan bahasa isyarat pemuda itu memperkenalkan dirinya sebagai Danu. Si Nenek langsung ingat bahwa pemuda itu adalah bayi Danu yang tak bisa bicara dan tak bisa mendengar. Lantas dengan bahasa isyarat pemuda Danu bertanya, apakah si Nenek masih berbicara dengan bayi? Si Nenek mengangguk. Sejak itu si Nenek tahu bahwa bayi yang bisu dan tuli sejak lahir, masih akan ingat percakapan yang pernah mereka lakukan dengan bahasa isyarat. Pemuda Danu berjanji, dia akan merahasiakan kemampuan si Nenek yang bisa berbicara dengan bayi, untuk itulah ia bersusah-payah mencari si Nenek yang masih diingatnya sejak bayi.


Rata-rata bayi-bayi yang diajak bicara oleh si Nenek selalu bersemangat dan tidak sabar untuk menjadi dewasa. Biasanya bayi-bayi itu begitu antusias menjadi anak kecil, kemudian tumbuh menjadi remaja, pemuda, lalu menjadi orang dewasa.


Singkat cerita, pada suatu hari di sebuah mal, si Nenek bertemu dengan bayi yang bernama Andrea. Bayi Andrea ketika berbicara dengan si Nenek tidak mau tumbuh menjadi dewasa. Baru kali itu sejak dia bisa berbicara dengan bayi. Dia mendapat jawaban seperti itu. Bayi Andrea tidak mau menjadi dewasa, Andrea ingin terus menjadi bayi hingga akhir hayatnya.


“Nenek, kenapa aku harus menjadi dewasa?” tanya bayi Andrea.


Si Nenek tidak menjawab, dan hanya berbicara dalam hatinya; “Aku mengerti kenapa kamu tidak mau menjadi dewasa, karena orang dewasa itu bisa menjadi jahat dan kejam. Menjadi pembunuh, pencuri, perampok, koruptor, penipu, pelaku kekerasan seksual, dan tentu saja menjadi pendosa.” 


Tapi pendapatnya itu tidak disampaikannya kepada bayi Andrea.


Si Nenek meninggalkan bayi Andrea menjauhi kereta dorong bayi. Tentu saja bayi Andrea merasa kecewa si Nenek tidak menjawab pertanyaannya. Karena kesal bayi Andrea menangis meraung-raung. Pengasuh bayi Andrea berusaha untuk menenangkannya dengan memberikan sebotol susu. Namun, bayi Andrea terus menangis.


Tangis bayi Andrea masih terdengar hingga si Nenek keluar dari mal dengan berjalan tertatih-tatih, si Nenek berkata lagi dalam hatinya dengan pedih, “Manusia dewasa itu jahat dan kejam. Apa perlu kutegaskan padamu, wahai bayi Andrea? Bahkan seekor anjing pun bisa lebih baik dan berhati mulia daripada seorang manusia dewasa!”


Perkataan si Nenek itu menjadi ending yang luar biasa dari cerita pendek yang pernah dibaca olehnya.


Kisah dalam cerita pendek itu sangat menarik dan berkesan di hatinya. Alur kisah cerpen itu masih terngiang-ngiang dalam benaknya. Mungkin karena dia termasuk seorang, eh maksudnya, dia sekarang sesosok hantu yang sangat suka terhadap bayi dan anak-anak kecil. Dan dulu, dia suka sekali mengajak bayi berbicara padahal dia tak yakin si bayi mengerti atau tidak apa yang diucapkan olehnya.


Bayi montok dalam kereta dorongan di taman pelataran kolam renang ini masih tersenyum-senyum melihat sosok itu. Kadang si bayi terkikik sendirian melihatnya dan melambai-lambaikan tangannya.


Dia pun beranjak dari bangku yang dia duduki dan berjalan mendekati bayi yang berada di atas kereta dorong itu.


“Apakah kamu bisa melihatku?” tanyanya pada bayi itu.


Si bayi tidak menjawab, tetapi bayi itu terus melihatnya dengan mata bening membelalak. Berarti bayi itu bisa melihatnya sebagai hantu, tapi dia tidak bisa berbicara dengannya.


Bayi montok itu tiba-tiba menoleh ke arah kanan di mana terdapat semacam semak-semak tumbuhan rambat di pagar tembok pembatas antara areal kolam renang dengan areal hunian, dan dengan jari-jarinya yang mungil itu, bayi montok dan lucu itu menunjuk sesuatu yang bergerak. Seolah-olah dia memberitahu, “Hei, coba lihat ke sana!”


Sesuatu itu seekor kucing!


“Ada apa dengan kucing yang ditunjuk oleh bayi ini?” tanya dia dalam hati.


Di dekat semak-semak tumbuhan rambat. Tampak seekor kucing berbulu hitam sedang memandang mereka. Dari mata kucing yang berwarna biru kelabu itu dia melihat kesedihan yang begitu mendalam.


Dia terkesima melihat seekor kucing yang murung, kenapa kucing itu memandangnya dengan perasaan sedih? Ekor kucing itu bergoyang-goyang, terus bergoyang, tak henti-henti bergoyang, tak bisa berhenti bergoyang.


Dia dan kucing hitam itu bertatapan tanpa menyadari bayi yang melihat dan memanggilnya tadi sudah bersama orang tuanya, dan mereka telah pergi meninggalkan areal kolam renang.


Di hadapannya seekor kucing berbulu hitam, bermata biru kelabu, ada warna putih di ujung ekornya yang terus bergoyang-goyang itu tengah memandang dirinya dengan tatapan sedih. Dia menahan napas saat kucing itu berjalan ke arahnya, kucing itu mendekat, dan menjilat-jilati sepatunya. Kucing itu pun tanpa malu-malu melingkarkan badannya di sela-sela kakinya dan menggosok-gosok tubuhnya di kakinya. Seolah-olah tubuhnya adalah zat yang memiliki masa padat seperti tubuh manusia.


“Hei, kamu bisa menyentuhku!” pekiknya kepada kucing itu. 


Mendadak kucing itu mundur selangkah dan lantas dengan kecepatan mengejutkan kucing berlari ke arah tembok dan langsung melompat ke atas pagar pembatas antara kawasan kolam renang dan hunian. Kucing itu menghilang di balik tembok. 


Dia bisa saja mengejar kucing yang berperilaku ganjil itu dengan menembus tembok pagar. Tapi hal itu tidak dilakukannya. Dia anggap momen ini adalah momen pertemuan pertama yang mencengangkan dengan kucing berbulu hitam itu. Seekor kucing yang bisa menyentuh tubuh hantunya.


“Tapi, kenapa kucing itu tiba-tiba lari dan melompat pagar? Dan mengapa pula kucing itu tampak begitu sedih?” dia hanyut dalam perasaan sedih yang ganjil dan tak terceritakan meskipun hanya sebentar.


Dia menarik napas. Lantas dia tersenyum getir. Terlintas dalam benaknya: dia tak mengetahui bagaimana rasanya menyambung hidup di dunia sebagai manusia kelak. Namun, sebenarnya dia sudah mati dan menjelma hantu saat ini.


Jakarta, 11 April 2022


_______________

Penulis


Bamby Cahyadi adalah penulis cerpen kelahiran Manado. Buku-bukunya yang telah terbit: kumpulan cerpen Tangan untuk Utik (Koekoesan, 2009), Kisah Muram di Restoran Cepat Saji (Gramedia Pustaka Utama, 2012), Perempuan Lolipop (Gramedia Pustaka Utama, 2014), Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah (Unsa Press, 2016), dan Seminar Mengatasi Keluhan Pelanggan (DIVA Press, 2022).


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com