Jumat, 17 Juni 2022

Cerpen Suyat Aslah | Kaleng Biskuit

Cerpen Suyat Aslah 



Kukira dia orang gila yang acapkali kudapati mengais-ngais sampah sisa buangan, sambil mencicip tak peduli seberapa busuk dan menjijikannya segunung kotoran. Membiarkan nyamuk-nyamuk mengigitinya hingga gendut. Tak peduli pada hewan malam berbahaya, ular weling misalnya. Tak peduli pada orang-orang yang datang tengah malam hingga pagi menjelang, membawa seabrek sampah sisa dari restoran dan penjual pinggir jalan sekitar tempat penampungan sementara atau TPS di Damar. Bahkan tak peduli pada waktu yang melangkahi pundaknya karena asyik membungkuk menikmati sampah yang datang tiap hari bagai prasmanan yang bisa dipilih sesuka hati, tanpa harus memikirkan uang yang dimiliki. 


Aku masih tergolong baru dalam aksi buang sampah di TPS Damar, sering kali pukul satu atau dua dini hari. Masih belum lama bekerja di sebuah rumah makan dengan jam tutup sampai pukul 12 malam. Sudah pasti banyak sampah yang harus dibuang tiap harinya. 


Hingga sampai suatu kali mendengar cerita seorang teman, bahwa ada orang gila yang biasa mampir ke TPS saat tengah malam, mengais-ngais bahkan tiduran di tumpukan sampah. Namun, terkadang juga ada sesama pembuang sampah yang datang bersamaan, itu sedikit mengurangi rasa takutku.


“Rambut gimbal tak terurus, kulit hitam legam dan juga suka marah-marah tak jelas. Awas hati-hati!” katanya.


TPS itu cukup gelap jika malam hari. Pohon Beringin makin menambah kewingitan suasana tempat itu. Beberapa bak sampah besar teronggok diam. Terkadang ada beberapa pasang mata kucing liar menyala dalam gelap. Sedikit mengejutkanku.


Sementara aku melihat orang gila itu saat hari kelima mendapat giliran membuang sampah, dan akan berganti giliran jika sudah satu minggu. Dia terlihat tak banyak tingkah. Hanya kudengar suara cekikikan sendirian tak jelas darinya. Mengundang hawa yang membuat bulu kuduk merinding saja. Dan satu hal yang tak pernah temanku katakan padaku, tentang kaleng biskuit itu. 


Lalu keesokan harinya, hari keenam, aku membuang sampah. Seperti biasanya kupinjam motor teman karena aku sendiri belum punya motor. Kulihat seseorang duduk di depan pintu masuk TPS sambil merokok, menghadap sebuah kaleng biskuit yang diletakkan di atas kursi. Hingga tiap orang yang masuk pasti melihat kaleng itu. 


Sebelumnya, yang kutahu kaleng itu adalah camilan petugas kebersihan saat bekerja. Tapi sekilas kuperhatikan, itu adalah kaleng yang disediakan untuk para pembuang sampah. Terlihat dari lubang yang dibuat seperti kotak amal dan juga sebatang kayu kecil yang tipis, kemungkinan untuk mendorong uang agar bisa masuk ke dalam kaleng. 


Hampir tak bisa melihat sosoknya dalam kegelapan, ditambah pohon beringin yang menghalangi sinar bulan dan lampu di tiang listrik. Di belakangnya ada sebuah gubuk seadanya, menggunakan tripleks bekas sebagai pagar, juga atap dari sisa seng tak terpakai ditambah juga spanduk yang disampirkan begitu saja. Aku melewatinya begitu saja tanpa menyapa. Bahkan tak berpaling pun ke arahnya meski dia berdeham. Pikiranku seperti telah terkunci pada satu anggapan: mungkin dia orang gila yang lain.


Sepanjang perjalanan aku membatin, “Apa mungkin ada orang gila dengan pola semacam itu, menyediakan kaleng amal? Apa orang gila mengerti uang? Atau mungkin saja dia petugas TPS yang bekerja hingga larut malam?”


Ada rasa menyesal karena bertindak kurang ajar kepada orang tua. Tak bersapa meski dia berdeham karena kehadiranku. Mungkin saja dia ingin memancing suaraku. Sekadar mengambil perhatianku. Atau mungkin ada harapan di hatinya supaya aku menyisihkan sedikit uang ke dalam kaleng. Atau mungkin itu memang aturannya. Pemikiranku terus bermunculan dan bercabang sepanjang perjalanan.


Tiba-tiba kuingat Bapak Tua dengan gerobak sampahnya saat siang hari, menunggu lampu hijau saat akan menyeberang di perempatan jalan raya. Waktu itu aku baru pulang membawa seabrek belanjaan untuk jualan. Terlihat tubuh kurus dengan sepatu Boot yang terlihat membebani tubuhnya. Tatapannya tak lepas selayang pandang pun dari lampu lalu-lintas. Bahkan sudah dengan sikap kuda-kuda meski lampu masih merah. Mungkin menimbang beban yang dibawanya cukup berat, puluhan kilogram bahkan mungkin ratusan. 


Saat hijau menyala dia langsung tancap tenaga. Namun, mula-mula gerobak nyaris tak bergerak meski tenaganya habis-habisan. Hingga lampu berganti merah lagi, baru bisa menyeberang separuh jalan. Lalu klakson berbunyi sahut-sahutan. Bapak itu hanya tersenyum dengan anggukan sambil terburu-buru menarik gerobak. Setidaknya itu yang kulihat kemarin. 


Mungkin dia yang duduk sambil merokok di TPS Damar. Perawakannya tampak mirip dengannya. Otakku makin memusat pada keyakinan itu. Mungkin dia cuma salah satu, yang lain sudah pulang atau entah ke mana, aku tak tahu. Kadang-kadang kulihat juga ada pemulung yang berkeliling di jalanan hingga lewat tengah malam.


Saat masih di perjalanan pulang membuang sampah, kulihat seorang berambut gimbal tak teratur. Raut wajahnya tak peduli pada siapa pun atau apa pun, berjalan tegap dengan tubuh kuyup, hanya memakai celana pendek. Hujan memang baru reda sebelum aku berangkat ke TPS, namun sisa gerimis dan hawa dingin masih menusuki kulit.


Di jalan gelap, pikiranku masih merambah entah ke mana. Kesadaran tak sepenuhnya dalam genggaman, roda sepeda motor mendadak terperosok lubang yang biasa aku hindari. Dengkul dan siku tanganku bundas, karena hanya memakai celana pendek selutut dan kaos pendek. Helm yang tak sepenuhnya terkunci hampir lepas, namun masih bisa melindungi kepala yang terbentur lumayan keras. Hanya kepalaku terasa bergoyang dan pandangan terlihat meremang. Kaki kiriku juga tertindih sepeda motor. Tak ada kendaraan melintas. Aku berusaha untuk bangun sendiri namun tak bisa. Kepalaku makin terasa berputar-putar. Sementara gerimis perlahan mulai jadi hujan.


Tiba-tiba dari arah belakangku, seseorang berusaha membantu, memapahku ke tempat yang lebih teduh. Mendudukkanku di bawah pohon ketapang yang lebat di pinggir jalan. Sementara motor masih tergeletak dan menyala. Pandanganku masih meremang. Orang yang memapahku pergi begitu saja. Mataku berusaha menangkap sosok yang memapahku tanpa mengucap sepatah kata pun. Hanya samar kulihat sosok setengah telanjang, hanya memakai celana pendek, kulit hitam legam dan rambut kuyup juga tak memakai alas kaki. Sosok itu makin menghilang karena hujan makin menebal dan kegelapan seperti memakan tubuhnya.


Kucoba membenarkan posisi dudukku, sementara penglihatan mulai normal. Kulihat sepanjang jalan yang gelap, benar-benar sepi, tak ada seorang pun. Hanya beberapa lampu pinggir jalan yang terlihat redup karena hujan sangat lebat. Dengan terpincang, kuraih sepeda motor yang pecah lampu kiri.


Kusibak tirai hujan yang sangat tebal. Pikirku, hujan seperti ini tak perlu jalan cepat-cepat. Jalanan sangat licin dan pandangan terganggu karena lebatnya hujan. Jika kaca helm kututup, semakin tak bisa melihat. Akhirnya, kubuka saja. Namun, wajah terutama bibirku terasa sakit karena terhantam butiran air hujan. Sementara, luka di lutut cukup mengganggu saat duduk. 


Pada akhirnya aku yang bertanggung jawab atas kerusakan yang diderita motor. Luka itu sedikit mengganggu pekerjaanku. Badan pun terasa meriang karena kehujanan. Makin lengkap sudah deritaku di perantauan. 


***


Malam terlihat cerah saat terakhir kali giliranku membuang sampah. Meski temanku bersedia menggantikanku, melihat kondisiku yang belum pulih benar. Kaki dan bahkan hampir seluruh tubuhku terasa ngilu. Tapi, aku yang memaksa. Ketika sampai di TPS Damar, tak kulihat siapa pun. Hanya sisa asap yang mengepul dari bara yang terlihat kemerahan dalam kegelapan. Sampah yang kemarin menggunung, kini hanya tinggal sedikit. 


Kusapu pandang ke arah kegelapan bersemayam. Hanya keheningan yang ada. Kulihat gubuk itu diterangi lampu 5 watt yang menyala. Hanya terlihat jelas sejulur kaki orang tidur di sebuah dipan dalam gubuk itu. 


Mungkin dia lelah bekerja seharian, batinku. 


Aku sedikit lebih tenang. Kulangkahkan kaki pelan-pelan sambil menenteng sampah yang akan kubuang. Lalu kulempar sampah seberat sekitar 5 kg lebih ke dalam bak sampah yang lebih tinggi dari kepalaku. Secara mendadak orang gila itu keluar dari bak sampah, hingga membangunkan syaraf kejutku. Jantungku berdebar memburu. Dalam referensiku, orang semacam itu bisa saja melakukan hal di luar kebiasaan orang. Untungnya dia hanya melongok ke arahku. Segera aku berbalik arah menuju kaleng biskuit itu. Kurogoh saku celana, ada uang recehan logam sekitar tiga ribu. Kumasukkan koin pertama. Terdengar kelontang tanda kekosongan yang ada.


_____________

Penulis

Suyat Aslah, cerpenis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com