Jumat, 29 Juli 2022

Cerpen Mahan Jamil Hudani | Seorang Tamu pada Suatu Malam

Cerpen Mahan Jamil Hudani



Mendengar suara batuknya yang makin kencang disertai suara erangan yang sebentar-sebentar mengiringinya, aku merasa begitu ketakutan, juga istriku. Ia bahkan merasakan ketakutan yang lebih besar dariku. Aku mencoba untuk menyembunyikan rasa takut itu agar istriku tak makin panik.


“Wah bagaimana ini, Pak? Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Aku khawatir sekali ini, Pak.”


“Sabar, Bu. Semoga tak terjadi apa-apa,” aku mencoba menenangkan hati istriku, meski sesungguhnya aku juga telah diliputi rasa khawatir.


“Tapi dari tadi suara batuk dan erangannya tak berhenti juga, Pak,” istriku terlihat makin begitu ketakutan. Suaranya mulai terdengar tersendat-sendat dengan dengus napas tak beraturan.

  

Memang kudengar suara batuk-batuknya yang kencang dan disertai erangan telah terdengar dari tadi, sejak ia memasuki kamar karena ingin tidur. Rumah kami yang kecil dan terdiri dari dua kamar tentu tak mampu meredam suara yang terdengar dari kamar samping. Aku dan istriku pun tak bisa tidur mendengar suara tersebut. Jika toh kami memaksakan sepasang mata kami untuk tidur, kami pasti sebentar kemudian terbangun lagi karena erangan keras dari kamar sebelah.


“Jam berapa sekarang, Bu?” tanyaku mengalihkan perhatian istriku dengan pertanyaan yang sebenarnya tak perlu. Jam dinding di kamar kami tampak tergantung seperti semula dengan penunjuk jarum jam yang jelas. 


“Pukul tiga Pak.”


“Ya sudah kita tidur saja dulu lagi, Bu.”


“Wah bagaimana saya bisa tidur, Pak. Saya takut jika terjadi sesuatu dengannya di rumah kita. Terlebih kita tak mengenal siapa dia,” ekspresi panik istriku makin menjadi-jadi. Suaranya pilu dan sudah seperti ingin menangis.


“Terjadi sesuatu bagaimana, Bu. Sudahlah, tak perlu berpikir macam-macam. Ayo kita tidur saja,” aku tarik selimut ke atas untuk menutupi tubuh istriku. Aku tahu istriku pasti tak bisa tidur, sama sepertiku. Untunglah anak kami yang baru berumur hampir dua tahun dan tidur di sebelah kami tak terbangun meski suara keras dari sebelah kamar terdengar dari tadi.


“Ah, kenapa Bapak tadi kok ya menerima dia untuk menginap di rumah kita?” istriku seakan menyesali keputusanku yang mengizinkan lelaki itu menginap di rumah kami.


“Bapak ya kasihan, Bu. Sepertinya dia tak punya saudara di sini. Lagipula mana Bapak tahu akan terjadi hal seperti ini.”


“Tapi kan bagaimana kalau nanti terjadi apa-apa dengannya di rumah kita. Bagaimana kalau sampai ia meninggal dunia Pak, di rumah kita. Terlebih dia berasal dari tempat yang jauh,” istriku mengulang-ulang lagi kalimat yang sama meski dengan nada suara lebih lemah karena sudah kelelahan dengan keluhan.


“Lain kali jangan terulang lagi. Bapak jangan mudah mengizinkan jika ada orang asing ingin menginap di rumah kita,” lanjut istriku lagi dengan suara makin lemah dan bernada pasrah.


Aku diam tak bisa menanggapi ucapan istriku lagi. Aku tak tahu lagi harus memberi jawaban apa pada istriku. Kenyataannya suara batuk yang seperti bengek tersebut memang membuat kami pastilah dihinggapi rasa kekhawatiran. Aku tentu tak tahu dan tak memiliki pikiran macam-macam saat lelaki yang bertamu ke rumahku itu memohon untuk bisa menginap di rumahku. Aku tentu juga tak tahu jika akan terjadi seperti ini. 


Sekitar setengah jam saat suara batuk dan erangan kencang baru terdengar, aku sempat mengetuk kamar samping untuk menanyakan keadaan tamuku, tapi ia mengatakan baik-baik dan sehat saja. Ia pun menjawab pertanyaanku dengan senyuman ramah tersungging di bibirnya. Aku sempat merasa lega. Begitu juga istriku saat kukatakan padanya bahwa keadaan tamu kami baik-baik saja.


Lalu tamuku melanjutkan tidur lagi. Satu jam setelah itu aku mengetuk kamar tamu lagi. Istriku yang menyuruhku untuk menemui dan menanyakan keadaannya karena terdengar lagi suara batuk dan erangan yang tak jua berhenti. Istriku telah diliputi rasa khawatir. Kembali tamuku bangun dan mengatakan hal yang sama bahwa ia baik-baik saja, seolah tak terjadi apa-apa lalu melanjutkan tidurnya kembali. Begitulah lima jam berlalu, kami pun tak bisa tidur, hanya diliputi kekhawatiran yang makin bertambah, mengharap pagi segera datang.


***

Aku sedang duduk di ruang tamu menonton berita petang di televisi, sementara istriku sedang menyiapkan makan malam saat terdengar ucapan salam dan ketukan di pintu depan rumah kami. Saat kubuka pintu, tampak seorang lelaki kurus seusia denganku atau mungkin hanya terpaut satu atau dua tahun lebih tua dariku tersenyum ramah. Lelaki kurus berpakaian agak lusuh itu membawa tas kumal yang digantung di pundaknya.


“Pak Humam ya? Perkenalkan nama saya Haris, Pak,” lelaki itu berucap hangat dan di bibirnya senyum melekat sambil mengulurkan tangan kanannya padaku untuk menyalami. 


“Ya, benar,” jawabku sambil menerima uluran jabat tangannya. Aku mempersilakan ia masuk. 


Kami lalu terlibat obrolan cukup hangat karena pembawaan lelaki yang bernama Haris tersebut juga begitu ramah, hangat, dan bersahabat. Ia mengatakan jika nama lengkapnya adalah Haris Effendi Tahar, nama yang mengingatkan aku pada seorang penulis terkenal di Sumatera sana. Sebuah nama yang tak asing karena aku pernah membaca karya-karyanya.  


Istriku yang telah selesai menyiapkan makan malam mengundang Haris bergabung untuk turut makan malam. Obrolan singkat dan ringan berlangsung di meja makan. Istriku juga cukup ramah berbasa-basi pada Haris meski memang ini baru pertama kali kami bertemu Haris. Aku rasa istriku juga bisa menduga kalau Haris memang bukan temanku, karena istriku paham betul siapa teman-temanku.


“Oh, ya, saya sudah cukup lama mendengar nama Bapak Humam. Saya tahu alamat rumah Bapak ini dari sini,” kata Haris sambil mengeluarkan sebuah surat kabar harian nasional dari dalam tas kumalnya. Selepas makan malam kami melanjutkan obrolan di ruang depan. Beberapa minggu yang lalu sebuah cerpenku memang dimuat di koran tersebut.


“Wah, saya jadi tersanjung lho Pak Haris. Terima kasih telah membaca dan menyimpan koran tersebut,” aku menanggapi ucapannya dengan tulus. Bagiku itu tentu sebuah kehormatan jika ia membawa koran tersebut padahal itu adalah koran terbitan beberapa minggu lalu.


Haris bercerita jika ia berasal dari sebuah kota yang cukup jauh dari sini, kota yang terletak satu pulau dengan sang sastrawan yang namanya sama dengannya. Ia datang ke kota ini untuk sebuah urusan. Aku lebih banyak mendengar ia bercerita karena ia memang ternyata seorang yang hangat, supel, dan pandai bercerita selain tentu saja memiliki banyak topik untuk dikemukakan. Aku bahkan tak memiliki kesempatan untuk sekadar bertanya padanya. Aku benar-benar tak tahu siapa sebenarnya tamuku ini dan sekadar bertanya untuk urusan apa ia datang ke kota ini. Aku hanya bisa menduga jika ia adalah seorang penulis atau pelaku seni karena ia menyimpan koran yang memuat cerpenku. 


Ia juga cukup tahu banyak aktivitasku di dunia sastra, serta cukup tahu banyak nama-nama penulis dan pelaku seni negeri ini. Aku mendengarkan semua sambil tersenyum-senyum dan menanggapinya dengan ramah pula sambil terkadang kami saling tertawa bersama. Bibirku bahkan tak kuasa bertanya apa maksud kedatangannya ke rumah kami. 


Aku hanya berasumsi jika ia ingin main dan mengunjungi seorang penulis sepertiku karena mungkin ia juga seorang sastrawan meski aku belum pernah membaca karyanya sebab Haris yang muncul di hadapanku ini bukanlah Harris Effendi Thahar yang namanya memang tak asing lagi bagiku. Selain ejaan namanya yang sedikit berbeda – dia sempat menceritakan sendiri tadi tentang ejaan namanya – usia tamuku ini tentu jauh lebih muda dari sastrawan kondang tersebut. Ini adalah Haris yang lain yang memiliki nama yang sama dengan sastrawan Sumatera tersebut. Apa pun itu, kedatangannya tetaplah terasa tak wajar karena memang kami tak saling mengenal sebelumnya, tapi aku juga tak begitu peduli.


Obrolan kami berlangsung cukup lama. Ketika jarum jam menunjukkan hampir pukul sepuluh lebih tiga puluh menit, ia mengatakan jika ia lelah. Haris memintaku untuk mengizinkan ia menginap barang satu malam di rumahku. Meski cukup kaget, aku juga tak bisa menolak permintaannya.


“Oh, ya, silakan. Sebentar ya, saya minta istri untuk merapikan kamar terlebih dahulu,” Istriku juga cukup kaget saat kukatakan Haris ingin menginap, tapi ia tak merasa keberatan sama sekali. Ia buru-buru merapikan kamar karena memang selama ini kamar tersebut kosong, hanya terpakai saat ada keluarga kami dari kampung datang dan menginap di rumah kami.


Saat beberapa menit setelah Haris memasuki kamar, itulah permulaan malam yang begitu panjang dan mengkhawatirkan bagi kami yang akhirnya membuat kami tak bisa tidur. Istriku bahkan sempat menyalahkan diriku kenapa aku mengizinkan ia menginap di rumah kami. Aku tahu istriku berkata begitu karena hanya sedang panik saja.


***

“Waduuuh! sungguh saya mengucapkan terima kasih tak terhingga pada Bapak dan Ibu Humam yang telah berkenan mengizinkan saya menginap di sini,” Haris berucap dengan ringan, santai, dan hangat saat pagi-pagi di meja makan kami menikmati sarapan bersama. Ia berkata seperti tak terjadi apa-apa, sementara kami sepanjang malam tak bisa tidur, bahkan hingga pagi ini pun kami belum tidur.


“Ya, sama-sama Pak Haris,” aku berusaha menanggapi secara santai meski masih diliputi rasa lelah karena semalaman tak bisa tidur. Kulihat istriku juga berusaha untuk tersenyum meski tidak berkata apa-apa. Perlahan rasa kekhawatiranku berkurang karena kulihat tamuku tersebut seperti sehat-sehat saja. Sungguh tampak beda dengan semalam saat ia tidur dengan batuk-batuk bengek sambil mengerang.


Beberapa saat kemudian ia berpamitan pulang. Aku dan istriku tak bertanya ia akan ke mana kecuali mengiyakan saja. Aku lihat ia tersenyum dan mengucapkan rasa terima kasih berkali-kali saat kuselipkan dua lembar uang saat kami berjabatan tangan. Saat Haris telah melangkah cukup jauh dari pandangan mata kami, kulihat istriku mengelus dadanya dengan tangan kanannya sambil tersenyum padaku. Aku bisa menafsirkan jika ia kini telah merasa lega dan plong. Aku pun merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan istriku. Pagi ini mungkin kami akan mengisinya dengan tidur panjang. Lebih dari itu, seperti ada beban berat yang hilang.



Didedikasikan untuk sastrawan Humam S. Chudori


______________


Penulis

Mahan Jamil Hudani adalah nama pena dari Mahrus Prihany, lahir di Peninjauan, Lampung Utara, pada 17 April 1977. Meluluskan studi di Akademi Bahasa Asing Yogyakarta (ABAYO) dan Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam di STAI Publisistik Thawalib, Jakarta. Saat ini bergiat di Komunitas Sastra Indonesia Tangerang Selatan (KSI Tangsel), Kepala Sekretariat Lembaga Literasi Indonesia (LLI), redpel di portal sastra Litera.co.id, dan Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Tangerang Selatan. Karyanya tersiar di sejumlah media massa seperti Fajar Makassar, Batam Pos, Riau Pos, Sumut Pos, Lampung Pos, Bangka Pos, Solopos, Medan Pos, Pontianak Pos, Tanjungpinang Pos, Aceh Post, Pos Bali, Koran Merapi, Singgalang, Utusan Borneo, SKH Amanah, Bhirawa Surabaya, Haluan Padang, Palembang Ekspress, Magelang Ekspress, Padang Ekspress, Cakra Bangsa, Dinamika News, Rakyat Sumbar, Rakyat Aceh, Rakyat Sultra, Kabar Priangan, Analisa Medan, Majalah Semesta, Majalah Mutiara Banten, Majalah Kandaga, Majalah Elipsis, Majalah Apajake, maarifnujateng.or.id, kareba.id, gadanama.my.id, lensasastra.id, iqra.id, magrib.id, himmahonline.id, detik.com, cendananews.com, madahetam.com, sastramedia.com, sabah360online.com, ayobandung.com, madrasahdigital.co, labrak.co, nongkrong.co, Lampung News, Radar Bromo, Radar Malang, Radar Kediri, Radar Banyuwangi, Radar Madiun, dan Radar Mojokerto. Karyanya juga tersiar dalam sejumlah antologi bersama. Kumpulan cerpen tunggalnya yang telah terbit adalah Raliatri (2016), Seseorang yang Menunggu di Simpang Bunglai (2019), Bidadari dalam Secangkir Kopi (2021), dan Di Way Kulur, Tak Ada Lagi yang Kucari (2022).


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com