Jumat, 02 September 2022

Puisi-Puisi Ita Puspita Sari

 Puisi Ita Puspita Sari




Yang Diam-Diam Menarikmu ke Ujung


Di kota ini, biarkan harapan tercuci bersih. Lalu jemurlah di bawah langit mendung. Segala cara mesti tak kunjung terkabul. Hingga sepanjang malam, hujan menunjukkan lagi kilat-kilat matamu yang pecah berkali-kali di telingaku. Betapa aku ingin memejam menghapal intonasi diam. Kalimatmu kerap meniti pundak. Jangan jatuh dan pergilah ke ujung. Kelak kau akan pandai menulis surat. Sepanjang malam – sebanyak baris hujan.


Vas bunga menggigil tunduk terhadap pagar. Kerutkan mimpi buruk dan pintu masuk ke dadamu. Aku terhenti di ambang, tangkap cemas menggantung di sampaian. Langit menggigit jari-jari dan patahkan kuku-kuku. Malam bertaring dan nyaris membuatku pasrah berserah pada wajahmu yang lindap; menyerang. Sedang aku tak tahu cara melakukan  perlawanan.


Suaramu bening ricik hujan. Tak memberi ampun pada perumahan dan gang sempit tanpa selokan. Lorong membenci becek. Pagar lahirkan lumut. Kakiku licin seberangi malam-malam terjal. Di pinggir hatimu, aku selalu tergelincir ke dalam yakin.


Akulah kabel-kabel yang simpang siur antar tiang ke tiang. Tak mengerti siapa utara siapa selatan. Mereka mengikatku sebelum tumbuh ratusan lagi garis-garis hitam diriku. Membentang di kesunyian sebagai lukisan gelap. Bulat hati kita menyala meski dari atap rumah berbeda. Ini sebuah rencana bagaimana aku dapat melihatmu. Dan memastikan bahwa kau tetap cahaya.


Jember, 2022



Perempuan Penjual Bunga


Andai aku perempuan penjual bunga itu, Fik. Duduk di bawah terik, mengampar lusuh kerudung. Rambutku putih uban masa depan di sela hitam engkau. Apa tak hendak kau belai sebelum nisan kembali bertanya, kapan bunga-bunga ini bibitnya ditanam di lenganmu, agar subur dan lekas kau tabur ke dadaku yang kubur.


Pasar selalu mengusirku, Fik. Sebab ia tak ingin ada bau kematian, mengalahkan bau ikan dan perhiasan. Maka aku berlari ke sepanjang trotoar, meski harus menyerang bunyi knalpot dan teriak satpam. Apa tak kau temukan kancing baju, yang satu demi satu lepas dari kesabaranku?


Aku menyaksikan perempuan berkacamata dan seorang lelaki gemuk di angkringan; barangkali kekasihnya. Mereka berdialog setelah porsi makanannya habis, membuat suasana lebih puitis. Yang mereka butuh adalah tulip, bukan anyelir apalagi kantil. Sebab itu, bungaku mudah kering.


Di halte Jatiroto, keputus-asaanku mekar kuncup. Seperti matamu, Fik. Menatapku dari jauh, tanpa melambaikan tangan atau sekadar menunjukkan tanda ingin datang. Aku pun bingung, sedang menunggu angkutan umum, atau dirimu. Bunga-bunga di plastik mulai layu. Sudah tak layak kujual atau kusedekahkan pada mayat-mayat di dadaku yang tinggal tulang.


Tukang becak merogoh kantong di seberang, tangannya gemetar seperti sia-sia harapan. Truk ugal-ugalan melintas di antara tatapan kita, menembus lalu lintas dan mengabaikan rambu yang melarangku masuk ke dalam dirimu. Aku memanggilmu sebagaimana peminta amal berteriak di mulut toa itu, Fik.


Aku berdiri sekitar beberapa jam dan engkau. Kau tak ubahnya okos pabrik, membuat kambuh gejala penyakit. Akhirnya tiba sebuah angkutan umum, meneriakiku dengan klakson dan ledak emosi penumpang. Buyar segala harapan. Biarkan aku pergi dan memetik lagi bunga-bunga yang pantas untuk kau beli. Agar wujudku lekas-lekas kau ziarahi.


Jember, 2022



Kelak


Jangan mencariku lagi,

Kelak bila kamar ini 

Sudah tak sabar ingin memasung leherku 

Dan pintu kerap menyiapkan peluru.


Maka cepatlah kau lari ke muara, buanglah cinta

Sebelum bangkai tubuhku kau kubur sia-sia

Atau lipat saja tulang-tulangku di lemari

Agar kurasakan kesepian lebih takdir dari mati.


Bahkan anyir darahku tetap hidup 

Di lenganmu ia menolak surut

Barangkali sebab aku ingin memelukmu

Meski membusuk seluruh tubuh dan keyakinanku.


Kombung, 2022



Kepada Tukang Sayur


Sepanjang gang sempit dan becek 

Selalu membuat najis hati dan kaki yang misuh

Petang masih mengunci gerbang musala

Lorong seperti membunuh kendaraan seketika


Kecuali sebuah becak yang melintas bawa sepasang mataku di depan

Memperlihatkan kesibukan penjual ayam di pojok jalan

Ia potong sunyi subuh dengan pisau besar

Mempersingkat potret ketenangan.


Di antara lelap toko dan kos-kosan 

yang semula jumpalitan dengan macet kendaraan

Tukang sayur datang 

Berharap matahari tidak terburu-buru bangun dari sepanjang warung

Agar ia dapat mengkhusyuki harga rempah dan sayur.


Ikan-ikan amis hutang

Seikat sayur, rentengan jajan pasar, 

Cita rasa hangat percakapan pelanggan

Daun salam – daun jeruk hijau di pucuk fajar

Pada segar kuah ia selalu dibutuhkan.


Aku digoda warna-warni jajanan pasar

Menjajahlah mataku di atas ingatan 

Pada kampung halaman sebulat klepon

Meletupkan merah kangen doa bapak ibu

Semacam dadar gulung sembunyikan manis parutan

Semanis wajah tukang sayur kenakan topi anyaman.


Jember, 2022


_______

Penulis


Ita Puspita Sari, lahir di Sumenep, 1 Januari 2002. Mahasiswi aktif di UIN Khas Jember, Prodi Bahasa dan Sastra Arab. Puisi-puisinya dimuat di beberapa antologi bersama dan dimuat di beberapa media: Pojok Sastra, Radar Madura, Kedaulatan Rakyat, NGEWIYAK, Suarakrajan. Pernah Aktif di Sanggar Seni Damar Mesem mulai tahun 2012. Dan Aktif sebagai petani KALENTENG (Kompolan Kesenian Lenteng).



Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com