Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Saturday, July 25, 2026

Resensi Kabut | Angin dan Air

Oleh Kabut




Anak-anak suka angin. Yang dimaksud bukan “masuk angin” atau “buang angin”. Pengalaman menjadi anak-anak terasa seru dan unik bila berurusan angin. Anak-anak yang bermain kitiran menyadari angin yang membuat sesuatu bisa berputar. Angin itu gerak. Maka, anak-anak yang bermain kitiran sambil berlari atau memasangnya di tempat tinggi menganggap angin adalah berkah.

Ada yang mengakui faedah angin saat bermain lempar debu atau daun. Mereka melihat debu dan daun terbang oleh angin. Mata yang melihat menimbulkan gembira. Peristiwa yang sederhana. Pokoknya, angin menjadi alasan bermain. Anak-anak mengerti hari-hari panen angin atau sulit angin. Yang gerah menghidupkan kipas angin. Di depan kipas angin, anak tetap bisa bermain dengan cara aneh-aneh. Artinya, anak dan angin itu cerita yang panjang, memuat gembira, persaingan, bingung, takjub, ketagihan, dan lain-lain.


Pada masa lalu, anak-anak yang merasakan sumuk mencari angin agar keringat menghilang. Yang punya kipas angin cuma sedikit. Benda yang mahal. Bagi yang cerdik, pembuatan kipas menggunakan bambu, kain, dan kertas cukup menghasilkan angin. Namun, hubungan bareng angin itu terlalu cepat berubah. Kini, di rumah-rumah, banyak beragam merek kipas angin yang memerlukan listrik agar orang-orang tidak jengkel gara-gara musim kemarau.


Ada lagi yang mengakrabkan anak dan angin. Kita mengetahuinya dalam novel yang berjudul Si Kajan Bengal (1975) gubahan Mien Resmana. Buku kecil dan tipis terbitan Pustaka Jaya. Buku yang gambar di sampulnya tidak segera berkaitan angin. Yang tampak adalah gambar anak dan domba. 


Pada mulanya, novel itu mengenai angin. Yang diceritakan pengarang adalah anak-anak yang suka bermain laying-layang. Anak-anak menuju sawah, berharap angin memberikan girang. Pengarang bercerita mengenai Endut yang bermain layang-layang: “Lari-lari anjing ia pergi ke sawah yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Di sanalah, ia akan menerbangkan laying-layangnya. Kebetulan angin bertiup dengan kencang. Endut tengadah ke langit yang bersih biru. Hai, layang-layang siapakah itu? Sebuah layang-layang meliuk-liuk di angkasa. Bagian tengahnya bergambar bintang berwarna merah. Ia tak tahu layang-layang siapa. Ditengoknya ke sana kemari, tak terlihat juga pemiliknya.” Pada setiap siang atau sore, sawah ramai oleh anak-anak yang bermain layang-layang. Mereka tidak takut panas dan pantang lelah.


Pihak pemerintah mungkin tidak melakukan penyensoran naskah buku sebelum terbit. Di situ, pengarang mencantumkan: “bergambar bintang warna merah.” Pada masa Orde Baru, gambar atau logo sering bermasalah. Penguasa tidak suka “kiri”. Maka, segala gambar dan warna yang mengesankan “kiri” mendapat perlakuan yang represif. Bintang merah dalam novel mungkin tidak dianggap berbahaya secara ideologi.


Endut bergembira tapi sejenak. Muncul bocah bernama Kajan yang bikin keributan. Endut terpaksa menyerahkan layang-layang dan benang. Kajan terkenal sebagai anak yang bengal. Endut tidak berani melawan. Semula, angin dan layang-layang yang membuat senang berakhir sedih. Lantas, ia menyadari nasib.


Orang tua meminta Endut melakukan perbuatan yang lebih berfaedah ketimbang bermain layang-layang. Ia diminta di sawah, menjaga padi dari serangan burung dan ayam. Bocah yang tetap ke sawah dengan misi yang berbeda. Ia berupaya agar padi-padi itu selamat dari nafsu binatang yang ingin memakannya. Endut perlahan menikmati hari-hari berada di sawah. Namun, nasibnya tetap tidak beruntung. Kajan mendatanginya dan memberi kesedihan. 


Pada suatu hari, Endut tetap punya cara bergembira. Anak-anak yang membaca nasibnya Endut percaya bahwa kegembiraan tidak lenyap di dunia. Pengarang memang sedang memberi nasib yang sial dan sedih bagi Endut. Pengarang ingin mengajak para pembacanya mengerti ketabahan, sebelum memikirkan keberanian. Endut dijadikan tokoh yang memungkinkan ketabahan menemukan jalan untuk bahagia.


Maka, Endut yang tidak lagi bermain bersama angin mendapat penggantinya. Ia dan teman-teman memilih air. Mereka mencari ikan. Bermain air itu menyenangkan tapi menangkap ikan bukan masalah yang mudah. Yang diceritakan Mien Resmana: “Dalam lubuk terlihat beberapa ekor ikan kecil. Tapi karena masih berair sukar juga untuk menangkapnya…. Tidak banyak yang mereka peroleh. Lagi pula makin ke hilir air sungai makin besar sebab air dari sawah di kiri dan kanan sungai itu turun ke sungai. Sukar juga menangkap ikan dalam air yang agak besar.” Susahnya yang ditanggung bersama tetap memberi kesempatan bahagia. Bersama itu baik. Berusaha itu menemukan hasil.


Anak-anak sekarang yang membaca novel dari masa 1970-an boleh iri. Dulu, anak-anak bermain di sawah dan sungai. Berbeda dengan masa sekarang, yang mengondisikan anak-anak bermain di ruangan atau tempat-tempat yang membuat mereka bergirang dengan gawai. Angin dan air tidak lagi sumber kebahagiaan atau usaha mencipta kebersamaan. Yang terus bermain bareng angin dan air sebenarnya sedang mengerti alam.


Di novel yang tipis, anak-anak juga mengetahui nasib Endut gara-gara mau menjadi gembala domba. Ia mendapat tugas dari ayahnya agar domba-domba itu terpelihara. Endut menyanggupi. Tugas yang dilakukan secara rela dan bersemangat. Dulu, anak-anak di desa yang menggembala domba, kambing, atau kerbau memiliki beragam cara senang saat mereka bertemu dan berkumpul di sawah atau padang. Binatang makan rumput, anak-anak membuat usul-usul untuk mencipta senang. Tugas menggembala yang tidak mudah dan menimbulkan lelah tapi Endut mengetahui faedah-faedah baik. 


Pada abad XXI, novel tipis yang digarap Mien Resmana menjadi rekaman zaman. Anak-anak yang keseringan memegang gawai mungkin tidak gampang bertaut dengan kehidupan masa silam. Jadi, novel lawas bila masih mendapat pembaca sedikit menguak lakon anak-anak di desa saat pelbagai peristiwa mampu menimbulkan beragam rasa. Mereka pun membentuk kepribadian sekaligus sadar bermain peran dalam pergaulan sosial. Kini, novel itu bikin kangen bagi pembaca yang menua. Novel yang mengandung nostalgia.


_______




Penulis


Kabut, penulis lepas.




Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 



Saturday, July 18, 2026

Resensi Kabut | Indonesia Itu Beras

Resensi Kabut




Penguasa mengadakan panen raya. Yang dipanen adalah padi, nanti menjadi beras, berakhir disantap sebagai nasi. Maka, yang dipikirkan duluan adalah sebutan dan wujud. Tempat untuk pertunjukkan akbar adalah sawah. Di situ, terlihat hamparan tanaman padi. Mata yang melihat mengartikan Indonesia (bakal) makmur bila sering diselenggarakan panen raya. Sawah-sawah yang subur. Beras yang dihasilkan melimpah. Kita kepikiran yang membahagiakan.

Namun, suasana yang tidak alamiah dalam tontonan itu disempurnakan oleh ucapan penguasa mengenai beras. Ada yang bingung menyimak pernyataan penguasa mengenai beras, harga mahal, menanam padi, dan lain-lain. Yang mudah teringat tentu Indonesia yang berjanji selalu swasembada beras. Konon, penguasa yang berhasil adalah Soeharto pada masa 1980-an. Kita tentu tidak lupa politik-beras yang pernah terjadi pada masa revolusi. Indonesia menyumbang beras pada India. Kebijakan yang berpengaruh dalam politik-global. 

Indonesia sering bermasalah beras. Ingatan tentang tragedi kelaparan itu bikin sedih. Beras yang harganya mahal membuat ibu-ibu lesu. Kebijakan impor beras kadang menimbulkan curiga. Beras sebagai sumber korupsi biasa terjadi. Politik-merayu demi kemenangan dalam rebutan kekuasaan biasa menggunakan bingkisan beras. Pokoknya, seribu cerita beras di Indonesia berulang, belun tentu menimbulkan kebaikan.

Di novel berjudul Bulir Emas di Negeri Seberang yang digubah Dou Mbojo, anak-anak yang membacanya diajak berpikir Indonesia dan beras. Buku yang dihiasi gambar Ipe Ma’ruf itu terbitan Rora Karya, 1977. Latar cerita di suatu desa, yang berada di NTB. Buku yang sengaja diedarkan di ribuan perpustakaan, berharap dibaca ribuan anak. Namun, kita menduga buku itu bukan bacaan yang memikat bagi anak-anak masa lalu.

Tokoh-tokoh yang dimunculkan di halaman-halaman awal adalah anak-anak. Mereka masih belajar di SD. Pengarang mengisahkan mereka bukan saat berada di sekolah. Yang terjadi adalah kemarau ganas. Warga desa menderita tapi susah menemukan jawaban dalam menyelamatkan hidup. Tahun-tahun yang buruk dan berat akibat kemarau. Pada saat turun hujan, mereka pun sedih dengan adanya banjir. Artinya, mereka berada di desa yang “mustahil” makmur dan bahagia. Mengapa mereka masih bertahan di desa saat harapan terus menipis?

Yang dilakukan anak-anak setiap hari adalah berjalan dan mencari makanan. Mereka tidak mau mati akibat kelaparan. Pengarang bercerita: “Ketiga anak itu tengah mencari umbi gadung. Sebagai makanan, pengganti nasi yang sudah lama tak dirasakan. Sejak musim kemarau tiga bulan mulai berlangsung. Sekarang bulan keempat. Bahan makanan telah habis dari persediaan.” Lapar adalah petaka. Yang mencari makanan sering tidak menemukan.

Anak-anak ikut bertanggung jawab agar tersedia makanan di rumah. Konsekuensinya, hari-hari mereka habis dalam perjalanan dan pencarian yang melelahkan. Musim kemarau berarti musim tidak belajar di sekolah. Kejadian yang dimaklumi: “Tetapi, ketiga anak itu telah lama meninggalkan bangku sekolah. Bukan hanya mereka. Seluruh murid sudah tidak ada yang bersekolah lagi. Sejak musim paceklik menyerang. Ini sudah menjadi kebiasaan setiap tahun.” Makanan lebih penting ketimbang pelajaran-pelajaran di kelas. Perut yang kelaparan tidak bisa belajar.

Pada saat menderita dalam mencari makanan, anak-anak sempat berbagi omongan dan pengetahuan. Yang sudah kelas 6 berusaha memberi penjelasan mengenai kutukan yang menimpa desa. Tokoh yang ingin sadar: “Kau tahu bahwa di daerah kita ini dulunya adalah daerah yang subur.” Ia mendapat penjelasan dari orang-orang yang sudah tua. Namun, kenyataan cepat berubah: “Orang-orang telah menebangi hutan dan pohon-pohon semaunya. Tanpa memperhitungkan akibatnya… Mereka membuat perladangan liar, menebangi pohon untuk keperluan rumah, kayu api, dan sebagainya.” Yang terjadi adalah perusakan. Desa yang menderita itu tidak sedang dikutuk Tuhan. Penyebab petaka adalah salah manusia yang tidak memuliakan alam, yang mencintai hidup dengan kesederhanaan.

Desa itu terselamatkan. Yang berusaha menanggulangi lapar adalah pemerintah. Maka, berdatangan pihak-pihak yang mewakili beberapa lembaga. Mereka datang membawa bantuan beras. Kita mulai paham bahwa buku cerita anak yang diterbitkan menggunakan anggaran pemerintah wajib mengabarkan kebaikan-kebaikan Orde Baru. Warga desa menerima beras, merayakan hidup setelah hari-hari yang menyiksa. Pemerintah dianggap berjasa.

Pada pembagian berasa, pihak pemerintah berkepentingan memberi pengumuman dan rayuan. Warga dikumpulkan agar mengetahui kebijakan pemerintah. Beras itu menjadi “tanda bujukan”. Pemerintah menginginkan warga melakukan transmigrasi. Jadi, novel yang dibaca anak-anak masa 1970-an berisi propaganda pemerintah. Novel ikut menyukseskan program rezim Orde Baru.

Sebagian besar warga mengikuti anjuran, meninggalkan desa atau tanah kelahiran. Yang dipikirkan adalah hidup, bukan derita-derita bila tetap berada di desa. Pergi ke tempat lain bukan perkara yang mudah. Mereka ingin mengubah nasib. Pemerintah mengaku bertanggung jawab. Warga pun ditantang mampu membenahi hidup di tanah yang baru. 

Yang disampaikan pihak pemerintah: “Mari kita sama-sama membangun daerah ini. Karena merupakan sebagian dari tanah air kita. Kami yakin atas kedatangan saudara-saudara akan membawa kebaikan. Untuk saudara-saudara, untuk daerah, bangsa, dan tanah air Indonesia.” Kita membayangkan pilihan diksi para pejabat bertujuan membuat warga patuh, percaya, dan bertanggung jawab. Kita belum perlu membandingkan penggunaan bahasa oleh pemerintah masa Orde Baru dengan masa sekarang.

Warga mudah terpengaruh. Yang ikut transmigrasi berpendapat: “Tanah air Indonesia terbentang dari Sabang hingga Merauke. Masih luas yang belum tergarap. Menanti tangan-tangan emas yang menjamahnya, guna kepentingan pembangunan.” Novel untuk bacaan anak memastikan bahwa transmigrasi adalah progam unggulan Soeharto. 

Hari-hari berganti di tanah baru. Mereka mengolah tanah. Mereka mengikuti petunjuk-petunjuk pemerintah. Transmigrasi itu mengubah nasib. Akhirnya, mereka membuktikan: “Buah padi semakin lama semakin tua. Bulirnya yang berwarna kuning emas, kini sedikit demi sedikit berubah menjadi coklat tua. Daun-daunnya sudah banyak yang mengering. Maka ketika sampai pada umur tujuh puluh hari, batang-batangnya banyak yang miring merebah.” Mereka menikmati kerja keras. Panen padi menimbulkan kebahagiaan. Beras bakal tersedia. Mereka makan nasi tanpa takut kelaparan dan siksa kemarau. Novel pun berhasil meyakinkan anak-anak bahwa makanan pokok rakyat Indonesia adalah beras.


_______



Penulis



Kabut, penulis lepas.





Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 



Saturday, July 11, 2026

Resensi Kabut | Matematika dan Puisi

Oleh Kabut




Murid-murid di seantero sekolah sebentar lagi masuk sekolah. Mereka belajar lagi di kelas-kelas dalam hitungan ratusan hari. Masa liburan telah berakhir, yang membuat mereka terhibur dan terbebas dari seribu perintah pendidikan. Apakah mereka memilih libur atau mengalami hari-hari disibukkan beragam mata pelajaran atas nama ilmu? Mereka berada dalam situasi yang tidak keruan berkaitan kebijakan pemerintah, kemauan keluarga, hasrat pribadi, dan lain-lain. Namun, lakon belajar di sekolah terus dilanggengkan di Indonesia. Kita tidak pernah mengetahui terjadi pelarangan belajar atau “mengharamkan” sekolah.


Pada 2026, kita berpikiran tentang mutu pendidikan di Indonesia. Konon, mutu (sangat) menurun akibat pelbagai kebijakan. Ada yang menuduh guru-guru belum mampu membuktikan tanggung jawab. Ada yang sinis bahwa murid-murid memang tidak lagi berminat belajar. Pihak berbeda prihatin atas kegagalan keluarga-keluarga dalam merayakan pendidikan yang menyenangkan. Artinya, urusan belajar atau sekolah tetap mengandung ribuan masalah, yang kita hanya mampu sedikit memberi jawaban belum tentu benar.


Apakah situasi mutakhir berbeda dengan masa lalu? Kita dapat mengetahui dari biografi-biografi yang mengungkan masa belajar di sekolah. Sejak masa kolonial sampai Orde Baru, kita memiliki bab-bab yang pasang dan surut mengenai segala capaian dalam pendidikan di Indonesia. Ada pula yang rontok dan mampet, berakibat pendidikan di Indonesia mustahil berkembang atau maju.


Yang bersabar ingin mengetahui lakon pendidikan kadang memilih membaca novel. Kita tidak wajib melulu membaca Laskar Pelangi atau Negeri 5 Menara. Ada ratusan novel di Indonesia yang bercerita pendidikan. Bagi yang membaca sastra anak pasti menemukan ratusan judul novel yang membawa kita kembali ke masa lalu, yang menguak masalah pendidikan. Di situ, kita membaca biografi anak, mutu sekolah, pribadi guru, peran keluarga, dan lain-lain.


Kini, kita ingin mengenang yang silam melalui novel berjudul Astrid: Rumah Pohon gubahan Djokolelono. Buku berukuran kecil diterbitkan Gramedia, 1987. Artinya, novel mengisahkan anak dan sekolah berlatar masa Orde Baru. Judul yang dibuat tidak mengesankan pendidikan tapi pembaca yang membuka halaman awal sampai akhir mengetahui bahwa pengarang sedang mencipta “percakapan” tentang pendidikan. Yang diceritakan mengaitkan rumah dan sekolah.


Dua tokoh penting yang diceritakan adalah Astrid dan Anto. Mereka masih menjadi murid kelas 6 di SD. Anak-anak yang sudah menghadapi banyak masalah, tidak hanya dipusingkan oleh pelajaran-pelajaran di kelas. Yang pasti, pengarang mementingkan pendidikan. Sorotan yang serius untuk mata pelajaran matematika. Kita pun memiliki pengalaman bahwa matematika itu pelajarang yang sulit. Beberapa murid malah memutuskan membenci dan melawan dengan segala cara. Pokoknya, matematika adalah penderitaan meski beberapa murid sangat menggandrungi gara-gara menyadari kenikmatan dan faedahnya dalam hidup, terutama pada masa depan.


Astrid dan teman-teman kesulitan dalam memahami matematika. Di kelas, ada murid bernama Anto yang dianggap pintar matematika. Padahal, mereka tidak mengetahui bahwa Anto mengalami derita dalam matematika. Maka, cerita yang paling seru adalah murid-murid menanggungkan harapan dan penyesalan disebabkan matematika. Maka, pelajaran di kelas tidak mencukupi. Anak-anak memerlukan mengikuti les agar mengerti matematika. Pengisahan itu mengesankan bahwa matematika memang pelajaran sangat utama dalam pendidikan di Indonesia sekaligus dunia.  


“Les matematika yang diadakan di sekolah Astrid memang berlangsung dari jam empat sore sampai setengah tujuh,” tulis Djokolelono. Kita membayangkan anak-anak menyadari waktu untuk bermain atau bersungguh-sungguh belajar matematika. Astrid mengalami kebingungan dalam memutuskan ikut les atau melakukan yang lain. Ia sadar bahwa pengetahuan matematikanya rendah. Ikut les dapat membuatnya tidak terlalu bodoh. Namun, ikut les matematika tetap memberi siksa dan bertumbuhnya masalah-masalah.


Di mata guru dan teman-teman, Anto diakui pintar matematika. Mereka tidak mengetahui bahwa pengetahuan matematika Anto itu diremehkan oleh bapaknya. Anto dianggap masih bodoh, belum mampu menguasai hal-hal terpenting dalam matematika. Jadi, keributan dan salah paham terjadi gara-gara matematika. Bapak sangat menuntut Anto agar pintar matematika. Tuntutan berdasarkan keinginan bapak agar kelak Anto menjadi ahli dalam elektorinika. Yang sangat menuntut adalah bapak, bukan guru atau kurikulum. Anto merasakan penderitaan berbarengan teman-teman mengakuinya yang terpintar matematika di kelas.


Pada mulanya, Astrid kesulitan berakraban dengan Anto. Masalah matematika perlahan mampu membuat mereka berteman yang akrab. Astrid ingin paham matematika. Anto diminta menjadi “pengajar”. Anto yang disangka “sombong” perlahan terungkap sedang mengalami penderitaan. Matematika membuat dua murid saling mengerti kehidupan, yang merujuk sekolah dan rumah. Astrid menjadi anak yang memiliki penasaran dan berusaha membuktikan tanggung jawab. Anto ingin memiliki kepribadian tapi selalu kesulitan dalam aturan keluarga dan pergaulan di sekolah.


Di sela berpusing matematika dan menghadapi masalah keseharian, Astrid dan Anto sama-sama menyukai sastra, terutama puisi. Astrid mampu menggubah puisi. Kita mengutip seperti yang terdapat dalam novel: rumah pohon/ rumah di atas pohon/ di atas pohon ada rumah/ pohon di atas rumah/ kami memohonkan rumah/ kami merumahkan pohon/ pohon kami rumahkan/ rumah kami pohonkan. Puisi ditulis berkaitan dengan pengalaman mengetahui kebiasaan Anton berada di rumah pohon. Astrid menjadi saksi sekaligus turut dalam pengalaman di rumah pohon.


Anto mengaku kesulitan dalam matematika. Ia takut kepada keinginan dan perintah bapak. Anto sebenarnya menyukai sastra, ingin menjadi penulis, bukan ahli elektronika. Maka, ia membuktikan selera dan kepekaan sastra dengan menulis puisi. Mutunya berbeda dari tulisan Astrid. Pembaca menduga bahwa puisi dapat menjadi pembebasan atau hiburan ketimbang selalu menderita.


Puisi yang ditulis Anto: Saat air matamu menitik meniti pipi/ pipi yang sepi dari sinar ceria/ kulihat di beningnya yang bagai berlian/ sejuta cerita duka sejuta cerita duka/ kulihat di beningnya yang bagai berlian/ bekunya sejuta tawa bekunya sejuta tawa/ kulihat di beningnya yang bagai berlian/ berlalu pelan perjalanan usia di awal senja/ kulihat di beningnya/ kau menangis bukan buat dirimu/ kisah yang terpampang bukan kisahmu/ iba di hatimu bukan ibamu/ kulihat di beningnya/ bayang-bayang wajahku/ sendiri. Puisi yang apik, bersumber dari pengalaman dalam keluarga.


Matematika menjadikan Astrid dan Anto akrab. Puisi sempat memicu salah paham tapi memberi harapan bagi mereka dalam menikmati hari-hari yang tidak selalu cerah. Maka, Anto memutuskan tekun menulis puisi dan menuruti hasrat menjadi pengarang. Sikap yang berlawanan dengan tuntutan bapak. Astrid tampil menjadi saksi dan berani membuktikan tanggung jawab atas masalah yang menimpa keluarga Anto. Pembaca diajak mengagumi kepribadian Astrid. Perhatian terhadap Anto memunculkan dilema-dilema pendidikan yang menautkan rumah dan sekolah. Jadi, kita yang membaca novel gubahan Djokolelono sedikit mengerti mengenai anak-anak yang tidak harus dipaksa pintar matematika dan memiliki hak merayakan hidup melalui puisi.


_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Saturday, June 27, 2026

Resensi Kabut | Puisi Diwariskan

Oleh Kabut



Para pengarang tua masih bisa disapa di media sosial. Mereka bukan bersembunyi atau menikmati hari-hari dengan kesepian. Maka, kehadiran mereka di media sosial memungkinkan terjadinya kesinambungan nasib dalam sastra. Dulu, mereka mungkin tenar pada masa 1970-an, 1980-an, dan 1990-an. Jarak waktu yang jauh tetap menjadikan mereka terhormat saat rajin tampil di media sosial. Artinya, mereka masih membuat tulisan dan mengabarkan. Beberapa orang tetap menghadiri acara-acara sastra atau berperan sebagai juri. 


Di media sosial, nama-nama penting dan besar dari masa lalu terhubung dengan pengarang-pengarang muda atau kaum pembaca. Saling sapa dan berdebat di media sosial memastikan sastra tetap ramai. Kita menyatakan ramai setelah masa koran dan majalah makin kehilangan pesona. Yang menyimak media sosial kadang kelelahan dengan ribut sastra, melebihi kabar-kabar publikasi puisi, cerita pendek, atau esai. Ribut yang berkepanjangan kadang menyita perhatian ketimbang bertepuk tangan atas penerbitan buku-buku sastra.


Nama dari masa lalu yang masih rajin bersastra: Handrawan Nadesul. Kita bisa menemuinya di media sosial. Sosok yang terus menulis dan menerbitkan buku-buku. Ia berprofesi sebagai dokter tapi namanya kondang sebagai pengarang. Di media sosial, ia tak cuma akrab dengan teman-teman yang tua. Ia terhubung kaum muda. 


Siapa ingat buku-buku Handrawan Nadesul dari masa lalu? Ia telah memberi persembahan yang penting dalam perkembangan sastra di Indonesia. Yang terbaca untuk mengetahui Handrawan Nadesul adalah buku berjudul Kunang-Kunang, diterbitkan oleh Aries Lima, Jakarta, 1976.


Di halaman awal, tercantum keterangan: “Puisi anak-anak tidak selalu berarti puisi yang ditulis oleh anak-anak. Tetapi, dapat pula lahir dari mereka yang tidak lagi pantas disebut anak-anak.” Yang menulis puisi bernama Handrawan Nadesul, sosok dewasa yang sudah terbukti mahir menggubah sastra. Mengapa ia turut menulis puisi-puisi untuk dibaca anak-anak?


Keterangan yang sedikit menjawab: “Tiada lain, kecuali mencoba menghayati kembali dunia kanak-kanak yang pernah dialami, ditambah pengalaman bergaul dengan anak-anak serta dunianya yang segar dan menyenangkan.” Kita menduga Handrawan Nadesul sudah tidak ingat pernah membuat buku untuk anak-anak. Apakah ia masih menyimpan Kunang-Kunang atau mengumumkan di media sosialnya? Para pengarang tenar biasanya jarang mengumumkan pernah menjadi penulis buku anak-anak, yang cap Inpres. 


Apakah puisi-puisi yang ditulis Handrawan Nadesul mudah dibaca murid-murid di SD? Kita tidak wajib membuktikan. Dulu, yang membaca mungkin menganggap puisi itu apik. Membaca tanpa kepastian mengerti. Yang ditulis Handrawan Nadesul adalah puisi berjudul “Angin, Datanglah ke Kamarku”. Anak-anak membaca sebait saja: angin, kuingin kau tetap mendesis di celah daun/ menari di tangkai bunga/ melambai di pantai samudera/ berapakah sejuk kau kirimkan dalam puputmu?/ menebarkan embun sepanjang malam/ benarkah tak berhingga jauh rumahmu/ kuingin kau singgah ke kamarku/ bila kuingat di mana ibuku. Siapa yang sekali baca lekas mengerti tentang angin, kamar, dan manusia? Ingatlah, puisi ini ditulis oleh orang yang dewasa, bukan anak-anak. Di larik terakhir, pembaca merasakan kesedihan. Angin menjadi penghibur, bukan selesai dimengerti melalui ungkapan “kabar angin”. Di situ, ada sosok yang mengingat ibu. Apa kaitan angin dan ibu?


Pada masa 1970-an, yang menghebohkan adalah puisi. Di Indonesia, kejutan-kejutan diberikan Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Remy Sylado, dan lain-lain. Puisi dalam polemik yang tidak selesai. Mereka yang ikut ribut adalah kaum dewasa. Mereka mungkin tidak membaca puisi yang ditulis oleh Handrawan Nadesul. Artinya, ada usaha menyuguhkan puisi yang “memberat” saat anak-anak membuka dan membacanya sebelum tidur atau di sela-sela belajar di sekolah.


Kita memilih puisi yang berjudul “Baju yang Dulu Kau Sukai Bila Aku Memakainya”. Di bawah puisi, tampak gambar seorang gadir dan bunga-bunga. Dulu, anak-anak yang membaca puisi terbantu adanya gambar. Yang ditulis: baju yang dulu kerap kupakai/ setiap kali hari minggu kau tuntun aku ke kebun bunga/ kini telah koyak-koyak semuanya/ biar mala mini kupasang kancing-kancingnya lagi/ agar bisa kupakai kembali/ pada hari ulangtahunmu nanti. Baju menandai kasih. Baju yang mengikat hubungan terindah. Pada baju, ada upaya merajut kenangan dan persembahan. Anak-anak mampu membacanya. Apakah mereka mungkin bisa menggerakkan imajinasi sampai jauh? Kita mengandaikan puisi itu terbaca oleh murid SMP atau SMA saja.


Kita masih menemukan puisi yang istimewa. Puisi yang mengajak pembacanya merenung tentang kematian. Apakah anak-anak sulit terhibur atau tertawa di hadapan puisi-puisi gubahan Handrawan Nadesul? Buku itu kebanyakan mengumbar sedih. Yang menulis mungkin sedang menghayati duka ketimbang mencipta panen tawa.


Judul puisi yang panjang sudah tergesa memberi pesan: “Seorang Ayah Bermain Gitar di Hadapan Anak-Anaknya Sebelum Esok Paginya Ia Menjalani Hukuman Matinya.” Yakinlah, anak-anak bengong melihat judul puisi yang panjang. Di buku pelajaran atau lomba, mereka terbiasa menemukan judul-judul puisi yang pendek. 


Puisi yang mendingan menjadi bacaan para mahasiswa untuk mendapat apresiasi. Puisi boleh digunakan dalam tugas mata kuliah pengkajian puisi. Namun, Handrawan Nadesul mengarahkan itu bacaan anak. Kita yang dewasa ikut membaca: kupetikkan untukmu sebuah lagu/ tentang bulan dan matahari/ yang bersinar dalam matamu/ dengarkanlah sampai berakhir syair laguku/ sebab sesungguhnya akan berapakah panjang mala mini/ mengukur bening di sinar matamu. Sekali lagi, puisi yang tidak mengajak pembaca tersenyum atau bersukacita. Yang dinikmati adalah imajinasi kematian. 


Keterangan yang tercantum di halaman awal: “Dengan beberapa puisi di sini, mudah-mudahan dapat menarik perhatian adik-adik. Juga bagi mereka yang menyukai puisi dan berminat belajar menulis puisi, barangkali kumpulan ini bisa membantu sekadarnya.” Yang benar-benar belajar dari buku ini mungkin terbujuk menulis puisi-puisi yang sedih, murung, duka, atau suram. Konon, semua itu masih bisa “membenarkan” bahwa puisi itu “indah”.


Buku berjudul Kunang-Kunang masih ada. Dulu, yang menulisnya mungkin kepikiran bakal dibaca anak dan cucu. Jadi, ia sebenarnya sedang membuat warisan. Kita menduga ikhtiar menulis buku dan warisan itu ditentukan waktu. Yang turut berpengaruh adalah situasi sastra dan lakon anak-anak abad XXI. Puisi-puisi dalam buku berjudul Kunang-Kunang itu pengalaman bercap anak-anak yang terjadi saat hidup belum terlalu meriah dengan gawai. Pada masa 1970-an, anak-anak masih mengakrabi alam. Maka, puisi-puisi gubahan Handrawan Nadesul adalah dokumentasi sekaligus pembuatan warisan.


_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Saturday, June 20, 2026

Resensi Kabut | Kerbau dan Taubat

Oleh Kabut




Cerita untuk anak, bukan cerita yang semua tokohnya harus anak. Cerita yang tidak melulu berisi masalah-masalah anak. Tulisan disebut cerita anak yang ditulis orang dewasa memunculkan sangkaan-sangkaan yang sering diperdebatkan. Konon, para penikmat bacaan anak di Indonesia mementingkan isi yang berdampak.

Kita jemu perdebatan yang memasalahkan isi cerita anak. Ada yang terlalu memihak bahwa cerita membentuk anak menjadi sopan, baik, beriman, dan pintar. Ada yang tidak menagih apa-apa dari cerita anak. Namun, ada pihak yang bolak-balik memikirkan sastra untuk anak memberi sokongan dalam pemajuan negara atau perayaan modernitas. Yang pernah diperdebatkan boleh dilupakan. Apa kita ingin memulai lagi perdebatan sehingga terkapar gara-gara bosan dan menyerah?

Produksi buku-buku untuk anak dari masa kolonial sampai Orde Baru memiliki beragam corak. Kita belum sempat membuat perbedaan yang menempatkan sastra anak dalam kecamuk ideologi atau bergejolak dalam arus pendidikan. Kita pun belum memiliki daya untuk mengolah resepsi para pembaca agar mengerti alur sastra anak di Indonesia, dari masa ke masa.

Apakah cerita untuk anak mutlak harus menjadi pengajaran? Kita kadang dibingungkan dengan ketetapan pengajaran dan hasrat hiburan. Maka, anak-anak yang membaca cerita dihasilkan orang dewasa boleh menuntut hiburan ketimbang dijadikan “konsumen” nasihat dan mendapat perintah-perintah yang bijak. Anak-anak yang membaca tidak diwajibkan memikirkan hal-hal yang baik saja. Di hadapan cerita, mereka berpikir “serius” mengenai keburukan, yang tidak berarti ditiru dan dibiarkan.

Yang dibuka adalah buku berjudul Mang Luwi yang ditulis oleh Lukman Hakim. Buku tipis dan kecil diterbitkan oleh Pustaka Jaya, 1975. Yang disajikan di sampul depan adalah gambar tiga lelaki dan seekor kerbau. Apa yang terjadi? Pembaca diminta membuka halaman-demi halaman agar mengetahui cerita atau mencari cocok antara cerita dan gambar.

Lukman Hakim mengenalkan para tokohnya: “Uju mengeluarkan rokok yang tinggal beberapa batang. Kemudian ketiganya berjalan ke arah kampung Tegalawi. Jalan ke kampung itu melalui sawah dan tanah kosong, sehingga mereka dengan bebas merokok dan bercakap-cakap tanpa kuatir diketahui penduduk.” Yang membaca berimajinasi bahwa ada beberapa orang yang saat tengah malam melakukan perbuatan yang mencurigakan. Imajinasi yang tidak sulit bagi pembaca. Mereka yang merokok. Mereka yang mendatangi suatu desa. Apa yang diinginkan?

Yang dituju adalah rumah orang yang kaya. Mengapa mereka ke situ? Anak-anak yang membaca dapat menjawab dalam waktu yang singkat. Pengarang mengisahkan: “Pak Sanusi, orang paling kaya di kampung itu. Sawahnya luas sekali. Ia juga mempunyai toko di pasar. Meskipun ia orang yang kaya, rumahnya biasa saja. Tidak ada listrik, tidak ada tanda kemewahan lain. Hanya kendang kerbau di belakang rumah, menandakan ia orang berada. Kerbaunya banyak untuk mengerjakan sawah yang luas.”

Beberapa lelaki mendatangi rumah orang yang dianggap kaya. Mencuri! Pembaca menduga mereka akan mencuri. Cerita untuk anak jangan memberi petunjuk yang sulit. Lukman Hakim sudah mengajukan petunjuk mudah, yang membuat pembaca mengetahui peristiwa pencurian. Yang dicuri adalah kerbau. Para pembaca mulai membayangkan cara dan kekuatan para pencuri. Kerbau itu hewan yang tubuhnya besar. 

Tiga orang mewujudkan siasat yang efektif dan efisien. Mereka tidak membawa kerbau dalam pencurian. Yang dilakukan adalah pekerjaan yang “hebat”. Pembaca seolah ikut menyaksikan: “Cekatan sekali tangan mereka menggunakan golok yang tajam. Sesudah menyembelih lalu menguliti kerbau besari itu. Sehingga dalam waktu yang tidak lama benar, hewan tadi tinggal berupa tumpukan daging saja. Hanya bagian-bagian yang mahal harganya yang mereka bawa. Tulang dan bagian tubuh yang tidak berharga, mereka tinggalkan begitu saja.”

Pembaca mengetahui tiga orang itu sakti. Pencurian yang membutuhkan keberanian. Para pencuri berhitung waktu dan perbuatan yang nantinya dianggap menghasilkan untung besar. Pada babak awal pengenalan pencuri, para pembaca mulai berpikir hal-hal yang menyebabkan mereka mencuri daging kerbau. Padahal, mereka dalam kerepotan-kerepotan yang “mengagumkan”.

Pencurian terjadi di desa. Para pencuri yang berhasil mendapatkan daging urusannya belum selesai. Bagaimana cara menjualnya? Mereka membawa daging yang berat ke pinggir jalan, yang biasanya dilalui truk. Para pencuri berharap boleh menumpang. Harapannya, daging sampai di pasar. Mereka ingin menjualnya. Yang diinginkan adalah uang.

Kesedihan menimpa berkaitan pencurian. Luwi (pencuri) memiliki anak yang sakit. Maka, duit yang diperoleh dari mencuri digunakan membeli obat dan makanan. Anak itu tidak sembuh, malah pamitan dari dunia. Sedih yang tidak tertahankan. Apakah pencuri itu mendapat balasan? Kutukan untuk pencuri?

Para pembaca diajak merenung, bukan segera menentukan sikap atas perbuatan tokoh dan akibat-akibatnya. Yang dilakukan pengarang, membujuk pembaca mengetahui sosok Luwi, yang mula-mula diceritakan sebagai pencuri. Luwi, sosok yang bersalah tapi ia patut dimengerti: “Sebenarnya, ia tukang kayu. Tetapi sudah lama alat-alatnya tidak digunakan. Lebih suka ia mendapat uang dengan cara yang lebih mudah. Sekarang, ketika di rumah kekurangan, masih tetap ia belum mau menggunakan perkakas dan kepandaiannya. Ia lebih suka duduk termenung mengenang anaknya.” Sosok di desa, yang biasa mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Ia bisa bekerja tapi mencuri itu menjawab kebutuhan terhadap uang. Para pembaca diharapkan sungguh-sungguh memikirkan pekerjaan, tidak terus-terusan memasalahkan pencurian.

Buku cerita tentang pencurian. Anak-anak yang membacanya membandingkan dengan pengalamannya sebagai “pencuri” cilik. Para pembaca pun bisa membandingkan saat sebagai saksi adanya pencurian. Yang belajar di sekolah atau mengaji di masjid cepat mengetahui bahwa mencuri itu perbuatan jahat. Namun, anak-anak yang membaca cerita tentang pencurian menemukan adanya masalah-masalah yang bisa dipelajari.

Akhirnya, pengarang mengadakan adegan tobat. Luwi tidak selamanya pencuri. Pada suatu malam, ia mau mencuri lagi, yang dimengerti jawaban agar keluarga tidak kelaparan. Yang didatangi adalah rumah orang yang bergelar haji. Pencuri mengamati rumah yang menjadi sasaran. Di situ, ada seorang bergelar haji yang sedang membaca Al-Qur'an: “Suaranya enak didengar, lagunya menarik hati.”

Apa yang terjadi pada pencuri? Pengarang memulai cerita tentang keburukan atau kejahatan. Ada yang selesai: “Luwi tertegun. Ia ingat ketika kecil belajar mengaji kepada Haji Qomar yang telah meninggal dunia. Ia teringat akan kata-kata mutiara yang tersirat dari ayat-ayat Al Quran. Larangan akan kejahatan. Selanjutnya, ampun dan taubat. Akhirnya, pahala bagi keluhuran akhlak. Air matanya menitik. Wajahnya menengadah, lalu diucapkannya kebesaran Allah.” Cerita yang berakhir pertobatan. Anak-anak yang membacanya mengangguk, tidak perlu protes atau menolak akhir cerita.

Yang dipentingkan pengarang: pesan yang gamblang. Artinya, anak-anak yang membacanya sadar bahwa mencuri itu kejahatan. Mereka tidak ingin menjadi pencuri. Buku cerita yang dibaca tidak “menghibur” tapi kesengajaan menampilkan yang buruk atau jahat agar anak-anak mengerti sikap atau perbuatan dalam hidup sesuai ajaran agama. Jadi, cerita untuk anak adalah cerita yang menghendaki anak-anak menjadi beriman dan bertanggung jawab atas hidup.

_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com 


Resensi Yuditeha | Sejarah yang Membunuh Berkali-kali

Resensi Yuditeha




Judul Buku: Kebaya Merah di Tebing Kanal

Penulis: Martin Aleida

Penerbit: Penerbit Buku Kompas (BPK)

Cetakan: 2025

Halaman: xxiv + 88 hlm, 13x19 cm

ISBN: 978-623-523-762-6

 

Martin Aleida termasuk jenis penulis yang menulis tidak untuk menyenangkan, melainkan untuk mengganggu. Sejak lama, karyanya bukan ruang hiburan, melainkan ruang sidang: tempat korban dihadirkan, pelaku tidak tampak, dan pembaca dipaksa menjadi juri tanpa palu. Ia konsisten berpihak pada yang kalah, tahanan politik, buruh, perempuan yang dilumat sejarah, orang-orang yang hidupnya hanya menjadi catatan kaki dalam buku negara.

 

Aleida (saya lebih suka menyebut nama belakangnya), menulis bukan untuk meromantisasi penderitaan, tetapi untuk membongkar bagaimana penderitaan itu dibuat, diwariskan, akhirnya dinormalkan. Ia tidak percaya pada sejarah resmi. Dalam dunia Aleida, sejarah selalu berantakan, berdarah, dan meninggalkan bau busuk yang tak mudah hilang. Dan Kebaya Merah di Tebing Kanal adalah salah satu buktinya.

 

Kumpulan cerpen ini seperti museum luka, tetapi tanpa kaca pengaman. Pembaca tidak diajak melihat dari jauh, melainkan diseret masuk, dipaksa menyentuh, dan mencium bau lembap trauma yang belum kering. Yang menarik, Aleida tidak menjual tragedi sebagai tontonan. Ia justru menulisnya dengan nada tenang, nyaris datar, seolah berkata: beginilah hidup bekerja, kejam tanpa perlu teriak.

 

Cerpen “Kebaya Merah di Tebing Kanal”, yang menjadi judul buku, bisa dibaca sebagai pintu masuk paling representatif. Di sana, kebaya merah bukan sekadar busana, tetapi simbol tubuh yang menolak lupa. Rubiah tidak mati karena sedih semata, tetapi karena ingatan yang tidak diberi tempat dalam sejarah resmi. Ayahnya dibunuh, ibunya dipenjara, hidupnya terombang-ambing sampai Eropa. Kanal menjadi semacam metafora sejarah modern: tampak tenang di permukaan, tapi menyimpan arus kematian di bawahnya.

 

Aleida seolah ingin mengatakan: migrasi tidak selalu berarti penyelamatan. Suaka politik bukan jaminan kesembuhan. Trauma tidak mengenal paspor. Ia bisa menyeberangi benua, menyusup ke rumah-rumah, dan tetap membunuh dari dalam.

 

Benang merahnya terasa di hampir semua cerita: tokoh-tokohnya hidup, tapi sekarat. Mereka bernapas, bekerja, menikah, bahkan bercinta, tetapi selalu membawa sesuatu yang belum selesai. Dalam “Lelakiku”, misalnya, kekerasan tidak datang dari musuh, melainkan dari rumah sendiri. Bapak yang memukul, suami yang tampaknya memang baik, negara yang membuang, semuanya seakan bersekongkol membentuk satu pesan, perempuan tidak pernah punya ruang aman.

 

Yang menarik, Aleida tidak membuat tokoh suami sebagai penjahat karikatural. Ia justru digambarkan tulus, halus, dan rasional. Di sinilah ironi bekerja: kebaikan bisa menjadi bentuk kekerasan baru ketika ia membela sistem yang membunuh. Kalimat suami dalam cerita itu seperti ringkasan moral buku ini, kejahatan negara selalu datang dengan dalih hukum, ketertiban, dan logika waras.

 

Dalam cerpen-cerpen lain, Aleida memperluas medan luka, dunia kerja yang dingin (Perkenalkan, Uno), masa pensiun yang hampa (Tukang Urut di Tepi Danau), hingga kamp tahanan yang menjadikan tubuh perempuan sebagai barang rampasan (Segulung Kertas Kecil di Ubi Rebus). Semuanya berbicara dalam satu bahasa, sejarah tidak pernah netral, ia selalu punya korban yang namanya kadang sengaja disembunyikan.

 

Yang membuat buku ini tidak jatuh menjadi arsip penderitaan adalah sikap Aleida terhadap tokohnya. Ia tidak mengasihani mereka secara murahan. Ia memberi mereka martabat, kemampuan memilih, menolak, bertahan, bahkan mencintai di tengah reruntuhan. Tokoh-tokoh Aleida bukan pahlawan, tetapi juga bukan korban pasif. Mereka adalah manusia yang mencoba hidup di dunia yang secara sistematis menolak kemanusiaan mereka.

 

Di titik ini, Kebaya Merah di Tebing Kanal bisa dibaca sebagai kritik terhadap cara kita memperlakukan masa lalu. Di Indonesia, sejarah sering didandani seperti ruang tamu, bersih, rapi, dan penuh foto resmi. Aleida justru membuka toilet, tempat darah menetes, air mata mengering, dan bau busuk yang tak bisa disembunyikan.

 

Yang tajam dari buku ini adalah kesadarannya bahwa tragedi politik bukan hanya soal tahun dan peristiwa, tetapi soal dampak jangka panjang terhadap relasi manusia. Kekerasan negara tidak berhenti saat senjata diturunkan. Ia menjelma menjadi keluarga yang retak, tubuh yang trauma, cinta yang cacat, dan ingatan yang menolak lenyap.

 

Dalam cerpen “Tukang Urut di Tepi Danau”, misalnya, pilihan tokoh Aku untuk membantu penyintas kusta dan menolak jenderal bukan sekadar moral personal, tetapi pernyataan politik sunyi, di dunia yang dikuasai kekerasan struktural, kebaikan kecil adalah bentuk perlawanan paling radikal. Bukan heroisme, melainkan keteguhan sehari-hari untuk tidak ikut menjadi algojo.

 

Sementara itu, “Segulung Kertas Kecil di Ubi Rebus” mungkin adalah cerita paling telanjang dalam menampilkan tubuh sebagai medan politik. Cinta, seks, penjara, pengkhianatan, dan harapan bercampur tanpa romantisme. Ubi rebus yang diselipi surat menjadi simbol yang sangat Aleida, bahwa harapan selalu datang dalam bentuk paling sederhana, tapi sering disampaikan di tempat paling kejam.

 

Jika harus ditarik satu simpulan besar, maka buku ini bisa diringkas dalam satu kalimat: Sejarah tidak membunuh kita sekali, tetapi berkali-kali, melalui ingatan yang tidak pernah diberi hak untuk sembuh.

 

Aleida seolah menertawakan gagasan move on yang sering kita banggakan. Dalam dunia cerpen-cerpen ini, move on adalah kemewahan kelas menengah. Bagi korban sejarah, yang ada hanyalah bertahan, menyimpan, dan kadang menenggelamkan diri, secara harfiah maupun simbolik.

 

Yang membuat buku ini tetap relevan, meski berbicara tentang masa lalu, adalah keberaniannya menunjukkan bahwa pola kekuasaan tidak banyak berubah. Hari ini kita mungkin tidak lagi menyebut PKI, Kamp Gandhi, atau Bukit Duri, tetapi mekanismenya tetap sama: siapa yang menguasai narasi, dia yang menentukan siapa korban dan siapa penjahat.

 

Membaca Kebaya Merah di Tebing Kanal bukan sekadar membaca kumpulan cerpen, melainkan membaca ulang cara kita memahami sejarah. Ini bukan buku nostalgia, melainkan buku peringatan. Ia tidak menawarkan rekonsiliasi manis, apalagi penebusan. Yang ia tawarkan hanyalah satu hal yang jarang kita sukai, yaitu ingatan yang jujur.

 

Dan mungkin di situlah posisi paling berbahaya dari buku ini, ia menolak memberi kenyamanan. Ia membuat pembaca sadar bahwa banyak luka yang belum sembuh. Seperti Rubiah, Halawiyah, dan tokoh-tokoh lain dalam buku ini, kita semua hidup di tepi kanal sejarah, mengenakan kebaya masing-masing, mencoba terlihat baik-baik saja, padahal air di bawah terus mengalir membawa mayat.

 

______

 

Penulis

 

Yuditeha

Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Saturday, June 13, 2026

Resensi Kabut | Desa, Madrasah, Bocah

Oleh Kabut




Yang pernah membaca buku-buku bertema sejarah pendidikan (Islam) di Indonesia biasanya mengetahui riset yang dibuat oleh A Azra, Steenbrink, Yudi Latif, dan lain-lain. Sejarah itu memuat hal-hal yang turut menentukan pembentukan dan pemuliaan Indonesia, tidak melulu bertujuan dakwah. Di beberapa buku autobiografi dan biografi, kita menemukan para tokoh penting di Indonesia pernah belajar di surau, madrasah, pondok pesantren, dan lain-lain. Mereka bertumbuh di desa-desa yang berada di Sumatra, Jawa, atau Sulawesi. Selanjutnya, mereka bergerak ke pelbagai kota untuk melanjutkan pelajaran di jenjang yang tinggi. Kita malah menyimak capaian-capaian beberapa tokoh yang berhasil kuliah di Eropa, Mesir, atau Amerika Serikat. Mereka bermasa lalu model pendidikan Islam, yang publik memberi persepsi: tradisional atau modern.

Pada abad XXI, masa lalu itu terasa jauh. Yang ingin ditengok adalah desa-desa, yang dulu membesarkan pendidikan dan dakwah. Di situ, tanggung jawab besar diwujudkan untuk kemajuan dan kemuliaan. Maka, yang mau melek sejarah dapat menelusurinya sejak abad XIX. Warisan-warisan institusi pendidikan Islam masih gampang ditemukan dan dipelajari. Yang menginginkan mengetahui dampak kolonialisme dan modernitas, membuka halaman-halaman kajian sejarah yang berlatar awal abad XX. Kita mengingat berbarengan adanya gerakan nasionalisme atau bertumbuhnya ideologi-ideologi, yang menjadi Hindia Belanda bergejolak.

Yang memiliki latar belakang pendidikan di pesantren, surau, atau madrasah memainkan peran beragam saat bergulirnya ide Indonesia. Mereka tampil dengan tulisan dan pidato. Ada yang tergabung dalam perkumpulan, sarekat, atau partai politik. Jadi, ingatan kita sebenarnya bersinggungan dengan ketokohan dan keindonesiaan. Di situ, keislaman dialami dan diejawantahkan dalam keberagaman, yang mendapat pengaruh dari pelbagai sumber, termasuk lokalitas. 

Kita kita mengingat cerita, bukan sejarah. Namun, cerita yang dibuat Mansur Samin agak memanggil kita agar kembali menekuni sejarah. Yang disajikan adalah cerita anak, yang tidak memerlukan daftar pustaka atau data-data ilmiah. Mansur Samin berperan sebagai pencerita, yang dipengaruhi pengalaman masa kecil atau kesaksian-kesaksian yang diperolehnya. Cerita terjadi di sebuah desa, yang terdapat di Tapanuli Selatan. 

Dulu, Mansur Samin berasal dari situ, lantas bergerak ke Jawa. Ia lama berada di Solo, Jawa Tengah. Ia bersama teman-teman mengadakan beragam acara sastra, termasuk siaran sastra di radio. Puisi-puisi gubahan Mansur Samin yang dimuat di banyak majalah, rata-rata ditulis di Solo. Pada akhirnya, ia tidak hanya menulis puisi. Pada masa Orde Baru, Mansur Samin justru rajin menulis cerita untuk anak dan remaja. Ia mendapatkan keajaiban dari kebijakan Inpres dalam perbukuan yang ditandatangani Soeharto. Di kalangan penulis dan penerbit masa lalu, Mansur Samin mendapat julukan “Raja Buku Inpres”.

Yang kita baca adalah buku cerita berjudul Luhut, yang diterbitkan oleh Indra Press, Jakarta, 1975. Luhut itu nama tokoh, anak yang berusia 10 tahun. Yang beberapa tahun kemarin rajin membaca berita atau menonton berita di televisi mungkin kepikiran Luhut yang ada dalam pusat kekuasaan. Ingat, kita sedang membaca kesusastraan anak, bukan kekuasaan.
Mansur Samin mengisahkan Luhut, Dolok, dan teman-teman. Mereka mengikuti pelajaran ilmu-ilmu umum di SD, pagi sampai siang. Malam hari, anak-anak itu belajar di madrasah, yang bertempat di langgar. Yang kita ikuti adalah cerita di desa. Apakah pembaca ingin membayangkan desa yang indah, rukun, dan makmur? Bagi para pembaca cerita gubahan Mansur Samin, bayangan itu ditunda dulu.

Deskripsi awal memang memikat: “Sekeliling tampak bukit-bukit kecil. Di sana, tumbuh hutan lebat, semak belukar dan lalang luas. Di beberapa lembah, terlihat pepohonan dunia: manggis, nangka, duku, dan mangga. Di ujung lembah, ada ladang sayur. Di lekuk tebing, mengalir sebuah sungai kecil. Sepanjang tepi sungai, terhampar luas. Di situ, tumbuh padi sedang menguning. Di suatu lembah yang agak landai tampak berbaris beberapa rumah dan gubuk. Sederet rumah dan gubuk beratap seng, berdinding papan. Lainnya beratap ijuk dan berdinding bambu. Itulah desa Malumbo. Jauh dari kota di daerah Tapanuli Selatan.” Kata-kata yang memudahkan kita melihat desa, tempat yang sekarang makin dikangeni. 

Semula, imajinasi desa yang membuat kita jeda dari ruwetnya kota dan zaman yang terlalu teknologis. Yang diceritakan Mansur Samin itu masa lalu. Penerangan bersumber listrik adalah kelaziman. Di desa, anak-anak yang berjalan saat malam memerlukan obor dari belarak atau bambu. Mereka berjalan denga menyadari gelap. Obor itu menerangi tapi tidak dijamin selalu menyala atau terang. Anak-anak yang memiliki malam, bukannya takut malam yang berwajah gelap.

Biasanya, Luhut dan teman-teman berjalan bareng menuju madrasah. Di perjalanan, ada yang bersenandung atau ngobrol. Bergerak untuk iman dan ilmu. Yang mereka pelajari di madrasah adalah kitab suci dan ilmu-ilmu agama, yang berbeda dengan ilmu-ilmu dipelajari saat belajar di SD, pagi sampai siang. Yang mengajar di madrasah adalah Ali Ahmad dan Mukmin. Dua sosok yang bertugas mengajar agama sekaligus membentuk kepribadian anak-anak, yang bersumber Islam.

Pokok cerita adalah hubungan Luhut dan Dolok. Sejak awal sampai akhir, Mansur Samin menjadikan dua tokoh itu sering terlibat dalam masalah-masalah. Mengapa itu diutamakan ketimbang muatan dakwah? Mansur Samin mengerti situasi kesusastraan Indonesia. Ia pun mengamati perkembangan dakwah. Misi berdakwah dalam cerita anak boleh diwujudkan tapi tidak boleh keterlaluan. 

Yang suka berulah adalah Dolok. Buku untuk mengaji milik Luhut disembunyikan. Di hadapan teman-teman, Dolok sering menghina Luhut. Anak-anak itu dalam persaingan gengsi. Luhut memilih kalem atau tahu diri. Dolok malah kebablasan. Ia memang anak dari keluarga kaya. Bukti yang paling jelas adalah ayahnya memiliki radio.

Setiap kenakalan Dolok yang diketahui guru biasanya mendapat hukuman. Namun, Dolok sulit kapok. Ia mengulangi dan mengulangi tanpa rasa malu. Yang fatal, Dolok menghajar Luhut. Peristiwa itu diketahui teman-teman. Dolok merasa yang paling kuat dan berkuasa. Teman-teman mendapat ancaman. Akibatnya, Dolok makin sombong. 

Yang terbaca khas cerita anak. Pengarang menyajikan pergaulan anak-anak, keinginan belajar agama, dan pembentukan kepribadian. Pembaca yang cermat sebenarnya menemukan beberapa hal yang maksudnya berdakwah. Mansur Samin tidak gampang memanjangkan agar mirip khotbah. Yang terpenting adalah dua tokoh yang akhirnya berubah. Dolok itu pembenci dan pendendam. Luhut memilih mengalah meski dicap penakut. Pada akhirnya, perkelahian dan perdebatan membuat hubungan keduanya membaik di akhir cerita.
Kita menyimak dulu sebab perubahan-perubahan yang terjadi pada Luhut. Pada suatu hari, ia dihajar Dolok. Tubuh terluka. Beruntung, ia diselamatkan oleh tetangga. Yang terjadi, ia diajari pencak silat tapi diam-diam. Bulan-bulan berlalu, akhirnya Luhut mampu membela diri saat dihajar Dolok. Kekalahan dan luka dialami Dolok. Masalah belum berakhir. Dolok makin dendam, mengajak teman-temannya untuk mengeroyok Luhut. 

Pelajaran yang diterima Luhut dari tetangga atau guru pencak silat: “Harus membela yang lemah. Harus menegakkan keadilan dan kebenaran. Harus sopan dalam pergaulan. Hormat kepada guru. Berbakti kepada orang tua. Tunduk kepada peraturan yang berlaku. Menjalankan ajaran agama dengan sungguh-sungguh. Tidak boleh memamerkan kehebatan diri pribadi. Tidak boleh berbuat sewenang-wenang. Tidak boleh mencemarkan kehormatan orang lain.” Pelajaran itu dipahami dan diamalkan. Di akhir cerita, Luhut dan Dolok saling minta maaf. Mereka pun berteman, yang menjadikan lakon di desa itu indah, bukan lagi perkelahian dan saling benci.


_______

Penulis 

Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com 

Saturday, June 6, 2026

Resensi Kabut | Pekarangan Membantah Kemustahilan

Oleh Kabut


Pekarangan, lema masih betah menghuni kamus-kamus di Indonesia, dari kamus kecik sampai kamus besar. Di situ, kita mudah mengetahui pengertian dan membayangkan yang “sebenarnya”. Kamus tidak selalu menjadi patokan kebenaran. Pekarangan ada tapi tiada. Apa yang dimaksud ada dan tiada? Kamus memberikan pengertian yang membuat pembacanya ingin memiliki pekarangan jika kelak berhasil membeli tanah atau membuat rumah. Ada yang mudah membayangkan pekarangan bila ia mendapatkan warisan rumah dan tanah yang luas. Pekarangan itu tiada saat pengertian dalam kamus tidak dapat dibuktikan secara nyata di permukiman padat yang ada di kota-kota.

Yang tinggal di kota biasanya mendambakan punya pekarangan. Namun, mereka paham bila harga tanah sangat mahal. Berdirinya rumah saja memerlukan ongkos yang banyak. Maka, tanah yang sempit mendingan digunakan untuk bangunan. Gagasan adanya pekarangan berada dalam imajinasi saja. Pekarangan masih ditemui di kota-kota asal yang punya rumah itu kaya. Ia hidup di tanah yang luas. Rumah dibuat megah. Ada pekarangan yang menjadikan rumah itu bertambah indah oleh tanaman, patung, kolam, dan lain-lain.


Di desa, kita belum terlalu kesulitan menemukan rumah-rumah yang memiliki pekarangan. Sejak mula, pembuatan rumah memang ditentukan keselarasan. Artinya, rumah tidak sekadar rumah. Di sekitar rumah, orang-orang masih bisa memelihara tanaman dan binatang. Pekarangan condong dimengerti orang-orang desa, yang lahan-lahannya belum diserbu oleh para pengusaha mata duitan, yang menganggap kebun atau lahan kosong disulap menjadi perumahan. 


Pada masa kekuasaan Soekarno dan Soeharto, pekarangan menjadi tema yang masuk dalam pidato atau terjelaskan melalui para menteri dan pejabat. Para penguasa sangat serius memikirkan nasib rakyat. Kebutuhan papan memang harus diwujudkan agar Indonesia tidak selalu dicap negara miskin. Yang tidak boleh diabaikan adalah kehidupan rakyat yang tidak menghuni rumah sempit dan kumuh. Rakyat berhak hidup di rumah yang ada pekarangannya. Di situ, mereka berusaha menjadi manusia yang berfaedah. Apa yang dimaksud berfaedah? 


Kita membaca buku cerita anak yang berjudul Pekarangan Rumahku (1983) yang ditulis oleh Trim Sutidja. Gambar-gambar dibuat oleh Mulaydi W. Buku tipis diterbitkan Bunda Karya, Jakarta. Buku yang menjelaskan pekarangan ketimbang mengisahkan pekarangan. Pada awalnya, yang membaca menganggap itu cerita untuk anak-anak. Pembaca yang teliti dan menjaga kewarasan lekas sadar, yang dibacanya adalah buku penjelasan mirip ensiklopedi.


Buku dijadikan bacaan bagi anak-anak yang masih belajar di SD. Pada masa 1980-an, bacaan itu belum terlalu bermasalah. Indonesia belum sumpek. Bayangan tentang desa masih indah. Kota-kota belum terkutuk. Yang pasti, desa-desa menjadi referensi penting dalam perwujudan impian Indonesia yang sejahtera dan makmur. Namun, yang dimanjakan adalah kota. Pada persaingan peran, kita mengingat pekarangan.


Di halaman-halaman awal, kita seolah membaca cerita. Trim Sutidja menulis: “Rumahku di desa, jauh dari kota. Desa subur, penduduknya pun makmur. Desaku terletak di daerah ngarai. Di sebelahh utara nan jauh di sana, berdiri tegak Gunung Sumbing. Seakan-akan melindungi  kami di lembah ini, dari gangguan kejahatan dan angkara murka.” Yang terbaca memang paragraf-paragraf yang niatnya bercerita. Ajakan menyatakan itu cerita ditambah gambar-gambar yang sederhan tapi mengesankan. Menit-menit awal, yang terbaca masih dimengerti cerita.


Yang disajikan adalah keluarga yang menghuni rumah sederhana tapi pekarangannya luas. Di situ, ditulis setengah hektar. Pembaca mulai berimajinasi pekarangan dan rumah, termasuk penghuni rumah (keluarga). Trim Sutidja menampilkan keluarga yang bahagia. Keluarga yang wajib menjadi contoh di Indonesia. Keluarga produktif, bukan keluarga konsumtif. Yang sangat menentukan adalah pekarangan.


Indonesia akan bahagia dan selamat bila memiliki pembuktian atas keluarga yang diceritakan atau dijelaskan Trim Sutidja. Yang terbaca: “Di pekarangan rumahku banyak tumbuh pohon-pohon. Bermacam-macam tumbuhan sengaja ditanam ayah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Kata ayah, di pekarangan rumahku terdapat bank hidup, apotik hidup, warung hidup, dan toko bahan bangunan hidup. Semua itu terdapat di pekarangan rumahku. Sejak halaman itu pembaca tersadarkan sedang membaca buku penuh penjesalan. Anggaplah ensiklopedi yang menyamar. Namun, pekarangan sebagai tema sangat berkebalikan dengan berita-berita buruk di Indonesia mengenai permukiman dan flora-fauna. 


Pembaca belajar tentang beragam sebutan. Bank hidup adalah bermacam tanaman yang menghasilkan bahan perdagangan. Apotik hidup adalah tanaman-tanaman yang bisa digunakan untuk obat atau kepentingan kesehatan. Warung hidup berarti tanaman-tanaman digunakan untuk keperluan dapur sehari-hari. Selanjutnya, toko bahan bangunan hidup. Pohon-pohon di pekarangan bisa digunakan untuk membangun atau memperbaiki rumah. Keluarga itu diceritakan berhasil mengelola pekarangan. Sosok yang terpenting adalah ayah. Pekarangan menggagalkan mereka menjadi konsumtif. Soeharto bila mengetahuinya pasti bangga, yang akibatnya memberikan penghargaan agar dicontoh ribuan keluarga di seantero Indonesia.


Apakah pembaca cuma mendapat istilah dan pengertian? Halaman-halaman buku tidak lagi bercerita. Yang terbaca adalah nama-nama tanaman atau pohon. Di situ, ada manfaat yang bermacam-macam. Pekarangan adalah jawaban semua kebutuhan. Keluarga tidak memiliki ketergantungan terhadap pasar dan toko. Pekarangan memberikan banya: tanaman dan binatang. 


Maka, halaman-halaman mulai berisi penjelasan, yang membuat pembaca kehilangan semangat gara-gara semula mengiranya cerita. Trim Sutedja menulis: “Di belakang rumahku, sebelah kamar mandi, tumbuh pohon belimbing. Buahnya besar-besar, berwarna kuning. Ayah menanam mangga golek dan manalagi. Buah mangga golek besar-besar. Bentuknya agak panjang, hampir menyerupai buah pepaya. Untuk membuat rujak, buah mangga mentah manalagi lebih enak.” Pembaca diajak belajar lagi nama-nama tanaman, yang berbeda-beda manfaatnya. Mulailah terbukti yang dibaca adalah sejenis ensiklopedi tumbuhan atau pohon, yang dilengkapi masalah binatang.


Trim Sutidja merasa tidak bersalah bila tidak bercerita. Ia meyakini yang ditulisnya sangat penting dalam kepentingan menyelamatkan Indonesia, yang mulai kehilangan pekarangan. Pada awalnya, pekarangan itu tumbuhan. Lantas, Tri Sutidja menulis: “Aku juga memelihara ayam. Induknya tiga ekor, yang jantan seekor, dan anaknya ada dua belas ekor.” Apakah cukup ayam? Selanjutnya: “Kami juga memelihara kerbau. Tetapi, kerbau kami pelihara bukan untuk dipotong. Melainkan untuk membantu ayah mengerjakan sawah.” Apa lagi? Yang membaca mengetahui keluarga itu memiliki kolam dengan beragam ikan.


Keluarga yang teladan. Bapak, ibu, dan anak memiliki banyak kesibukan setiap hari. Pemicunya adalah pekarangan. Yang mengherankan adalah kesaktian bapak dan caranya membagi waktu. Ia masih mengurusi sawah. Pekarangan berisi macam-macam tanaman dan hewan peliharaan. Yang berimajinasi malah kelelahan mengetahui kehidupan sehari-hari. Pekarangan itu pasti membutuhkan perawatan, yang menyita waktu dan tenaga. Pembaca jangan berpikiran itu mustahil.


Di halaman terakhir buku, pembaca yang hidup di kota, menghuni rumah sempit tanpa pekarangan dipastikan iri. Yang ditulis Trim Sutidja: “Itulah pekarangan rumahku. Segala kebutuhan keluargaku hampir semuanya terdapat di situ. Tempat yang sangat teduh karena penuh ditumbuhi dengan pepohonan…. Aku sangat mencintai rumah dan pekarangan. Karena di situ aku dilahirkan dan dibesarkan oleh kedua orang tuaku…” Anak itu mendapat banyak pelajaran di pekarangan, yang tidak semuanya diajarkan di sekolah.


____


Penulis


Kabut, penulis lepas.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 



Saturday, May 30, 2026

Resensi Kabut | Bocah Menulis Indonesia

Oleh Kabut


Indonesia yang penuh kejutan setiap hari dipicu oleh beragam omongan yang disampaikan presiden, menteri, dan para pejabat (sangat) penting. Kita mula-mula terkejut tapi perlahan mulai terbiasa. Apakah terkejut masih akan terus terjadi? Yang masih berdebar mendingan berdoa. Yang takut boleh sembunyi di gua-gua terpencil.

Kejutan-kejutan itu mendapat tanggapan dari para tokoh melalui tayangan-tayangan di media sosial. Anehnya, keramaian yang tercipta tidak menjamin berkurangnya kejutan di Indonesia. Yang bikin geleng-geleng kepala, anak-anak mulai ikutan mengomentari kejutan-kejutan di Indonesia. Mereka bermunculan di beragam tayangan, yang membuat kita tertawa. Artinya, tanggapan terhadap kebijakan-kebijakan disajikan melalui omongan bersifat humor atau lagu-lagu yang bergelimang tawa. Anak-anak mengerti lakon Indonesia. Mereka tidak membuat esai untuk dimuat di koran atau majalah. Yang mereka lakukan adalah bersikap di depan kamera, lantas disuguhkan di media sosial. 

Kita kadang berharap anak-anak mengisahkan hal-hal lain saja ketimbang bersinggungan politik. Namun, kesadaran politik telah menular. Akibatnya, anak-anaknya yang suka membuat tayangan tergoda ikut membuat tanggapan atau mencipta hiburan yang mengingatkan publik bahwa Indonesia itu “negara seribu kejutan”.   

Pada masa lalu, anak-anak yang melek politik atau situasi sosial bisa bercakap bareng keluarga atau teman-teman. Di situ, mereka berharap terus memuliakan Indonesia meski bersedih atas hal-hal buruk. Anak-anak menggunakan bahasa yang sederhana, belum dicampuri istilah-istilah asing seperti yang biasa diucapkan para pengamat politik dan kaum intelektual. Pada saat anak-anak tidak berkata-kata, garapan gambar bisa menyatakan yang dipikirkannya tentang Indonesia. 

Apakah anak-anak di seantero di Indonesia tetap percaya bahwa puisi bakal ikut mengubah nasib Indonesia? Dulu, kita mengingat puisi-puisi gubahan M Yamin, Sutan Takdir Alisjahbana, Chairil Anwar, Rendra, Taufiq Ismail, Wiji Thukul, dan lain-lain memberi warna dalam arus pembentukan dan pemuliaan Indonesia. Puisi-puisi memang tak kentara bila menjadikan Indonesia berharap terang dan girang. Yang biasa bermunculan adalah puisi-puisi yang ingin menyelamatkan Indonesia. Kita punya catatan tentang puisi-puisi gubahan anak, yang mengalir dalam pemaknaan Indonesia, dari masa ke masa? Jawaban yang susah.

Pada 2004, terbit buku berjudul Untuk Bunda dan Dunia. Buku terbitan DAR! Mizan itu berisi puisi-puisi gubahan Abdurahman Faiz. Pada saat terbit, penggubah puisi berumur 8 tahun. Indonesia mendapat persembahan buku puisi dari anak. Pada masa-masa sebelumnya, terbit beberapa “puisi anak” tapi yang menulis adalah orang-orang dewasa. Mereka membuat puisi untuk dibaca anak-anak. Faiz muncul sebagai penggubah puisi anak, yang dibaca oleh anak. Kaum dewasa pun boleh membaca sambil melacak tautan-tautan puisi dan kondisi Indonesia.

Judul buku terbaca sederhana. Para pembaca tidak mengira bakal bertemu puisi-puisi yang membuktikan anak berhak menanggapi masalah-masalah besar dan mengejutkan di Indonesia. Ia dalam keluguan sekaligus keberanian. Bagaimana ia mampu menulis puisi yang mendokumentasi dan mengiringi lakon Indonesia? Ia mungkin rajin membaca koran, menonton televisi, atau mendengar omongan dari kaum dewasa. Yang pasti, ia melihat dan merasakan Indonesia yang belum membahagiakan. Bagi yang penasaran atas puisi-puisinya sedikit mendapat keterangan. Faiz itu anak dari pengarang yang terkenal di Indonesia: Helvy Tiana Rosa.

Penjelasan tercantum dalam buku: “Dari dua puluh sajak Faiz yang ditulisnya mulai Juli 2001 hingga November 2003 ini, 8 mengenai ibu dan ayahnya, 7 tentang situasi sosial, dan 5 tentang tokoh masyarakat.” Yang menulis puisi dilahirkan di Jakarta, 15 November 1995. Ia hadir dalam suasana setengah abad Indonesia merdeka. Anak itu bertumbuh dengan rangsang sastra dalam keluarga. Yang dilakukannya adalah membuat tulisan: “Tapi, kalau menulis sajak, ia memilih layer telepon genggam yang kecil untuk menaruh larik-larik sajaknya.” Cara yang berbeda dari nostalgia kita mengenai penggubah puisi: yang menulis di kertas atau menggunakan mesin tik. Faiz mengalami zaman yang bergerak cepat dengan beragam benda-benda ajaib.

Kita membaca puisi yang berjudul “Tujuh Luka di Hari Ulangtahunku”. Faiz menulisnya pada tanggal 15 November 2003. Apa yang bisa kita ingat tentang 2003? Faiz memberi dokumentasi melalui puisi: Sehari sebelum ulangtahunku/ aku terjatuh di selokan besar/ ada tujuh luka membekas, berdarah/ aku mencoba tertawa, malah meringis// Sehari sebelum ulangtahunku/ negeriku masih juga begitu/ lebih dari tujuh luka membekas/ kemiskinan, kejahatan/ korupsi di mana-mana/ pengangguran, pengungsi/ jadi pemandangan yang meletihkan mata/ menyakitkan hati. Kita kagum mengetahui anak yang semestinya berbahagia dalam ulang tahun malah membuat renungan Indonesia. Ia terbukti peka dan berani menyatakan pendapat, yang termaktub dalam UUD 1945. 

Ia membahasakan Indonesia terluka, sama dengan tubuhnya yang terluka. Namun, luka Indonesia itu lebih menyakitkan. Bagaimana cara menyembuhkan luka Indonesia. Faiz percaya bahwa luka di tubuhnya akan bisa sembuh. Yang dipikirkannya adalah Indonesia akan terus terluka, sakit yang tidak pernah sembuh. Tragis!

Bait-bait yang bisa membuat kita merinding membayangkan anak mengisahkan Indonesia: Tapi ada yang seperti lucu/ di negeriku/ orang yang ketahuan berbuat jahat/ tidak selalu dihukum/ namun orang baik bisa dipenjara// Pada ulang tahunku yang kedelapan/ aku berdiri di sini dengan tujuh luka/ sambil membayangkan Indonesia Raya/ dan selokan besar itu// Tiba-tiba aku ingin menangis. Kita menduga ia menangis untuk Indonesia, tidak sekadar menangisi tubuh yang terluka. Ia sangat mencintai Indonesia. Diri yang bertambah umur bukan meraih bahagia sepenuhnya tapi dibikin mewek oleh kenyataan-kenyataan di Indonesia. Faiz yang menangis mungkin agak terhibur bila mendapat hadiah dari keluarga dan teman. Apakah ia menginginkan hadiah itu Indonesia yang makmur dan demokratis?

Faiz tidak memikirkan dirinya sendiri. Pada masa bertumbuh, ia belajar mengerti orang lain. Di keluarga, ia pasti sudah mengetahui peran dan dampak. Di Indonesia, ia mulai mengerti perbedaan peran yang “diperebutkan” demi pelbagai misi. Maka, ia menulis puisi yang berjudul; “Siapa Mau Jadi Presiden?” Puisi ditulis pada 2003. Siapa yang sedang berkuasa di Indonesia?

Puisi buatan Faiz bisa menjadi rekaman silam sekaligus kita baca berulang setiap hajatan demokrasi, yang biasanya dijanjikan setiap lima tahun. Faiz menulis: menjadi presiden itu/ berarti melayani/ dengan segenap hati/ rakyat yang meminta suka/ dan menyerahkan jutaan/ keranjang dukanya/ padamu. Ingatlah, yang menulis adalah anak. Ia ingin mengenali presiden. Yang dipikiran adalah tugas, bukan seribu cara untuk menjadi presiden. Faiz belum memasalahkan hajatan demokrasi yang boros duit, pamer kebohongan, bersaing curang, dan membodohkan rakyat. 

Yang sedang rajin mengungkapkan protes dan kritik kepada presiden dengan masa jabatan 2024-2029 boleh mengutip puisi gubahan Faiz. Puisi yang sangat cocok bila dibaca lagi. Kita boleh merekam saat membaca puisi, yang nantinya diunggah di media sosial. Kita mungkin hanya mengetik ulang, diedarkan ke pelbagai saluran agar mendapatkan pembaca. Apakah kita menanti Faiz yang sudah bertambah umur untuk membaca puisinya? Puisi ini memberi sentuhan berbeda dari arus kritik yang bermunculan di Indonesia. Puisi yang lugu dan lugas tapi mengadung keberanian.

Pada 2003, Faiz menulis puisi yang berjudul “Kepada Koruptor”. Puisi yang akan awet, bertahan lama di Indonesia. Pada saat korupsi masih terus terjadi, puisi tetap penting dibaca meski tidak menyelesaikan masalah. Puisi yang semestinya dibaca para koruptor: Gantilah makanan bapak/ dengan nasi putih, sayur dan daging/ jangan makan uang kami. Ia mengetahui pelaku korupsi sering bapak-bapak ketimbang ibu-ibu. Padahal, jumlah koruptor di Indonesia terus meningkat. Ibu-ibu yang masuk daftar koruptor pun bertambah. 

Apa yang diingatkan Faiz? Pemahaman korupsi melalui makanan. Faiz saat menulis puisi belum digegerkan MBG. Maka, ia memberi ajakan yang sopan agar koruptor makan nasi putih, sayur, dan daging. Perbuatan “makan uang rakyat” dianggap jahat. Perbuatan yang menghancurkan Indonesia. Peringatan yang lain: Telah bapak saksikan/ orang-orang miskin memenuhi/ seluruh negeri/ tidakkan menggetarkan bapak? Kita membayangkan puisi ini sering dibaca di KPK atau Kejaksaan Agung. Kita pun menanti Faiz yang sudah dewasa membuat puisi-puisi bertema korupsi mumpung Indonesia sulit bahagia.


____


Penulis


Kabut, penulis lepas.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Saturday, May 23, 2026

Resensi Kabut | Minggu Bertanda Seru

Oleh Kabut



Di sebaran sastra dunia, yang dibaca anak dan remaja, muncul nama para tokoh. Nama-nama yang akan selalu dikenang sepanjang masa. Semua itu nama asing. Soalnya, kita membaca cerita anak yang memukau berasal dari negara-negera di Eropa dan Amerika Serikat. Sastra anak mereka mendunia cepat melalui pelbagai cara. Yang terpenting melalui kolonialisme. Artinya, Eropa yang datang ke Asia atau Indonesia turut “mengenalkan” sastra yang bertumbuh di Eropa selama ratusan tahun. Datanglah cerita-cerita anak di Nusantara, yang semula berbahasa asing. Beberapa diterjemahkan dalam bahasa Melayu, Sunda, Jawa, dan lain-lain.


Nama-nama para tokoh terus teringat. Buku-buku cerita anak dari Eropa dan Amerika Serikat yang terpenting terbit dan laku, sampai sekarang. Bagaimana sastra anak yang bertumbuh di Indonesia? Kita saja tidak mampu membuat daftar 100 pengarang, yang meramaikan sastra anak di Indonesia. Usaha menyebut judul buku-buku pun sangat sulit. Lantas, nama para tokoh yang dibuat pengarang dalam bukunya gampang dilupakan. Nama-nama yang sulit tenar dan menjadi referensi bagi anak-anak. Pengecualian tentu terjadi. 


Di majalah Bobo, 5 Agustus 1989, tersaji iklan yang mengembalikan ingatan kita kepada tokoh yang hidup dalam cerita. Tokoh yang sempat berkuasa pada masanya. Siapa? Yang hidup pada masa 1980-an dan 1990-an mengingat tokoh cerita itu bernama Lupus.


Yang ditulis dalam iklan: “Oom dan tante butuh teman buat si kecil? Dan, oom dan tante sebegitu sibuk sampai tak ada waktu mencarikan teman buat si kecil? Atau, tak sempat lagi mendongeng kala si kecil menjelang tidur?” Iklan yang berlagak pintar. Buktinya, pengajuan tiga pertanyaan, yang sudah disiapkan jawabannya. Jawaban yang benar, tidak mungkin salah. Iklan yang berisi pertanyaan dan jawaban. Kita membaca kalimat jangan dianggap memerintah, boleh disebut jawaban: “Hadirkan ‘Lupus Kecil’ saat ini juga.” Iklan buku yang tidak lucu. Iklan untuk kaum dewasa, yang diminta beli buku untuk anak kecil. Pada babak sebelumnya, Lupus ditampilkan sebagai remaja. Lantas, dihidupkanlah Lupus yang masih kecil.


Apa keunggulan dari cerita yang dibuat oleh Hilman dan Boim? Iklan di majalah Bobo diupayakan mujarab. Penerbit ingin seri Lupus saat masih kecil laris seperti seri Lupus sebelumnya. Jadi, keterangan yang mengandung kebenaran dan kesejatian diberikan: “Lupus Kecil adalah cerita Lupus yang masih kelas satu SD. Berisikan pengalaman dan kejadian yang pasti dialami pula oleh putra-putri anda. Tentu si kecil senang berteman dengan lupus. Mereka tak berjarak. Mereka punya hobi yang sama, seperti nonton TV, main sepeda, makan siomai, atau sembunyi di kolong tempat tidur.” Ingatlah, yang diceritakan adalah bocah-bocah masa 1980-an atau berlatar Orde Baru. Jangan membayangkan bocah-bocah dalam cerita itu masih bisa ditemukan dalam abad XXI.


Kita buktikan dengan membuka buku berjudul Lupus Kecil: Pingsan Together. Hilman dan Boim Lebon belum kapok menghibur pembaca. Buku diterbitkan Gramedia, 2003. Namun, Lupus bukan lagi murid kelas satu SD. Ia menjadi tokoh yang bertumbuh. Yang harus diperhatikan: Lupus adalah murid kelas empat SD dan Lulu berada di kelas tiga.


Kita menikmati satu cerita yang mengakibatkan tawa selama belasan menit. Apa yang dipilih dalam buku berukuran kecil dan tipis, yang dihiasi ilustrasi apik? Kita memilih yang berjudul “Kerja di Hari Minggu? Oh, No!” Judul yang sangat tidak menarik tapi dijamin lucunya.


Mami, Lupus, dan Lulu di rumah. Mereka mau mendefinisikan Minggu yang berbeda dari biasanya. Kebetulan, Papi tidak ada di rumah. Maka, rumah itu nasibnya ditentukan tiga orang. Minggu bukan untuk bermalas-malasan atau mencari hiburan sepuasnya. Apa yang terjadi? Kita membaca sambil capek tertawa.


Lupus dan Lulu protes, tidak ingin hari Minggu hancur maknanya sebagai hari libur. Namun, setiap protes mendapat jawaban paling benar dari Mami, yang sulit banget digugat meski mendatangkan seribu jin. Kita mengutip omongan Mami yang dahsyat: “Ingat, sekali Mami canangkan wajib belajar sembilan tahun, eh sori, jadi ngaco deh. Sekali Mami canangkan kerja hari ini, ya kalian harus kerja. Titik!” Aneh, Mami bilang titik tapi yang terlihat adalah tanda seru. 


Mami yang tidak mungkin kejam tapi tidak berniat menjadi komedian. Yang dikatakan: “Kalo menolak, kalian akan dihukum cambuk! Bukan, kalian dihukum untuk bikin cambuk sebanyak-banyaknya, lalu dijual ke pasar!” Mami yang mahir berlogika dan berbahasa. Tujuannya ketertiban dan kepatuhan dalam rumah.


Mereka berhasil kerja bakti, membersihkan beberapa ruangan. Tugas paling penting adalah menyingkirkan dan membuang barang-barang yang menyesaki beberapa ruang. Barang-barang itu dianggap tidak berguna, tidak boleh menjadikan rumah terasa sempit. Membuang hukumnya wajib sesuai ketentuan yang dibuat Mami. Kita membayangkan tiga orang itu benar-benar merusak makna libur pada hari Minggu. Mereka malah menggerakkan tubuh, berdebat, dan pesta keringat. Apakah itu masih bisa terjadi pada masa sekarang?


Yang dikatakan Mami cocok dengan yang terjadi di banyak rumah. Mami menjelaskan secara tegas: “Tapi, kalian pernah nggak merasa, kadang kita susah mencari sesuatu, misalnya mencari martil, gunting kuku, silet, atau benda-benda kecil lainnya? Kenapa? Karena di tempat-tempat yang semestinya berisi barang-barang itu, kini sudah terisi benda-benda lain. Di dapur saja, yang mestinya cuma ada perabot dapur, sekarang juga diisi barang-barang bekas. Rantai sepeda, kursi patah, kaleng bekas oli. Nah, tujuan kita ini adalah mengenyahkan semua benda-benda yang tidak pada tempatnya, dan semua benda yang kita anggap tidak penting lagi bagi kita!” Pidato itu ditambahi janji bahwa Lupus dan Lulu bila berhasil dalam pengenyahan itu bakal mendapat ganjaran yang menarik.


Jam-jam berlalu. Beberapa ruang berhasil dibersihkan dari barang-barang. Yang tampak, ruang-ruang menjadi longgar, tidak sesak dan berantakan lagi. Namun, kerja belum selesai. Sore, Papi pulang bawa cerita. Mereka bakal mendapat rezeki asal Papi bisa mengambil sertifikat tanah. Pokoknya, Papi sedang berbisnis yang menguntungkan. Syaratnya harus ada sertifikat. Di rumah, ia berusaha mengambilnya. Suasana yang berubah di rumah membuatnya kagum sekaligus khawatir. Rumah dalam kondisi rapi, bersih, dan indah. Minggu yang unik.


Di kamar, Mami mengatakan bahwa tidak mungkin ada sertifikat. Papi menjawab enteng: “Memang karena Papi nggak menyimpannya di sana. Di kamar kita sudah penuh barang. Sempit. Baju di mana-mana. Bedak-bedak Mami bertebaran. Jadinya, surat-surat itu Papi simpan di rak dapur. Di sana kan kosong.” Omongan itu menimbulkan gegeran. Minggu menjadi panik.


Papi gagal menemukan. Yang terjadi: “Hei, ke mana surat-surat itu? Dan, ke mana barang-barang koleksi Papi lainnya? Setang sepeda tua, mesin tik tua, oh, itu semua barang-barang yang nanti bakalan mahal…. Bundel-bundel majalah pada ke mana? Rak sepatu peninggalan zaman revolusi. Itu kan kenang-kenangan dari seorang pahlawan yang tak dikenal?”


Panik. Mami segera memerintah Lupus dan Lulu bekerja lagi. Mereka dipaksa mengambil lagi barang-barang yang dibuang di bak sampah. Barang-barang itu punya Papi, koleksi untuk kelak dijual. Lupus dan Lulu yang lelah berani protes. Mami tidak bisa disalahkan dan dikalahkan. Iming-iming yang diberikan agar patuh: “Nanti hadiahnya dobel.” Keluarga yang bikin pembaca tertawa. Kalimat yang terindah sebagai penutup cerita: “Akhirnya, rumah Lupus kembali seperti sedia kala.” 


Cerita yang mengesankan. Kita memang tidak memberi perhatian besar kepada Lupus dan Lulu gara-gara ocehan yang seru itu milik Mami dan Papi. Tetap saja cerita bisa dinikmati anak-anak yang membutuhkan tawa agar hari-harinya tidak menyiksa dan menjemukan.


_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com