View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Postingan Terbaru

Monday, February 2, 2026

Lapak Buku | "Suara dari Alaska dan Sejumlah Esai Lainnya" Karya Heru Anwari

 


Judul: Suara dari Alaska dan Sejumlah Esai Lainnya

Penulis: Heru Anwari
Penerbit: #Komentar

Terbit: Maret 2026

Tebal: viii+95 hlm.

Harga: Rp65.000



Buku Suara dari Alaska dan Sejumlah Esai Lainnya karya Heru Anwari merupakan kumpulan esai reflektif yang lahir dari perjalanan lintas negara, terutama Amerika Serikat dan Alaska. Melalui pengalaman sebagai atlet BMX dan seniman pertunjukan, penulis mengajak pembaca menelusuri sisi lain peradaban modern: gemerlap kapitalisme, kebebasan yang menyesakkan, serta krisis nilai kemanusiaan. Setiap esai merekam perjumpaan personal dengan isu materialisme, korupsi, kerja, kebahagiaan, hingga spiritualitas, yang dipertautkan dengan realitas Indonesia sebagai “tanah surga” yang kerap terlupa. Dengan bahasa jujur dan narasi kontemplatif, buku ini menjadi catatan batin seorang pengelana yang mempertanyakan makna hidup, harga diri, dan iman di tengah dunia yang menjadikan uang sebagai pusat segalanya.



Kontak:

087771480255 (Penerbit)


Saturday, January 31, 2026

Resensi Kabut | Ubi: Panen dan Memasak

Oleh Kabut



Indonesia tidak hanya padi. Indonesia pun bukan cuma jagung. Di tanah Indonesia yang subur, orang-orang menanam dan memanen ubi. Sejak ratusan tahun lalu, penduduk di Nusantara memiliki beragam olahan dengan bahan baku ubi. Penamaan makanan macam-macam memberi khazanah kuliner yang punya banyak cerita. Jadi, Indonesia pun ubi.


Pada zaman berlimpah (jenis) makanan, yang berdatangan dari Barat, ubi sering diremehkan. Konon, ubi adalah makanan kelas bawah. Ada yang mengecap ubi itu “desa” atau “kampungan”. Artinya, ubi sangat sulit bersaing dengan makanan-makanan baru atau modern. Namun, ubi adalah tanaman yang mudah berkembang di Indonesia, yang hasilnya melimpah. Pada masa lalu, biografi dan sejarah memuat ubi dalam hal-hal yang penting dan sepele. 


Di hadapan anak-anak, ubi mungkin sulit berarti. Mereka telanjur mendapat godaan-godaan kemodernan, yang mengajarkan selera baru. Mereka menyantap makanan-makanan yang tampilannya melampaui sajian tradisional. Mereka dibuat percaya dengan nama-nama asing, yang menjadikan makanan naik martabatnya. 


Pada masa Orde Baru, ubi biasa berada di tingkat bawah. Anak-anak mengetahuinya tapi belum tentu menggemari dan mau menyantapnya. Di pelbagai desa, segala olahan ubi adalah santapan kaum tua. Olahan-olahan ubi menjadi nostalgia atau kenangan, yang perlahan terpinggirkan.


Namun, ada usaha agar anak-anak di Indonesia tidak melupakan ubi. Yang dilakukan adalah mengarang cerita untuk anak. Soedharma KD menggubah cerita berjudul Hantjurnja Ketjurangan. Buku yang tipis diterbitkan oleh Pustaka Jaya, 1972. Judulnya tidak menggunakan diksi ubi tapi pembaca disuguhi cerita dan penjelasan mengenai ubi. Yang agak membantu imajinasi adalah gambar di sampul depan yang dibuat oleh Ipe Ma’aruf.


Buku itu masuk babak awal dari keseriusan Pustaka Jaya menerbitkan buku cerit anak. Banyak judul yang terbit tapi mengalami kesulitan dalam pemasaran. Pada masa 1970-an, kita mencatat bahwa Pustaka Jaya berhasil “membujuk” pemerintah melakukan pembelian buku cerita anak ribuan eksemplar, yang dibagikan ke banyak perpustakaan. Kerja atas nama buku kelak dikenal sebagai “Inpres”. Proyek buku Inpres memicu ratusan pengarang menghasilkan banyak cerita anak yang berstempel “milik negara” atau “tidak diperdagangkan”. Artinya, pemerintah membeli buku dari penerbit-penerbit, yang disediakan untuk anak-anak dan kaum remaja agar gemar membaca.


Novel tipis berjudul Hantjurnja Ketjurangan membuktikan selera Pustaka Jaya. Novel yang mengandung nasihat dan keilmuan. Yang dimaksud keilmuan adalah biologi atau pertanian. Pengarang memiliki pemahaman mengenai ubi, yang disampaikannya kepada anak-anak melalui cerita, bukan makalah ilmiah. 


Yang menjadi tokoh dalam cerita atau murid-murid di SD, yang beralamat di desa. Pembaca diminta meresmikan bahwa ubi itu khas desa. Shoedarma bercerita kegembiraan anak-anak, berangkat dari sekolah menuju sawah untuk panen ubi. 


Peristiwa yang seru: “Sepandjang djalan mereka selalu menjanji. Diselingi dengan bertepuk tangan dan bersorak-sorai. Bahkan kelakar terdengar djuga, bertjampur dengan gelak tertawa. Mereka bukan semua tjalon pradjurit. Tetapi mereka panda djuga berbaris tertib.” Pasukan itu mau merayakan sukacita: panen ubi. Sekolah menjadi pihak yang memberi pelajaran dan membimbing murid-muridnya paham ubi.


Cerita sengaja menghendaki memberi ajaran baik kepada para pembaca. Kita yang membacanya menyadari adanya propaganda: “Kira-kira enam bulan jang lalu oleh Lembaga Sosial Desa, SD Sukaredja mendapat pindjaman sawah kira-kira seperempat hektar luasnja. Separo dari sawah itu ditanami padi, sedang separo lagi dibuat ladang. Musim ini mereka panen ubi pohon. Sebentar lagi mereka akan panen padi.” Kita kagum mengetahui pihak sekolah tidak sekadar melelahkan anak-anak dengan beragam mata pelajaran. Pada hari-hari tertentu, anak-anak diajak dalam pelajaran dan pengalaman bertani. Ingat, mereka adalah murid-murid kelas 4 dan 5. 


Kerja bersama menjadikan panen ubi penuh kegembiraan. Anak-anak lelah tapi senang. Mereka membuktikan kerja yang membutuhkan kesungguhan dan kesabaran. Yang ditanam adalah ubi “mukibat”. Penjelasan disampaikan pengarang: “Adapun ibu mukibat ialah hasil okulasi ubi karet dan ubi biasa, hasil pertjobaan Pak Mukibat. Ubi biasa sebagai pokok batang jang nantinja menghasilkan ubi, sedangkan ubi karet sebagai batang dan tjabang-tjabang jang bertugas memasak makanan dengan daun-daun jang lebat.” Pelajaran penting agar anak-anak menghargai ilmu pertanian dan tokoh di Indonesia.


Mereka beruntung dan bahagia: “Adapun hasil panen mereka kira-kira empat kwintal. Dua kwintal dimasak dan dua kwintal lagi dilelangkan. Hasilnja untuk mentjukupi kebutuhan alat-alat sekolah. Sedangkan ketela hasil okulasi itu dibagi-bagikan kepada pak lurah, pak penilik sekolah, pak ketua lembaga sosial desa, djuga kepada pak mantri kesehatan dan pak mantri pertanian. Sisanja dilelang.” Cerita yang terlalu apik. Guru dan murid dalam keberhasilan. Para pembaca geleng-geleng kepala: kagum dan sulit percaya. 


Cerita yang akhirnya kekurangan pikat. Keberhasilan kadang kurang memberi gejolak bagi pembaca. Pengarang malah menambahi “keberhasilan” dengan pidato saat upacara di sekolah: “Keistimewaan negeri merdeka. Kita harus pandai bekerdja. Supaja apabila kalian sudah besar kelak, kalian dapat bekerdja sendiri. Kita harus selalu bekerdja dan selalu membangun.” Kalimat-kalimat biasa diproduksi oleh pemerintah. Jadi, novel itu menginginkan anak-anak mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah, yang saat itu dipimpin Soeharto.


Hasil panen membuat anak-anak kerja bakti lagi untuk memasak. Mereka memberi kontribusi macam-macam. Sekolah menjadi tempat terindah, bukan hanya untuk membuka buku pelajaran dan mengerjakan tugas di buku tulis. Kita mengikuti nasihat dalam upacara: “Untuk memasak ubi sadja dibutuhkan kerukunan jang erat. Ada jang mempunjai sebutir kelapa, tetapi ada djuga jang tidak mempunjai apa-apa. Ada jang mempunjai lima gandu gula djawa, tetapi ada jang hanja mempunjai selembar daun pisang. Semuanja dikumpulkan untuk mentjiptakan suatu masakan jang lezat. Dan, kita sama-sama telah merasakan masakan itu.”


Sekali lagi, pengarang hendak mencipta cerita yang sempurna. SD di desa menjadi contoh kebahagiaan bukan gara-gara pelajaran saja tapi mengikutkan bekerja di pertanian. Kesempurnaan itu makin kentara dengan memasak bersama dan menikmati beragam makanan berbahan ubi. Jadi, novel bisa dijadikan referensi agar murid-murid di seantero Indonesia memuliakan ubi.


Apakah sekolah seperti itu masih bisa ditemukan di abad XXI? Kita malah bingung dengan kebijakan-kebijakan pemerintah, yang membuat sekolah menjadi tempat yang banyak perintah atau tanda seru. Sekolah mendapat beragam petunjuk agar menyukseskan segala program buatan pemerintah. Rekayasa terjadi menimbulkan kekonyolan. Kita mendingan tersesat dalam novel gubahan Soedharma ketimbang memikirkan pemerintah dan sekolah masa sekarang.


______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 




Saturday, January 24, 2026

Resensi Kabut | Tebu dan Padi

Oleh Kabut



Di Indonesia banyak cerita rakyat atau cerita anak mengenai pertanian. Cerita itu memikat. Yang mendengar mudah mengingatnya. Yang membaca dapat membuat catatan dan renungan. Pertanian menjadikan anak-anak mengerti Indonesia. 


Konon, Indonesia itu memiliki tanah yang subuh. Indonesia bisa makmur. Anak-anak perlahan agak meragukan bila Indonesia makmur. Pernyataan bahwa “bisa” itu malah sering gagal. Apa yang menyebabkan Indonesia belum makmur? Anak-anak tidak mendapat jawaban yang jujur dari penguasa. Mereka kadang menanyakan kepada guru atau orang dewasa. Pertanyaan yang mudah tapi sangat sulit dijawab.


Sejak dulu, Nusantara itu padi. Yang diimajinasikan banyak orang memang kesuburan adalah padi. Padahal, yang ditanam di seantero Nusantara tidak hanya padi. Beragam tanaman dapat bertumbuh subur di Indonesia, menghasilkan daun, buah, bunga, dan lain-lain. Mengapa yang sering muncul adalah padi? 


Pada akhir abad XIX, tanah jajahan berubah gara-gara pendirian pabrik-pabrik gula. Lahan-lahan luas dan subur ditanami tebu. Pesta keuntungan terjadi. Gula adalah industri yang sangat manis. Banyak pihak yang berebutan laba. Akibatnya, konflik dan kehancuran terjadi akibat tebu. Di Jawa, lakon pertanian tampak menggembirakan gara-gara tebu. Namun, akhirnya, muncul petaka-petaka.


Pada awal abad XX, manisnya industri gula masih terasa. Gula sangat dibutuhkan di pasar dunia. Jawa turut menjadi pemasok yang besar. Semuanya menjadi lesu pada masa 1930-an. Penyebabnya adalah depresi ekonomi. Yang terjadi adalah kebingungan, kehancuran, dan impian yang tersisa. Di Indonesia, industri gula tidak mati. Pertanian tebu masih berlaku di pelbagai tempat. Keuntungan masih diharapkan meski tidak sefantastis masa lalu.


Kita kembali teringat padi dan tebu saat membaca buku cerita anak berjudul Bunga-Bunga Tebu gubahan Bung Smas, yang diterbitkan Gramedia, 1983. Buku yang dicetak apik dalam pilihan kertas, huruf, dan garapan sampul. Gambar itu mudah membuka nostalgia Orde Baru saat pertanian tebu masih ikut menjadi andalan pembangunan nasional. Yang sukses memang swasembada beras. Namun, masalah tebu dan gula juga mendapat perhatian besar dari pemerintah dan penguasaha. Lakon itu seolah menganjurkan para petani menanam tebu ketimbang padi.


Yang diceritakan Bung Smas bukan sejarah. Pembaca akan mengetahui perbedaan nasib petani di desa. Banyak yang meraup untuk setelah menanam tebu di sawah. Sedikit orang yang tetap menanam padi dengan gagal panen atau hasil yang sangat sedikit. Maka, kemiskinan terjadi. Desa bercerita perbedaan nasib gara-gara tebu dan padi.


Beno, anak yang masih murid SD, lahir dan tumbuh dalam keluarga miskin. Bapaknya adalah petani, yang selalu memilih padi. Bapaknya berbeda pendapat dengan para tetangga yang memilih menanam tebu. Kemiskinan menimpa sambil melihat tetangga-tetangga yang sejahtera dari pertanian tebu. Beno menentukan sikap atas nasibnya.


Di sekolah, Beno sulit menjadi murid pintar. Ia terbiasa gagal dalam mata pelajaran Matematika. Di rumah, ia sering dianggap salah oleh bapaknya, yang biasa memberi pertanyaan tapi sulit terjawab. Pengarang mengisahkan nasib Beno yang dimarahi bapak gara-gara suka bermain. Bapaknya bertanya tentang pentingnya melakukan sesuatu yang bermanfaat ketimbang bermain. Maka, bapaknya bertanya: “Apa lagi kerjamu, Ben?”


Yang terjadi: “Pertanyaan itu mudah sekali. Jawabannya yang sulit. Seperti soal Matematika pagi tadi. Soalnya mudah. Jawabannya sukar didapat karena semalam Beno tidak belajar. Akibatnya, Pak Tom, guru kelas empat itu, menghukumnya. Disuruh berdiri dengan sebelah kaki di depan kelas!” Beno menyadari kesalahan dan kelemahannya. Hiburannya adalah bermain atau membuat mainan.


Di desanya sedang musim tebu. Beno memanfaatkan gelagah untuk membuat mainan. Hari-harinya adalah membuat mainan sambil mengasuh adiknya yang masih kecil dan suka mengompol. Beno menyadari bapaknya dalam kemiskinan dan ibunya menjadi buruh penumbuk padi agar keluarga bisa makan. Beno yang suka bermain membuat bapaknya jengkel. 


Bapaknya dianggap bersalah oleh para tetangga. Mereka mengajaknya menanam tebu tapi bapaknya tetap memilih padi. Para pembaca yang paham sejarah dan pertanian sebenarnya dapat membahas secara kritis kehidupan agraris. Padi tidak selalu menjanjikan keluarga petani bisa makan dan sejahtera. Namun, pertanian tebu tidak selamanya hanya bercerita keuntungan. Ada hal-hal yang merugikan. Yang kita baca adalah cerita anak, yang belum mengharuskan memikirkan masalah-masalah besar.


Beno tidak selalu bernasib buruk. Pada suatu hari, ia diminta temannya membuatkan mainan berupa mobil-mobilan dari gelagah tebu. Yang terjadi di luar pikiran Beno, teman itu menjuual mainan mobil dengan harga lumayan. Akhirnya, berdua melakukan kerja bareng dalam membuat dan memasakan mobil-mobilan dari gelagah. Beno mendapatkan uang. Ia belum terlalu mengerti uang tapi menyadari kemiskinannya tidak terlalu fatal. 


Kemahirannya membuat mainan sedikit menjadi jawaban atas masalah-masalah yang menimpanya. Yang disuguhkan pengarang agar pembaca mengagumi Beno: “Dalam hatinya, Beno bersyukur diam-diam. Tuhan tak pernah melupakannya. Lewat kecerdikan sahabatnya, ia memperoleh rezeki dari Tuhan. Meskipun cukup berat juga kerjanya. Selama empat hari harus membuat lima buah mobil gelagah!” Hari-hari bekerja tapi rasanya bermain. Yang membahagiakan adalah dapat rezeki.


Akibatnya, Beno makin emoh belajar. Ia malah sudah pasrah gagal dalam mengerjakan tugas Matematika. Pilihannya adalah dihukum. Matematika adalah pelajaran yang sangat sulit. Di kelas, ia mengantuk. Penentuan sikap sudah jelas. Beno memilih membuat mobil-mobilan dari gelagah. Rezeki yang diperolehnya bisa untuk membahagiakan adik dan membantu kebutuhan keluarga. 


Kejutan demi kejutan terjadi. Bapaknya membantu mencarikan gelagah. Beno sempat tidak percaya saat mengetahui gurunya yang biasa memberi hukuman malah memberi bantuan berupa lem. Pokoknya, Beno menyadari gelagah (tebu) menjawab kesulitan-kesulitan hidup. Namun, ia belajar memahami bapaknya yang tetap memilih bertanam padi, tidak mau seperti tetangga menanam tebu.


Cerita anak yang digubah Bung Smas sebenarnya menantang anak-anak yang membacanya untuk “berdiskusi”. Cerita yang sederhana tapi menyimpan banyak masalah pertanian. Ada pula masalah pendidikan. Pokoknya, cerita yang seru bila dijadikan sumber diskusi di kelas. Di Indonesia, kebiasaan berdiskusi setelah anak-anak membaca buku sangat jarang terjadi. Tugas yang sering adalah membuat sinopsis atau resensi.


Di sekolah, Beno bukan anak yang pintar. Ia tersiksa oleh Matematika. Gurunya tidak mengecapnya bodoh. Beno tetap anak istimewa. Yang menentukan adalah kemahirannya dalam membuat mainan. Buku cerita yang memberi penghargaan tidak melulu ilmu dari beragam mata pelajaran. 


Gurunya malah memberi anjuran untuk mendukung Beno: “Coba kaubuat kerajinan lainnya selain mobil-mobilan. Misalnya rumah Minangkabau atau masjid, gereja, rumah joglo, dan yang lainnya. Barang-barang seperti itu sangat laku di kota. Bawa saja ke toko kerajinan. Pasti akan laku. Ingat, jangan terlalu murah memberi harga. Perhitungkan harga bahan bakunya, waktu dan tenaga penggarapanmu. Kalau perhitunganmu cermat, usahamu akan maju.” Nasihat itu diberikan kepada Beno yang masih murid SD, yang bermimpi bisa melanjutkan belajar di SMP meski bapaknya sudah menyatakan tidak ada anggaran. Cerita yang apik!


_________


Pemulis


Kabut, penulis lepas.


Kirim naskah ke

redakksingewiyak@gmail.com


Saturday, January 17, 2026

Resensi Kabut | Pemancing dan Kesopanan

Resensi Kabut



Beberapa orang mengaku susah menulis cerita anak. Beberapa orang mudah membaca cerita anak. Kita tidak bermaksud membuat perbandingan sembrono mengenai peran pengarang dan pembaca. Yang kita urusi adalah cerita anak, terutama di Indonesia.


Apa-apa yang menjadi masalah dalam penulisan cerita anak? Yang paling menyulitkan adalah menghindari masalah sekolah. Para tokoh yang diceritakan sering masih murid di SD atau SMP. Bagaimana caranya agar tokoh yang dihadirkan dalam cerita “terpisah” dari sekolah? Susah. Pengarang yang membuat dongeng berlatar masa kerajaan masih bisa mengelak. Pengarang yang menaruh para tokoh dalam zaman modern mengenali (lembaga) pendidikan pasti kerepotan jika mengabsenkan sekolah.


Bercerita anak-anak yang belajar di sekolah itu membosankan! Anak-anak yang berseragam. Mereka yang membuka buku pelajaran. Guru yang mengajar di depan kelas. Pokoknya, cerita yang mengandung sekolah itu sudah bikin bosan yang sulit ditanggulangi. Kita sangat paham lakon menjadi murid. Kita menyadari peran sekolah, pengaruh guru, dan wajib belajar. Cerita anak yang masih berkaitan sekolah terus saja ditulis di Indonesia, menghasilkan ratusan atau ribuan judul.


Yang menulis cerita anak, yang tokohnya murid dan latarnya sekolah masih berlaku sampai sekarang. Kita sulit menolak. Buku-buku baru yang diterbitkan masih “mementingkan” sekolah. Pengecualian hanya beberapa cerita saja yang berani menjauh atau “mengharamkan” sekolah. Apakah itu terjadi dalam penulisan cerita anak-anak di pelbagai negara? Benar. Ratusan novel anak yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia membawa sekolah. Ada beberapa yang berusaha mengurangi kadar sekolah atau memilih latar masa silam yang “terlalu” khayal. Yang main-main fantasi masih memungkinkan abai sekolah.


Pengarang menjelaskan: “Anak-anak Indonesia dewasa ini telah semakin pandai. Mereka cerdas dan banyak akalnya. Saya kira, anak-anak pembaca buku ini juga demikian. Si Oton dan kawan-kawannya yang diceritakan dalam buku ini adalah anak-anak masa kini. Mereka rajin bersekolah dan senang bergaul dengan sesamanya.”


Yang kita baca adalah keterangan yang diberikan E Siswoyo dalam buku berjudul Si Oton 2: Warisan. Buku cerita anak yang diterbitkan Gramedia, 1985. Pengarang gamblang mementingkan anak yang belajar di sekolah. Ia berani menyatakan anak-anak Indonesia pandai. Apakah itu dampak dari kebijakan-kebijakan rezim Orde Baru yang mengaku ingin “mencerdaskan” anak-anak di seantero Indonesia? 


Sejak mula, pengarang sudah menginginkan ceritanya dibaca oleh anak-anak. Artinya, cocok dibaca agar anak-anak mendapat hikmah. Misi yang terbesar adalah buku masuk sekolah, menjadi koleksi di perpustakaan. Buku yang bakal direstui kepala sekolah dan guru gara-gara isinya memberi hal-hal penting dalam perkembangan anak.


Yang menulis cerita mengaku tetap berurusan sekolah. Ia bisa mengelak sejenak dengan pengisahan selama liburan. Sekolah tetap penting. Maka, sejak awal, ia memberi pujian kepada anak-anak yang rajin belajar dan sadar makna pendidikan. Pada babak akhir, pengarang makin mementingkan sekolah, yang membuktikan anak-anak belajar secara sungguh-sungguh setelah menikmati liburan.


Kita tunda sebentar masalah cerita anak, belajar di sekolah, dan liburan. Yang istimewa dari buku berjudul Si Oton: Warisan adalah peran E Siswoyo. Kita mencatat ia adalah pengarang sekaligus pembuat gambar di sampul, disempurnakan dengan membuat ilustrasi di beberapa halaman. Di industri buku, ia memiliki tiga peran. Artinya, ia sangat paham kepustakaan anak. Jadi, pertimbangan isi cerita mendapat keselarasan di sampul dan ilustrasi saat pembaca membuka halaman demi halaman. Anggaplah itu capaian besar dalam biografi E Siswoyo.


Apa yang diceritakan? Ia mengisahkan anak-anak yang berlibur. Mereka sering berkumpul setiap hari, pergi menyusuri sungai. Di sana, mereka melihat para pemancing. Anak-anak penasaran dengan kenikmatan pemancing, tertarik dengan ikan-ikan. Ingatlah, yang diceritakan adalah hari-hari tanpa pelajaran di sekolah. Pergi ke sungai dirasakan anak-anak sebagai tamasya. Pengarang mengimbuhinya sebagai cara memuliakan alam. 


Pengalaman yang indah bagi Oton dan teman-teman: “Kami sering mandi di belik yang airnya sejuk dan jernih di tepian sungai. Sering pula kami hanya menyusuri tepian hingga jauh ke hulu, dan melihat orang yang sedang menjala ataupun memancing ikan.” Peristiwa yang sederhana tapi membahagiakan anak-anak yang terlalu lama diwajibkan belajar di sekolah.


Sosok penting dalam cerita adalah pemancing. Anak-anak berada dalam alam dan keinginan mengetahui lakon pemancing. Maka, mereka mendekat dan mengajak bicara. Pemancing itu disebut Pak Tua. Sebutan berdasarkan umur dan tampilan. Anak-anak cepat akrab dengan Pak Tua. Namun, ada keanehan gara-gara Agung meminta ikan milik pemancing. Oton mencoba memberi tahu cara yang sopan untuk meminta. Agung belum paham. Pokoknya, ia minta ikan dan berharap mendapatkan.


Pembaca mulai dikenalkan dengan Agung. Ia adalah anak dari pengusaha, yang terbiasa segala keinginannya terpenuhi. Sifat itu terbawa saat bersama orang lain. Oton tidak membencinya, berusaha memberi nasihat dan penyadaran. Anak-anak yang membaca buku cerita gubahan E Siswoyo perlahan mendapat pengajaran sopan santun atau tata krama. Pelajaran yang penting dalam pergaulan sosial, tidak kalah dengan beberapa mata pelajaran di sekolah. Oton menjadi panutan bagi teman-temannya dalam tata krama, yang semestinya dimiliki anak saat berada di rumah, sekolah, dan masyarakat. Artinya, novel tipis itu mengandung misi besar sesuai yang dikehendaki oleh kurikulum dan pengukuhan kepribadian Indonesia.


Perkataan Oton kepada Agung, yang sebenarnya nasihat kepada para pembaca: “Saya kira engkau bertindak kurang tepat, Agung. Siapa tahu ikan itu sangat bernilai bagi Pak Tua. Ia tukang memancing. Hidupnya mungkin tergantung dari hasil memancingnya. Tiba-tiba hasilnya kau ambil. Engkau yang enak, orang yang rugi.” Oton, sosok anak yang dibuat oleh pengarang memiliki banyak pengetahuan dan sadar segala perbuatan yang berpatokan kesopanan. Cara mengingatkan itu baik, tidak mutlak menyalahkan tapi memberi petunjuk sesuai pedoman dalam masyarakat.


Di rumah, Agung pun terlibat debat mengenai tata krama. Ikan yang dibawanya dari sungai, yang dimintanya dari pemancing, disantap di rumah. Ibunya menanyakan asal ikan, lalu berkata: “Jadi, Agung sudah menjadi peminta-minta ya?” Agung lugas menjawab: “Pak Tua itu sangat baik hati, Bu. Ia dengan rela memberikan ikan yang saya minta, kemarin maupun tadi.” Agung tetap belum mengetahui kesalahannya. Masalah inilah yang semestinya diperhatikan anak-anak selaku pembaca. Mereka diajak belajar melalui kata-kata dan perbuatan.


Bapaknya sebagai pengusaha ikut urun omongan: “Agung, tidak seharusnya kau begitu. Kamu tahu Pak Tua itu hidupnya miskin sehingga ia bekerja sebagai pemancing. Ikan hasil pancingannya itu mungkin sangat berguna bagi keluarganya. Jika tidak kauambil mungkin ikan itu dapat ia jual untuk membeli beras.” Kita bisa membedakan perkataan Oton sebagai teman dan perkataan bapak-ibu dalam posisi kaya. Pendapat bapak dan ibu Agung “berlebihan” seolah kasihan dengan nasib pemancing yang diduganya miskin. Padahal, pemancing itu pensiunan mantri guru. 


Di kesusastraan anak Indonesia, novel buatan E Siswoyo sangat patut menjadi contoh novel bergelimang ajaran moral. Percakapan dan debat yang bermunculan memasalahkan kesopanan atau tata krama. Yang dihadirkan adalah tokoh anak-anak dan tokoh yang sudah tua. Perbedaan umur dan status sosial mengajarkan perkara-perkara yang penting direnungkan para pembaca. Novel yang selaras hasrat Soeharto mencipta “masyarakat sopan” atau “masyarakat patuh”.


Yang agak menggelikan adalah usaha bapak Agung dalam membalas budi kebaikan Pak Tua. Ia menitip kepada Agung berupa korek api dan kotak tembakau yang apik agar diberikan kepada Pak Tua. Di situ, anak-anak mengerti bahwa pemancing yang sabar dalam waktu yang lama niscaya merokok. Yang dipelajari anak-anak adalah memancing, bukan merokok. Pak Tua itu mengajari anak-anak memancing meski diselingi merokok. Jadi, merokok bukan pesan yang terpenting dalam novel.


_______

Penulis 


Kabut, penulis lepas.



redaksingewiyak@gmail.com 


Friday, January 16, 2026

Dakwah | Seputar Isrā’-Mi‘rāj

Oleh Ust. Drs. Abu Bakar



Isrā’ dan Mi‘rāj merupakan peristiwa luar biasa dalam sejarah kenabian yang tidak dapat dijangkau oleh nalar akal manusia yang sangat terbatas. Peristiwa ini menempuh jarak yang amat jauh dalam waktu yang sangat singkat. Jarak antara Masjidil Haram di Makkah dan Masjidil Aqsha di Palestina kurang lebih 1.000 kilometer. Sementara perjalanan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntahā, melewati tujuh lapis langit, berada pada jarak yang tidak terbayangkan oleh perhitungan manusia.


Ilmu astronomi modern baru mampu mengukur jarak antara bumi dan matahari, yakni sekitar 149.578.000 kilometer. Itupun seluruh benda langit tersebut masih berada di bawah langit pertama. Oleh karena itu, peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj hanya dapat diterima dengan pendekatan iman yang kokoh. Apabila Allah Swt. menghendaki sesuatu, maka tidak berlaku hukum alam bagi-Nya. Semua menjadi mudah dan tunduk kepada kehendak-Nya.


Menurut para sejarawan, peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj terjadi pada tahun ke-11 atau ke-12 sejak Nabi Muhammad ﷺ diangkat menjadi Rasul, bertepatan dengan tanggal 27 Rajab, sekitar tahun 621 Masehi. Setahun setelah peristiwa tersebut, Nabi ﷺ berhijrah ke Madinah.


Isrā’ secara bahasa berarti memperjalankan. Secara istilah tarikh, Isrā’ adalah diperjalankannya Nabi Muhammad ﷺ pada malam hari dari suatu tempat ke tempat yang lain, yaitu dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina.


Peristiwa Isrā’ ini diabadikan oleh Allah Ta‘ālā dalam Al-Qur’an Surah Al-Isrā’ ayat 1:


سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ


Artinya:
"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."


Mi‘rāj secara bahasa berarti naik atau tangga untuk naik. Secara istilah, Mi‘rāj adalah naiknya Nabi Muhammad ﷺ ke langit, menembus tujuh lapis langit hingga sampai ke Sidratul Muntahā di kawasan pusat kerajaan Allah ‘Azza wa Jalla. Setiap lapisan langit dijaga oleh para malaikat, dan jarak antar-lapisan tersebut berada di luar jangkauan perhitungan manusia.


Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah Isrā’–Mi‘rāj terjadi dengan ruh saja atau dengan ruh dan jasad. Sebagian kecil ulama berpendapat bahwa peristiwa tersebut terjadi dengan ruh saja. Namun, jumhur ulama berpendapat bahwa Nabi Muhammad ﷺ diisrā’ dan dimi‘rājkan dengan ruh dan jasad sekaligus, dalam keadaan terjaga, bukan dalam mimpi.


Pendapat jumhur ini didasarkan pada firman Allah dalam Surah Al-Isrā’ ayat 1, khususnya pada dua kata kunci penting, yaitu سُبْحَانَ dan بِعَبْدِهِ. Kata سُبْحَانَ menunjukkan peristiwa yang sangat agung dan luar biasa. Jika peristiwa tersebut hanya berupa mimpi atau perjalanan ruh semata, maka tidaklah layak diawali dengan pengagungan sebesar itu.


Adapun kata بِعَبْدِهِ menunjukkan satu kesatuan antara ruh dan jasad. Dalam banyak ayat Al-Qur’an, kata ‘abd selalu merujuk pada manusia secara utuh, bukan ruh semata. Di antaranya:


أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰ عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ

Artinya:

“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika ia mengerjakan shalat?” (QS. Al-‘Alaq: 10)


Dan firman Allah Swt.:


وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا


Artinya:

“Dan sesungguhnya ketika hamba Allah berdiri menyembah-Nya, hampir saja mereka berdesak-desakan mengerumuninya.” (QS. Al-Jinn: 19)


Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa istilah ‘abd mencakup ruh dan jasad secara utuh. Oleh karena itu, pendapat jumhur ulama bahwa Isrā’–Mi‘rāj terjadi dengan ruh dan jasad adalah pendapat yang paling kuat dan didukung oleh dalil Al-Qur’an, hadis, serta kajian tafsir dan sirah.


Peristiwa Mi‘rāj dijelaskan dalam banyak hadis, baik yang sahih, hasan, maupun yang lemah. Hadis yang paling sahih diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik r.a. Rasulullah ﷺ bersabda:


أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ، وَهُوَ دَابَّةٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ...

(Hadis panjang)

Artinya:
"Aku didatangkan seekor Buraq, hewan yang lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal. Setiap langkahnya sejauh pandangan mata. Aku menungganginya hingga sampai ke Baitul Maqdis, lalu aku menambatkannya pada tempat para nabi biasa menambatkan kendaraan mereka. Kemudian aku masuk ke Masjid Baitul Maqdis dan melaksanakan shalat dua rakaat di dalamnya…"


Inti dari peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj adalah diturunkannya perintah shalat lima waktu. Pada awalnya, Allah Swt. mewajibkan shalat sebanyak lima puluh waktu dalam sehari semalam. Atas saran Nabi Musa a.s., Nabi Muhammad ﷺ berulang kali kembali menghadap Allah Swt. untuk meminta keringanan, hingga akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu.


Namun demikian, Allah Swt. memberikan jaminan bahwa shalat lima waktu tersebut tetap bernilai pahala lima puluh waktu. Hal ini karena setiap satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat.


Dengan demikian, peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj merupakan peristiwa akidah yang harus diyakini dengan keimanan yang teguh. Peristiwa ini terjadi dengan ruh dan jasad Nabi Muhammad ﷺ dalam keadaan terjaga, dan menjadi dasar diwajibkannya shalat lima waktu sebagai tiang agama Islam.

Semoga kajian ini bermanfaat dan menambah keteguhan iman kita.


Bārakallāhu fīkum.


Sumber Bacaan

  1. Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 3, hlm. 1.611 dan seterusnya.

  2. Tafsir Fathul Qadīr, Asy-Syaukani, Jilid 3, hlm. 285 dan seterusnya.

  3. Tafsir Kementerian Agama RI.

  4. Nūrul Yaqīn, Muhammad Hudari Bik, hlm. 69 dan seterusnya.

  5. Kapita Selekta Pengetahuan Agama Islam, Departemen Agama RI, dan sumber lainnya.



______

Penulis


Ust. Drs. Abu Bakar, Ketua MUI Kec. Pontang.



Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com 

Thursday, January 15, 2026

Esai Heru Anwari | Bertemu Sinta

Esai Heru Anwari



Perjalanan saya dari Miami menuju Doha memakan waktu 13 jam di atas pesawat. Biasanya saya habiskan untuk menyaksikan film, menulis, atau membaca. Perjalanan kali ini berbeda. Tiba-tiba saya bertemu dengan Sinta, wanita muda berumur 22 tahun. Personal yang friendly (mudah bergaul), ia menceritakan perjalanannya ke India untuk mengikuti kelas meditasi.


Ia menceritakan tentang bagaimana sulitnya mengatur kesehatan mental yang ia hadapi dalam berbagai persoalan. Saat saya katakan usianya masih muda, seolah ia tak menerimanya. “What do you mean young people?” tegasnya.


Saya katakan kepada Sinta bahwa kebanyakan anak muda mendapati persoalan cinta di usia 22 tahun. Tapi, tidak semua juga begitu. Salah satunya ya Sinta ini. Justru di usia mudanya, ia malah mencari ketenangan, bahkan antarbenua. Obrolan kami seperti saling terkoneksi. Saya tertarik dengan pernyataan Sinta bahwa ia akan mengunjungi India hanya untuk mengikuti kegiatan meditasi (berzikir jika di Islam; uzlah jika istilah sufistik), menjauh dari hiruk-pikuk dunia yang ramai.


Sinta terdaftar dengan kelompok atau organisasi meditasi di Virginia, Amerika. Lalu pada kesempatan akhir tahun ini, ia mengikuti trip meditation dengan jalan yoga sampai ke India. Kita tahu bahwa India merupakan negara yang sudah mewarisi meditasi sebagai ritual pembersihan jiwa dan jalan spiritual sejak ribuan tahun lalu. Bukti arkeologis seperti segel kuno dari Peradaban Lembah Sungai Indus (sekitar 3300-1900 SM) menunjukkan figur manusia dalam posisi meditasi. Ini membuktikan bahwa praktik pencarian kejernihan jiwa ini sudah ada jauh sebelum catatan sejarah modern dimulai.


Istilah "yoga" pertama kali muncul dalam kitab Rig Veda, salah satu teks tertua di dunia. Kemudian, dalam kitab Upanishad (sekitar 800-500 SM), meditasi mulai dijelaskan secara mendalam sebagai metode untuk memahami diri dalam (Atman) dan hubungannya dengan alam semesta (Brahman).


Saat mendengar yoga di India, saya tahu ini menarik untuk menjadi topik pembicaraan kami di atas pesawat. Sinta menjelaskan bahwa ia sangat struggle dengan kesehatan mentalnya karena ia berprofesi sebagai Holistic Financial Planner. Sangat penting untuk menjaga pikiran tetap jernih tanpa harus terdistraksi persoalan-persoalan kecil yang mengganggu pikirannya.


Saya mengingat bagaimana dan apa yang saya kerjakan di usia 22 tahun; sepertinya saya sudah memiliki anak, saya sudah memulai bisnis, dan saya sudah kontrak bersama sponsor perusahaan yang menjamin kehidupan bersepeda saya untuk keliling Indonesia. Pasti juga sudah banyak masalah; masalah bisnis, keluarga, dan sebagainya. Bagaimana saya menghadapinya? Mungkin saya diuntungkan memeluk agama, memiliki ritual yang dijaga seperti salat, tahajud, tahlil (mengirim doa), bahkan berselawat mengharap syafaat dari Nabi Muhammad saw. agar terus diberikan jalan keluar dan kedamaian. Pastinya ada guru (kiai sebagai orang yang dituakan).


Tapi, kita simak apa sebenarnya yang dicari Sinta. 


Sinta kesulitan mendaftarkan diri masuk ke dalam organisasi/klub yoga di Virginia hingga mentornya menyarankan untuk menempuh perjalanan ke India agar mendapatkan pengalaman meditasi spiritual. Sinta mengatakan bahwa ia sudah menempuh berbagai cara untuk mengatasi kesehatan mentalnya--atau bahasa kerennya mental health. Ia berkonsultasi ke dokter, menempuh jalur medicine (obat-obatan), hingga meditasi yoga. Sinta tak malu menceritakan bahwa ia banyak merokok dan minum sebagai pencarian jalan keluar persoalannya.


Saya teringat pada teori piramida pencarian manusia dari Ary Ginanjar Agustian (ESQ). Beliau menyebut fenomena ini sebagai jebakan "Pencarian Kebahagiaan Semu". Ada yang dirindukan dalam diri manusia yang terus-menerus dicari. Manusia secara alami bergerak mencari tiga hal, namun sering kali terjebak pada kulitnya saja:


1. Kekayaan (physical): Banyak orang mengira harta adalah ujung perjalanan. Tapi setelah kaya, banyak yang tetap merasa lelah, cemas, kebingungan, hampa, bahkan takut kehilangan harta tersebut.


2. Ketenaran (emotional): Banyak orang mencari pengakuan dan pujian. Namun, ketenaran justru sering mendatangkan tekanan mental karena harus selalu terlihat sempurna di mata orang lain.


3. Kebahagiaan (psychological): Orang mencari kesenangan lewat hiburan atau pencapaian. Tapi kebahagiaan ini sifatnya sementara (temporary); ia sangat bergantung pada kondisi luar yang rapuh.


Saya ceritakan juga kisah Nabi Adam a.s. dan Ibunda Hawa yang turun ke bumi—kisah tentang kerinduan. Bagaimana mereka "terlempar" dari rumah aslinya (surga) lalu turun ke dunia, dan sisa hidup mereka di bumi digunakan untuk mencari jalan kembali ke kedamaian tersebut. Saya katakan kalau kita semua manusia adalah dari surga, lalu ke bumi untuk kembali menemukan kedamaian (rida Allah), ya surga itu sendiri. Sontak pertanyaan aneh kembali muncul, “Apakah kamu percaya surga?” Panjang sekali jika harus saya ceritakan di tulisan ini. Lalu sampai kepada Sinta pun berkata “Makes sense,” (masuk akal).


Ya, sebenarnya manusia merupakan makhluk cahaya. Karena turun atau terlahir di bumi, lalu banyak mengonsumsi dan tumbuh dari bahan baku yang ada di bumi (tanah), maka manusia kesulitan untuk kembali menyatu kepada cahaya. Dan semua perjalanan manusia merindukan itu: kembali bersinar, bersatu dengan Cahaya, menebar kebaikan.


Mbah Nun berkata: “Jika kita melakukan kebaikan, dan orang lain berterima kasih atas kebaikan kita, kita telah berhasil mencahayai.”


Diskusi kami terus berlanjut semakin seru, sampai kepada pertanyaan-pertanyaan mengapa manusia beragama dan apa fungsinya. Saya jelaskan mengenai pandangan pribadi saya: salat untuk menjernihkan pikiran setiap hari. Ada jeda-jeda waktunya untuk memahami kembali rute tujuan perjalanan.


Ada gelas air putih di meja kursi pesawat, saya ibaratkan air itu keruh berwarna cokelat; kita tidak bisa melihat mana atau apa di dalamnya secara jelas. Itu yang terjadi jika distraksi di pikiran sedang kacau. Bingung mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Namun, jika kita melakukan meditasi atau salat tahajud (istilah Islam bangun malam hari), kita melakukan proses pengendapan. Esok kita akan mampu melihat sesuatu yang baru secara jelas. Mungkin sesuatu itu sudah ada, namun sebelumnya tidak terlihat jelas. Dan salat berfungsi untuk menjaga kejernihan tersebut setiap saat.


Lagi-lagi Sinta berkata: “Makes sense” (masuk akal). Saya katakan di usia Sinta yang muda, ia sangat hebat mau peduli pada kesehatan mental. Perjalanan ini bukan liburan atau main, justru penting bagi bisnisnya. Ia mengatakan bahwa dirinya seorang business owner. Ia harus mampu mengontrol pikirannya sendiri.


Saya mampu melihat sebegitu penting dan sulitnya orang lain mencari kedamaian dalam hidupnya. Begitu pun yang saya alami. Walaupun sering mendirikan salat, tapi saya masih sangat susah mendapat ketenangan-ketenangan tersebut jika tidak kuat mengamalkan agar iman terus kokoh.


“Menurutmu Amerika seperti apa?” Sinta kembali bertanya kepada saya. Sebelum saya menjawab, ia melanjutkan kalimatnya, “Evil semua” (semua jahat). 


Sinta sangat berani mengatakan itu.


“Kamu American (asli kelahiran AS), saya tidak berani mengatakan hal buruk terhadap Amerika walau aslinya seperti itu,” jawab saya. 


Memang, Sinta merupakan generasi kedua yang lahir dan besar di Amerika. Ia pun menyadari bahwa di sana panas gersang (hampa dari tujuan hidup, kebingungan). Orang-orang sudah banyak mencari jalan lain. Berhenti sejenak dari kesibukan atau rutinitas bukan suatu kemunduran, justru itu peningkatan yang baik dibanding kebutaan yang terus-menerus. Manusia harus ada jarak untuk melihat realitas yang terjadi. Cermin itu bisa terlihat jelas saat proses pengendapan (meditasi) usai berhenti dari keterjebakan, lalu bertanya arah tujuan pada diri sendiri. Tren di Barat menunjukkan hal yang anomali (kebiasaan yang berbeda). Gen Z di Amerika banyak lari ke astrologi, tarot, bahkan spiritual seperti yoga. Contoh nyatanya adalah Sinta ini.


Mas Sabrang menjelaskan di podcast YouTube-nya mengenai pola yang terjadi di alam semesta. Manusia selalu mencari, selalu merasa kurang. Ketika terasa terlalu dikekang oleh peraturan, manusia akan mencari kebebasan. Saat manusia merasa terlalu bebas, maka akan mencari peraturan. lama-lama akan kebingungan. Dalam society, manusia mencari rule. Saat di luar tidak ditemukan, manusia akan mencari ke dalam. Informasi esoteris (rahasia langit) yang memberi kepastian kepada manusia. Yang menutupi lingkaran yang tidak diketahui, maka konsep Tuhanlah yang menutupi lingkaran sehingga kita merasa stabil.


Begitu pentingnya dimensi spiritual bagi manusia. Tidak hanya olahraga, tapi perlu sekali olah jiwa. Tidak hanya makan untuk tubuh, tapi juga makanan rohani. Tidak hanya ada bumi, ada juga langit dalam tubuh manusia.


Sinta kembali bertanya, “Apa kamu happy?”


Apa yang dimaksud happy? Apakah bahagia itu tertawa dan berdendang menyanyi, berjoget? Bisa jadi orang yang sengaja banyak berdendang dan mendengarkan lagu, bahkan menggerak-gerakkan tubuhnya, justru sangat ragu terhadap kebahagiaannya. sehingga membuat ia mencari tools agar bahagia atau terlihat bahagia. Diam merenung berpikir tentang apa yang terjadi bukanlah suatu kondisi tidak bahagia. Justru itu proses management problem dalam diri agar hidup tetap berjalan dengan baik. 


Saya teringat pesan Mbah Nun kepada saudara Helmi Mustofa sebagai orang yang dekat dengan beliau--pesan kepada jemaah "Maiyah" mengenai management problem dalam diri. Sesuatu menjadi sesuatu dalam diri karena kita memberi tiga hal: space (ruang), time (waktu), energy (tenaga).  


Jika kebencian kita memberi ruang, memberi waktu, memberi energi, kebencian itu akan membara menjadi sesuatu yang berbahaya. Begitu juga kesedihan. Sedih tidak apa-apa lima menit, misalnya, cukup. Demikian dengan kesenangan. Senang jangan lama-lama, cukup 10 menit, misalnya. Selebihnya sudah kembali bekerja-mencipta, tidak euforia berlebihan.


Sebenarnya bahagia menurut Islam ada pada Surah Ar-Ra'd ayat 28:


"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram."


Artinya, bahagia itu adalah ketika hati "pulang" kepada penciptanya. Seperti ponsel yang diisi daya baterainya, jiwa yang ingat Tuhan akan merasa penuh dan tenang.


Esai ini akan saya tutup dengan puisi Maulana Jalaluddin Rumi:


Ku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno

Tiada tanda apa saja di dalam-Nya

Nuju ke pegunungan Herat ku melangkah

Dan ke Kandahar ku memandang

Dia tak di dataran tinggi

Tak pula di dataran rendah

Ku pergi ke puncak gunung Kaf yang menakjubkan

Yang ada cuma tenpat tinggal burung Anqa

Kutanya pula Bu Ali Sina, tiada jawaban, sama saja

Ku pergi ke Kakbah di Mekkah

Dia tak di sana

Lalu kejenguk dalam hatiku sendiri

Di situ kulihat diri-Nya

Di situ, tak di tempat lain


Doha, Qatar, 1 Januari 2026


_______


Penulis


Heru Anwari, BMX Freestyler Indonesia. Berkeliling ke berbagai negara bersama sepeda. Instagram: @heruanwari heruanwaribmx.com


redaksingewiyak@gmail.com


Tuesday, January 13, 2026

Proses Kreatif | Buku: Masa Lalu, Masa Depan

Oleh Encep Abdullah



Bagi seorang penulis, setiap pergantian tahun biasanya punya resolusi. Resolusi ini semacam catatan, harapan, bahkan tuntutan yang harus dicapai. Target saya sejak dulu mungkin tidak berubah: menghasilkan minimal satu buku per tahun. Tahun lalu, di akhir tahun saya paksakan menerbitkan buku novel remaja yang sudah lama mengendap di laptop. Buku tersebut saya bagikan saja PDF-nya di laman NGEWIYAK. Judulnya Sepotong Cinta. Sekadar bacaan hiburan ringan saja. 


Sebenarnya saya punya stok tulisan banyak, terutama puisi dan esai. Untuk puisi bisa dijadikan 2 buku dan esai 1 buku. Cerpen hanya satu biji. Memang agak payah dalam menulis cerpen ini. Entah kenapa. Motivasi untuk memaksakan menulisnya sudah tak sebergelora dan seberdebum—meminjam istilah Wan Anwar—seperti dulu. Selain puisi bahasa Indonesia, saya juga punya stok puisi bahasa Jawa Banten. Sepertinya belum terlalu memenuhi untuk disatukan menjadi buku. Masih butuh beberapa puisi lagi. 


Sebenarnya ke depan saya lebih tertarik membuat buku puisi atau cerpen berbahasa Jawa Banten. Saya belum punya. Mungkin ini yang akan menjadi PR saya. Namun, sebelum kepikiran itu, saya lebih dulu kepikiran untuk membukukan puisi-puisi Bahasa Jawa Banten yang dimuat di NGEWIYAK.com sejak 2021. Agak sayang kalau berdebu di sana. Khawatir NGEWIYAK sudah tak beroperasi lagi atau data-datanya hilang atau di-hack. Kalau dikumpulkan, lumayan banyak. Pasti para penulisnya senang karya mereka dibukukan. Cuma, waktunya belum saya siapkan untuk merekap ulang semua karya itu. Saat ini masih sibuk merapikan buku dakwah Setetes Embun karya Bapak saya, Ust. Drs. Abu Bakar. Kerjaan ini cukup melelahkan. Bayangkan, catatan Bapak saya itu sejak 2017 dan sudah menumpuk di laptop saya. Kisaran ada 2.000 halaman A4—sebenarnya bisa dirampingkan karena banyak tulisan yang bertema sama, bahkan salin-tempel dari catatan-catatan tahun sebelumnya. Saya bilang kepada Bapak, kayaknya saya cukupkan saja untuk diarsipkan, kecuali Bapak menulis tema yang berbeda.


Pada 2019 buku Bapak pernah saya rangkum jadi satu jilid buku—sekadar dumi. Itu pun banyak yang belum rapi, ayat-ayatnya banyak yang terbalik susunannya. Belakang ini, Bapak bilang bahwa tulisan-tulisan tersebut lebih baik dibukukan saja sebagai kenang-kenangan hidup Bapak. Saat Bapak bilang begitu, saya jadi agak sedih, seolah-olah Bapak mau pergi. Padahal alhamdulillah Beliau masih sehat walafiat, segar bugar. Semoga Allah memperpanjang usia beliau dan hidupnya berkah. Amin. Saya juga memberi saran kepada Bapak untuk menuliskan kisah hidupnya atau semacam autobiografi. Tapi, Bapak menjawab bahwa beliau bukan pujangga seperti Buya Hamka yang bisa luwes bercerita. Hidup Bapak saya sangat misterius, banyak hal yang belum terungkap akan pemikiran orisinal yang hendak disampaikan kepada umat. Mungkin dengan menulis autobiografi, Bapak bisa mengungkapkan hal-hal yang belum pernah disampaikan kepada orang lain. Saya bilang bahwa barangkali saya wawancara sedikit-demi sedikit saja hidup Bapak. Saya yakin ini akan sangat bermanfaat untuk dibaca, khususnya untuk anak-cucunya. 


Mengapa saya berpikiran semacam itu? Belakang ini, tepatnya dua bulan terakhir, saya tiba-tiba gandrung memesan buku-buku bekas. Bahkan ada buku H.B. Jassin yang dicetak pada tahun 1950. Buku tersebut masih bisa dibaca dengan baik walaupun tampak usang. Pikiran saya tentu tak hanya sedang memegang buku, melainkan juga merasa sedang memegang sebuah sejarah hidup seseorang, masa lalu, dan kadang saya berimajinasi sedang berada di tahun-tahun itu. Wah, padahal H.B. Jassin sudah tiada. Tapi, saya masih bisa pegang bukunya 70 tahun kemudian setelah buku itu dilahirkan. Sampai saya berkhayal, apakah 70 tahun yang akan datang buku cetakan pertama saya masih ada yang baca? Mungkin begitu ya rasanya usia panjang itu. Meninggalkan jejak-jejak pemikiran yang tertuang dalam buku. Maka, saya jadi termotivasi lagi untuk membaca ulang dan merapikan ulang tulisan-tulisan Bapak itu. Setidaknya Bapak bangga punya karya, bahkan akan dibedah pada Ramadan nanti di Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pontang. Saya jadi lebih semangat lagi menyusun ulang tulisan Bapak. Ini menjadi momentum penting dalam hidup Bapak punya label baru: penulis. 


Kembali kepada resolusi. Mungkin sudah terlalu banyak resolusi yang sudah tercapai sehingga saya tidak terlalu menggebu-gebu dalam dunia literasi ini. Saat ini ingin mengumpulkan buku sebanyak-banyaknya dan ingin punya perpustakaan pribadi yang besar. Bulan lalu, saya sudah habis-habisan beli buku. Selama hidup, baru kali ini saya beli buku 150 buku dalam sebulan, tentu dengan harga yang beragam. Pengeluaran ini lebih banyak dari pembelian mana pun yang sudah-sudah. Bahkan harus membuat rak buku baru, itu pun masih kurang. Tapi, saya tidak pernah merasa menyesal. Bahkan istri saya selalu mendukung—walaupun kebutuhan dapur harus diutamakan terlebih dahulu, kadang beli buku-buku tertentu masih sembunyi-sembunyi. 


Apakah semua buku yang saya beli itu dibaca? Tidak juga. Sebagiannya sebagai koleksi, sebagiannya dibaca para siswa saya di sekolah, bahkan dibawa pulang dan sering tak kembali. Apakah ada rasa penyesalan? Ada, kalau buku-buku yang dipinjam itu langka, atau harganya cukup mahal, atau buku kesayangan saya. Tapi, apa mau dikata, mereka juga perlu baca buku-buku itu. Agar mengurangi risiko hilang tak kembali itu, saya suruh mereka beli sendiri saja, beli online. Beli buku bekas, tapi orisinal dan murah. Anak-anak malah menyuruh saya yang membelikan mereka buku. Duit mereka saya yang pegang. Saya tidak mau. Kalau tidak membeli sendiri, mereka tidak punya pengalaman bagaimana cara membeli buku. Saya juga tidak tahu apakah setelah mereka belajar bersama saya, mereka jadi candu membaca. Kalau sudah candu, tidak mungkin pinjam kepada saya terus-menerus. Maka, mengajarkan mereka bagaimana cara dan membiasakan beli buku online juga sangat perlu agar mereka terbiasa membeli sendiri.


Ah, bicara buku tak akan pernah ada habisnya. Resolusi saya entah sampai kapan pun agar bersinggungan dengan dunia tersebut. Saya berusaha untuk beresolusi menjadi yang lain, misalnya menjadi power ranger begitu atau spiderman, atau presiden, kok kayaknya berat. Untuk pindah haluan, saya perlu beradaptasi kembali. Harus memberikan luka yang baru pada tubuh, pikiran, dan jiwa sampai saya benar-benar akrab dengan cerita hidup yang baru. Belasan tahun di dunia literasi, mungkin borok-boroknya sudah saya kenali, tahu obatnya apa. Saya sudah kenal dengan tubuh, pikiran, dan jiwa saya dari pengalaman-pengalaman itu. Bila, saya tinggalkan, rasanya mubazir. Saya harus tetap berada dalam track ini apa pun situasi dan kondisinya.


Tuhan tidak menyuruh kita pindah haluan dalam sekejap—apalagi tidak dipikirkan matang-matang— melainkan melakukan apa yang kita sukai dan kita cintai secara tulus dan istikamah walau kita melakukannya selangkah demi selangkah. Dalam buku Atomic Habits, James Clear menjelaskan bahwa kalau bisa manusia berkembang setiap hari, minimal naik ”1%” kebaikan sehingga dalam 1 tahun kita bisa mendapatkan energi kebaikan ”365%”, lalu menuju 2 tahun, 3 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun, dan seterusnya. Seperti halnya ”Setetes Embun” karya Bapak saya yang ditulis sejak 8 tahun lalu itu yang setetes demi setetes kata ditulis setiap hari, lalu menjadi ribuan halaman.


Pontang 13 Januari 2026


______


Penulis


Encep Abdullah, Dewan Redaksi NGEWIYAK. Kolom ini adalah tempat curhatnya tiap pekan walau sering kali banyak alpanya sejak Indonesia ganti presiden. Buku proses kreatifnya yang sudah terbit antara lain Ihwal Menulis dan Menjadi Penulis (2024). 



redaksingewiyak@gmail.com



Sunday, January 11, 2026

Cerpen Yuditeha | Semua Penulis Pemakan Bangkai

Cerpen Yuditeha



Kekasih lelaki itu mati karena terpeleset saat bercinta. Itu fakta. Polisi bahkan menulisnya dalam laporan dengan ketikan kaku dan datar: Korban terpeleset dalam aktivitas seksual dan mengalami benturan fatal. Tak ada puisi dalam laporan polisi. Tak ada ruang untuk ironi. Hanya kalimat-kalimat yang bersih, kering, dan nyaris menghina realitas.


Lelaki itu duduk di meja kerjanya, menatap laptop yang menyala. Kursor berkedip, menunggu kelanjutan novel yang tak kunjung selesai. Novel yang ia tulis selama dua tahun, yang katanya akan menjadi mahakarya, yang katanya akan mengguncang dunia sastra. Tapi kini, semua terasa konyol. Ia tak bisa melanjutkan satu kalimat pun. Setiap kali ia mencoba menulis, ia melihat kekasihnya di lantai kamar, tubuhnya telanjang, kepala miring dengan darah tipis mengalir dari pelipis.


Malam itu, sesuatu bergerak di ambang pintu. Sebuah bayangan pendek, gemuk, berkaki empat. Moncongnya menyentuh lantai. Hidungnya mengendus-endus, mencari sesuatu. Seekor babi. Ia duduk di ambang pintu seperti tamu yang datang tanpa diundang. Matanya kecil, gelap, penuh rahasia. Lalu ia berjalan ke dalam, mendekati meja, mengendus kertas-kertas yang berserakan, menjilat tepian naskah.


Sementara lelaki itu, jari-jarinya membeku di atas keyboard. Di luar, hujan mulai turun. Hujan selalu datang di saat yang buruk, seolah langit pun gemar bersikap berlebihan. Kalau saja dunia ini adalah novel, ia pasti akan mengutuk penulisnya yang terlalu malas mencari metafora lain.


Babi itu tidak pergi. Ia mengorek-ngorek sampah dapur, menggigit kertas-kertas revisi, dan tidur di ranjang, Kadang-kadang ia mengubur moncongnya dalam tumpukan naskah, mengendus dengan rakus seakan mencium sesuatu yang busuk. Mungkin naskah itu memang busuk. Mungkin yang busuk adalah dirinya sendiri.


Tiap malam, lelaki itu bangun dan menemukan babi itu di sana. Duduk di dekat pintu, diam, tapi memperhatikan. Tidak bersuara. Hanya napasnya yang terdengar, pelan dan teratur. Napas seekor babi terdengar lebih hidup dibanding dirinya sendiri.


Ia mencoba menulis lagi. Kata-kata keluar seperti darah dari luka. Lebih liar. Lebih tajam. Lebih kotor. Seakan ada sesuatu yang menggiringnya ke arah yang lebih gelap. Ia tidak tahu apakah itu babi atau dirinya sendiri.


Dulu, ia selalu percaya bahwa menulis adalah ritual sakral. Ia bahkan pernah memberi ceramah di seminar kecil tentang “integritas dalam berkarya.” Omong kosong. Sekarang ia sadar menulis hanyalah soal bertahan hidup, soal merangkai kata sebelum kata-kata itu membunuhnya lebih dulu. Babi itu menatapnya, seakan mengerti bahwa kebohongan yang paling sering diucapkan adalah kebohongan pada diri sendiri. Di luar, hujan semakin deras.


Beberapa malam kemudian, ia mulai mencium bau itu. Bau anyir yang tidak datang dari babi, bukan pula dari sisa makanan di dapur. Bau yang lebih dalam, menusuk, lebih melekat pada dinding-dinding apartemen, seperti dosa yang tidak akan pernah terhapus.


Ia mencari sumbernya. Ia membongkar lemari, mengangkat sofa, bahkan membuka lantai kayu yang mulai berdebu. Tapi bau itu tetap ada. Bau yang tidak bisa dihapus dengan pewangi ruangan atau doa-doa pendek yang dulu diajarkan ibunya.


Suatu malam, ia menemukannya. Di bawah meja kerja, di antara tumpukan kertas yang sudah menguning, ada sesuatu yang nyaris menyerupai wajah. Tidak jelas apakah itu sisa kekasihnya, sisa dirinya sendiri, atau hanya imajinasi yang mulai membusuk. Babi itu datang mendekat, mengendus pelan, lalu berbaring di sana, di samping sisa itu, seakan menunggunya melakukan hal yang sama.


Lelaki itu duduk. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap layar laptop yang kini kembali menyala tanpa perintahnya. Kursor berkedip. Lalu, tanpa sadar, tangannya mulai mengetik. Kata-kata mengalir seperti sungai yang meluap, liar, tanpa kendali. Ia menulis tanpa peduli lagi pada alur, pada makna, pada estetika. Tulisannya yang dulu selalu patuh kepada ketentuan itu tapi orang-orang tidak pernah suka. Ia ingat semuanya, ingat kekacauan hidupnya, ingat kegagalan tulisannya. Ia tak ingin terbelenggu lagi hingga ia menulis seperti seseorang yang mengabarkan terakhir tentang dirinya sebelum semuanya runtuh. Dan babi itu tetap di sana, diam, menyaksikan.


Pagi itu, naskahnya hilang. Laptopnya hilang. Buku-bukunya hilang. Apartemennya pun kosong, seperti baru ditinggali seorang gelandangan yang terlalu rapi. Ia tertawa. Ia menangis. Ia tertawa lagi.


Hanya ada satu hal yang tersisa, babi itu. Duduk di tengah ruangan. Moncongnya basah. Bibirnya merah. Ia mengunyah sesuatu, mungkin kertas. Atau sesuatu yang lebih lunak? Lebih lentur. Tapi lebih bernyawa. Babi itu perlahan kembali mendekati meja, menatap layar laptop, menyentuhnya dengan moncongnya, mencoba menggigit tombol-tombolnya dengan perlahan, seolah ia sedang mencoba menulis sesuatu yang sangat penting, meski hanya muncul huruf-huruf acak. Ia tidak berbicara. Babi itu hanya membuat suara-suara tidak jelas, seperti desahan dari kedalaman sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, semacam bisikan dari kegelapan.


Lelaki itu bergeming. Napasnya tercekat. Dinding apartemen penuh coretan kata-kata yang tampaknya ia tulis sendiri dalam keadaan setengah sadar. Huruf-huruf yang menari seperti arwah penasaran. Seperti tangan-tangan dari masa lalu yang tak rela dilupakan. Kata-kata itu berantakan. Tidak ada alur dan struktur. Tidak ada ejaan yang benar. Hanya kejujuran mentah yang menyengat. Ada kalimat-kalimat aneh yang ia bahkan tidak mengingat kapan menulisnya:


Setiap kalimat adalah racun, dan kita meminumnya pelan-pelan. Semua kata yang bagus pernah mati. Luka adalah kalimat yang belum pernah ada di buku mana pun. Cinta hanya bisa dimakan setelah dimuntahkan. Bibir tahu lebih banyak dari kata-kata yang diludahkan. Semua penulis pemakan bangkai. Kata-kata adalah kunci. Sayang, kunci itu tidak ada lubangnya. Selesaikan ceritamu, dan lihatlah dirinya terkulai di lantai.


Semuanya terasa seperti ujung dari kisah. Di luar, langit menggantung berat, seperti tak benar-benar ingin runtuh tapi juga tak sanggup menahan beban sendiri. Di dalam, serpihan-serpihan kecil berserak di lantai, sesuatu yang pernah utuh. Tak jelas asalnya, seakan telah ada di sana sejak sebelum apa pun dimulai.


Lelaki itu mendengar sesuatu, denting, desah, atau hanya gema dari pikirannya sendiri. Mungkin tak ada suara. Mungkin seluruh dunia telah berhenti berbunyi. Ia ingin melakukan apa pun yang bisa memutus sambungan antara ingatan dan kesadaran. Lelaki itu membaca tulisan di layar. Tulisan yang tidak diingatnya pernah diketik. Kalimat-kalimat yang tidak bisa ia akui lahir dari tangannya.


Ia tidak mati karena terpeleset. Ia mati karena aku memaksanya menjadi tokoh dalam naskah yang belum selesai. Aku memaksa tubuhnya mengikuti cerita yang belum kutulis.


Babi itu menatap layar. Ia mendekat laptop, lalu menekan satu tombol. Layar menjadi kosong. Di luar, hujan akhirnya reda dengan keheningan untuk menulis ulang segalanya. Ia mengerti sesuatu pada detik itu, bukan babi yang memakan bangkai. Ia-lah bangkainya. Setiap trauma, setiap tubuh yang pernah mencintainya, setiap kematian yang ia rangkai menjadi adegan, semuanya ia kunyah demi kalimat yang tampak jenius. Ia menulis dari sisa-sisa yang tidak ditanam dengan layak, menghirup bau busuknya, lalu menjadikannya prosa. Tidak ada penulis yang bersih. Tidak ada yang suci saat mengais luka untuk jadi estetika. Mereka hanya memilih bangkai mana yang paling empuk untuk digigit.


Dan babi itu, dengan moncong merah dan mata yang tenang, seperti sedang mengajarinya satu kebenaran terakhir, setiap cerita dimulai dari daging yang membusuk. Setiap kalimat adalah sisa tubuh yang pernah hidup. Pada akhirnya, babi bukan ancaman, ia hanyalah cermin. Karena semua penulis adalah pemakan bangkai, dan yang membusuk paling cepat adalah hati mereka sendiri.


______


Penulis


Yuditeha, tinggal di Karanganyar



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Saturday, January 10, 2026

Resensi Kabut | Terpikat Burung

Oleh Kabut



Para pembaca majalah Intisari akrab dengan satu nama: Slamet Soeseno. Ia memberi halaman-halaman mengasyikkan mengenai flora dan fauna. Jenis tulisannya menerangkan dan mengisahkan. Para pembaca gampang paham mengenai beragam tanaman dan binatang yang ada di Nusantara. Jadi, rubrik Slamet Soeseno termasuk unggulan dalam Intisari.


Tulisannya dapat dibaca murid, ibu rumah tangga, mahasiswa, dan lain-lain. Pokoknya tulisan-tulisan Slamet Soeseno menghibur dan mencerahkan. Bagi yang kesulitan belajar biologi dapat terbantu bila rutin membaca majalah Intisari. Apakah seharusnya pelajaran di sekolah mengikuti gaya Slamet Soeseno? Kita membayangkan murid-murid pasti senang untuk berilmu.


Pada setiap tulisan, dipasang beberapa gambar atau foto. Artinya, yang membaca makin terpikat. Dulu, para pembaca memuliakan apa-apa yang tersaji di lembaran kertas, belum perlu tangan mengetik di mesin pencarian. Pada masa lalu, Slamet Soeseno adalah pengajar dan pengisah yang mumpuni, yang membuat publik melek flora dan fauna.


Apakah rubrik di majalah Intisari itu cukup? Slamet Soeseno terus mengalirkan pengetahuannya melalui penulisan buku-buku untuk anak dan remaja. Temanya tetap flora-fauna atau kealaman-lingkungan hidup. Novelnya yang apik pernah diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Novel yang menggembirakan bagi anak dan remaja yang menghindari buku-buku pelajaran yang membosankan. Novelnya yang terkenal dan sering cetak ulang berjudul Bertualang di Pulau Panggang.


Kini, kita mengenang dan menghormati segala warisannya dengan membaca buku yang berjudul Burung Cenderawasih yang Mempesona. Buku yang tipis, terbitan Pustaka Jaya, 1986. Dulu, buku menjadi koleksi perpustakaan di SMP Kristen 3 Margoyudan, Surakarta. Di lembaran-lembaran yang tersisa, novel itu jarang dipinjam oleh murid. Terjadi empat kali peminjaman, dari 1987-1995. Akhirnya, buku itu “terbuang” ke pasar buku bekas. Kita beruntung mendapatkannya dengan sedikit duit. Novel yang bermutu ketimbang kita tergoda melihat tayangan-tayangan sembarangan di internet. Yang kita pelajari adalah burung. Slamet Soeseno mengajarkannya melalui cerita.


Ingat, yang terbaca bukan cerita-fantasi. Pengarang memberi cerita-berilmu sekaligus mengajak para pembacanya mengagumi khazanah alam di Nusantara, terutama di Papua. Di halaman-halaman cerita, pembaca ikut merasa menginjakkan kaki di Papua. Pengalaman pembaca berada di tempat yang jauh dari Jawa. Tempat yang sering diwartakan dengan pergolakan besar: politik, pertambangan, alam, adat, dan lain-lain. 


Slamet Soeseno bercerita dalam suasana Orde Baru. Kita ingat kebijakan penguasa atas Papua masa lalu. Penyebutan yang berlaku adalah Irian Jaya. Konon, kesuksesan pembangunan nasional tidak sampai di sana. Pemerataan pembangunan adalah omong kosong bila melihat kenyataan-kenyataan di sana.


Kita mulai menikmati cerita, yang menghindari dari sorotan politis dan sulit menghindari nalar-imajinasi pembangunanisme. Slamet Soeseno bercerita: “Pada liburan tahun ini, beberapa orang murid SMP Teladan Jayapura berkemah di Cagar Alam Pegunungan Cyclops. Selain ingin menikmati udara sejuk pegunungan, mereka juga ingin melihat burung cenderawasih di lingkungan hidupnya yang asli.” Apakah ada lingkungan yang tidak asli? Jawabannya adalah kebun binatang. Dulu, anak-anak TK dan SD mengenali dan mengagumi beberapa binatang di kebun binatang. Piknik yang indah dan menyenangkan. 


Pembaca pun tergoda untuk bisa sampai ke Papua. Pemenuhan keinginan melihat alam yang indah, melihat burung yang istimewa. Pada masa lalu, orang butuh dana besar untuk bisa menikmati anugerah Tuhan di Papua. Kodrat yang sulit berubah. Semua mahal akibat “gagalnya” pembangunan nasional.


Keajaiban itu tampak mata. Yang membaca merasa iri gara-gara tidak melihat secara langsung, cuma membaca kata-kata: “Salah seekor di antara cenderawasih yang mereka lihat itu ada yang sedang menggelar semua bulunya. Agaknya burung itu ingin memamerkan seluruh bulu hiasnya yang indah mempesona. Bulunya yang pendek dibuka selebar-lebarnya dan digetar-getarkan, sedang bulunya yang panjang dan halus seperti renda sutera dibelai dengan paruhnya. Kemudian, bulu panjangnya itu dinaikkan lalu dibentangkan ke semua arah, sehingga melayang-layang di udara.” 


Di lembaran buku, gambar yang dicetak cuma berwarna hitam dan putih. Pembaca kecewa. Dulu, mencetak gambar yang berwarna dalam buku memerlukan ongkos yang besar. Kita tetap mengikuti pengalaman para tokoh yang melihat secara langsung. Ada yang berusaha mendokumentasi dengan memotret. Maka, foto-foto burung cenderawasih menjadi koleksi yang “mahal”. 


Apakah yang terpikat hanya penduduk setempat atau orang-orang di Indonesia. Sejak lama, orang-orang Eropa sangat mengaguminya, memberinya nama dalam bahasa asing. Mereka sangat memuji dan mengakui eloknya burung cenderawasih. Bagaimana anak-anak yang diajari burung-burung? Apakah mereka akan memberi perhatian besar kepada burung cenderawasih yang disajikan secara terbatas di buku pelajaran? Mereka dapat mencari informasi lanjutan di koran, majalah, atau televisi. Anak-anak yang membaca novel gubahan Slamet Soeseno tentu beruntung. 


Para tokoh yang diceritakan dalam novel didampingi guru dan pegawai di cagar alam. Murid-murid yang berlimpah pengetahuan dan pengalaman. Buku itu mungkin sempat memicu murid-murid di Jawa mengangankan piknik yang diadakan di sekolah mendingan tujuannya adalah Irian Jaya, tidak selalu Jakarta atau Bali. 


Pengetahuan yang unik tentang sarang burung. Pembaca merasa ikut melihat meski tokohnya menggunakan teropong: “… Sarang itu terbuat dari ranting tanaman kering yang kecil, kulit pohon, daun, yang diperkuat di sana sini dengan potongan cabang yang lebih besar. Dinding bagian dalamnya dilapisi rumput dan daun kering yang lebih halus. Sarang itu berbentuk cawan sebesar satu kobokan yang ditaruh di tempat percabangan dahan pohon gempol.” 


Pada akhirnya, novel itu mengajak orang tak sekadar mengagumi alam. Yang disampaikan Slamet Soeseno adalah penelitian ilmiah mengenai cenderawasih dan lingkungannya. Anehnya, para peneliti yang tangguh seringnya peneliti asing, bukan peneliti Indonesia. Yang paling paham cenderawasih justru orang-orang yang menekuninya dan mengajarkannya di pelbagai universitas di dunia.


______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Thursday, January 8, 2026

Esai Heru Anwari | Belajar dari Buaya Amerika

Esai Heru Anwari



Suatu hari saya berkunjung ke Everglades Alligator Farm, tepatnya pada 29 Desember 2025. Di sana, saya banyak belajar dari aligator Florida.


Everglades Alligator Farm yang terletak di dekat Taman Nasional Everglades merupakan penangkaran buaya terbesar dan tertua di Florida Selatan. Tempat ini menawarkan tur perahu rawa (airboat), pertunjukan satwa liar, dan berbagai demonstrasi.


Di sela pertunjukan saat memberikan makan aligator di tengah penangkaran, ada mungkin sebanyak 250 aligator seperti di alam bebas. Ada sedikit perbedaan terkait aligator dan crocodile/buaya. Meskipun terlihat mirip, aligator dan buaya berasal dari keluarga yang berbeda dalam ordo Crocodylia. Perbedaan keduanya cukup mudah dikenali jika kita memerhatikan detail fisik dan perilakunya. Buaya Amerika dan Kuba bisa kita temui di kebun ini. Moncongnya terlihat tipis atau runcing, juga bentuk tubuh dan warnanya berbeda. Sifat buaya lebih agresif, sedangkan aligator pemalu.


Namun, yang menarik bagi saya adalah mengenai informasi bahwa buaya mampu bertahan hidup satu tahun hanya dengan memakan dua ekor ayam atau beberapa ikan kecil, memproses makanan cukup lama. Aligator dan buaya dewasa yang sehat sanggup bertahan hidup tanpa makan selama satu tahun, bahkan dalam beberapa kasus ekstrem dilaporkan bisa lebih dari itu. Dilansir dari berbagai informasi bahwa buaya sudah hidup sejak ratusan juta tahun lalu, yang sangat mungkin mereka berdampingan dengan dinosaurus. Mereka berhasil selamat dari peristiwa kepunahan massal yang memusnahkan dinosaurus 66 juta tahun yang lalu, kemungkinan besar karena kemampuan adaptasi mereka yang luar biasa terhadap lingkungan air dan darat yang membuatnya terus bertahan sampai saat ini.


Secara sekilas buaya terlihat bermalas-malasan, hanya tidur, berenang, berjemur. Memang ia seharusnya begitu, memproses makanan dengan sangat lambat dan lama. Tidak seperti manusia yang menghabiskan sekitar 90% energi makanan hanya untuk menjaga suhu tubuh tetap hangat, buaya mendapatkan panas dari matahari. Hal ini membuat metabolismenya sangat lambat dan hemat energi.


Buaya menyimpan cadangan energi yang sangat besar di bagian ekor dalam bentuk lemak. Saat makanan langka, tubuh mereka akan "memakan" cadangan lemak ini secara perlahan. Memiliki "Power Saver". Saat tidak ada makanan, mereka akan menurunkan detak jantung dan aktivitas tubuh hingga titik minimal.


Fenomena makhluk di alam semesta seperti ini jika kita cermati dan diambil hikmahnya, akan sangat banyak ilmu yang bisa kita ambil untuk kehidupan di tengah kecepatan dan supersibuk dewasa ini. Tidakkah ingat bahwa anak Nabi Adam belajar kepada burung gagak untuk mendapatkan ilmu cara menguburkan manusia.


Tuhan berkomunikasi melalui alam selalu berbicara kepada kita, namun kita tak mampu menangkapnya dengan jelas. Suara tidak melulu melalui telinga. Lakon teatrikal drama dipahami dengan gerakan menyiratkan cerita yang menyentuh. Kita mampu melihat atau mengetahui seseorang hanya dengan mendengar suaranya, tanpa mata. Begitu istilah dimensi komunikasi dengan kelembutan atau kedetailan.


Hidup manusia dewasa ini seperti sudah diatur dengan pola-pola materialistis. Hidup harus seperti ini, harus seperti itu, umur segini harus punya ini, harus punya itu. Nanti harus begini dan begitu. Katakanlah pola yang terjadi kebanyakan yang terjadi di masyarakat saat ini. Memasuki usia 25–30 tahun harus sudah memiliki pekerjaan tetap, harus sudah menikah, memiliki keluarga, mendapatkan gaji, cicilan perabotan, rumah, kendaraan, dan sebagainya. Jika saja manusia keluar dari pola kebanyakan yang terjadi, maka akan terlihat aneh bahkan berbeda, bisa dianggap tidak waras.


Dinarasikan seperti ketakutan jika sudah melampaui usia 40 tahun belum menikah atau bahkan belum memiliki pekerjaan tetap. Pekerjaan juga diidentikkan dengan adanya jam kerja pukul 07.00 s.d. 17.00, dengan sistem absensi dan gaji 30 hari menunggu lamanya.


Apakah buaya mengatakan seperti itu? Buaya mengatakan, “Hei, nikmatilah hidup ini! Makanlah secukupnya! Bahagialah, kita sudah hidup ratusan juta tahun!”


Saya teringat kepada suatu pemikiran Buya Hamka (Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah), seorang ulama, sastrawan, dan filsuf besar asal Indonesia. Beliau sering menggunakan perumpamaan "tamu di meja makan" atau "dunia sebagai hidangan", sama persis seperti pemikiran sufi besar Imam Al-Ghazali yang mengajarkan bahwa dunia adalah tempat singgah sementara untuk mengumpulkan bekal perjalanan berikutnya.


Jika manusia diumpamakan seorang tamu yang berada di meja makan, maka kita makan secukupnya saja. Karena dunia bagai meja makan dengan sangat banyak menu hidangan makanan dengan berbagai rasa. Jika mungkin manusia kerakusan, tidak akan ada waktu untuk menikmati perjalanan singgahnya di dunia.


Manusia jika hidup sudah sadar bahwa alam semesta menyediakan segalanya, sudah memiliki atap untuk berteduh, sudah ada makanan untuk hidup, kenapa takut lagi hidup dengan tergesa atau terus takutkan masa depan, berperang dalam kegelisahan dan perlombaan. Pemilik rumah sudah memberi takaran yang tidak akan tertukar bagi dia yang bertamu. Sopir dan pilot akan membawa penumpang dengan selamat, mengapa masih takut pada kehidupan yang sudah dijamin? Bekerja dan beribadah (pengabdian) berimbang dan menjadi keindahan dalam kehidupan. Mereka yang sudah merasa cukup akan menikmati pemandangan.


Pada buku Montaigne tertulis pada salah satu bab esainya: 


Dan orang kaya yang gelisah, kekurangan, dan terlalu sibuk tampaknya lebih celaka bagiku daripada orang yang benar-benar miskin. "Kemiskinan dalam kekayaan adalah bentuk kekurangan yang paling menyakitkan" (Lucius Annaeus Seneca).


Semua manusia pasti takut dan khawatir karena itu bagian dalam perasaan dimensi kehidupan manusia. Jika kita yakin bahwa semua sudah diatur oleh Sang Pemegang Skenario, sekalipun keluarga, anak, dan istri, alangkah baik jika mewariskan sikap berhenti dari sifat kehausan yang berkepanjangan. "Kelaparan" mental jauh lebih berbahaya daripada kelaparan fisikal. Mana yang akan diwariskan?


Kapan dimulai kehidupan bahagianya? Jika sudah menyadari bahwa warna apa yang pantas digunakan, dan bermain sesuai warna sabuk yang dimiliki. Menikmati bukan berarti berhenti, tapi sudah menikmati menjadi irama. Bersyukur atas apa yang sudah ditetapkan dan semua terus berproses tanpa tergesa-gesa.


Konsep kekayaan jika merujuk kepada Asmaul Husna Al-Ghany artinya 'Maha Kaya' atau 'Maha Tidak Membutuhkan' (cukup). Maka sangat jelas manusia yang sudah merasa cukup dan menikmati itu yang disebut kaya. Jika masih terus kurang maka bisa disebut masih miskin. Bagaimana tidak dikatakan paling kaya jika semua alam semesta dicipta untuk ia, manusia yang bersyukur.


Nabi Muhammad saw. pernah bersabda bahwa kekayaan sejati bukanlah banyaknya harta (ghina al-'aradh), melainkan kekayaan jiwa atau rasa cukup dalam hati (ghina an-nafs). Cukup.


Saya ceritakan kisah saya 34 tahun tidak bekerja seperti manusia kebanyakan; pergi ke kantor dan menggunakan seragam. Selama 20 tahun berkarier saya digaji semestinya karyawan mendapat jaminan kehidupan, Jamsostek, bahkan tiket kepergian dinas, tanpa memakai seragam. Seragamnya kaos polos, sepatu kasual, layaknya seperti bermain bersama sepeda. Sepeda menjadi meja kantor dan alat bekerja. Terlihat aneh dan tidak masuk akal. Namun, perjalanan dinasnya bisa sampai keliling di berbagai benua dengan hotel bintang 5, disambut dan diservis seperti artis papan atas.


Bagaimana dengan konsep ini? Apa harus takut dan khawatir jika yang tidak diinginkan saja bisa kita dapatkan? Yang tidak terbayangkan saja bisa terjadi begitu saja, seperti sudah digariskan. Ini mematahkan konsep bekerja harus keras dan sebagainya. Saya konsisten dan keras pada pendirian saya terus di olahraga BMX, menjadi idealis. Memang ideal bagi saya karena sudah memakan waktu ribuan jam terus-menerus di dunia BMX ini.


Memang benar yang bersungguh-sungguh akan pantas mendapatkan ganjaran dari apa yang ia kerjakan. Tapi tidak dalam kekurangan dan kerakusan. Sungguh-sungguh dengan sifat saleh, siddiq, jujur, sungguh. Jalan itu yang akan membawa kepada penemuan warna sabuk atau fadhal-nya. Fadhal atau fadhilah, keistimewaan yang diberikan oleh Tuhan. Akhirnya ia menjadi dirinya. jadi, tidak harus saya harus seperti orang lain. Ditambah bersyukur maka keindahan tercapai sebagai puncak kehidupan manusia.


Kita bisa saksikan juga pada kisah kehidupan para seniman, mereka para pencipta keindahan, mereka para pejalan keindahan. Seniman pelukis, desainer, musisi, dsb. Mereka menjadi dirinya semestinya.


Begitu pelajaran yang saya dapatkan di Miami, Florida, Amerika yang saya lihat dari perjalanan kisah aligator/buaya. Bisa saja Allah menginginkan saya menjadi manusia yang berjalan dengan sepedanya sampai ia kelak mati dan menikmati banyak pemandangan saat proses kehidupan berlangsung (cukup dengan makan dua ekor ayam satu tahun seperti buaya) sifat cukupnya. Kuncinya ada pada saya rida mensyukurinya, ibu (keluarga) rida kepada jalan itu, dan pasti Allah rida pada jalan ini. Apa lagi yang dicari jika rida Allah sudah dituju? Bukankah itu titik terakhir dari perjalanan?


Keluar dari mengikuti pola yang dicipta manusia. Karena manusia banyak sekali mencipta distraksi pola-pola kehidupan, sampai saya lupa bahwa ada Sang Pencipta pola sesungguhnya. Banyak sekali makhluk Allah bisa hidup karena keahlian mereka, katakan membengkel, bertani, memijat, menulis, dsb. Apa susahnya buat Allah mencipta satu manusia untuk bisa hidup karena ahli BMX.


Saya cerita untuk menceritakan perjalanan pencarian diri pribadi, tapi bisa saja menjawab semua keraguan atau pertanyaan manusia dan keluar dari pola-pola manusia saat ini. Dan, saatnya generasi baru menemukan keahliannya.


Jika pesan dari Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) bagi para generasi selanjutnya adalah: “Kalau kamu ikan, jangan ikut lomba terbang. Kita dicipta berbeda.”


Dan di dunia ini banyak sekali jika kita mau belajar, tokoh besar hidupnya selesai bahkan berkelimpahan hanya dari mereka menemukan di mana posisi hidupnya. Robert Nesta Marley, musisi (Reggae), dikenal sebagai ikon musik dunia asal Jamaika yang membawa pesan perdamaian. Bruce Lee (Lee Jun-fan), bela diri (martial artist), pendiri Jeet Kune Do dan aktor film laga yang merevolusi cara pandang dunia terhadap bela diri. Cristiano Ronaldo (dos Santos Aveiro), pemain sepak bola, salah satu pemain terbaik sepanjang masa dengan rekor gol terbanyak di dunia. Khabib Abdulmanapovich Nurmagomedov, petarung MMA (mixed martial arts), beliau spesialis gulat dan sambo. Ia pensiun sebagai Juara Kelas Ringan UFC yang tak terkalahkan.


Ungkapan Mamah yang paling kuingat, 


“Emang Aa mah geus aya jangji ti Allah, tah urusan Mamah jeung anak ti sapeda. Jadi jelma mah ulah mak-mak (rakus), syukuri baé éta, Allah geus méré kaahlian éta. Mamah mah sifat ngadoakeun.


Miami, Florida Selasa, 30 Desember 2025


_________


Penulis 


Heru Anwari, BMX Freestyler Indonesia. Berkeliling ke berbagai negara bersama sepeda. Instagram: @heruanwari heruanwaribmx.com


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Saturday, January 3, 2026

Lapak Buku | Kepada Puisi, Aku Bertanya | Hendri

 


Judul: Kepada Puisi, Aku Bertanya

Penulis: Hendri

Penerbit: #Komentar

Terbit: Januari 2026

Tebal: vi + 93 hlm.

QRCBN: 62-157-1217-676

Harga : Rp60.000


Kepada Puisi, Aku Bertanya adalah kumpulan puisi lirih karya Hendri yang merangkai kisah cinta, rindu, jarak, dan doa dalam bahasa yang intim dan reflektif. Buku ini menghadirkan suara seorang penyair yang menjadikan puisi sebagai ruang bertanya, mengadu, sekaligus bertahan dari luka dan kehilangan. Si “aku” berkali-kali menyapa perempuan yang dicintainya (hadir sebagai imaji, kenangan, dan harapan)  dalam latar jarak geografis, perantauan, dan waktu yang tak kunjung berpihak. Cinta dihadirkan bukan sekadar romantika, tetapi juga pergulatan batin, trauma, kesetiaan, dan spiritualitas. Puisi-puisi dalam buku ini bergerak dari kerinduan personal hingga perenungan eksistensial, memadukan metafora alam, kota, dan doa. Sebuah buku yang merekam kesunyian, menunggu jawaban, dan keyakinan bahwa kata-kata mampu menjaga cinta tetap hidup.



Kontak:


087771480255 (Penerbit)

082210231226 (Penulis)


Resensi Kabut | Berlebihan

Oleh Kabut




Cerita anak menganjurkan kebaikan-kebaikan. Kita mudah bermufakat meski menganggap cara dan kadar pengajaran kebaikan dalam cerita tidak perlu “berlebihan”. Mengapa kita menuduh “berlebihan” bila khatam puluhan atau ratusan buku cerita anak di Indonesia? Yang kita urusi sebenarnya adalah para pengarang yang menulis cerita anak. Sejak awal abad XX, pengarang-pengarang memiliki patokan dalam menggubah cerita anak, yang mengandung pengajaran kebaikan-pengajaran kebaikan saat menggunakan latar rumah, kampung, sekolah, dan lain-lain. Di situ, pengarang menempatkan para tokoh, yang nanti menjadi contoh atau panutan bahwa kebaikan-kebaikan itu terwujud.


Pada masa setelah Perang Dunia II, industri buku cerita anak mirip “pesta kebaikan” yang digunakan memajukan Indonesia. Buku-buku yang dinikmati anak-anak diusahakan membuat mereka menjadi pribadi unggul: pintar, sopan, beriman, dan lain-lain. Jadi, terbitnya ribuan buku cerita anak di Indonesia memang dipastikan menyebarkan pesan-pesan baik, bukan mengajak para pembaca menjadi nakal, jahat, atau bodoh.


Yang kita maksud “berlebihan” adalah cerita-cerita yang dibuat para pengarang sering menjauh dari kenyataan. Cerita-cerita itu menampilkan para tokoh yang karakternya sudah dibakukan untuk memunculkan pertentangan agar pengajaran kebaikan yang lekas sampai kepada pembaca. Tokoh-tokoh yang memihak kebaikan dihadirkan dalam “drama”, yang kadang sulit “masuk akal” atau cocok dalam lakon hidup keseharian. Pokoknya, kebaikan adalah yang utama dan “menguasai” cerita.


Kita sudahi dulu masalah pengajaran kebaikan yang “keterlaluan” dalam sejarah dan perkembangan industri cerita anak di Indonesia. Di tangan kita, ada buku tipis yang berjudul Mengejar Bintang gubahan Darto Singo. Buku terbitan Sarana Jaya, 1979. Tampilan buku yang tidak memikat pembaca. Sampulnya tampak jelek. Gambar bocah mengenakan pakaian sebagai murid. Di sana, ada Monas yang berhiaskan bintang. Anehnya, kita melihat gambar tanaman warna-warni, yang membuat sampul itu makin tidak keruan.


Siapa yang masih ingat Anggun C Sasmi? Kita sengaja mengajukan nama artis asal Indonesia, yang sudah kondang di dunia. Yang dipikirkan sebenarnya bukan Anggun C Sasmi tapi pengarang cerita anak. Anggun C Sasmi itu punya bapak yang rajin menulis cerita anak. Bapaknya bernama Darto Singo. Kita ingatkan bahwa buku yang kita buka halaman-halamannya tidak ada kaitannya dengan Anggun C Sasmi.


Kita berurusan cerita saja. Pada suatu hari, tokoh bernama Anto sedih setelah dimarahi ibu. Penyebabnya adalah mandi di kali bersama teman-teman. Ibu tidak suka Anto mengotori tubuhnya di sungai dan mencari masalah saat bermain. Maka, Anto membuat perlawanan saat diajak bicara bapaknya: “Rasanya, ibu tidak menyayangiku, Yah! Setidaknya, kalah kalau dibandingkan induk ayam itu. Induk ayam amat menyayangi anaknya.” Mereka berada di sekitaran pohon nangka dan pisang. Di situ, ada ayam-ayam yang mencari makan. 


Bapak kaget mendengar pernyataan Anto. Ia mengerti itu bukan kedurhakaan. Anto belum mengerti maksud ibu yang marah. Anto belum berhitung kesalahan dan akibat. Akhirnya, bapak memilih sabar sambil memberi penjelasan-penjelasan agar Anto paham hubungan ibu dan anak. Berhasil. Anto perlahan sadar. Pada peristiwa sederhana, Anto mendapat pengajaran yang baik dan santun dari bapaknya.  


Pengajaran berlanjut saat malam. Keluarga dalam peristiwa makan. Anto mendapat sindiran adiknya mengenai mencuci piring setelah makan. Semula, Anto ingin menolak. Adiknya, yang bernama Anti, menjelaskan: bila Anto mau mencuci piring, ia akan melakukan tugas membereskan tempat tidur ibu. Anto malah berujar: “Rasanya lebih senang mencangkul di sawah daripada mencuci piring.” Kita mengerti itu sikap anak lelaki, yang membedakan jenis-jenis pekerjaan berdasarkan jenis kelamin dan gengsi.


Bapak turut campur dengan berkata: “Mencuci piring itu bukan pekerjaan perempuan saja, To! Ayah pernah melihat di kota-kota besar, tukang cuci piring restoran justru laki-laki.” Anto belum mau terima dengan cara bapaknya agar ia tetap mencuci piring. Padahal, bapaknya memberikan penjelasan lanjutan: “Karena laki-laki lebih gesit, cepat, dan cekatan.” Malam itu Anto mendapat lagi pengajaran yang baik. Para pembaca ikut mengangguk sebagai tanda setuju bahwa anak memang memiliki tugas-tugas di rumah, selain wajib sopan dan patuh kepada ibu.


Beberapa halaman terbaca, kita menemukan pengajaran hal-hal yang baik melalui turutan orang dewasa sambil menunggu tanggapan dari anak-anak. Yang diinginkan adalah anak-anak menjadi baik melalui perkataan dan tindakan. Darto Singo berhasil dalam menjadikan cerita sebagai upaya membentuk pribadi-pribadi yang “baik dan benar”.


Di pergaulan, Anto bergabung dengan teman-teman yang menyenangkan tapi kadang “menyesatkan”. Pada suatu hari, mereka ingin mengadakan pesta makan. Namun, usaha mencari buah tidak semuanya berhasil. Yang bikin masalah adalah mendapatkan pepaya. Anak-anak itu berdebat. Anto tampil sebagai anak yang baik saat memberi peringatan: “Asal jangan mencuri. Mencuri itu dosa. Salah! Walaupun mencuri pepaya. Mula-mula memang pepaya yang kita curi. Lama-kelamaan kita akan mencuri kelapa, lalu mencuri ayam, lalu kambing, lalu kita dipenjara.” 


Yang disampaikan Anto manjur. Perkumpulan anak belajar tentang kebaikan dan kejahatan. Mereka tidak mau menjadi jahat, yang nanti masuk penjara. Para tokoh dalam cerita dapat menjadi rujukan bagi para pembaca yang ingin menjadi baik. Artinya, buku cerita itu sumber belajar. Namun, pembaca mungkin merasakan keanehan. Banyak hal dimulai dari peristiwa dan dinilai dengan perkataan. Simpulan cepat dibuat, yang selalu memihak kebaikan.


Pada suatu hari, Anto dan teman-teman bersepakat belajar bemain musik dan menyanyi. Mereka senang tapi terjebak perdebatan. Darto Singo mengajak pembaca turut dalam perbedaan pendapat: “Mula-mula Parmin ragu-ragu. Memalukan, katanya. Karena ngamen dan mengemis itu sama saja. Tapi, Anto membantah pikirannya itu. Mereka akan memperoleh uang sedikit dengan ngamen, menyanyi keliling kota. Tapi itu tidak sama dengan hasil mengemis. Mengemis hanya menadahkan tangan pada siapa yang kasihan atau ikhlas memberi. Tapi, ngamen sama artinya menjual suara, menjual lagu dan musik untuk pemberian yang mereka terima.” Perdebatan itu membuat mereka berpikir serius sambil mencari pendapat yang benar dan kuat.


Di rumah dan bermain bersama teman-teman, pengajaran kebaikan selalu bermunculan. Di sekolah, Anto juga belajar kebaikan-kebaikan melalui pelbagai masalah. Sekolah justru menjadi tempat yang mengharuskan pemahaman atas kebaikan-kebaikan. Murid-murid dianjurkan belajar yang rajin agar pintas sekaligus membentuk pribadinya secara “sempurna”. Padahal, selama di sekolah, mereka pun merayakan kemalasan dan kenakalan. Namun, mereka memang mendapat kondisi yang mengharuskan belajar kebaikan-kebaikan selain kecerdasan.


Darto Singo melalui cerita berjudul Mengejar Bintang sudah punya patokan-patokan agar para pembaca lekas menerima pengajaran-pengajaran, sejak halaman pertama. Kita kadang meledek bahwa penulis cerita anak telah “memperalat” cerita untuk mengumbar pengajaran, yang risikonya cerita menjadi hambar. Cerita yang semestinya dinikmati dengan beragam sikap justru dijadikan “pengganti” atau “sekutu” dari buku-buku pelajaran dan kumpulan nasihat orangtua. Maka, anak-anak Indonesia yang menbaca cerita jarang yang mahir merenung dan berani kritis. Para pembaca telanjur dianggap penerima pengajaran-pengajaran tanpa perlu membantah. Artinya, anak yang mau membaca cerita diharapkan mewujudkan kebaikan-kebaikan.


______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com