Esai Ayrin Widya Mustika Sari
Tradisi mudik merupakan tradisi tahunan masyarakat Indonesia, khususnya para perantau yang pulang ke kampung halaman menjelang hari raya seperti Idulfitri. Memiliki pasangan seorang perantauan dari lampung, tentu saja mudik merupakan tradisi wajib baginya. Terlebih lagi orang tua masih sehat.
Pertanyaannya apakah label perantau ini hanya dimiliki bagi mereka yang berasal dari pulau atau daerah yang sangat jauh? Menurut saya label perantau bisa disandang juga bagi mereka yang berada di lain kota, tetapi satu provinsi.
Dilema saat Lebaran adalah mudik ke mana? Sebenarnya bisa kedua tempat dijangkau. Seperti mudik ke tempat yang dekat terlebih dahulu saat hari Lebaran, kemudian langsung menuju mudik ke tempat kedua yang lebih jauh. Namun tidak demikian, suami lebih mengutamakan mudik yang terjauh ke kampung halamannya sebelum Lebaran tiba.
Baginya, mudik satu provinsi dianggap bukan mudik. Karena selain jarak tempuh hanya satu jam, frekuensi bertemu pun sangat sering. Padahal pertemuan tidak saat momen Lebaran. Sedangkan, saat momen lebaran Idulfitri tiba, setiap anak termasuk saya tentu saja ingin sungkem dengan orang tua dan berkumpul bersama keluarga. Namun, sebagai istri hanya bisa mengikuti apa kata suami.
Arus mudik tahun ini terpantau aman dan terkendali. Ternyata berdasarkan survei Badan Kebijakan Transportasi Kementrian Perhubungan tahun ini sekitar 50,60% masyarakat Indonesia melakukan tradisi mudik. Tahun ini arus mudik turun sekitar 2% dari tahun sebelumnya. Salah satu penyebabnya adalah faktor ekonomi. Namun, moda transportasi mengalami kenaikan. Salah satunya kapal laut. Jalur penyeberangan Merak-Bakauheni naik sekitar 5,4% dibanding tahun 2025.
Setiap kali mudik memiliki seni khasnya masing-masing. Meskipun tahun ini presentasi arus mudik mengalami kenaikan, mudik kali ini kami jalani tanpa antrean saat memasuki kapal. Berbeda dengan tahun sebelumnya, untuk masuk kapal kami antre berjam-jam. Mungkin karena efek libur sekolah dan cuti bersama yang berbeda waktunya.
Di dalam kapal pun masih terasa lega untuk anak saya berlarian, biasanya lantai kapal dipadati tikar pengunjung yang tidak kebagian kursi, sehingga kami naik kapal eksekutif pun rasa kapal reguler. Terlebih harga tiket kapal eksekutif saat mudik sama dengan harga tiket kapal reguler. Jadi, sudah pasti rata-rata pemudik memilih kapal eksekutif. Karena kapal eksekutif dianggap lebih bagus, lebih bersih, ruangan lebih nyaman dan lebih ber-AC serta lebih cepat sampai.
Seninya mudik naik kapal itu saat kami berebut tempat untuk duduk atau tidur. Di kapal juga disediakan kamar besar yang di dalamnya berjejer kasur tingkat untuk istirahat. Beruntung sekali saat kami bisa dapat kasur di depan playground. Jadi, kami bisa istirahat sambil mengamati anak bermain.
Ritual saat naik kapal salah satunya adalah tidur. Saat di kapal para pemudik benar-benar memanfaatkan waktunya untuk istirahat karena mereka telah melewati perjalanan jalur darat. Jadi, tidur di kapal walaupun hanya satu atau dua jam, bisa mengembalikan energi untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya di jalur darat. Namun, bagi kami yang memiliki balita aktif, tidur di kapal adalah momen yang sangat langka.
Ritual naik kapal lainnya adalah bancakan. Kebanyakan orang saat naik kapal, mereka langsung menggelar makanan untuk makan bersama. Walaupun kapal masih stay di pelabuhan. Aroma nasi padang dan aroma seduhan mi instan harum semerbak menguasai ruangan. Meskipun momen mudik saat bulan puasa, namun ada saja wangi-wangi aroma tersebut.
Selain itu ritual selanjutnya adalah nonton. Di dalam kapal eksekutif terdapat beberapa televisi yang menayangkan film. Saya selalu menebak nebak film apa yang akan diputar di TV kapal. Namun, saat mudik kali ini ternyata tayangan pelayanan PT ASDP yang diputar di TV. Tentu saja saya sangat kecewa. Bisa saja saya nonton menggunakan ponsel atau tablet tapi rasanya lebih seru nonton ramai-ramai di kapal.
Dulu sebelum ada kapal eksekutif, saya dan suami pernah naik kapal reguler. Salah satu kapal reguler tersebut di dalamnya terdapat bioskop mini berbayar. Selama perjalanan kami habiskan waktu untuk nonton film. Tidak semua kapal reguler memiliki fasilitas tersebut. Namun,momen itu sangat berkesan dan belum saya jumpai pada kapal eksekutif.
Setiap kapal memiliki ruangan VIP, termasuk kapal eksekutif memiliki ruangan VIP. Tentu saja ruangan itu berbayar. Perbedaannya jelas lebih privat dan nyaman serta dilengkapi dengan fasilitas tambahan snack. Namun, tidak semua orang berminat masuk ruangan VIP. Karena memang kapal eksekutif sendiri sudah nyaman, ditambah anak saya lebih senang bermain di playground. Berbeda dengan musim mudik, ruangan VIP selalu diburu.
Playground di dalam kapal hanya sepetak kecil. Mungkin lima orang anak kecil saja sudah penuh. Bersyukur saja walaupun kecil ada tempat bermain untuk anak. Uniknya di playground ada dua mobil yang hanya bisa dijalankan dengan koin uang logam dua ratus atau lima ratus rupiah saja. Jadi, setiap naik kapal kami wajib bawa uang koin logam dua ratus dan lima ratus rupiah.
Perbedaan naik kapal berdua suami dengan keluarga besar, sepertinya lebih seru bersama keluarga besar, karena segala macam tentengan dibawa. Mulai dari rantang nasi dan lauk sampai termos air panas untuk sedu mi dan kopi pun kami bawa. Benar-benar seperti piknik. Pemikiran orang tua tentu berbeda dengan kami yang masih muda. Kami lebih ke bawa diri saja tanpa persiapan matang mengenai perbekalan karena memang di kapal juga tersedia aneka makanan, namun harganya dua kali lipat dibanding harga darat. Orang tua sudah pasti mengajarkan arti hemat.
Selain itu juga di dalam kapal terdapat beberapa orang yang menawarkan jasa pijat dan bekam. Rata-rata yang berprofesi adalah laki-laki. Tentu saja peminatnya juga para penumpang laki-laki khususnya mereka yang lelah menyetir mobil atau sopir-sopir mobil besar.
Setiap naik kapal atau akan turun kapal, kami selalu diburu oleh para pemburu koper yang sering disebut poter. Porter kapal merupakan buruh angkut informal di pelabuhan. Poter dengan seragam oranye sering kali berebut naik ke kapal dan bergegas menghampiri para penumpang untuk menawarkan jasa angkut koper atau barang-barang. Profesi ini sangat penting bagi pemudik pejalan kaki. Namun, para poter penuh persaingan ketat, terutama saat arus mudik. Harga yang ditawarkan pun bisa sampai empat kali lipat. Biasanya jasa poter hanya dua puluh lima ribu, namun saat momen Lebaran bisa mencapai seratus ribu bahkan lebih.
Saya sangat menikmati momen mudik dengan kapal laut karena bisa menikmati pemandangan langit dan laut yang biru, sambil membawa rasa haru saat meninggalkan tanah Jawa tanah kelahiran. Keindahan yang dinikmati tentu saja masih terasa belum sempurna karena ada hati yang tertinggal, jauh di tanah seberang. Belahan jiwa, orang tua yang melahirkan saya.
Saat ini kita berada pada zaman digital, sehingga komunikasi jarak jauh sangat mudah digapai. Orang tua zaman kini pun sangat modern dan mahir menggunakan HP. Namun, momen sungkem saat Lebaran merupakan momen lebaran yang tidak bisa digantikan hanya dengan video call semata.
Delapan tahun tak terasa sejak menyandang status istri, kapal laut ini mengantarkan saya menuju tanah baru, tanah yang asing namun hangat. Bahkan kehangatannya melebihi tanah kelahiran. Entah kapan momen sungkem itu datang kembali. Tetapi satu hal yang pasti, momen mudik saat meninggalkan tanah kelahiran terasa lebih ringan, karena telah memiliki keluarga asing rasa keluarga asal yang selalu menunggu di perantauan
Kalianda, 25 Maret 2026
________
Penulis
Ayrin Widya Mustika Sari, lahir di Serang 12 April 1992. Seorang perantau dari tanah Jawa.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com











