View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Sunday, April 19, 2026

Puisi-Puisi Nadia Mayasari

Puisi Nadia Mayasari




Risalah


Kita tak harus selalu bersama

Kita telah bersepakat bahagia

Jika aku sekarat setidaknya aku lebur di matamu

Yang kerap kali menyisakan puing-puing kerinduan 

Sampai tiba ajal mendekat dan Izrail membawa pada kehidupan abadi 


Sekali lagi aku berdoa

Tuhan akan mengirimku kembali ke dunia

Menjadi kekasihmu yang tak akan lebur

Meski Izrail memanggilku. 


Tidak, aku akan kembali menjadi kopi

Yang kerap kali kau minum pagi hari

Lalu, mulutmu mencicip dan mencium aromaku—setiap hari.


Cipanas, 20 Maret 2026


Kopimu


Ke mana harus berlabuh?

Kapal yang ditunggangi tak bernakhoda

Terbentur

Terbentur

Terbentuk

Luka di badan membuat terombang-ambing di lautan

Meski sudah diperbaiki

Agaknya tak bisa kembali semula


Ke mana harus berlabuh?

Dermaga itu tak menerima kapal yang usang


Oh, Tuhan

Karang yang kokoh tak lebih kokoh dari keyakinan pada-Nya

Ombak yang kuat tak lebih kuat dari doa

Laut yang terbentang lebih luas dari dosa 


Dan, Tuhan mengirimkan ikan paus

Lalu meloncat dari kapal yang usang itu

Kemudian, kegelapan seperti abadi


Serang, 15 April 2026



Rudatin


Andai kau mengerti kondisi sekarang

Ibu sudah tak bisa menangis

Sebab isak tercekat oleh menu MBG

Tiga ratus lima puluh ribu ibu terima

Dengan harapan dan ikhlas yang mengendap di amplop gaji 


Kadang ingin bercerita, mengadu, dan berkeluh kesah

Namun, suar Ibu tak cukup kuat menembus telinga pemerintah

Ibu berpesan kepadaku

"Nak, jika besar nanti pergilah ke luar negeri dan belajar di sana"

Setidaknya kau tidak mendapat menu MBG sepotong tempe dan tiga butir lengkeng


Serang, 15 April 2026


______


Penulis


Nadia Mayasari, dunia mengizinkannya lahir pada 23 November 2004 di Lebak Banten, bagian timur perbatasan provinsi Jawa Barat dan Banten. Pernah mengikuti antologi puisi saat duduk di bangku SMP. Terkadang menulis puisi, lalu membacakannya di komunitas tercintanya: Belistra. Menjadi Juara 2 FLS2N saat duduk di bangku SMP melalui cabang baca puisi. Sejak saat itu mulai mencari jati diri pada puisi dan merambat ke penulisan lainnya, seperti esai. Saat ini sedang diamanahi belajar di perguruan tinggi negeri dan sedang bimbang karena banyak kebutuhan tapi minim pemasukan. 


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Rambu di Tanah Abu | Cerpen Angelina R. Wawo

Cerpen Angelina R. Wawo



Saya tidak lagi mendengar ombak sejelas dulu. Syukur-syukur jika desir angin mampir di telinga. Angin yang membawa bau asin dan sedikit kabut gosong dari sisi timur. Di sini, dari kursi roda yang macet-macet, saya memandangi langit jingga yang perlahan menjadi biru gelap. Di kejauhan sana, tampak samar, beberapa perahu nelayan melintas, seperti bayangan kecil yang menolak pulang.


“Ramai sekali orang-orang itu, Nene,” kata Ine, cucuku, seraya menutup jendela, “kabarnya, siang tadi ada orang yang bakar tempat ibadah.”


Teras rumah kami berhadapan langsung dengan pantai, cukup dekat, hingga mata rabun ini masih mampu melihat titik-titik hitam bertebaran di langit jingga sembur kebiruan. Tidak saya jawab Ine yang mengantar secangkir teh hangat, hanya kusambut gagang cangkirnya dengan jemari sedikit gemetar. Bukan saya tidak mau menjawab, hanya saja kabar itu buat saya sudah lebih dulu dibawa burung dan jatuh disapu angin laut yang bercampur kelabu.


Telinga saya begini-begini masih cukup bisa diandalkan, lolongan anjing, makian, perdebatan, dua logat yang kontras jadi satu, hingga sebutan Tuhan dan Allah yang saling sahut. Suara yang agaknya tak asing di telinga, suara yang membuat saya ingin memejamkan mata dan berpura-pura sudah mati saja.


Dong bilang, jarak hanya dua puluh meter sa, su bagaya bangun tempat ibadah. Sedangkan kita, harus jalan kaki tiga kilo memang ke paroki di kampung seblah!” teriak salah seorang lelaki paruh baya.


Ine mulai mendorongku masuk, membelakangi pantai yang sudah sepenuhnya hitam dimakan gelap malam. Tangan rampingnya membilas kain dan mengusap pelan ke sekujur tubuhku. Ine yang manis, mimik dan cantiknya persis saya waktu itu. Waktu surga dan neraka jadi satu. Ketika amarah manusia tidak butuh logika yang rapi untuk terbakar. Bara yang tertumpuk di dada meledak beriringan bersama dendam.


***

Tiga puluh tahun lalu, saya masih kuat berdiri di balik meja panjang dengan botol-botol minuman berderet dan lampu disko yang berputar liar di langit-langit. Kulit cokelat dan rambut keriting yang kukuncir tinggi bergoyang mengikuti langkah yang sibuk menyeimbangkan nampan hitam besar dengan pinggiran sulur emas.


“Paulina, another beer, please!” kata pria tinggi yang kontras bagai bidak catur jika didudukannya dia dengan saya.


Dia salah satu pria yang tidak mengadopsi paham bahwa wanita lokal se-Kuta, Bali, rela membuka lebar kakinya dengan sekali siulan bule. Maka dari itu, bekerja dengannya tidak sama sekali membuat saya kepayahan. Oliver, kasir, dulunya traveler modal nekat yang kemudian jadi homeless, dan kini giat bekerja demi kembali ke negara asalnya USA.


Saya ingat betul, Saturday night, pertengahan Oktober tahun 2002, pelanggan ramai riuh, antrean padat merayap. Benar apa yang dikata orang-orang, Paddy’s Pub tak pernah hilang ketenarannya, kawan membawa kawanannya, yang saya tahu banyak bule negeri kangguru. Mereka menjejali setiap sudut dengan botol di tangan dan mata memerah, namun anehnya masih liuk, di bawah dentuman dan bau alkohol yang menusuk.       


“Pau, handphone-mu bunyi terus!” kata kawanku, Wayan, pelayan pub, seperti saya.


Rumahnya masih di Legian, setiap berangkat, wanita Bali itu hanya modal kaki saja. Ia keluar dari pintu bertulis ONLY STAFF, berkata santai sedikit menekan, saya tahu bebannya banyak, Wayan punya lima saudara dan bapak yang lumpuh, sedangkan ibunya, wafat saat melahirkan si adik bungsu.


Sebagai wanita kampung dari Timur yang mengadu nasib, sebuah hal yang patut dibanggakan adalah saya punya telepon genggam. Keluarga di kampung tahunya saya anak pintar, mereka rela menjual kerbau di bawah harga pasar, semata-mata demi menitipkan saya di kota untuk pergi SMA.


Sayangnya kepintaran itu di Pulau Dewata, hanya menghantarkan saya di bawah kelipan lampu berwarna-warna. Dan sialnya lagi, orang tua di kampung tidak tahu akan hal itu. Intinya,  nona jang lupa kirim uang bulanan.     


Tapi, kini, yang saya terka-terka adalah siapakah yang menelepon itu. Sementara kontak saya hanya berisi lima, dan kelimanya ada di Paddy’s Pub bersama saya. Namun saya tak pernah lupa, menulis deretan angka pada surat yang saya terbangkan di pulau Marapu sana. Jangankan punya handphone, sinyal sa, kadang ada kadang tidak.


Saya isyaratkan tangan ke atas, meminta izin Oliver ke belakang, memuaskan rasa penasaran yang mengganjal. Kini pukul 21.00 Wita, suara getar menggema di lorong loker milik para pelayan, sesuai kata Wayan, itu adalah ponsel saya.


“Halo! Halo...!”


“Kaka Rambu?” tanyaku, mencoba mengenali suara itu, “Ih, su di Bali?”


Tak ada jawaban, agaknya si penelepon kebingungan musti menjawab apa.


“Ini pakai hape sapa? Kenapa tiba-tiba begini, Kaka? Baru anak bayi bemana?” pertanyaanku mencecarnya.


Sekali lagi tak ada jawaban. Beberapa detik setelahnya hanya ada tangis.


Sa su bilang to Kaka, tir usah urus itu, Mama itu sakit. Jang terlalu percaya Rato Adat!”


“Baru kaka ada di mana? Su di Legian?”


***


Jantung Rambu bertalu-talu, keringat mengguyur sekujur tubuh. Kapal yang bersandar tadi subuh, menghantarkannya berjam-jam kelimpungan mencari saya. Seharian penuh perempuan yang baru melahirkan tiga bulan lalu itu berkelana di Denpasar, ditipu ojek, hingga dicopet. Setidaknya, dia menemukan satu warga Bali yang baik hati, yang meminjamkan handphone sekaligus pulsa untuk menelepon saya.


Saya juga musti berterima kasih kepada Wayan, sebab risih mendengar ringtone ponselku. Seandainya tidak, mungkin saja Rambu sudah di antah berantah atau paling sialnya bertemu pria mabuk di Legian.


“Mama minta ko pulang cepat,” katanya.


Tangan kasar Rambu menangkup kedua pipi saya, tangan yang bagi saya serbabisa, tangan yang mengurus segala peliknya rumah besar dan adatnya. Memang saya yang tugasnya bayar membayar, tapi dibandingkan Rambu, pekerjaan ini agaknya hanya seperlima lelahnya.


“Mama ada mimpi, di tengah laut ada yang terbakar,” katanya, “Rato Adat ju su marah besar, mari nona ikut Kaka ya, kita pulang,” sambungnya.


“Kita omong lagi ya, Kaka ikut sa pigi tempat kerja, nanti kita pulang sama-sama.”


“Nona masih kerja jam begini?” Ia keheranan.


Alis Rambu menukik tajam, khawatir jelas di wajah tirusnya, di surat-surat yang saya terbangkan, hanya saya sebut bekerja sebagai ‘bekerja’, saya ubah waktu pagi jadi malam hari, nyatanya yang terjadi adalah kelelahan di pagi buta.


“Aduh, panjang ceritanya, Kaka duduk-duduk dulu di sana ya, baru kita pulang nanti. Tidur dulu juga tidak apa-apa.”


Kami berjalan beriringan, meski sama-sama dilahirkan dari rahim yang sama, rupa Rambu jauh berbeda. Rambu wajahnya lonjong, rambut panjang bergelombang, dan kulitnya putih bersih. Banyak yang bilang Rambu justru mirip orang Sabu. 


Sepanjang perjalanan tenggorokan saya seperti terselip kerikil. Telapak tangan kasar Rambu menggenggam jemari saya erat-erat. Matanya bergerak liar di sepanjang trotoar ramai yang kami lewati. Kini pukul 21.40 Wita, makin malam, Legian makin menyala. Tulisan Welcome to Paddy's Pub tidak bikin Rambu buka suara, meski saya yakin ada ribuan tanya di kepalanya. Namun Rambu adalah si penurut dari dulu.


***


Sudah kukantongi izin dari Oliver, bahwa malam ini, akan dihitung setengah hari kerja. Rambu masih di lorong loker Paddy’s Pub, mungkin saat ini sedang memakan nasi kotak, jatah makan para pelayan. Kini, kaki saya melangkah menjauhi Paddy's Pub dan kembali menyisir trotoar. Agen travel adalah tujuan saya.


Rambu harus pulang secepatnya. Legian bukan tempat Rambu, pun Mama yang kini terbaring sekarat dikelilingi keluarga yang lain, tidak saya biarkan kepala Mama terus dicuci hingga menguras kembali seluruh hewan ternak. Apalagi suami Rambu yang bodoh itu, tidak mungkin bisa menjaga anak mereka yang masih berumur tiga bulan. Sebab bagaimana pun mereka lebih percaya Rato Adat daripada dokter.


Saya akan membelikan Rambu sebuah tiket pesawat, esok kami akan jalan-jalan keliling Kuta hingga puas, membelikan banyak oleh-oleh untuk mama dan keponakan. Setelah itu, Rambu harus kembali pulang.


Pukul 22.30 Wita, saya melihat sebuah minibus di lampu merah. Tepat di depan kios agen travel yang kini sedang sibuk memasukan data dari fotokopi KK yang saya berikan. Warnanya putih, di bagian kemudi duduk tiga orang yang masing-masing tampak begitu serius, si pengendara mengucapkan kalimat panjang, kemudian mulut mereka seirama, sembari mengepalkan tangan ke atas. Pemuda di bagian kiri, yang paling jelas saya lihat, mengenakan sebuah rompi hitam, dia mengedip terlalu banyak, pun menghela napas terlalu dalam. 


“Terima kasih ya, Bli,” kataku pada si penjaga agen travel.


Lampu merah berganti hijau, amplop putih bertuliskan nama Rambu sudah siap menghantarkan kakakku kembali ke Marapu. Sayangnya, kaki saya urung berjalan ke arah Legian, saya  ingin berbelanja dahulu untuk Rambu, perlengkapan mandi dan tidur yang nyaman.


Hampir lima belas menit sudah saya mengelilingi rak-rak mini-market. Saya membayangkan betapa senangnya Rambu dengan lesung pipinya, mengatakan ih kamu ni repot-repot sa hingga berpuluh-puluh kali. Lima menit selanjutnya habis di antrean kasir. Sungguh, meski waktu bertulis 22.50 Wita, Bali, sedetik pun tak pernah sepi, kecuali saat nyepi.


Perjalanan kembali ke Paddy's Pub menghabiskan sekurangnya dua puluhan menit berjalan kaki. Tidak ada salahnya membeli dua botol kopi dingin yang akan menemani acara mengobrol kami. Kini, saya benar-benar kembali berjalan ke Legian. Menenteng dua kantung besar agaknya bikin jalan saya sedikit melambat. Padahal, di kampung sana, Rambu biasa membawa dua jeriken besar penuh air naik turun bukit. Sudah terlalu payah memang saya disebut sebagai Nona Sumba.


Sementara saya tersenyum geli mengingat-ingat masa lalu, di seberang suara dentuman besar dahsyat, orang-orang seketika melihat ke arah Paddy's Pub. Ledakan itu dari sana. Mata saya seolah melonjak ingin keluar. Satu-satunya yang ada di kepala saya hanya Rambu yang duduk di lorong loker pelayan.


Belum sempat menerka-nerka, kaki saya lebih dulu berlari, menyelip kegaduhan Legian yang ingin ditinggalkan. Orang-orang meneriakkan kata “teroris” berulang kali. Sementara itu Rambu masih di dalam, Rambu kakakku masih di lorong itu sendirian.


Beberapa belas detik setelahnya langit merah nyala, tubuh saya terlempar hawa panas, melayang sepersekian detik dan  menghantam trotoar. Rupanya, Rato dan mimpi Mama memang benar adanya. Maafkan saya Rambu, kakakku sayang, saya tidak bisa memberimu alas tidur yang lebih nyaman.


***


Aroma hangus dan dentuman keras itu tidak pernah pergi, menempel di kulit, di rambut, di sekujur tubuh dan ingatan saya. Paddy’s Pub mungkin sudah kembali menjadi bar ramai dengan gemerlap warna-warni. Tapi tanah itu, bagi saya, masih menyimpan bara, menunggu sewaktu-waktu manusia lupa lagi, menunggu satu pericikan kecil menyala lagi.


Rambu tidak pernah ditemukan, setidaknya mimpinya ada yang jadi kenyataan, menyusul saya merantau ke kota. Keinginan mama juga jadi nyata, meski sebulan setelahnya, Mama terlalu merindukan Rambu. Lidya, bayi umur tiga bulan itu juga ditinggal bapa-nya saat genap berumur tiga tahun, membuat saya berganti nama menjadi Mama Lidya. Kemudian, Lidya melahirkan Ine, cucuku, pun ikut serta merindukan bapa dan mamanya.


Dan hingga hari ini, saat saya hanya mampu duduk di kursi roda ini, saya tetap tidak paham mengapa ada saja orang-orang yang dengan mudah menghilangkan nyawa dan nama orang lain hanya atas nama Tuhan masing-masing.


Keterangan:

Cerpen ini terinspirasi dari tragedi terorisme Bom Bali I (Oktober, 2002)


______


Penulis

Angelina R. Wawo, lahir 31 Januari 2003. Saat ini aktif berkesenian di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Pernah terlibat dalam Komunitas Rabo Sore. Beberapa tulisannya dimuat di media. Dapat bertukar kabar melalui @angelwa.woo.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Puisi-Puisi Andi Wirambara

Puisi Andi Wirambara




Romansa dari Pabrik


sembari menyerok bahan baku 

ke corong mesin, 

benaknya tersenyum

tiga jam ke depan ia gajian

metode harian, dirapel dua mingguan

upah tak sampai minimum, tak apa

ia hanya ingin mampir ke warung bakso

dua porsi, dibungkus bersama kasak-kusuk

percakapan tukang parkir dan pensiunan

kuli angkut borongan

tentang kenaikan pajak, yang mungkin

menaikkan harga sebutir bakso

lima ratus perak, atau mencari cara

bagaimana memainkan aci

seperti plastisin, dibentuk bulat-bulat

lantas tenar sebagai dukun yang mampu 

menggandakan tabung-tabung gas

yang mulai membuat persembunyian.


ia tak mau ikut pusing dulu

baginya, dua porsi bakso jauhlah

lebih realistis untuk ia tukar dengan pelukan

sebagai kado pernikahan, bagi istrinya

yang betah menciumi sisa keringat

di lekat cambang rambutnya yang memutih

oleh debu-debu dan pengkhianatan usia

pun dua porsi bakso lebih wangi

dari buket bunga tagihan kredit

yang dihadiahkan padanya pada tahun-tahun

sepanjang napasnya menyeka

patutan telunjuk mandornya

sejak pagi hingga kerongkongan

mulai menguning.


ini serokan terakhir, 

aroma bakso mulai menguar memenuhi khayal,

wajah istrinya mulai tersenyum di gerigi-gerigi mesin,

dan patutan telunjuk mandor juga 

mulai layu seperti gelincir sore

yang telah ia nanti seolah-olah gemetar lapar

tak akan pernah hadir sebagai bagian

dari serokan urat-urat di lengan

dan garis-garis telapak yang kasar.


(2025) 



Tentang Sebuah Makalah


sampulnya hanya halaman kosong

ada judul yang samar dan mengembun

lalu musim menghapusnya hingga habis


ada namaku dalam kata pengantar

terapit di antara kalimat terima kasih

dan penutup berupa tanda tanya


pada lembar latar belakang

kujumpai hikayat tentang kecemasan

diuraikan begitu panjang  

hingga halaman-halaman berikutnya

tercetak tetes-tetes air mata


penulis memilih diam

pada bagian pembahasan

mungkinkan ketiadaan

dibiarkan menjadi jawaban?


kelamaan aku tidak mengerti

bagaimana bacaan ini terlampau tebal

tanpa satupun kalimat atau penanda

sebuah kesimpulan


(2026)



Kau yang Menjadi Zamrud


setelah memberiku sebingkis senyum paling sempurna, 

kaupikir aku bisa melewatkanmu?


genang bayangmu gelisah di bibir penghujan

dan aku menawar harga selembar daun pinus

berayun di sisi keriput pelataran rumput yang dingin

menguncup dalam mata, kemudian terpejam

menyapa senyummu di tangkai subuh


sejauh angin meniupkan wangi musim, rindu selalu 

tumbuh di ujung ranting, mendauni pohon-pohon

diramaikan oleh ingatan-ingatan tentang gerai rambutmu 

yang hulunya menggulung tangkai buah jambu 

menyapu rindu di kerutan dahan


dan aku berpejam, mendengarkan yoasobi

menyaru lubang seruling, memainkan nada-nada 

yang terlampau manis untuk mengering di dasar

tongkat kembang api, meletuskan banyak bulu mata

terhambur dan membeku di udara


serpih menjadi kristal, mengubah kedip matamu

sebagai zamrud dengan kilau-kilau hijau

pada malam tanpa menyediakan

waktu yang panjang


setelah memberiku sebingkis senyum paling sempurna, 

kaupikir bagaimana caraku berpayung

selain dengan perjumpaan

yang meneduhku dengan kecemasan?


(2025)



Yang Menghadiahkan Kesepian Kepadamu

  

kau sempat berjanji tak lagi membiarkan asap menguar

melewati celah-celah barisan kumismu sendiri

hingga lubang di kacamata mengingkari segalanya

tiket-tiket kereta yang mengguncang perjalanan

merobek tanggal-tanggal di kalendermu

dan lebur pada pucat kopi yang kausesap

sendirian pada gersang sawah yang memaksa tumbuh

pada retakan meja tempat kau menyalakan api

menyulut kelingkingmu yang rapuh


pada malam dan percakapan maskulin, kau mulai

menghitung betapa panjang perjalanan ke kantor

melangkah tiga tahun ke belakang

sebelum tiba di depan gerbang yang bergeser

dalam gerak lambat untuk menghabiskan

wujud punggung yang kaukenal


kemudian menyadari

beberapa situasi terkadang diciptakan 

dan hadir hanya untuk dibenci.


mungkin angin telah menjadi kian angkuh 

setelah mampu meniru dingin pelukan 

yang kauingat

yang telah menghabiskan taruhanmu

sejak bidak-bidak catur menelan mimpi

satu persatu, menyisakan kau sebagai rindu 

yang gemetar berdiri


barangkali yang kauingat memilih untuk 

memberi sepi dan menghadiahkan kesepian 

kepadamu yang senantiasa tersenyum 

menghempas kesepianmu, sebagai debu-debu

yang kau sapulidikan di kasurmu sendiri.


(2025)



Mempersiapkan Kebohongan


kita biasa menyiapkan mantel, atau payung

jika pemandangan di balik kaca menayangkan mendung


namun pernahkah kau penasaran,

apakah aku telah mempersiapkan kepergianku?


rindu membuat aku hanya memikirkan diri sendiri

tidak dirimu, tidak pula menyoal kepergianmu


kekhawatiran adalah kebohongan dari rindu

dengan perjalanan mundur yang terlalu jauh

seperti saat-saat kita menyempatkan diri

mencari lengang untuk saling menangkap mata


aku hanya mempersiapkan kepergianku

tanpa tergesa-gesa, berbincang dengan suara pelan

denganmu, di mana saja, terpenting kita bisa duduk

lalu menyiapkan kebohongan untuk saling merindukan


karena pada dasarnya, tak pernah tersedia tempat 

untuk membicarakan kesunyian, dan kadang,

kebohongan-kebohongan begitu taat pada senyumanmu.


(2025)



Argumentum Ad Verecundiam


apa yang kita perdebatkan

sebaiknya hanya untuk kita

tidak untuk orang lewat

dan mencuri dengar

berjinjit, berpetak umpet


kita tak perlu penengah

sebab kita paling paham

materi yang kita lantun

dan menjadi lagu terseru

yang pernah kita putar bersama


kabar perdebatan begitu cepat

bergerak dari satu tembok

hingga ke tembok terjauh

kita seolah-olah terawasi

oleh gembok pagar sendiri


kemudian rombongan ahli

yang merasa abai pada etika

datang memberikan nasihat 

yang sia-sia, namun tersisa

menjadi kosong hikayat


kita tetap saja berdebat

sambil menertawakan mereka

yang keliru mengartikan

canda kita sebagai sengketa.



Sebab Luka


sebab yang dihitung dari detik

adalah detak,

bukan retak

sebab yang dihitung dari masa

adalah asa,

bukan nelangsa


maka dapatkah kita mulai menjadikan cinta

sebagai pelajaran memijak batu-batu

yang retak dengan bijak?

maka dapatkah kita mulai menata senyuman

dan menuntun gundah yang gaduh

pergi menuju makamnya?


kemudian biarkanlah rindu tumbuh

dan membuat pejam mata lupa

bagaimana cara menghitamkan dedauan


sebab luka untuk disembuh,

bukan disembah.


______


Penulis


Andi Wirambara, lahir 24 September di Ambon dan berdomisili di Malang. Praktisi hukum yang menyenangi sastra. Karya-karyanya telah dimuat di sejumlah media nasional dan lokal baik cetak maupun daring. Karyanya juga terhimpun pada sejumlah buku antologi bersama. Buku tunggalnya yang telah terbit: kumpulan puisi Harmonika Lelaki Sepi (2010), kumpulan cerpen Sekeping Tanda (2011), kumpulan puisi Lengkung (2012), dan kumpulan cerpen Tentang Pertemuan (2014).


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Cerpen Siti Fatmala | Pulang

Cerpen Siti Fatmala



Kau raba permukaan pintu dengan telapak tangan untuk mencari knop pintu. Jari-jarimu menyapu permukaannya yang dingin dan rata, lalu berhenti tanpa hasil. Kau mendorongnya lebih kuat, tetapi pintu itu hanya bergeser setipis kertas dan berhenti di sana, seakan enggan membuka lebih jauh.

Kau berhenti, lalu memandangi sekeliling. Rumah baru itu tampak terlalu rapi dan sunyi. Tidak ada cucian piring, tumpukan baju, handuk yang tergeletak di atas kasur, dan suara berisik adikmu yang menggelegar ke seluruh ruangan.


Setelah mencoba beberapa kali, pintu itu menyerah sedikit demi sedikit. Tidak banyak bergeser, tetapi cukup untuk mempersilakan tubuhmu lewat. Kau buru-buru melangkahkan kakimu menuju taman. Kau yakin keluargamu sudah menunggu sejak tadi.


Benar saja, mereka sudah menunggu di taman. Ayah duduk di bangku panjang dengan memasang wajah datar seperti biasanya. Namun, kini tak ada kacamata dan koran yang menemaninya duduk. Ibu duduk di sampingnya, ia melihat dan meraba-raba telapak tangan yang tampak kasar karena beberapa waktu ini harus mencuci pakaian tanpa mesin. Tak jauh dari situ, adikmu yang berumur sepuluh tahun sedang membuat garis abstrak di tanah dengan kayu kecil secara sembarangan. Kemudian ia menghapusnya dengan menggosokkan tangannya ke tanah, berulang-ulang tanpa bosan. Di sekitar taman, beberapa orang berjalan sambil membawa bunga, sebagian berhenti sejenak sebelum kembali berjalan. Angin sesekali membawa aroma tanah yang lembap dan bau bunga segar.


“Kakak!” teriak adik ketika melihatmu. Suaranya begitu cempreng sampai kau ingin menyumpal mulutnya.


Kau buru-buru menoleh sekitar, khawatir suara adikmu mengganggu orang yang sedang berlalu-lalang. Namun, tidak ada yang bereaksi. Mereka terus berjalan dan bercakap-cakap, seolah tak ada suara yang barusan pecah di antara mereka.


Dengan napas sedikit terengah-engah, kau duduk di samping ibu. Beberapa saat tidak ada percakapan di antara kalian.


“Kak, kok lama banget? Ayah dan ibu juga. Tadi adik sampai taman duluan, untung nggak nyasar, loh.”


“Pintunya susah dibuka,” jawabmu cepat, malas memperpanjang.


“Maklum rumah baru. Nanti juga kamu terbiasa,” ucap ayah sambil menatap lurus ke depan.


Ibu menoleh ke arahmu, ia tersenyum kecil tanpa berkata apa-apa.


“Ayah, hari ini kita ke mana?” tanya adikmu antusias.


Ayah menarik napas sedikit dalam. “Kita di sini dulu.”


Wajah adikmu yang tadi begitu antusias seketika berubah murung. Bibir yang mulanya tertarik ke pipi kini maju sekitar lima sentimeter. Lalu ia mengambil batu kecil di dekat kakinya dan melemparkannya sembarangan. Kau sudah tak heran melihat suasana hatinya berubah-ubah secepat kilat.


Ia pernah menangis karena kau pergi jalan-jalan tanpa mengajaknya. Ia mengurung diri di kamar, menolak untuk berbicara, dan bahkan tidak mau melirikmu. Namun, semua itu hilang begitu saja saat kau memberinya boneka dan sebungkus permen.


Minggu pagi di rumah kalian selalu dimulai dari dapur. Ibu sudah berdiri di sana sejak awal, satu tangan mengaduk nasi goreng, tangan lain memindahkan telur ceplok ke piring, sementara suaranya memanggil kalian berulang kali, lebih keras dari alarm ponsel mahal sekali pun. Ibu bergerak dari kanan ke kiri, depan ke belakang, dan sebaliknya. Gemercik air, minyak mendesis, spatula beradu dengan wajan, piring dan sendok bernyanyi, dan bau harum masakan perlahan menyebar ke seluruh ruangan hingga ke rumah tetangga. Katanya, aroma masakan ibu mengalahkan parfum yang baru saja disemprotkan ke pakaian.


Sementara itu, ayah duduk di ruang tengah. Ia menyeruput kopi lalu membolak-balik koran. Sesekali ayah menggerutu dan geleng-geleng kepala membaca berita di koran, seolah-olah memang tidak ada berita yang membawa kabar baik.


Adikmu baru mau keluar kamar kalau ayah yang menjemputnya. Dengan wajah masih mengantuk, belek menempel di mata, dan rambut acak-acakan, ia langsung menyuap nasi goreng buatan ibu dengan lahap. Kau hanya bisa melihatnya sambil bergidik.


“Ayah, Ibu, Kakak…” suara adik menarikmu kembali ke taman. “Kalau waktu itu kita nggak maksa jalan-jalan, sekarang kita bisa ke kolam renang, mandi bola, jajan es krim, beli boneka, ya?” tanyanya pelan.


Kau mematung kaku mendengar pertanyaan adikmu. Angin lewat seolah membawamu pada kejadian hari itu. Alunan musik Kita dari Sheila on 7 menemani kalian di perjalanan. Semua tampak baik-baik saja meski dengan berbagai kesibukan. Ayah menyetir sambil bercakap-cakap dengan ibu. Kau sibuk membuka berbagai layar di tablet untuk memastikan pekerjaanmu selesai. Sementara adik, ia sibuk bermain gim Subway Surfers, sesekali berteriak kecil saat tokoh yang dimainkan menabrak kereta. Kemudian sesuatu datang dari belakang tanpa aba-aba. Tidak ada waktu untuk menoleh atau bertanya. Sesuatu bergerak sangat cepat hingga semua terasa bergeser dari tempat yang seharusnya.


Air matamu terjun begitu saja. Di sampingmu, ibu membungkuk, tubuhnya bergetar. Ayah memeluk kalian lebih erat dari biasanya, seolah tak ingin melepas pelukannya. Baru kali pertama kalian menangis dalam pelukan.


Langit sore berawan mendung menghampiri, seakan berbelasungkawa. Ayah melepas pelukan dengan enggan. Lalu ia bangkit dari kursi.


“Langit makin gelap. Sebelum hujan datang, mari kita pulang menuju rumah masing-masing.”

_______


Penulis


Siti Fatmala, lahir di Tangerang, 2 Mei 2004. Karyanya berupa puisi, esai, cerpen tersebar di Google Drive milik pribadi. Saat ini sibuk sebagai mahasiswa semester akhir yang tidak punya arah dalam menulis skripsi. 


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Saturday, April 18, 2026

Resensi Kabut | Pemerintah dan Rumah

Oleh Kabut



Sejarah Indonesia itu proklamasi. Sejarah yang mula-mula berumah. Proklamasi dibacakan di serambi rumah, yang beralamat di Jakarta. Namun, rumah itu musnah. Yang menginginkan adalah Soekarno. Konon, kebijakan demi sejarah, bukan pengultusan. Jadi, kita yang ingin membaca sejarah dan rumah (17 Agustus 1945) dicukupkan oleh foto-foto lama saja. Kita tak lagi pernah bisa ke sana, mengunjungi rumah dan merasakan sejarah.


Pada 1946, Mohammad Hatta memasalahkan rumah. Ia berkeyakinan bahwa kemerdekaan itu berwujud perumahan atau permukiman yang membuat rakyat bahagia, sehat, dan betah. Yang dipikirkan Hatta adalah kesulitan-kesulitan yang menimpa Indonesia. Revolusi sedang kacau. Berpikiran rumah memang mendasarkan pada konstitusi tapi Indonesia tidak punya modal. Lakon permukiman di kota dan desa sedang amburadul.


Rumah sangat penting bagi wibawa penguasa. Kesanggupan memenuhi kebutuhan papan membuktikan penguasa yang memuliakan rakyat. Apakah itu mudah atau mustahil? 


Soeharto yang puluhan tahun berkuasa memiliki kepentingan dalam mengelola kepercayaan rakyat. Yang menjadi murid pada masa Orde Baru pasti ingat nama-nama menteri yang mengurusi perumahan. Soeharto yang rumahnya berada di Jalan Cendana (Jakarta) serius memikirkan masalah papan. Ia mengaku berhasil dalam swasembada pangan (beras) pada masa 1980-an. Mengapa ia mengadakan menteri perumahan? Kita tebak saja agar terjadi keberhasilan dalam masalah pemenuhan kebutuhan papan di seantero Indonesia.


Pentingnya rumah atau perumahan masih berlaku sampai sekarang. Prabowo Subianto menunjuk tokoh yang diminta bertanggung jawab dalam perumahan. Kita jangan coba-coba bertanya mengenai perumahan memihak elite atau rakyat. Yang sulit dibantah, Indonesia sangat bermasalah dengan rumah. Abad XXI makin memberi seribu pertanyaan tentang rumah. Bagaimana rumah bakal menentukan mutu rezim Prabowo? Kita tidak perlu mengajukan pertanyaan sebelum ada jawaban-jawaban terang mengenai pangan yang setiap hari diributkan di media sosial.


Yang mengingat masa lalu atau Orde Baru bakal mengetahui beragam masalah dan perwujudan kebijakan penguasa disampaikan melalui ceirta-cerita anak, tidak melulu pidato-pidato Soeharto yang bikin tidur dan terjurumus khayalan. Maka, bagi yang ingin menilik Orde Baru janganlah selalu berdasarkan pidato-pidato. Cobalah membaca puluhan buku cerita anak. Di situ, kita akan menemukan kekuasaan yang menghampiri anak-anak dengan nasihat, perintah, bujukan, dan pengelabuan. Rumah pun menjadi tema yang sering bermunculan dalam ratusan buku cerita anak.


Kita memilih satu saja. Buku yang kita baca berjudul Menuju Rumah Idaman terbitan Balai Pustaka, 1990. Yang menulis adalah Bambang Sarwono. Di kulit muka, penulisannya dilengkapi gelar: Ir. Dulu, orang yang bergelar insinyur terhormat. Negara membutuhkan banyak insinyur dalam mewujudkan pembangunan nasional. Akibatnya, banyak kaum muda yang belajar di universitas meraih gelar insinyur. Di tontonan televisi, kita mengetahui Doel adalah insinyur. Kita mengikuti kisah asmaranya ketimbang dunia kerja untuk para insinyur. Buku cerita yang sedang kita baca tidak ada kaitannya dengan Rano Karno dan sinetron yang memikat ribuan orang sampai belasan tahun.


Buku disusun pengarang yang bergelar insinyur. Pembaca tidak usah menagih ceritanya wajib bermutu. Cerita dibuat demi kepentingan-kepentingan yang sesuai dengan kebijakan-kebijakan pemerintah. Pihak penerbit memberi penjelasan latar belakang penerbitan buku. Yang disasar adalah rakyat di desa, kondisinya yang selalu menimbulkan prihatin. “Mereka belum sadar akan perlunya suatu perumahan dan permukiman yang memenuhi syarat-syarat kesehatan, keserasian, dan keindahan sehingga sering terjadi musibah yang tak dapat dielakkan,” tulis penerbit. Maka, yang dilakukan Balai Pustaka, penerbit milik pemerintah, melakukan penyuluhan atau penerangan. Cerita anak mementingkan penyuluhan. Yang membaca adalah anak-anak, yang sebenarnya ingin imajinasi yang bermutu, bukan penyuluhan. 


Penulis pun memberi keterangan: “Bila kita hidup dalam perumahan dan lingkungan desa yang tidak layak, tidak sehat, dan tidak teratur maka kita tidak akan mungkin berkembang atau mendidik anak menjadi manusia sejahtera yang sehat secara jasmaniah maupun rohanian. Karena sering sakit maka kita sering tak dapat bekerja atau bersekolah. Karena tidak sehat kita menjadi tak bergairah dan menjadi manusia yang tidak produktif. Karena rumah, pekarangan, dan lingkungan desa kita jorok dan tidak teratur maka kita tidak betah tinggal di rumah atau di desa. Dengan kondisi desa seperti itu tidak akan mungkin timbul rasa harga diri dan rasa bangga terhadap desa yang kita cintai.” Bayangkanlah murid-murid SD membaca keterangan dari insiyur yang menulis cerita mengenai rumah. Para pembaca sedang berada dalam penyuluhan yang biasanya diatasnamakan kebijakan-kebijakan Soeharto.


Ceritanya tentang keluarga yang tinggal dalam rumah yang tidak sehat. Akibatnya, para penghuni mudah sakit. Yang dihadirkan dalam cerita adalah anak yang sakit. Desa itu sedang dilanda wabah muntaber. Anak yang sakit kondisinya menyedihkan. Bapak dan ibu bingung. Sakit yang membuat segalanya murung dan menimbulkan ketakutan.


Jawaban atas nasib keluarga itu dimulai dengan kunjungan teman ke rumah. Di sekolah, ia minta izin kepada guru untuk menjenguk agar mengetahui penyebab murid yang tidak masuk sekolah. Pengarang membuat kita mengetahui keadaan: “Sesampainya Amir di rumah Badu, dilihatnya anak itu sedang bersedih. Udin terbaring lemah di tempat tidur. Di sampingnya, Pak Surya sedang komat-kamit membaca mantra. Asap kemenyan yang dibakarnya membuat sesak napas. Bapak dan ibu si Badu tampak gelisah…”.


Keluarga yang masih percaya dukun. Mereka belum mengerti pelayanan puskesmas, belum percaya pengobatan modern. Anak yang muntaber diharapkan sembuh oleh kesaktian duku. Yang terjadi, berhari-hari anak itu tetap sakit. Keluarga yang miskin dan tinggal di rumah yang jelek dirunduk duka akibat muntaber. Mereka membutuhkan pertolongan agar sehat dan selamat.


_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Thursday, April 16, 2026

Lapak Buku | "Orang Gila Sebelum Menulis Esai" Karya Encep Abdullah

 


Judul: Orang Gila Sebelum Menulis Esai

Penulis: Encep Abdullah

Penerbit: #Komentar

Terbit: Mei 2026

Tebal: vi + 147 hlm.

Harga: Rp70.000


Orang Gila Sebelum Menulis Esai bersisi 21 esai tajam, jenaka, dan penuh kegelisahan sosial yang merekam realitas kehidupan sehari-hari dari sudut pandang tak biasa. Dengan bahasa lugas, satir, dan kadang nyeleneh, penulis mengajak pembaca menertawakan absurditas zaman: dari literasi yang setengah hati, polemik sastra di sekolah, nasib guru honorer, tradisi keagamaan, hingga perilaku masyarakat yang sering bertentangan dengan akal sehat. Di balik humor dan sindiran, tersimpan refleksi mendalam tentang pendidikan, budaya, iman, kemiskinan, dan manusia modern yang kehilangan arah. Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan cermin sosial yang memancing tawa sekaligus tamparan batin. Setelah membacanya, pembaca akan bertanya: siapa sebenarnya yang gila?


Kontak:

087771480255 (Penulis)


Saturday, April 11, 2026

Resensi Kabut | Burung: Nusantara dan Cerita

Oleh Kabut



Pada abad-abad yang lampau, orang-orang Eropa berdatangan ke Nusantara. Mereka tidak datang dengan ketapel atau tulup. Yang datang adalah orang-orang yang berilmu. Mereka yang doyan membaca buku, yang membuatnya terus berpikir tentang dunia. Jadi, dolan ke Nusantara bukan sebagai turis tapi memenuhi gairah sebagai ilmuwan. Apa-apa yang ingin ditemukan di Nusantara setelah pelayaran yang jauh dan berbahaya? 

Di kepala mereka, banyak pertanyaan dan ilmu-ilmu yang ingin dibuktikan saat memasuki hutan, menelusuri sungai, atau menikmati alam perdesaan. Tubuh mereka berbeda dengan bumiputra. Penampilan pun mengesankan mereka itu terhormat. Tubuh yang menjelajah di Nusantara. Mereka keringatan tapi mengaku takjub selama di Nusantara. Beberapa ilmuwan malah tidak mau kembali ke Eropa. Mereka menikah dengan bumiputra dan berharap dikuburkan di tanah yang indah, yang selama ratusan tahun menjadi rebutan negara-negara Eropa. 


Yang menakjubkan adalah flora dan fauna. Maka, buku-buku mengenai flora dan fauna di Nusantara paling banyak ditulis ilmuwan-ilmuwan asal Eropa. Mereka meneliti di Nusantara, yang artikel dan bukunya terbit dalam beragam bahasa asing di Eropa. Kita yang ingin membacanya wajib belajar bahasa mereka atau menanti adanya edisi terjemahan bahasa Indonesia, yang pastinya telat dari terbitan awal. Yang memikat dalam penelitian mereka adalah burung. Bacalah buku-buku lawas mereka! Di situ, ada gambar burung-burung. Pembaca menemukan keterangan-keterangan ilmiah. Namun, yang ingin terus mengenali burung-burung di Nusantara boleh mengikutkan teks-teks fiksi yang digubah para pengarang Eropa. Di situ, ada imajinasi yang berlimpahan, membuat kita meyakini Nusantara yang agung. 


Di Nusantara, burung-burung pun cerita, lukisan, dan tembang. Para seniman mengisahkan burung-burung yang ada di pelbagai pulau. Yang belum digarap secara serius adalah memasalahkan burung-burung secara keilmuan. Nusantara seperti ditakdirkan didatangi orang-orang asing, yang akhirnya (paling) paham tentang burung-burung, dari Sumatra sampai Papua. Mereka yang mengungkapkan kepada kita melalui ketekunan yang sulit ditandingi. 


Pada masa berbeda, kita mulai memiliki para ilmuwan yang mengurusi burung-burung. Yang punya buku-buku terbitan LIPI mengenai burung akan mengenali para ilmuwan Indonesia tapi keberadaannya tetap di bawah bayang-bayang para ilmuwan Eropa.


Pada 1962, terbit buku berjudul Tjitjuwit Kutilangku gubahan Njonja H Abuhanifah. Yang terbit bukan buku pelajaran atau buku penelitian ilmiah. Kita disuguhi cerita. Semula, cerita hiburan dipersembahkan kepada murid-murid sekolah yang berumur 9-12 tahun. Cerita yang menghibur, bukan bermaksud menjadikan para pembacanya mengetahui ilmu yang bersumber Barat dalam mengamati dan menjelaskan burung-burung. Cerita itu mungkin melanjutkan pesona lagu mengeni kutilang yang dibuat oleh Ibu Sud. Lagu yang awet sampai sekarang. 


Yang menjadi tokoh adalah remaja bernama Chalid. Ia hidup di desa, yang masih asri dengan beragam pohon. Artinya, burung-burung dan binatang-binatang lain mendapatkan tempat hidup. Di situ, ada makanan dan suasana yang menjadikan burung-burung merayakan cerita-cerita bersama makhluk-makhluk yang lain. 


Cerita terjadi saat pagi hari. Chalid bangun dan mendengar suara burung. Di jendela, ia melihat burung kutilang dengan suaranya yang khas. Yang tampak, burung itu sedang makan pepaya. Pengarang menjelaskan bahwa Chalid yang menanam benih pepaya sampai bertumbuh besar dan berbuah. Chalid secara sadar melihat kutilang yang memakan pepaya, yang semestinya menjadi miliknya. Namun, kagum di pagi hari justru membuatnya terpesona dengan kutilang. Pagi yang merdu dan indah.


Chalid penasaran dengan segala tingkah kutilang. Akhirnya, ia mengetahui bahwa kutilang yang makan pepaya itu memiliki anak-anak dalam sarang, yang terdapat di pohon mangga. Chalid memanjatnya, melihat anak-anak kutilang yang tampak menantikan kedatangan makanan. Chalid dalam pandangan lugu ingin mengasihi burung-burung, belum berpikiran dengan ilmu-ilmu yang dipelajari di sekolah atau universitas. Pembaca harap mengingat lagi itu cerita hiburan, bukan penggalan dari buku pelajaran atau potongan dari artikel ilmiah. 


Yang terbaca dalam buku mengenai pesan ibu kepada Chalid: “Ibu kutilang itu akan mentjium bau manusia jang melekat pada anaknja itu dan ibu kutilang tidak suka kepada bau manusia. Karena bau itu, akan kurang atjuh dia kepada anaknja dan anaknja akan ditinggalkannja. Akan terlantarlah mereka apabila ibunja tak mengurusinja. Chalid ingin benar mengambil burung ketjil dari sarangnja dan memegangnja sebentar dengan dua belah tangannja. Tetapi dia ingat akan larangan ibunja. Berdetak-detak napas anak-anak burung itu, bulu-bulunja turun naik, menandakan bahwa barang hidup dibawah gumpalan bulu jang lunak. Hampir tak tertahan nafsu Chalid hendak mengambil anak-anak kutilang dan menggenggamnja barang sebentar.”


Pada hari berbeda, anak-anak di desa memamerkan kenalan dengan melempari burung. Akibatnya, ibu kutilang terluka dan mati. Pada peristiwa sedih, pembaca belum diajak mengetahui kekhasan kutilang dan perlakuan manusia terhadapnya, dari abad ke abad. Yang jelas ada anak-anak nakal yang biasanya ingin menangkap burung. Anak-anak bisa bersenjata ketapel, tulup, atau melempar dengan batu.


Keinginan Chalid terwujud. Ia yang merawat anak-anak kutilang. Keluarga ikut membantunya dalam membuat kandang dan memberi makan. Pembaca mengetahui sikap baik Chalid. Burung-burung punya hak hidup dna bertumbuh. Burung-burung tinggal di rumah, tidak lagi di sarang yang berada di pohon mangga. Chalid perlahan belajar mengenai burung, yang disokong oleh kakaknnya. Pembaca tetap harus sadar sedang menikmati cerita hiburan, bukan cerita yang menyamar untuk penjelasan ilmu.


Chalid mengalami kegagalan. Ada satu anak kutilang yang dimakan oleh kucing. Rumah bukan tempat yang aman untuk kehidupan burung-burung. Chalid sedih dan berharap bisa melakukan perbuatan baik kepada burung-burung. Sangkar bukan jawaban terbaik. Burung-burung semestinya hidup di alam bersama sesama burung dan binatang-binatang yang lain.


Ibu tidak tega melihat Chalid yang sedih. Kita mengutip dalam cerita: “Sedjak empat hari, baru sekaranglah Chalid riang kembali. Sambil mendjindjing sangkar jang berisi sepasang merpati, diapun lari kembali masuk kedalam mendapatkan ibu. Tak tentu lagi apa jang hendak dikatakannja. Bagus betul merpati pilihan ibu. Dadanja dan punggungnja putih, sajap dan kepalanja hitam dan berdjambul pula. Jang betina lebih ketjil sedikit djambulnja daripada jang laki-laki.” Ibunya sengaja membelikan merpati. Chalid makin sah menjadi pemelihara burung-burung. 


Buku dibaca anak-anak dan remaja pada masa 1960-an. Yakinlah bahwa buku itu sulit dituduh mengandung muatan-muatan ideologis, tidak ada kaitannya dengan Indonesia yang sedang memanas oleh sengketa yang memuncak pada 1965. Kita membayangkan saja para pembaca mengikuti keseharian tokoh bernama Chalid dan sedikit mengetahui burung-burung. Buku terbitan Gita Karya (Jakarta) itu menyadarkan kita atas hak-hak anak dalam ketersediaan bacaan, yang tidak wajib bergelimang ilmu atau ditumpangi kepentingan-kepentingan politik. Buku cerita yang menghibur kadang berpengaruh kepada para pembaca yang menyadari Nusantara adalah “surga burung-burung”. Namun, pengetahuan tentang burung-burung tetap berdatangan dari negara-negara asing.


________


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

Thursday, April 9, 2026

Esai Erni Febriyani | Dekonstruksi Karakter Tania dalam Film Ananta Prahadi: Antara Stigma Netizen dan Realitas Trauma Fatherless

Esai Erni Febriyani

 



Karakter Tania dalam film Ananta Prahadi karya Risa Saraswati merupakan salah satu anomali dalam dunia perfilman drama romansa Indonesia. Sejak kemunculannya, tokoh ini tidak pernah sepi dari polemik dan penghakiman moral oleh para penonton, terutama netizen di berbagai platform media sosial. Tania kerap dipandang sebagai representasi perempuan yang egois, keras kepala, temperamental, dan tidak tahu berterima kasih. Penilaian ini muncul dari kacamata sosiologis yang sangat kaku, di mana masyarakat cenderung menuntut tokoh perempuan dalam sebuah narasi cinta untuk bersikap lembut, penurut, dan menerima kasih sayang dengan tangan terbuka. Namun, benarkah Tania sesederhana itu? Ataukah ada kompleksitas psikologis dan latar belakang penciptaan yang sengaja luput dari pengamatan mata penonton yang hanya melihat permukaan?

Kritik ini hadir untuk mendekonstruksi pandangan arus utama tersebut. Jika netizen melihat Tania sebagai sosok yang “bermasalah”, penulis justru melihatnya sebagai sosok yang “terluka”. Perbedaan sudut pandang ini sangat krusial karena di situlah letak inti dari pesan yang ingin disampaikan oleh Risa Saraswati. Sebagai seorang penulis yang sejak kecil merasa “asing” karena kemampuan indigonya, Risa menciptakan Tania bukan sebagai objek untuk dibenci, melainkan sebagai kembaran jiwanya yang antisosial dan kesulitan menyatu dengan dunia normal. Melalui narasi ini, kita akan membedah bagaimana standar moral netizen sering kali gagal menangkap rintihan batin seorang penyintas trauma yang sedang berjuang mempertahankan benteng kewarasannya.

Dalam narasi film ini, hubungan antara Tania dan Pierre menjadi medan tempur pertama bagi perbedaan persepsi antara penonton awam dan pembacaan kritis. Bagi netizen yang terbiasa dengan formula film romansa standar, Pierre adalah representasi dari “kesempatan emas” atau sosok penyelamat (savior) yang sempurna secara sosiologis: tampan, mapan, sabar, dan memiliki ketulusan yang tampak tanpa cela. Ketika Pierre secara jujur menyatakan perasaannya, netizen dengan cepat menghakimi reaksi Tania yang justru memilih untuk lari dan menjauh sebagai bentuk kesombongan yang tidak masuk akal. Penilaian netizen ini berangkat dari standar ganda gender yang kaku, di mana seorang perempuan dianggap “bermasalah” atau “egois” jika ia menolak cinta dari lelaki yang dianggap ideal oleh publik. Namun, jika kita menyelami batin Tania, tindakan melarikan diri tersebut bukanlah bentuk penolakan terhadap Pierre secara personal, melainkan sebuah manifestasi dari avoidant attachment style atau kecemasan akut akan kedekatan emosional. Bagi individu yang telah bertahun-tahun membangun benteng kesunyian demi melindungi harga dirinya yang hancur akibat stigma “gila”, pernyataan cinta Pierre bukan merupakan hadiah, melainkan ancaman bagi kestabilan batin yang telah ia susun dengan penuh penderitaan.

Lebih jauh lagi, keputusan Tania untuk meninggalkan Pierre dengan raut wajah yang penuh kesedihan—bukan kebencian—menunjukkan adanya konflik internal antara id yang haus akan kasih sayang dan ego yang terlampau trauma. Netizen sering kali gagal menangkap bahwa di balik sikap “jual mahal” tersebut terdapat sebuah self-loathing atau rasa benci pada diri sendiri yang sangat mendalam. Tania merasa bahwa dirinya adalah sosok yang terlalu sulit untuk dipahami, terlalu rusak untuk dicintai, dan terlalu “kotor” untuk bersanding dengan Pierre yang ia anggap terlalu bersih. Penolakannya adalah bentuk pengorbanan yang tragis. Ia lebih memilih untuk menyakiti Pierre dengan cara menjauh daripada membiarkan Pierre masuk ke dalam dunianya yang penuh dengan amarah dan ketidakstabilan. Ia tidak percaya bahwa kebahagiaan bisa bertahan lama, sehingga ia memilih untuk mengakhiri segalanya sebelum kembali merasakan kehilangan yang menghancurkan. Ini bukanlah egoisme seperti yang dituduhkan netizen, melainkan prinsip pertahanan diri dari seseorang yang merasa bahwa kesepian adalah satu-satunya tempat di mana ia tidak akan lagi dikecewakan oleh harapan.

Persepsi netizen yang melabeli Tania sebagai perempuan “keras kepala” dalam relasi ini sebenarnya mencerminkan ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi perempuan yang memiliki prinsip emosional yang otonom. Tania memberikan pesan yang sangat kuat bahwa ia tidak butuh “diselamatkan” oleh cinta yang bersifat heroik jika ia sendiri belum berdamai dengan lukanya. Ia menolak menjadi objek romantis yang pasif; ia memilih jujur pada ketakutannya sendiri daripada berpura-pura bahagia dalam relasi yang ia rasa akan meruntuhkan benteng keamanan psikisnya. Kritik terhadap Tania dalam hal ini seharusnya beralih menjadi kritik terhadap netizen yang terlalu mendewakan “kebahagiaan standar” dan mengabaikan proses penyembuhan trauma yang sangat personal dan tidak linear. Tania adalah bukti bahwa cinta tidak selalu menjadi obat bagi semua orang; bagi sebagian manusia yang retak, cinta terkadang justru menjadi cermin yang memperlihatkan betapa hancurnya pantulan diri mereka sendiri, dan pelarian Tania adalah upaya paling jujur untuk tetap menjaga kewarasannya di tengah ketakutan akan intimasi yang mencekam.

Memasuki analisis ketiga, pusat gravitasi emosional dalam narasi ini terletak pada relasi simbiotik antara Tania dan Ananta Prahadi yang sering kali disalahartikan oleh netizen sebagai bentuk eksploitasi emosional. Pandangan arus utama netizen cenderung memposisikan Ananta sebagai sosok “korban” yang suci, sabar, dan teraniaya oleh sikap temperamental Tania yang meledak-ledak. Netizen menghujat Tania karena dianggap memperlakukan Ananta layaknya asisten pribadi yang bisa disemprot kapan saja, tanpa melihat bahwa Ananta adalah satu-satunya manusia yang berhasil melakukan “rekonstruksi mental” pada Tania sejak masa SMA. Bagi Tania, Ananta bukan sekadar sahabat atau pelayan; ia adalah object transitional atau personifikasi dari ruang aman (safe haven) yang memungkinkannya tetap berfungsi sebagai manusia di tengah badai trauma. Sikap keras Tania kepada Ananta sebenarnya adalah bentuk kejujuran emosional yang brutal. Ia hanya berani menunjukkan sisi “monster”-nya kepada satu-satunya orang yang ia percaya tidak akan pernah meninggalkannya.

Puncak kritik netizen terhadap Tania muncul saat adegan “perjanjian darah” di atas kertas dan ledakan amarah Tania ketika mengetahui Ananta telah bertunangan dengan Sukma. Netizen melabeli reaksi Tania sebagai bentuk kecemburuan romantis yang egois dan tidak tahu diri, mengingat sejak awal hubungan mereka telah dibatasi oleh kesepakatan profesional sebagai bos dan karyawan. Namun, jika dibedah secara psikoanalisis, kemarahan Tania bukanlah manifestasi dari rasa ingin memiliki Ananta secara romantis, melainkan bentuk separation anxiety atau kecemasan akan perpisahan yang sangat akut. Perjanjian darah tersebut bagi Tania bukan sekadar kontrak kerja, melainkan sebuah “mantra pelindung” untuk mengikat keamanan mentalnya secara tertulis. Ketika Ananta memutuskan memiliki kehidupan baru dengan bertunangan, Tania merasa pusat gravitasinya hilang secara tiba-tiba. Ledakan emosi di paviliun—di mana ia memecahkan benda-benda di sekitarnya—adalah bentuk acting out dari jiwa yang merasa “rahim psikologis”-nya sedang dihancurkan secara paksa oleh realitas.

Kritik terhadap Tania dalam hubungan ini seharusnya beralih menjadi sebuah pemahaman tentang bagaimana individu dengan trauma panjang berkomunikasi. Tania tidak memiliki kemampuan linguistik yang sehat untuk mengungkapkan rasa takut akan kehilangan, sehingga emosi tersebut dialihkan dalam bentuk tindakan destruktif atau displacement. Ia merasa bahwa jika Ananta pergi, tidak akan ada lagi orang yang mampu merapikan “cat-cat tumpah” di dalam kepalanya. Pikirannya yang terkesan meremehkan dengan berkata bahwa semua orang harus kuat seperti dirinya sebenarnya adalah tameng untuk menutupi betapa rapuhnya ia tanpa kehadiran Ananta. Tania bukan perempuan galak yang menyia-nyiakan Ananta; ia adalah seorang penyintas yang sedang mengalami nervous breakdown karena merasa satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam kegilaan kini mulai melepaskan ikatannya. Dengan demikian, apa yang dianggap netizen sebagai egoisme murni sesungguhnya adalah rintihan ketakutan dari seorang manusia yang merasa akan kembali dibuang ke dalam lubang keterasingan yang sunyi dan gelap.

Akar dari segala kekacauan emosional yang dialami Tania sebenarnya berhulu pada sebuah luka purba yang sering luput dari perbincangan netizen, yaitu kehilangan sosok ayah dalam fase kehidupannya. Dalam perspektif psikologi perkembangan, figur ayah adalah simbol perlindungan, stabilitas, dan cinta pertama bagi seorang anak perempuan. Ketika figur ini hilang secara tiba-tiba, dunia Tania seolah runtuh dan menyisakan kekosongan otoritas emosional yang permanen. Kehilangan ini menciptakan trauma penolakan (rejection trauma) yang membuat Tania secara tidak sadar menarik kesimpulan bahwa semua orang yang ia cintai pada akhirnya akan pergi meninggalkannya. Hal inilah yang menjadi alasan fundamental mengapa Tania cenderung memilih untuk menyendiri dan membangun tembok tinggi di paviliunnya; ia sedang melakukan antisipasi agar rasa sakit karena kehilangan di masa lalu tidak terulang kembali. Baginya, tidak memiliki siapa-siapa jauh lebih aman daripada memiliki seseorang, namun harus hidup dalam ketakutan akan kehilangan yang mencekam setiap detiknya.

Netizen yang menghujat Tania karena ia menolak Pierre atau bersikap kasar kepada Ananta tidak memahami bahwa Tania sedang mengidap fear of abandonment atau ketakutan akan ditinggalkan yang sangat patologis. Penolakannya terhadap Pierre adalah bentuk mekanisme pertahanan diri agar ia tidak memberikan celah bagi cinta untuk masuk karena, baginya, cinta adalah “pintu gerbang” menuju rasa kehilangan. Ia merasa bahwa dengan tetap sendiri, ia memegang kendali penuh atas rasa sakitnya. Hubungannya yang sangat dependen kepada Ananta juga merupakan bentuk kompensasi atas hilangnya figur pelindung dalam hidupnya. Tania memproyeksikan kebutuhan akan sosok yang selalu ada, yang tidak pernah pergi, dan yang mampu meredam emosinya kepada Ananta. Maka, ketika Ananta tiba-tiba menghadirkan sosok Sukma dalam hidupnya, bagi Tania itu bukan sekadar urusan asmara, melainkan sebuah déjà vu traumatik tentang bagaimana seorang laki-laki yang sangat ia andalkan kembali “pergi” untuk memilih kehidupan lain.

Kritik sosiologis terhadap Tania dalam konteks ini seharusnya menyoroti betapa kerasnya masyarakat terhadap anak yang tumbuh dengan luka pengabaian. Alih-alih dipahami sebagai individu yang sedang berjuang dengan inner child yang terluka, Tania justru dipaksa untuk bersikap “manis” dan “normal”, seolah-olah luka masa lalunya tidak pernah ada. Amarahnya yang meledak-ledak di paviliun adalah cara Tania berteriak kepada dunia bahwa ia lelah terus-menerus ditinggalkan dan dipaksa untuk kuat sendirian. Kehilangan sosok ayah telah merusak konsep diri Tania, membuatnya merasa “tidak cukup baik” sehingga ia merasa pantas untuk diabaikan. Inilah alasan mengapa ia sangat defensif; ia merasa harus menjadi “monster” agar tidak ada lagi yang berani mendekat, hanya untuk kemudian meninggalkannya dalam kesunyian. Melalui latar belakang ini, kita bisa melihat bahwa temperamen Tania bukanlah bentuk kejahatan, melainkan strategi bertahan hidup dari seorang anak perempuan yang dunianya sudah kiamat berkali-kali sejak ia masih kecil.

Menganalisis karakter Tania tidak akan lengkap tanpa membedah sosok di balik layarnya, yaitu Risa Saraswati. Sebagai seorang penulis yang sejak kecil harus hidup dengan kemampuan indigo, Risa sering kali merasa menjadi the outsider atau sosok asing di tengah dunia orang normal. Perasaan “nggak nyambung”, diasingkan, dan dianggap aneh oleh lingkungan sosialnya itulah yang ia proyeksikan sepenuhnya ke dalam diri Tania. Tania bukan sekadar tokoh fiksi; ia adalah “kembaran jiwa” Risa yang merepresentasikan sisi gelap, antisosial, dan kasar yang mungkin selama ini harus diredam oleh Risa dalam kehidupan nyata. Melalui Tania, Risa ingin mengirimkan pesan yang sangat personal bahwa orang-orang yang dianggap aneh atau bermasalah secara mental sebenarnya tidak membutuhkan diagnosis medis yang dingin atau ceramah moral yang menghakimi. Mereka hanya membutuhkan satu orang yang bersedia menerima “monster” di dalam diri mereka tanpa pernah bertanya “mengapa”.

Dalam konteks ini, tokoh Ananta Prahadi hadir bukan sebagai sosok manusia biasa, melainkan sebagai personifikasi dari imaginary friend atau sahabat gaib, serupa dengan Peter Cs yang setia menemani Risa dalam kesunyiannya. Ananta adalah sosok yang seolah-olah “nggak nyata” karena ketulusannya yang terlampau murni; ia tidak memiliki pretensi, tidak menuntut Tania untuk sembuh, dan bersedia menjadi sasaran amarah tanpa membalas. Risa sengaja menciptakan Ananta sebagai bentuk harapan bagi mereka yang sedang mengalami depresi akut atau keterasingan hebat. Ia ingin menunjukkan bahwa di dunia yang penuh penghakiman ini, masih ada ruang bagi penerimaan yang radikal. Ananta adalah “jangkar” bagi Tania, sebagaimana sahabat-sahabat tak kasat mata Risa menjadi jangkar bagi kewarasannya saat dunia nyata terasa terlalu menyesakkan untuk ditinggali.

Lebih jauh lagi, kegemaran Tania melukis dengan penuh amarah hingga merusak kanvas di paviliunnya merupakan bentuk katarsis lewat seni yang sangat nyata. Risa Saraswati, yang juga seorang musisi dan penulis, memahami betul bahwa emosi destruktif tidak seharusnya dipendam, melainkan harus dibuang melalui karya agar tidak membusuk di dalam jiwa. Adegan-adegan temperamental Tania di paviliun adalah simbol dari proses terapi diri (self-therapy) yang dilakukan oleh Risa. Melalui visualisasi tersebut, Risa ingin berbagi pesan kuat bahwa “hantu” yang paling mengerikan di semesta ini bukanlah kuntilanak atau entitas gaib lainnya, melainkan amarah, ego, dan trauma masa lalu yang terkunci rapat di dalam batin manusia. Seni, bagi Tania (dan juga bagi Risa), adalah satu-satunya bahasa jujur yang tersisa ketika kata-kata sudah tidak lagi mampu mewadahi rasa sakit yang teramat dalam.

Kritik terhadap karya ini seharusnya tidak berhenti pada perilaku buruk Tania, tetapi pada bagaimana seni menjadi alat bertahan hidup bagi mereka yang “retak”. Risa ingin menunjukkan bahwa menjadi “aneh” seperti Tania adalah sebuah kewajaran dalam proses menghadapi luka. Dengan menghadirkan Ananta sebagai penyeimbang, Risa sedang melakukan eksorsisme terhadap trauma-trauma pribadinya dan mengajak pembaca atau penonton untuk mulai “berjalan pelan membaca luka” orang lain. Keseluruhan narasi ini adalah sebuah surat cinta bagi para pencari suaka emosional; sebuah pengakuan bahwa meski kita merasa tidak normal dan penuh duri seperti Tania, kita tetap layak untuk mendapatkan satu orang yang mau berdiri di samping kita, merapikan cat-cat yang tumpah, dan memastikan bahwa kita tidak akan pernah benar-benar sendirian lagi di dalam paviliun kesunyian kita sendiri.

Sebagai konklusi dari seluruh rangkaian dekonstruksi karakter ini, melabeli Tania sebagai perempuan egois dan temperamental hanyalah sebuah bentuk kegagalan kolektif kita dalam membaca lapisan emosi manusia yang kompleks. Melalui sosok Tania, kita diajak untuk menyadari bahwa perilaku seseorang yang terlihat “buruk” di permukaan sering kali merupakan mekanisme pertahanan terakhir dari sebuah jiwa yang sudah terlalu sering dihancurkan oleh kehilangan. Tania bukan sedang mencoba menjadi jahat; ia hanya sedang berusaha untuk tetap utuh di tengah badai trauma fatherless dan keterasingan sosial yang mengepungnya sejak kecil. Jika netizen lebih memilih untuk memuja kesempurnaan Pierre atau kepolosan Ananta, maka esai ini justru memilih untuk memanusiakan keretakan Tania. Sebab, pada akhirnya, kejujuran emosional Tania yang meledak-ledak jauh lebih berharga daripada kepalsuan sosial yang menuntut setiap orang untuk selalu tampil “normal” dan bahagia.

Kritik sosiologis yang membenturkan pandangan netizen dengan realitas batin Tania memberikan kita pelajaran berharga tentang pentingnya empati radikal. Kita harus berhenti menjadi hakim moral yang cepat memberikan vonis dan mulai menjadi pembaca yang mau berjalan pelan di lorong-lorong luka orang lain. Risa Saraswati melalui Ananta Prahadi telah berhasil melakukan eksorsisme terhadap trauma pribadinya sekaligus memberikan “surat cinta” bagi mereka yang merasa aneh, berbeda, dan tidak diinginkan oleh dunia. Ananta hadir sebagai pengingat bahwa setiap “monster” di dalam diri manusia berhak mendapatkan satu jangkar yang tulus, dan setiap paviliun kesunyian berhak mendapatkan cahaya yang tidak menghakimi. Tania mengajarkan kita bahwa menjadi retak bukan berarti tidak berharga; justru melalui retakan itulah kita bisa melihat siapa yang benar-benar bersedia bertahan untuk merapikan serpihannya.

Pada akhirnya, memahami Tania adalah perjalanan untuk memanusiakan sisi-sisi gelap dalam diri kita sendiri yang sering kali kita sembunyikan dengan rapi. Melalui analisis ini, diharapkan tidak ada lagi penghakiman dangkal yang dialamatkan kepada karakter-karakter “sulit” seperti Tania, baik dalam karya sastra maupun dalam kehidupan nyata. Karena di balik setiap teriakan amarah dan setiap kanvas yang rusak, selalu ada seorang anak perempuan yang hanya ingin diterima apa adanya tanpa perlu mengubah dirinya menjadi orang lain. Esai ini menjadi pembelaan bagi Tania, bagi Risa, dan bagi siapa pun yang pernah dianggap “gila” oleh dunia yang terlalu malas untuk memahami rasa sakit yang mendalam. Kesunyian memang pahit, namun dalam kesunyian Tania, kita menemukan kejujuran yang paling murni tentang apa artinya menjadi manusia yang terus berjuang untuk tidak kembali hancur.

 

______

Penulis


Erni Febriyani, lahir di Cilegon, 18 Februari 2007. Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia yang menaruh minat besar pada dunia kepenulisan, literasi, dan pengelolaan teks. Karyanya berupa puisi, cerpen, esai, serta artikel opini yang dipublikasikan di berbagai platform digital seperti Kompasiana, Medium, dan Kumparan. Beberapa tulisannya juga terlibat dalam antologi nasional dan proyek buku dongeng anak. Aktif mengikuti kegiatan literasi, lomba menulis, serta pelatihan kepenulisan dan editorial. Pernah menjadi penulis terpilih dalam antologi nasional dan meraih beberapa prestasi di bidang menulis puisi, esai, serta resensi buku. Selain menulis kreatif, ia terbiasa mengolah naskah akademik, menyunting teks, dan memperhatikan tata bahasa serta ejaan bahasa Indonesia. Saat ini, kesehariannya diisi dengan kuliah, menulis, membaca, serta merancang karya-karya tulis yang kelak ingin ia bagikan lebih luas—baik melalui media digital maupun penerbitan mandiri.



Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com

Sunday, April 5, 2026

Puisi-Puisi Budiawan D. Santoso

Puisi Budiawan D. Santoso




Orang Awam


Gambar-gambar menempel ke area mata. Aku ibu butuh obat cacing. Aku anak mau vitamin A.

Chairil Anwar tlah membuka buku.

Sapardi Djoko Damono tlah lelah.

Aku siapa yang belum mengenal terkenal,

pagi-pagi tlah dapat sodoran pelbagai puisi.



Cuci


A dan C. F juga D. Mau apa suara yang terbungkam penjara.

Aku butuh sunyi.

Aku mau bercinta.

Lain aku kepengin makan serta minum.

Mawar melati kenanga, dan rerumputan. Angin tak pernah diam apa membisu.



Itu: Kacang Tanah


Kecap sedap tlah terbuang. Tenggorokan tak sepi ludah.

Ada ruang dan diam yang ingin.

Itu

apa?

Pulang aku bersama ayah.

Bawa apa apa.

Kurebus bersama itu. Dalam dalam.

Dalam sujud sembah yang jarang bertemuan.



Mata Elang


Apa Amerika Serikat ada dalam hatimu?

Apa aku bersamamu?

Sepenggal cinta mencari, menunggu, yang kadang tersesat, tak mau arah.

Aku, Amerika.



Buang


Harta bendamu. Biar aku kamu,

menyatu.

Ah, aku merindu.

Ah, aku merupamu.

Ah, Tuhanmu apa Tuhanku,

tlah menyatu.


Januari- awal Februari, 2026

 

______


Penulis

Budiawan D. Santoso, penyair tinggal di pinggir kota Solo Baru, Kec. Grogol, Kab. Skh, Jateng. 


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Cerpen Erni Febriyani | Jejak Lumpur Merah

Cerpen Erni Febriyani


Udara Terminal Pulo Gebang siang itu terasa seolah bisa membakar kulit. Sekarang sudah pukul 13.00. Aspal hitam yang menguapkan panas membuat pandanganku sedikit bergelombang—efek fatamorgana yang menyebalkan. Aku menyipitkan mata, memindai deretan bus AKAP yang terparkir rapi bagai monster besi yang sedang tertidur. Langkahku kupercepat saat melihat sebuah bus dengan trayek Jakarta-Banyuwangi mulai menyalakan mesin. Asap knalpotnya yang hitam pekat menyembur, seolah memberi peringatan bahwa ia akan segera berangkat—jika bukan karena urusan pekerjaan, aku tak akan mau buru-buru seperti ini.


Tepat di pintu bus, aku berpapasan dengan seorang wanita. Ia mengenakan terusan tipis yang tampak terlalu anggun untuk perjalanan sejauh seribu kilometer.

"Permisi, Kak. Apa benar ini bus yang menuju Banyuwangi?" tanyaku, sedikit terengah. 

Ia menoleh, menatapku dari ujung sepatu hingga ujung kepala dengan tatapan yang sulit diartikan. Dingin, tapi magnetis. "Betul," jawabnya singkat dengan suara yang rendah, "Aku juga akan ke sana." Aku menganggukkan kepala, ikut masuk ke dalam bis.

Nasib seolah sedang bermain dadu, ternyata kursi kami bersebelahan. Di tengah deru mesin dan guncangan bus yang mulai membelah kemacetan Jakarta, percakapan kami mengalir. Namanya adalah Raya, awalnya kami hanya sekadar berbagi permen hingga akhirnya bertukar nomor ponsel.


"Kamu asli orang sana, Raya? Ada saran tempat yang bagus untuk dikunjungi nggak?" tanyaku berbasa-basi, mencoba mengusir kantuk yang mulai menyerang karena pendingin bus yang menusuk tulang.


"Aku bukan orang Banyuwangi," ia menatap ke luar jendela, melihat deretan lampu jalan yang mulai menyala saat bus memasuki tol Trans-Jawa. "Aku ke sana untuk berobat."


“Kamu sakit apa?" tanyaku spontan. Kalimat itu meluncur begitu saja, seolah kami sudah bersahabat sejak lama.


Ia tidak langsung menjawab. Keheningan tiba-tiba menyergap di antara kami, lebih sunyi daripada suara mesin bus di bawah kaki. Matanya yang sayu menatap kosong ke arah kegelapan di luar jendela.


"Suamiku meninggal beberapa tahun lalu karena pandemi," suaranya bergetar tipis. "Prosedur saat itu juga sangat ketat. Aku bahkan tidak diberi kesempatan untuk menatap wajahnya atau menyentuh tangannya untuk terakhir kali. Ada rahasia yang belum sempat dia bisikkan, dan sesuatu yang belum sempat diselesaikan.”


Ia menoleh padaku, sebuah senyum tipis yang getir terukir di bibirnya. "Aku ke Banyuwangi untuk menemui seseorang yang katanya bisa 'membuka pintu'. Aku ingin menyelesaikan apa yang belum tuntas di antara kami."


Jantungku berdegup lebih kencang. Logika di kepalaku berteriak bahwa ini gila, aku paham betul makna ‘membuka pintu’ yang ia maksud ke arah mana, ini sungguh gila. Tapi rasa penasaranku jauh lebih berisik. "Apa aku boleh ikut?" tanyaku lirih.


Raya menatapku cukup lama, matanya seolah sedang menimbang-nimbang apakah aku sanggup menanggung apa yang akan kulihat nanti. "Boleh," jawabnya pelan. "Kirim lokasimu saja. Nanti aku jemput bersama temanku."


Aku mengangguk antusias, meski ada desir aneh di dadaku. Kami berpisah di terminal pusat Banyuwangi. Seorang rekan kerja sudah memesankanku kamar hotel, jadi aku bisa langsung mandi dan melepas penat setelah belasan jam di perjalanan. Namun, rasa lelahku kalah oleh rasa ingin tahu. Aku telah tiba di Banyuwangi pukul 09.00, lagipula aku sudah tertidur pulas di dalam bis. Begitu pesan singkat dari Raya masuk, aku segera turun ke lobi.


"Hai, Sasa. Kenalin, ini Tia, temanku," ucap Raya dari balik kemudi. Aku menyapa Tia, yang hanya membalas dengan senyum tipis yang terasa dingin.


Kami membelah jalanan Banyuwangi yang sudah mulai dipadati orang yang berlalu-lalang. Namun perjalanan itu terasa tanpa akhir, hampir dua jam kami menembus rimbunnya pepohonan yang dahan-dahannya meliuk seperti tangan raksasa. Hingga akhirnya, mobil berhenti di depan sebuah rumah tua kayu khas Jawa yang berdiri angker di tengah kesunyian.


Seorang wanita tua mengenakan kebaya hitam legam keluar dari pintu yang berderit. Rambutnya disanggul rapi, namun tatapannya tajam menusuk, seolah bisa membaca setiap dosa di kepalaku. Raya dan Tia memanggilnya "Nyai".


Awalnya aku diminta menunggu di luar, di bawah naungan pohon kamboja yang baunya menyengat. Namun tak lama, Tia memanggilku masuk, “Jangan berbicara apa pun ketika kamu melihat sesuatu di dalam.” Aku menganggukan kepala patuh. 


Di dalam, ruangan itu hanya diterangi temaram lampu minyak. Bau kemenyan dan aroma amis langsung menyergap penciumanku. Di depan kami, Nyai sudah memegang seekor burung gagak yang sayapnya masih bergeletar lemah. Tanpa ragu, Nyai membelah dada burung itu dengan pisau kecil yang berkilat. Ia mengambil hatinya yang masih hangat, lalu memeras darah hitam pekat itu ke dalam sebuah gelas tanah liat. Setelah merapalkan mantra dalam bahasa yang tak kupahami, ia menyodorkan gelas itu pada Raya.


Raya tampak pucat, namun ia patuh. Ia meneguk darah gagak itu hingga tandas, menyisakan noda
merah kehitaman di sudut bibirnya.


"Lepas pakaianmu. Pakai jarik ini," perintah Nyai dengan suara serak.


Raya melepaskan identitas manusianya, berganti kain jarik lusuh yang disediakan. Nyai kemudian membentangkan kain hitam besar. Mereka berdua masuk ke bawah kain itu, menghilang dari pandangan, menyisakan gundukan misterius yang mulai bergerak-gerak aneh.


Suasana menjadi sangat pekat. Jantungku berdegup kencang, rasa takut yang luar biasa merayap dari ujung kaki. Karena aku tahu bahwa ritual ini sudah pasti bekerja sama dengan jin, refleks aku mulai merapalkan ayat kursi di dalam hati. Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum.... Aku terus mengulangnya, mencoba mencari perlindungan dari aura gelap yang mulai memenuhi ruangan itu.


Di tengah gumaman Ayat Kursi yang kurapalkan dalam hati, tiba-tiba kain hitam itu tersingkap. Nyai muncul seperti bayangan yang keluar dari kegelapan. Ia tidak berkata-kata, namun matanya yang sehitam jelaga menatapku tajam—begitu tajam hingga seolah-olah ia bisa mendengar setiap bait doa yang kupanjatkan.


Perlahan, ia mengangkat jari telunjuknya yang keriput ke depan wajahku. Ia menggerakkannya ke kanan dan ke kiri secara perlahan. Isyarat universal untuk satu kata: diam.


Napas pembelaanku tercekat. Lidahku kelu, Ayat Kursi yang kurapalkan mendadak terhenti di tenggorokan. Begitu aku terbungkam, Nyai kembali menghilang ke balik kain, meninggalkanku yang gemetar hebat di sudut ruangan. Satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah berzikir tanpa suara, memohon agar kakiku tidak lemas saat diperintahkan pergi.


Tak lama, Raya diarahkan masuk ke sebuah ruangan tertutup di sudut rumah. Aku dan Tia diminta segera meninggalkan tempat itu. Namun, sebelum kakiku melewati ambang pintu, sebuah suara merobek kesunyian hutan. Itu suara Raya. Ia menangis hebat, meraung pedih, namun di sela tangisnya aku mendengar ia sedang bercakap-cakap dengan seseorang—sebuah suara bariton yang berat, yang mungkin seharusnya sudah tertimbun tanah bertahun-tahun lalu.


Hujan deras menyambut kami di luar. Tanah merah yang tadinya kering kini berubah menjadi bubur lumpur yang amis. Aku menatap nanar ke arah sepatu putih kesayanganku yang kini terendam lumpur merah pekat. Sial, susah dicuci ini nanti, batinku mencoba mengalihkan ketakutan dengan masalah sepele.


Di dalam mobil, suasana sunyi senyap, hanya ada bunyi wiper yang menyapu kaca depan. Aku memberanikan diri membuka suara.


"Raya... nggak apa-apa kita tinggal sendirian di sana?" tanyaku dengan suara parau.


Tia menatapku sekilas dari spion tengah. Tatapannya kosong. "Nggak apa-apa. Memang begitu aturannya. Tiga hari lagi aku akan menjemputnya. Dia sudah 'bertemu' dengan suaminya sekarang."


"Tiga hari? Ngapain saja di dalam ruangan sempit itu?"


Tia tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat bulu kudukku berdiri. "Ngapain saja. Menyelesaikan masalah yang tertunda, menagih janji yang patah, atau sekadar melepas rindu. Dan tentu saja..." Tia menjeda kalimatnya, "...mereka akan melakukan hubungan suami-istri. Seperti biasa."


Aku terhenyak. Kepalaku mendadak pening. Suaminya sudah meninggal, jasadnya entah sudah jadi apa, tapi di dalam sana—di balik dinding kayu tua itu—Raya sedang bercinta dengan sesuatu yang ia sebut suami?


Kami kembali diselimuti keheningan yang menyesakkan. Di tengah pikiranku yang berkecamuk, tiba-tiba mobil sudah berhenti tepat di depan lobi hotel. Aku tersentak. Bagaimana mungkin? Perjalanan berangkat tadi terasa seperti abadi—dua jam menembus hutan—tapi pulang seolah hanya sepuluh menit. Aku tidak bertanya, aku hanya ingin segera lari dari atmosfer dingin di dalam mobil itu.


Setibanya di kamar, aku bergegas menuju kamar mandi, ingin membasuh sisa-sisa bau kemenyan yang seolah menempel di kulitku. Namun, tepat sebelum aku menyalakan keran, sebuah suara menyelinap masuk melalui celah pintu. Suara sinden. Sangat halus, meliuk-liuk merdu, namun tanpa jeda untuk mengambil napas. Awalnya aku menduga itu hanya musik dari tamu di kamar sebelah yang menyetel lagu tradisional. Aku mencoba mengabaikannya dan masuk ke dalam kucuran air. 


Namun… setelah aku selesai dan mengeringkan tubuh, suara itu tetap ada. Sama persis, dengan nada yang sama, diputar berulang-ulang seperti kaset rusak yang terjebak di satu pita yang sama. Aku merebahkan diri di kasur, mencoba memejamkan mata dan membiarkan senandung itu menjadi latar belakang. Hingga sebuah bisikan tajam tepat di lubang telingaku membuatku terlonjak.


"Lupakan!"


Suara itu kering dan dingin. Jantungku berpacu hebat. Detik berikutnya, aku mendengar namaku dipanggil dari luar. "Sasa... Sasa...."


Aku bangkit dan menyibak tirai jendela. Di bawah sana, di halaman hotel, aku melihat Tia. Ia berdiri mematung sambil mendongakkan kepalanya tepat ke arah jendelaku. Aku terpaku bingung. Kamarku ada di lantai delapan, jaraknya puluhan meter dari tanah. Bagaimana mungkin suaranya bisa terdengar sejelas orang yang berdiri di sampingku?


Baru saja mulutku terbuka untuk memanggilnya, pemandangan nalar itu pecah. Tia tidak berjalan menuju pintu masuk. Ia justru merayap. Tubuhnya menempel di dinding hotel, merangkak naik dengan gerakan patah-patah yang sangat cepat—persis seperti laba-laba raksasa.


Aku tersungkur mundur, menutup jendela dengan kasar dan menguncinya rapat-rapat. Napas duniaku terengah-engah. Panik, aku mulai merapalkan semua ayat suci yang kuhapal, namun suara sinden itu justru semakin mengencang, seolah menertawakan ketakutanku. Bisikan "LUPAKAN!" bergema di setiap sudut kamar.


Demi menyelamatkan kewarasanku, aku meraih ponsel, menyalakan murotal dengan volume maksimal untuk menenggelamkan suara-suara gaib itu. Aku meringkuk di bawah selimut, memejamkan mata rapat-rapat sampai akhirnya kelelahan menyeretku ke dalam tidur yang gelap.


***


Keesokan harinya, setelah seluruh pekerjaanku tuntas, aku duduk di restoran hotel. Aroma kopi yang kusesap sedikit menenangkan saraf-sarafku yang tegang. Mataku kosong, menatap seorang petugas kebersihan yang sedang memanjat tangga untuk memperbaiki lampu yang berkedip di langit-langit.


DAR! 


Tiba-tiba, suara ledakan pecah. Lampu itu meledak hebat. Secara refleks, aku menutupi wajah dengan kedua tangan, menghindari hujan serpihan kaca. Namun, saat aku membuka mata, duniaku berganti total.


Bau kopi berganti bau aspal panas. Suasana restoran yang sejuk berganti menjadi hiruk-pikuk terminal yang menyesakkan. Aku tidak lagi duduk di kursi empuk, melainkan tergeletak di lantai terminal yang kasar. Di sekelilingku, beberapa petugas medis sedang sibuk, dan sebuah ambulans terparkir dengan lampu strobo yang menyilaukan.


"Mbak? Mbak bisa dengar saya?" seorang petugas medis menepuk pipiku.


Aku mengerjap, mencoba menajamkan penglihatan. Di kerumunan orang yang menonton, aku melihatnya. Raya. Ia berdiri di sana, menatapku dengan sebuah senyum kecil yang misterius. Baru saja aku ingin berteriak dan mengejarnya, petugas medis menahanku.


"Jangan banyak gerak dulu, Mbak. Mbak harus segera ke rumah sakit," ucapnya tegas.


Aku linglung. Sepanjang perjalanan di ambulans, kepalaku berdenyut hebat. "Apa yang terjadi? Saya... saya tadi di hotel," gumamku parau.


Petugas medis itu menatapku kasihan. "Mbak pingsan di terminal. Menurut saksi mata, kepala Mbak dipukul oleh seorang ODGJ. Padahal ODGJ itu perempuan tua loh, Mbak. Tapi pukulannya keras sekali, oleh sebab itu Mbak langsung tumbang."


Aku tertegun. ODGJ tua? Pingsan di halte? Jadi, pertemuanku dengan Raya, perjalanan ke Banyuwangi, darah gagak, dan kain hitam itu... hanya bunga tidur saat aku pingsan? Aku mencoba meyakinkan diri bahwa semua itu hanyalah halusinasi akibat gegar otak ringan. Aku bahkan belum sampai ke kota tujuan. Semuanya hanya mimpi.


Setibanya di rumah sakit, petugas medis menyerahkan kantong plastik berisi barang-pribadiku. "Ini sepatunya, Mbak. Tadi terlepas saat Mbak dievakuasi."


Aku mengambil sepatu putih itu, seketika jantungku seolah berhenti berdetak. Sepatu itu kotor. Bukan sekadar debu terminal, melainkan kerak lumpur merah yang tebal, basah, dan berbau amis kemenyan. Padahal Terminal Pulo Gebang sedang sangat kering dan terik. Satu-satunya tempat berlumpur merah yang kukunjungi hanyalah halaman rumah Nyai.


Di tengah guncangan batinku, ponselku bergetar. Sebuah telepon dari rekan kerjaku.


"Bu, maaf ya, saya belum bisa menjenguk ke rumah sakit. Masih ada meeting yang harus saya pegang," ucapnya dari seberang sana.


"Nggak apa-apa, Pak," jawabku gemetar. "Maaf juga saya terlambat datang ke Banyuwangi. Saya belum sempat cari hotel, meeting hari ini saya bolos, dan tugas yang Bapak arahkan juga belum sempat saya sentuh...."


Hening sejenak di seberang telepon.


"Loh? Maksud Ibu apa?" suaranya terdengar bingung. "Ibu kan sudah di Hotel Arum sejak kemarin. Soal meeting, tadi pagi kita kan sudah bertemu, Bu? Tugas yang mana yang belum dikerjakan? Perasaan tadi presentasi Ibu lancar-lancar saja, semua sudah selesai."


Aku terdiam. Lidahku kelu. Ponsel itu hampir merosot dari genggamanku. Jika aku pingsan di halte, lalu siapa yang presentasi di kantor? Jika semua itu mimpi, dari mana datangnya tanah merah di sepatuku?


Aku memperhatikan sepatuku dengan saksama, mengingat kembali kejadian yang telah kulalui. Hingga tatapanku tertuju pada ujung tali sepatu. Lagi-lagi aku menyadari sesuatu yang mengerikan. Di ujung tali sepatuku, ada bekas noda kering berwarna kehitaman. Bekas darah.


_______


Penulis


Erni Febriyani, lahir di Cilegon, 18 Februari 2007. Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia yang menaruh minat besar pada dunia kepenulisan, literasi, dan pengelolaan teks. Karyanya berupa puisi, cerpen, esai, serta artikel opini yang dipublikasikan di berbagai platform digital seperti Kompasiana, Medium, dan Kumparan. Beberapa tulisannya juga terlibat dalam antologi nasional dan proyek buku dongeng anak. Aktif mengikuti kegiatan literasi, lomba menulis, serta pelatihan kepenulisan dan editorial. Pernah menjadi penulis terpilih dalam antologi nasional dan meraih beberapa prestasi di bidang menulis puisi, esai, serta resensi buku. Selain menulis kreatif, ia terbiasa mengolah naskah akademik, menyunting teks, dan memperhatikan tata bahasa serta ejaan bahasa Indonesia. Saat ini, kesehariannya diisi dengan kuliah, menulis, membaca, serta merancang karya-karya tulis yang kelak ingin ia bagikan lebih luas—baik melalui media digital maupun penerbitan mandiri.



Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com