Cerpen Erni Febriyani
Udara Terminal Pulo Gebang siang itu terasa seolah bisa membakar kulit. Sekarang sudah pukul 13.00. Aspal hitam yang menguapkan panas membuat pandanganku sedikit bergelombang—efek fatamorgana yang menyebalkan. Aku menyipitkan mata, memindai deretan bus AKAP yang terparkir rapi bagai monster besi yang sedang tertidur. Langkahku kupercepat saat melihat sebuah bus dengan trayek Jakarta-Banyuwangi mulai menyalakan mesin. Asap knalpotnya yang hitam pekat menyembur, seolah memberi peringatan bahwa ia akan segera berangkat—jika bukan karena urusan pekerjaan, aku tak akan mau buru-buru seperti ini.
Tepat di pintu bus, aku berpapasan dengan seorang wanita. Ia mengenakan terusan tipis yang tampak terlalu anggun untuk perjalanan sejauh seribu kilometer.
"Permisi, Kak. Apa benar ini bus yang menuju Banyuwangi?" tanyaku, sedikit terengah.
Ia menoleh, menatapku dari ujung sepatu hingga ujung kepala dengan tatapan yang sulit diartikan. Dingin, tapi magnetis. "Betul," jawabnya singkat dengan suara yang rendah, "Aku juga akan ke sana." Aku menganggukkan kepala, ikut masuk ke dalam bis.
Nasib seolah sedang bermain dadu, ternyata kursi kami bersebelahan. Di tengah deru mesin dan guncangan bus yang mulai membelah kemacetan Jakarta, percakapan kami mengalir. Namanya adalah Raya, awalnya kami hanya sekadar berbagi permen hingga akhirnya bertukar nomor ponsel.
"Kamu asli orang sana, Raya? Ada saran tempat yang bagus untuk dikunjungi nggak?" tanyaku berbasa-basi, mencoba mengusir kantuk yang mulai menyerang karena pendingin bus yang menusuk tulang.
"Aku bukan orang Banyuwangi," ia menatap ke luar jendela, melihat deretan lampu jalan yang mulai menyala saat bus memasuki tol Trans-Jawa. "Aku ke sana untuk berobat."
“Kamu sakit apa?" tanyaku spontan. Kalimat itu meluncur begitu saja, seolah kami sudah bersahabat sejak lama.
Ia tidak langsung menjawab. Keheningan tiba-tiba menyergap di antara kami, lebih sunyi daripada suara mesin bus di bawah kaki. Matanya yang sayu menatap kosong ke arah kegelapan di luar jendela.
"Suamiku meninggal beberapa tahun lalu karena pandemi," suaranya bergetar tipis. "Prosedur saat itu juga sangat ketat. Aku bahkan tidak diberi kesempatan untuk menatap wajahnya atau menyentuh tangannya untuk terakhir kali. Ada rahasia yang belum sempat dia bisikkan, dan sesuatu yang belum sempat diselesaikan.”
Ia menoleh padaku, sebuah senyum tipis yang getir terukir di bibirnya. "Aku ke Banyuwangi untuk menemui seseorang yang katanya bisa 'membuka pintu'. Aku ingin menyelesaikan apa yang belum tuntas di antara kami."
Jantungku berdegup lebih kencang. Logika di kepalaku berteriak bahwa ini gila, aku paham betul makna ‘membuka pintu’ yang ia maksud ke arah mana, ini sungguh gila. Tapi rasa penasaranku jauh lebih berisik. "Apa aku boleh ikut?" tanyaku lirih.
Raya menatapku cukup lama, matanya seolah sedang menimbang-nimbang apakah aku sanggup menanggung apa yang akan kulihat nanti. "Boleh," jawabnya pelan. "Kirim lokasimu saja. Nanti aku jemput bersama temanku."
Aku mengangguk antusias, meski ada desir aneh di dadaku. Kami berpisah di terminal pusat Banyuwangi. Seorang rekan kerja sudah memesankanku kamar hotel, jadi aku bisa langsung mandi dan melepas penat setelah belasan jam di perjalanan. Namun, rasa lelahku kalah oleh rasa ingin tahu. Aku telah tiba di Banyuwangi pukul 09.00, lagipula aku sudah tertidur pulas di dalam bis. Begitu pesan singkat dari Raya masuk, aku segera turun ke lobi.
"Hai, Sasa. Kenalin, ini Tia, temanku," ucap Raya dari balik kemudi. Aku menyapa Tia, yang hanya membalas dengan senyum tipis yang terasa dingin.
Kami membelah jalanan Banyuwangi yang sudah mulai dipadati orang yang berlalu-lalang. Namun perjalanan itu terasa tanpa akhir, hampir dua jam kami menembus rimbunnya pepohonan yang dahan-dahannya meliuk seperti tangan raksasa. Hingga akhirnya, mobil berhenti di depan sebuah rumah tua kayu khas Jawa yang berdiri angker di tengah kesunyian.
Seorang wanita tua mengenakan kebaya hitam legam keluar dari pintu yang berderit. Rambutnya disanggul rapi, namun tatapannya tajam menusuk, seolah bisa membaca setiap dosa di kepalaku. Raya dan Tia memanggilnya "Nyai".
Awalnya aku diminta menunggu di luar, di bawah naungan pohon kamboja yang baunya menyengat. Namun tak lama, Tia memanggilku masuk, “Jangan berbicara apa pun ketika kamu melihat sesuatu di dalam.” Aku menganggukan kepala patuh.
Di dalam, ruangan itu hanya diterangi temaram lampu minyak. Bau kemenyan dan aroma amis langsung menyergap penciumanku. Di depan kami, Nyai sudah memegang seekor burung gagak yang sayapnya masih bergeletar lemah. Tanpa ragu, Nyai membelah dada burung itu dengan pisau kecil yang berkilat. Ia mengambil hatinya yang masih hangat, lalu memeras darah hitam pekat itu ke dalam sebuah gelas tanah liat. Setelah merapalkan mantra dalam bahasa yang tak kupahami, ia menyodorkan gelas itu pada Raya.
Raya tampak pucat, namun ia patuh. Ia meneguk darah gagak itu hingga tandas, menyisakan noda
merah kehitaman di sudut bibirnya.
"Lepas pakaianmu. Pakai jarik ini," perintah Nyai dengan suara serak.
Raya melepaskan identitas manusianya, berganti kain jarik lusuh yang disediakan. Nyai kemudian membentangkan kain hitam besar. Mereka berdua masuk ke bawah kain itu, menghilang dari pandangan, menyisakan gundukan misterius yang mulai bergerak-gerak aneh.
Suasana menjadi sangat pekat. Jantungku berdegup kencang, rasa takut yang luar biasa merayap dari ujung kaki. Karena aku tahu bahwa ritual ini sudah pasti bekerja sama dengan jin, refleks aku mulai merapalkan ayat kursi di dalam hati. Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum.... Aku terus mengulangnya, mencoba mencari perlindungan dari aura gelap yang mulai memenuhi ruangan itu.
Di tengah gumaman Ayat Kursi yang kurapalkan dalam hati, tiba-tiba kain hitam itu tersingkap. Nyai muncul seperti bayangan yang keluar dari kegelapan. Ia tidak berkata-kata, namun matanya yang sehitam jelaga menatapku tajam—begitu tajam hingga seolah-olah ia bisa mendengar setiap bait doa yang kupanjatkan.
Perlahan, ia mengangkat jari telunjuknya yang keriput ke depan wajahku. Ia menggerakkannya ke kanan dan ke kiri secara perlahan. Isyarat universal untuk satu kata: diam.
Napas pembelaanku tercekat. Lidahku kelu, Ayat Kursi yang kurapalkan mendadak terhenti di tenggorokan. Begitu aku terbungkam, Nyai kembali menghilang ke balik kain, meninggalkanku yang gemetar hebat di sudut ruangan. Satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah berzikir tanpa suara, memohon agar kakiku tidak lemas saat diperintahkan pergi.
Tak lama, Raya diarahkan masuk ke sebuah ruangan tertutup di sudut rumah. Aku dan Tia diminta segera meninggalkan tempat itu. Namun, sebelum kakiku melewati ambang pintu, sebuah suara merobek kesunyian hutan. Itu suara Raya. Ia menangis hebat, meraung pedih, namun di sela tangisnya aku mendengar ia sedang bercakap-cakap dengan seseorang—sebuah suara bariton yang berat, yang mungkin seharusnya sudah tertimbun tanah bertahun-tahun lalu.
Hujan deras menyambut kami di luar. Tanah merah yang tadinya kering kini berubah menjadi bubur lumpur yang amis. Aku menatap nanar ke arah sepatu putih kesayanganku yang kini terendam lumpur merah pekat. Sial, susah dicuci ini nanti, batinku mencoba mengalihkan ketakutan dengan masalah sepele.
Di dalam mobil, suasana sunyi senyap, hanya ada bunyi wiper yang menyapu kaca depan. Aku memberanikan diri membuka suara.
"Raya... nggak apa-apa kita tinggal sendirian di sana?" tanyaku dengan suara parau.
Tia menatapku sekilas dari spion tengah. Tatapannya kosong. "Nggak apa-apa. Memang begitu aturannya. Tiga hari lagi aku akan menjemputnya. Dia sudah 'bertemu' dengan suaminya sekarang."
"Tiga hari? Ngapain saja di dalam ruangan sempit itu?"
Tia tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat bulu kudukku berdiri. "Ngapain saja. Menyelesaikan masalah yang tertunda, menagih janji yang patah, atau sekadar melepas rindu. Dan tentu saja..." Tia menjeda kalimatnya, "...mereka akan melakukan hubungan suami-istri. Seperti biasa."
Aku terhenyak. Kepalaku mendadak pening. Suaminya sudah meninggal, jasadnya entah sudah jadi apa, tapi di dalam sana—di balik dinding kayu tua itu—Raya sedang bercinta dengan sesuatu yang ia sebut suami?
Kami kembali diselimuti keheningan yang menyesakkan. Di tengah pikiranku yang berkecamuk, tiba-tiba mobil sudah berhenti tepat di depan lobi hotel. Aku tersentak. Bagaimana mungkin? Perjalanan berangkat tadi terasa seperti abadi—dua jam menembus hutan—tapi pulang seolah hanya sepuluh menit. Aku tidak bertanya, aku hanya ingin segera lari dari atmosfer dingin di dalam mobil itu.
Setibanya di kamar, aku bergegas menuju kamar mandi, ingin membasuh sisa-sisa bau kemenyan yang seolah menempel di kulitku. Namun, tepat sebelum aku menyalakan keran, sebuah suara menyelinap masuk melalui celah pintu. Suara sinden. Sangat halus, meliuk-liuk merdu, namun tanpa jeda untuk mengambil napas. Awalnya aku menduga itu hanya musik dari tamu di kamar sebelah yang menyetel lagu tradisional. Aku mencoba mengabaikannya dan masuk ke dalam kucuran air.
Namun… setelah aku selesai dan mengeringkan tubuh, suara itu tetap ada. Sama persis, dengan nada yang sama, diputar berulang-ulang seperti kaset rusak yang terjebak di satu pita yang sama. Aku merebahkan diri di kasur, mencoba memejamkan mata dan membiarkan senandung itu menjadi latar belakang. Hingga sebuah bisikan tajam tepat di lubang telingaku membuatku terlonjak.
"Lupakan!"
Suara itu kering dan dingin. Jantungku berpacu hebat. Detik berikutnya, aku mendengar namaku dipanggil dari luar. "Sasa... Sasa...."
Aku bangkit dan menyibak tirai jendela. Di bawah sana, di halaman hotel, aku melihat Tia. Ia berdiri mematung sambil mendongakkan kepalanya tepat ke arah jendelaku. Aku terpaku bingung. Kamarku ada di lantai delapan, jaraknya puluhan meter dari tanah. Bagaimana mungkin suaranya bisa terdengar sejelas orang yang berdiri di sampingku?
Baru saja mulutku terbuka untuk memanggilnya, pemandangan nalar itu pecah. Tia tidak berjalan menuju pintu masuk. Ia justru merayap. Tubuhnya menempel di dinding hotel, merangkak naik dengan gerakan patah-patah yang sangat cepat—persis seperti laba-laba raksasa.
Aku tersungkur mundur, menutup jendela dengan kasar dan menguncinya rapat-rapat. Napas duniaku terengah-engah. Panik, aku mulai merapalkan semua ayat suci yang kuhapal, namun suara sinden itu justru semakin mengencang, seolah menertawakan ketakutanku. Bisikan "LUPAKAN!" bergema di setiap sudut kamar.
Demi menyelamatkan kewarasanku, aku meraih ponsel, menyalakan murotal dengan volume maksimal untuk menenggelamkan suara-suara gaib itu. Aku meringkuk di bawah selimut, memejamkan mata rapat-rapat sampai akhirnya kelelahan menyeretku ke dalam tidur yang gelap.
***
Keesokan harinya, setelah seluruh pekerjaanku tuntas, aku duduk di restoran hotel. Aroma kopi yang kusesap sedikit menenangkan saraf-sarafku yang tegang. Mataku kosong, menatap seorang petugas kebersihan yang sedang memanjat tangga untuk memperbaiki lampu yang berkedip di langit-langit.
DAR!
Tiba-tiba, suara ledakan pecah. Lampu itu meledak hebat. Secara refleks, aku menutupi wajah dengan kedua tangan, menghindari hujan serpihan kaca. Namun, saat aku membuka mata, duniaku berganti total.
Bau kopi berganti bau aspal panas. Suasana restoran yang sejuk berganti menjadi hiruk-pikuk terminal yang menyesakkan. Aku tidak lagi duduk di kursi empuk, melainkan tergeletak di lantai terminal yang kasar. Di sekelilingku, beberapa petugas medis sedang sibuk, dan sebuah ambulans terparkir dengan lampu strobo yang menyilaukan.
"Mbak? Mbak bisa dengar saya?" seorang petugas medis menepuk pipiku.
Aku mengerjap, mencoba menajamkan penglihatan. Di kerumunan orang yang menonton, aku melihatnya. Raya. Ia berdiri di sana, menatapku dengan sebuah senyum kecil yang misterius. Baru saja aku ingin berteriak dan mengejarnya, petugas medis menahanku.
"Jangan banyak gerak dulu, Mbak. Mbak harus segera ke rumah sakit," ucapnya tegas.
Aku linglung. Sepanjang perjalanan di ambulans, kepalaku berdenyut hebat. "Apa yang terjadi? Saya... saya tadi di hotel," gumamku parau.
Petugas medis itu menatapku kasihan. "Mbak pingsan di terminal. Menurut saksi mata, kepala Mbak dipukul oleh seorang ODGJ. Padahal ODGJ itu perempuan tua loh, Mbak. Tapi pukulannya keras sekali, oleh sebab itu Mbak langsung tumbang."
Aku tertegun. ODGJ tua? Pingsan di halte? Jadi, pertemuanku dengan Raya, perjalanan ke Banyuwangi, darah gagak, dan kain hitam itu... hanya bunga tidur saat aku pingsan? Aku mencoba meyakinkan diri bahwa semua itu hanyalah halusinasi akibat gegar otak ringan. Aku bahkan belum sampai ke kota tujuan. Semuanya hanya mimpi.
Setibanya di rumah sakit, petugas medis menyerahkan kantong plastik berisi barang-pribadiku. "Ini sepatunya, Mbak. Tadi terlepas saat Mbak dievakuasi."
Aku mengambil sepatu putih itu, seketika jantungku seolah berhenti berdetak. Sepatu itu kotor. Bukan sekadar debu terminal, melainkan kerak lumpur merah yang tebal, basah, dan berbau amis kemenyan. Padahal Terminal Pulo Gebang sedang sangat kering dan terik. Satu-satunya tempat berlumpur merah yang kukunjungi hanyalah halaman rumah Nyai.
Di tengah guncangan batinku, ponselku bergetar. Sebuah telepon dari rekan kerjaku.
"Bu, maaf ya, saya belum bisa menjenguk ke rumah sakit. Masih ada meeting yang harus saya pegang," ucapnya dari seberang sana.
"Nggak apa-apa, Pak," jawabku gemetar. "Maaf juga saya terlambat datang ke Banyuwangi. Saya belum sempat cari hotel, meeting hari ini saya bolos, dan tugas yang Bapak arahkan juga belum sempat saya sentuh...."
Hening sejenak di seberang telepon.
"Loh? Maksud Ibu apa?" suaranya terdengar bingung. "Ibu kan sudah di Hotel Arum sejak kemarin. Soal meeting, tadi pagi kita kan sudah bertemu, Bu? Tugas yang mana yang belum dikerjakan? Perasaan tadi presentasi Ibu lancar-lancar saja, semua sudah selesai."
Aku terdiam. Lidahku kelu. Ponsel itu hampir merosot dari genggamanku. Jika aku pingsan di halte, lalu siapa yang presentasi di kantor? Jika semua itu mimpi, dari mana datangnya tanah merah di sepatuku?
Aku memperhatikan sepatuku dengan saksama, mengingat kembali kejadian yang telah kulalui. Hingga tatapanku tertuju pada ujung tali sepatu. Lagi-lagi aku menyadari sesuatu yang mengerikan. Di ujung tali sepatuku, ada bekas noda kering berwarna kehitaman. Bekas darah.
_______
Penulis
Erni Febriyani, lahir di Cilegon, 18 Februari 2007. Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia yang menaruh minat besar pada dunia kepenulisan, literasi, dan pengelolaan teks. Karyanya berupa puisi, cerpen, esai, serta artikel opini yang dipublikasikan di berbagai platform digital seperti Kompasiana, Medium, dan Kumparan. Beberapa tulisannya juga terlibat dalam antologi nasional dan proyek buku dongeng anak. Aktif mengikuti kegiatan literasi, lomba menulis, serta pelatihan kepenulisan dan editorial. Pernah menjadi penulis terpilih dalam antologi nasional dan meraih beberapa prestasi di bidang menulis puisi, esai, serta resensi buku. Selain menulis kreatif, ia terbiasa mengolah naskah akademik, menyunting teks, dan memperhatikan tata bahasa serta ejaan bahasa Indonesia. Saat ini, kesehariannya diisi dengan kuliah, menulis, membaca, serta merancang karya-karya tulis yang kelak ingin ia bagikan lebih luas—baik melalui media digital maupun penerbitan mandiri.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com