Esai Nia Kurniati
Mengenang masa kanak-kanak saya dulu sekitar tahun '90-an, Lebaran adalah momentum yang sangat membahagiakan. Aroma lebaran sungguh sangat terasa dari awal Ramadan, bagaimana riuhnya seluruh penghuni rumah mulai bergotong royong membersihkan area sekitar rumah. Dari minggu pertama Ramadan hingga minggu terakhir, semua sibuk dengan segala macam persiapan Lebaran.
Di minggu pertama, saya, ibu, paman, bibi, dan saudara-saudara sepupu saya akan berkumpul di rumah nenek. Tentu kami yang berkumpul adalah anak cucu nenek yang tinggal satu kampung dengan beliau. Suasana penyambutan Lebaran ini kami mulai dari rumah nenek (tempat berkumpul keluarga besar). Kami mulai membersihkan setiap sudut rumah. Menyapu, mengepel, mencuci gorden, membersihkan kaca jendela serta tak lupa halaman yang cukup luas itu pun harus disapu bersih dan ditata rapi. Kamar-kamar harus berganti seprei, kasur, dan bantal harus mulai dijemur. Dan tugas paling utama dan harus paripurna adalah mengeluarkan deretan toples kaca dari gudang, toples-toples besar dan kecil yang selama setahun hanya diam berdebu. Toples-toples ini harus dicuci bersih dan dikeringkan di bawah sinar matahari sebelum siap digunakan untuk menampung berbagai aneka kue.
Setelah minggu pertama bergotong royong membersihkan area rumah, maka memasuki minggu kedua, kami mulai menyiapkan aneka bahan kue: tepung, mentega, gula, telur, minyak dan lain-lain. Aroma rumah berubah total. Wangi vanila dan mentega yang dipanggang mulai tercium dari sudut dapur nenek. Ibu dan saudara perempuannya mulai berjibaku membuat adonan aneka kue--mereka mengadon masih menggunakan cara manual. Di masa itu, membuat kue adalah hal yang tidak boleh terlewatkan, maka tidak hanya dapur nenek yang mengeluarkan aroma wangi mentega, tetapi dapur para tetangga pun saling berlomba mengeluarkan aroma has itu. Saya dan sepupu memiliki tugas menata adonan ke loyang dan menata kue yang sudah matang ke dalam toples.
Ada catatan tak tertulis yang akan menjadi petuah sakral nenek: ketika kue sudah masuk ke dalam toples maka jangan ada yang menyentuh sampai hari Lebaran tiba. Nenek akan membuat catatan kecil tak tertulis bahwa setiap toples sudah punya hak miliknya masing-masing sesuai dengan jumlah anak-anak beliau. Bisa dibayangkan dengan sepuluh anak, jika nenek membuat sedikitnya tujuh jenis kue, maka dikalikan tiga toples untuk satu anak, akan terlihat berapa banyak kue yang harus tersedia untuk sepuluh anaknya. Belum kue yang khusus untuk tamu nenek-kakek termasuk keluarga besar beliau yang nanti berkunjung. Maka momen membuat kue ini tidak akan selesai hanya di minggu kedua, tapi akan terus berlanjut hingga nanti menjelang malam takbiran tiba.
Aneka kue kampung yang has; kue aster, kue gencet, kue soldah, kue mentega, kue sagon, rempeyek, gipang, seroja, rengginang, biji ketapang, wajik, dapros, akar kelapa, bolu kuwuk, merupakan aroma terapi bagi saya dan para sepupu, penyemangat untuk menuntaskan puasa sampai magrib. Karena setelah magrib tiba, kami akan diperbolehkan mencicipi kue-kue tersebut dengan catatan tidak mengambil kue yang telah masuk toples-toples khusus itu. Kue-kue yang sudah tertata rapi dalam toples khusus itu akan kembali masuk gudang almari kayu nenek dan harus ditata kembali, berjejer sesuai dengan ukuran toplesnya. Dan, tentu nenek akan menjadi pawang gudang almari tersebut.
Di sela kepulan asap dapur yang masih menguarkan aroma khas kue kampung, di minggu ketiga kami mulai gelisah oleh harapan. Harapan akan kedatangan paman dan bibi yang dari kota. Setiap kali ada deru motor ojek lewat di depan rumah, kami bergegas lari ke depan teras berharap orang yang kami tunggu segera hadir. Nenek akan terlihat gelisah ketika anak-anak rantaunya belum juga datang--saat itu di kampung kami belum ada telepon rumah apalagi telepon genggam, jadi satu-satunya harapan kami adalah mendengar deru mesin motor ojek berhenti di depan rumah nenek. Kabar kedatangan paman dan bibi beserta anak-anaknya dari kota sangat melegakan dan membahagiakan.
Dan minggu keempat adalah puncak dari segala kesibukan dan celoteh riang bahagia nenek kakek karena anak cucunya sudah kumpul semua. Inilah momen nenek-kakek mengumpulkan semua cucunya yang tinggal di kampung dan akan memperkenalkan aneka bawaan oleh-oleh kota dari paman dan bibi. Ya, bagi saya dan sepupu yang tinggal di kampung, oleh-oleh kota adalah oleh-oleh yang sangat mewah pada masa itu. enek dan kakek akan membagikan oleh-oleh tersebut untuk kami cicipi. Kue kaleng, aneka buah kota seperti apel, anggur, pir salak pondoh, dan jeruk saat itu adalah buah-buahan mewah yang tidak ada di kampung. Ada momen lucu ketika itu bibi membawa anggur hijau. Dengan tenangnya kakek membagikan setiap anggur pada kami, termasuk saya untuk mencicipi. Kami baru tahu kalau ada anggur yang berwarna hijau dan jauh lebih manis rasanya. Selama ini yang kami tahu, anggur itu berwarna ungu. Kakek iseng mendekati saya yang hendak makan buah anggur itu. Ia berbisik, "Tong diemam weureu". Spontan saya lepehkan lagi buah anggur itu dan membuangnya ke lantai. Tapi saya lihat kakek senyum-senyum. Paman yang melihat saya kaget, kenapa saya membuang anggur hijau itu. Kemudian paman saya bilang, "Makan aja, itu enak," sambil tertawa.
Ditengah celotehan riang nenek-kakek ada anak-anak perempuannya yang masih berjibaku dengan kepulan asap dapur. Kali ini tidak lagi memasak aneka kue Lebaran. Tapi sudah mulai sibuk membuat bumbu untuk aneka hidangan. Ya, satu hari menjelang Lebaran, di kampung kami ada tradisi potong kerbau (daging patungan warga) buat warga yang patungan daging. Sebelum gema takbiran tiba, hari terakhir puasa adalah saatnya memasak aneka lauk untuk Lebaran besok harinya. Selain semur daging dan gemblong, di kampung kami memiliki tradisi nyate. Sate khas kampung kami adalah sate kerbau dengan potongan daging yang besar dan tusuk sate yang panjang. Momen membuat sate inilah momen yang paling khas, maka buka puasa terakhir kami dengan hidangan yang sangat istimewa: sate kerbau besar dan semur daging--menambah suasana berbuka begitu nikmat. Ramadan dan Lebaran kami lewati dengan rasa syukur yang meluap.
Tiba hari Lebaran, setelah salat Id, kami saling bersalaman dan bermaaf-maafan, berkumpul di ruang tengah menggelar tikar dan makan bersama menikmati aneka hidangan Lebaran. Setelah itu, kami berkeliling mengunjungi saudara-saudara tertua kakek, saling menyapa dan memperkenalkan anak cucu untuk mempererat silaturahmi. Terakhir, kami akan sama-sama berziarah ke makam nenek-kakek buyut kami. Lebaran tanpa gawai terasa begitu hangat saling berkunjung dan silaturahmi secara langsung menatap orang-orang berharga di depan kita.
Hari ini menjelang Lebaran tahun 2026, setelah puluhan tahun, hati saya selalu kembali ke dapur nenek tahun '90-an. Suasana itu mungkin telah berubah, tapi rasa hangatnya masih menetap di sana, di dalam kamar memori yang saya kunci rapat.
Serang, 18 Maret 2026
________
Penulis
Nia Kurniati, terlahir di kabupaten yang asri, Pandeglang, 19 Juni 1984. Berkegiatan seperti ibu-ibu pada umumnya mengurus rumah tangga.












