“Bagaimana penampilanku? Mantap, toh?” Syamil
melepas peci dan mengusap rambutnya. “Tapi, kata anakku justru jelek … oh kalau
sebutan gaulnya alay—norak juga katanya.”
“Jadi, mau ganti semir lagi? Kapan? Aku bisa
kapan saja.” Ghani menuntun Syamil menuruni tangga—jenis rumah ini seperti
rumah panggung yang sudah berkali-kali direnovasi, sehingga kehilangan setengah
nuansa tradisionalnya karena sudah bercampur dengan material semen dan pondasi
bebatuan.
“Halah, merepotkan kamu saja. Biarin apa kata
orang, toh, yang sepat mata mereka,” dia terbahak. “Lagi pula aku tidak lihat
juga sejelek apa warnanya.” Syamil mengelurkan tongkat merah putih dari bahan
almunium sepanjang 120 cm dari kantong jubahnya.
Keduanya jalan beriringan menuju masjid desa.
Tiba di teras masjid, terdengar takbiratul ihram dari iman. Mereka terburu-buru
dan langsung mengambil posisi rapi untuk ikut berjamaah. Setelah selesai
salat, keduanya menyempatkan diri mengaji. Ghani mengambil Al-Qur’an biasa
untuk dirinya, dan satu lagi yang berjenis timbul untuk Syamil.
“Ghan, besok-besok aku berangkat sendiri
saja. Nungguin kamu malah telat terus.”
“Loh, mana bisa begitu,” dumel Ghani.
“Apanya yang nggak bisa, heh? Ini sudah 45
tahun, dan aku sudah hafal di luar kepala jalan seluruh desa. Tanpa bantuanmu
aku bahkan sudah sampai ladang jagung Pak Sobir yang dekat jurang, minggu
kemarin aku juga ke peternakan Pak Jumali untuk lihat sapinya yang melahirkan.”
“Lihat pakai apa?” ledek Ghani tertawa dengan
wajah keriput yang makin mengkerut, dia menutup mulutnya menahan gigi palsunya
agar tidak mencolot, terbahak sampai terbatuk-batuk, memuncratkan liurnya,
wajahnya meram padam. Lalu, dia beristigfar.
“Jangkrik! Gelut ayo gelut!” Syamil membuang
tongkatnya, berbalik membelakangi Ghani, lalu kedua tangannya mengepal seperti
petinju. Ghani menarik bahu Syamil. “Sebelah sini.”
“Sudah tua Bangka, hampir bau tanah, kita
nggak pantas lagi keras kepala dan mengepalkan tangan tua ini,” ucap Ghani
bijak.
Syamil berdehem. “Nggak ingat dulu siapa
yang sok jagoan? Berdiri bareng preman, bawa pukulan besi dan teriak-teriak
kayak kesurupan jin.”
***
Empat puluh lima tahun lalu di desa Sejahtera yang berada di pelosok negeri,
yang kaya akan sumber daya alam, salah satunya pohon-pohon besar yang kokoh,
usianya bahkan menyentuh puluhan tahun, namun, warga di desa tersebut masih kolot dan tidak mengenal seberapa
pentingnya pendidikan, sehingga anak-anak di sana tidak termotivasi untuk
berangkat sekolah, sedangkan para remaja sudah diajak bekerja di sebuah pabrik
pengelolahan kayu. Pabrik tersebut mengolah kayu dari hutan untuk menjadi bahan bangunan dan
furnitur. Para buruh di sana mayoritas
warga lokal, sedangkan para atasan seperti mandor pabrik tetap orang luar dari
kantor pusat.
Ghani dan Syamil yang berusia 15 tahun berada
di bangku sekolah menengah pertama. Mereka pulang lebih dulu dengan
mengendap-endap dari halaman belakang, melempar tas dari pagar dalam, lalu
memanjat pohon jambu yang dekat dengan tembok tinggi yang ditancapi besi-besi
tajam yang berkarat. Mereka melompat, menggelundung, lalu nyusruk di tanah
merah padat dengan batu krikil di sekitarnya.
“Yang sabar, Ghan! Mentang-mentang masih
kecil kesabaran juga kecil. Lagian apa yang mau dikejar? Pabriknya juga nggak
bakal kabur. Bentar lagi bel pulang, ini malah bolos, dosa, loh.”
“Bukan gitu. Kalau kinerja kita paling buruk
kemungkina bakal didepak. Sini!” Ghani menarik telinga Syamil, berbisik.
“Katanya akan ada PHK massal.” Syamil melotot. “Serius? Ngibul dosa, masuk
neraka, dicincang malaikat Malik.”
“Demi Allah,” ucap Ghani serius. Syamil
mengangguk percaya, dia mengambil tas Ghani, berat dan ada bunyi nyaring besi
yang saling bergesekan.
“Buset, bawa apa ini? Kapal selam kamu angkut
di dalam tas?” Syamil melempar tas Ghani. Kemudian, mereka berlari menuju
pabrik, tergesa-gesa seperti cheetah yang berburu mangsa. Tiba di sana
pemandangan ramai dan bising, tetapi, ini bukan karena bunyi mesin penggiling
pabrik yang beradu, melainkan, otot para buruh pabrik dan preman dari pihak
kantor pusat yang bersitegang.
“Sudah berapa bulan upah kami tidak dibayar,
hah? Dari bulan lalu kalian bilang akan segera, akan dilebihkan, cih, pembohong
biadab. Kalian menipu kami berkali-kali, berbulan-bulan ini kamu bon dan hutang
sana-sini untung makan sehari-hari, dan kini, tanpa membayar upah lebih dan
pesangon yang pantas kalian justru hendak memecat kami? Apa kalian sudah gila?”
pria jangkung berkulit hitam bersuara lantang, dia seperti wakil untuk para
buruh.
“Di mana hati nurani kalian?”
“Bayar upah kami dengan benar!”
“Kalian pantas dihukum!”
“Bakar saja bakar semuanya!”
Suara protes para buruh pabrik membara.
Mereka tak gentar dengan para preman yang berdiri di depan mereka, mengancam
dengan tubuh berotot besar berhias tato, dan wajah sangar.
Syamil menelan ludah kasar, dahinya
berkeringat. “Ghan, kayaknya hari ini kita bolos kerja juga yuk. Hari ini
pabrik nggak beroperasi, besok aja kita datang dan nagih upah baik-baik. Nggak
semua harus pakai kekerasan, kan, ya?” dia menoleh.
Ghani berjongkok, merogoh tasnya mengeluarkan
tongkat besi. “Maaf, Syamil. Hari ini aku akan dibayar cukup besar. Ini bukan
mauku, tapi aku harus, demi nenek. Nenek butuh biaya untuk operasi tumornya,
dan bos pabrik janji akan bayar langsung.” Ghani berlari masuk ke dalam pabrik,
dia berdiri di jajaran para preman bayaran. Syamil tercengang, dia takut,
kakinya berat untuk melangkah, mulutnya bungkam untuk mencegah, tapi, di sana
Ghani sedang bertarung nyawa. Syamil tahu bahwa ketegangan di hadapannya bisa
memakan korban jiwa, tidak terkecuali Ghani menjadi tumbalnya.
Prang!
Nyaring dan panas. Bertabrakan untuk saling
menjatuhkan, bunyi jeritan, umpatan, dan ringisan sakit melolong di pabrik
tersebut. Debu betebrangan, darah memuncrat entah dari tubuh siapa, semua
orang dibutakan, dirasuki setan, penuh amarah, kekecewaan, dan ketakutan.
Syamil hanya berani mengintip, dari jauh dia
memerhatikan sisi brutal Ghani, teman mengajinya, teman iktikaf, dan teman
memancingnya sejak kecil. Dia tahu Ghani anak pemberani, dia selalu jadi yang
paling kuat dan bisa diandalkan karena sejak kecil sudah terlatih dewasa agar
tidak merepotkan neneknya, dia yatim piatu yang malang, dan dia tidak punya
banyak teman karena dianggap liar—anak tanpa orang tua, anak yang miskin, dan
tidak pandai beramah-tamah. Namun, Syamil mengaguminya, dia teman yang setia,
tulus, dan apa adanya. Syamil bangga ketika temannya itu mengingatkan dirinya
ketika berbohong kepada orang tuanya tentang iuran sekolah.
“Syamil, aku tidak pernah merasakan punya
ayah dan ibu, jadi aku juga tidak paham tentang berbakti kepada orang tua.
Namun, beberapa kali kamu mengajakku mengaji bersama Pak Ustaz, dan aku ingat
dia pernah memberi nasihat bahwa, 'Hendaklah kalian selalu berlaku jujur,
karena kejujuran membawa kepada kebaikan... dan jauhilah oleh kalian berbuat
dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan
mengantarkan seseorang ke Neraka' (HR. Bukhari dan Muslim)'. Tapi
sudahlah, aku tahu kamu pasti lebih paham.”
Syamil menguatkan tekadnya, dia mengepalkan
tangannya. “Baiklah.” Dia berlari menerobos perkelahian itu, bertepatan dengan
itu Syamil melihat alat berat yang mengangkat bongkahan kayu di atas bergerak
tidak stabil, berayun dari ketinggian tepat di atas kepala Ghani. Dia berlari
sekencang mungkin, berteriak agar Ghani menghindar, tapi suaranya teredam
bisingnya pertarungan, dia mendorong Ghani ke sisi lain.
Brak! Debuman keras menghantam Syamil.
Dia ingin mendorong Ghani bersamaan dengan
tubuhnya, tapi malangnya kaki dia tersandung, tersangkut, hingga tak punya
cukup waktu untuk menghindari bongkahan kayu yang jatuh. Detik itu juga semua
hening, kecuali Ghani yang berteriak kalang kabut, dia menangis dan meraung,
meminta pertolongan untuk Syamil yang sedang bersimbah darah.
***
Ghani bersimpuh di ruang jenazah. “Ne-nenek, nenek, to-tolong …
tolong ambil apa pun kecuali nenek. Aku tidak punya siapa pun kecuali nenek. Tolong … siapa pun kamu kumohon
bangunkan nenek.” Dia menangis seperti bocah lima tahun, kesedihannya begitu
menyakitkan. Mungkin saja, dia tidak akan berani lagi menatap dunia dengan
berani. Sebab satu-satunya tanggung jawab dan alasan dia hidup sudah diambil.
“Nenek sabar, ya. Setelah mengurus pemakaman
nenek aku akan menyusul.” Dia memeluk tubuh kaku dan dingin neneknya.
“Apa maksudmu?” Syamil datang dengan baju
pasien, wajahnya pucat, tangannya masih tersambung infus, dia duduk di kursi
roda di dorong oleh adik perempuannya, dan matanya yang dibalut kain kasa putih
bersih.
Ghani menoleh, berbicara dengan suara serak.
“Syamil, aku minta maaf.” Dia juga menyesal atas apa yang menimpa Syamil, dia
bahkan belum berani mengunjungi Syamil dan hanya mengintip dari luar kamar lalu
kembali ke kamar rawat neneknya.
“Aku tidak butuh maafmu.”
“Kalau begitu aku akan bertanggung jawab.”
“Ya, kamu harus bertanggung jawab terhadapku
untuk seumur hidupmu. Aku akan jadi tanggung jawabmu, oleh karena itu, tetaplah
hidup, kamu harus jadi mataku untuk melihat dunia.” Kursi rodanya didekatkan kepada Ghani. Syamil membungkuk dan memeluknya.
“Gara-gara menyelamatkanmu aku mungkin
kesulitan untuk pergi ke masjid. Pahalaku berkurang dan dosaku bertambah. Ke
depannya kamu juga harus menanggung ini, Ghani.”
“Tentu saja.” Ghani kian terpuruk dan merasa
bersalah.
“Apa masksudmu, hah? Aku tidak ingin masuk
neraka. Jika sahabatku masuk neraka maka aku pun juga begitu.”
“Ka-kalau begitu aku akan selalu menjemputmu
saat ke masjid. Kita bisa pergi bersama.”
______
Penulis
Indri Anisa, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia di Universitas Lampung. Menulis cerpen menjadi salah satu cara healing karena baginya menulis dan
membaca selalu membuka kesempatan untuk menemukan pengalaman serta perspektif
baru. Ketertarikannya pada dunia sastra mendorong saya untuk terus berkarya dan
mengembangkan kemampuan menulis. Beberapa karyanya seperti ”Mulut Besar Toro” dimuat di cerpen.sastra
(2026), Badai yang Mendorong Kapal
memperoleh juara pertama di penulis pustaka (2025), ”Anak Perempuan dan Pisang
Goreng” dimuat di Literation.id (2026), serta ”Tanjung Horn” Bersaksi dimuat di NGEWIYAK (2026). Instagram:
@indrianissa48.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com