Cerpen Firqo Aqila Nur
Hembusan semilir angin menerpa kulit seorang anak perempuan yang tengah duduk sendirian di sebuah gubuk kecil di tengah sawah. Ia sedang menikmati pemandangan laut yang terlihat meski jaraknya amat jauh, karena daerah tempat tinggalnya berada di puncak dan dekat dengan laut.
“Rumy!” panggil orang itu sambil melambai-lambaikan tangannya. “Ayo ke sini dulu, aku mau nunjukin sesuatu sama kamu,” lanjutnya.
Anak perempuan yang dipanggil Rumy itu pun segera bangkit dari duduknya, kemudian bergegas menghampiri.
“Ada apa sih, La? Mau nunjukin apa?” tanya Rumy dengan raut wajah penasaran.
Lula, yang merupakan teman dekat Rumy, kemudian menggenggam tangan Rumy. “Ayo, ikut aku!” Ia pun mengajak Rumy ke suatu tempat.
Ternyata tujuan mereka menuju sungai. Tak butuh waktu lama untuk sampai ke sana, karena jarak antara sungai dan sawah memang tidak terlalu jauh. Ketika sampai, mereka berdiri di pinggiran sungai. Rumy yang semakin dibuat penasaran itu kembali bertanya.
“Kita mau ngapain sih ke sungai?” tanyanya. Rumy paling tidak bisa dibuat penasaran seperti ini.
Lula segera mengarahkan tangannya, menunjuk sesuatu. Rupanya, dari arah seberang sungai ada seorang anak laki-laki bersama beberapa temannya yang sedang menangkap ikan.
“Kamu lihat nggak? Kayaknya Danu and the gang lagi nangkep ikan! Mana mereka dapetnya besar-besar lagi,” terangnya dengan mata berbinar.
Danu merupakan anak tetangga sebelah rumahnya. Mereka cukup akrab untuk dibilang teman, karena satu sekolah dan kebetulan berada di kelas yang sama dengan Rumy dan Lula.
Dahi Rumy berkerut heran. “Iya, aku lihat kok. Terus kenapa?”
Lula mengeluarkan smirk-nya, lalu memberi ide licik. “Gimana kalau kita ambil aja ikan tangkapan mereka?” Ia melirik Rumy.
Rumy yang mendengar ide licik temannya itu hanya bisa menghela napas lelah, lelah menghadapi tingkah ajaib temannya satu ini.
“Kamu ini ya, La, nggak ada kapok-kapoknya. Kamu nggak inget? Kemarin kamu habis dimarahi Ibu kamu gara-gara ngambil buah mangga Pak Selamet. Padahal kamu bisa aja minta izin dulu, daripada ngambil diam-diam terus ketahuan pemiliknya,” jelas Rumy dengan nada sedikit jengkel.
Lula melengkungkan bibirnya sambil menarik-narik tangan Rumy.
“Tapi, Rum, mereka duluan kok yang mulai. Aku cuma mau balas dendam aja ke mereka, terutama sama si Danu itu!” terang Lula dengan bersungut.
“Emangnya kamu ada masalah apa sama Danu?” tanya Rumy.
“Asal kamu tahu ya, kemarin si Danu sama geng abal-abalnya itu juga ngambil buah mangganya Pak Selamet,” jawab Lula dengan raut wajah menahan kesal.
Rumy sedikit terkejut, meski sebenarnya ia tidak terlalu heran dengan tabiat nakal tetangga mereka itu.
Rumah Danu berada di barisan kedua dari samping kanan rumah Rumy, sedangkan rumah Lula berhadapan dengan rumahnya.
“Waktu itu, pas aku lewat rumah Pak Selamet, aku lihat mangganya udah pada mateng. Karena ngerasa sayang kalau nggak dipetik, takut busuk di pohon, akhirnya aku berniat mau ngambil diam-diam. Kamu tahu sendiri kan kalau Pak Selamet itu galak, jadi aku nggak berani minta izin. Tapi pas tahu kalau ternyata beliau lagi ada di rumah, akhirnya aku urungin niatnya,” terang Lula mulai menceritakan kejadian sebenarnya saat dirinya dituduh mencuri buah mangga milik Pak Selamet.
“Tiba-tiba aku lihat Danu and the gang udah ada di atas pohon sambil metikin mangga. Terus si Danu lihat aku berdiri di bawah pohon sambil ngeliatin mereka. Karena dia takut aku ngelaporin ke Pak Selamet, akhirnya dia ngajak aku kerja sama. Mereka bagian metik, aku bagian masukin ke karung yang udah mereka siapin di bawah. Aku yang emang niatnya mau ngambil jadi ngeiyain aja, karena kupikir kan nggak sendirian dan nggak perlu capek-capek manjat,” jelas Lula.
“Tapi pas buahnya udah kekumpul banyak di karung, tiba-tiba Pak Selamet keluar rumah dan ngelihat aku lagi pegang karung yang isinya buah mangga beliau. Sedangkan si Danu sama gengnya udah lompat dari pohon dan kabur ninggalin aku,” lanjut Lula dengan kesal.
“Nyebelin banget! Pokoknya aku masih nggak terima! Masa aku doang yang jadi tersangka? Harusnya mereka yang jadi tersangka utama. Aku kan cuma ikut-ikutan aja.”
Rumy tertawa kecil mendengar cerita Lula. “La… La… lagian kamu mau-mau aja sih jadi umpan,” kekehnya, yang langsung mendapat lirikan tajam dari Lula. “Udah deh, mending kamu insaf. Udah tahu bahaya, bukannya dihindarin malah disamperin.”
Lula mendengus malas. “Daripada kamu ceramah mulu, mending kamu bantuin teman kamu ini dalam misi balas dendam.”
Rumy bersedekap. “Kamu mau aku bantuin niat buruk kamu itu?” Ia menggelengkan kepala, lalu meraih pundak Lula. “La, udah deh, buang jauh-jauh pikiran itu. Meskipun aku tahu mereka salah, balas dendam itu nggak baik.”
Lula mendengus pelan.
“Ya sudah! Kalau kamu nggak mau bantu, nggak apa-apa kok. Aku bisa lakuin sendiri!” jawabnya, lalu melangkah pergi meninggalkan Rumy.
Rumy hanya bisa memperhatikan dari kejauhan. Terlihat Lula mulai melancarkan aksi balas dendamnya. Saat para anak laki-laki itu sedang fokus menjaring ikan, Lula mengendap-endap mendekati ember berisi ikan hasil tangkapan Danu and the gang.
Ember ikan berhasil ia dapatkan. Sambil menyamarkan wajahnya dengan kain, Lula hampir saja kabur sampai terdengar teriakan lantang.
“Hey! Siapa kamu? Ikan kami mau dibawa ke mana!” teriak Danu.
“Kayaknya dia mau bawa kabur ikan-ikan kita deh, Nu,” sahut salah satu temannya.
“Ayo, teman-teman, kita kejar! Jangan biarkan dia lolos!” seru Danu.
Mereka pun berlari beramai-ramai mengejar Lula. Lula yang kalang kabut mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari sekencang mungkin meski membawa ember yang lumayan berat.
Rumy yang sedari tadi memperhatikan hanya bisa tepuk jidat, lalu ikut berlari menyusul Lula.
Karena kehabisan tenaga, Lula akhirnya bersembunyi di balik tembok sebuah rumah yang halaman depannya dihiasi pohon mangga. Ia merasa tidak asing dengan rumah itu, tetapi tidak mengambil pusing. Yang penting dirinya aman.
Tiba-tiba seseorang meraih pundaknya dari belakang. Lula hampir berteriak kalau saja tidak langsung dibekap. Ternyata Rumy.
“Rumy! Astaga, aku kira siapa! Kamu buat aku jantungan!” keluh Lula.
Rumy menahan tawa. “Habisnya kamu bandel sih.”
Ia melirik ember ikan. “Lumayan banyak juga ya tangkapan mereka. Terus, kamu beneran mau bawa ikan-ikan itu?”
“Ya iya dong, Rum. Udah capek lari setengah mati gini, masa dibalikin? Nggak fair.”
“Terus kalau ketangkep gimana—”
“Kena kalian… Loh? Lula! Rumy! Ternyata yang ngambil kalian berdua?” sahut Danu yang tiba-tiba muncul dari atas pagar.
Tanpa banyak basa-basi, Danu melompat turun. “Apa alasan kalian ngambil ikan tangkapan kita?”
“Maaf, Nu, tapi aku nggak ikut-ikutan. Aku cuma ngikutin Lula lari,” jelas Rumy.
“Kamu, La. Apa alasan kamu nyuri ikan-ikan itu? Kamu kan bisa bilang kalau mau. Aku nggak sepelit itu kok,” ujar Danu.
Lula memutar bola matanya. “Kamu masih nanya? Setelah kejadian kemarin? Kamu pikir aku bakal diam aja?”
Danu menggaruk kepala sambil menyengir. “Hehehe… maaf ya, La. Kita kaget waktu itu, jadi langsung kabur tanpa inget ada kamu.”
“Pokoknya kalian harus jelasin ke Pak Selamet kalau kalian yang metikin buahnya!”
Tiba-tiba pintu rumah terbuka. Pak Selamet keluar karena merasa terganggu dengan keributan mereka.
“Kalian ini kenapa bertengkar di rumah saya siang bolong begini? Mengganggu orang tidur saja.”
Lula terkejut. Ternyata ini rumah Pak Selamet.
“Kamu yang kemarin ngambil buah saya, kan?” tanya Pak Selamet.
“Kejadiannya nggak kayak gitu, Pak,” jawab Lula, lalu memberi kode pada Danu.
Danu pun menjelaskan kejadian sebenarnya dan mengakui kesalahan mereka.
“Sebenarnya saya marah bukan karena kalian mengambil mangga saya. Tapi karena kalian memilih mencuri daripada meminta izin,” ujar Pak Selamet. “Lain kali kalau mau ambil, silakan izin dulu. Mencuri itu perbuatan tidak baik. Mengerti?”
“Iya, Pak. Kami paham dan tidak akan mengulangi lagi,” jawab Danu.
Setelah itu mereka pamit. Lula dan Danu akhirnya berbaikan. Sebagai tanda perdamaian, Danu and the gang mengajak Lula dan Rumy untuk bakar-bakar ikan hasil tangkapan mereka.
Sejak hari itu, Rumy, Lula, dan Danu and the gang mulai berteman baik. Mereka semakin akrab dan sering bermain bersama.
________
Penulis
Firqo Aqila Nur, siswa kelas XII TKJ SMK Muhammadiyah Pontang.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com






.jpg)
.jpg)


