Friday, April 26, 2024

Cerpen Suyat Aslah | Yenzi

Cerpen Suyat Aslah

 


Yenzi selalu sabar menunggu di depan pintu meski sudah satu jam lebih berdiri. Meski sudah sekian banyak ketukan dan panggilan masih tak ada jawaban, belum terlintas di kepalanya sesuatu yang buruk terjadi padanya. Hampir selalu orang yang dia tunggu akan keluar dua jam setelah ketukan pertama dengan rambut tak rapi, kamar berantakan, dan sebuah seragam serdadu yang tergeletak di atas kasur. Baju itu telah disimpan sejak Yenzi belum lahir. Warnanya telah pudar dan sebagian terlihat seperti kena getah. Ibunya sering kali lekat-lekat memandanginya dan kadang disertai air mata. Saat menunggu pintu itu dibuka, Yenzi suka melamuni sesuatu.


Yenzi kecil tak mengerti apa-apa. Saat menanyakan pada ibunya, dia hanya mendapat jawaban, “Dia akan kembali, dia akan kembali, Yenzi.” Semua itu membuatnya makin tak mengerti.


Hari-hari berat dilalui hanya berdua. Dunia yang terlalu bengis bahkan untuk sekadar cari makan. Tiap napas menarik perih. Hingga suatu saat Yenzi tahu, ada masa lebih berat yang berada jauh di belakang. Pasukan dengan wajah malaikat datang dari arah timur laut, menjanjikan sebuah perlindungan dari ganasnya peperangan. Semua mengamini dan menyambutnya dengan hati senang. Namun tak lama kemudian mereka berganti wajah dengan jubah kebengisan serta sejulur tangan dan kaki binatang. Mereka memperburuk keadaan.


“Ayahmu adalah salah satu di antara mereka, Yenzi,” kata ibunya di lain waktu. Saat itu Yenzi masih kecil. Itu adalah hal yang mengejutkan bagi Yenzi. Dia selama ini merasa kering kasih sayang seorang ayah. Namun saat sudah tahu siapa ayahnya, Yenzi tak tahu harus bagaimana menjawabinya. Dia pun tak mengerti kenapa sekian banyak rangkuman kisah penuh derita dalam peperangan, terselip di sana kisah cinta, bahkan mereka menikah.


“Dia serdadu yang baik dan tampan, Yenzi,” ujar ibunya.


Kemudian ibunya melanjutkan ceritanya. Saat Yenzi masih dalam kandungan keadaan tiba-tiba berbalik. Mereka para pendatang semua terusir dari tanah yang tak seharusnya dikuasai, termasuk Ayah Yenzi. Sejak saat itu dia tak kembali lagi. Hanya meninggalkan seragam serdadu yang selalu ibunya pandangi dan tangisi setiap hari. Bahkan saat akan tidur, baju itu selalu didekap oleh Ibu Yenzi.


Yenzi hanya bisa membayangkan peristiwa itu. Bayangannya selalu pada tragedi berdarah. Karena dalam cerita-cerita yang dia dengar, saat peristiwa itu terjadi darah tercecer di mana-mana dan banyak mayat bergelimpangan. Yenzi juga ditakdirkan terlalu takut pada darah. Merah yang menyakitkan. Apalagi saat ibunya mulai berubah, selalu mengurung diri dalam rumah dan tak banyak bicara. Ibunya akan selalu sibuk dengan dunianya yang absurd, hanya berkutat dengan imajinasi dan perasaannya sendiri. Terkadang hanya ada kekosongan dalam matanya. Bahkan Yenzi pernah melihatnya langsung sekitar tiga tahun lalu, ibunya mengiris kulit tangannya sendiri di hadapan Yenzi dengan bibir tersenyum namun tetap merasakan sakit. Lalu cairan merah meluap dan melumasi sekujur tangan, sebagian ada yang menetes-netes. Jantung Yenzi seperti merosot ke bawah sambil berteriak. Lalu dia lupa waktu, dan terbangun saat ibunya sudah di rumah sakit. Ibunya terselamatkan karena tetangganya yang mendengar teriakan membawa ibunya ke rumah sakit.


Saat lamunannya makin terbang, suara gerendel pintu bergemerincing membuat kesadaran kembali memasuki kepala Yenzi. Keriut pintu mulai terbuka dan wajah di hadapannya tak seperti baru bangun tidur. Yenzi yakin ibunya telah terbangun lama, hanya saja tak membukakan pintu untuknya, itu hal biasa.


“Apa dia sudah kembali?” tanyanya.


“Dia takkan kembali,” jawab Yenzi.


“Dia akan kembali, Yenzi,” ujarnya, lalu pergi ke kamar mandi.


Ibunya sudah tak memikirkan lagi apa yang Yenzi alami sekarang. Menikah dengan laki-laki berengsek juga pengangguran. Mengabaikan semua tanggung jawab sebagai suami. Perangai palsu sudah menipunya hingga dia menyesalinya dalam-dalam. Yenzi hampir saja menumpahkan air matanya, namun cepat-cepat mengusap matanya sebelum benar-benar air mata itu jatuh, lalu menguatkan dirinya sendiri. Terkadang dia pun berpikir dan menginginkan ayahnya kembali. Meski dia tahu jika itu terjadi, dia bakal tak tahu bagaimana cara menyambutnya nanti. Namun dia juga merasa sedikit beruntung karena tak memiliki anak, hingga tak ada yang ikut merasakan kehidupan pedih seperti dirinya. Meski ketakutan akan masa depan juga ada, siapa yang akan mengurus dirinya nanti.


Badan kurus Yenzi dan wajah yang jarang tersenyum cukup menggambarkan dia tak baik-baik saja. Pakaiannya yang gombrang cukup mengundang iba orang yang melihatnya. Yenzi memandangi seragam serdadu itu dan kali ini dia malah benar-benar menangis. Tangannya menutupi mulutnya, namun tak bisa menahan ledakan dalam dadanya.


“Dia takkan kembali, dia takkan kembali,” gumamnya berulang-ulang untuk mengalihkan pikiran.


Yenzi akan meletakkan makanannya di meja kecil sebelah tempat tidur, lalu membereskan semua yang berantakan. Yenzi akan pulang jika semua sudah selesai. Beruntungnya, ibunya masih bisa sedikit mengurus dirinya sendiri. Meski selalu saat Yenzi kembali saat sore nanti, sisa-sisa makanan dan benda-benda dalam kamar semua berantakan lagi. Namun Yenzi tak dongkol sama sekali. Jika bukan dia yang mengurusi semua, ibunya bisa mati kelaparan. Beruntungnya rumah yang dihuni adalah milik sendiri, terletak beberapa blok dari rumah Yenzi.


“Turuti saja keinginannya. Dia saja tak mau dipindah, kenapa kau memaksa?” kata suaminya suatu kali. Yenzi tahu suaminya sendiri juga tak berharap untuk serumah dengan Ibu Yenzi. Dia sama sekali tak pernah menjenguknya ataupun menanyakan kabar. Hanya sebatas mengizinkan merawatnya sendirian.


Akhir-akhir ini suaminya biasa pulang pagi dalam keadaan mabuk. Jika mabuk terlalu berat, kawannya mengantarkan sampai ke sofa yang sudah robek sana-sini hingga terlihat busa-busanya tersembul keluar. Dan di sanalah dia bakal muntah-muntah. Biasanya celananya juga basah air kencingnya sendiri. Semua kekacauan itu Yenzi yang membereskan.


Yenzi tak terkejut saat sampai di rumah. Suaminya sudah tertidur di sofa dengan dengkuran keras dan terlihat juga muntahan yang tercecer. Lebih dulu Yenzi masuk ke kamarnya, memandang dirinya pada cermin yang retak. Hanya diam, namun dalam kepalanya kalimat-kalimat bertengkaran. Dia menyadarinya, selama ini hampir tak ada waktu mengurus dirinya sendiri. Tak pernah bersolek dan tak punya baju yang baru. Waktunya lebih banyak tersita pada hidup yang penuh tekanan. Kadang dia takut kepalanya tak bisa menyangga beban pikiran yang bisa menghilangkan segala isyarat tentang dirinya yang sekarang. Pandangannya makin masuk ke dalam diri. Untuk kali ini dia ingin lebih menghargai dirinya sendiri. Tangannya menyeruak baju-baju di lemari, dia memilih baju terbaik menurutnya dan memakainya. Rambutnya dia sisir pelan-pelan sambil memandang diri pada cermin. Bibirnya dia paksa untuk tersenyum. Sesekali mengibas-ibaskan rambutnya. Yenzi merasa lebih cantik saat ini, dan mulai bersenandung lirih sambil masih menyisir rambutnya. Lalu terdengar suara muntah-muntah dari suaminya, kali ini Yenzi tak peduli itu.


“Yenzi! Sini kau!” suara itu terdengar keras bernada memaksa. Yenzi masih mencoba untuk tak peduli.


“Yenzi...!” teriaknya lagi lebih keras.


Dalam kepalanya, Yenzi memikirkan waktu-waktu beratnya selama ini yang harusnya membuatnya berjiwa baja. Dia merasa seperti orang terbodoh di dunia selama ini, karena hanya selalu diam saat suaminya melukai, meneriaki dan meludahi Yenzi. Dadanya bergemuruh dan tak ingin menahannya. Lalu berjalan dengan langkah pelan menuju ruang depan. Wajah suaminya masih terlihat tak sepenuhnya sadar, dia mendongak melihat Yenzi. Saat itu juga Yenzi meludahinya berkali-kali.

 

______

Penulis

 

Suyat Aslah, penulis kelahiran Cilacap tahun 1995. Alumnus SMA Diponegoro Sampang (2014). Mulai menjadi penikmat sastra sejak SMA. Beberapa bukunya yang dia tulis berjudul Puspa (2016), Sehelai Jiwa Sepi (2018), Philogynik (belum terbit). Channel YouTube-nya: Aslah S.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com