Pendaftaran #Komentar Masuk Sekolah/Kampus
View AllProses Kreatif
Dakwah
Redaksi
Postingan Terbaru
Thursday, January 1, 2026
Esai Uwais Qorni | Solilokui dan Ruang Nyaman Penulis
Saturday, December 27, 2025
Resensi Kabut | Tanpa Tokoh Anak
Saturday, December 20, 2025
Resensi Kabut | Lupus dan Masa Lalu
Oleh Kabut
Orang-orang yang hidup pada masa Orde Baru mendapat hiburan yang bermutu bila membaca majalah Hai. Majalah terbitan Gramedia itu memberi beragam hiburan. Para pembaca terhibur gara-gara musik, film, cerita, dan lain-lain. Maka, ingatan penting hiburan tercipta dalam majalah Hai adalah cerita yang bertokoh Lupus. Cerita itu ditulis oleh Hilman.
Yang membuat orang gandrung dan fanatik Hai mungkin pemuatan Lupus. Di situ, para pembaca boleh tertawa sambil terbahak-bahak atau berguling-guling. Pembaca yang ganas mungkin maki-makin mendapatkan lucu yang kurang ajar. Kaum remaja atau muda masa lalu menjadi jamaah Lupus. Jamaah yang ramai cerita. Di hadapan cerita, mereka memiliki dunia. Hidup mereka tidak sepi dan menjenuhkan. Artinya, Lupus adalah berkah untuk Indonesia. Yang membaca terhindar dari frustrasi memikirkan Indonesia yang dikuasai oleh Soeharto.
Apakah cerita dapat mengubah nasib? Cerita melindungi pembaca dari keburukan-keburukan politik? Kita mungkin berlebihan menganggap Lupus terlalu penting untuk Indonesia. Ingatlah, cerita itu memang digemari ribuan orang tapi tidak boleh mengalahkan GBHN dan teks-teks pidato Soeharto. Kita berharap ada yang membahas Lupus dan Orde Baru. Maksudnya, kita ingin mengenang masa lalu dengan ceria, bukan kecewa dan menyesal.
Lupus masih terkenang sampai sekarang. Kolektor buku-buku Lupus masih bisa dijumpai di seantero Indonesia. Dulu, yang membaca masih remaja. Kini, mereka sudah tua. Yang pasti, mereka tetap memiliki Indonesia gara-gara Lupus.
Apakah Lupus cuma untuk kaum remaja? Berbahagialah anak-anak yang ikut terhibur oleh Lupus. Pada masa Orde Baru, masa yang penuh kebusukan, anak-anak diajak menikmati cerita Lupus saat masih kecil. Maka, terbitlah buku-buku Lupus kecil walau tak setenar Lupus yang mula-mula bertumbuh dalam majalah Hai.
Bagaimana dampak Lupus bagi anak-anak yang sedang mendapat doktrin-doktrin rezim Orde Baru? Mereka kadang nakal, guyonan, ngawur, bijak, dan konyol. Anggap saja Lupus pernah menjadi panutan anak-anak yang tidak mau bercita-cita menjadi presiden, menteri, gubernur, dan bupati. Anak-anak yang ingin gembira saja tanpa harus pamer impian terbesar Indonesia. Mereka tidak butuh gelar, piagam penghargaan, atau kelak menghuni taman makam pahlawan. Lupus yang membuat mereka masih betah hidup saat Indonesia penuh dusta dan berantakan.
Sekarang, yang masih bisa terbaca adalah buku berjudul Lupus Kecil: Khitanan Masal garapan Hilman dan Boim. Buku kecil diterbitkan oleh Gramedia, 1992. Gambar di sampul sudah lucu. Bocah yang mengenakan sarung. Di tangannya, ada sapu. Ia tampak berjalan tidak normal. Para pembaca paham bocah itu sedang dalam proses penyembuhan gara-gara khitan. Konon, khitan menandakan ia berani dan beranjak menjadi remaja. Judul buku pun mengingatkan lantunan Iwan Fals: “sunatan masal”. Hiburan yang mujarab. Satu buku berisi sepuluh cerita. Lupus yang membuat tertawa menunda kiamat.
Cerita untuk anak tapi mengandung kritik kepada para ibu. Dua pengarang memang mbeling. Kita menyimak pantun yang diucapkan saat ibu-ibu berkumpul dan merayakan gosip: Kalau ibu pergi ke Pasar Minggu/ jangan lupa kirimi saya pepaya/ Ibu-ibu tak usah ragu/ kalau saya ini manis bila bergaya. Ada ibu yang membalas: Jalan-jalan ke Kebun Raya/ Beli karcis satu buat berdua/ Saya ini tak perlu bergaya/ sudah banyak orang yang suka. Pantun itu jenaka. Padahal, yang diceritakan adalah para ibu, yang mengaku memberi pengasuhan terbaik kepada anak-anak. Ibu-ibu yang ingin gembira, tidak mau kalah dengan anak-anak. Yang lucu tidak hanya Lupus. Kaum ibu pun lucu.
Ibu-ibu tidak hanya tertawa. Mereka baik dan bijak. Perkumpulan itu ingin mewujudkan rencana indah: “Mereka merencanakan akan mengadakan sunatan masal. Rencana para ibu, semua anak kompleks dan kampung sekitar kompleks, khususnya tak mampu dan belum disunat, harus ikut. Bagi anak-anak yang sudah sunat, tapi hasil sunatannya kurang artistik, alias lewat dukun yang kurang ahli, boleh ikut lagi.” Kita membayangkan para pembaca tertawa selama sepuluh menit. Selanjutnya, minta segelas air agar tidak batuk-batuk.
Gagasan dan perbuatan yang baik diganggu oleh Lupus. Ia berusaha merusak bakti sosial. Apakah ia memiliki alasan yang kuat berkaitan sunatan masal. Dua pengarang yang sengaja mengajak para pembaca main-main dalam mengartikan ibu, anak, dan bapak. Para pembaca diajak memahami anak yang bengal. Situasi masyarakat pun dipaparkan. Artinya, buku yang seru dan lucu dapat menjadi rujukan bagi anak-anak mengerti individu, keluarga, dan masyarakat. Namun, anak-anak pada masa Orde Baru mendapatkan semua itu melalui buku pelajaran dan Penataran P-4.
Acara yang baik terselenggara: “Dan kira-kira jam sepuluh lewat banyak, acara sunatan masal itu selesai. Ngerinya cuma sebentar. Anak-anak yang telah disunat nggak ada lagi yang sedih, termasuk Lupus. Semuanya ceria. Paling tidak, saat itu mereka masih ceria. Mereka duduk berbaris, seraya memeluk bingkisan masing-masing. Kemudian difoto bersama. Kalau Lupus sibuk memegangi sarungnya tinggi-tinggi agar tak jatuh ke bekas sunatnya.”
Kita mengutip sedikit saja dari buku yang ditulis Hilman dan Boim. Ingatan kita tentang buku (anak) dan Orde Baru memang sering bias. Dulu, pemerintah gencar mengadakan bacaan anak melalui Inpres. Namun, buku-buku yang mereka adakan sering tidak bermutu. Yang membaca cerita-cerita Lupus menemukan dunia yang menyenangkan sambil belajar pelbagai hal. Yang membuat kita bingung, buku-buku Lupus sangat sulit selaras dengan pamrih-pamrih pemerintah. Maka, beruntunglah orang-orang yang pernah membaca Lupus. Mereka tidak terlalu mendapat dikte pemerintah, masih mungkin membuat perlawanan dan pembebasan dengan tawa.
________
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com
Saturday, December 13, 2025
Resensi Kabut | Mangga dan Kedaulatan
Oleh Kabut
Desember itu sejarah. Yang biasa kita ingat, Desember adalah nama bulan yang terakhir. Ada yang mengartikan Desember adalah duka. Ia mengingat bencana-bencana di Indonesia sering terjadi saat Desember. Namun, yang sedang kita ingat adalah sejarah. Apa yang terjadi di Indonesia masa lalu? Desember ikut dalam lembaran-lembaran sejarah Indonesia.
“Hari ini ternyata tanggal 27 Desember 1949, hari pengakuan kedaulatan kepada Republik Indonesia,” kalimat yang terdapat dalam novel berjudul Senja Itu Langit Merekah gubahan Surtiningsih WT. Buku tipis yang diterbitkan Gaya Favorit Press, 1981. Judulnya tidak mengesankan sejarah tapi yang membaca akan masuk dalam sejarah.
Yang diceritakan adalah gadis cilik bernama Menik. Mengapa ia hadir dalam lembaran sejarah? Menik mengisahkan diri, keluarga, pasukan Belanda, kaum gerilyawan, anjing, dan lain-lain. Maka, cerita-ceritanya mengajak kita hadir dalam sejarah yang berlatar tahun-tahun setelah proklamasi. Menik bercerita, tidak bertugas menjelaskan sejarah. Namun, tokoh yang dibuat Surtiningsih itu menjadi sosok yang menghubungkan penggalan-penggalan cerita menjelang pengakuan kedaulatan Indonesia. Jadi, pembaca dilonggarkan memikirkan dan berimajinasi sejarah Indonesia (1945-1949).
Aneh, penulisan cerita untuk anak mengusung sejarah. Padahal, murid-murid di SD dan SMP sudah bosan dengan pelajaran sejarah. Dulu, ada beberapa penyebutan mata pelajaran yang membawakan sejarah. Yang pernah belajar PMP bakal sampai sejarah. Murid yang pernah dicekoki PSPB pasti kenyang sejarah. Pokoknya, sejarah keseringan diajarkan tapi menjemukan, ditambah pidato kepala sekolah saat upacara.
Apakah novel membuat anak terpanggil belajar sejarah tanpa beban berupa ujian? Di Indonesia, kita jarang menemukan novel untuk anak yang mengusung sejarah memberi kesan-kesan mendalam. Yang terjadi adalah novel-novel kebanyakan pesan dan biasa dijadikan “propaganda” dalam kepentingan penguasa “membentuk” sejarah sekaligus melaksanakan pembangunan nasional.
Surtiningsih tampak kurang gereget dalam membawakan sejarah kepada para pembacanya. Novel itu seperti menjadikan sejarah cuma latar. Yang jelas pengisahannya lancar, tidak membikin anak-anak pusing. Cerita yang mudah membuat terharu tapi kadang menimbulkan kebingungan bila ada usaha mencocokkan dengan materi-materi dalam buku-buku pelajaran.
Warga menyelamatkan diri dari serbuan pasukan Belanda. Pasukan yang membawa persenjataan modern, yang tidak menolak Indonesia merdeka. Belanda berpikiran Indonesia masih miliknya meski sudah ada proklamasi: 17 Agustus 1945. Belanda murka dan angkuh, melanjutkan babak kolonialisme yang terlalu lama.
Pengarang menunjuk peristiwa yang menyedihkan saat pertempuran: “Malam pun turun. Pengungsi-pengungsi meninggalkan kuburan itu melanjutkan perjalanan mencari tempat yang aman untuk berlindung dari keangkaramurkaan musuh. Dan aku, betapa pun berat membawa bungkusan baju-baju, lagi-lagi teringat kepada anjingku, dan khawatir akan nasib tentara muda yang tadi terlihat.” Menik menyadari Indonesia diobrak-abrik Belanda. Mengungsi itu menyelamatkan diri. Perlawanan dilakukan oleh para lelaki yang menjadi kaum gerilyawan. Menik berada dalam hari-hari yang menegangkan. Artinya, ia menjadi saksi sejarah.
Di situasi yang menyedihkan, Menik sempat mendengar perkataan bapaknya setelah pertemuan para pengungsi: “Tadi datang utusan memberitahu bahwa perang ini akan berlangsung lama. Kita harus menyediakan diri, bersiap-siap untuk menderita lama. Belanda sudah menduduki kota kita. Sebaiknya kita kembali ke rumah masing-masing dan mendoakan agar pemuda-pemuda kita dapat mengembalikan tanah air kita kembali kepada bangsa kita. Pemuda-pemuda akan bergerilya.”
Kalimat yang terbaca mudah tapi pembaca menemukan ada yang berlebihan. Apakah kata-kata itu terucap runtut dan rapi oleh orang yang sedang dirundung sedih dan takut? Pengarang sengaja ingin membebani kalimat itu dengan pesan-pesan agar para pembacanya memuliakan tanah air. Pada suatu riset, novel gubahan Surtiningsih bisa menjadi referensi yang memasalahkan (sejarah) Indonesia dalam klise-klise yang lemah dalam argumentasi.
Menik yang masih kecil cepat memiliki kesadaran atas kemerdekaan. Ia tidak ingin Indonesia dijajah lagi. Menik yang didewasakan suasana perang dan mengikuti keinginan pengarang. Anak-anak yang membaca novel akan bangga dan memuji sikap Menik. Kita membayangkan peristiwa yang dialami Menik berlatar 1949: “Dari sebuah truk, seorang tentara melemparkan sekaleng makanan kira-kira dua meter di depanku. Kulirik mukanya yang tersenyum padaku. Tentu saja aku ingin makanan enak. Tapi tidak dari tentara Belanda yang biasa memamerkan kekayaannya dengan melempar-lemparkan rangsum mereka agar dipungut oleh anak-anak dan dapat menimbulkan pikiran bahwa kalau kita diperintah Belanda maka kita dapat makan enak.” Bocah yang terlalu cerdas dan kritis. Yakin saja sikap itu terjadi dalam sejarah.
Menik yang berani bersikap, yang sebenarnya mengerti risikonya. Namun, pengarang ingin menampilkan Menik ambil peran dalam sejarah: “Rasanya dengan begitu aku mau menunjukkan kepada mereka, bahkan anak kecil pun tak sudi menerima penghinaan. Aku berjalan dengan hati puas.” Menik, bukan bocah yang biasa. Ia tidak diceritakan sebagai penakut, selalu meratap dan menyusahkan selama perang.
Perang bukan sekadar air mata, makian, kematian, luka, dan lain-lain. Pengarang tetap menghadirkan jagatnya anak-anak yang sejenak mengelak dari kenyataan perang. Pada suatu hari, Menik tidak terlalu memikirkan perang. Ia berada dalam pengalaman yang wajar. Para pembaca justru mudah menerima peristiwa Menik: “Di sebelah kanan rumahku tinggal Pak Hardjowinoto, seorang kepala sekolah. Rumah yang anggun itu halamannya biasa tertutup. Tak seorang pun anak tetangga yang berani bermain-main di halaman itu. Di sudut halaman tumbuh pokok mangga manalagi. Kadang-kadang buahnya yang masak di pohon jatuh ke luar halaman dan aku biasa berlari-lari untuk memungutnya.” Perang masih memungkinkan adanya halaman anak makan mangga manalagi.
Sejak halaman awal sampai akhir, pengarang memang menceritakan cerita tentang perang. Tokohnya adalah anak. Namun, masalah-masalah yang menguasai cerita terlalu besar dan ruwet bagi anak-anak. Pengarang tetap saja dapat memberikan peristiwa yang menarik saat Menik memasalahkan mangga. Yang menarik itu sedikit.
Kalimat terakhir dalam novel terbaca tidak menarik bila kita ingin menghormati hak-hak anak atas cerita. Pengarang menulis berlatar 27 Desember 1949: “Indonesia benar-benar telah merdeka! Merdeka!” Kalimat memang meninggikan derajat memuliakan Indonesia tapi kurang cocok dalam pengisahan untuk anak-anak, yang memerlukan imajinasi Indonesia tanpa sesak slogan dan pekik.
________
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com
Saturday, December 6, 2025
Resensi Kabut | Binatang, Manusia, Tuhan
Oleh Kabut
Ingatan dimiliki ribuan orang, sejak masa 1940-an: Chairil Anwar dan binatang jalang. Ada yang mengingat larik dari puisinya. Yang melihat gambar atau foto Chairil Anwar sedang merokok lekas saja mengucap “jalang”. Maksudnya, Chairil Anwar adalah seniman “jalang” atau mengenalkan “jalang” dalam kesusastraan yang menggelegak di Indonesia?
Di sekolah, guru-guru belum punya kewajiban menjelaskan “binatang jalang”. Selanjutnya, tidak ada keterangan mengenai dari kumpulannya yang terbuang. Pokoknya, kita mengingat Chairil Anwar berarti berimajinasi “binatang jalang”. Apa yang terjadi antara manusia dan binatang?
Di luar puisi, ada cerita yang mengajak anak-anak berakraban dengan binatang jalang, tepatnya adalah kerbau jalang. Yang bercerita bernama Nyonya Limbak Tjahaja. Ia memiliki khazanah cerita atau dongeng lama, yang merujuk dari peradaban leluhur atau adat. Ia pun bisa membuat cerita-cerita baru meski terpengaruh yang lama-lama. Kerbau jalang yang diceritakannya sangat berbeda kesan dari ingatan orang atas “binatang jalang” yang ditulis Chairil Anwar.
Limbak Tjahaja bercerita kepada anak-anak, yang usianya 10-12 tahun. Dongeng-dongeng dari Minangkabau yang diceritakannya ulang terbit menjadi buku berjudul Kerbau Jalang Beranak Puteri. Penerbitnya adalah Pradnya Paramitha, Jakarta, 1973. Judul yang cukup mengejutkan bagi yang belum terbiasa dengan dongeng-dongeng di Nusantara, terutama yang berasal dari Sumatra.
Mengapa sebutannya kerbau jalang? Beberapa orang mengartikannya bahwa kerbau itu tidak dipelihara manusia. Artinya, kerbau hidup di alam, mencari makan dan mempertahankan hidup sesuai kemampuannya saat berada di hutan dan pelbagai tempat.
Anak-anak yang masih belajar di sekolah dasar dianggap suka cerita-cerita binatang. Anggapan yang berlaku pada masa 1970-an. Anak-anak belum bernafsu memiliki tokoh-tokoh hero yang berasal dari cerita-cerita dunia atau diproduksi di Amerika Serikat. Hero yang dimaksud adalah manusia walau bermunculan juga hero-hero itu binatang. Buku bertokoh kerbau dan putri bila dibaca oleh anak-anak SD memang cukup menimbulkan ketertarikan. Mereka ingin mengetahui jalinan yang terbentuk antara binatang dan manusia. Cerita yang disuguhkan tidak semua tokohnya adalah binatang.
Awalan yang membuat para pembaca menurut saja: “Cerita orang tua-tua pada suatu zaman, binatang dan manusia saling mengerti bahasa kedua belah pihak. Di waktu itu banyak benar terjadi yang aneh-aneh. Ada binatang berkepala dua, ada raksasa setinggi batang duren, dan kelapa bercabang tiga.” Keajaiban-keajaiban yang senantiasa diceritakan di Nusantara, dari masa ke masa. Bagi yang menggemari dongeng, hal-hal itu menyenangkan dan membuat imajinasinya bertumbuh. Namun, yang kepikiran linguistik bakal geleng-geleng kepala mengenai bahasa yang sama-sama dimengerti oleh manusia dan binatang.
Kumpulan kerbau hidup di hutan. Keajaiban terjadi yang membuat anak-anak ingin mengetahui cerita yang utuh. Limbak Tjahaja memilih lambat dalam bercerita: “Pada suatu malam, sedang bulan purnama raya dan alam sunyi sepi, terdengar suara berseru-seru riang. Aku mendapatkan seorang anak perempuan manusia. Aku mendapatkan anak. Aku mendapatkan anak orang. Sekalian kerbau, burung, bajing, monyet, dan lain-lain binatang terbangun dan pergi melihat ke tempat suara itu datang. Betul! Di tempat itu terbaring seorang bayi putih kuning seperti boneka gading. Sekalian yang memandang mengeluh heran dan jatuh kasih kepada orok itu. Induk kerbau menyusukan bayi itu seolah-olah itu anak kerbau. Yang melihat memuji menyanjung dan takjub akan takdir Tuhan.”
Anak-anak berimajinasi hutan, bertemu para binatang dan kondisi alam yang indah. Anak-anak biasanya membayangkan hutan itu campuran antara yang hijau, indah, seram, dan lain-lain. Hutan itu tempat petualangan. Di hutan, anak-anak ingin menjadi pengembara yang memiliki keberanian dan kesaktian. Yang dibaca oleh mereka adalah para binatang di hutan. Selanjutnya, binatang menemukan bayi. Bagaimana bayi ada di hutan? Mengapa para binatang bersikap baik terhadap bayi? Padahal itu manusia. Penasaran saat berimajinasi dirampungkan dengan pernyataan bahwa yang terjadi berdasarkan takdir Tuhan. Anak-anak tidak usah berpikir macam-macam lagi.
Bayi itu bertumbuh dengan susu kerbau jalang. Di hutan, kerbau-kerbau dan beberapa binatang mengasuh, menjaga, dan menghiburnya. Bayi itu manusia yang pertumbuhannya berbeda dari binatang. Ada yang menyadari bahwa bayi itu terlambat dalam bertahan hidup. Buktinya, anak kerbau cepat bisa berjalan. Hanya membutuhkan beberapa hari. Bayi yang ditemukan itu punya kaki tapi lama untuk digunakan agar bisa berjalan. Anak-anak yang membaca cerita bisa mencari beragam keterangan dalam buku pelajaran (biologi) atau ensiklopedia. Manusia memang telat dalam tanggapan terhadap alam. Masa pertumbuhan yang lama tapi menjadikan manusia unggul ketimbang binatang.
Kerbau-kerbau jalang mengasuh dengan sabar tapi menyadari keterbatasan dalam membesarkan anak manusia. Pada akhirnya, bayi itu bertumbuh dengan selamat. Ia menjadi gadis, yang biasa disebut Muah. Hubungan aneh yang tercipta membuktikan keselarasan. Binatang dan manusia bisa hidup bareng. Anak-anak yang membaca cerita itu belajar keharmonisan di alam semesta.
Limbak Tjahaja bercerita: “Adapun si Muah kalau melihat kembang bagus disuruhnya arak-arakan itu berhenti untuk memetiknya. Kembang itu ditusukannya ke rambutnya dan cantiknya pun bertambah pula. Makin hari anak kerbau makin tajam matanya menampak bunga-bungaan sehingga akhirnya si Muah bersunting, berdokoh, bergelang dan berbaju bunga pelbagai warna.” Para pembaca mulai diajak membayangkan manusia dalam asuhan kerbau jalang bertumbuh menjadi gadis yang cantik. Anak-anak yang membaca belum saatnya menggugat mengenai gagasan kecantikan yang sedang dirayakan oleh binatang dan manusia. Di dongeng, adanya gadis cantik atau putri cantik sudah keniscayaan.
Babak-babak selanjutnya, anak-anak mungkin mulai bosan. Cerita mengenai Muah dengan binatang-binatang di hutan berganti pakem pernikahan dalam dongeng di Nusantara. Aneh, banyak dongeng berisi tentang pernikahan. Anak-anak yang menikmati dongeng belum tergesa untuk berimajinasi pernikahan. Mengapa masalah pernikahan selalu bermunculan dan berulang?
Kita boleh bergurau bahwa dongeng-dongeng di Nusantara mengandung pengajaran pernikahan. Anak-anak belajar pernikahan, yang tokohnya adalah pangeran atau putri di suatu kerajaan. Yang terbaca dalam Kerbau Jalang Beranak Puteri akhirnya pernikahan. Pangeran yang mengembara di rimba bertemu Muah. Pokoknya mereka ditakdirkan sebagai pasangan yang menikah dan berbahagia. Kita boleh maklum atau membuat gugatan kecil. Dongeng-dongeng berpengaruh dalam pernikahan dini di Indonesia. Gugatan itu memiliki bukti dan argumentasi meski tidak mengharuskan dongeng menjadi penyebab terbesar.
_________
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com
Thursday, December 4, 2025
Sunday, November 30, 2025
Berita | Panggung Sastra Rumah Dunia: Bedah Novel "Andra" Karya Qizink La Aziva
NGEWIYAK.com, KOTA SERANG – Bedah buku di Rumah Dunia, Ciloang, Kota Serang kembali digelar pada Minggu (30/11). Kali ini diberikan tema “Panggung Sastra Rumah Dunia” yang memdedah novel Andra (Bulan Sabit dan Rosario) karya Qizink La Aziva. Acara ini berlangsung di Cafe Rendez-Vous Rumah Dunia dan dimulai pukul 13.30.
Menurut Presiden Rumah Dunia, Rudi Rustiadi, acara ini merupakan panggung untuk teman-teman, khusunya anggota kelas menulis rumah dunia. Ia turut berbahagia atas terbitnya novel Andra karya Qizink La Aziva ini.
“Semoga semangat ini dikuti oleh teman-teman di angkatan sekarang,” ujar Rudi.
Peserta yang hadir sekitar 20 orang terdiri atas penulis, anggota kelas menulis Rumah Dunia, masyarakat umum, hingga siswa-siswi SMP-SMA IT Pesantren Darussalam Pipitan yang didampingi oleh gurunya.
Narasumber pertama, Encep Abdullah—aktivis literasi dari Pontang—mengatakan bahwal Andra bukan novel yang terlalu njelimet. Walaupun begitu, pembaca harus fokus. Kalau tidak, pembaca tidak akan menikmati setiap detail keindahan deskripsi yang penulis hadirkan dalam novel ini.
“Saya sampai geleng-geleng. Kok bisa Mang Qizink sekuat itu bernapas mendeskripsikan sesuatu, bahkan sampai berhalaman-halaman,” uajr Encep.
Nita Andriani, narasumber kedua—Gusdurian Banten—, bercerita tentang isu toleransi umat beragama. Menurutnya perempuan yang maju untuk isu toleransi di Banten itu sedikit.
“Buku Andra cocok sebagai bahan edukasi,” ujar Nita.
Qizink La Aziva menyampaikan bahwa cerita-cerita dalam novel Andra sebagian besar adalah kisah nyatanya. Semua deskripsi yang ada di situ adalah peristiwa nyata.
“Termasuk persoalan cinta saya dengan non-Muslim,” ujar penulis novel Andra tersebut.
Di sesi diskusi, Firman Venayaksa, dosen Untirta, menambah banyak hal. Menurutnya novel ini lebih dekat dengan pendekatan sosiologi sastra. Firman kemudian menambahkan bahwa Qizink cenderung memanfaatkan media berita sebagai sastra, tepatnya bermain dengan realitas yang dibekukan dalam sastra.
“Satu gambaran, sastra tidak semata-mata sesuatu yang fiksional. Bagi jurnalis, sastra itu tidak lagi sebagai karya seni, tapi pantulan realitas,” pungkasnya.
(Redaksi)
Esai Encep Abdullah | Ngalor-Ngidul tentang Novel "Andra"
Oleh Encep Abdullah
Pada 7 Oktober 2025, Mang Qizink menghubungi saya lewat WA dan berencana mencetak novel terbarunya berjudul Andra (Bulan Sabit dan Rosario). Pada hari itu juga, ia mengirim manuskrip novelnya. Katanya, tidak usah dicetak banyak—rencananya di bawah 100 eksemplar. Mang Qizink bilang, buku ini hanya untuk hadiah bagi peserta bila suatu saat ia menjadi pemateri atau narasumber kegiatan. Jadi, Anda yang hadir dalam pertemuan hari ini [diskusi di Rumah Dunia] mungkin termasuk orang-orang yang akan mendapatkan hadiah itu. Silakan tagih janji si penulis!
Sebelum buku ini dicetak, Mang Qizink sempat bilang belum ada fulus. Namun tidak lama kemudian, pada 13 Oktober 2025, ada pengumuman bahwa cerpennya menjadi Juara 1 Lomba Menulis Cerpen pada Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Provinsi Banten dan tentu dapat duit banyak. Harusnya dicetak banyak, nih. Katanya, untuk biaya UKT anaknya.
Saya daftarkan ISBN untuk novel tersebut. Kurang lebih sebulan kemudian, tepatnya 7 November 2025 ISBN keluar. Saya juga mengirim foto iseng kepada Mang Qizink: buku itu sedang dipegang oleh Pak Gubernur Andra Soni yang saya edit pakai Gemini. Mang Qizink tertawa. Buku cetakan pertama (tanpa edit) berjumlah 50 eksemplar pun selesai dicetak.
Tidak lama setelah buku Andra sampai di kediaman Mang Qizink, ia menelepon bahwa Pak Gubernur Banten memesan sejumlah 200 eksemplar. Mang Qizink pun mengirim sebuah foto: bukunya (yang edisi cetakan awal) benar-benar sedang dipegang Pak Andra, bahkan Pak Andra mempromosikannya di suatu tempat, saat beliau sedang memberi sambutan. Berarti memang benar, Pak Gubernur memang memesan buku tersebut. Saya bilang dalam hati, padahal foto saat saya kirim itu cuma bercanda. Malah jadi kenyataan. Dari sini saya sadar, jangan sepelekan candaan, bisa jadi itu memang doa.
Dugaan saya, mengapa Pak Andra tertarik dengan buku Mang Qizink, selain karena judulnya, mungkin karena ada satu bagian halaman yang menurut saya cukup “ger”. Saya kutip dari awal bab "Spanduk dan Sketsa" (hlm. 39):
Di sepanjang 2016, mahasiswa mencatat ada belasan kasus korupsi yang ditangani aparat penegak hukum. Pelakunya mulai dari tingkat kepala desa, pengusaha, eksekutif, hingga anggota dewan. Di sisi lain, sejumlah kerabat pejabat akan ikut kontestasi pemilihan kepala daerah. Mereka menambah daftar panjang jaringan dinasti politik di Banten.
“Bersihkan Banten dari para koruptor!” teriak Andra.
Andra tampil gagah berorasi. Suaranya lantang, kata-katanya tajam, dan langkahnya tegak penuh percaya diri. Ia tak hanya bersuara, tapi juga membawa keyakinan bahwa perubahan bukan hanya impian. Hampir lima belas menit, Andra bersuara. Menyampaikan pendapat sekaligus membakar semangat. Tubuhnya yang dibungkus kaus hitam polos telah basah oleh keringat.
Seolah-olah kutipan tersebut adalah kata-kata Andra Soni. Bagi saya, ini satu hal yang menarik terkait peluang dan nasib ke mana buku ini akan berlabuh. Entah penulis sengaja atau hanya kebetulan. Namun, ini bisa Anda tiru. Misalnya, menulis buku berjudul Gibran atau Prabowo. Siapa tahu mereka tertarik memborong buku Anda. Kalau saya, belum kepikiran.
Untuk cetakan 200 eksemplar yang dipesan Pak Gubernur, tentu buku Andra saya baca ulang untuk meminimalkan kesalahan typo atau bagian yang kurang pas. Jadi, kalau Anda membaca buku ini dan di dalamnya banyak typo, berarti Anda memegang cetakan awal. Kalau rapi dan minim kesalahan, berarti Anda membaca cetakan yang sudah disunting. Saran saya, sebelum menerbitkan buku—baik sedikit atau banyak—usahakan baca sendiri dulu sampai benar-benar selesai. Jangan setengah-setengah. Kalau bisa, berikan kepada editor, baik untuk edit ringan maupun berat. Supaya buku dapat dinikmati pembaca.
Coba bayangkan, buku Anda dipesan Pak Gibran, tetapi banyak typo di dalamnya. Yang malu bukan hanya penulis, tetapi juga penerbit, bahkan Pak Gibran-nya. Jadi, jangan buru-buru kalau menulis buku ya, Dek!
Terkait novel Andra, setelah saya baca ulang dengan agak serius, saya cukup menikmati permainan bahasa dan deskripsi penulis. Jujur, saya sudah jarang membaca novel sampai selesai. Terakhir saya baca (ulang) Layla Majnun karya Nizami Ganjavi, itu pun tinggal satu atau dua bab lagi. Juga The Stranger (Orang Asing) karya Albert Camus, dan itu pun tidak selesai. Membaca bila tidak ada kepentingan memang terasa berat. Saya menghabiskan buku Andra karena ada kepentingan: menyunting ulang bukunya dan membedahnya dalam acara di Rumah Dunia. Mau tidak mau harus dibaca, sekaligus "dicoret-coreti". Kurang afdal rasanya diskusi buku tanpa tulisan/ulasan selebaran yang dibagikan kepada peserta diskusi. Budaya seperti ini harus terus dilestarikan.
Jadi, kalau Anda ingin serius membaca buku, harus ada kepentingan, apa pun itu. Jangan hanya iseng belaka karena bisa jadi mubazir. Mungkin kita malas karena kurang paham, padahal bisa jadi itu tantangan. Cobalah becermin pada filsuf Muslim, Ibn Sina. Ia tidak akan membaca halaman berikutnya sebelum memahami halaman sebelumnya. Gila memang. Untungnya, novel Andra tidak serumit itu. Anda bisa membacanya sambil ngupil.
Walaupun tidak rumit, Anda harus fokus. Jika tidak, Anda tidak akan menikmati setiap detail deskripsi yang penulis hadirkan. Saya sampai geleng-geleng: kok bisa Mang Qizink bernapas begitu panjang mendeskripsikan sesuatu dalam novel Andra, bahkan sampai berhalaman-halaman. Mari baca pada bab "Janji Menguak Luka" (hlm. 44):
Andra melewati pintu depan rumah, Tienz mengikuti di belakang. Ruang tamu Andra juga tampak sederhana dengan cat serupa dengan bagian depan. Hanya ada sofa kecil dengan meja kayu yang dihiasi pot bunga mini. Di sisi sofa ada kipas angin berdiri. Di dinding terlihat foto Andra saat masih kecil bersama kedua orang tuanya.
Di sisi kiri terlihat deretan dua pintu kamar tidur, sementara di ujung lorong terlihat cermin besar memantulkan suasana bagian belakang rumah yang difungsikan sebagai dapur dan ruang makan. Lampu neon di langit-langit menyala memberikan pencahayaan yang hangat pada ruang berlantai keramik putih tersebut.
Meja dapur di bagian belakang tertata rapi dengan sebuah penutup saji berhias kain motif bunga. Berbagai peralatan masak tergantung di dinding, tepat di atas kompor gas dan rak piring. Warna perabot yang beragam memberi kesan hidup pada ruang ini, sementara pintu terbuka mengarah ke luar rumah, memberikan pandangan ke area belakang rumah yang diterangi sinar matahari.
Andra duduk di sisi kanan meja makan, lalu mempersilakan Tienz duduk di sampingnya. Emak Andra duduk berhadapan dengan Andra dan Tienz. Andra membuka tutup saji. Di atas meja tampak dua sate bandeng utuh, sepiring sayur kulit melinjo merah, opor ayam, dan sambal goreng.
Deskripsi macam itu bertebaran di banyak halaman. Ini mengingatkan saya pada cerpen Kritikus Adinan karya Budi Darma. Setiap detail kalimatnya menuntut fokus agar tidak kehilangan momen imajinasi, seolah film di kepala kita. Bila Anda lengah sedikit saja, kenikmatan itu hilang.
Atau coba Anda baca novel puitis Cala Ibi karya Nukila Amal, novel “mumet” Don Quixote karya Miguel de Cervantes, atau A Portrait of the Artist as a Young Man karya James Joyce. Novel Andra juga puitis, tetapi renyah dan tidak berbelit-belit. Saya kebangetan sekali ya, membandingkan Mang Qizink dengan para maestro dunia itu. Tapi siapa tahu suatu hari nanti karya Mang Qizink bisa sekelas mereka. Bisa mendunia.
Untuk menceritakan lebih-lebihnya dalam buku ini, saya sampaikan secara langsung dalam diskusi, tidak dalam tulisan ini. Tapi, intinya buku ini mengajak pembaca untuk merefleksikan tiga hal. Kalau saya kutip dari buku psikologis Konflik-Konflik Batin karya Karen Horney, saat terjadi konflik, kita bisa memilih (1) bergerak mendekati [kepada orang atau objek yang membuatnya merasa dilindungi], (2) bergerak menentang [secara sadar/tidak sadar ingin bertarung sebagai bentuk melindungi diri/balas dendam, (3) bergerak menjauh [tidak ingin menjadi bagian atau terlibat karena beda visi dan lebih memilih membangun dunianya sendiri].
Dalam novel Andra semua ada. Tokoh Arfan, bergerak mendekati karena merasa dilindungi oleh uang dan kekuasaan. Tokoh Andra dan Tienz, bergerak menentang dengan cara bertarung atau memperjuangkan diri akan cinta bahkan berupaya mendekonstruksi dogma atau keyakinan. Tokoh orang tua Tienz, bergerak menjauh karena mereka sangat traumatis terhadap masa lalu sehingga mereka lebih memilih untuk tidak terlibat dalam hal-hal yang membuat mereka diserang terus-menerus secara batin. Barangkali semua itu adalah representasi dari kehidupan manusia, terlepas apa pun masalahnya.
Selain itu, yang unik dalam novel Andra, penulis menghadirkan tokoh-tokoh yang abu-abu, munafik, dan paradoks. Misalnya tokoh Andra. Ia adalah sosok yang rajin salat, tidak mau patuh pada dogma, bahkan menolak untuk ikut demo penistaan agama. Di halaman 27, Andra dinarasikan bahwa dalam pandangannya, orang yang beragama tapi tak melaksanakan ajaran agamanya secara utuh adalah penista agama sesungguhnya. Bagi Andra, koruptor adalah penista agama. Koruptor adalah orang-orang yang sangat jelas melanggar ajaran agama dan merugikan rakyat.
Anehnya, di luar sana Andra jalan berdua terus dengan Tienz, bahkan sempat berpelukan. Anda tahu dalam ajaran agama, itu tidak diperbolehkan. Ini satu paradoks yang dihadirkan penulis. Juga tokoh lain seperti Arfan, yang religius, tapi munafik, segala yang dia sampaikan itu tidak sesuai dengan hati nuraninya. Namun, ini mennunjukkan bahwa manusia ideal itu langka. Manusia yang sangat dan superideal menurut saya adalah ia yang alim, arif, dan taat. Tokoh dalam cerita Andra, tidak. Ada yang alim, arif, tapi tidak taat. Ada yang taat dan arif, tapi munafik. Mungkin di sekitar kita Ada juga yang tidak alim, tidak arif, juga tidak taat. Nauzubillah. Minimal kalau tidak menjadi tiga-tiganya, kita ada di salah satunya atau salah duanya. Dan, kita terus berproses agar memenuhi ketiganya.
Sebenarnya saya ingin menulis banyak tentang Andra, tapi karena kesibukan saya yang luar biasa di sekolah, waktu saya juga mepet-mepet, bahkan tulisan ini saya paksa bikin pukul 11.30 dan selesai pukul 12.45 sebelum acara diskusi buku dimulai.
Wabillahi taufik walhidayah. Wassalamualaikum wr. wb.
Catatan:
Tulisan ini disampaikan dalam acara Panggung Sastra Rumah Dunia: Bedah Novel Andra karya Qizink La Aziva di Cafe Rendez-vous Rumah Dunia pukul 13.30 s.d. selesai.
_______
Penulis
Encep Abdullah, tukang ngecaprak.
Saturday, November 29, 2025
Resensi Kabut | Puisi dan Gizi
Oleh Kabut
Pada suatu hari, kita berharap pemerintah membuat sayembara menulis cerita pendek, puisi, atau pengalaman. Murid-murid di seantero Indonesia berhak mengikuti sayembara. Yang ikut adalah murid-murid SD, SMP, dan SMA. Mereka yang sudah menikmati kebijakan makanan bergizi gratis dari pemerintah dianjurkan ikut sayembara, tidak perlu memikirkan menang atau kalah.
Mengapa diperlukan sayembara? Kita mengetahui selama 2025, kebijakan itu penuh kejutan. Artinya, beragam masalah muncul tanpa jawaban. Yang paling sering menjadi berita adalah keracunan. Di pelbagai sekolah, murid-murid merasa senang mendapat makanan setiap hari. Tersajinya makanan di atas meja membuat lapar bisa terjawab, belum tentu masalah selera. Ada yang ribut dan bingung untuk penetapan gizi. Pokoknya, kebijakan itu mencipta jutaan opini yang membuat presiden bangga. Ada pihak-pihak yang menyesal dan marah meski kebijakan pemerintah tidak mungkin dihentikan. Yang terjadi di Yogyakarta dan pelbagai kota, seruan dari kaum ibu yang menuntut program makanan bergizi gratis dihentikan gara-gara menimbulkan banyak masalah ketimbang manfaat.
Kita belum ingin lelah dengan masalah-masalah mutakhir. Yang kita harapkan adalah anak-anak mau belajar tentang makanan saat pemerintah memaksakan kebijakan. Anak-anak belajar makanan bukan sekadar menyesuaikan kemauan pemerintah, tapi membekali dirinya saat bertumbuh menjadi dewasa. Pengetahuan pangan terlalu penting berkaitan identitas, kesehatan, iman, adat, dan lain-lain. Gagasan besar dan beragam atas makanan mustahil semua tercakup dalam kebijakan pemerintah, yang malah memicu persaingan bisnis dalam meraih untung yang sebesar-besarnya.
Pada masa Orde Baru, pengajaran pangan dilakukan melalui beragam mata pelajaran. Yang disampaikan adalah hal-hal penting, belum tentu mudah dipahami murid-murid. Pelajaran yang berurusan gizi kadang tidak menarik. Akibatnya, anak-anak enggan untuk paham, tidak bergairah untuk mengamalkannya.
Maka, pengajaran pangan memerlukan cara-cara yang istimewa. Pada masa Orde Baru, pengajaran itu menggunakan puisi. Kita beruntung mendapatkan buku yang pernah menjadi koleksi di perpustakaan SD Kristen Widya Wacana, Surakarta. Buku yang cukup sering dipinjam oleh murid. Apakah buku yang menarik? Biasanya, anak-anak suka novel atau kumpulan cerita pendek. Buku berisi puisi-puisi jarang digemari anak-anak. Pengecualian bila ada tugas dari guru.
Buku itu berjudul Empat Sehat Lima Sempurna, yang berisi puisi-puisi gubahan Jajak MD. Anehnya, sampul buku tidak memuat gambar makanan dan minuman. Yang ditampilkan adalah dua anak yang wajahnya ceria. Artinya, mereka sehat dan cerdas. Buku diterbitkan oleh Urasco Nusantara, 1984. Mengapa judulnya seperti propaganda pemerintah? Pada masa Orde Baru, seruan 4 sehat 5 sempurna dilakukan di sekolah, posyandu, puskesmas, dan lain-lain. Yang penting ada kerja keaksaraan untuk mengajak anak-anak belajar makanan yang bergizi. Buku itu terbit jauh sebelum rezim Prabowo-Gibran mengadakan makan bergizi gratis. Jadi, suatu hari, pemerintah harus mengadakan sayembara penulisan puisi agar anak dan remaja yang menikmatinya dapat mengungkapkan dengan kata-kata berbumbu imajinasi. Kita tunggu puisi-puisi mereka penuh pujian atau berani menyampaikan kritik sekaligus kekecewaan.
Jajak MD ingin membuktikan keampuhannya. Halaman pengantar saja menggunakan bentuk puisi: Sehat kuat tidak selalu/ dari nasi, gandum, atau ubi/ Makanan harus bervariasi/ termasuk buah dan sayur-sayuran/ lemak, daging, telur, dan ikan// Empat sehat lima sempurna/ itulah semboyan kita/ Semuanya itu tidak selalu harus mahal/ bisa hanya sederhana/ Tergantung sama kita/ cara memilihnya/ cara memasaknya/ dan variasinya/ atau kombinasinya. Dua bait yang benar-benar penyuluhan. Bagaimana murid-murid mau tergoda dengan puisi dan pelajaran pangan bila nadanya penyuluhan? Seharusnya, buku dibacakan di kumpulan PKK atau Dharma Wanita saja.
Apakah pengantar berbentuk puisi ini boleh dikutip dalam kesuksesan program pemerintah yang masih saja diributkan? Kita usul para pengusaha dan kaum politik yang sibuk meraup untung dalam program makanan bergizi gratis membaca bait yang terakhir: Dan tidak usah khawatir/ negeri ini adalah negeri yang makmur/ yang boleh dikata apa saja tersedia/ Tak usah khawatir/ vitamin, mineral/ terdapat di mana-mana/ hampir semua dalam makanan kita.
Kita pernah dibingungkan oleh pernyataan orang di pemerintahan dan DPR bertema ahli gizi. Omongan mereka disambar publik untuk pesta kritik dan ejekan. Indonesia membutuhkan ahli gizi atau puisi? Pertanyaan yang kita jawab sembarangan saat membuka halaman-halaman buku berjudul Empat Sehat Lima Sempurna.
Jajak MD itu pengarang, bukan ahli gizi. Namun, puisi-puisinya seperti menunjukkan paham gizi atau pangan. Apakah selama menggarap puisi, Jajak MD berdiskusi dengan ahli gizi atau membaca buku-buku bertema makanan? Kita pasti sudah pusing duluan, sebelum membaca puisi-puisi.
Kita mencuplik dari puisi berjudul “Vitamin dan Mineral”. Anak-anak yang membaca berusaha tidak menuduhnya adalah salinan dari materi yang terdapat dalam buku pelajaran: Tubuh kita memerlukan vitamin/ juga yang disebut mineral/ Tanpa keduanya/ kita akan fatal// Keduanya diperlukan/ dalam kadar dan takaran/ yang memadai/ Harap diketahui, tubuh kita/ amat menghendaki// Di manakah kita memperolehnya?/ Keduanya dapat kita ambil/ dari tanaman-tanaman/ terutama sayur-sayuran. Di hadapan puisi, anak-anak berpikir atau membuat catatan? Pilihan kata yang tidak terlalu sulit tapi murid-murid yang sudah lelah dengan beberapa pelajaran di kelas akan merengut mendapat penyuluhan.
Puisi yang berjudul “Kalsium” tidak ingin bersaing dengan iklan-iklan yang dimuat dalam majalah wanita dan keluarga. Kalsium adalah diksi yang biasa digunakan dalam iklan-iklan selain rubrik kesehatan. Bagaimana kenikmatan Jajak MD menulis puisi berjudul “Kalsium”? Puisi yang harus memenuhi kaidah ilmiah, tidak boleh asal imajinatif. Buku-buku apa saja yang dibacanya? Hasilnya: Kalsium disebut juga zat kapur/ merupakan mineral yang paling/ banyak dalam tubuh/ Kekurangan kalsium akan rapuh/ Kalsium terdapat dalam tulang-tulang/ Sebagian kecil terkandung dalam darah/ fungsinya antara lain/ mencegah pendarahan// Namun penting pula bagi otot-otot/ dan saraf/ Bila kadar kalsium menurun/ urat saraf jadi peka/ dan otot-otot jadi kejang/ lalu timbul kesemutan/ atau geringgingan.
Bagi yang ahli sastra atau penikmat serius sastra, yang ditulis Jajak MD sulit disebut puisi. Yang jelas ia menulisnya untuk dibaca anak dan remaja. Para guru boleh membacanya bila menganggap penting dalam menyokong mata pelajaran. Seharusnya buku itu dipelajari ibu-ibu PKK dan Dharma Wanita yang punya tugas mulia di masyarakat. Puisi membekali dalam penyulusan makanan dan kesehatan.
Di program makanan bergizi gratis, murid-murid kadang mendapatkan pisang atau jeruk. Ada yang suka buah-buahan meski tidak mengerti banyak kandungan-kandungannya. Jajak MD tampil menjelaskan bila buku masih dibaca murid-murid pada masa sekarang.
Puisi yang tidak indah tapi dapat dinikmati di kelas: Siapakah yang belum tahu pisang?/ Banyak pisang dapat direbus/ digoreng dan dibakar/ Banyak juga yang langsung/ dapat dimakan// Pisang yang diselai/ menjadi manis rasanya/ Kadar gulanya meninggi/ bisa langsung disantap/ atau digoreng dulu/ dengan adonan telur dan terigu// Pisang amat banyak jenisnya/ ada ambon, koja, raja/ susu, kapok, tanduk, byar/ dan sebagainya. Orang yang mau mengubah susunan atau bentuk tulisan Jajak MD bisa menghasilkan tulisan seperti paragraf dalam pelajaran sekolah. Puisi yang sebenarnya bisa dianggap tidak puisi. Namun, kita membayangkan usaha yang sungguh-sungguh saat pengajaran makanan dilakukan di sekolah. Jajak MD adalah pengarang, yang memaksakan bentuk puisi dalam penyuluhan. Yakinlah, puisi-puisi itu sulit digemari anak-anak. Apakah ada anak-anak yang berhasil mengingatnya, menjadikan puisi sebagai sumber hikmah?
Kita tidak mengusulkan buku itu dicetak ulang. Pemerintah mendingan membuat sayembara agar murid-murid berani mengirimkan tulisan bertema makanan bergizi gratis. Maksudnya, tulisan-tulisan mereka menjadi tanggapan dan pengalaman, yang nanti membuat pemerintah melakukan evaluasi atau publik makin kencang dalam debat sepanjang 100 kilometer.
_______
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com
Sunday, November 23, 2025
Resensi Kabut | Perkelahian dan Sekolah
Oleh Kabut
Yang bermukim atau bekerja di Jakarta mengetahui sosok penting yang bernama Rano Karno. Dulu, ia adalah artis. Pada masa sekarang, ia menjadi manusia-politik. Sebelum sibuk berpolitik, ia membuat tontotan yang berkesan dan teringat jutaan orang. Ia membuat serial Si Dul Anak Sekolahan yang menokohkan Dul. Serial yang panjang, yang dinantikan banyak penonton. Pada saat diputar ulang, penontonya terus bertambah. Rano Karno merasa belum cukup. Ia membuat film. Orang-orang yang ingin mengetahui nasib dan asmara Dul diajak duduk di gedung bioskop, melihat para tokoh yang menguras emosi.
Tontonan tidak dimaksudkan sebagai hiburan atau pengajaran bagi anak-anak. Yang menonton adalah kaum dewasa. Masalah-masalah yang diadakan dalam cerita sering berat meski berbumbu lucu. Para remaja mungkin menyukai dan mengerti, yang condong menganggapnya sebagai hiburan. Apakah anak-anak SD menonton Dul di televisi? Mereka kadang ikut menonton Bersama orang tua. Yang jelas, serial itu jarang menghadirkan tokoh anak-anak, yang memiliki peran besar atau penting. Yang terbanyak adalah tokoh-tokoh yang dewasa. Jadi, yang mengingat Dul sebagai tontonan itu berada dalam jagat dewasa.
Kini, Rano Karno yang kadang disebut Bang Dul itu bertambah tua. Tubuhnya sudah gemuk. Ia adalah pemimpin. Di keseharian, ia bukan Dul dalam sinetron atau film. Ia pun bukan Dul dalam cerita anak yang digubah Aman Datuk Madjoindo. Pada awalnya, novel tipis itu terbit pada 1932, berjudul Si Doel Anak Betawi. Novel yang hadir saat orang-orang berdebat kekuatan para pengarang bercap Balai Poestaka dan Poedjangga Baroe. Sastra anak sedang bertumbuh tapi kurang perhatian. Novel bertokoh Doel itu muncul mendapat beragam tanggapan, yang memungkinkan sastra anak berada dalam arus yang cukup besar.
Pada suatu masa, novel yang diterbitkan Balai Pustaka itu sering cetak ulang. Namun, judulnya berubah menjadi Si Dul Anak Jakarta. Nama pengarang kadang hanya ditulis Aman. Nama pengarang tidak mengesankan sebagai tokoh Betawi. Ia berasal dari Betawi tapi mengisahkan anak dan dunianya di Betawi. Apakah citarasa Betawi bakal mengental atau tempelan saja? Maka, penyebutan tokoh berubah ejaan: Doel menjadi Dul.
Pada 1994, novel mengalami cetak ulang ke-14. Kita menganggap itu agak bermasalah. Seharusnya, bisa cetak ulang ke-50 bila memikirkan ketersediaan bacaan di ribuan sekolah di seantero Indonesia. Novel yang tidak sekadar dibaca anak-anak yang berada di Jakarta. Anak-anak di pelbagai desa dan kota berhak membacanya sambil belajar tentang Betawi (Jakarta).
Pihak penerbit (Balai Pustaka) memberi keterangan: “Buku yang kami sajikan kali ini mengandung tema yang agak lain, yakni cerita yang penuh kejenakaan. Aman Dt Modjoindo menggambarkan Si Dul Anak Jakarta dengan gaya bahasa yang lincah dan segar. Sengaja dituliskan lewat dialek-dialek Betawi atau Jakarta dengan maksud agar dikenal juga gaya bahasa kota tersebut oleh masyarakat di daerah lain.” Kita perhatikan penulisan nama pengarang. Balai Pustaka menulis “Modjoindo”. Para pembaca mengenalinya “Madjoindo”. Mana yang benar?
Apa yang berbeda dari cerita yang terbit pada masa 1930-an dan saat terbaca masa 1990-an, berlanjut diolah menjadi tontonan? Kita bukan peneliti yang melakukan kesibukan menemukan bukti dan menyusun argumentasi. Yang membingungkan, banyak orang mengingat Dul itu Rano Karno. Judul yang akrab dengan jutaan orang adalah Si Dul Anak Sekolahan, bukan Si Dul Anak Jakarta atau Si Dul Anak Betawi.
Pada abad XXI, anak-anak mungkin kesusahan bila diminta membaca Si Dul Anak Jakarta. Mereka akan terpaksa membacanya jika menteri benar-benar mewajibkan murid membaca buku dan meresensinya. Beberapa hari yang lalu, menteri mengatakan membaca dan meresensi buku dalam acara yang diadakan oleh Ikapi, organisasi yang berurusan dengan penerbitan buku.
Kita mengutip kejadian-kejadian yang dialami Dul dalam kehidupan sehari-hari. Kita jangan terlalu mengharapkan pengarang memunculkan tokoh yang sempurna. Yang terbaca adalah anak-anak yang boleh nakal, berbohong, sembrono, curang, sopan, dan lain-lain.
Aman mengisahkan: “Sapii membulatkan tinjunya, lalu ditinjunya rumpun telinga si Dul dengan sekeras-kerasnya. Si Dul menundukkan kepalanya, sehingga ia terluput dari tinju Sapii yang pertama itu. Sapii mau mengulang sekali lagi, tetapi si Dul sudah mendahului meninju perut lawannya. Sapii terdorong ke belakang, mukanya meringis-ringis seperti orang sakit perut.” Dunia anak-anak yang lumrah terlibat dalam pertengkaran. Anak-anak yang berkelahi biasanya menjadi tontonan teman-temannya. Peristiwa itu mirip hiburan, yang menimbulkan sakit atau luka. Yang kalah atau tidak terima bakal mendendam.
Siapa anak yang disebut Dul dalam pengenalan para pembaca: “Tentang berkelahi, si Dul jangan ditanya lagi, memang kesukaannya berkelahi itu, lagi berani dan tak mau kalah. Menangis sekali-kali ia tiada mau. Betapa pun keras tinju lawannya, belum pernah ia menangis. Hanya kalau berhadapan dengan jari ibunya yang halus-halus itu, yang acap kali bermain di paha atau rusuknya, atau centil bapaknya yang menyinggung daun telinganya, barulah mengalir air mata simpanan.” Anak yang tidak gampang menangis di hadapan teman-teman atau “musuh”. Ia di rumah tetap anak yang diharuskan patuh dan memiliki ketakutan kepada orangtua.
Si Dul, anak yang suka bikin masalah akhirnya diajak masuk ke sekolah. Anak itu memiliki beragam bayangan, yang bikin bimbang atau senang. Maka, pengisahan si Dul sebagai anak sekolahan oleh Rano Karno dalam masa yang berbeda memang menampilkan dampak modernitas. Pendidikan itu penting. Orang-orang memahami bahwa anak yang belajar di sekolah dan tamat akan mudah mendapatkan pekerjaan. Masa depannya pasti berbeda dengan orangtua yang tidak pernah sekolah.
Yang ditulis dalam novel: “Mereka pun tidurlah. Tetapi si Dul tak lekas tertidur karena pikirannya melayang-layang kepada pakaian dan topi padpinder dan sekolah yang akan dimasukinya itu. Bermacam-macamlah nanti yang akan dibuatnya jika ia sudah masuk di sana. Semua angan-angan itu yang akan menggirangkan hati belaka. Setelah penat berangan-angan, akhirnya tertidurlah ia. Si Dul masuk sekolah. Tetapi sekolahnya luar biasa. Ia diajar hanya berlari, melompat, memanjat dan berbaris… “ Yang dialami oleh si Dul itu dalam mimpi, bukan kenyataan saat ia berada di sekolah.
Pada akhirnya, Dul membuktikan senangnya berada di sekolah. Ia belum menyadari tentang kebijakan pemerintah kolonial, impian kalangan pergerakan politik kebangsaan, dan perkumpulan yang berdakwah. Sekolah itu “berkah” di tanah jajahan yang ingin “madjoe” atau mendapatkan kemerdekaan. Dul yang belajar di sekolah tidak perlu berpikir macam-macam mengenai babak sejarah di Indonesia.
Yang terjadi: “Demikianlah si Dul bersekolah makin sehari makin terasa enaknya. Dan, dia pun makin rajin belajar. Apalagi dia sudah mulai diajar bermain-main baris dan melompat-lompat, yang sangat disukainya itu.” Dul, tokoh dalam novel gubahan Aman, tidak mengetahui adanya Dul dalam tontonan di televisi dan bioskop. Yakinlah bahwa cuma sedikit orang yang masih mengingat Dul dalam cerita. Buku yang masih bisa diperoleh dan dibaca tapi kurang diminati anak-anak di seantero Indonesia, yang membutuhkan hiburan mutakhir atau bacaan menghibur sesuai zamannya.
________
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com
Sunday, November 16, 2025
Resensi Kabut | Keseharian dan Heroisme
Oleh Kabut
Sejak belajar di sekolah dasar, anak-anak mendapat imajinasi dan pengetahuan bertema pahlawan. Ada yang memulainya dengan lagu-lagu. Dulu, anak-anak mudah membawakan lagu-lagu “wajib” dan nasional, yang memberikan pesan-pesan heroisme dan tanah air. Pada saat bernyanyi, mereka membuat penghormatan kepada tokoh-tokoh yang telah berperan dalam raihan kemerdekaan Indonesia. Di SD, lagu-lagu mudah menghimpun kekuatan bersama untuk menyadari Indonesia yang merdeka lewat banyak pengorbanan.
Lagu-lagu makin bermakna saat murid-murid diminta rutin mengikuti upacara bendera. Kita mengerti anak-anak sudah harus diajari ideologi melalui lagu-lagu, yang bisa dibawakan dalam pelbagai acara. Selanjutnya, anak-anak mengikuti pelajaran-pelajaran yang makin meminta mereka menjadi pembela Indonesia. Mereka pun dituntun memberi peran untuk Indonesia yang maju. Ideologi itu sangat kentara dihadirkan dalam kehidupan anak-anak pada masa Orde Baru. Kita dapat menyelidiknya melalui penentuan atau pembuatan beberapa mata pelajaran.
Semua itu belum cukup. Dinding kelas pun dijadikan alat agar anak-anak menerima ideologi yang diinginkan rezim Orde Baru. Kita masih ingat foto atau gambar yang berada di dinding kelas. Kita kadang melihat peta Indonesia. Foto presiden pasti ada. Pokoknya, dinding-dinding di sekolah berguna dalam ideologisasi, yang mengarahkan anak-anak menghormati pahlawan dan mengisi kemerdekaan.
Ada cara lagi yang menjadikan anak-anak “terikat” dengan gagasan-gagasan besar mengenai Indonesia. Yang dilakukan pada masa lalu adalah menghasilkan buku cerita dalam jumlah yang banyak, mengedarkannya ke desa dan kota. Anak-anak dianjurkan rajin belajar. Buktinya adalah suka membaca buku. Adanya buku-buku cerita yang dibaca anak-anak mendukung kerja-kerja besar yang dilakukan oleh rezim Orde Baru. Pada buku-buku yang terbaca, anak-anak sebenarnya sedang berurusan dengan negara.
Namun, masalah-masalah besar itu kadang bisa “diturunkan” dalam cerita-cerita sederhana dan bersifat sehari-hari. Anak-anak yang membaca buku cerita seperti tidak sedang mendapatkan doktrin tapi menikmati segala yang tersaji. Cerita anak memang semestinya menghibur ketimbang ikut-ikutan menyusahkan seperti buku pelajaran.
Kita membaca buku berjudul Pahlawan Kecil (1981) yang ditulis Djiwanto. Buku yang diterbitkan Pustaka Jaya ikut dalam arus pembangunan nasional. Pengarang seperti minta perhatian besar melalui judul yang dibuatnya. Bagi anak-anak, pahlawan itu gelar atau sebutan yang agung, mulia, dan gagah. Mereka telanjur mendapat pengertian pahlawan melalui buku-buku pelajaran dan peringatan Hari Pahlawan.
Anak-anak mungkin meniru sifat-sifat pahlawan, yang diketahui sejak kecil sampai dewasa. Peniruan bukan berarti anak-anak mau menjadi pahlawan. Mereka ingat saja bahwa pahlawan adalah teladan. Pahlawan memiliki banyak kebaikan, yang membuatnya mulia dan berjasa dalam sejarah Indonesia.
Yang membaca cerita tidak tiba-tiba mendapat penjelasan mengenai pahlawan tapi diajak mengikuti pergaulan anak-anak yang mengandung nilai-nilai dari meneladani pahlawan. Djiwatno bercerita: “Tiap pagi, Dul Gendut menyertai Sutanto pergi ke sekolah. Sutanto berjalan di muka, berlenggang kangkong tidak membawa apa-apa. Sedangkan, Dul Gendut berjalan di belakangnya membawa dua tas berisi buku-buku dan alat tulis. Tas yang satu milik Sutanto, yang selalu dibawa Dul Gendut dengan tangan kanan, dan yang satunya lagi tasnya sendiri yang dibawanya dengan tangan kiri.”
Adegan itu gampang dimengerti pembaca. Jadi, anak yang membedakan sifat-sifat antara Sutanto dan Dul Gendut sebenarnya dapat belajar menjadi manusia yang baik, yang dulu ditunjukkan oleh para pahlawan. Yang tergesa membaca biasanya menjadikan itu contoh hubungan “tuan” dan “hamba”, yang lazim terjadi dalam feodalisme dan kolonialisme.
Para pembaca diminta memberi perhatian kepada Dul Gendut. Apakah ia anak yang patuh, salah, rendah, dan kalah? Pembaca yang menyimaknya bakal mengetahui usaha-usahanya menjadi manusia dalam beragam tekanan. Pembaca ikut merasakan gelisah bila memasuki dunia-batin Dul Gendut.
Pada suatu hari, Sutanto mendapat mendapat masalah di sekolah. Akibatnya, ia pulang belakangan, tidak berbarengan teman-teman sesuai jadwal berakhirnya pelajaran. Maka, Dul Gendut pulang sendirian. Peristiwa yang tidak mudah: “Kali ini Dul Gendut berjalan lambat karena dalam hati ia segan pulang. Ia sudah dapat menggambarkan bahwa ia nanti pasti dan mendapat bermacam-macam pertanyaan, terutama dari Ibu Sutanto. Ia pasti akan mendapat pertanyaan: ‘Di mana Sutanto berada? Mengapa Sutanto masih di kelas? Mengapa ia tidak menolong Sutanto?’ Dan, ia pasti akan dimarahi ibu Sutanto dan disalahkan.”
Pembaca mencatat terjadi ketidakadilan. Ada yang ingin segera mengasihani dan membela Dul Gendut. Apakah anak itu bisa tabah? Apakah akhirnya ia akan menjadi sosok yang berani atas nama kebenaran? Membaca cerita memang memungkinkan terjadinya pertimbangan nilai-nilai atas para tokoh dan pemaknaan yang berkembang. Pada mulanya, Dul Gendut terbaca sebagai pihak yang lemah. Pada akhirnya, semuanya bisa berubah.
Perubahan demi perubahan terjadi, yang mengajak pembaca ikut dalam permainan makna. Kita simak yang diceritakan Djiwatno: “Ibu Dul Gendut sudah tidak bekerja lagi pada orang tua Sutanto. Ia mempunyai sedikit uang simpanan, yang dipergunakannya untuk modal berjualan nasi dan bubur pada pagi hari. Meskipun untungnya sedikit, tapi ia dan anaknya dapat ikut makan dengan cukup… Oleh orang tua Edi, ia diberi ruangan kecil di belakang. Di situlah, ia dan anaknya tidur di atas balai-balai dari bambu….” Kehidupan yang sederhana tapi sudah terlepas dari hubungan yang diskriminatif.
Pembaca dibikin kagum dengan karakter Dul Gendut. Anak yang mendapat didikan dari ibu dan lingkungan-sosial. Anak yang membaca mengerti nasib Dul Gendut: “Sebagai tanda terima kasih kepada orang tua Edi, tiap sore Dul Gendut menyapu halaman rumah orang tua Edi. Pada hari pertama, Edi memandang saja kepada Dul Gendut yang sedang menyapu. Pada hari kedua, Edi mengikuti Dul Gendut sambil mengobrol. Dan, pada hari ketiga, Edi mengambil sapu dan ikut menyapu. Ia tidak tahan melihat temannya bekerja sendirian. Padahal, sebelumnya, ia tidak pernah melakukan pekerjaan menyapu halaman.”
Dunia anak-anak, dunia campur aduk. Di pergaulan, mereka kadang akrab. Segala hal bisa dikerjakan Bersama dengan rasa senang dan berbagi kebaikan. Namun, mereka kadang dalam konflik, pendek atau Panjang. Yang dimunculkan adalah kepentingan menyalahkan dan membuka keburukan-keburukan. Pengarang memunculkan para anak itu dalam pergaulan yang lazim saat berada di sekolah atau kampung. Yang cukup mengejutkan kebersamaan anak-anak sampai dalam usaha heroik menghadapi kejahatan.
Anak-anak yang pemberani biasanya kepikiran menjadi pahlawan. Yang dipelajari adalah membela kebenaran dan keadilan. Anak pun mengerti rela berkorban. Pokoknya gagasan-gagasan kepahlawanan cepat meresap dalam dunia anak-anak, yang disokong oleh tontonan dan bacaan. Anak yang menjadi pahlawan adalah anak yang berusaha untuk baik dan benar.
Buku yang ditulis Djiwatno itu tampak sesak konflik. Anak-anak yang membacanya mungkin tertantang ikut mengalami masalah-masalah yang terjadi. Namun, yang membaca cerita akan lelah bila kepikiran kepahlawanan. Pembaca boleh saja menandai yang seru-seru saat anak-anak menghadapi masalah dalam belajar, keluarga, dan pertemanan.
________
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com
Tuesday, November 11, 2025
Puisi Jawa Banten | Encep Abdullah
Puisi Jawa Banten Encep Abdullah
Longsong
Ibu kite brojol
Kite selamet
Longsong
Kite disapih
Ibu kite longsong
Nambah maning 6
Brojol kabeh
Longsong
Anake lulus sekola
Longsong
Anake wisuda
Longsong
Anake pade megawe
Longsong
Anake wis kawin
Longsong
Rabi kite brojol
Ngulang maning sing awal
Longsong iku kapan?
Ape seuwise longsong
Kudu ngelungsungi kaye ule?
Kedahemah mekoten
Badan lan batin anyar maning
Dadi wader maning
Dadi bayi maning
Longsong
Ngelungsungi
Mati
Ape wong mati iku longsong?
Gusti Pengeran
Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamin
Kiara, 2025
Murid Saiki
Duwe otak ore bise mikir
Duwe ati ore ngererati
Dikon takon cangkeme mingkem
Dikon jawab nyangkin melempem
Dikon belajar pejirih
Dikon etes pejirih
Barang tawuran nomor siji
Barang pacaran nomor siji
Barang gede nyalon dewan
Duit rakyat genah memengan
Larak-lirik perawan
Kiara, 2025
_________
Penulis
Encep Abdullah, tukang mangan dadar endog.
Kirim naskah
redaksingewiyak@gmail.com
Saturday, November 8, 2025
Resensi Yuditeha | Cermin yang Menelanjangi
Resensi Yuditeha
Judul: Kisah Lama, Tutur Baru
Penulis: Lu Xun
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun: 2019
ISBN: 978-979-1260-84-8
Tebal: vi + 170 hlm
Membaca Kisah Lama Tutur Baru karya Lu Xun ibarat menonton teater bayangan, menampilkan siluet mitologi dan legenda, tetapi di balik layar ada sindiran halus bagi manusia yang begitu yakin memerankan diri sebagai makhluk paling luhur. Lu Xun tidak hanya bercerita ulang dongeng lama, melainkan juga sedang menertawakan keseriusan manusia dalam menjalani absurditas dirinya.
Buku ini berisi delapan kisah yang meminjam mitos dan legenda Tiongkok kuno, lalu memutarnya seperti tak acuh pada aroma sakralnya. Ia seperti mencomot cerita yang dulu disembah, lalu mengajaknya duduk di warung teh untuk membicarakan kebodohan manusia. Kecerdikan Lu Xun, ia tidak menghancurkan mitos dengan palu, melainkan dengan senyum sinis.
Kebanyakan orang mendekati mitos dengan takzim, Lu Xun mengupasnya bagai dokter membedah mayat pasien yang dulu dianggap dewa. Dalam kisah pembuka yang legendaris, dewi pencipta dunia diceritakan dengan nada jenaka dan nyaris absurd. Ia menambal langit bocor bukan demi keagungan, melainkan karena kesalahan kecil tapi berakibat besar, yang dari situ manusia muncul, nyaris sebagai efek samping yang tak diinginkan.
Ironinya menampar lembut, manusia yang sibuk memuja diri, rupanya hanya kebetulan kosmis. Dari awal penciptaan saja, Lu Xun sudah menertawakan konsep kesempurnaan dan keagungan manusia. Ia memperlihatkan betapa rapuh asal-usul kita, bahkan betapa tidak seriusnya semesta ketika menciptakan kita.
Satire itu menegaskan pandangan Lu Xun, bahwa tragedi manusia bukan terletak pada penderitaan, melainkan pada kepercayaan berlebihan terhadap dirinya. Dalam dunia di mana rakyat dikorbankan demi kestabilan negara, kisah dewi menambal langit terasa seperti alegori tentang kekuasaan yang menambal kerusakan dengan darah rakyat.
Cerita-cerita berikutnya terus memainkan ironi: nilai-nilai luhur dikupas sampai terlihat busuknya. Dalam satu kisah, dua bangsawan yang dianggap suci memilih mati demi prinsip, tapi Lu Xun menyajikannya seperti dua orang keras kepala yang tak tahu harus berbuat apa selain mempertahankan harga diri. Pembaca dipaksa berpikir, apakah kebajikan yang diperjuangkan mati-matian benar-benar bernilai, atau hanya topeng lain bagi kesombongan?
Cerdasnya Lu Xun, ia menertawakan kemuliaan dengan cara yang membuat pembaca ingin menutup buku, bukan tersinggung, tapi merasa telanjang. Ia menunjukkan kesucian, pengorbanan, bahkan kepatuhan moral sering kali hanya bentuk lain dari kegagalan berpikir. Dengan nada getir, menurut Lu Xun, kita sering memuja prinsip hanya takut kehilangan arah. Maka moral pun hanya ritual untuk jalan tanpa berpikir, diwariskan tanpa ditanyakan. Di tangan Lu Xun, kisah-kisah moral klasik Tiongkok menjadi satire terhadap manusia modern yang sibuk mencari kebajikan di buku-buku, tapi hilang empati di jalanan.
Salah satu kekuatan Kisah Lama Tutur Baru adalah kemampuan memparodikan tradisi filsafat Timur dengan cara elegan. Lu Xun seolah mengundang para bijak masa lalu, Zhuangzi, Mozi, para pertapa, dan dewa-dewa, lalu membuat mereka tersandung kebijaksanaannya sendiri. Dalam satu cerita, seorang filsuf besar membangkitkan orang mati hanya untuk membuktikan ia mampu melampaui batas kehidupan dan kematian. Tapi yang bangkit malah menegurnya, untuk apa kau repot-repot? Kau pikir aku ingin hidup kembali di dunia yang tak banyak berubah? Humor ini bukan sekadar jenaka. Ia mengandung getir tajam.
Lu Xun sedang mengingatkan bahwa kebijaksanaan yang terlampau percaya diri sering kali berujung pada kekonyolan. Dunia Lu Xun bukan dunia penuh keajaiban, melainkan dunia yang terlalu yakin pada keajaiban. Ia menyindir para cendekia dan penguasa yang merasa bisa mengatur nasib rakyat seperti dewa mengatur semesta. Dalam setiap tawa kecil yang ia tulis, ada rasa pahit ketika menyingkap kenyataan. Semakin tinggi manusia menggapai langit, semakin ia tampak kecil di hadapan kebenaran yang ia ciptakan sendiri.
Gaya penceritaan Lu Xun nyaris bersifat paradoks: ringan tapi menggigit, jenaka tapi mematikan. Ia menulis dengan nada lembut, seolah sedang mengajak pembaca minum teh sore hari, lalu tanpa disadari kita sudah disuguhi racun dalam cangkir. Bahasanya penuh metafora, tapi bukan berusaha untuk indah. Ia memakai simbol bukan untuk mempercantik, melainkan untuk membocorkan kepalsuan. Dalam setiap dongengnya, ada kebetulan yang sempurna, ada kebajikan yang terasa seperti topeng, dan ada kebijaksanaan yang terdengar seperti kedunguan yang bersolek.
Karya ini tetap relevan hingga kini. Ironinya terasa seperti sedang bicara kepada zaman kita, zaman yang gemar menambal reputasi dengan citra, mengganti luka dengan slogan, dan menyebut kepura-puraan sebagai strategi. Membaca Lu Xun hari ini seperti menatap cermin retak, wajah kita terpantul dalam pecahannya, dan setiap serpihan memperlihatkan bagian diri yang tak ingin kita lihat.
Meski sarat sindiran, Kisah Lama Tutur Baru bukan sinis terhadap manusia. Sebaliknya, di balik tawa getir ada kasih. Lu Xun menertawakan bukan karena benci, tapi karena masih berharap. Ia menulis dengan semangat seorang tabib yang tahu betapa parah penyakit yang diderita bangsanya, tapi masih percaya bahwa humor bisa jadi obat paling manjur.
Buku ini lahir di masa Tiongkok sedang bergulat dengan krisis identitas, antara warisan feodal yang membusuk dan modernitas yang belum matang. Maka Lu Xun mengambil jalan tengah yang radikal, menghidupkan kembali kisah lama, tapi dengan cara baru, membongkar, membolak-balik, dan menguliti. Ia memperlihatkan masa lalu bukan monumen untuk disembah, melainkan laboratorium untuk belajar.
Dalam konteks ini, setiap kisahnya terasa seperti sindiran kepada kita, yang sering bersembunyi di balik sejarah dan budaya, tapi enggan mengakui kebodohan yang diwariskan turun-temurun. Lu Xun, dengan segala keusilannya, seolah berbisik: jangan terlalu serius jadi manusia bijak. Kadang, yang menyelamatkan kita bukan kesempurnaan, tapi kesadaran akan kebodohan kita.
Terjemahan Tonny Mustika menghadirkan roh Lu Xun dalam bahasa Indonesia yang jernih tanpa kehilangan ironi khasnya. Membaca terjemahan ini terasa seperti mendengarkan seorang pendongeng tua di pasar malam, bahasanya sederhana, tapi setiap kalimat mengandung lapisan makna. Ada kalimat-kalimat yang sekilas terdengar seperti humor, tetapi jika direnungi, kita seperti ditampar kenyataan sosial: tentang penguasa korup, kebajikan dijadikan komoditas, dan manusia-manusia kecil yang dipaksa menanggung beban langit.
Kekuatan buku ini bukan pada komplek bahasanya, melainkan pada keberanian mempermainkan sejarah dan moralitas tanpa kehilangan empati. Mengajarkan cara baru membaca masa lalu, bukan untuk memuja, tapi untuk tertawa pahit dan melanjutkan hidup dengan sedikit lebih sadar.
Kisah Lama Tutur Baru bukan sekadar kumpulan cerita, tapi ajakan reflektif yang dibungkus jenaka: bagaimana jika kita berhenti sejenak menatap langit, dan mulai menambal kebocoran diri? Lu Xun memperlihatkan bahwa sejarah selalu berulang, hanya aktornya yang ganti. Dulu dewi menambal langit, kini manusia menambal citra. Dulu filsuf membangkitkan orang mati, kini orang-orang membangkitkan kenangan untuk validasi. Dulu pangeran mengasingkan diri karena malu, kini rakyat mengasingkan akal sehat karena takut dikucilkan.
Ironinya, segala yang tampak kuno justru terasa akrab bagi pembaca modern. Lu Xun menulis seolah sedang menatap masa depan yang belum dilihat, di mana keangkuhan manusia tetap sama, hanya topengnya yang berubah. Buku ini memberi jawaban, tapi juga menyalakan gelisah, tidak menggurui, tapi menuntun untuk menertawakan dirinya sendiri. Tawa yang tidak ringan, tetapi membawa getir yang jujur.
Kisah Lama Tutur Baru adalah potret bagaimana satire bisa menjadi bentuk tertinggi dari cinta. Mitos bukan lagi dongeng pengantar tidur, tapi cermin yang menelanjangi. Menunjukkan kesedihan dunia dengan menertawakannya, bukan untuk melupakan.***
Penulis
Yuditeha, Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.













